Satu Sabtu, Malam, Macet, Raya Bogor

Satu Sabtu malam yang tersendat, di Raya Bogor arah Jakarta lepas belokan kanan Jl. Cibubur Raya.

Kendaraan tak bisa mengebut karena volume mereka terlalu padat. Pun, pedagang sepatu berkualitas rendah turut mengklaim lahan karena sewa los di pasar mungkin terlalu mahal. Entah dengan tujuan apa tapi semua orang bergerak. Dua lajur jalan dengan arah berkebalikan penuh, merah di sisi saya dan terang di sisi sebaliknya.

Ada pemandangan yang saya lihat di sana. Ketika seorang bapak yang menyetir satu motor menjulurkan tangannya pada helm yang tergantung pada ransel seorang pengendara lain, seorang remaja yang usianya dengan saya mungkin tak berpaut jauh. Saya tak tahu bagaimana nada suaranya tapi menurut saya si bapak sedikit emosi karena sedari tadi helm itu sudah beberapa kali menyenggol motornya.

Dia berkata, “Pakai helmnya.”

Si remaja yang (tentu saja) tidak mengenakan helm tapi membawa helm di ranselnya itu mengangguk, tapi melengos pergi. Kelihatan sekilas kalau ia agak kesal. Saya bertanya kenapa…

Dan saya melihat motor si bapak tadi tidak berplat nomor.

Mungkin si anak kesal, batin saya, karena dia diingatkan untuk taat dengan aturan lalu lintas tapi yang mengingatkannya sendiri tidak menunjukkanย contoh yang benar. Kalau saya jadi dia pada saat itu, saya pasti akan berpikir begitu. “Munafik, Pak. Bapak sendiri motornya tidak berplat, kenapa harus mengingatkan saya supaya pakai helm?”

Mungkin itu yang menyebabkan dia cuma mengangguk tapi tidak menerapkan apa saran si bapak.

Ah, kalau demikian, kenapa saya harus mengingatkan orang untuk melakukan sesuatu yang baik? Toh saya juga tidak sempurna, banyak hal yang belum bisa saya lakukan dengan becus. Bagaimana mungkin saya menyuruh orang untuk semangat atau segala macam ketika saya sendiri punya beban pikiran yang semakin hari semakin menyiksa (misalkanlah demikian).

Yang paling sederhana, kenapa saya harus mendengarkan saran orang-orang yang bahkan belum bisa menerapkan saran yang sama untuk dirinya sendiri? Betapa munafiknya dunia ini ketika seseorang menyuruh orang lain untuk tidak mencuri tapi dirinya sendiri korupsi.

Ya, mungkin demikian. Mungkin sekali demikian.

Tapi kalau kita lihat dari sisi yang sedikit lebih bersih… bisa jadi dulu si bapak pernah punya anak dengan usia yang sama namun telah meninggal akibat kecelakaan, dan saat itu si anak meninggal dengan luka di kepala akibat tidak mengenakan helm.

Banyaklah skenario yang dapat dibuat dari sini, yang pada akhirnya mengajak kita untuk tetap bersyukur karena masih ada yang mengingatkan.ย Itu satu hal. Tapi ada satu hal lain lagi.

Bahwa manusia tidak ada yang sempurna, tapi ketidaksempurnaan kita semua tidak berarti menjadikan kita tidak sempurna sama sekali.

Contohnya begini. Si A pintar di mata pelajaran X tapi tidak demikian di mata pelajaran Y. Si B, sebaliknya. Suatu hari mereka berdua digabungkan. Persis seperti si bapak dan si remaja, dalam satu kejadian yang sama, bedanya kalau ini di kelas, sedangkan kejadian yang saya lihat itu ada di jalan raya.

Menggabungkan mereka berdua bukan berarti membuat A dan B tak pintar di pelajaran X dan Y, karena yang terjadi justru bisa juga sebaliknya, mereka berdua jadi pintar di dua pelajaran tersebut. A bisa mengajari B mata pelajaran X, dan B bisa mengajari A mata pelajaran Y.

Pada akhirnya, meski si A tidak begitu pintar di pelajaran Y dan B tidak terlalu pandai di pelajaran X, paling tidak mereka lebih baik daripada sebelumnya.

Bukankah dunia akan jadi jauh lebih baik?

Kesimpulannya, mengingatkan seseorang untuk tahu, padahal di saat bersamaan banyak yang kita belum tahu, menurut saya bukanlah dosa. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna. Tapi bersama-sama tidak sempurna bukan berarti membuat kita tidak sempurna secara keseluruhan, karena kita bisa saling mengisi, saling melengkapi.

Si bapak mengingatkan si remaja untuk memakai helm, dan si remaja mengingatkan si bapak untuk memasang plat motor. Sementara saya, yang ada di belakang mereka berdua, mengambil jejak-jejak yang perlu diambil, supaya siapa tahu bisa saya sebarkan ke orang-orang lain yang memerlukan.

Ah, mungkin saya terlalu mengantuk dan kebanyakan baca buku Si Cacing.

P.S:
Logika yang sama juga bisa dipakai untuk memecahkan dilema buah simalakama. Cobalah :haha.

48 thoughts on “Satu Sabtu, Malam, Macet, Raya Bogor

    1. Iya ya Mbak, kadang saya juga ogah banget dinasihati. Doh itu salah padahal, yang namanya nasihat kan kita memang perlu untuk mendengarkan, apalagi yang membawa pada kebaikan :)).

      1. hahah.. sudah jadi hukum alaam kok Gara.. karena nasihat kan pada dasarnya ada sesuatu yang ‘dikritik’ .. meski tujuannya utk kritik membangun..

        Sudah hukum alam itu mah manusia lebih suka mendengar pujian dan paling ngga suka kritikan apalagi ditambah nasihat di belakangnya hehehe..

        Jadi puji2 dulu.. sebisa mungkin no kritik negatif, habis itu Insya Allah.. nasihatnya didengerin deh.. tinggal atur2 aja bahasa yang baik dan enak didengar.. *ini komen serius amat* *maklum hasrat emak2 utk ikutan komen hehe*

  1. Iya juga sih…. ga harus jd sempurna dulu buat ngingetin org lain toh manusia kan ga ada yg sempurna. Kalau nunggu sempurna dulu br ngingetin ya itu namanya mustahil… iya nggak sih…. hehe

  2. Yang kadang bikin trenyuh (atau miris) kalau melihat orang berkendara motor tanpa helm, seolah-olah ia akan tiba di tujuan dengan selamat tanpa celaka sedikitpun. Sekilas saya berpikir: bukankah nyawa itu urusan Tuhan? Bahkan yang sudah berhati-hatipun tetap memasrahkan persoalan nyawa kepada-Nya.

    Saya miris, sedih, jika kita bermotor melupakan Tuhan ada dalam perjalanan kita. ๐Ÿ™

    1. *Ceklik helm sebelum berangkat, juga jangan lupa berdoa :hehe :peace*.
      Demikianlah Mas. Kadang kita lupa kalau bahkan nyawa ini bukan milik kita, kapan pun bisa diambil oleh yang punya. Pengaruh darah muda kali ya Mas, ketika bahkan dunia menjadi milik kita yang muda dan yang berkuasa :hehe. Yang penting gaya dan terlihat kuat, jadi gas dikencangkan, helm dilepas, sampai rambut seolah terbang :hehe.

  3. Can’t agree more, Bli! Nggak perlu menunggu sempurna untuk mengingatkan orang lain. Karena yang namanya sempurna itu entah kapan akan tercapai, sementara orang-orang mungkin terus-menerus khilaf karena tidak ada yang mengingatkan :). Yang penting selalu berusaha memperbaiki diri :).

    Ah, tapi anak muda terkadang memang susah dinasihati :’).

  4. Memang manusiawi ya, menjadi defensif ketika dinasehati atau dikritik. Tetapi ketika hati sudah tenang dan bisa berpikir jernih, biasanya disitu nilai-nilai positif dari nasehatnya bisa dipetik.

    Dalam kasus itu, toh si Bapak bermaksud baik karena mengingatkan si Anak untuk memakai helm sehingga lebih aman dalam berlalu-lintas ๐Ÿ™‚ .

    1. Iya, hati boleh panas tapi kepala tetap dingin supaya tetap waras ya Kak :hehe. Mesti tetap bersyukur karena masih ada orang baik yang mau mengingatkan kita. Doh, tapi berlatih buat tidak defensif itu memang susah banget :haha.

  5. Kalo sudah ga ada lagi yang mengingatkan dalam kebaikan alangkah ngerinya Gar. Cuma motivasi si bapak tadi ngingetin bukan karena perhatian aama si pemuda, karena dia kesenggol aja dan bete kali ya. Hahaha. Nuduh gw ini. ๐Ÿ˜›

    1. Poin yang bagus, Mas, karena bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan orang akan sesuatu yang baik kalau kita tidak membuktikan dulu kalau sesuatu itu baik bagi kita sendiri?

  6. Kadang saya mikir, bahwa penjahat paling kejam di dunia adalah jalanan itu sendiri, entah berapa ribu nyawa yang direnggut oleh jalanan setiap tahunnya.. maka itu, berdoa sebelum berkendara adalah tindakan yang bijak, agar kita selalu dalam lindunganNya saat di jalan O:)

  7. Ckck. Agak miris baca cerita di atas ya.
    Memang, kadang kita sendiri lebih suka mengkritik orang lain, sementara kita belum bercermin dengan diri sendiri. Tapi.. saya juga gak bisa memungkiri, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.. kita juga gak mesti harus menjadi sempurna dulu untuk menyampaikan kebenaran kan ya?
    tapi, alangkah baiknya menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik pula. Misalnya, dengan memberikan contoh teladan.

    Nice sharing mas bro ๐Ÿ™‚

    1. Betul sekali. Menurut saya, selama kita punya sesuatu yang baik, tak ada salahnya berbagi pada sekitar. Menguarkan hal-hal baik pasti akan mendatangkan hal baik juga, pada gilirannya nanti. Sama-sama, senang rasanya bisa berguna :)).

  8. Menarik sekali ceritanya..apakah kita boleh mengkritik ketika kita sendiri tidak sempurna? Saya pikir kita harus berani mengkritik hal-hal tertentu ketika kita tahu bahwa itulah yang benar, karena kita memang menerapkannya..yang saya lihat, si Bapak mengkritik untuk memakai helm, mungkin dikarenakan oleh safety reason bukan untuk masalah pematuhan terhadap hukum, jadi ya sah-sah saja menurut saya karena toh topiknya berbeda..

    Ini mengingatkan saya pada salah satu kritikan terhadap Al Gore yang waktu itu masih heboh mengumandangkan krisis global warming dan untuk peduli penggunaan energi. salah satu kritikan terhadap Al gore adalah penggunaan listrik di rumahnya yang ternyata 20 kali lebih tinggi dari rata-arata rumah tangga di Amerika Serikat..

    1. Iya Mbak, menurut saya juga sesuatu yang baik mesti dimulai dari diri kita sendiri dulu sebelum mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Tak akan ada artinya menyuruh orang melakukan sesuatu kalau kita belum mencoba dan membuktikannya terlebih dahulu.

  9. dilematis ya gar, mau ngajarin anak orang sendirinya juga punya kesalahan. ya gitu deh peraturan dibuat untuk dilanggar memang udah berakar tunggang di tanah air.

    salam
    /kayka

    1. Iya Mbak, kalau mau jujur kan tidak ada yang sempurna di diri seluruh manusia di dunia ini :hehe.
      Yep, peraturan ada untuk dilanggar :haha. Masih susah deh kayaknya buat bangsa ini buat taat aturan (kadang saya juga begitu, sih :haha).

      1. bener banget gar nobody perfect. kesempurnaan cuma milik yang diatas ๐Ÿ™‚

        hehehhe saya juga #sambilngacungintangan terutama kalau jalanan sepi nih suka bandel langsung nyebrang aja. padahal yang namanya lalu lintas kita mesti ada respek-respeknya gitu deh kalau mau selamat dalam perjalanan pp.

        salam
        /kayka

  10. Kemarin pas banget sepapasan sama anak kecil (ya ampun umurnya 10 tahun belom ada kali) bawa motor boncengan berdua dan ngebut pula. Ini ortunya mau ngebunuh anak kali ya >.<

  11. Ada pepatah yang mengatakan “Kuda tidak bisa meliaht/tidak tahu mukanya panjang” ini yang berarti Manusia cenderung tidak meliath apa hang kurang di dalamnya sendiri tapi hanya bisa menunjuk letak kesalahan/kekurangan orang lain.
    Namun kalau menurut saha pribadi, andaikan yang di tunjuk beneran kekurangan kita ,walau yang mennujuk itu tidak 100% benar..aku rasa fidak ada salahnya untuk di dengar, karena lebih baik mencontoh sifat/sikap yang baik dan membuang sifat/sikap yang jelek. Sorry nih nimbrung.

    1. Iya, selama itu buat kebaikan, tak ada salahnya buat diikuti. Yah siapa tahu (dan ini harapan kita sih) kita bisa jadi orang yang lebih baik. Terima kasih buat pendapatnya, tak apa, saya selalu suka orang yang nimbrung :hehe.

  12. Berarti mengingatkan bukanlah hal yang salah meski kita tahu bahwa kita sendiri mungkin belum sempurna. Tapi berkaca sendiri terlebih dahulu mungkin lebih baik sepertinya.. ._.

  13. Nasihat itu ibarat obat. Meski pahit namun mujarab.
    Mungkin motor yang dipakai bapak itu, masih terbilang baru?
    Sebab saya pun sering turun ke kota menggunakan motor yang tak berplat, sehubungan pihak dealer belum kunjung menyerahkannya ๐Ÿ™‚

  14. Eh, Bli Gara baca buku si cacing juga? *salah fokus*. Tapi, bener sih ya.. sebelum ngasi saran ke orang lain, paling ngga harus membenahi diri dulu. Wah..ini jadi pengingat buat saya Bli Gar, soalnya sering kasi saran ke orang-orang sih, hahaha. TFS :))

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?