Sasih Kapat

Bagi kami umat Hindu, Sasih Kapat adalah bulan yang sangat penting. Keutamaan bulan ini disebut dalam berbagai lontar, salah satunya Sundarigama. Menurut lontar itu, di bulan ini Bhatara Parameswara melaksanakan yoga. Widyadara-widyadari bersidang. Ajaran agama dikumandangkan oleh Sanghyang Purusangkara, bersama Bhatari dan diiringi oleh segenap dewata dan maharsi sorgawi. Puncaknya adalah ketika bulan membulat penuh di tengah-tengah masa. Penanggal kelima belas bulan keempat yang tenar disebut Purnama Kapat.

Di hari itu, para pendeta wajib melakukan pemujaan tertinggi. Persembahan dihaturkan kepada Tuhan dalam predikat sebagai Chandra Sewana di hadapan sebuah lingga. Sesajen dan doa pemujaan dikumandangkan menurut kemampuan. Di malam hari, pemusatan pikiran dan meditasi dilakukan. Semua tempat suci bersolek. Wangi-wangian pun dipancarkan ke udara.

Semua itu sesungguhnya merupakan perwujudan terima kasih karena masa mulai berganti. Setelah udara dingin dan kering di Sasih Kasa yang memuncak di Sasih Karo, hujan mulai turun di masa keempat. Budaya masyarakat Bali, dan Hindu secara umum, yang bertulang punggung pada sektor agraris di persawahan tadah hujan sangat bergantung pada perubahan cuaca. Turunnya hujan setelah masa kering yang lama menandai awal musim tanam, ceteris paribus. Panen yang berhasil di tahun baru nanti (Sasih Kadasa) tentu saja sangat ditentukan oleh persemaian yang tumbuh dengan baik.

Begitu besarnya ucapan terima kasih itu sehingga deskripsi soal Sasih Kapat didahulukan dalam Sundarigama. Ia mendapat tempat pertama. Mendahului ketentuan-ketentuan soal Galungan dan hari raya Nyepi. Artinya, persembahan di Sasih Kapat tentu saja tidak bersifat seremoni semata. Lebih dari itu, ia berkaitan dengan daur hidup; tentang kelangsungan spesies manusia yang berusaha mensejajarkan diri dengan alam agar tetap ajeg adanya.

Secara astronomis, pergerakan masa dalam penanggalan Hindu mengikuti gerakan matahari dan gerak semu tahunannya. Sasih Kapat mengulang kembali apa yang terjadi pada hari raya Nyepi, hanya saja dalam arah yang berbeda. Pada dua saat tersebut, matahari menjejak pada khatulistiwa. Di hari raya Nyepi, matahari bersiap untuk Uttarayana, atau bergerak ke utara. Di Sasih Kapat, matahari bersiap Daksinayana, atau bergerak ke selatan.

Dalam Uttarayana, semua pintu kahyangan dikisahkan terbuka. Semua persembahan diterima. Keutamaan masa-masa ini dipopulerkan bahkan sampai di epos Mahabharata. Bhisma, Sang Dewawrata, memanggil ajalnya ketika matahari bergerak ke utara. Menurut saya, ketika orang yang diberi anugerah memilih kapan ajal akan menjemputnya itu menentukan masa-masa ini untuk mati, saya tak berpikir ada waktu lain yang, secara spiritual, lebih baik.

matahari-sasih-kapat
Matahari.

Jika peredaran matahari diibaratkan seperti grafik sinus, Uttarayana itu saat ketika grafik mulai menanjak menuju puncak. Di India dan belahan dunia utara, Uttarayana berarti musim semi dan musim panas. Tak heran ia lebih utama dibandingkan Daksinayana. Untuk yang terakhir ini, kalau diibaratkan grafik sinus, adalah gerakan ketika grafik membentuk palung. Sudah jadi konsensus bahwa “dunia bawah” adalah nista dan tak baik. Dengan begitu, Daksinayana pun mendapat konotasi kasarnya. Nilai rasa ini terbawa pada penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Bahkan setelah berevolusi menjadi kebudayaan Bali kini, nilai rasa itu masih ada.

Pada Daksinayana, pintu-pintu kahyangan dikisahkan tertutup. Musim mulai berganti, daun-daun menggugur, hujan membasah, angin tak tentu arah. Pergerakan matahari digambarkan “gambur anglayang”, yang artinya kurang lebih melayang-layang tak tentu arah. Setiap hari akan semakin basah (belabur), sampai puncaknya pada bulan kedelapan (Sasih Kawulu). Di bulan yang tersebut terakhir ini, angin mengganas, hujan menderas, cuaca tak menentu. Leak dan memedi beraksi. Di bulan-bulan ini upacara Nangluk Merana digelar, guna secara spiritual menyamankan hati dari alam yang bergejolak. Di belahan bumi utara sana, Daksinayana berarti musim gugur dan musim dingin.

Maka Sasih Kapat, dengan sendirinya, mendapat tempat penting. Sasih Kapat adalah awal untuk usaha dan yoga panjang untuk setengah tahun ke depan. Ia adalah momentum bagi umat manusia untuk fokus pada apa yang dikerjakan di dunia. Ia menjadi saat agar manusia tidak cuma melihat ke atas, namun turut melihat ke depan, dan ke bawah. Di depan sana ada ketidakpastian.

Pada akhirnya, terbuktilah bahwa paralelisme manusia dan alam begitu dijaga dalam Hindu. Kami mengimani bahwa mikrokosmos adalah cermin dari makrokosmos, dengan elemen dan tingkah yang identik. Manusia adalah alam, sebagaimana elemen alam mewujud dalam tubuh manusia. Dengan demikian, fenomena alam adalah fenomena di dalam manusia juga. Alam memberi peringatan dan petunjuk. Manusia mengolahnya menjadi bahan hidup. Barulah dengan demikian semua elemen dunia bisa hidup lestari dalam siklusnya yang tak putus.

Maka ketika alam memberi petunjuknya, saya sangat merasa bahwa kita harus menyambutnya dengan suka cita, bukan dengan takut dan nestapa.

Didedikasikan untuk Dia yang menggeliat tepat dengan jatuhnya Sasih Kapat, setelah tidur selama lima puluh empat tahun. Semoga kami bisa mengerti maksud di balik bangunmu, Tohlangkir.

27 thoughts on “Sasih Kapat

  1. Karena manusia adalah bagian dari alam maka sejatinya kita juga harus kasih pada alam. Tapi pegimana ya, lha wong buang sampah aja yang paling gampang masih pada syusye koook @_@

    1. Itulah Mbak, kadang yang kecil dan dekat saja masih susah, apalagi yang besar dan jauh, hehe. Tapi saya yakin, kalau kita mulai dari usaha diri sendiri dan sekarang, meskipun kecil pasti ada efek baiknya untuk bumi.

  2. Banyak orang yg akan bingung mau komen apa karena tulisannya memang bener2 apik. Aku pun iya, bingung mau komen apa. Tapi aku punya templatenya sih: “Tulisanmu emang keren mas. Aku selalu dapat istilah dan pengetahuan baru saat berkunjung ke sini”.

    Jujur, baru kenal banyak istilah dari tulisan2mu. Sebagai warga yang memegang KTP kelahiran Bali, aku baru tahu sasih kapat, Uttarayana, dan daksinayana. Hehehe.

    G ada niatan untuk membuat buku toh Mas? Tinggal cari fotografernya aja nih. Perjalanan Mencari Jejak. Tentang nilai2 kehidupan. Iya, pesannya adalah nilai2 kehidupan. Jadi, itu kenapa blogmu namanya Mencari Jejak, ya?

    1. Terima kasih sekali buat apresiasinya, Mas. Syukurlah kalau tulisan saya ada gunanya untuk Mas dan teman-teman semua, hehe.
      Niatan untuk membuat buku sih ada banget Mas, haha. Tapi mengingat waktu dan kesibukan yang masih padat banget, saya mesti realistis bahwa belum punya napas yang cukup panjang untuk membuat buku. Jadi untuk saat ini blog adalah pilihan, hehe. Nggak buruk juga sih menulis di blog, hihi.
      Sekali lagi terima kasih sudah membaca, ya.

  3. Beberapa kali mampir ke postingan mas gara ini, aku jadi sedikit paham ttg ajaran Hindu yang sebelumnya buta banget ๐Ÿ˜€
    Sebagai wawasan baru sih, aku juga sering baca-baca ttg masjid2 lawas di jawa.

  4. Menambah ilmu baru akan keberagaman materi di lintas agama bagiku pribadi ni mas
    Filosofi keterkaitan manusia dan alamnya begitu dalam. Memang kesemuanya saling berkaitan ya. Alam dimanaje dg baik…manusia sejahtera dan lestari
    tertarik ama yg tgl kelima belas saat bulan sedang ‘penuh’ mas, prosesinya tidak ada fotonyakah?

    1. Setuju… bagaimana pun, kita manusia hidup di alam. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sudah seyogianya kita juga memerlakukan alam dengan baik.
      Ups, saya belum pernah ambil foto saat Purnama, hehe. Tapi terima kasih sarannya. Nanti kalau ada kesempatan, akan saya coba liput.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?