Nostalgia Jelajah Perdana: Gegar Budaya di Angkot BJL, Batu

Sejauh ini, semua berjalan sesuai perkiraan.

Untuk beberapa waktu, si angkutan berjalan lurus pada jalan yang terus menanjak. Belokan terakhir adalah kiri di sebuah pertigaan. Lalu lintas demikian padat, kendaraan bergerak merayap. Mungkin pengaruh akhir pekan. Apalagi, banyak kampus yang saya lewati. Artinya daerah sekitar sini padat mahasiswa. Di mana ada mahasiswa, di sanalah ada kepadatan. Kaum muda lalu lalang, kendaraan silih berganti.

Pada sebuah tikungan yang saya perkirakan, angkot berwarna biru dan berkode ADL itu membelok. Ia menuju sebuah terminal yang sudah saya prediksi sebelumnya. Terprediksi, lantaran sepanjang gerakan kendaraan ini, saya terus mengecek jalan yang dilewati. Katakanlah bahwa saya memastikannya dengan rute angkutan kota yang saya temui di internet.

Mungkin bagi sebagian pembaca apa yang saya lakukan itu berlebihan. Namun, saya tidak lahir langsung jadi petualang yang mahaberani. Bahkan sekarang pun tidak. Di perjalanan pertama dulu itu, saya begitu khawatir akan disasarkan angkutan kota. Itulah dalil yang membuat saya harus selalu berlaku waspada. Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa saya tidak dibawa ke tempat yang “aneh-aneh”. Apalagi di saat saya adalah penumpang satu-satunya.

Namun, tanpa saya sadari, di sinilah kesalahan pertama saya. Saya membiarkan diri masuk terminal. Para pembaca yang sudah paham bagaimana berangkutan darat pasti tahu: angkutan di dalam terminal justru adalah yang terlama beranjak. Namun, kala itu saya belum paham. Itulah kesialan pemula!

Saya mengamati sekitar seperti seseorang yang baru melihat terang setelah lama berada dalam kamar gelap. Ja-di, inilah Terminal Landungsari. Untuk ukuran terminal, Landungsari agak sepi. Mungkin karena ini bukan terminal utama. Setahu saya terminal utama di Malang adalah Arjosari. Yang satu ini ada di agak ke utara kota.

Saat itu hanya ada beberapa angkutan kota menuju kota Batu dan daerah-daerah di barat Malang. Warnanya bervariasi, ada biru, kuning, dan kalau saya tak salah, juga ada warna pink. Saya sebelumnya telah melakukan jelajah dunia maya kecil-kecilan untuk rute angkutan umum di Kota Batu (tentu saja demikian). Mengingat saya akan menginap di Jl. Oro-oro Ombo, saya beranjak mendekati angkutan umum berwarna kuning muda. Tulisannya BJL, singkatan dari Batu–Landungsari via Junrejo.

angkot-batu-kuning
Bagian dalam angkot bercat kuning.

Toponimi angkutan kota di tempat ini unik pula. Setiap daerah punya kekhasannya sendiri dalam penamaan trayek angkutan umum. Di Jakarta, mereka menggunakan sistem numerik. Di Malang Raya tampaknya berbeda. Di sini, mereka menggunakan inisial terminal asal dan tujuan. Kadang diselipkan pula pembeda berupa inisial daerah yang dilewati, dalam kasus ketika tersedia lebih dari satu rute untuk terminal asal dan tujuan yang sama.

Sebagai contoh adalah angkutan dari Terminal Landungsari menuju Terminal Batu ini. Ada beberapa rute angkutan kota yang melayani trayek tersebut. Angkot BL jurusan Batu–Landungsari, angkot BJL sebagaimana saya jelaskan di atas. Sesungguhnya ada juga angkot BTL (Batu-Torongrejo-Landungsari), hanya saja saya jarang melihat angkutan dengan trayek ini.

Kata teman saya yang asli Batu, satu hal yang harus menjadi perhatian adalah bahwa angkutan kota yang menuju Batu hanya beroperasi sampai jam enam sore. Jika ingin pakai angkutan kota, usahakan tiba di Terminal Landungsari sebelum petang menjelang. Saya cukup mengamininya. Di siang hari bolong saja Terminal Landungsari sudah sepi. Saya belum bisa membayangkan bagaimana sepinya terminal kalau malam sudah datang.

Namun, mengingat dewasa ini adalah eranya taksi dalam jaringan, sepertinya saran ini tampak tidak terlalu relevan. Hehe.

Namun demikian, angkutan kota di sini menurut saya keren. Sebab petunjuk rutenya sangat jelas. Ini mungkin bentuk komitmen pemerintah kota untuk menjadikan angkutan kota sebagai angkutan wisata. Sebagai contoh, di angkot-angkot BJL yang berwarna kuning itu sudah ditempel tujuan tempat wisata seperti Jatim Park 2 dan Batu Night Spectacular sebagai salah satu tujuan. Tulisannya besar dan bagus, jadi mustahil untuk dilewatkan.

Paling tidak, saya jadi tidak terlalu percaya lagi dengan kata-kata Curio. Ia bilang bahwa saya mesti hati-hati memilih angkot mengingat cat angkot menuju Batu pada umumnya sudah pudar. Saya sudah membuktikan bahwa ia salah. Menurut saya tidak mungkin sampai tersasar. Cat angkotnya sudah sangat terang dan jelas.

Tapi, apa petunjuk yang sejelas itu tidak memungkinkan seseorang seperti saya untuk tersasar? Mari kita lihat.

jalanan-desa-junrejo
Naik, naik, naik…

Saya mendekati sebuah angkot yang masih kosong di bawah kanopi. Seorang bapak duduk di kursi sopir, memanggil-manggil. Sempat saya dibuat agak salah paham olehnya. Pasalnya, ia memanggil penumpang dengan nama yang agak beda dengan tujuan yang tertempel di angkotnya. Alih-alih berkata, “Batu”, atau “BNS”, atau “Jatim Park 2”, sang bapak malah berseru, “Ndau, Ndau, Ndau…”

“Batu, Pak?” tanya saya baik-baik.

Si Bapak seperti tidak mendengar saya. Ia tetap saja berseru, “Ndau, Ndau, Ndau…”

Saya bertanya lagi. “Batu?”

“Ndau, Mas.”

“Batu, Pak.”

“Ndau, Mas, Ndau.”

Lama-lama berkutat dengan percakapan seperti ini bisa membuat saya gila. Kami seolah berbicara dalam bahasa yang masing-masing tidak kami pahami. Urung saya masuk ke angkot kuning itu. Demi Tuhan, Ndau itu ada di mana? Saya mau ke Batu. Berniat pula naik angkot bertuliskan Batu. Kenapa sopirnya mengatakan kalau saya akan ke Ndau?

Beberapa saat berlalu sampai seorang sopir lain datang dan memecah kebuntuan kami. “Mau ke BNS kan, Mas? Iya, yang ini angkotnya.” Seorang penumpang lain tampak bersama sopir ini dan ternyata, ia juga akan ke BNS. Mungkin mereka berdua sudah melihat kami sejak tadi, bertukar kata bak atlet tenis meja.

Cengengesan, saya pun naik ke mobil itu, sebagai penumpang kedua. Saya sangat berharap angkot ini lewat Batu. Di titik ini, persetanlah Ndau itu ada di mana. Yang penting semoga saja angkot ini memang lewat BNS. Di dalam angkot, saya langsung menghubungi Curio dan menanyakan, “Ndau ini, demi Tuhan, sebenarnya ada di kota mana?”

“Namanya Dau, Gar! Desa Dau. Nanti juga kamu lewati.”

“Kenapa orang-orang ini mengucapkannya Ndau?”

“Jawa Timur memang begitu! Kita suka menambahkan huruf mati di depan nama tempat, seperti gejala bahasa gitu. Jadi Gresik menjadi ng-Gresik, Batu menjadi m-Batu.”

Oalah, rupanya ini gejala bahasa. Saya lupa istilahnya, apa bilabial, dental, alveolar, labiodental, endesbra endesbre, mbuh. Tapi benar saja, sekitar satu jam kemudian (ya, saya menunggu satu jam sebelum angkutan kota itu bergerak), tatkala pemandangan mulai berganti dari Terminal Landungsari, plang di bangunan-bangunan toko kiri kanan saya menunjukkan nama Desa Dau. Saya jadi ketawa sendiri. Menertawakan diri sendiri, lebih tepatnya. Betapa konyol dan nyinyirnya. Saking skeptis dan curigaannya, nama desa pun bisa jadi masalah. Mungkin karena baru pertama kali keluar kandang, kewaspadaan pun berlipat ganda.

Bagaimana keadaan angkot? Sepi, pada awalnya. Saya menikmati perjalanan bersama dengan anak-anak SMA yang baru pulang dari perayaan 2 Mei. Mereka dedek-dedek lucu dan menggemaskan. Kepengin bertanya-tanya juga soal kota. Cuma kok lidah saya ini kelu. Maklum, tidak bisa lancar berbahasa Jawa (memang tidak bisa!). Jadilah, sepanjang jalan, saya cuma berusaha tampak cool. Ah, karena terlalu lama membuat image, mereka semua turun duluan, kan.

gadis-di-dalam-angkot
Bukan, bukan ia yang saya maksud.

Dan saya baru sadar kalau tiba-tiba saja, angkot sudah penuh dengan anak-anak SMP dan SD bersama dengan para ibu yang baru pulang dari sesi berkebun pagi. Suhu udara sudah mulai turun, seiring dengan suara mesin yang meraung-raung mendaki tanjakan yang miringnya ekstrem. Kami mulai naik, kami mulai naik.

Di sanalah kata aneh yang menentukan hidup ini saya dengar. Di tengah-tengah suara mesin yang memaksakan diri untuk meraung menanjak sepanjang jalan Desa Junrejo yang ekstrem, suara seorang penumpang pun terdengar. Ditujukan kepada sang sopir, ibu itu berseru lantang: “Keri.”

Dia turun. Saat itu saya sedang berkirim pesan dengan pihak penginapan, memastikan lokasi hotel. Pesan terkirim, katanya saya masih agak jauh dari Batu jadi enjoy your trip, lah. Ketika saya menutup tablet, suara itu terdengar lagi. “Keri, Pak.” Setelahnya, angkot berhenti dan seorang penumpang turun lagi. Hanya saja, saya masih belum paham: itu apa?

“Keri, Pak, keri.”

Butuh tiga kali baru saya mulai sadar. Rupanya mereka bilang “kiri” itu dengan bacaan berbeda: “keri”!

Saya pun cekikikan sendiri, hihi. Unik sekali. Tapi menarik. Perjalanan pertama, dan pengalaman pertama bertemu masyarakat yang berbeda. Sangat menyenangkan mengamati perbedaan-perbedaan itu. Secara resmi, petualangan saya bahkan belum sepenuhnya mulai. Namun, saya sudah belajar begitu banyak hal. Bahkan dari celotehan-celotehan unik, hal-hal kecil segampang menghentikan angkutan kota. Termasuk di dalamnya adalah tatapan penuh rasa ingin tahu dari anak kecil karena melihat saya membawa tas yang besar banget.

jalanan-menanjak
Naik, naik, naik…

Kendaraan melewati RS Baptis setelah sekitar empat puluh lima menit mulai bergerak dari Terminal Landungsari. Beberapa menit kemudian, setelah masuk Jl. Oro-oro Ombo dan BNS sudah di depan mata (di depan BNS ternyata ada restoran Rumah Sosis, lho!), saya pun lantang berujar pada Pak Sopir,

“Keri!”

Pelajaran baru berhasil dan berfaedah apabila langsung dipraktikkan, bukan begitu?

16 thoughts on “Nostalgia Jelajah Perdana: Gegar Budaya di Angkot BJL, Batu

    1. Hahaha iya mas, sama, saya juga waktu masa sekolah dulu jarang naik angkutan, karena di mataram angkotnya satu rute dan tidak lewat rumah saya. Jadi lumayan juga hitung-hitung pengalaman naik angkot sama anak sekolah, hehe.

  1. Banyak yang bisa dibuat pelajaran dalam setiap perjalanan, diantaranya waktu naik angkot, apalagi klo ngetem lama, banyak-banyak deh belajar sabar πŸ˜… tiap daerah cara naik angkot beda-beda, kadang di tempat baru saya bingung, cuma emng serunya disitu πŸ˜† btewe selamat datang di mlg-batu, dn skitarnya mas, puas-puasin jalan-jalan huaha, slmat liburan mas Gara πŸ˜‰

    1. Setuju! Banyak-banyak belajar sabar, hihi. Iya, angkutan kota menurut saya dekat banget dengan dinamika masyarakat lokal. Bisa banget jadi lokasi pengamatan yang baik akan kegiatan penduduk asli daerah sana, wkwk.
      Iyaa. Malang dan Batu selalu membawa nuansa menyenangkan di hati saya. Terima kasih!

    1. Tentunya dengan logat Jawa yang enggak banget, Mbak! Haha. Kecampur sama logat Madura yang entah datangnya dari mana. Tapi sekarang kalau naik angkot di sana, secara nggak sadar pasti turunnya bilang “keri” dengan suara lucu itu, hehe.

  2. Kukira bilang “keri” itu ada penumpang yang ketinggalan ahhahahah. Kan bahasa Jawa tertinggal itu Keri.

    Berbarti pengucapan orang jawa hampir sama, di Jogja orang bilang Bantul itu mBantul, hehehheheh.

  3. Kayaknya saya lebih suka sistem toponomi inisial deh, karena lebih mudah diingat dibanding sistem numerik. Kalau udah naik angkot di Jakarta, waduh, bisa nyasar ke mana-mana saya. πŸ˜‚

    1. Iya ya, lebih susah untuk tersasar. Paling tidak kalau kita mau ke daerah D lalu tanpa sengaja naik angkot ABC pasti cepat sadarnya, hehe…
      Bandung menurut saya unik juga sistem angkotnya, sebab pakai warna!

  4. Aku udah berapa tahun ya gak naik angkot? 10 tahun lebih kayaknya. Terakhir SMA, dan sejak punya motor sendiri gak pernah lagi. Bentuknya agak beda dengan angkot yang di sini Gar.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?