Selamat Hari Guru

Melihat banyak teman memublikasikan tulisan peringatan hari guru, saya sebagai blogger yang mengaku kekinian tergerak untuk membuat postingan serupa. Asyik…

Kayaknya saya tidak perlu cerita soal bagaimana nasib guru honorer atau bagaimana guru-guru yang lain berjuang menyambung hidup. Miris memang, tapi kenyataannya demikian. Pemerintah di atas sana kayaknya belum menganggap kesejahteraan guru sebagai sesuatu yang penting, soalnya pemecahan sejauh ini baru dengan “tambahan kesejahteraan” yang namanya tunjangan sertifikasi.

Padahal yang namanya guru kan tidak semua dapat tunjangan sertifikasi… ah, saya bukan orang yang terlalu berkompeten untuk membahas masalah itu–banyak blogger lain yang sudah mengulasnya secara lebih terperinci dan menyeluruh, juga disertai solusi.

Tadi, pas sedang berpikir soal postingan ini, saya ingat sebuah kidung yang pernah Ibu ajarkan. Kidung ini namanya Geguritan Putra Sesana, yang terbagi dalam beberapa pupuh, ada Pupuh Sinom, Pangkur, Kumambang, Durma, Kinanti, dan Pupuh Demung. Nah, Ibu dulu mengajarkan saya yang bagian Pupuh Demung, soalnya yang ada teksnya cuma itu, sih.

Kidung ini… isinya ajaran kehidupan buat anak-anak. Sekarang dapat pula dinyanyikan di acara pernikahan, soalnya ini ajaran hidup kan sifatnya universal, ya.

Salah satu baitnya pas banget dengan hari guru, dan ini yang akan saya salin di sini:

Guru pengajian ping kalih,
Ne ngawrediang,
Mawastu madwe pangaweruh,
Wruhing dangan kewuh,
Ring laksana kawon becik,
Mangden i sisya susila,
Setata teleb maguru,
Tan kapariceda,
Solah bawa amangunsih,
Nyabran kanggen tatuladan,
Antuk alit rauhing agung.

Artinya kira-kira seperti ini (saya tak paham betul dengan bahasa Bali kuno jadi arti ini sangat mungkin salah):

Guru pelajaran yang kedua,
Yang membuat mengerti,
Yang membuat kita punya ilmu,
Untuk saat susah atau senang,
Dalam perbuatan selalu baik,
Supaya muridnya berlaku baik,
Juga tekun belajar,
Tidak bersikap gemas,
Punya cinta kasih,
Supaya menjadi teladan,
Dari kecil sampai besar.

Dulu saya diajari menyanyi ini pas umur lima tahun. Sekarang saya masih ingat nadanya cuma kurang tahu apakah ini benar atau tidak :haha. Tapi bagi saya yang penting isinya.

Biasanya lagu ini jadi nasihat orang tua pada anaknya untuk menghormati para guru yang ada di kehidupan seorang putra (makanya namanya Putra Sesana). Supaya selalu menghormati gurunya, bahkan setelah kita tidak diajari lagi oleh guru itu.

Ha, saya terlalu banyak melantur. Intinya, selamat hari guru ya, buat semua guru di negeri ini. Saya penasaran, masihkah ada di sini yang keep in touch dengan guru dan dosennya bahkan setelah bertahun-tahun lepas dari bangku sekolah/kampus?

33 thoughts on “Selamat Hari Guru

  1. Saya sudah nggak berhubungan lagi mas sama guru-guru ha ha ha

    Kebanyakan mungkin sudah lupa sama saya. Khan ngajar terus, jadi tiap tahun pasti ngajar murid baru dan mungkin sudah lupa sama murid lama ha ha ha

  2. Ak udah nggak berhubungan sama guru2 semuanya. Bahkan kalau ketemu suka lupa nama gurunya *murid macam apa ini* Hebat kalau ada y masih menjalin silaturahmi sama guru via media sosial.

    Meski udah lupa nama, tetep terima kasih banyak buat semua guru dan dosen 🙂

  3. Aku pernah beberapa kali ketemu sama guru SMA. Ada yang masih ingat sama aku, tapi kebanyakan sudah lupa. Mungkin karena murid mereka banyak. Wajar saja ya kalau lupa. 🙂

  4. Saya masih Mas, dari dosen ampe guru SD. Ya meskipun ngga semua sih, paling beliau2 yg deket sama saya aja. Yg guru SD kl pulang kampung pasti ketemu, lha wong tetanggaan hehe. Dan senengnya ketika mereka masih inget kita, terutama kenakalan masa sekolah dulu hehe

  5. Ada beberapa orang guru yang dengan mereka aku masih ada kontak tapi ya nggak banyak juga, Bli. Kalau dosen juga masih kontak. Meskipun sudah lama nggak ke kampus, kadang suka ketemu di acara-acara tertentu :).

  6. Masih ingat bbrp, banyak lupanyaaa hehe

    Tp tanpa mereka, kita ndak bakalan seperti sekarang ya..

    Semoga Allah membalas semua usaha para guru kita dengan pahala kebaikkan yang berlipat ganda…aamiin…

  7. Benar juga yang ada di liriknya, guru seringkali dijadikan panutan selain orang tua. Semoga apa yang mereka lakukan, diberi penghargaan yang sepantasnya oleh negara, nyilu dengar banyak guru di pedesaan yang gajinya gak dibayar2 🙁

  8. Semoga kesejahteraan para guru dan guru hidup semakin terjaga ke depannya.
    Ya lumayanlah, malah masih lebih sering ketemu dengan guru-guru sd-smp.

    Yang diinget guru tuh biasanya yang outstanding, ya pinternya, atau nakalnya atau yang aktif. Kalo rata-rata sih biasanya lupa ya… Untung aja saya masih diingat tuh… hihihi…

  9. Menunggu kesadaran pemerintah buat lebih peka dengan pentingnya arti seorang guru, seperti nungguin gajah bertelur, bang. Bukannya pesimis, tp setiap ngebahas kesejahteraan dari pemerintah.. cuman berujung di masalah itu itu aja..

    Sebagai seorang yang juga kurang berkompeten buat masalah ginian saya cuman bisa berdoa yang terbaik untuk kesejahteraan guru buat kedepannya,

    btw, geguritan diatas ngingetin saya sama pelajaran bahasa jawa. dari kata-kata tiap baitnya memiliki kemirip dengan bahasa jawa (krama inggil). Baik geguritan jawa maupun bali, saya kagumnya leluhur terdahulu selalu ngajari tentang “hidup”, budi pakerti di baitnya, mulai dari masa mengambang diperut ibu kalo di jawa di tembang mocopat “Maskumambang” hingga berakhir dibungkus kain kafan dan siap untuk di kebumikan yang di tersirat di tembang “pocung”. pokoknya joss deh kalo ngebahas beginian. hhehehe selamat hari guru 🙂

  10. Masih… dengan seorang guru matematika waktu SMP.. Beliau membuat saya mencintai matematika.. Jika nilai ulangan kami sekelas jelek, beliau akan introspeksi, dan nggak menyalahkan kami… beliau juga yang selalu optimis dengan saya yang suram (alias ngga pede menghadapi matematika). Sayang banget sama beliau…. *duh jadi kangen…

    1. Kalau kangen, sudah dikontak belum Mbak gurunyaa? :hihi. Baik banget ya gurunya. Selalu optimis dan percaya kalau siswanya sebetulnya bisa, tinggal kurang pedenya saja :hehe. Akhirnya pasti siswanya jadi pede dan lulus, kan?

  11. Guru SD yang banyak cerita’ masa bahagia dan takut kerap muncul sejak duduk kelas 2-5. Guru yang tidak menggurui tapi selalu menjadi bagian pembelajaran yang tak pernah berhenti. kalau guru SD pas masih Sekolah di Solo masih sering ketemu, cuma yg di Jakarta udah lama kehilangan kontak

    Selamat Hari Guru

    1. Paling bagus memang guru yang bisa memberi teladan bagi para anak didiknya ya, alih-alih guru yang membekas di ingatan gara-gara memberi banyak pukulan dan tendangan :)).

  12. Selamat hari guruuuuu!!!!! 🙂
    Alhamdulillah kalau saya masih in touch sama guru SMA dulu, walaupun gurunya non-formal alias pengajar di luar mata pelajaran wajib di sekolah, semacam ekstrakulikuler. Sampai sekarang, sangking akrabnya kayak udah sahabat/karib sendiri 🙂

    1. Ah, itu bagus sekali. Jarang lho saya lihat yang seperti itu, soalnya hubungan cenderung memudar setelah kelulusan, akibat intensitas pertemuan yang makin jarang :)).

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!