Sangsit: Jalan, Pantai, Fajar

Saya terlambat bangun.

Merendam kaki, menghilangkan kantuk.

Kamar ini benar-benar seperti kamar hotel. Tanpa jam dinding, berpendingin, nyaman, ada di pulau terindah di dunia. Hebat Bapak membangun rumah ini; bersama Ibu ia mengisi perabotan di setiap penjuru kamar, menjadikan rumah gaya Bali ini benar-benar nyaman. Dan tentu saja, ini ada di Bali. Satu hal yang membuat saya sangat bersyukur sebagai orang Bali adalah bahwa saya jarang merogoh kantong buat urusan akomodasi di pulau ini.

Agenda mendadak memang akan selalu terlaksana, pikir saya setelah mengumpulkan nyawa. Entah bagaimana, ibu, kakak, bibi, dan calon suami kakak (ciee) sudah siap buat jalan-jalan ke pantai di desa ini. Bahkan mereka sudah membeli bekal, tatkala saya masih tidur pulas. Di luar, badan matahari memang belum tampak, namun terang tanah sudah terjadi. Itu sebabnya, ini saat yang tepat untuk jalan-jalan pagi.

Oke, batin saya. Ini Sangsit. Hampir 100km jaraknya dari Denpasar. Jauh dari wisata Bali yang terkenal di anak selatan pulau. Terisolasi dari gegap-gempita pariwisata di selatan–bagaimana tidak, ini Denbukit, tempat Bali punya lingkungan sendiri yang tetap sama selama mungkin… tiga ratus tahun terakhir. Tempat keluarga saya serasa berhenti dalam waktu, dan orang-orang yang saya kenal seolah tak pernah berubah dari pertama saya kenal Bali sampai sekarang.

Meskipun itu cuma ada di pikiran saya saja karena yah, semua berubah.

Sangsit… saat ini masih jadi tempat yang permai. Sebuah desa pertanian dengan sejarah yang panjang, sebuah desa yang seolah terisolasi, meski itu dalam kotak kaca tipis. Saya belum akan menjelaskan bagaimana perbedaan Bali Utara dan Bali Selatan, tapi jika seseorang ingin tahu apa beda antara keduanya, sila datang kemari dan saksikan sendiri bahwa Bali Utara adalah sesuatu yang sangat lain jika dibandingkan budaya di selatan pulau.

Bali yang dikenal dunia sebagai Bali menurut saya adalah Bali Selatan. Dengan Karangasem sebagai puncak tertinggi dengan Gunung Agungnya. Klungkung yang jadi pusat pemerintahan zaman Kerajaan Bali. Gianyar yang jadi jantung seni. Badung dan Denpasar yang jadi pusat pariwisata modern. Tabanan yang menjadi lumbung padi, serta Jembrana yang jadi urat transportasi dan potret keberagaman.

Tapi satu strip besar perbukitan memisahkan Buleleng dengan bagian lain di Bali, dan itulah yang membuat Denbukit tak pernah muncul ke permukaan. Buleleng dengan benang merah kolonialnya. Ukiran Mataram yang terjaga. Hak Tawan Karang yang revolusioner. Singa Ambara Raja yang menjadi emblem resmi. Drama-drama terbaik dan tersedih yang lahir dari masyarakat berotak kritis; tak berpikir soal seni dan “keindahan” tapi orang-orang Buleleng terkenal visioner dan… pengkritik yang sangat jitu.

Jalanan lurus, sempurna sampai pelabuhan.

Dan desa tempat jalanan lurus ini berada, konon, adalah desa yang sama tempat kapal Belanda pertama kali terdampar. Tempat Hak Tawan Karang mulai berlaku padanya, awal dari sebuah asimilasi yang menjadikan Pura Beji Sangsit yang terkenal itu punya ukiran orang-orang Eropa yang sedang bermain gitar. Beberapa pura di daerah Buleleng punya ukiran serupa dan Mas Harinda Bama telah mengupas hal itu dalam postingannya yang bertajuk “The Dutch, The Caretaker, and the Little Girl“.

Ngomong-ngomong, Pura Beji itu cuma 50 meter dari tempat saya tidur tadi, lho :hehe :peace.

Jalan-jalan ini menyusuri sebuah rute lurus menuju pelabuhan. Sejauh mata memandang belum ada tanda-tanda pembangunan yang berlebihan, meskipun bayangan akan sirnanya sawah-sawah hijau dengan tetes embun di setiap batang padi yang tumbuh padanya mulai ada. Saya tak ingin melihat tetesan embun ini mesti berganti dengan hotel, ruko, dan kondominium yang untuk menikmatinya saja kita harus membayar.

Duh. Bayangkan kalau di samping Pura Beji dibangun hotel. Tapi untunglah yang tinggal di dekat pura itu semua masih tergolong keluarga jadi semoga kejadian ke arah sana masih jauh. Tapi siapa yang tahu?

Kami tak terlalu lama mengagumi Pura Beji–harus ada satu kunjungan rinci tersendiri untuk itu. Sebongkah kenangan masa kolonial makin terasa kentara ketika Pelabuhan Sangsit semakin terlihat di depan sana–rumah-rumah bergaya Tionghoa, dengan altar-altar disinari cahaya merah menggelap menyatu dengan tugu Jro Gede yang ada di depan rumah. Begitulah penduduk Sangsit keturunan Tionghoa–beberapa dari mereka sudah menganut Hindu.

Rumah tua bergaya Tionghoa di ujung jalan.

Ibu menunjuk sebuah rumah bergaya lama dan bicara kalau di rumah itulah ia dilahirkan (nenek saya dari ibu adalah seorang Tionghoa :hehe). Sayang rumah itu kini dimiliki keluarga kakek Ibu dan meskipun terbilang keluarga, kami tidak begitu saling mengenal :hehe :peace. Ya mungkin kenal, sih… tapi kemarin kami tidak berkunjung :p.
Tak lama berselang dan kami sudah menjejak di pantai.

Pantai Sangsit.

Pantai Sangsit, tempat Bapak selalu berusaha mengajari saya berenang tapi saya sepertinya tidak didesain untuk menjadi anak pantai (meski Bapak seorang anak pantai tulen). Mungkin saya tinggal di kota lebih lama dari yang saya bisa bayangkan sehingga tubuh sudah beradaptasi menjadi pemalas seperti ini :huhu.

Bagaimana Pantai Sangsit? Berbatu. Tidak sepenuhnya berbatu seperti yang diceritakan Mas Halim tentang Pantai Kolbano di Nusa Tenggara Timur, tapi batu-batu pantai yang seperti kerikil-kerikilnya terus terang baru saya sadari kalau hanya sedikit pantai yang punya pesisir berbatu seperti ini.

Batu.

Dan kumpulan batu ini, anehnya, tidak mengumpul di pesisir saja. Pada sebuah bagian dasar laut dangkal di agak ke tengah sana seseorang masih bisa melihat batu-batu ini menghampar. Tak perlu khawatir menginjak batu yang tajam karena sejauh mata memandang seluruh hamparan kerikil memiliki ujung yang halus. Sementara itu pada bagian tempat ombak berdebur, pasirnya hitam mulus, meski tak terlalu halus, mirip dengan pasir merica yang ada di Pantai Kuta tapi butirannya tak begitu beraturan.

Laut.

Niat mencari pemandangan matahari terbit mesti pupus karena bintang itu tak muncul dari sisi lautan, melainkan dari sisi darat di tenggara (ini Oktober). Tak apalah, namanya fajar dan senja adalah saat-saat yang paling baik dalam fotografi. Foto perahu, ombak, laut, pasir, keluarga yang sedang main-main di sebelah sana, dengan sang ayah yang tampaknya sedang snorkeling. Mungkin dia sedang mencari batu.

Keluarga yang sedang bercanda.

Nasi kuning seharga Rp5k dengan lauk cukup dan kerupuk serta air minum jadi pembuka hari yang menurut saya sama sekali belum cukup, sih :hehe. Maklum, saya makannya banyak, tapi jatah buat masing-masing orang cuma satu bungkus jadi saya belum bisa minta tambah :haha.

Saya mengedarkan pandang pada panorama yang mengelilingi. Inilah pantai Sangsit. Yang menurut saya masih sama seperti terakhir kali saya menjejak kemari, entah berapa tahun yang lalu.

Sebuah perahu oranye.

Pantai ini selalu sepi. Perahu-perahu pencari ikan tertambat di pasir pantai, selalu dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan tidak membuat pantai penuh sesak. Kehidupan nelayan seolah tertidur barang sejenak di pagi yang permai, padahal pesisir ini terkenal sebagai penghasil cumi-cumi kualitas baik, sudang leped (ikan asin pipih khas Buleleng) dan tentu, ikan bakar segar dengan harga yang sangat murah, favorit orang-orang Denpasar yang kebetulan tahu di mana mencari kuliner laut dengan kualitas wahid.

Perahu di tengah.

Meskipun demikian, saya tak bisa berkata kalau Pantai Sangsit adalah pantai yang bersih sekali. Sampah-sampah bebantenan ada berserakan di pinggir pantai. Satu pencerahan yang menurut perlu dibawa pada masyarakat Hindu di Bali adalah agar sisa-sisa sarana upacara saat mengadakan upacara di pantai untuk dibereskan… baik oleh penyelenggara acara maupun petugas kebersihan yang khusus disediakan oleh desa. Bagaimanapun keindahan pantai-pantai di Bali adalah tanggung jawab penduduk yang ada di Bali juga.

Tapi saya cukup bersyukur (sedikit), tak ada sampah-sampah kotoran manusia sejauh mata memandang (bandingkan dengan satu pantai di Lombok yang untuk menjejaknya pun saya malas). Pun ketika ada kotoran, yang ada cuma kotoran anjing di beberapa tempat… dan itu pun mudah dikenali, maksud saya tidak dengan sengaja ditanam sehingga membingungkan pengunjung, yang apabila salah melangkah… ugh.

Pantai yang halus.

Kami pulang via jalan Pura Segara. Ah, saya bahagia, masih belum banyak yang berubah dari Sangsit. Keberadaan perumahan yang mencaplok lahan sawah memang jadi barang baru yang agak membuat saya mengelus dada karena letaknya di tengah sawah sedikit merusak pemandangan permadani hijau, tapi selebihnya, Sangsit masih sama.

Satu bait tembang dalam bahasa Jawa tengahan, dengan nada yang pernah Ibu ajarkan ketika saya duduk di bangku SD betul menggambarkan bagaimana indah alam ketika semua masih asli:

Kungkang muni asahuran,
aganti muani umung,
umuni Lor ana Kidul,
karungu suarane alon,
ana ta mangkΔ“ pangagan,
ana jenar ana biru,
tales ring pinggiring marga,
adas panyelag tan kantun.
Kungkang berbunyi bersahut-sahutan,
bergantian bersuara ramai,
di Utara dan di Selatan,
terdengar bunyinya perlahan,
dan kini ada tegal-tegal pesawahan,
ada yang kuning ada yang biru,
pohon talas di pinggir jalan,
tak ketinggalan menyela pohon adas (Jr. 128).

Yep, untuk saat ini masih sama. Dengan kuburan Muslim tempat pohon juwet, perusahaan padi dengan pelataran luas, jalan utama, Pura Beji, Pura Pasupati, perempatan pasar, dan rumah. Rumah tempat semua cerita tentang keluarga saya dilahirkan.

...ana ta mangke pengagan...

Tapi sayangnya, tak akan ada yang tahu tentang masa depan. Cerita tentang bandar udara yang baru mulai menggelantung di udara seperti kabut asap tipis. Harapan soal semua rute pesawat domestik yang akan dipindahkan ke Bandara Kubutambahan (desas-desus mengatakan lapangan terbang itu akan dibuat di sana) menggelayut, menebalkan asap ketidakpastian ke langit.

...ana jenar, ana biru...

Cerita yang berkembang di masyarakat, mereka sudah mulai menerima pembangunan bandara itu, meskipun menurut gosip, lahan si lapangan terbang bakal memakan sekitar enam desa pakraman. Itu artinya ada delapan belas pura (minimal) yang harus di-pralina. Belum lagi peninggalan-peninggalan yang sekiranya ada di desa-desa tersebut. Saya pikir saya tak perlu bercerita lagi kalau di Bali, setiap jengkal tanahnya punya peninggalan sejarah?
Oh, tapi mereka menyerah dengan alasan ekonomi. Alasan lapangan pekerjaan yang tak bisa disediakan pemerintah Bali Utara untuk masyarakatnya. Alasan kesejahteraan yang tak bisa dipenuhi untuk sebagian besar masyarakat yang tinggal di tempat ini.

Saya tak bisa menutup mata, Bali Utara memang terbelakang. Jarak dengan Denpasar yang jauh, ditambah medan perjalanan yang sulit membuat pembangunan (baca: pariwisata) terpusat di daerah selatan. Masalah yang ini sebenarnya klasik, sudah kejadian semenjak ibukota dipindahkan dari Singaraja ke Denpasar.

Hamparan batu agak ke tengah laut.

Tapi apakah pembangunan yang ekstensif adalah satu-satunya jawaban? Tak bisakah kita berdamai dengan keadaan?
Ah, saya bukan siapa-siapa. Sekarang sudah saatnya pulang. Satu gambar terakhir saya ambil dari sebuah pinggiran di Pura Segara yang juga masih berlanggam Bali Utara. Paling tidak saya mengambil gambar ini cepat, sebelum nanti ada apa-apa perubahan pada bangunan. Masih untung kalau pura ini tetap menjadi pura bagi desa.

Kalau nanti jadi pura bagi hotel yang dibangun di dekatnya…

_MG_9651

Entahlah.

42 thoughts on “Sangsit: Jalan, Pantai, Fajar

  1. Foto-fotonya keren!! πŸ™‚

    Btw, terkadang memang begitu ya. Keadaan memaksa perubahan untuk harus terjadi. Sebenarnya, sesuatu yang selalu konstan di dalam planet ini adalah perubahan kan. πŸ™‚

  2. Pembangunan ya? Entahlah… Kadang-Kadang saya juga tidak terlalu suka dengan itu. Daerah saya sekarang pun sedang banyak pembangunan. Banyak pertokoan mahal didirikan. Anak-anak mudanya pun sudah berkelakuan seperti orang kota. Kadang mikir sendiri apa semua pembangunan akan berdampak baik? Sejauh ini saya sendiri kurang suka dengan pembangunan

    1. Ah, terima kasih banyak Mbak :)). Di Sangsit semua barang (syukurnya) masih murah, makanya saya senang sekali kalau pulang dan menginap di sini. Terima kasih sudah berkunjung!

  3. Sudah lama saya gak menginjakkan kaki di Bali dan habis baca postingan ini jadi kepengen ke Bali bagian utara lagi. Sepi, tenang, jauh dari hingar-bingar Bali selatan. Semoga masyarakat di Buleleng mendapatkan informasi yang cukup mengenai dampak positif dan negatif pembangunan bandara di sana supaya mereka bisa mengantisipasi perubahan-perubahan yang nantinya akan terjadi (atau mengantisipasi apa yang harus dilakukan supaya beberapa hal tetap tidak berubah).

    1. Amin, mudah-mudahan. Butuh banyak pencerahan, namun saya yakin masyarakat Bali mampu menyesuaikan diri dengan banyak perubahan, selama semua itu membawa kebaikan, hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!