Saraswati, Pagerwesi, Siwaratri: Kajian dan Renungan Soal Hari Raya Agama Hindu

Sekilas, dua hari raya ini memperingati simbolisme yang berbeda. Namun, Saraswati-Pagerwesi bukanlah hari raya yang berlainan. Malah, mereka adalah satu rangkaian dalam banyak hari raya agama Hindu. Saraswati dan Pagerwesi melengkapi rangkaian temu gelang yang menandai pertemuan Siklus Pawukon yang terjadi setiap 210 hari. Tiga puluh minggu yang masing-masing memiliki wuku yang berbeda.

Saraswati (Saniscara Umanis Watugunung, 21 Januari 2017) dikenal sebagai hari raya Agama Hindu yang cukup penting. Hari Saraswati adalah peringatan turunnya ilmu pengetahuan. Tapi kalau dilihat dari lain sisi, Hari Saraswati adalah hari terakhir dari sebuah siklus pawukon, penutupan siklus. Ketika seluruh kemampuan telah dikerahkan selama 209 hari, di hari ke-210 ini jiwa dan raga diisi kembali dengan modal baru. Dan modal apakah yang lebih berharga daripada ilmu pengetahuan?

Banyu Pinaruh (Redita Paing Sinta, 22 Januari 2017) adalah hari penyucian pasca-Sarawati yang ditandai dengan mandi di laut atau sumber air. Dari kacamata yang berbeda, ini hari pertama di wuku pertama pada siklus yang baru. Bukankah semua harus dimulai dengan kesucian? Semua manusia kembali ke fase tabula rasa–memulai siklus yang baru bak selembar kertas putih yang belum ternoda. Siap diisi dengan kebaikan-kebaikan untuk 209 hari ke depan.

Coma Ribek (Coma Pon Sinta, 23 Januari 2017) adalah hari raya untuk “mendatangkan rezeki”, kata orang-orang tua. Umumnya dilakukan upacara di lumbung padi, menurut Sundarigama 2.1.1. Meski biasanya dijelaskan terpisah dengan Banyu Pinaruh (Banyu Pinaruh adalah rangkaian Saraswati sedangkan Coma Ribek adalah rangkaian Pagerwesi), sesungguhnya mereka punya kaitan erat. Hari ini sesungguhnya adalah simbol ketika umat manusia mulai membenihkan sesuatu yang baru, sebagai awal untuk menjalani siklus pawukon yang baru pula. Setelah suci, kehidupan mulai dengan satu benih yang baik. Jika ingin beroleh kebaikan, maka kehidupan pun mesti dimulai dengan sebuah benih kebaikan.

Sundarigama 2.1.2 memberi penjelasan soal Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta, 24 Januari 2017) sebagai hari yang disucikan untuk harta benda, atau kekayaan. Namun tidak hanya yang berupa kebendaan, tetapi juga permata yang ada dalam jiwalah yang harus dimuliakan. Benih yang ada dalam diri kita, benih kebaikan yang telah ditanam di hari sebelumnya harus diberi kekuatan untuk tumbuh. Dan kekuatan itu tak mungkin datang dari luar; hanya kitalah yang bisa menumbuhkannya.

Akhirnya, rangkaian siklus Pawukon yang baru ditutup dengan Pagerwesi (Buda Kliwon Sinta, 25 Januari 2017). Di hari ini, Benih yang bertumbuh itu dilindungi dari pengaruh jahat yang tentu saja akan mengganggu selama satu siklus ke depan. Dengan simbolisme dipagari dengan besi, benih itu dijaga dari godaan, cobaan, dan kejahatan, entah dari luar atau yang lebih bahaya, dari dalam diri sendiri. Tuhan akan membantu umat manusia yang mengingat-Nya untuk melindungi kebaikan yang mulai bertunas itu. Semangat menjalani siklus pawukon harus tumbuh dan kuat, agar benih itu bisa tumbuh sebagai pohon kebaikan, yang membantu mencapai kesempurnaan abadi.

Baca juga: Buda Cemeng Kelawu dan Tilem Kelima, dan Senjakala Bumi Gora

Namun, 2017 punya bonus yang berbeda. Tepat satu hari setelah Pagerwesi (26 Januari 2017), ada satu lagi hari raya Agama Hindu. Ia adalah Prawani ning Sasih Kepitu, yang dikenal sebagai malam tergelap sepanjang tahun. Umat Hindu mengenalnya sebagai Siwaratri, atau malam (ratri) peyogaan Siwa.

Pada malam ini, Siwa melaksanakan yoganya, untuk menyeimbangkan dunia. Kakawin Siwaratrikalpa (Lubdhaka Carita) sudah menceritakan dengan sangat menarik soal apa yang mungkin terjadi ketika seseorang melakukan puja jagra (tidak tidur semalam suntuk) di malam suci ini. Menurut kakawin itu, malam ini dikenal sebagai malam penebusan dosa. Siapa yang tidak tidur semalam suntuk di malam ini, semua dosanya akan diampuni.

Paling tidak, itulah yang terjadi pada Sang Lubdhaka. Tapi untuk saat ini saya belum mau membahas kakawinnya, karena saya masih belum punya fisik kakawin itu secara lengkap. Sejauh ini informasi Siwaratrikalpa masih berupa ringkasan legenda sang Lubdhaka. Jujur, Siwaratrikalpa adalah satu kakawin yang paling saya cari dan paling susah saya dapatkan.

Namun menurut saya, Siwaratri bukanlah semata soal penebusan dosa. Hukum Karma ada jauh di atas sekadar malam penebusan dosa. Apa yang ditulis dalam Kakawin Siwaratrikalpa hanyalah penyederhanaan masalah, supaya umat Hindu mau berlaku introspektif di malam ini. Jujur saja, meditasi itu susah nan membosankan. Apalagi kalau tujuan-tujuannya masih bersifat abstrak. Oleh karenanya, perlu suatu simplifikasi melalui cerita agar ritualnya bisa dilakukan, dan tujuan ritual itu pun dapat tercapai dengan (cukup) baik.

Ritual yang dilakukan di malam Siwaratri (malam ini!) biasanya berupa meditasi, tidak tidur (mejagra), dan paling top, monabrata alias tidak bicara. Semua itu supaya kita sebagai manusia berpikir, introspeksi, mawas diri, melihat semua kedunguan, kesombongan, arogansi, kebodohan, maupun kekonyolan yang sudah diperbuat setahun belakangan (Siwaratri adalah satu dari sedikit hari raya yang berdasarkan sasih sehingga jatuhnya setahun sekali).

Namun kenapa kita mesti introspeksi diri, dan kenapa malam ini sangat dikhususkan untuk itu? Tak lain untuk bersiap menghadapi sasih setelah ini: Sasih Kawulu, sebuah bulan yang dikenal sebagai bulan penuh gonjang-ganjing, penuh dengan keburukan dan kemurkaan. Sasih kedelapan ini ditandai dengan cuaca buruk, badai ekstrem, gagal panen, semua yang terburuk yang mungkin terjadi selama satu putaran tahun saka.

Mungkin ada orang yang menganggap Sasih Jyestha dan Sadha sebagai bulan-bulan buruk karena di kedua bulan itulah Kawah Candradimuka (Tambragohmuka) dibersihkan, yang ditandai dengan berjalannya ulat-ulat di jalan raya. Namun apa yang terjadi di dua bulan itu tidaklah sebanding dengan dahsyatnya Sasih Kawulu, karena di bulan ini sajalah, penjaga Kawah Candradimuka bisa merasa khawatir, takut kawah yang ia jaga pecah karena alam begitu terbolak-balik; campur aduk di bulan ini.

Maka inilah pentingnya Siwaratri, sebagai persiapan untuk menghadapi badai. Ya masa sih, kita menghadapi badai besar dengan rempong, panik, grasa-grusu? Kita harus tenang, tarik napas sejenak (Siwaratri ini hanya satu malam, bayangkan dengan Sasih Kawulu yang tiga puluh hari penuh), kemudian hadapi. Badai ini siklus. Hal buruk itu sesuatu yang biasa. Jangan rempong, tapi jangan pula meremehkan. Bersiaplah.

Akan datang saatnya nanti, ketika semua badai hilang. Ketika hilang, badai justru meninggalkan langit terindah dan cuaca terbersih. Bersih. Kedas. Ketika hari itu tiba, maka kita semua sudah sampai pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa, yang sudah dikenal seantero jagad sebagai Hari Raya Nyepi. Selamat Tahun Baru Saka akan saya ucapkan hari itu.

Akhir kata, selamat hari raya Saraswati. Selamat hari raya Coma Ribek. Selamat hari raya Sabuh Mas. Selamat hari raya Pagerwesi. Selamat hari raya Siwaratri. Selamat Tilem Kepitu. Selamat memasuki Sasih Kewulu. Demi Tuhan, bukankah hari raya Agama Hindu sebenarnya adalah urusan tentang siklus kehidupan?

Salam takzim dari saya, yang selalu ngantuk dan akhirnya ketiduran lebih awal setiap malam Siwaratri. Eh tapi tahun ini nggak, deng! Saya mencoba terjaga, meski hanya sampai tengah malam saja.

pura-parahyangan-gunung-salak
Selamat hari raya! Argh itu fotonya bocor.

31 thoughts on “Saraswati, Pagerwesi, Siwaratri: Kajian dan Renungan Soal Hari Raya Agama Hindu

    1. Bukan buruk Mbak, tapi konon itu pertanda Kawah Candradimuka sedang dibersihkan. Sebenarnya di bulan-bulan segitu (Mei-Juni) kupu-kupu dan segala serangga bertelur dan telurnya menetas. Agar mereka tidak diganggu dan ekosistem terjaga maka dibuatlah cerita sedemikian. Kan kalau orang melihat ulat bawaannya minta diinjak saja, hehe.

    1. Nggak Mas, saya sekarang stay di Jakarta, hehe. Ke Bali malah jarang, sebab kampung juga sudah di Lombok semua. Yuk kopdar kalau lokasi kebetulan berdekatan. Terima kasih ya :)).

  1. Saya bacanya agak bingung soalnya nggak ngerti istilah2 yg ada ha ha ha…. Biarpun dibaca lagi juga tetap nggak ngerti. Mungkin butuh lebih banyak pengetahuan atas agama hindu biar tahu maksud postingan ini.

    Tapi klo coma ribek, sepertinya bukan umat hindu saja yg melakukan. Di daerah 2 pedesaan masih melakukan syukuran sebelum menanam padi. Apa mungkin ini dulunya berakar dari umat hindu ya?

    1. Iya, syukuran saat menanam padi berawal dari zaman kerajaan Hindu-Buddha, namun embrionya sudah dari masa prasejarah, karena air dan padi adalah sumber kehidupan sehingga sangat dihormati dan punya upacara khusus.

  2. membaca uraian tulisan ini seperti membaca buku cerita pewayangan.. asik, ada nasihat yg bisa diambil dan merasa berada di dalamnya, makasih ya sharingnya

    1. Betul Mas, hari raya tak sekadar “raya”, namun lebih ke bagaimana menyadari eksistensi diri. Selamat hari raya, kapan pun itu, karena sejatinya setiap hari adalah hari raya…

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?