Sawah, Sungai, Jembatan, Hutan: Barat Daya Jawa Tengah

Ini tulisan tentang perjalanan, dalam maknanya yang paling harfiah: tentang jalan, tentang apa yang saya lalui guna menuju ke tempat tujuan. Menurut saya, jalan punya ceritanya sendiri, punya tarikhnya sendiri, karena setiap kali saya melalui jalan, saya seperti merasa langsung melintasi ruang, sekaligus waktu, dari zaman kerajaan Hindu Budha, disusul kesultanan Islam, lalu kekuasaan kolonial, hingga zaman pergerakan dan modernisasi tempat sejatinya kita berada sekarang.

Tak setiap waktu, sih. Kadang saya juga cuma mengagumi saja, kalau tidak tahu apa-apa tentang tempat itu.

jalan-lintas-banyumas-cilacap-01
Bagi saya, sepotong gambar tentang jalan ini bisa bercerita banyak.

Kali ini, saya menyusuri pojok barat daya Jawa Tengah, bagian dari daerah yang dulunya berjuluk Karesidenan Banyumas. Kalau dulu, petualangan saya adalah di Karesidenan Samarang dan Karesidenan Kedu, potongan Jawa Tengah yang awal sekali saya runut ke awal kerajaan Hindu di provinsi ini. Kali ini, saya melipir sedikit ke barat daya Jawa Tengah, yakni pada kota dan kabupaten sudut di provinsi ini: Purwokerto, Banyumas, dan Cilacap.

Kita memulai perjalanan dari Purwokerto, ke selatan. Melewati jalur kereta api selatan, yang merupakan bagian dari petak Purwokerto-Kroya, bagian dari sepur selatan Jawa. Jalanan agak menanjak, agak mengherankan mengingat kami sebenarnya menuju pesisir, pada kota Cilacap yang agaknya lebih terkenal dengan Nusakambangan ketimbang Benteng Pendemnya.

jalan-perspektif
Jalan membentuk perspektif; jalan pun mengubah sudut pandang saya akan hidup.

Saya cukup senang bisa banyak melihat pepohonan di kiri jalan. Sesekali, rumah-rumah penduduk menyelingi, ditambah dengan persawahan khas di dataran Jawa. Saluran irigasi untuk persawahan mengalirkan air, bagi benih-benih yang kala itu baru saja mulai ditaruh di lahan sawah setelah disemaikan beberapa lama. Dengan perbukitan memanjang di belakang kami, menjadi sumber air bagi sungai besar yang membelah jembatan dan rel kereta.

Semua itu berputar di kepala saya, dalam fakta bahwa kami ada di atas bumi, di bawah tangkupan langit biru yang tak begitu cerah, karena ada mendung menggelayut. Semua itu mengitari kami, membuat saya merasa bahwa kami dikelilingi raksasa-raksasa ciptaan Tuhan yang mengingatkan kami betapa kecilnya manusia…

jalan-lintas-banyumas-cilacap-02
Hujan dan jalanan yang basah memang membuat bahaya, tapi kalau dipandang dari sisi yang berbeda…

Dan elemen-elemen itu muncullah. Begitu halus, begitu tak disadari, tapi semua asa di sana, mengitari kami, tetap membuat kami mafhum dengan hakikat kami yang paling sejati sebagai ciptaan Tuhan yang sangat… kecil.

Sawah.

Sungai.

Jembatan.

Hutan.

Sawah, sungai, jembatan, hutan.

Astaga. Demi Tuhan. Kenapa kemahakuasaan-Mu demikian dahsyat?

Sawah
Saya punya julukan sendiri untuk sawah Jawa. The Plain of Java. Biasa banget, memang, tapi bagi saya, sawah Jawa ini nilainya besar banget, hampir tak terkatakan. Sejarah yang panjang melingkupi bagaimana perpetak-petakan sawah ini bisa ada di tempatnya sekarang. Berjuta kejadian dalam berbagai nilai, mulai feodalisme, religi, kerajaan, kolonial, gerusan teknologi, hidup dalam naungan anugerah Dewi Sri bagi kehidupan masyarakat di pulau terpadat di dunia ini.

persawahan-jawa-01
Persawahan yang sangat khas Jawa.

Bagi saya, sawah Jawa adalah bagaikan jaringan-jaringan organ yang memberi hidup. Pembuluh darahnya adalah pematang sawah, dan saluran irigasi yang panjang-panjang itu, dengan adat dan budaya sawah yang bisa dirunut ke zaman sebelum tulisan ditemukan. Tak heran, pada masa ketika kepercayaan berlabel agama Hindu mulai masuk ke pulau ini, sawah dan perlakuan terhadapnya menjadi mahapenting. Sampai sekarang pun demikian.

Dan di Purwokerto sendiri… sawahnya menurut saya khas Jawa sekali. Entah apa yang menjadi pembeda spesifik, sebetulnya saya tak pasti tentang ini, namun antara sawah di Jawa, sawah di Sumatera, sawah di Bali, sawah di Lombok, bahkan persawahan di Sulawesi, meski yang terakhir hanya saya lihat dari jendela pesawat, punya rasa yang berbeda. Saya tak tahu apa yang membedakan, tapi mereka semua berbeda.

saluran-air-sawah-jawa
Itu saluran air yang berpenopang. Saya tumben melihatnya. Maaf blur; diambil dari kendaraan yang bergerak.

Pematang-pematang sawah panjang sampai kaki langit, paralel dengan saluran berpenopang yang juga membujur sampai hilang dari ruang pandang. Agak heran juga saya, karena saya baru melihat saluran berpenopang dalam bentuk demikian. Pada petak-petak di antaranya, hijau mulai meraya dengan serpihan cokelat tanah samar tertutup semu gerak para benih.

Mungkin saya mendahului kehendak Tuhan, tapi diam-diam saya bertanya. Bisakah ini bertahan? Di kota, konon akan ada hotel baru di depan alun-alun, hotel yang mulai berusaha masuk tatanan, meski itu artinya menggeser apa yang menjadi tanda bahwa kota itu ada. Saya membayangkan, bagaimana jika seandainya… daerah ini menjadi semakin tersohor dan semua itu akhirnya tiba?

sawah-dan-jalan-jawa-tengah
Saya tetap saja berharap daerah-daerah ini tetap seperti ini.

Akankah, perubahan itu menular ke sini, sebagaimana apa yang terjadi di Jakarta, Lombok, dan tentunya Bali, ketika semua jengkal tanah subur pulau itu berubah jadi vila dan hotel serta kondominium? Akankah Dewi Sri menyerah lagi, dan memutuskan pergi, karena Kuwera serta Kali berkuasa dalam lembaran kertas penyubur serakah diri?

Ah, harap saya, semoga pemberi hidup ini terus sudi memanjangkan hidup kami, manusia yang menumpang tinggal di tanah Jawa. Semoga manusia yang menggarapnya tetap ada, dalam rengkuhan budaya agraris yang abadi tradisi namun sejajar dengan teknologi. Semoga orang-orang yang disebut berkuasa di sana tidak abai dengan menganggap kerja tani ada di bawah kaki, namun mendorong dan menarik semangat mereka agar hidup ini tetap lestari abadi.

Sungai

Mendadak, sebuah sungai yang berbendungan menarik perhatian saya. Alirannya kecokelatan, besar sekali, kelihatan betul arusnya deras. Mungkin karena semalam habis hujan, dan ini memang musim hujan, jadi begini semestinya tidak membuat kami heran (apalagi, kami tinggal di Jakarta, kota yang air sungainya lebih cokelat dan lebih kejam dari ini).

sungai-serayu-banyumas
Ada sungai nan megah di jauh sana.

Tapi ada yang membuat sungai itu terasa megah. Mungkin karena lebarnya yang sangat. Sejenak, kami bahkan menyisir pesisirnya, sesuatu yang membuat saya agak gentar lantaran di sisi sebelah, arus sungai menggerus tanah, menjadikan tebing-tebingan dari tanah berhumus cokelat terbelah, akhirnya menyentuh aliran sungai yang ganasnya parah.

Oh, erosi.

Eh, atau abrasi, sih?

Ah whatever deh, haha.

Kami terus melaju. Di kejauhan sana ada sebuah bendungan yang cukup besar, jadi saya berusaha mengambil gambar. Besarnya masif, semasif aliran sungai ini, bahkan di belakang sana sepertinya mewaduk. Tak jelas saya melihat namanya, tapi satu lirikan singkat dengan ekor mata ketika saya menoleh (mesti banget dijelasin yak, haha) memberi tahu saya bahwa kami ada di Bendungan PB Sudirman.

Saya baru saja akan bertanya pada Mbak Er, ini sungai apa dan itu bendungan apa, tapi ia sudah menjelaskan. “Ini Kali Serayu, Gar. Kata pamanku di sini ada buayanya, lho. Di sebelah sana ada bendungannya, untuk irigasi sawah-sawah di Banyumas dan sekitarnya.”

sungai-serayu-banyumas
Sungai yang dibalut jembatan dan perbukitan hijau itu sesuatu yang indah sekali.

Oh, inilah Kali Serayu. Besar banget, jadi terus terang saya agak heran kenapa masyarakat setempat menamakannya kali padahal bagi saya ini lebih dari sungai. Saya menjelajah dunia maya, sekadar memastikan kali apa yang ada di depan saya itu, sembari kemegahan aliran sungai ini masih sudi untuk dinikmati.

Membentang sejauh hampir 200km, sungai ini berhulu di antara Gunung Prau dan Gunung Sindoro di Pegunungan Dieng, Wonosobo. Alirannya melintasi lima kabupaten dan dua karesidenan, yakni Wonosobo sebagai hulu, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan akhirnya Cilacap, tempat sungai ini bermuara di Laut Selatan.

Sejatinya, aliran sungai Serayu yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banyumas cuma 19km, dari Km 37 sampai dengan Km 19 sebeluk masuk ke segmen terakhir, yakni segmen XVI di Kabupaten Cilacap. Tapi berhubung debit air sungai ini sangat besar, agaknya di menjelang hilir ini, volume air semasif itu betul-betul dimanfaatkan, untuk membuat waduk dan pembangkit listrik tenaga air, keduanya bernama sama, Mrica, yang menjadi primadona dari Kali Serayu, karena setiap kali menyebut nama sungai ini, yang terpikir mesti Serayu yang ada di Kabupaten Banyumas.

Tiba-tiba saya tertarik dengan sesuatu yang tadi dikatakan Mbak Er. Soal buaya. Yah, ini kan persungaian, jadi pasti kan ada buayanya? Kalau makan korban, ya mungkin karena buayanya lapar, jadi mereka semua butuh makan, saya mencoba berargumen, sebuah argumen yang akhirnya mentah kembali gara-gara kata-kata ini.

“Bukan buaya biasa Gar, buaya jejadian. Setiap tahun makan korban. Ya korbannya nanti jadi gaib, lah.”

Okesip.

jembatan-kali-serayu-banyumas-03
Sepotong jembatan yang membentang di atas kali yang sangat besar.

Masif aliran dan volume air Kali Serayu menurut saya menyimpan semiliar potensi bagi penduduk yang halaman rumahnya dialiri urat nadi panjang ini. Sungai adalah air, benda yang sangat berharga bagi manusia, karena sebagaimana pangan, air adalah pemberi hidup yang memperpanjang napas. Jadi banyak, banyak sekali hidup yang dapat tersambung dari sungai ini. Ah, tapi saya bukan ahli hidrologi, bukan pula penguasa, jadi pandangan ini tak lebih dari sekadar celotehan awam semata.

Ngomong-ngomong soal Kali Serayu, begitu terkenalnya sungai ini, sehingga menggugah inspirasi para seniman dan pujangga untuk lebih mengabadikannya dari sekadar nama objek geografi. “Di Tepi Sungai Serayu”, lagu keroncong khas yang menurut Mbak Er jadi lagu tema dari stasiun terbesar di daerah operasi kelima jawatan kereta api resmi yang dimiliki negeri ini.

Dan ngomong-ngomong soal jawatan kereta api, dulu negeri ini juga pernah punya kata “Serayu” tersematkan pada nama salah satu perusahaan: Serajoedal Stoomtram Maatschappij (disingkat SDS) yang bahasa Indonesianya adalah Perusahaan Tram Uap Lembah Serayu, jawatan kereta api yang dulu menjadi andalan daerah sini karena berhasil memangkas biaya transportasi untuk pabrik-pabrik gula yang ada di seputaran Purwokerto, sekaligus menjadi sarana angkutan masyarakat sekitar, dengan pemandangan di atas beberapa jembatan yang indah membentang di lereng Gunung Slamet.

Ngomong-ngomong, keren ya, mereka punya perusahaan kereta api regional sendiri, seperti di Jepang dengan JR-nya, ada JR East, JR West, JR Kyushu, dan macam-macam varian perusahaannya sesuai daerah yang dioperatori.

Ah, tunggu sebentar. Barusan saya bicara soal jembatan? Dan sekarang kami ada di Kali Serayu? Kalau begitu…

Saya menoleh ke belakang, dan tiba-tiba saja darah ini berdesir.

Jembatan

jembatan-kali-serayu-01
Jembatan berlatar sungai panjang dan gugusan pegunungan.

Sebuah jembatan panjang menyambut kami, membuat saya merinding melihat panjang dan kekuatannya. Oke, katakanlah saya anak desa, karena memang demikian, mengingat pulau tempat saya menghabiskan masa kecil tidaklah berkalung besi, apalagi diramalkan raja abad ke-12 untuk berkalung besi (hayo, siapa nama rajanya?).

Jawa dan sistem perkeretaapiannya, berarti peninggalan kolonial untuk hampir semua rel dan penjalurannya secara regional, stasiun, jembatan, dan bahkan kereta apinya sendiri, meski untuk yang terakhir tak sepenuhnya benar kini lantaran kita sudah bisa membuat sendiri. Namun, bagaimanapun, ini dia yang membuat saya sangat sangat tertarik :hehe. Maklum, saya mengaku suka dengan bangunan kolonial, jadi bisa melihat jembatan ini secara langsung adalah hal yang sangat pantas apabila disyukuri.

jembatan-kali-serayu-02
Sepertinya jalan ini didesain sedemikian rupa sehingga bisa dipakai untuk mengagumi mahakarya pekerjaan umum itu.

Berbicara tentang jembatan, berarti berbicara tentang rel kereta api daerah Banyumas yang sudah ada pada zaman kolonial. Jembatan ini sendiri bernama Jembatan Kebasen, karena letaknya ada di daerah Kebasen. Dengan panjang sekitar 214m, jembatan ini adalah jembatan terpanjang kedua di Daerah Operasi V Purwokerto, setelah Jembatan Sakalimolas di antara Stasiun Bumiayu dan Stasiun Kretek (+286m), dibangun oleh Staats Spoorwegen, salah satu perusahaan kereta api di zaman kolonial.

Ah, ditatap dari tepi sungai, megahnya jembatan yang bersatu dengan agung derasnya aliran Kali Serayu pasti melengkapi sungai dan sawah yang membelah kesemuanya itu, menghiasi semua benda yang diam dengan gerakan kereta memotong persawahan. Tak heran, lagu Di Tepinya Sungai Serayu menjadikan tepi sungai sebagai pokok pembicaraan. Pada fajar yang menyingsing, memandikan air Kali Serayu dengan cahayanya yang keemasan, membuat seolah seluruh sungai itu dialiri oleh air emas.

jembatan-kali-serayu-03
Semua sudut pandang akan indah untuk mengamati jembatan ini. Kali ini dari sisi sawah.

Saya minta maaf kalau saya salah, kemampuan bahasa Jawa saya sangat terbatas, tapi bukankah “air emas” adalah arti harfiah dari Banyumas?

Jembatan sepanjang lebih dari 200m ini memang tidak punya struktur yang megah seperti jembatan lain di luar negeri yang spektakuler. Tapi pembangunannya tentulah tidak mudah dan bagaimanapun, jembatan sepanjang ini monumental dan fenomenal pada zamannya. Seakan memberi tambahan unik pada lukisan alam dengan sawah, sungai, dan bukit yang menggunung di kejauhan sana…

Kalau saya, tidaklah mungkin bosan melihat monumen sespektakuler ini. Tambahan lagi, Jembatan Kebasen bukan satu-satunya monumen perkeretaapian yang ada di seputaran Purwokerto. Ada Terowongan Kebasen, Terowongan Notog, dan Jembatan Patikraja, sebuah jembatan yang pada awalnya saya kira jembatan biasa, sampai ketika saya mendengar cerita bahwa jembatan ini dulunya adalah rel kereta api milik SDS yang telah dilepas saat zaman penjajahan Jepang dan bekas jalurnya diaspal untuk menjadi pengganti jalan raya.

jembatan-patikraja-banyumas
Yang satu ini adalah Jembatan Patikraja. Bagi saya, ini cukup unik, hehe.

Bicara tentang Jembatan Patikraja, menurut saya jembatan satu ini agak unik. Pertama, jembatan ini begitu lurus sampai-sampai kita bisa melihat dari ujung ke ujung. Namun, keunikan kedua dari objek ini adalah lebarnya yang agak aneh untuk ukuran jembatan. Tanggung! Dibilang kecil tidak, tapi dibilang jembatan biasa juga agak kurus. Jadi curiga, ini kemungkinan dulu bukan jembatan jalan raya, tapi jembatan rel kereta.

Kecurigaan semakin besar ketika membaca di beberapa artikel bahwa dulu saat zaman penjajahan Jepang banyak rel kereta dipreteli dan bekas-bekasnya diaspal. Konon, Jepang memerlukan banyak material besi untuk menghadapi Perang Dunia II, dan material itu adalah rel kereta api yang sudah tak terpakai (masa itu).

Ha, di tanah yang sedang kita jejak pun pasti ada cerita, pikir saya sambil melihat pada kejauhan di atas mobil yang masih terus melaju di sepanjang Kali Serayu. Saya melihat ke jauh sana, pada langit, dan perbukitan yang berderet-deret…

hutan-pegunungan-selatan-banyumas
Pada pegunungan selatan Banyumas, hutan-hutannya yang menghijau, dan kehidupan yang berdenyut di dalamnya.

Hutan
Akhirnya, hutan yang membentang pada bukit-bukit itu membingkai semua, dengan Gunung Slamet menatap lembut dari kejauhan, sesekali menghilang disaput mendung.

jalan-dan-hutan
Jalan dan hutan.

Petualangan menyisir tepi Kali Serayu kadang membuat saya terpukau dengan vegetasi yang sedikit demi sedikit berubah. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama saya melalui dataran yang menurut istilah saya “agak tinggi tapi tanamannya beda-beda”. Tapi ya, dasar, kayaknya tidak ada daerah yang sama, antara dataran tinggi Kintamani, Bedugul, Secang Magelang, sampai di antara Purwokerto dan Cilacap (dan nanti, Batu, Karangploso, Pujon, dan tentu saja Sumberawan).

hutan-pegunungan-selatan-banyumas-02
Pegunungan konifer di sisi kiri jalan ketika kami membelah aspal. Dinaungi mendung yang membuat sendu.

Wilayah hutan selalu menghipnotis, apalagi kalau elevasinya berbeda. Melihat pohon-pohon konifer dari genus dan spesies entah apa memang kadang terasa biasa, tapi ketika pohon-pohon itu menyapa dari ketinggian yang tepat ada di sisi kanan jalan, rasanya agak lain. Dengan langit kelabu sebagai latar belakang, udara di luar sana pasti agak sejuk. Apalagi dengan kabut di kejauhan sana, samar menyarukan hijaunya perbukitan yang saya tidak tahu, bernama ataukah tidak.

Seperti karpet hijau, apabila gugusan pohon itu dipandang dari kejauhan. Terlalu lama saya menatapnya, baik dalam perjalanan pergi maupun pulang, bahkan ketika hujan turun pun, keindahan itu semakin bertambah, dengan semua elemen yang mendadak jadi basah. Pohon-pohon sepanjang jalan membingkai, ketika lurus, mereka ikut, ketika jalan melengkung, mereka pun turut.

pohon-dan-langit
Pohon dan langit.

Entahlah, rancangan ini memang sangat kaya. Semua elemennya terasa lengkap, meski jalan, sejatinya, cuma untuk dilewati dengan terawangan pada pemandangan tapi isi otak berkelana entah ke mana, atau dengan langkah kedua, tidur sepanjang jalan.

Well, saya tidak menyalahkan alasan kedua, karena setelah puas mengambil semua gambar yang mungkin, pemandangan serta sejuknya pendingin udara dalam kendaraan kami juga membuat saya terbuai, kehilangan momen semenjak kami melewati tapal batas Kabupaten Banyumas, dan ketika terbangun, sebuah gapura besar sudah berkata lantang kepada saya:

Selamat Datang di Kota Cilacap.

selamat-datang-di-kota-cilacap
Selamat datang di Kota Cilacap.

Paling tidak, jangan salahkan saya karena saya ketiduran, ya?

37 thoughts on “Sawah, Sungai, Jembatan, Hutan: Barat Daya Jawa Tengah

  1. saya sukali dengan jalan ceritanya mas. betul, sepanjang perjalalan entah itu naik bus atau kendaaan lainnya, saya suka sekali duduk deket jendela. orang bilang saya melapun, padahal saya juga sedang berpikir dan merangkai cerita-cerita liar mengenai apa yang saya lihat sepanjang perjalanan. 😀

    1. Hihi, iya, saya sekarang juga suka melamun dan asyik sendiri kalau dalam perjalanan. Makanya lebih prefer tempat duduk yang dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan di luar sana. Ada blogger dulu yang tulisannya membuat saya percaya bahwa sekecil apa pun, sesuatu yang masuk dalam ruang pandang kita pasti punya maksud dan ada ceritanya, hehe.

    1. Saya masih susah menjelaskannya. Kalau di Bali itu sawahnya punya arwah, ada napas budayanya yang masih kuat. Di Jawa juga ada, tapi tidak sekental Bali. Kalau sawah Sulawesi itu bagi saya sawah yang “keras” dan “penuh perjuangan”. Kalau sawah di Jawa saya lebih merasakan seperti berlumpur. Entahlah kenapa, haha. Mungkin suatu hari nanti akan ada tulisan khusus membahas hal ini, hehe.

  2. Banyak perenungan di tulisanmu kali ini, Gar hehehe. Hamparan the plain of Java yang membuai. Lalu masa keemasan SDS yang sudah dilupakan. Padahal rel yang membentang di sana terbilang makan biaya sangat besar karena banyak memotong perbukitan. Jadi Gara sudah ke Cilacap ya? Waaa diriku kepingin mlipir ke dua benteng hits di sana belum kesampaian terus nih. 🙂

    1. Ke Cilacapnya sih sudah tapi belum ke mana-mana soalnya dulu tujuan utamanya bukan buat jalan-jalan, Mas. Maklum baru jadi blogger dan traveler jadi belum bisa memanfaatkan serta memaksimalkan waktu (oke sekarang juga belum bisa sih, haha). Kalau seandainya Mas mau ke Cilacap kabar-kabar dong Mas, nanti saya melipir pakai kereta dari sini, hehe.

    1. Iyaa. Apalagi diambilnya setelah hujan, jadi suasananya juga sendu banget, hehe. Saya suka sekali kalau jalan dan banyak ketemu pemandangan seperti ini. Eh tapi sebenarnya setiap pemandangan pasti ada ceritanya deng, haha.

  3. pemandangan yang alami dan dari alam yang tidak perlu banyak dipermak ini itu sudah bisa menjadi cerita tersendiri. alam memang cantik jika apa adanya tanpa perlu banyak mengubahnya, alam sudah punya cerita tersendiri tanpa perlu ditambah drama lagi oleh para penghuninya yang serakah.

  4. iya betul beda ya sawah di tiap daerah itu, baru nyadar deh
    kalau di Sumatera di luasnya hamparan sawah itu tau2 ada sepotong tanah dengan rumah kecil yang dikelilingi pohon kelapa rapat

    1. Iya Mbak… semua daerah punya ciri khas persawahan yang berbeda, yang secara langsung ataupun tidak menggambarkan kebudayaan masyarakat itu. Namun ada pula hal-hal yang tak dapat dijelaskan ketika melihat sawah, pokoknya rasanya beda aja, hahaha.

  5. Bayanganku selama ini, daerah yang dirimu ceritakan ini keadaannya gersang gitu lho Gara. Ternyata ijo royo-royo juga. Atau, apakah karena ini sedang dalam musim penghujan ya? Betapa aku masih kurang dalam menjelajah daerah ini.

    1. Saya malah tak punya gambaran sama sekali Mas sebelum pergi ke daerah ini. Mungkin ada pengaruh musim hujan, namun saya pikir keberadaan Gunung Slamet dan Kali Serayu sedikit agak menjauhkan Banyumas-Cilacap dari kesan gersang. Di mana ada gunung, di situ ada air. Di mana ada air, di situ ada kehidupan, kalau kata orang-orang dulu.

    1. Iya Mas Cum, karena dulu merupakan satuan geografis yang berbeda makanya kesannya jadi berbeda. Setelah reformasi dan kembali ke kabupaten ya susah hilangnya dari benak orang-orang, pasti ada pembedaan antara Purwokerto dan Banyumas. Apalagi bagi orang lokal, hehe.

  6. Cilacap ya…
    Saya pernah beberapa kali berkunjung ke sana saat masih SMA. Kebetulan paman saya dapat istri orang sana. Tinggalnya di gunung. Mata airnya begitu jernih, mandi di kobakan ramai-ramai dengan teman-teman di sana. Segarnya… Lucunya meski secara administratif masuk wilayah Jawa Tengah, tetapi bahasa Sunda banyak dipakai oleh masyarakat di sana. Dan kulinernya tempe mendoan setengah matang, umm sedapnya. Sale pisangnya juga enak. Khas lainnya lagi adalah gula arennya, manis banget.

  7. dulu saya sering lewat situ mas pas belum tahu jalan pintas kalau dari cilacap ke purwokerto.
    sekarang sudah jarang lewat situ, terlalu jauh kalau mau nembus ke purwokerto lewat patikraja.

    Cilacap itu kabupatennya luasnya gak karuan untuk ukuran kabupaten di Pulau Jawa…pemekaran hanya sebatas wacana hingga saat ini..

    sudah pernah nyoba pakai kereta mas?
    viewnya lebih adem, dan tentunya gak usah mikir main gas sama rem 😀

    1. Ke Cilacapnya kalau pakai kereta belum pernah Mas, hehe. Tapi untuk jalur selatan dari Purwokerto ke Yogya dan seterusnya sudah beberapa kali, hehe. Iya kalau naik kereta lebih enak, saya selalu suka lewat jalurnya Daop 5 karena ada 3 terowongan dan banyak jembatan, mirip-mirip jalur ke Bandung, hehe.

      1. Ahaha iya, dulu pernah juga dari Bandung ke Jogja naik kereta pagi, kalo gak salah itu kereta Pasundan namanya (agak lupa) viewnya itu lho….sunset sepanjang melintasi ketinggian di garut…

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!