Satu jam terakhir di bulan juli.

Satu jam terakhir di bulan Juli dan saya berusaha supaya postingan di bulan ini bisa jadi empat. Kebetulan banget kali ini adalah jadwalnya menceloteh. Jadi untuk sekitar lima ratus kata ke depan, tulisan ini akan berisi curhatan.

Kuliah, syukurlah, berjalan lancar sampai detik ini. Semester pertama baru saja berakhir, hore. Semoga hasilnya baik. Semoga ilmu yang didapat juga banyak dan bisa diaplikasikan dalam bentuk tulisan di berbagai tempat. Konon kabarnya semester dua dimulai di medio September. Jadi, ada waktu libur sekitar satu sampai satu setengah bulan. Semoga Tuhan memberi saya nikmat kesehatan supaya saya bisa jalan buat cari-cari bahan tulisan. Padahal juga masih banyak banget lokasi yang belum ditulis, saking banyaknya sampai sudah lupa semua. Biarlah, dijalani saja.

Yang membuat saya agak heran dengan diri sendiri adalah saya tidak bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis. Niatnya, untuk beberapa tahun ke depan mau vakum dulu dari dunia kepenulisan. Mau fokus di kuliah supaya benar-benar maksimal menarik ilmunya. Bahkan saya sudah semacam bikin pengumuman perpisahan dengan tulisan bertajuk “Kuliah lagi.” itu.

Tapi ternyata susah. Saya seperti berasa mau gila kalau tidak menulis. Padahal ya tulisan saya bukan yang bagus-bagus amat dan berisi-berisi banget juga sih, haha. Tapi, kalau tidak menulis, rasanya ada saja ide yang lewat terus hilang. Kalau sudah begitu terus sedih: kenapa nggak ditulis. Kalau menulis, rasanya sayang, waktu yang semestinya buat belajar jadi hilang percuma. Memang manusia adalah makhluk yang tak pernah puas.

Sebenarnya di samping itu sayang juga sih dengan hostingan yang sudah dibayar mahal-mahal.

Saya juga belajar bahwa kalau baru berkunjung ke suatu tempat, ada baiknya kalau segera ditulis. Barusan saya buka-buka lagi arsip foto-foto lama yang mulai menggunung di harddisk. Lalu saya bingung. Antara dua hal: fotonya yang jelek banget atau fotonya yang nggak penting banget sampai sepertinya nggak ada yang bisa diceritakan. Kemudian saya tambah bingung karena sepertinya dulu setiap kali saya melihat satu foto, cerita soal tempat itu langsung berputar di kepala. Hanya saja sekarang tidak. Ya sudah, mungkin saya lagi capek dan butuh jalan-jalan, haha.

Padahal baru saja Minggu kemarin jalan-jalan ke Kota Tua. Apa ini artinya saya butuh istirahat?

Saya bersyukur karena saya berusaha menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang paling saya suka: menulis dan membaca. Kudu berusaha juga supaya waktu-waktu yang habis dengan kegiatan yang tak perlu. Tapi seperti kata orang tua, dijalani saja. Jangan ngoyo apalagi terlalu ambisi. Yang penting bahagia.

Balik lagi ke blog, yang membuat saya agak malu juga adalah bahwa tulisan-tulisan “baru” di blog ini sesungguhnya berasal dari perjalanan yang lama banget. Purwokerto itu misalnya, asalnya dari kunjungan pertama, padahal total jenderal sekarang saya sudah tiga kali ke sana (masih mau menambah yang keempat kalau ada sempat). Dan semua kunjungan punya kesan yang beda-beda. Mungkin maruknya saya, dan itu jeleknya saya, semuanya pengin saya tulis dengan selengkap-lengkapnya. Mumpung masih ingat. Ya sudah (lagi-lagi), dijalani saja, haha.

Tapi jangan khawatir, serial Purwokerto dan rilis ulang serial Pulau Menjangan sudah tamat. Di draf masih ada serial Medan saat saya ke sana pertama kali (sampai saat ini masih satu kali saja kunjungan saya ke Medan) tapi itu pun ditulisnya belum selesai karena mood-nya tiba-tiba hilang, haha. Sepertinya saya mau rilis serial Batu, hitung-hitung melanjutkan. Saya nggak kuat menulis serial stripping (tulis-langsung-publish) soalnya pasti akhirnya serialnya stop karena bosan di tengah jalan, napasnya nggak kuat.

La la, terlalu banyak berencana. Semoga semua bisa berjalan. Semoga saya lupa pernah menulis postingan ini jadi semua bisa saya laksanakan. Sebab kata orang, terlalu banyak berencana biasanya malah ba dan tal. Hehe…

Tapi kalau diingat-ingat, utang tulisan saya memang banyak. Belum lagi di LK. Tapi kenapa rasanya seperti nggak ada ide begini, ya.

Bingung sendiri, dah. Mending tidur.

26 thoughts on “Satu jam terakhir di bulan juli.

  1. Jujus, kalo aku sih bener2 ga bisa abis jalan lgsung ditulis. Kudu dibiarkan mengendap dulu hehe, paling cepet ya sebulan kayaknya :3

    Betul sih, jangan dibuat ngoyo. Menulis juga kadang bosen, kalo nemu buntu disana sini. Sesukanya aja kalo aku mah.

    1. Iya Mas, diendapkn dulu juga bagus banget, jadi sempat riset dan cari informasi lain. Tapi kalau kasus saya, mengendapnya kelamaan… jadi malah hilang semua, hehe. Kalau sudah begitu saya pasrah saja, sebab, betul, kalau dipaksakan juga tidak bagus, hehe. Tapi mari berusaha dulu sebaik-baiknya. Semua gambar pasti ada cerita! #anaknyaambisiusinimah

  2. Tulisan itu tergantung kita kapan mau nulisnya mas. Banyak pembaca menikmati tulisan kita walau tulisan itu sudah lama. Aku masih ada beberapa tulisan yang tahun lalu belum tertuangkan, dan aku nikmati itu. Mungkin itu stok kala aku butuh ide menulis di waktu mendatang.

    1. Argh, ini sudah gagal diet Mbak, haha. Harus mulai lagi. Lagi pula, mesti terbiasa juga, masa segini saja sudah stres sih, hoho. Banyak orang lain yang situasinya mungkin lebih sulit dari saya. Jadi kudu tetap semangat, wkwk.

    1. Jalan-jalan malahan makin semangat dan makin sering Mas, haha. Iya Mas, kemarin akhirnya kami bisa bertemu, wkwk. Terima kasih ya Mas sudah membantu mempertemukan kami, haha #apasih.

  3. Jangan batasi kebahagiaan, menulislah jika memang itu yang bikin hidup lebih berharga. Sayang kalau terlalu membelenggu diri, bukankah hidup (sambil baca dan menulis) hanya sekali? πŸ˜€

    1. Terima kasih Kak, atas pencerahannya. Menulis memang supaya bahagia, dan semestinya saya harus bahagia kalau sudah menulis, entah seperti apa tulisannya ya, wkwk. Yosh, saya akan berusaha!

  4. aku cuma nulis 3 di bulan Juli, ha.. ha.. lebih parah..
    sesempatnya aja gara, dan ya nulisnya nggak usah lengkap2 amat biar moodnya nggak ilang
    suatu saat kalau udah lebih luang bisa ditulis ulang

    1. Iya Mbak… mungkin saya terlalu ambisius ingin menyelesaikan ini dan itu selengkap mungkin, ujung-ujungnya malah kebanyakan membaca dan tidak menulis apa-apa, wkwk. Menyeimbangkan semuanya memang susah tapi saya mungkin harus terus berusaha dan meyakinkan diri bahwa ada sesuatu yang sudah (dan akan) saya capai. Terima kasih untuk inspirasinya, Mbak Monda.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?