Seperjalanan, Antara Mataram dan Gugusan Pantai Utara

Yuuhu, Teman! Apa kabar?

Saya antara senang dan tidak percaya, dalam setiap cerita perjalanan yang sudah saya dokumentasikan di sini, saya tidak pernah sendiri dalam perjalanan-perjalanan itu :hore. Selalu ada teman yang bisa lebih mengerti tentang tempat yang kami datangi. Itu membuat saya sangat senang, dan orang tua di kampung juga tenang :haha.

Tapi untuk yang satu ini, saya lebih senang lagi, gara-garanya salah satu dari beberapa teman saya yang paling baik, yang bisa saya sebut sahabat, datang, jauh-jauh dari Bali, buat jalan-jalan sama saya di Lombok, jelajah pantai yang kita berdua (well, sebenarnya saya), belum pernah datangi!

Say hello :hihi.
Say hello :hihi.

Perkenalkan, ini Kak Randy! Yang pintarnya demikian alakazam sampai-sampai para atasan di kantornya tidak bisa tenang dengan pekerjaan kantor kalau tidak ada dia! :kabur

Jujur, tidak banyak orang yang akhirnya berhasil untuk keluar jalan-jalan dengan saya (ceritanya bangga). Mungkin saya pada dasarnya agak tidak cocok diajak jalan-jalan beramai-ramai (mungkin lho, ya). Tapi saya paling nyambung dengan komrade satu ini. Mungkin karena kita suka gegalauan sama-sama, dalam topik yang tidak berbeda. Kerjaan, instansi, bahkan gegosipan tentang semua orang yang ada di dunia ini. Ibarat kata istilah, dengan dia (dan dua orang lain), saya bisa bebas ganti kata ganti orang pertama :hihi.

Dia juga tahu bagaimana gilanya saya kalau saya sudah mulai kumat dengan serangan panik paranoid itu :hehe.

Dan kemarin, di akhir Desember 2014, jadi kali pertama kita jalan-jalan keliling Lombok berdua. Dia datang dari Bali, libur dua hari dari kerjanya di sana, sementara saya pulang kampung dari Jakarta, karena itu kebetulan lagi libur Natal dan Tahun Baru. Berbekal dua sepeda motor, satu matic dan satu lagi motor bergigi yang susah banget diajak kompromi di medan menanjak (karena saya terlalu gemuk, iya, saya tahu), kamera DSLR yang sudah saya niatkan betul buat belajar foto-foto, dan sekotak oleh-oleh dari Bali bernama Pai Susu yang malas saya bawa pulang, kita menggunting Lombok, dari sisi sebelah barat-utara.

Sebenarnya tujuan kita awalnya adalah mutiara-mutiara di Lombok Selatan itu. Tapi, itu Desember, Desember akhir pula, prediksi cuaca itu seperti prediksi pasar saham. Hujan di mana, mendungnya di mana. Seperti kita kemarin, mau ke selatan, eh begitu sampai Rumak (sebelum Gerung), hujannya alakazam.

Tapi begitu kita balik dan masuk Jalan Lingkar sebelum Loang Baloq, kering kerontang.

Ya sudah, fix, kita ke utara!

Berlajulah kami di sepanjang pesisir barat Lombok. Dari Loang Baloq, kita lewat Tanjung Karang. Jl. Industri. Tembus ke simpang lima Kota Tua Ampenan (memangnya cuma Jakarta yang punya kota tua? :haha), lurus cari Pasar Kebon Roeq, setelah Kebon Roeq ada Bintaro tempat pemakaman Tionghoa yang luas sekali. Buat cari pantai-pantai barat–utara Lombok yang sampai ke tiga gili itu, lurus saja, jangan belok-belok. Nanti ketemu gapura besar…

Selamat Datang di Kabupaten Lombok Barat.

The excitement starts here. I will explain it in detail. Soalnya, menurut saya orang-orang kan kenalnya Lombok Utara itu pasti dari Pelabuhan Bangsal dan tiga gili, nah saya sebaliknya :haha. Jadi akan saya jelaskan di sini bagaimana keadaan dari perjalanan menuju ke sana.

Terus saja pacu kendaraanmu ke utara, Teman. Pertama sekali setelah gardu itu adalah Segara Melasa (di dekat Hotel Jayakarta). Segara Melasa ini adalah tempat kami, umat Hindu, melakukan upacara pelarungan abu jenazah yang diaben (disebutnya Upacara Nganyut), atau upacara Melasti menjelang perayaan Pujawali pura-pura besar atau Hari Raya Nyepi. Kalau beruntung, mungkin ketika ada di Lombok bisa melihat salah satu dari dua upacara tersebut. Saya terakhir kali ikut salah satu upacara itu di Februari 2013, dan percayalah, deburan ombak malam itu betul-betul magis.

Lepas Melasa, jalanan agak berkontur. Tebing di kanan, jurang di kiri. Tapi jangan takut, road guard rail-nya cukup aman, kok. Cukup lho, ya. :hihi. Tapi saya berani jamin tidak bahaya kok, pemandangannya juga bagus, selama tidak ngebut, tentu. Teruslah berlaju, maka akan kau jumpai gardu pandang pertama di sepanjang jalan ini: Gardu Pandang Batu Layar.

Dinamakan gardu pandang karena letaknya di pepinggiran jalan, di atas bukit yang menghadap langsung ke laut lepas. Di bawah sana adalah Segara Batu Layar, satu dari sedikit sisa pantai berpasir hitam di pesisir barat Lombok. Saya rasa saya tak perlu menjelaskan lebih banyak soal garis pantai Lombok yang termashyur perawannya, dengan rimbunan pohon-pohon kelapa dalam kontur pulau di bagian utara yang cenderung tidak rata. Di GPBL pengunjung bisa sekadar duduk-duduk sambil makan jagung bakar, ngopi-ngopi cantik, atau melamun sambil menatap kosong ke panasnya matahari setelah foto-foto (ini yang saya lakukan, sih).

Di sini kita foto-foto!

Pantai Batu Layar
Pantai Batu Layar

Yang menarik dari GPBL adalah di bukit sebelah kanan jalan, ada Kompleks Pemakaman Batu Layar. Kompleks pemakaman ulama Islam yang ramainya itu mendekati infinit ketika Lebaran Topat (Lebaran Ketupat, 7 hari setelah Lebaran). Orang-orang datang berduyun-duyun dalam bemo kota dan mobil bak terbuka, dan antrian kendaraan itu paling ekstrem pernah dimulai dari Bintaro.

Kak Randy jadi model lagi (y)
Kak Randy jadi model lagi (y)

Memacu kendaraan setelah Batu Layar, medannya sedikit bertambah sulit. Turunan sedikit ke Segara Batu Layar, kemudian naik lagi mengikuti kontur tanah. Tak seberapa lama, kita akan tiba di gardu pandang kedua.

Gardu Pandang Batu Bolong. Tepat di sebelah Pura Batu Bolong yang tersohor itu.

Pura Batu Bolong sendiri adalah salah satu milestone perjalanan Dang Hyang Nirartha, pendeta besar agama Hindu yang melakukan perjalanan dari Daha (Jawa Timur) sampai ke Sumbawa (Tambora) tempat dia dikenal sebagai Tuan Semeru. Bukan perjalanan biasa, melainkan perjalanan untuk melakukan ‘pemurnian’ ajaran agama Hindu yang saat itu jadi terlalu dinamis. Ah, saya jadi terdengar sangat teologis, tapi kira-kira demikianlah yang saya baca :hehe.

Di Lombok, nama beliau adalah Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Dang Hyang Dwijendra, datang dari perjalanannya di daerah Silayukti, Padangbai, Bali (di sini juga ada puranya sendiri, lho).

Nah, salah satu tonggak perjalanan beliau di pesisir Lombok setelah baru saja tiba dari Bali adalah Pura Batu Bolong ini. Beliau membangun tempat ibadah di atas sebuah karang bolong (jangan tanya saya caranya bagaimana, yang jelas dengan kemahakuasaan Tuhan semua bisa, sebagaimana beliau juga yang membangun Pura Luhur Uluwatu, Pura Tanah Lot, Pura Silayukti, di tempat yang sangat… strategis itu). Nama Batu Bolong pun disematkan berkat kenyataan itu.

Pura Batu Bolong Lombok ini punya kemiripan juga dengan Pura Tanah Lot di Bali, sebab kebetulan yang membangun orang yang sama (kalau saya tidak salah). Dan sebagaimana semua pura yang ada di dunia ini, mesti ada makhluk-makhluk astral yang jadi penjaganya, yang kadang mengambil wujud juga (menjelaskan topik ini agak susah, tapi kira-kira demikianlah).

Dalam kasus ini, penjaga itu adalah ular laut yang kulitnya belang-belang itu, yang kata peneliti sangat-sangat berbisa. Di Tanah Lot juga ada, kan? Dan kabarnya juga, kalau ada orang yang berniat jahat masuk ke pura, atau orang yang datang beribadah niatnya tidak bersih, minimal penjaga-penjaga ini akan menampakkan diri. Minimal, lho, ya.

Maksimal? Jangan tanya saya, plis! Saya juga tidak tahu! mendadak melipir.

Tapi buat pemedek (sebutan untuk orang yang datang ke pura) dengan niat murni untuk beribadah, ular-ular laut ini konon akan menjaga dan menjadi pelindung dari hal-hal yang jelek-jelek. Konon ular-ular ini adalah jelmaan dari pasukan yang tidak kasat mata, atau dalam bahasa lokalnya, “wong samar”.

Lepas GPBB adalah pantai-pantai yang sudah tidak asing lagi. Senggigi yang ramai dengan detak gemerlapnya, dengan klub-klub serta penginapan yang menjamur. Kadang saya sampai bingung, Senggigi ini lebih ramai ketimbang Mataramnya sendiri :huhu. Hampir-hampir sama dengan Jl. Pantai di Legian, Kuta Bali. Kalau di sana Balinya sudah tidak terasa, di sini Lomboknya tidak terasa.

Ah, Senggigi. Aku punya ceritaku sendiri.
Ah, Senggigi. Aku punya ceritaku sendiri.

Selepas Senggigi, detak komersialisasi pariwisata itu masih terasa. Mungkin juga karena medan jalan yang memungkinkan alias kembali rata kendati masih sedikit berbukit. Kealamian baru terasa kembali setelah masuk di daerah Kerandangan. Kerandangan 1, 2, dan 3. Tiga pantai yang dikenal indah untuk bermain-main, tapi jangan terlalu asyik main-mainnya karena arus bawah laut pantai ini sudah banyak memakan korban, setiap tahunnya. Sudah ada beberapa adik kelas saya jadi korban terseret arus. Tak ada yang selamat.

Medan jalan kembali sulit ketika saya mesti memasang gigi rendah agar bisa lolos dari tanjakan. Pantai Mangsit dan Klui (dengan Jeeva Klui-nya yang terlalu terkenal itu). Sayangnya kami bukan traveler yang banyak tabungannya, jadi kami mainannya di wisata gratis saja. Lagipula, tanjakannya lumayan maut! Mesin motor saya meraung-raung membawa beban badan ini, jadi jalannya pelan sekali. Saya sampai takut motor akan membawa saya ke arah sebaliknya (jadi ingat cerita tanjakan di daerah Geurutee, Aceh).

Tapi pemandangannya itu memang terlalu memanja mata. Bahkan tembok perlu dibangun di sisi kiri jalan supaya mata pengendara tetap awas dengan jalan berkelok di depannya (itu anggapan positif saya terhadapnya). Setelah melalui tanjakan Pura Kaprusan (salah satu tonggak Dang Hyang Nirartha juga), kami pun lewat di gapura setengah jadi berwarna biru cerah.

Selamat datang di Lombok Utara. Tempat keindahan laut dan horizon berpadu mendekati infinit.

Tempat pantai-pantai unik nan asli menjelang, menggoda pengunjung sebelum berjumpa dengan tiga gili. Pantai Malimbu 1, Malimbu 2, Nipah dan Pandanan. Pantai-pantai alami yang belum terdapat jalan penghubung antaranya dengan jalan raya, sehingga seseorang mesti mengemudikan kendaraannya lewat tanah berumput dan jalan setapak. Tapi tidak jauh kok, dari jalanan raya pantainya sudah kelihatan.

Sepotong Nipah. Sisanya saya simpan dulu :haha.
Sepotong Nipah. Sisanya saya simpan dulu :haha.

Medan jalan? Kalau dengan motor, jangan ditanya. Mas Randy beruntung dia bawa motor matic, tapi saya ini kan bawa motor bebek biasa, perjuangannya menanjak di tanjakan-tanjakan itu betul-betul lumayan mengkhawatirkan. Bagaimana kalau saya jalannya tidak maju, tapi mundur? Bagaimana kalau saya malah terjun bebas–gila, ini kan tebingnya tinggi banget? Saya bakalan masuk headline koran esok hari: Ditemukan, Sesosok Motor dan…

Amit-amit jabang orok! Tapi Kak Randy malah meninggalkan saya :hwaa, teganya engkau meninggalkanku :huhu.

Untungnya semua tidak terjadi dan ternyata Kak Randy menunggu di ujung tanjakan :hihi.

Setelahnya, jalanan lumayan rata, tapi tebingnya masih tetap tinggi dan membuat disorientasi gara-gara tebing yang biasanya ada di sebelah kanan kami tiba-tiba jadi di sebelah kiri kami. Ini bagaimana toh, ya? Oh, rupanya kami mengitari sebuah bukit yang lumayan tinggi: haha.

Yang bagus dari Nipah-Pandanan adalah pedagang ikan bakar segar yang menjamur di kiri jalan. Dari baunya saja sudah enyak sekali! Lain kali saya ke sana, boleh kali ya mampir-mampir untuk makan-makan sebentar :hahaseek. Kemarin itu kita tidak mampir soalnya pantai tujuan kita masih lumayan jauh, dan waktu saat itu sekitar sudah setengah empat sore.

Selepas Pandanan sebenarnya aura gili sudah terasa. Dengan banyaknya perahu-perahu bertambat di pantai, menunggu untuk disewakan pengunjung yang kehabisan tiket di pelabuhan Dinas Perhubungan yang harganya terakhir sekitar Rp15k sekali jalan. Aura itu makin bertambah ketika kita sudah masuk ke sebuah kota kecil di bilangan Lombok Utara. Namanya Pemenang. Sekitar satu atau dua kilometer dari Pemenang inilah, sebuah perempatan yang kalau diambil arah ke kirinya, akan membawa pengunjung ke pelabuhan menuju tiga gili terkenal itu: Pelabuhan Bangsal.

Tapi kemarin kita ambil jalan lurus! Melewati beberapa kilometer lagi, dan pantai-pantai seperti Pantai Sira. Tapi kita tidak singgah di semua pantai-pantai itu karena kita sebenarnya kemarin punya tujuan yang sedikit berbeda. Tujuan yang mungkin pada akhirnya membuat saya berpikir terlalu berbeda dan terlalu frontal, akibatnya beberapa kilometer setelah Pantai Sira kita akhirnya berbalik arah gara-gara saya kumat kegilaannya, ogah untuk melanjutkan perjalanan.

Dasar pejalan tidak jelas kamu ini, Gar! Memangnya kamu mau jalan ke mana?

Saya cuma bisa cengengesan. Hehe… kadang memang saya ini tidak jelas. Yang penting kita bisa menikmati suasana di jalannya.

Dan kita selfie!
Dan kita selfie!

Hihi!

42 thoughts on “Seperjalanan, Antara Mataram dan Gugusan Pantai Utara

  1. jalan2 bareng sama teman yang cocok dan sehati memang asik ya, oya kenapa pake motornya sendiri2? kenapa gak bareng aja satu motor gitu? *salah fokus*
    btw foto2 nya bagus deh, pemandangannya indah sekali liatnya bikin hati adem 🙂

    1. Soalnya saya… gemuk, Mbak… jadi takut berat dan motornya tidak bisa menanjak di medan jalan yang sulit itu… :malu.
      Iya, sore itu Senggigi memang magis benar senjanya :)). Terima kasih!

  2. Sy sendiri belum pernah ke Lombok, makasih ya Bli buat infonya. Jadi tau dan bisa jadi referensi nanti kalau ke Lombok. PS: foto terakhir terlihat sangat bahagia 🙂

  3. aku ngga mampir ke pura karang bolong, dan batu layar, senggigi. Lewat doang… Tapi syukur juga dong kalau aku ngga mampir ke pura karang bolong. ntar kalau penjaganya memperlihatkan diri (walaupun aku ngga ada niat yang baik ke sana), bisa2 aku pingsan berdiri.

    1. Langsung ke tiga gili itu ya kemarin :hehe.
      Kalau di pinggir jalan, penjaganya tidak ada, kok. Adanya baru di dalam, di areal pura :)).
      Pingsan berdiri itu yang kayak bagaimana ya :hihi.

        1. Iya, semakin ke sini mah Senggigi memang biasa banget. Tapi ada kok rahasianya Senggigi :haha. Saya punya ceritanya (cuma belum publish) :hihi.

  4. hallo gara,

    salam kenal ya. suka banget sama lombok, bali 40 tahun yal katanya. seperti umumnya pengunjung lombok saya palingan mengunjungi senggigi dan ketiga gili plus pantai kuta lombok dan tanjung an.

    semoga deh bisa mampir juga ke tempat-tempat yang gara tulis 🙂

    salam
    /kayka

    1. Ah, salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir :)).
      Iya, Lombok terkenal dengan keperawanan pantainya, kontras dengan Bali yang sudah terlalu berkembang.
      Amin, semoga perjalanan saya bisa jadi inspirasi tentang tempat yang dikunjungi nanti :hehe.

  5. Gara-gara kak Gara saya jadi makin kangen lombok! Bertanggung jawablah…*abaikan saja ini.

    Tulisan saya yang ‘Kamu, dan Lombok’ jugau gara2 liat tulisan kak Gara tentang Lombok. *out of the blue banget ini info.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!