Selamat Sore, Santa!

1 November 2014 = Busy + Fun!

Busy karena kami banyak sekali agenda hari itu. Family Gathering di kantor plus kondangan pertama gue saya di Jakarta (terbawa blog lama). Tapi fun, gara-gara kami menjelajah lagi lokasi hits di Jakarta, sebuah pasar, yang dalam kunjungan pertama kami belum selesai disambangi.

Pasar Santa. Pasar Modern Santa. Pusat Ekonomi Kreatif Jakarta.

Terutama sekali (saya akan mengatakan ini berulang-ulang), saya tidak berharap kalau ekonomi kreatif selalu menjadi “ekonomi berbiaya mahal”.

Tapi Santa tidak begitu, kok. Untuk sekarang.

Pembahasan itu kita simpan buat nanti, ya.

Ngomong-ngomong, kayaknya semua blogger, apalagi travel blogger, boleh jadi sudah membahas Santa dalam situs mereka. Dari berbagai sisi, dari berbagai sudut, dari berbagai pandangan, dari berbagai sudut sisi dan sudut pandang. Jadi kalau saya di sini membahas dari sisi yang saya usahakan berbeda, saya juga bingung mau bahas apa. Semua sisi sudah dibahas semua!

Jadi saya membahas sisi yang sama saja. Lagipula, bukankah beda itu ada karena ada sesuatu yang sama? Lantas kalau orang-orang pada beda, kenapa harus malu menjadi sesuatu yang sama? Itu kan namanya juga beda? Beda dari yang beda? #ngeles #nggaknyambung #sayajuganggakngerti #alasandoanginimah

In-ti-nya, tengah hari 1 November 2014, saya, Mbak Din, Mbak Ta, Mbak Titise, dan Mas Fabio menjelajah lagi ke pasar di selatan Jakarta itu. Dari Esa Unggul di Jakarta Barat, kita meluncur dengan Daihatsu Teriosnya Mas Fabio.

Menemukan Pasar Santa dari Jakarta Barat memang tidak susah. Tapi juga kalau tidak ada GPS, alamak susahnya. Gampang-gampang susahlah. Yang kita tahu, alamatnya di Jl. Cipaku I Jakarta Selatan. Terakhir kita ke sana pun, naiknya taksi, jadi kita memasrahkan diri pada sang sopir taksi. Memang, kalau kita mencari jalan sendiri, suasananya bakal beda ketimbang dengan kendaraan umum. Soalnya, untuk yang baru pertama ke suatu tempat, mencari lokasi di Jakarta bisa jadi petualangan sendiri.

Ternyata, buat ke Pasar Santa, carilah salah satu dari dua perempatan berikut: Perempatan Mampang Prapatan (buat yang dari Kuningan, perempatan pertama setelah Perempatan Kuningan-Gatsu), atau Perempatan Bulungan (yang ada kantor PLN Bulungan, kantornya gede, pokoknya perempatan pertama setelah Bunderan Senayan, di dekat Sekretariat Asean. Kalau belum jelas, nama lain perempatan ini adalah Perempatan Kejagung!).

Buat yang dari Kuningan, belok kanan masuk Jl. Kapten Tendean. Lurus terus, kalau ada Percabangan Bangka ambil cabang sebelah kanan buat masuk Jl. Wolter Monginsidi (kalau ambil Bangka, nanti ke Kemang. Hipster beneran!). Ketemu Percabangan Suryo, ambil yang kiri. Begitu ada jalan ke kiri setelah percabangan itu, belok kiri saja. Ketemu deh dengan Pasar Santa.

Rute yang agak berputar harus diambil buat pengunjung dari Blok M (seperti kami kemarin). Lurus saja dari Perempatan Bulungan, nanti ketemu satu titik di mana harus belok kanan karena dari depan satu arah dan ada vorbaden. Jadi belok kanan, lurus terus, nanti ada percabangan, ambil sebelah kiri. Ikuti jalan, nanti kalau ada papan Jl. Cikajang, masuklah ke Jl. Cikajang. Ikuti jalan saja, nanti papan Jl. Cipaku I akan tampak. Masuki, dan Pasar Santa ada di sebelah kanan.

Tenang saja. Jakarta kota yang ramah penjelajah berkendaraan. Sejauh ini, papan-papan hijau itu sukses membantu saya, baik sekadar petualangan ke Rawamangun sampai kucluk-kucluk ke Pakin.

Kesan pertama Pasar Santa bagi saya adalah sebuah pasar. Ya iyalah. Di lantai basemen dan lantai satu, pasar ini masih seperti pasar umumnya. Dengan geliat ekonomi kerakyatan. Pedagang sembako, kelontong, para penjahit, alat-alat listrik, beberapa pedagang pakaian serta makanan dan jajanan khas pasar masih ada. Mereka seolah tak sadar akan dunia lain yang ada di atas mereka. Ekonomi tetap berjalan secara berdampingan, malah saling mengisi.

A glimpse of underground world.
A glimpse of underground world.
Lorong panjang di Pasar Santa!
Lorong panjang di Pasar Santa!
Sudut lain di Pasar Santa :)).
Sudut lain di Pasar Santa :)).

Tapi pada hari itu, aroma dunia lain sudah terasa di lantai satu.

Di dekat pintu timur, sundel bolong berdiri membelakangi tepi, menatap peti matinya yang berdiri tegak. Bercak darah dan beberapa belatung timbul menggerogoti punggung. Di atas peti itu, penggalan kepala serigala menyapa, seringainya sadis menatap kami. Saya melihat ke atas tangga, laba-laba turun dari langit-langit pasar. Hitam, menyeramkan, membawa aura gelap yang pekat. Kami berlima menatap ke atas sana, pada laki-laki dan perempuan berjubah hitam yang berlalu lalang.

Perlahan, kami pun mengikuti ke mana kengerian membawa. Meniti tangga, kusibak laba-laba hitam yang menggantung dari langit-langit, berayun-ayun pada jaring yang belum putus. Di tengah-tengah tangga, darah seolah menetes pada suatu titik di daerah yang dibatasi selotip membentuk tubuh seseorang yang terjatuh. “Death was here”, tulisnya. Sebuah piring kecil berisikan sirih, rokok, dan kemenyan, menanti seseorang untuk membakarnya, menjadi bentuk persembahan pada makhluk astral yang kini terpisah dari tubuh kasarnya itu. Di puncak tangga, saya mendongak, jenazah seorang pria yang tergantung menatap saya dengan mata membelalak.

Selamat datang di Santa Satu Suro!

 

Santa Satu Suro

Seramkah? :haha. Saya cuma bercanda saja. Hari itu tepat beberapa hari setelah peresmian Pasar Santa sebagai pusat ekonomi kreatif Jakarta. Resmilah Santa menyandang predikat pusat ekonomi kreatif, meski menurut saya, Santa sudah menjadi lokus kreativitas Jakarta jauh sebelum predikat itu terpasang. Entah mengapa, saya merasa prosesi predikatisasi tak lebih sebagai akibat, bukan sebab #iykwim.

Hari itu memang ada event spesial di sana. Karena beberapa hari sebelumnya adalah perayaan Satu Suro, terlebih lagi kemarinnya (31 Oktober) adalah Halloween, jadi komunitas di Pasar Santa agaknya membuat acara khusus untuk merayakannya, yakni dengan menyelenggarakan serangkaian event pada hari itu.

Total. Mungkin saya jarang melihat bentuk perayaan seperti ini (sehingga saya seperti orang buta yang tumben melihat), tapi kalau saya diminta menilai, untuk yang satu ini saya akan memberi nilai tinggi. Mereka tampaknya benar-benar berniat menyiapkan semua kelengkapan acara. Kemenyan, peti mati buatan lengkap dengan jenazah di dalamnya, kepala serigala dengan taring tajam panjang mencuat, manekin-manekin yang dihias sedemikian rupa sehingga jadi mayat orang gantung diri, pun beberapa titik di tangga yang dibuat seolah-olah telah terjadi kejadian menyeramkan di sana, entah bunuh diri atau pembunuhan dengan mendorong seseorang dari tangga. Ada juga, laba-laba kertas menjuntai dari langit-langit, gumpalan debu dan jaring laba-laba (entah asli atau palsu) di beberapa tempat, mengesankan Pasar Santa kala itu seperti rumah tua yang tak terurus, gelap dan menyeramkan.

Jelas menyeramkan! Selebaran tempelnya saja menampilkan wajah Suzanna dalam ekspresi terbaiknya -_-

Benar-benar suatu kebetulan kami berlima tiba di tempat ini. Tidak ada rencana untuk datang ke tempat ini ketika event Santa Satu Suro diselenggarakan: sebelumnya kami bahkan tidak tahu kalau event itu ada! Walhasil, semua orang menelan ludah ketika melihat punggung si sundel bolong menyapa di depan pintu masuk. Saya ingin menyentuhnya tapi agak berpikir: bagaimana kalau dia tiba-tiba berbalik (maksudnya, itu orang sungguhan yang mengenakan kostum sundal bolong)? Kebetulan sekali kalau sundal bolong yang saya sentuh itu sebenarnya sungguhan… maksudnya orang sungguhan, ya!

Kebetulan? Hee, kebetulan yang menyeramkan…

Saya jadi ingat lagu yang biasa dinyanyikan Ibu kalau kami anak-anaknya berkisah yang seram-seram.

Hantu berjalan, berdua laki bini…”

Janggalnya, lagu itu, sebagaimana kejanggalan hantu yang berjalan, selalu dinyanyikan satu kalimat saja.

Yes, the ghost is walking, and the head is hanging behind him!
Yes, the ghost is walking, and the head is hanging behind him!

Makin menjelajah ke dalam, kami sadar bahwa perayaan ini tidak melulu persiapan properti dan setting suasana. Para tenant di sini pun menyesuaikan. Beberapa di antara mereka menjadi hantu. Maksudnya berdandan seperti hantu. Hantu apa saja. Saya melihat ada hantu anak sekolah, suster ngesot, kuntilanak, atau hantu bertopeng. Ada juga yang berdandan seperti penyihir, mengenakan jubah hitam lebar melambai serta topi kerucut, berjalan-jalan keliling pasar sekadar menyapa pengunjung dengan seringai lebar atau sekadar lewat mencicipi hidangan tenant lain.

Di toko masing-masing, para tenant juga diwajibkan menyediakan dekorasi khusus bergaya Halloween. Seperti dua buah labu oranye yang disiapkan pedagang jus jeruk yang kami singgahi pertama kali untuk melepas dahaga. Benar-benar labu oranye. Dan menurut si empunya toko, dua labu itu juga akan dijadikan Jack O’ Lantern. Tak ketinggalan pula gumpalan debu dan jaring laba-laba sebagai pemanis. Wuhuu.

Inilah yang menurut saya membedakan Santa dengan tempat kongkow-kongkow anak muda lainnya: para tenant juga kaum muda, yang masih menjunjung totalitas idealismenya. Mereka tak segan melakukan hal gila nan berbeda untuk menarik pengunjung, dan apabila ada acara tematik seperti ini, mereka juga melakukan hal gila dalam keikutsertaannya, hal gila yang dilakukan secara total.

Bukankah demikian hakikat kreativitas?

 

Gayobies dan Kisah Jari Tangan

Tujuan kami datang kemari untuk kedua kalinya, sebenarnya untuk kembali ke kedai kopi Aceh Gayo yang berhasil memanjakan lidah kami pada kunjungan pertama. Kedai itu bernama Gayobies, menyajikan hidangan kopi khas Aceh dengan berbagai variasi, dan harganya terjangkau (ini yang terpenting :hihi). Kami semua memfavoritkan Hazelnut Coffee-nya (meski kami harus menambahkan gula banyak-banyak sebelum dapat merasakan kenikmatannya tanpa harus merasa kepahitan! Maklum, kami semua sebenarnya tak terbiasa dengan kopi :haha). Rasa kopinya benar-benar terasa, namun agak melunak dengan sensasi kacang hazelnut yang cukup menggigit lidah.

Tampak depan dari Gayobies Kopi.
Tampak depan dari Gayobies Kopi.

Hari itu, sebagaimana tenant lainnya, nuansa perayaan Santa Satu Suro juga terasa di sini. Mereka memang tidak memasang dekorasi khusus besar-besaran, hanya ada beberapa tempelan di sana-sini, tapi ada makanan khusus yang disiapkan.

Jari tangan segar, siap santap!

Ada yang mau jari?
Ada yang mau jari?

Jangan takut :haha. Ini cuma kue kering yang bentuknya seperti jari tangan. Meskipun, kalau ditatap sekilas, tampak seram berkat bercak-bercak darah pada buku-buku jari. Darah dari selai stroberi. Kukunya juga suka lepas. Maklum, kuku almond :hehe. Iseng-iseng, saya ambil satu. Maksud hati mau menakuti Mbak Ta, malah saya yang kena duluan. Jadilah satu jari patah dan sebagai hukuman harus kami habiskan bersama-sama.

Dibungkus rapi untuk menjaga kesegaran jari Anda!
Dibungkus rapi untuk menjaga kesegaran jari Anda!

Dari segi rasa, jari ini sama sekali tidak berasa seperti jari, lho. #yaiyalah. Malah enak! Ukurannya juga lumayan gede, jari-jarinya montok nan gemuk, jadi benar-benar mengenyangkan.

Tidak... saya sudah makan setengahnya!
Tidak… saya sudah makan setengahnya!

Satu jari telunjuk gemuk dihargai Rp10k. Cukup mahal? Menurut saya, pada akhirnya tidak tampak mahal, karena hasil penjualan kue ini akan didonasikan kepada sebuah kelompok membaca di Pulau Timor sana (saya tak terlalu pasti dengan lokasinya, tapi kalau saya tak salah ingat ada di daerah NTT). Sepanjang untuk donasi, kita tahu bahwa uang kita akan mengalir kepada yang membutuhkan. Bahkan, semestinya kita merasa bahwa donasi Rp10k saja belum cukup.

Kalau saya boleh jujur, saya suka Gayobies. Dari kali pertama kami menyambangi Santa dan tempat ini, Gayobies selalu memberi warna tersendiri di hati saya. Entah, apa saya memang penyuka sesuatu yang klasik, kuno, dengan kata lain tua, dan di sini menurut saya semua persyaratan klasik itu terpenuhi. Tempat favorit kami jelas, sebuah meja bundar yang dilatari jendela klasik, yang di dekatnya banyak buku-buku dan ornamen-ornamen klasik.

Say hello to the background... I mean, to Mbak Din!
Say hello to the background… I mean, to Mbak Din!

Tidak seperti tempat lain yang menurut saya klasisismenya terkesan tidak terjangkau, di sini justru kebalikannya: saya dapat langsung menyentuh, terjun langsung pada memento-memento kenangan masa lalu. Buku-buku sastra dan studi kemanusiaan ada di sebelah kiri, sebut saja bukunya Alan Greenspan, Max Havelaar-nya Multatuli dan Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer dalam versi bahasa Inggris. Sebelah menyebelah setelah buku-buku itu kita bisa melihat banyak sekali pernik-pernik klasik, ada speaker kuno, toples-toples jadul, dan lain-lain.

Ornaments!
Ornaments!
A beautiful pose at a beautiful place.
A beautiful pose at a beautiful place.

Ah, rasanya untuk menikmati kesemuanya itu, tak akan ada makna apabila saya hanya menjelaskan dengan kata, karena imaji citra tentang rupa benda akan jauh lebih sahih mendeskripsikan nilai rasa ketimbang aksara semata.

My hazelnut coffee :)).
My hazelnut coffee :)).

Jadi nikmatilah gambar-gambarnya, ya! :hihi

Our half-empty coffees :)).
Our half-empty coffees :)).

Buat yang ingin tahu lebih banyak soal Gayobies, monggo, langsung datang ke Pasar Santa, atau buat yang ingin kepo-kepo di internet, bisa ke situsnya di www.gayobieskopi.com, atau di blognya gayobiescoffee.blogspot.com, bisa juga follow twitter di @gayobiescoffee. Saya sangat merekomendasikan tempat ini, selain karena tempatnya klasik, harga makanannya sangat terjangkau, dan pemiliknya benar-benar ramah. Dua jempol!

Miegalomen dan Drama di Sepotong Kue

Betapapun, makan kue-kue kering tentu tidak mengenyangkan. Jadi ketika Mas Fabio berencana memesan ramen di toko sebelah, aku dan Mbak Ta sudah kasak-kusuk kepingin makan juga. Padahal kami di kondangan tadi sudah makan banyak… Mas Fabio sih tidak ikut kondangan tadi, jadi wajar kalau mau makan, nah kami?

Tapi namanya lapar tidak pandang bulu. Kayaknya kami sudah lupa kalau tadi telah makan. Jadi akhirnya kami juga ikut memesan ramen di warung sebelah, warung gerobak ramen dengan banyak lampion merah. Meski saya (yang sebenarnya kelaparan) agak jaim, jadi kami pesannya satu mangkok buat berdua. MESKIPUN… saya sebenarnya dalam hati kepingin memesan satu buat sendiri soalnya ternyata enak dan semangkok berdua jelas tidak cukup (bahkan setelah saya menghabiskan semua sisa kuahnya). :sedih #rakus

Miegalomen, namanya. Mungkin plesetan dari Megalomen? :haha. Anyway, semangkok ramen panas pedas dibandrol sekitar Rp22k. Sangat terjangkau. Sudah begitu, pemiliknya juga ramah! Sepertinya semua orang di sini ramah-ramah :hehe. Kami memesan ramen yang medium (tingkat kepedasan menengah), sementara Mas Fabio memesan ramen yang paling puedas (yang masih ditambah cabe lagi saat akan menyantapnya #okesip).

Ini punya Mas Fabio yaa.
Ini punya Mas Fabio yaa.

Buat yang mau kepo-kepo, bisa datang langsung, Miegalomen ada tepat di sebelah Gayobies Coffee, atau follow IG di @miegalomen. Recommended!

Puas makan ramen. Kenyang. Kami pun bergerak. Karena sudah terlalu penuh, bahkan untuk pencuci mulut saja kayaknya perut ini sudah tidak muat lagi. Memutuskan untuk beranjak pulang, sebelumnya kami keliling-keliling lagi. Satu kelemahan di Santa menurut saya adalah kurangnya pendingin ruangan. Setelah makan yang panas-panas, apalagi di dalam sana mulai ramai gara-gara hari Sabtu dan hari beranjak semakin sore, hawa pengap mulai terasa. Memang di langit-langit sana seperti ada exhaust fan berputar statis, tapi di bawah sini seperti tidak terasa apa-apa.

Semilir angin dingin menarik langkah-langkah kami pada suatu kafe es krim di bagian belakang pasar. Namanya unik, Sepotong Kue. Mbak Titis dan Mbak Din memesan es krim di sana. Mungil, es krimnya disajikan di dalam sepotong kue cokelat. Pengunjung juga bisa mendapat tambahan topping biskuit dan lain-lain sesuai keinginan. Di sini juga disajikan jajan-jajan pasar untuk yang masih mau cemal-cemil (seperti saya).

Hayo, mau pesan apa?
Hayo, mau pesan apa?

Sebuah skenario klasik terjadi di sana. Benar-benar klasik.

“Adik mau es?” Mbak Tis menawari saya.

“Nggak, Mbak. Sudah kenyang.” Tapi mata saya tetap nggak bisa lepas dari es krim teh hijau yang sepertinya enak itu.

“Beneran kamu nggak mau minta?”

“Nggak, Mbak. Bener, deh.” Saya lebih memilih memandang sekitar sambil sekali-sekali jepret-jepret guna mengasah kemampuan fotografi #eciye.

Lima menit kemudian ketika saya sudah kehabisan objek, dan es krim itu benar-benar sudah tiba di depan para mbak, saya mendekat dengan tatapan nelangsa dan berkata:

“Mbak, mau dong.”

Saya nggak bisa menahan diriii!!! #sedih

Es krim enak yang underexposed.
Es krim enak yang underexposed.

Intinya saya mencoba es krim itu, meski sedikit karena itu pun hasil dibagi. Seger! Rasa teh hijaunya terasa, tapi tidak terlalu pekat. Pas dengan lidah saya. Biasanya saya agak menahan diri dengan teh hijau gara-gara rasanya malah cenderung pahit, tapi ini tidak demikian. Malah enak. Hah, jadi menyesal saya tidak memesan. Lain kali datang kemari, saya mau deh singgah di sini dan memesan satu untuk diri saya sendiri…

Dinamika Santa dan Opera Parkir

Kita memang perlu sadar, saat ini Santa sedang berada dalam puncak popularitasnya. Setiap malam Sabtu dan malam Minggu, tempat ini pasti superpadat pengunjung. Kalau mau dirunut-runut, semenjak ABCD (A Bunch of Caffeine Dealers kafe yang selalu ingin kami datangi setiap ke Santa tapi selalu tidak bisa karena terlalu ramai atau belum buka itu) memulai usaha di sini, perlahan namun pasti Santa sedang mendaki tempatnya di kalangan muda Jakarta, dan itu kini terbukti sangat berhasil.

Inilah ABCD... yang masih tutup.
Inilah ABCD… yang masih tutup.

Saya katakan Santa berhasil sebagai “pasar kreatif Jakarta”, terutama sekali karena para tenant di sini berhasil merangkul semua kalangan muda Jakarta dari semua level ekonomi, dengan satu kalimat: jangan gengsi datang ke pasar, karena di pasar, semuanya ada”. Maxim hiburan tematik hanya cocok bagi yang berduit, sedikit demi sedikit meluruh di kawasan ini. Di sini, pedagang daging dan kelontong berbaur dengan pengusaha kafe, penjual kain bekerja sama dengan para penyewa kios yang ada di lantai dua, atau dengan dagang sate padang di pelataran parkir, seperti beberapa pihak yang saling membutuhkan karena saling menguntungkan.

Contohnya, pemberitahuan yang saya dengar ketika kami beranjak meninggalkan lokasi:

Kepada semua pedagang di lantai basemen dan lantai satu, dimohon untuk berkumpul di lantai dua untuk mencicipi hidangan gratis…”

Kenapa tidak saya, Tuhan? KENAPA TIDAK SAYA?

Oke, abaikan.

Kembali ke laptop pembahasan, memang, kalau kita mau nyebur menilik Santa dari segi ekonomi, tingkat biaya yang dikenakan kepada para konsumen tidak mungkin bisa lepas dari harga faktor produksi yang sebelumnya mesti ditanggung penjual. Seperti kurva ekuilibrium yang digabung dengan neraca Break Even Point a.k.a BEP dalam satu gambar. Penjelasannya, kalau harga faktor produksi seperti sewa tempat, royalti merk, dan lain-lainnya tinggi, sudah pasti harga barang yang dijajakan juga akan mahal. Akibatnya, kawasan kreatif akan identik dengan harga mahal dan gaya hedon, sebagai contoh kawasan Kem*ng sana.

Demikian pula sebaliknya, kalau harga faktor produksi murah, sewa tempat terjangkau, tak ada merk yang harus dibeli dan disaingi karena di sini semuanya murni memulai usaha dari nol, pada akhirnya harga barang yang dijajakan pun akan murah. Dengan demikian, mengesankan bahwa bisnis kreatif tidak melulu identik dengan istilah saya tadi, “ekonomi berbiaya tinggi”.

Untuk sekarang, Santa masih cukup (sangat) terjangkau. Harga-harga makanan di sini masih murah, atau kalau istilah murah bagi sebagian orang yang terlalu thrifty terlalu berlebihan, bolehlah saya katakan bahwa apa yang kita dapat lebih dari sepadan dengan apa yang sudah kita keluarkan. Dari sisi penjual sendiri, sewa tempat di sini masih cukup murah, meskipun itu dulu, karena sekarang kios-kios yang belum terjual sudah keburu dibeli agen yang akan menjual/menyewakannya kembali pada para tenant dengan harga yang tentu saja sedikit (banyak) lebih tinggi.

Buat saya sendiri, saya (dan sebetulnya kami) selalu saja lupa waktu kalau sedang berada di sini. Ibarat kata, meski suasana hati ini sedang jelek sejelek-jeleknya, tapi kalau kami sudah berkumpul, berada di sana menghabiskan waktu, menikmati kopi hazelnut sambil icip-icip jari tangan (:haha) atau kue-kue lain, diselingi dengan makanan (ringan) berupa icip-icip ramen Mbak Ta, plus pencuci mulut es krim enak, hati terasa lebih ringan. Tentunya juga kalau saya ditraktir… pasti lebih afdol! :haha.

Namun demikian, menurut saya masih ada yang perlu dibenahi dari tempat ini. Hal itu adalah… tempat parkir!

Kerap kali, ada drama pertengkaran antara pemilik mobil dan tukang parkir terkait dengan hal yang satu itu. Baik karena ada mobil yang mau keluar padahal di depannya ada mobil parkir paralel melintang, atau mobil yang keliling-keliling kucluk-kucluk cari tempat parkir tapi susahnya minta ampun sehingga memutuskan pergi tapi susah juga, atau mobil yang memarkir kendaraannya asal tanpa instruksi Pak Tukang Parkir seolah-olah dia sedang parkir di atas tanah mbahnya sehingga arus perparkiran menjadi terhambat, atau gabungan dari semua masalah itu: ada mobil yang mau masuk terhalang harena mobil yang mau keluar membuat semua mobil yang parkir paralel mesti didorong-dorong.

Nah lo.

Sebenarnya, masalah perparkiran di Santa sih hampir sama dengan masalah parkir Jakarta pada umumnya: mobil terlalu banyak, sedangkan lahan parkir hampir tak ada. Kalaupun ada, lahannya agak tidak layak, di atas puing-puing bongkaran kios yang tidak rata dan banyak debunya. Buat sekarang, agaknya masih sedikit berlebihan kalau kita mengharapkan lahan parkir di Santa bisa semodern di PI atau GI (meskipun kalau jadi modern seperti itu, harga sewa parkirnya juga modern, Gar iyajugasih).

Pada akhirnya, terlepas dari semua masalah yang sedang dialami Pasar Santa (saya yakin semua point of interest juga memiliki masalahnya masing-masing), mari berharap semoga Santa bisa tetap ajeg menjadi muara kreativitas anak muda Jakarta yang tetap terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Lebih penting lagi, semoga saja Santa tidak berubah menjadi salah satu kawasan ekonomi berbiaya tinggi karena telah tidak lagi menyasar seluruh lapisan masyarakat dan hanya membidik kalangan ekonomi menengah atas, karena sekarang saya masih yakin, kreativitas adalah milik semua kaum muda, dan kawasan kreatif seperti Santa adalah kewajiban bagi semua kaum muda dari semua lapisan untuk dapat terus dilestarikan.

Let this happiness lasts forever! (credit image: Mbak Dina).
Let this happiness lasts forever! (credit image: Mbak Dina).

Selamat sore, Santa!

14 thoughts on “Selamat Sore, Santa!

    1. Iya Mas, Santa emang enak banget buat dijelajahi, makanannya murah-mudah terus tenant-nya unik-unik, nggak heran sekarang hits banget di sini :hehe
      Hayo yang mana? :haha. Nama dan info ada pada Dewan Redaksi ya, Mas :hihi
      Emang lagi rada menyeramkan Mas, hari itu. Ada event Halloween. Tapi malah seru, saya jadi bisa liat zombie dari dekat, hehehe.

    1. Hits banget banget, Mas. Saking ramainya, kalau malam Minggu macetnya ngalahin Jembatan Comal pas mudik kemarin. Pas kami ke sana aja, masih sore tapi sudah lumayan macet. Heheh.

    1. Sangat ramai, Mbak.
      Kalau hari Sabtu-Minggu ke sana di atas jam 2 siang (untuk motor) dan jam 1 siang (untuk mobil) niscaya tak dapat parkir.
      Moga-moga pengelola pasarnya aware, deh. Huhuhu.

      Thanks sudah komen, Mbak :))

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!