Nostalgia Jelajah Perdana: Angkot ADL, Malang

Kali pertama naik angkutan kota di luar domisili adalah perjalanan yang mencerahkan. Membuka mata. Pertama kali menjejakkan kaki di kota yang asing adalah latihan untuk mata mengenal sesuatu yang baru.

angkot-kota-malang
Nah, itu ada angkot tertangkap kamera.

Saya selalu ingat dengan jelas hari pertama saya melangkahkan kaki untuk sebuah perjalanan.

Stasiun Malang Kotabaru dan Kawasan Tugu

Awal Mei 2015. Stasiun Malang Kotabaru.

Empat belas jam lebih perjalanan saya habiskan dari ibukota negara menuju Malang dengan kereta api. Secara umum itu perjalanan yang menyenangkan. Tamasya via jalur selatan yang kaya akan peninggalan sepur kolonial. Namun, mengingat kereta ini kereta malam, kelibat-kelibat peninggalan itu tertelan gelap.

Perasaan senang yang meledak-ledak memang tak bisa ditipu. Sampai stasiun Malang, keluar dari kereta dan untuk kali pertama menjejaki tanah Malang Raya, saya seperti mau berteriak. Akhirnya saya berhasil berjalan sejauh ini sendirian! Hore! Hore! Saking sumringahnya, saya leloncatan tidak jelas dan berlari ke sana kemari sepanjang peron. Pak satpam menyangka saya tersasar, dengan ransel yang beratnya segambreng.

peron-panjang-stasiun-malang
Peron yang panjang di Stasiun Malang.

Ada beberapa hal yang membuat saya merasa terlalu senang. Ini perjalanan pertama saya sendirian. Pertama kali pula naik kereta api. Saya juga merasa bangga karena dalam perjalanan perdana ini, rute kereta yang saya tempuh bisa dibilang panjang.

Belum lagi, bayangan tentang situs-situs yang akan saya kunjungi selama di tatar Malang-Batu. Tak ketinggalan tempat-tempat wisata yang selama ini cuma bisa saya baca ceritanya dalam artikel-artikel dunia maya. Sebentar lagi semua itu akan jadi nyata. Saya tak sabar untuk segera jumpa dan mendengar semua cerita!

Panggilan alam membuat saya harus mengikuti kerumunan orang yang tampaknya punya masalah serupa. Sekilas, saya mengamati bangunan stasiun. Lumayan bersih. Bangunannya tampak tua, dengan posisi prominen; tusuk sate di jalan utama kota Malang. Ia menghadap monumen Tugu yang terkenal. Terkenal dengan apa? Saya berjanji untuk menelaahnya, belakangan.

Setelah puas dan lega, saatnya mencari pengisi perut. Sayang, waktu yang sudah pukul sepuluh membuat saya urung makan di Malang. Langsung ke Batu saja, tempat seorang teman telah menunggu untuk memulai petualangan. Pembaca budiman tentu sudah kenal siapa dia.

Di kanan kiri depan stasiun terdapat taman kota. Rimbun hijaunya meraya gelap, membantu saya menentang Bhatara Surya yang bersinar gahar. Sementara saya harus menyipit dari sini, di hook jalan sana ada deretan rumah kolonial. Catnya biru langit,Β  berhiaskan foto-foto pemain sepak bola. Mereka berpose gagah, membusungkan dada menciutkan nyali lawan yang tandang ke gerbang kandang singa.

“Malang berarti… rumahnya Singo Edan,” gumam saya.

Tak butuh waktu lama untuk sadar kalau saya memang masuk ke kandang singa. Begitu keluar stasiun, monumen tiga singa gagah di sebelah kanan sana menjadi landmark pertama yang saya lihat.

singa-depan-stasiun-malang
Salah satu singa perkasa di depan Stasiun Malang. Lihatlah taringnya!

Salam satu jiwa, salam satu jiwa.

Sementara itu, deretan angkot berwarna biru gelap dengan rute-rute berbentuk inisial wara-wiri di depan stasiun. Beberapa di antara mereka mengarah ke daerah Tugu di sana. Menyusuli mereka, banyak kendaraan menuju aneka tujuan. Ditambah kerumunan penumpang yang keluar dari stasiun ini. Semua jadi lebih padat. Dua kali lebih padat, kalau saya boleh menambahkan.

Tapi inilah Malang! Kota yang sudah ada jauh, jauh sebelumnya. Kota yang hidup dalam segala masa. Senang sekali rasanya bisa menjadi bagian dari aliran ini. Kendaraan dan orang-orang yang lalu-lalang bagaikan darah yang menghidupi kota. Jalan dan rel adalah urat nadinya.

Beberapa sopir angkot menawari saya untuk mencarter kendaraan. Mereka menyangka saya akan tandang ke Bromo. Saya menolak dengan halus dan ramah, sebagaimana cara mereka menawarkan kendaraannya. Melihat keramahan pak sopir itu, kota ini makin menanamkan kesan pertama yang manis. Agaknya benar cerita Curio tentang Malang: orangnya (pada dasarnya) ramah-ramah.

Yang lebih penting lagi bagi saya adalah soal bahasa. Meskipun saya ada di “pedalaman” Jawa Timur, saya tak harus fasih berbahasa Jawa. Malang adalah kota mahasiswa, tempat duta-duta pendidikan dari berbagai daerah bergabung. Sangat membantu bagi saya, yang, saya akui, tak bisa berbahasa daerah mana pun dengan cukup fasih sebagai seorang pembicara natif.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Malang. Tapi saya harus bergegas karena petualangan harus segera dimulai. Saya menyeberang, mencoba menjauhi stasiun agar bisa melihat penampakannya lebih jelas. Syukur-syukur bisa difoto. Namun tujuan sebenarnya adalah mencari angkutan kota yang bisa membawa saya ke Terminal Landungsari di barat kota. Inisialnya AL (dari Arjosari–Landungsari) atau ADL (Arjosari–Dinoyo–Landungsari). Tentu saja saya dapat informasi dari Curio.

stasiun-malang-bagian-luar
Bagian luar Stasiun Malang Kotabaru.

Sempat kebingungan karena saya melihat angkot yang saya incar menuju arah yang berbeda, seorang polisi baik hatiΒ  membantu. Ia menyuruh saya mengambil angkot yang (1) berujung huruf L dan (2) mengarah ke Tugu. Landungsari adalah tujuan terakhir, jadi saya tak usah turun di tengah rute. Aman.

Hari itu kawasan Tugu macet banget. Saya baru sadar bahwa hari itu tanggal 2 Mei, peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sambil membaca beberapa postingan blog teman-teman terkait itu (kala itu blogwalking saya masih sangat rajin), saya mencoba membuka front dengan Pak Sopir. Tentu saja perbincangan seputar macet. Bisa dilihat, beberapa sekolah yang ada di daerah Tugu mengadakan acara peringatan Hardiknas. Saking besarnya perayaan, mereka menutup sebagian jalan dan membuat arus kendaraan agak tersendat.

demonstrasi-kota-malang
“Perayaan” yang saya maksud. Demikianlah.

Agak mengesalkan karena membuat perjalanan makan waktu lama, memang. Tapi sisi baiknya, saya jadi bisa lamat-lamat melihat megahnya tugu kebanggaan Kota Malang itu. Ia tampak demikian mengilap tertimpa cahaya matahari. Berada pada kolam yang padanya teratai bermekaran, Tugu demikian semarak menjadi kebanggaan kota!

Dalam hati saya berjanji membuka sesi cerita khusus dengan tugu kebanggaan itu.

Idjen Boulevard: Perumahan Mewah Masa Kolonial

Kendaraan bergerak, pemandangan berganti seperti adegan film. Dari riuh rendah pentas musik, seni, dan acara anak-anak sekolah, lingkungan berubah. Saya seperti terlempar ke Nassau Boulevard dan Orange Boulevard di Batavia, hanya saja ini adanya di Malang.

Selamat datang di Idjen Boulevard.

Konsep penataan kota yang terstruktur benar menjadikan Ijen Boulevard sebagai tulang punggung jalanan kota Malang masa kolonial. Mirip-mirip dengan kawasan Menteng di Jakarta. Buktinya, rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan ini adalah yang terbaik, milik orang-orang terkaya dan paling terpandang di kota. Megah dan luas, mereka adalah etalase keberhasilan pembangunan zaman kolonial. Sementara itu, pohon-pohon palem rimbun menaungi jalan.

Bagaimana sekarang?

Pohon palem itu masih ada. Rumah megahnya pun demikian. Tapi,banyaknya rumah megah di suatu kota bukan ukuran bahwa penduduk kota itu sudah sejahtera.

bus-tingkat-kota-malang
Malang juga punya bus tingkat, lho.

Napak Tilas Perjalanan Orang Tua

Angkot membelok, menuju jalan yang kalau saya tak salah ingat punya plang unik. Jalan ini, sekitar tahun 1940-an dulu bernama Jalan Panderman. Panderman adalah nama sebuah gunung di daerah Batu. Curio pernah bercerita soal itu.

Panderman bagi saya adalah nama yang unik. Ia sering saya plesetkan sebagai “Panda Man”. Lalu saya pun berkelakar bahwa di sana ada manusia super yang bisa mengubah dirinya menjadi seekor panda.

Satu hal lain yang menarik adalah adanya plang menuju Candi Badut. Bagi saya, itu wangsit yang mesti dikulik habis. Semoga saja saya punya waktu untuk menyambangi candi itu.

Angkot pun menikung ke daerah yang menegaskan Malang sebagai kota pendidikan di timur Pulau Jawa. Berbagai plang kampus ada di kiri kanan jalan dari dua universitas besar di negeri ini. Seketika saya ingat Bapak dan kakak perempuan saya; mereka sempat mengenyam pendidikan di kota ini. Mereka sudah menyarankan saya untuk teliti melihat jalan, siapa tahu saya masih bisa mendapati jalan tempat rumah kos Bapak dulu.

Plang Jalan Jombang I pun lewat di depan mata.

Saya senyum-senyum sendiri tanpa alasan jelas. Saya senang bisa menemukannya. Ada rasa bangga kalau jalan yang pernah ada dalam sejarah kehidupan Bapak bisa saya saksikan. Bapak seolah menjadi sosok yang lebih dekat dan bisa saya jangkau. Bapak dulu pernah muda, pernah kuliah juga, pernah bersusah-susah. Bagi saya itu sangat membahagiakan. Bukan dalam arti saya senang melihat Bapak susah. Namun, lebih ke kenyataan bahwa wajar Bapak demikian bijak: ia sudah kenyang perjuangan.

gerbang-um-malang
Salah satu gerbang kampus di Kota Malang.

Di potongan jalan sesudahnya, Malang makin menegaskan diri sebagai kota pendidikan sejati. Kompleks pendidikan mereka masif! Begitu besar dan megah, Malang benar-benar kawah candradimuka bagi penimba ilmu pengetahuan. Saya kini makin yakin bahwa Malang merupakan kota yang sangat ideal untuk menimba ilmu. Atmosfernya benar-benar akademis.

Saya juga yakin, jelajah universitas-universitas di kota ini pasti akan jadi petualangan tersendiri yang tak kalah seru.

Malang: Kota yang Penuh Keragaman

Dari dalam angkutan ini, saya menghirup dalam-dalam udara kota. Katakanlah bahwa saya mencoba mencari kesejukan yang terkenal dari Malang. Meski samar karena keramaian ini, tapi saya bisa meyakinkan diri bahwa itu masih ada.

Sebuah suara klakson motor membuat perhatian saya teralih. dan saya rasa kenal betul dengan plat motor tersebut. DR.

Kami sudah berada di daerah Dinoyo, kalau saya tak salah. Namanya pernah saya lihat pada beberapa prasasti di Museum Nasional. Dinoyo juga pernah jadi perkebunan luas di masa kolonial. Sekarang, daerah ini jadi aorta bagi kehidupan mahasiswa di kota ini. Tak heran saya menemukan kendaraan dari berbagai daerah, termasuk yang platnya DR.

perayaan-hari-pendidikan-nasional
Hore, perayaan lagi!

Kota ini demikian nyaman dan kayaknya ada sedikit rasa menyesal bahwa dulu saya tidak sempat kuliah di kota ini.

Ah, tapi, yang sudah ya sudahlah. Toh angkot kami sudah membelok masuk ke satu terminal di bagian barat Malang, Terminal Landungsari. Pos pertama dan terakhir saya untuk bertualang menuju De Kleine Switzerland op Oost Java.

Meski di beberapa titik terdapat kemacetan, mesti saya akui bahwa kota ini sangat ramah pengendara. Termasuk angkotnya yang ramah pendatang, bahkan bagi orang yang baru pertama kali berkunjung kemari.

Saya mendapatkan referensi tentang jalur angkot Malang dari dokumen bertajuk “Jalur Angkutan di Kota Malang“. Sila diklik untuk menuju dokumen dimaksud. Itu sangat membantu, karena kita bisa langsung menentukan angkot apa yang mesti diambil. Untuk kasus saya yang menuju Landungsari dari stasiun Malang Kotabaru, ada dua jenis angkot yang bisa saya pakai, yakni rute AL (Arjosari–Landungsari) dan ADL (Arjosari–Dinoyo–Landungsari).

Bertualang via angkutan kota di Malang adalah sesuatu yang seru.

bonceng-empat-berbahaya
Ketimbang bonceng seperti ini, kan mending naik angkutan umum?

29 thoughts on “Nostalgia Jelajah Perdana: Angkot ADL, Malang

  1. Aku baru tahu Malang memiliki julukan “De Kleine Zwitserland” Gara, hahaha πŸ˜† .

    Ah, iya, serem ya itu naik motor berboncengan 4 orang seperti itu. Mana dua anak kecilnya nggak pakai helm pula!

  2. Idjen Boulevard dan penataan ruangnya merupakan rancangan karya Thomas Karsten. Sosok yang nggak asing di Solo maupun Semarang karena banyak karyanya bertebaran di tiap sudut kota hehehe. Seru ya kalau melakukan perjalanan sendiri di kota tujuan yang baru pertama kali dikunjungi. Apalagi naik kereta api. Bisa melihat pemandangan dan stasiun-stasiun peninggalan masa Hindia Belanda. Lalu mendapatkan teman baru yang duduk bersebelahan. Syukur pertemanan berlanjut di dunia nyata lagi, bukan pertemanan semu di dunia maya hehehe. πŸ˜‰

    1. Zaman dulu selain arsitektur bangunan, tata kota pun punya ahli-ahlinya ya, Mas. Beda dengan sekarang, kota seakan tak bertata. Mungkin karena tidak dipegang oleh profesional?
      Saya kebanyakan belum pernah dapat teman seperjalanan yang akhirnya berlanjut, haha. Mungkin karena saya kadang terlalu asyik dengan diri sendiri… haha.

  3. Hmmm Malang baru lewat saja. Blm sempat. menikmati kotanya.

    Kalo angkot, aku masih penasaran angkot bandung yg seabreg trayeknya itu. Pernah salah naik, tp arahnya masih sama πŸ˜€
    Seru sih, pengalaman melihat kota yg selama ini mungkin tidak pernah dilintasi oleh pengunjung dr kota lain.

    1. Haha iya Mas, saya juga belum bisa hapal kalau rute angkot Bandung. Rumit sekali jejaringnya. Tapi bertualangnya juga pasti seru banget.
      Seru… memang pertama kali melihat sesuatu adalah saat-saat yang begitu mengesankan.

  4. Klo saya sempat sekitar 3 tahunan di malang mas gara. Cuma saya jarang keluar dari kostan sehingga sampai sekarang pun sering nyasar klo ke malang ha ha ha….

    Saya juga juarang mengeksplore malang. Jadi nggak tahu banyak,tentang kota tersebut kecuali beberapa tempat saja.

    1. Hal yang sama dengan saya waktu ngekos di Bintaro. Tak pernah eksplorasi sehingga nggak tahu apa-apa. Tapi tak apa-apa, Mas. Sekarang kita eksplorasi di tempat kita berada saja, hehe.

  5. Aku bisa merasakan antusiasnya dari tulisan ini. Naik kereta 14 jam, semangat bakalan ekplor candi-candi, dan Malang juga udah lama aku tandai. Jawa Timur pada umumnya tepatnya.

    Aku penasaran penampakan kursi keretanya. 14 jam gitu hahaha, kalo selama itu cuma duduk doang, waah bisa-bisa keras badan hwhw

    1. Ayo wisata ke Jawa Timur, Om. Saya yakin kalau Om yang ke Jawa Timur, pasti banyak dapat tempat seru, hehe.
      Kursi keretanya nyaman banget. Duduknya nggak kerasa. Baru terasa setelah turun, karena ambeien kumat, hihi.

  6. Kotaku yang berantakan banget. Btw itu SMA 4 yang kamu lewati merupakan sekolah penuh sejarah penyiksaan jaman Jepang.

    Terus angkot yang kamu naik, dulunya bernama AD. Terus trayeknya dilebarkan hingga Landungsari.

    Tukang angkot harus ramah ke penumpang, karena mereka menuju kematian. Tapi begitu terancam mereka parah Banget, Nanti kapan2 aku tulis ya.

    1. Hore! Tulisannya ditunggu, Mbok. Saya ingin tahu bagaimana pendapat warga lokal terhadap angkutan di sana. Dulu Dinoyo tempat terakhirnya itu di sebelah mana Mbok?
      Nah, SMA Tugu ya? Menyeramkan banget. Kabarnya ada noda darah di lantai yang tak bisa hilang bahkan sampai sekarang, ya?

  7. Hmmm……angkot ya. Saya lihat, kesan yang bang Gara dapat sepertinya menyenangkan sekali dengan kunjungan pertama di Malang. Ketika keluar dari stasiun, kemudian disambut dengan para tukang ojek, sopir angkot, sopir taksi, dll……ramah sih iya, tapi kesannya jadi agak maksa terkadang. Kalau lagi bawa barang bawaan yg berat, bikin macet dll….hmm…………….Mengenai angkot. Kalau mau santai keliling Malang sih bisa lah ya. Tapi, sudah tidak menjadi pilihan sepertinya. Ngetem yang lamaaaa sekali, di banyak titik pula…..wah bikin sebal setengah mati. Ini menjadi tak terlupakan karena pada suatu saat, saya sedang terburu-buru….perjalanan yang bisa ditempuh 15 menit molor jadi hampir satu jam……

    1. Sepertinya, pada akhirnya masalah angkutan kota di mana pun akan sama ya, Mbak. Di Jakarta juga begitu. Angkot ngetem sembarangan, sudah begitu lama, jadinya merugikan semua orang. Mungkin saja sewaktu kemarin (dua tahun lalu) saya naik angkot ini ada ngetemnya, mungkin juga lama, tapi saya tidak sadar karena terlalu excited melihat sekitar, hehe. Terima kasih atas pandangannya! Bisa jadi bahan saya untuk mencoba melihat sebagai masyarakat lokal pengguna jalan yang tahu plus dan minusnya angkot di Kota Malang.

  8. Mulai banyak Apartemen kayaknya ya.. aku terakhir kesana 2008.. rencana tahun ini mau ke malang lagi.. semoga ga terlalu banyak berubah,,

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?