Menapak Malam di Kota Bawor (2): Antara Sandal Ban, Cokelat Inyong, dan Batik Banyumas

Ternyata hujan turun lagi. Sayang saya sedang tidak membawa payung hitam. Tak bisa mengajak Yang untuk berlindung. Paling tidak, tubuh dan rambut ini tidak basah, meski tidak ada si Yang yang menghapus basah ini dengan sapu tangan. Oke ini pembukaan yang gagal nan ketinggalan zaman. Apasih.

Sejenak kami menunggu hujan di emperan basah swalayan Pratistha Harsa, di bagian depan pujasera tempat kami bersantap malam, pinggir Jl. Jenderal Sudirman. Becek dan agak gelap. Entah kenapa saya tak terlalu kaget. Saya sudah terlalu lelah dengan bangunan baru yang hanya megah beberapa bulan pertama, tapi musim hujan pertama kebocoran sudah di mana-mana. Entah apa yang salah. Entah di mana yang salah. Entah juga siapa yang salah.

Baca juga: Menapak Malam di Kota Bawor (1): Kekenyangan di Pratistha Harsa

Susah payah kami memilih langkah supaya tidak tergelincir, dengan menghindari ember-ember penampung bocoran. Swalayan yang sepi menarik perhatian kami. Bukan karena sepinya, itu baru kami sadari belakangan, tapi karena barang-barang yang dipajang adalah buah tangan khas Banyumas.

logo-cokelat-inyong-banyumas
Logo Cokelat Inyong, Cokelat khas Banyumas.

Batik Banyumas yang Berdebu dan Toko yang Sepi

Dari depan, swalayan ini dibagi menjadi dua sisi. Sisi kiri, atau sisi timurnya, menjual makanan, sedangkan sisi kanan, atau sisi barat, menjual kerajinan khas Kabupaten Banyumas. Kami melangkah ke sisi barat terlebih dahulu, karena saya tertarik dengan kain-kain batik yang tersampir di etalase dekat kaca. Selain itu, Mbak Er kepingin mencari hiasan kecil berbahan kayu untuk ditaruh sebagai penghias rumah.

Sepi menyapa ketika kami masuk. Pramuniaga di sini entah sedang ada di mana.

Saya mendekati etalase batik. Bukan sebuah rak. Pada bentukan seperti jemuran dari batangan kayu berpelitur yang tersandar di kaca itu tersampir lembar-lembar Batik Banyumasan dengan berbagai corak dan warna. Saya tak terlampau mengerti soal bagaimana batik dan pengaruh lokasi suatu tempat terhadap corak dan warna yang digunakan dalam suatu langgam batik (saya baru dapat ilmunya setelah membaca beberapa postingan tentang batik dari Mas Halim), tapi satu yang bisa saya ingat, warna-warnanya memang berani. Bukan warna alam seperti cokelat kayu, putih tulang, atau hijau daun, melainkan merah, biru cerah, oranye, bahkan ada yang kuning serta pink. Hanya beberapa batik saja di sana yang memiliki warna dasar alam yang kalem.

Saya coba mengambil satu batik, yang harganya Rp80k. Hanya ingin melihat-lihat, saya tidak punya uang sebanyak itu untuk membeli.

Saya cepat-cepat mengembalikan batik itu ke tempatnya. Batiknya berdebu! Debunya menumpuk, pula, hidung saya jadi gatal. Mungkin salah saya juga, kenapa ambil batik yang paling atas, yang paling jauh dari jangkauan pengunjung. Tapi ini kan barang dagangan? Apa pasal debu ini sedemikian tebalnya? Tidak pernah dibersihkan, atau tidak pernah didatangi wisatawan?

Beberapa pajangan baju, baik batik maupun kaos, tidak tampak menarik lagi. Selain trauma dengan pengalaman barusan,Β  susah mencari baju untuk ukuran tubuh saya yang jumbo ini. Lagi pula uang saya cuma cukup untuk membeli makanan. Ada sandal hitam-hitam terpajang pada rak di kejauhan. Itu juga tidak terlalu saya perhatikan.

Saya memilih mengamati sekitar. Ini agak aneh. Selain kami dan tiga orang penjaga toko (mereka datang setelah kami), hampir-hampir tidak ada orang lain. Praktis cuma kami berenam yang ada di dalam ruangan dengan barang sebanyak itu.

Tentang sepinya toko ini, bisa jadi banyak penyebabnya. Dalam pikiran positif, saya berpikiran kalau sepinya toko kala itu karena (1) itu bukan musim liburan, (2) itu hari kerja, dan (3) hari hujan sehingga orang-orang malas untuk keluar rumah. Apalagi untuk wisatawan yang mencari enaknya kota di malam hari (yang tentunya tanpa hujan). Namun, seolah ada sebab lain tertulis pada dinding-dinding kosong di pojokan sana.

Entah, sepertinya ada kesedihan menggantung di udara. Ada kabut kemuraman, yang pelan tapi pasti, turun mengisi ruang di antara kami. Sepertinya toko ini sudah lama tidak didatangi pengunjung. Pantas pramuniaga di sudut sana sibuk berdiskusi tentang lowongan pekerjaan. Mungkin juga tumpukan barang di sudut sana sebenarnya tidak baru, melainkan stok lama, tapi tidak dibuka karena yang sedang terpajang saja belum pernah disentuh pembeli.

Saya berharap itu imajinasi saya yang terlalu aktif.

Perlahan, saya beranjak ke bagian kerajinan tangan kayu dan bambu. Mbak Erni dan ayahnya masih sibuk memilih sesuatu di sisi seberang. Di bagian sini, berbagai kerajinan khas dipajang. Beberapa sudah biasa saya lihat di pusat oleh-oleh beberapa kota di Jawa. Miniatur Buddha, Loro Blonyo berambut jabrik (saya menerkanya demikian) dengan senyum yang khas (bahkan cenderung menyeramkan), maupun kerajinan lain yang dibuat dari kayu, seperti papan congklak atau kitiran angin.

Tidak ada sesuatu yang spesial, saya kira.

Bagong, Tokoh Sampingankah?

Demikianlah anggapan saya, sampai saya menemukan banyak figur aksi dari seorang tokoh punakawan. Senyumnya sangat aneh karena mulutnya sangat lebar. Pertamanya saya kira itu Semar, tapi seingat saya Semar mestinya lebih gemuk dari ini. Saya membalik patung itu sebentar, mencari tulisan, dan saya baru saja akan menemukannya kalau tidak dikagetkan oleh Mbak Er.

Figur aksi di tangan saya itu goyah dan hampir jatuh. Untung bisa dengan sigap saya tangkap.

“Hati-hati Gar, nanti pecah kamunya disuruh ganti, lho,” katanya.

“Ya dikagetkan begitu,” bersungut-sungut saya sambil mengembalikannya ke rak. “Ini siapa ya, Mbak?”

“Bagong. Purwokerto kan Kota Bagong,” jelas Mbak Er sambil melihat-lihat pajangan. “Di sini namanya Bawor. Wayang Banyumasan.”

Pantas saya merasa begitu familiar dengan sosok dan senyumnya. Kalau diingat-ingat, dari pertama kali menjejak di Stasiun Purwokerto pun kita sudah disambut dengan satu tokoh punakawan ini. Sayang saya belum mengenal betul bagaimana sifat aslinya, jadi saya harus membuka tablet dan mencari informasi via mesin pencari untuk lebih tahu tentang jati diri punakawan satu ini.

Berbagai sifat dan kisahnya saya pikir tidak perlu saya jelaskan di sini. Tapi saya mengkonfirmasi kenapa saya tadi salah menerkanya sebagai Semar. Legendanya, Bagong adalah bayangan Semar yang dibendakan Bhatara Guru ketika Semar merasa kesepian. Kira-kira begitulah. Maka pantas saja, kalau kita mau lihat dari satu sisi, hidup sebagai bayangan tentu arti harfiahnya berada di bawah benda utama. Semua akan tertutupi oleh si pemeran utama, sementara bayangan? Kadang ada, kadang tidak, tapi setia mengikuti.

Mungkin saya sedikit sentimentil kala itu, tapi saya agak menghubungkannya dengan keadaan sepi pusat oleh-oleh kota ini. Apa mungkin ini karena pusat keramaian terpusat di pantai utara? Apa-apa Pantura, apa-apa Pantura. Mungkinkah, debu yang ada di etalase batik itu lantaran semua tertarik dengan Batik Pekalongan ketimbang Batik Banyumas?

Dari Anyer sampai Cilegon, Serang sampai Jakarta, dari Bekasi sampai Cikarang, Cirebon sampai Semarang, dari Semarang sampai Lasem, Lasem sampai Gresik kemudian Surabaya sampai ke Probolinggo, lanjut ke Situbondo dan Banyuwangi, Pantura terkenal sekali sebagai jalur utama mudik. Selain itu, semua kota-kota pelabuhan besar ada di sisi utara. Laut selatan terlalu tidak memungkinkan dijadikan bandar kapal. Mungkin itu sebabnya, nama besar pantai utara Jawa yang sudah terkenal sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha, terus membekas karena ekonomi Indonesia sebagian besar dipusatkan di sana.

Tapi bagaimana untuk kota-kota di selatan?

Jujur, saya pertama kali bisa membedakan Purwakarta dengan Purwokerto, juga Kebumen itu baru di saat kuliah. Tahu ada kota bernama Gombong juga karena teman sebangku saya saat kuliah berasal dari sana. Satu lagi, Kroya, yang sering diplesetkan jadi “Korea”, juga baru saya kenal di dunia kerja. Pengetahuan Geografi saya kayaknya mengenaskan sekali, ya?

Bagaimanapun, kalau kita menghubungkan itu dengan potongan puzzle yang sudah saya sebar sejak seribu kata yang lalu, kemudian menyalahkan siapa-siapa, kayaknya banyak sekali daftarnya. Terlalu panjang kalau saya juga masuk dalam lingkaran itu. Itu juga tidak ada kontribusi konkret dalam menyelesaikan masalah.

Yah, saya cuma punya kapasitas untuk menyajikan apa yang tertangkap indera saya, dengan usaha untuk tidak mengubah satu detil pun. Sisanya adalah ranah sang empunya kuasa. Meratakan pembangunan, atau ada pertimbangan lain untuk membiarkan. Meskipun, apabila pertimbangan lain itu diambil, saya pikir akan sangat susah untuk mencerna pertimbangan lain yang menghasilkan keputusan membiarkan itu.

Cerita Sandal Ban Bekas

Sudah saya bilang, jangan biarkan saya sendiri. Saya kebanyakan melamun, sampai harus dikagetkan Mbak Er karena ia sudah selesai membayar. Sebelum pergi, ia bertanya apa saya sudah melihat kerajinan sandal ban di sudut sebelah. Saya mendekat dan mengamati, ternyata sandal yang tadinya saya kira biasa itu terbuat dari ban yang sudah didaur ulang. Sandal itu hasil karya sebuah kampung di Purwokerto yang lupa saya tanyakan kampung mana.

“Memangnya tidak licin?” tanya saya.

“Kadang. Tapi lumayan kalau dipakai saat hujan, minimal tahan air, lah,” timpal Mbak Er.

Alas kaki yang unik. Juga cukup berguna di saat hujan. Sebenarnya kepingin ambil gambarnya, soalnya saya baru lihat yang seperti ini, tapi tanda kamera disilang yang tertempel di pilar membuat saya urung melakukan apa-apa. Ya, hak cipta. Mana tahu kan kalau suatu hari nanti ternyata ada yang menjiplak kreasi sandal dari ban bekas ini. Apalagi kalau pencontekannya karena gambar yang saya ambil. Saya akan sangat bersalah.

Cuma, kok saya baru tahu ya ada sandal seperti ini? Apa memang di luar Purwokerto, sandal ini tidak terkenal sebagai oleh-oleh? Padahal lumayan unik kalau seandainya kerajinan ini dipromosikan. Apalagi kalau dikembangkan dengan desain yang menarik.

Mbak Er memanggil saya dan mengajak beranjak ke sisi sebelah, sisi makanan. Antara kedua sisi ini dipisahkan oleh lobi dan koridor menuju ke food court di bagian belakang.

Namanya diajak ke tempat makanan, tentu saja senang. Belasan rak makanan persis seperti di supermarket, menjajakan makanan khas Purwokerto yang bisa dijadikan oleh-oleh. Tapi selain dari Kabupaten Banyumas, pusat oleh-oleh ini ternyata juga menjajakan makanan khas kabupaten sekitar. Misalnya saja telur asin dari Brebes, seingat saya bahkan ada juga bakpia Yogyakarta.

Oleh-oleh Banyumas yang saya ketahui baru Nopia. Saya melihat beberapa merk di sana dan menawarkan kepada Mbak Er untuk membeli. “Bagaimana kalau kita beli di sini?”

“Heh, tidak usah, mahal. Besok kita ke pasar saja, di sana lebih murah.”

Dalam hati saya tertawa miris. Bagaimana mau terkenal di kalangan wisatawan, kalau ternyata harga tidak bersaing dengan pedagang tradisional? Belum lagi masyarakat sekitar yang agak segan untuk berbelanja karena harga yang mahal itu?

Kepala saya jadi penuh. Semoga saja ini gara-gara malam-malam hujan. Paling juga kalau akhir pekan, tempat ini akan ramai. Pusat makanan biasanya bernasib lebih beruntung dibandingkan sentra kerajinan tangan, sehingga paling tidak, sisi sebelah sini akan teramaikan oleh wisatawan yang belum tahu bahwa harga makanan di pasar tradisional jauh lebih murah. Peace.

Sesuatu di dekat tangga menarik perhatian. Mirip seperti konter kosmetik merk tertentu, tapi sepertinya bukan. SayaΒ  bingung kosmetik apa yang menjadikan Bagong sebagai brand ambassador. Rupanya memang bukan kosmetik, apalagi minuman pelangsing tubuh. Tentu saja. Alih-alih melangsingkan, benda yang dijual ini justru terkenal menggemukkan.

Cokelat.

Cokelat Inyong dan Soal Memotret

etalase-cokelat-inyong-banyumas
Etalase Cokelat Inyong di Pratistha Harsa

Yap, cokelat Banyumas. Atau saya sebut dengan merknya, Cokelat Inyong.

Saya baru tahu kalau Banyumas penghasil cokelat. Setahu saya daerah tinggi di kabupaten ini cuma kaki Gunung Slamet. Apa di sana ada kebun cokelat? Mungkin saat zaman kolonial dulu, daerah ini dipersiapkan sebagai penghasil cokelat di tanah Jawa? Ini unik. Tak biasanya saya menjumpai daerah di Jawa menghasilkan cokelat sebagai oleh-oleh khas. sayang sekali kalau cokelat ini tidak dipromosikan.

Cokelat Inyong dijual dalam tiga rasa (kalau saya tak salah ingat). Kayu manis, kacang mede, dan cokelat original. Ini juga unik, saya tumben melihat cokelat dicampur kayu manis, kecuali yang ada di luar negeri sana. Tapi ini di Indonesia, di Jawa pula. Entah pengetahuan cokelat saya yang memang nol koma kosong atau cokelat kayu manis di negeri ini memang baru yang satu ini?

Satu yang pasti, ini tidak ada di pasar, jadi saya mengambil beberapa sebagai oleh-oleh untuk teman kantor. Harganya juga lumayan murah, untuk cokelat ukuran kecil dijual sekitar Rp8k dan ukuran sedangnya dijual Rp15k atau Rp20k (saya lupa).

Kalau boleh saya simpulkan, Banyumas penuh dengan kekayaan yang belum tereksplorasi. Entah karena namanya tertutup dengan popularitas kota-kota utara yang sudah termashyur lebih dulu, entah karena kota ini ingin tetap permai tanpa harus terganggu dengan denyut pariwisata yang menegangkan. Yang jelas, untuk ukuran orang yang baru sekali datang ke sana, Banyumas dengan etalase ibukota Purwokerto sudah menyuguhi saya dengan pengalaman yang lengkap.

Saya cuma berharap, bahwa jikalaupun suatu hari nanti kota ini jadi padat, jadi sibuk, sebagai kota wisata di kaki Gunung Slamet, semoga Purwokerto dan Banyumas bisa tetap permai.

“Gar, Gar,” Mbak Er membuyarkan lamunan filsuf gadungan ini. Ia membawa satu Cokelat Inyong di kedua tangan.

Saya belum merasa ada yang aneh. “Kenapa, Mbak?”

“Fotoin, sih?”

“Lha, itu kan ada tanda tidak boleh memotret, Mbak.”

“Sudah, fotoin saja, tidak ada yang lihat ini.”

Pada akhirnya, saya mengambil beberapa gambar Mbak Er dan Cokelat Inyong. Sayang ia tak memberi izin gambarnya ditampilkan di blog sehingga tak ada yang dapat saya sajikan di sini.

35 thoughts on “Menapak Malam di Kota Bawor (2): Antara Sandal Ban, Cokelat Inyong, dan Batik Banyumas

  1. Wah, batiknya sampai tertutup debu begitu. Padahal toko ya Gara. Bagaimana pun juga, itu tentu bukan lah pertanda baik bagi toko tersebut.

    Iya sih, sedari dulu memang jalur Pantura lebih ramai daripada jalur selatan.

  2. nama banyumas sendiri malah tertutup oleh purwokerto yg justru ibukotanya. saya juga bbrp taun ini sadar bahwa purwokerto itu terletak di dalam kab.banyumas. bukan dua kabupaten yg berbeda hehehe.
    ah sayang, ternyata memang tidak diperbolehkan foto di dalam toko tsb. saya kira malah mas gara sedang malas memotretnya hehehe

    1. Saya baru sadar saat berkunjung ke sana, haha.
      Sebenarnya mungkin penjaga tokonya tidak ngeh. Tapi saya tak enak kalau sudah tahu dilarang masih melanggar. Jadilah postingan ini minim foto. Mohon maaf.

  3. Baca ceritanya kok jadi sedih ya mas. Kasihan tokonya, hidup segan mati tak mau. Kadang ikut ngenes kalau liat toko sepi. Jadi penasaran Ama sandal dari ban bekasnya, sayang ga boleh dipotong ya.

  4. gara mau?saya beliin kalo pulkam
    banyak tuh di pasar.. harganya murah pula, yg pake biasanya petani kalo ke sawah/ladang hehe, saya dulu pernah punya, saya bawa ke tbk, tapi dimaling πŸ™

  5. sayang .. kelihatannya tokonya jarang di kunjungi … apalagi sampai berdebu begitu.
    sepertinya barang2nya bagus2 dan unik2 ya, sesuai keunikan daerahnya .. tapi kembali ke masalah klise kita, bisa membuatnya tapi tidak bisa memasarkannya … ya jadinya seperti ini deh

  6. Wah naksir batik Banyumasan-nya, selama ini lebih moncer batik pantura selain sogan Solo Yogya.
    Juga naksir punakawan Bagong sahabat si Limbuk ala punakawan kaputren. Salam

  7. Dulu saya malah mengira Purwokerto itu beda dengan Banyumas, ternyata Purwokerto itu ibukotanya kabupaten Banyumas. Hahaha, dan kadang orang lebih seneng menyebut Purwokerto daripada Banyumas wkwkwk. Padahal Banyumas, betul, banyak banget yang belum dieksplorasi, kabupaten ini begitu tenang, ndeso tapi tentrem apalagi di pelosok-pelosok.

    1. Kekeliruan antara Purwokerto dan Banyumas ini harus segera kita selesaikan Mas, biar nggak bingung, hehe. Kabupaten ini banyak menyimpan cerita, banyak sekali. Sebenarnya ia begitu kaya. Saya ingin kembali lagi ke sana, menginap satu dua malam dan jalan-jalan lagi, hehe.

  8. Gombong itu seperti kota bayangan di Kabupaten Kebumen, secara administrasi itu masih kecamatan. πŸ™‚

    waah..untuk coklatnya rasanya standar, gak aneh-aneh…coba coklat rasa sayang apa rasa yang pernah ada…

    Main-mainlah ke Banjarnegara, kabupaten tempat saya dibesarkan. Lihat tokoh punakawan jadi maskot dawet ayu πŸ™‚

    1. Bagaimana tuh Mas rasa yang pernah ada? Haha jadi penasaran euy. Sip Mas, mudah-mudahan bisa main ke Banjarnegara dan mencicipi langsung dawet ayunya yang terkenal banget itu. Pasti beda ya rasanya kalau langsung di Banjarnegara sana, hehe. Saya pernah lihat di gerobak pedagang dawet ayu, ada tokoh punakawan, hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?