Selintas Sabang, Mi Aceh, dan Mereka yang Tetap Tinggal: Episode Terakhir

Ternyata Mas Baliyan dan Pak Dayat memenuhi janjinya. Masuk ke pintu Pelabuhan Ulee Lheue yang kemarin urung dimasuki karena berportal, hanya untuk mencicipi bagaimana pemandangan Pulau We dari pesisir terutara Banda Aceh.

Jauh.
Jauh.

Tak banyak yang kami lakukan. Cuma mengambil beberapa foto pulau terutara Indonesia itu dari kejauhan, sebagai gunung-gunungan berwarna biru yang lebih gelap dengan birunya kaki langit. Kami tak bisa menyeberang dan mengeksplorasinya lebih jauh karena pesawat kami ke Jakarta akan terbang empat jam lagi. Tapi Pak Dayat dan Mas Baliyan sudah menyelipkan janji, kali kedua kami bisa bertualang bersama di Aceh, Pulau We adalah tujuan utama kami.

Ini perbukitan di sebelah selatan.
Ini perbukitan di sebelah selatan.

Saya cuma bisa berdoa supaya Tuhan mempertemukan diri ini kembali dengan Aceh dan orang-orang sebaik mereka. Terima kasih!

Jalan agak berlumpur akibat hujan semalam.
Jalan agak berlumpur akibat hujan semalam.

Ah, sebelum saya lupa, saya punya pemberitahuan singkat: ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian petualangan di Banda Aceh.

Tidak penting, ya? Yok, lanjut!

Keluar dari areal pelabuhan, untuk sesaat kami juga berhenti di pemakaman massal untuk korban tsunami yang ada di daerah Ulee Lheue. Kami juga sudah melewati ini saat selintas Banda Aceh kemarin, tapi Pak Dayat rupanya kasihan dengan saya yang malam itu belum bisa mengambil foto. Memang baik benar bapak-bapak ini! Setelah sedikit memanjatkan doa demi ketenangan para korban yang terkubur di sana, saya pun mengambil beberapa gambar.

Namanya keren. Taman Makam Syuhada.
Namanya keren. Taman Makam Syuhada.

Tenang, tidak ada penampakan di foto-foto itu. Sejauh penglihatan saya, sih. :hihi. Cuma fotonya saja yang agak kabur gara-gara saya lupa mengatur fokus :hadeh. Jadi yang agak memadai untuk postingan ini cuma satu, deh. Maapkeun!

Mas Baliyan sebenarnya masih mengajak kami berkeliling kota. Melewati replika pesawat Seulawah di Blang Padang, yang di dekatnya terdapat bangunan SMA 1 Banda Aceh yang benar-benar mirip istana berpilar Doria. Kembali kami ditawarkan kesempatan untuk berfoto, namun agaknya rasa lapar dan gemuruh di perut ini mengalahkan semua. Kami harus makan sesuatu yang rada berat. Dan kala itu, keputusan kami semua sudah bulat. Sebelum meninggalkan Aceh, wajib hukumnya bagi kami untuk mencicipi makanan yang meskipun kami kata berat, tapi orang Aceh justru tidak menganggapnya demikian:

“Mi Aceh!”

Beruntung kala itu saya (sudah) punya teman yang seorang travel blogger dan paham betul soal Aceh. Namanya Mas Ari, lebih dikenal dengan nama pena Buzzerbeezz. Dalam salah satu sesi komen-berbalas-komen pada postingan beliau tentang Aceh, saya menyelipkan satu pertanyaan tentang di mana tempat menyantap Mi Aceh terbaik di seantero kota. Mas Ari merekomendasikan dua tempat, dan kami pergi ke salah satu di antaranya, tempat bersantap yang sejatinya… cuma sepelemparan batu dari penginapan kami.

Saya pun menjedot-jedotkan kepala di jok mobil depan saya secara harfiah. Kenapa tidak ada yang bilang dari kemarin-kemarin, Tuhan? Kenapa? Kan kami bisa makan dari kemarin-kemarin? (lebay).

Mie Midi Peuniti, nama kedai itu. Berlokasi di daerah Gampong Peuniti, Banda Aceh. Sebuah tempat yang tidak asing di telinga masyarakat Aceh (dan wisatawan, tentu), namun tidak ramai karena saat itu jam makan siang sudah selesai. Kursi-kursi bekas melayani pengunjung yang (mungkin) membludak ditumpuk tinggi di belakang restoran. Sang empunya kedai memasak di bagian depan, sementara di belakang menjadi pabrik pembuat jus serta minuman lain.

Ta-dah! Ini enak banget. Sumpah.
Ta-dah! Ini enak banget. Sumpah.

Saya baru tahu kalau varian topping Mi Aceh itu ternyata tidak sedikit. Dari mi polos, bisa dijadikan bermacam-macam menu mi Aceh, dengan tambahan daging, udang, kepiting, dan telur. Berhubung saya agak takut kadar kolesterol ini naik, jadi saya menghindarkan diri memesan kepiting dan memilih Mi Aceh dengan campuran udang dan daging. Sebenarnya kolesterolnya sama saja sih, kalau pesan udang dan kepiting :hehe. Jadi sebenarnya tidak ada faedah yang terlalu signifikan :malu.

Sepiring Mi Aceh datang beberapa saat kemudian, disajikan dengan emping dan kerupuk ceriping pedas, plus tambahan bawang merah mentah (ternyata bumbu satu ini tidak buruk) dan irisan mentimun serta cabai rawit hijau dan irisan bawang segar kalau kurang pedas, meski saya tidak membutuhkan cabai rawit gara-gara tanpa cabai rawit pun bumbu Mi Aceh ini sudah cukup menyengat. Semua itu ditemani dengan minuman es jeruk segar, yang esnya disajikan terpisah dalam sebuah lepek kecil.

Saya sudah pernah membahas ini sebelumnya, kan?

Betapa, tiga hari tapi cerita yang saya dapat demikian banyak!

Mi Aceh yang saya makan itu betul-betul mengenyangkan! Padahal saya orang Indonesia asli, “belum kenyang kalau belum makan nasi”. Tapi seporsi Mi Aceh itu tidak membuat saya tetap merasa lapar setelah makan. Mungkin karena tekstur minya yang padat, ditambah lagi udang dan daging yang cukup banyak ditambahkan di sana. Atau mungkin karena saya makannya tidak banyak?

Wah, kebohongan betul itu!

Pada akhirnya piring kami semua licin tandas. Jam di dinding sana pun sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Itu artinya, seperti konsensus yang ada dalam pikiran semua kami, perjalanan ini pun tuntas sudah. Kami harus kembali mengejar penerbangan guna kembali ke Jakarta. Beruntung, barang-barang tak perlu kami khawatirkan karena sudah tersimpan rapi di bagasi mobil.

Jadi kami tinggal berangkat!!

Ada sekitar beberapa menit menjelang jam dua, kala itu, ketika kami sudah dalam perjalanan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Selepas Banda Aceh, jalanan berubah, dari sebuah kota, menjadi petak-petak sawah dan pohon-pohon rindang menaungi di kiri kanan jalan. Entah, di perjalanan ini saya merasa berat meninggalkan Aceh. Seakan-akan tempat ini telah begitu banyak memberi cerita pada saya, begitu banyak memberi pesan, tapi saya masih belum dapat menarik benang merah dan kesimpulan akan pelajaran-pelajaran yang sudah saya reguk selama tiga hari berselang.

Sampai kami menjumpai sebuah gapura berpintu cukup tinggi hampir kami lewati di sebelah kanan jalan.

Pemakaman Massal Siron.

“Mau singgah?” Pak Dayat tampaknya sadar kalau tatapan mata saya mengikuti gapura itu, bahkan ketika kami sudah berada lumayan jauh. “Baru jam dua, kita masih punya banyak waktu.”

Saya bisa merasa kalau pandangan mata ini amat sangat tak percaya. “B-boleh, Pak?”

Ia tak menjawab, tapi mobil berputar balik. Semua orang ternyata menyambut baik keputusan itu, dan saya senang bukan kepalang, setengah berdebar sebenarnya karena saya hampir bisa merasa bahwa ada satu cerita lagi yang bisa saya ambil di pemakaman massal itu. Suatu penutup, konklusi di saat-saat akhir kunjungan pertama kami di Bumi Serambi Mekkah.

Selain beberapa petugas kebersihan, tak ada orang lain di tempat itu (saya juga baru sadar kalau setiap tempat yang kami datangi di sini selalu agak sepi, kenapa ya?). Di sana juga ada sebuah mushalla. Kebetulan sekali, para bapak menunaikan ibadah, sementara saya pergi menjelajah di lokasi pemakaman ini. Saya sudah dipesan untuk tidak sampai lupa waktu (lagi), dan saya menyanggupi. Jadi, semua memang harus dilakukan dengan cepat.

Papan Selamat Datang.
Papan Selamat Datang.

Pekuburan Massal Siron. Salah satu dari beberapa lokasi penguburan massal korban tsunami Aceh. Menurut para bapak, yang ini yang terbesar, karena di sini terkubur sekitar 47.000 korban tsunami, dari seluruh penjuru Nanggroe Aceh Darussalam. Akses ke sini cukup mudah, karena berada di jalan lintas Banda Aceh menuju bandara Sultan Iskandar Muda. Hampir bisa dipastikan tidak akan terlewat, karena gapura besar di pinggir jalan itu pasti menarik perhatian.

Bersih, asri, dan sepi.
Bersih, asri, dan sepi.

Lingkungan di sini asri. Gemerisik bambu memang akan terkesan sangat menakutkan di malam hari, tapi ketika kegelapan masih kalah di siangnya, suaranya terdengar menentramkan dan syahdu. Di belakang sana pepohonan menghutan, suara daun-daun yang beradu terdengar pelan mengikuti desir angin. Dari parkiran di dekat mushalla, rumah penjaga, dan toilet, terdapat jalan berpaving dan tembok rendah sampai ke arah monumen kenangan di daerah tenggara. Sementara itu, di sisi kiri dan kanan itulah, pada gunduk-gundukan berumput rapi yang membentuk cekungan berair tenang akibat hujan semalam, jasad para korban tsunami terkubur, beristirahat tenang dalam tidur panjang sampai akhir zaman.

Saat itu saya merasa kompleks ini lebih bersih daripada biasanya (padahal saya juga tidak tahu biasanya itu seperti apa :haha), dan ada juga beberapa orang melakukan pengecatan pada rumah penjaga. Yang pasti, kesannya mereka semua seperti sedang berbenah. Saya memberanikan diri bertanya pada seorang ibu yang sedang menyiangi rumput di dekat jalan pintas ini.

Jalan yang lainnya.
Jalan yang lainnya.

“Kalau boleh tahu, ada acara apa ya, Bu?”

“Oh, nggak ada Mas, cuma sebentar lagi Desember, jadi keluarga pasti semua ziarah ke sini.”

...pada gundukan kecil bercekungan terisi air tenang inilah...
…pada gundukan kecil bercekungan terisi air tenang inilah…

Saya terdiam, tercenung untuk beberapa saat, sementara sang ibu bercerita. Ada lebih dari lima lokasi kuburan massal tsunami tersebar di Aceh ini. Dengan korban yang berasal dari entah mana, tak ada yang mengerti.

Saya berpikir tentang para keluarga. Mereka mungkin saja ada yang tidak tahu di mana keluarga mereka yang menjadi korban tsunami dimakamkan. Bisa di Siron. Bisa di Ulee Lheue. Bisa di tempat lain. Tapi setiap tahun mereka wajib menziarahi makam sanak keluarga mereka, pada peringatan terjadinya musibah itu. Ke mana tepatnya mereka harus berziarah, mereka tidak tahu, jadi mereka menziarahi semua pekuburan massal, dengan harapan bahwa sanak keluarga mereka memang benar terkubur pada salah satu pekuburan massal ini.

Mereka sudah barang tentu mengesampingkan kemungkinan bahwa keluarga mereka tidak ada di semua pemakaman, dengan kata lain sudah menghilang entah ke mana.

Bisa dibayangkan?

Saya melanjutkan perjalanan ke arah gerbang. Tinggi, besar, dengan tulisan Arab yang saya tak mengerti artinya (mungkin ada yang bisa mengartikan?). Megah, kokoh, seperti memberi keyakinan bahwa di balik pintu ini, semua aman. Dari bencana tsunami, bencana gempa bumi, ingar-bingar dan kekotoran duniawi. Semua aman, tentram, damai.

Inikah replika pintu surga?

Sayang saya lupa mengambil foto gerbang besar itu. Padahal megah sekali.

Dari kejauhan.
Dari kejauhan.

Monumen besar di tenggara itu memang betul-betul tak bisa menanti, selain waktu yang terus memburu, jadi saya mendekatinya. Melangkah hati-hati, berucap permisi dalam hati, agar tak ada yang merasa terinjak lalu tersakiti. Beruntung, bulatan-bulatan semen yang terpasang memandu langkah agar tak keliru arah. Semakin didekati, semakin jelas bagi saya bahwa monumen ini adalah replika gelombang yang berhasil mengubah masa depan Aceh setelah 26 Desember 2004.

Sudut yang berbeda. Megah, ya.
Sudut yang berbeda. Megah, ya.

Untuk beberapa puluh detik saya mengamatinya. Tingginya mungkin sekitar beberapa meter, cukup tinggi, dan terdiri atas beberapa struktur, besar dan kecil, seperti gelombang yang susul menyusul. Ornamen abstrak lingkaran-lingkaran berwarna biru cerah menghiasinya, memberi dinamika dan sedikit menjauhkan monumen itu dari kesan polos. Beberapa tulisan Arabia di atas, di samping selarik kalimat dalam bahasa Arab di kanan bawah (yang saya kemungkinan duga kalau itu bagian dari larik-larik ayat suci) belum dapat saya ambil maknanya karena (lagi-lagi) saya tak bisa membaca itu. Sebenarnya agak sayang tidak ada penjelasan tentangnya, karena sebenarnya saya yakin ini bukan monumen yang tak bermakna.

Sedikit lebih dekat.
Sedikit lebih dekat.

Makna. Mendadak saya jadi berpikir tentangnya. Apa makna perjalanan di sini? Selama tiga hari, bertukar banyak cerita, melintasi sisi barat Aceh dari Meulaboh hingga ibukota penuh sejarah, berkecimpung bersama jejak-jejak sang gelombang, tertawa dengan makanan dan minuman khas, terapung-apung dalam cerita si kapal yang sudah mendarat, dan menikmati potongan-potongan yang masih tersisa dari alam Nanggroe Aceh Darussalam ini. Tapi maknanya? Mungkin saya bisa menyimpulkan sedikit tapi saya masih belum begitu yakin…

Hmm...
Hmm…

Sampai pada saat saya melangkah kembali ke kendaraan, sebuah monumen kecil berbentuk segitiga menyajikan makna itu dengan begitu jelasnya pada saya. Begitu jelas dan tegas, tak diperlukan tafsiran lain maupun anggapan lain soal makna dari perjalanan ini. Dalam tiga bahasa, saya sajikan kembali makna yang telah dipertontonkan dengan begitu lugasnya itu, sebagaimana yang sebenarnya sudah saya tampilkan dalam episode pertama perjalanan kedua saya ke Bumi Andalas:

Berhentilah sejenak, baca, dan renungkan. Sebentar saja.
Berhentilah sejenak, baca, dan renungkan. Sebentar saja.

Bala tasaba, nekmat tasyuko, disinan le ureueng bahgia.

Bencana, kita sabari. Nikmat, kita syukuri. Banyaklah orang akan bahagia.

Disaster, be patient. Comfort, be grateful to God. More people will be happy.

Sabar, syukur, bahagia. Kita sabar dan bersyukur, maka kita akan bahagia.

Pertanyaan yang muncul seketika adalah: Kalau kamu dapat nikmat, apa kamu sudah bersyukur?

Kalau kamu dapat musibah, apa kamu sudah bisa bersabar?

Bagaimana mungkin kamu tahu apa itu bahagia kalau satu (atau bahkan dua) dari pertanyaan di atas masih kamu jawab dengan “tidak”?

Tataplah sekitarnu...
Tataplah sekitarnu…

Tidakkah makna itu demikian membekas? Saya tak akan membahas tentang bagaimana dan apa itu syukur dan sabar, apa itu bahagia, tapi saya hanya akan meninggalkan tiga kalimat itu untuk diri saya sendiri, dan untuk semua yang sudi membaca catatan ini sampai pada episode ini, untuk sama-sama kita jadikan bahan melihat sedikit lebih dalam dan lebih lama pada apa yang ada di balik sanubari. Kita semua punya pemahaman yang berbeda, persepsi dan tujuan yang tidak sama, jadi kita tentunya akan mengartikan itu secara berbeda pula.

...dan lihatlah ada berjuta hal yang bisa kau syukuri.
…dan lihatlah ada berjuta hal yang bisa kau syukuri.

Dan memang, semua akan kembali pada diri kita masing-masing.

Pada akhirnya, ketika saya sudah kembali ada di dalam mobil menuju bandara, sambil mengembuskan napas lega, saya sudah tahu apa makna perjalanan ini bagi saya. But did it mean a goodbye for Aceh?

No, I wouldn’t say goodbye for a land which had taught me so many things I couldn’t put it off in a list. That goes without saying. Instead, I said these words when my plane took off from Aceh:

“See you next time.”

Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya! :)).

See you at next post! Ke mana kita akan berpetualang?
See you at next post! Ke mana kita akan berpetualang?

96 thoughts on “Selintas Sabang, Mi Aceh, dan Mereka yang Tetap Tinggal: Episode Terakhir

  1. pulau we ini salah satu bucket list aku sama suami lhoh Gar. duluuu suami sering tugas ke aceh. trus jatuh hati. sama daerahnya ya. bukan sama perempuannya. istri pocecippp. hahhaha.. trus dulu pas kita madu bulan pengennya ke sana. apa dayaaah diketawain sama saldo tabungan. baca2 tulisan kamyuuu, jadi makin pengen ke sana. doakaaan ya ada rejeki lebih 😀

  2. Bli Gara ini ada-ada aja, khawatir makan kepiting karena kolesterol tapi makan udang dan daging sebagai gantinya 😀
    Melihat foto pemakaman massal itu, aku jadi terdiam. Para keluarga yang ditinggalkan tetap berziarah ke sana meskipun bisa saja orang yang mereka cintai tidak dimakamkan di sana.

    Tulisan Arab yang besar bisa kebaca, tapi yang di bawahnya nggak kebaca dari foto. Yang di atas itu “Kun fayakuun”. Secara harfiah berarti ‘jadilah, maka jadilah ia’. Dalam ajaran Islam, kalimat itu adalah firman Allah yang menjelaskan bahwa sangat mudah bagi-Nya untuk melakukan apa pun, meski terkesan mustahil bagi manusia.
    Pada akhirnya kembali pada kita masing-masing, apakah mau mengambil pelajaran dari setiap kejadian? Setuju dengan kalimat yang tertera pada monumen itu, bersabar dan bersyukur adalah kunci kebahagiaan :).

    1. Maka dari itu Mi, faedahnya tidak terlalu ada :hehe.
      Mungkin bagi mereka kini, di manapun mereka berdoa, doa akan sampai pada Tuhan di atas sana, yang menjaga sanak saudara yang telah tiada :)).
      Oh, aah… demikian. Dalam sekali maknanya. Memang apa yang terjadi itu adalah kehendak Tuhan. Tuhan Maha Kuasa, Beliau bisa melakukan apa pun.
      Sip, setuju dengan pendapat dan pandanganmu. Kita mesti senantiasa bersyukur dan sabar, supaya tidak ada beban, langkah lebih ringan dan hidup akan jadi lebih bahagia :)).

      Terima kasih banyak ya Mi sudah berkenan berbagi informasi di sini :hehe.

      1. Benar Bli Gara, toh yang terpenting dan yang nisa dilakukan oleh mereka yang ditinggalkan adalah berdoa, di manapun makam para korban itu berada.

        Sama-sama, Bli. Terima kasih karena sudah mengingatkanku juga melalui tulisan ini :).

  3. “Bencana, kita sabari. Nikmat, kita syukuri. Banyaklah orang akan bahagia.” Mungkin maksud tulisan ini adalah dalam kondisi apapun kita harus bersyukur, tapi namanya musibah pasti meninggalkan duka mendalam. Tsunami aceh juga begitu, sampai kapanpun dukanya pasti tetap terkenang, entah lewat monumen, sejarah atau cerita. Tetapi bagaimanapun, manusia harus tetap bisa move on melanjutkan peradaban. Tsunami, biar pedih sudah menjadi takdir yang tidak bisa dihindari dari tuhan 🙂

  4. Bli itu mie Aceh kepiting enak banget pasti, sesekali mah gapapa *jadi setan 👿
    Lengkap sekali ceritanya pun ditutup dengan quote yang ‘dalem’ banget, bikin mikir udah sabar dan bersyukur belum selama ini ya….

    1. Enak banget dong ya :hehe.
      Ah, terima kasih banyak atas apresiasinya. Untuk renungan yang satu itu juga sama sih, saya juga jadi berpikir, apa saya sudah cukup sabar dan bersyukurnya? Ilmu sabar dan ilmu bersyukur kan dua ilmu yang paling susah :hehe.

  5. Ah. The end for Aceh? I bet you have tons of story from other city. Can’t wait.

    Gak akan makan mie aceh dah saya. Gak kuat pedesnya. Itu pemakamannya bersih banget ya. Dan kata2 itu. Moga banyak yang bisa melakukannya.

  6. kayaknya semua blogger yg pernah ke Aceh jadi jatuh cinta setengah mati ya sama tanah ini
    masa kecilku pernah dihabiskan di tanah ini juga, tapi mungkin waktu itu masih beda rasanya, belum ada pelajaran kehidupan yg bisa diambil
    semoga suatu saat bisa kembali ke sana

    1. Bagaimana tidak, Mbak… ceritanya begini banyak…
      Wah, di daerah mana, Mbak? Berapa lama di sana?
      Amin, semoga Mbak bisa kembali bertandang ke sana :)).

  7. Cerita kamu mengingatkanku akan pengalaman 6 tahun yang lalu, saat meninggalkan Aceh setelah tinggal di sana selama hampir tiga tahun. Rasanya berat, berpisah dengan teman – teman, ibu kos dan orang-orang baik yang aku temui selama tinggal di sana. I was so grateful to have a chance to live in that beautiful place. Sayang, kamu ngga sempat ke Sabang. Tempat itu keren banget buat snorkling. Dan Mi Midi, OMG… Aku ingat, abis pulang kerja selalu menyempatkan diri untuk makan sore di sana bareng teman2. Mie nya benar-benar lezat. I wish, I can come back to Aceh someday.. Semoga suatu saat kamu juga bisa sampai ke Sabang…

    1. Amiin, semoga Mbak bisa kembali ke Aceh dan semoga saya bisa ke Sabang :)).
      Kenangan Aceh tentunya tidak akan terganti dan akan sangat membekas di benak kita masing-masing ya Mbak :)).

  8. Mie aceh itu memang paket komplit kolesterol, ya bumbunya ya toppingnya, ya empingnya, tapi tetep aja irresistable hehehe
    Saya selama ini wondering mengenai kuburan massal itu, tapi melihatnya sangat terawat meskipun tidak dibuat per nama (karena itu sulit sekali) saja sudah bersyukur karena setidaknya dibuat indah. Apalagi kalo membayangkan beberapa tahun silam saat kejadian itu 🙁
    Perjalanan yg luar biasa, dan memang sabar syukur bahagia itu selalu bertali, namun sayangnya sering terlupa. Terima kasih sudah mengingatkan.

    1. Memang tidak tahan banget dah Mi Aceh itu Mbak :hehe.
      Iya Mbak, saya lihat foto-fotonya di Museum Tsunami saja bisa sampai bengong dan tidak habis pikir, itu yang ditumpuk-tumpuk kan jasad manusia ya :huhu.
      Terima kasih banyak, Mbak. Saya senang bisa berbagi cerita juga dengan teman-teman di sini :)).

  9. Aku liat pemakaman selalu ada rasa sunyi, semoga yg terbaring disana berada dlm damai.
    Aku blm pernah makan mie aceh, mudah2an tercapai suatu hari nanti, makan mie aceh, enak banget keliatan nya

    1. Amin Mbak, semoga mereka semua beristirahat dalam damai :)).
      Mi Aceh enak sekali. Kaya rasa dari banyak rempah dan toppingnya sangat murah hati :hehe. Minya juga padat dan mengenyangkan. Puas pokoknya :)).

  10. Tosss Gara aku juga kalau belum makan nasi kaya gak afdol ahahahaha. Dohh salah buka blogmu dijam seginiii itu mie aceh menggoda banget!!! Kalau mau kokestrol gak naik harusnya mie aceh polos aja Ra huehehehe

    1. Persis apa yang saya nikmati kemarin, kecuali jus mentimun, ya. Saya belum pernah coba jus mentimun sebelumnya, Mas :hehe. Bagaimana rasanya, Mas? Enak?

    1. It’s very meaningful, indeed :)).
      Sesekali mesti coba ke Aceh kalau ada kesempatan Mbak… Aceh adalah tanah dengan banyak cerita yang susah untuk tidak membekas di hati :)).

  11. Uhuk. Naik Garuda 😀

    Aku entah kenapa ngga sukak Mie Aceh, Gar.. Soalnya mienya kan gede-gede trus berminyak gitu yak. Aku langsung hilang selera.. 😛

    1. Hm, bagi saya sih tidak terlalu pedas Mbak.
      Saya pun agaknya akan berpikir lagi kalau singgahnya malam-malam :hehe. Pertama kali kami ke sini memang malam hari juga, tapi kami cuma berhenti di pinggir jalan, tidak masuk :)).

  12. Waaaaahh kamu beruntung banget bisa nyicip mie aceh ditempatnya langsung, Gara! ;). Aku suka bgt mie aceh, tapi standard sih… selalu pese yang udang. Liat postinganmu jd pengen kesana deh, indah bgt 🙂

  13. di aceh cuma sempat ke kuburan massal yang lhok nga, kesitu udah malem n nekat foto2… hasilnya gambarnya banyak orbs n merinding sampe rumah temen yg di aceh… lah kok kata temen saya tadi ada cewe (kunti) ngeliatin saya pas lagi foto2 di kuburan itu…. 😀

          1. antara jadi ‘berkah’ dan ‘musibah’ mas… kata orang rumah mertua saya berhantu, awalnya gak percaya secara gak berasa apa2 n biasa aja, sampe akhirnya ada temen dtg n bilang kalo rumah saya ada apa2nya ..

          2. Iya sih, baru jadi persoalan kalau di rumah sendiri dikata ada yang aneh-aneh itu :hehe.
            Tapi sampai sekarang tidak ada kejadian aneh-aneh dengan penghuninya kan, Mas?

  14. Waaah gara nyari gara-gara nih…

    Ngeces jadinya…lihat mie tumis aceh kayak gitu, dengan emping dan kerupuk ceriping pedas, bawang merah, mentimun dan cabe rawit 😛 😛 😛

  15. Menyentuh sekali mas. :’)

    Saya belum pernah singgah di Aceh dan ingin suatu saat men-ziarahi tempat ini, berdoa untuk mereka yang menjadi Syuhada.

    1. Wah, terima kasih banyak sudah berkunjung, Mas! :)).
      Yap, tempat ini memang membawa kekayaan spiritual yang banyak banget. Bisa mendoakan mereka saja sudah jadi kebanggaan tersendiri untuk saya. Siap, ditunggu ceritanya Mas! :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!