Sahabat Itu Ada, Tapi Tidak Harus Selalu Ada

Mungkin bagi kebanyakan orang, sahabat itu berarti orang yang selalu ada dalam segala situasi. Senang susah, sedih gembira, galau bahagia.

Saya dan teman-teman. Sekian tahun yang lalu.
Saya dan teman-teman. Sekian tahun yang lalu.

Saya juga dulu berpendapat demikian. Sahabat itu harus selalu ada ketika saya butuh. Soalnya saya juga selalu ada kapan pun dia butuh. Soalnya saya juga melihat kalau orang-orang lain punya sahabat, maka mereka pasti harus bersama sahabatnya itu dalam segala situasi. Dalam semua status Twitter, momen Path, atau foto Instagram. Dalam semua curhatan, dia selalu akan memberi pendapat dan jalan keluar.

Bahkan meski kayaknya dia tidak terlalu membutuhkan saya, tapi kalau dia sahabat saya, maka dia akan selalu ada kapanpun saya memintanya. Jika kita memang bersahabat, maka saya akan melakukan apa pun agar dia tahu apa yang saya rasakan, agar dia tahu apa yang saya alami.

Tapi dengan sangat menyesal, saya harus katakan kalau sahabat itu justru tidak harus selalu ada. Malah, kalau ada persahabatan yang seperti itu, maka (sekarang) saya akan bertanya, itu sahabat apa ketergantungan, sih?

Karena? Simpel, dia juga punya kehidupan. Kamu juga punya kehidupan. Kehidupannya dia tidak berputar di dirimu, sebagaimana juga kamu tidak harus selalu mencari dia dalam segala situasi.

Persahabatan itu tidak sesederhana saya dan kamu lebih dari sekadar teman dan kita buka-bukaan soal apa pun juga. Lebih rumit dari itu. Persahabatan, menurut saya (sekarang), justru ketika kita melihat sahabat kita berkembang, jadi dirinya dia sendiri, dan kita memberi respons pada apa yang dia lakukan dengan tulus.

Sahabat akan ada dalam setiap situasi kehidupan kita. Dia akan tahu apa yang terjadi. Tapi tidak dalam kadar membuat kita jadi tak bisa berdiri sendiri. Ketika kita bisa berdiri sendiri, maka sahabat akan baru ada ketika kita memang ingin dia ada. Bukan karena kita begitu butuh akan keberadaannya.

Sesungguhnya itu pun berlaku sebaliknya.

Akhirnya, kalau beberapa dari pembaca budiman masih menganggap sahabat itu adalah orang yang selalu ada, maka bagi saya, sahabat itu adalah orang yang mengajari saya untuk mandiri, orang yang mengajari saya bahwa sahabat itu justru tidak harus selalu ada. Yang lebih penting lagi adalah, bukan soal siapa yang mau menjadi sahabat yang baik, tapi bagaimana kita bisa menjadi sahabat baik untuk orang-orang.

Diikutsertakan dalam giveaway Saya dan Sahabat dari adelinatampubolon.com.

Didedikasikan buat emak-emak (ampun!) yang menyuruh saya melompati parit agar tidak menginjak bibit selada. Saya menginjak, saya menginjak! kabur. Hah, jarang-jarang kan gue bikin postingan buat lo?

66 thoughts on “Sahabat Itu Ada, Tapi Tidak Harus Selalu Ada

  1. “Karena? Simpel, dia juga punya kehidupan. Kamu juga punya kehidupan. Kehidupannya dia tidak berputar di dirimu, sebagaimana juga kamu tidak harus selalu mencari dia dalam segala situasi.”

    Thanks buat pencerahannya ya, kak… aku mendapat jawaban dari sebuah pertanyaan yang beberapa hari ini lari2 di kepalaku…
    Semoga dia baik-baik saja menjalani hidupnya…

    1. Dia? Baik, kok, baik. Kalau dia sedang tidak baik, dia pasti akan bilang. Kalau dia tidak bilang, maka dia pasti baik-baik saja. Logika itu sah, lho.

  2. “Karena? Simpel, dia juga punya kehidupan. Kamu juga punya kehidupan. Kehidupannya dia tidak berputar di dirimu, sebagaimana juga kamu tidak harus selalu mencari dia dalam segala situasi.”

    Terima kasih atas pencerahannya ya, kak… aku mendapatkn jawaban atas pertanyaan yang beberapa hari ini lari-lari di kepalaku…
    Semoga dia baik-baik saja dan memang sedang menikmati hidupnya… Aminnn….

    1. Baik, kok, baik, dia pasti baik-baik saja. Kan dia sahabatmu. Jika dia kenapa-napa, maka dia pasti akan bilang. Sebaliknya, jika dia tidak bilang apa-apa, maka dia memang tidak kenapa-napa.
      Logika di atas secara matematis sah, lho. Boleh dicek, namanya kontraposisi :hihi.

  3. dia ? benar, dia punya kehidupan nya sendiri. Kalau saya biasanya selalu ada jika mereka sedang sedih, ketika mereka bahagia saya hanya memandang kebahagiaan mereka cukup dari jauh saja.

    1. Saya sih kalau diajak hepi-hepi sama mereka ya ngikut juga Mbak :haha. Cuma kalau nggak diajak ya kayaknya saya bakalan sama juga. Yang penting kita senang melihat mereka senang :)).

  4. Hehehe, aku suka sekali pemikiran di balik posting ini Gara. Aku setuju. Semakin “dewasa”, jalan dan kehidupan setiap orang menjadi semakin khusus dan masing-masing orang memiliki kehidupannya sendiri-sendiri. Oleh karenanya, definisi sahabat juga menyesuaikan dengan itu. Aku setuju, sahabat itu tidak selalu harus ada setiap waktu.

    1. Iya Kak :)). Sahabatan juga menyesuaikan dengan tingkat kematangan seseorang, ya. Semakin dewasa, persahabatan pun demikian. Hubungan tetap ada, tapi bentuknya mungkin agak berbeda.
      Terima kasih sudah mampir! :hoho.

  5. Suka banget sama tulisan ini. Kalau sahabat ga berarti harus buka-bukaan segala sesuatu, curhat ini itu. Ga curhat bukan berarti ga sahabatan..tapi terkadang sendiri menyikapi semua itu perlu…

    1. Menurut saya sih kita selesaikan dulu sendiri, semampu kita. Jika sekiranya ada yang benar-benar butuh pendapat, baru kita diskusikan. Bukan bagaimana-bagaimana, sahabat-sahabat kita juga punya masalahnya sendiri, kan. Intinya perlakukanlah orang sebagaimana kita ingin diperlakukan.

    1. Iya Mbak, itulah kekuatan persahabatan, tetap bersama meski jarang bersua :hehe. Semoga kita selalu bisa akrab dengan sahabat-sahabat kita ya Mbak :amin :)).

    1. Itu temankah, Mbak? Soalnya setahu saya teman, apalagi sahabat, akan ada ketika kita ingin dia ada. Mungkin saya masih akan menerima ketika saya ingin dia ada tapi dia tak ada, tapi ketika dia memaksa saya untuk ada tapi tak sebaliknya, mohon maaf, saya akan memikirkan kembali hubungan pertemanan itu.

  6. Sahabat emang tidak harus selalu ada secara fisik Gara, tapi bisa dalam bentuk doa dan dukungan. Dengan jarak dan waktu sahabat akan teruji. Ketika bertemu lagi dalam jangka waktu dan dimensi yang berbeda apakah kita masih menemukan orang yang “sama” dalam hal care dan peduli dalam diri sahabat kita.

    Dan nga semua hal bisa kita ceritakan kepada sahabat kita, kadang dengan kepeduliaannya yang besar membuat kita takut untuk cerita karena yang ada dia malah cemas dan kuatir. Hehehe, menurut aku sich begitu. Terima kasih yach Gara buat ceritanya, aku percaya koq, walaupun kita nga terlalu sering ketemu, kamu pasti punya rasa care dan peduli padaku. wkwkwk.. #GR. secara kamu kan sahabatku juga πŸ™‚

  7. sahabat sejati adalah mereka yang berteman bukan karena kesamaan alasan, melainkan kesamaan hati, tulisan yang bagus mas sedikt memberikan aku angin segar tentang sahabat..

    1. Iya, sahabat adalah orang yang bisa mengajak kita buat jadi lebih dewasa, bukan malah membuat ketergantungan karena ia selalu ada :hehe.

  8. sahabat gak melulu harus ada, gak harus tiap hari chit chat.. sahabat itu yg selalu mendokan kita diam2..
    kalo cerita soal sahabat, gak bakal ada habisnya πŸ˜€

  9. Dulu pemikiranku begitu, sahabat pasti harus selalu rajin ketemu atau kontak.

    Tapi.. ternyata tidak harus begitu. Aku dan bbrp sahabat sekarang malah jarang ketemu dan kontak, tapi masing2 kita pasti selalu ‘ada’ misal dibutuhkan buat curhat atau kasih support, atau bahkan cuma buat ngobrol ngalor ngidul via WA. That’s for me what it’s worth more.

    Proses dari teman menjadi sahabat itu mungkin ya yang membutuhkan intensitas pertemuan/interaksi. That’s my 2 cents πŸ˜‰

    1. Saya sependapat, bagaimana menumbuhkan rasa saling percaya supaya bisa jadi sahabat itu membutuhkan kontak yang intens, tapi kalau sudah jadi sahabat ya nanti tak ada ketergantungan. It’s because we want them, not because we need them :haha.
      Terima kasih sudah berkenan mampir di postingan ini, Mas! :hoho.

  10. betul, sahabat tidak harus selalu ada. bukan karena egois, tapi karena masing-masing dari kita sendiri mestinya saling memahami bahwa sahabat tidak bisa selalu ada setiap saat. *ah bingung kan*

    1. Iya, dan ketergantungan ini tidak baik :haha.
      Eh… ini dedikasinya bukan buat Mbak Adel sih :haha. Ada seorang lagi, yang biasa saya panggil emak-emak. Bukan blogger kok dia :haha. Kamu bikin salah paham deh Feb :haha.

  11. Aku udah komen lewat hape tapi kok ga masuk ya? *lempar hape*

    Hm…it’s kinda felt like a great accomplishment to read this post. (Nope, dont look back to that jahiliyyah period when killing you was the only way to save you, haha) #noimnotjoking

    Eniwei…karena persahabatan itu bagai kepompong, maka lo adalah ulat yang merongrong dedaunan selada(dulu itu sawi, bukan selada ya), dan gue adalah kupu-kupu cantik yang abadi. :p

    Jaa~

    1. Mungkin masuk spam, nanti coba aku cek deh.
      Alhamdulilah ada yang mencegah sandal gue hanyut di kali dekat sawah yang sedang dikerjakan itu :haha. Terima kasih ya, betulan lho ini.
      Aku tak suka sawi dan selada. Lagi pula, apa beda mereka? Mereka sama saja.

  12. Haha “Sahabat apa ketegantungan sih?” Iya emang kalo sahabat sampe segitunya jelas itu ketergantunga, aku sendiri belom nemu sahabat, tapi aku bakal bercerita hal-hal yang dalem banget ke orang yang gak aku kenal bahkan gak pernah ketemu *berasa de ja vu gak bli?* XD

    Soalnya ya gitu sahabat bukan untuk sering tatap muka dan rumpa rumpi, tapi kadang kita hanya butuh didengarkan.
    Friend in need is a friend indeed right? πŸ™‚

    1. Iya dejavu… rahasiamu aman kok sama saya :haha. Malah saya jadi pengen kepo lebih jauh :haha. Betul, ketika kita ingin mencari sahabat, maka dia akan ada, tapi kalau kita tak ingin, maka baik kita coba menyelesaikan sendiri masalah-masalah kita :hehe.

      1. Yap benul, gasemua masalah kudu diceritsin juga. Masalah pan yg bikin kita setrong dan dewasa (kalo bijak menyikapinya ding) πŸ˜€

        Which part you kepo the most? Hihi actually this sooooo embarassing n_n

    1. Terima kasih ya Mbak :hihi. Urusan menang saya serahkan pada sang penyelenggara giveaway saja deh :haha. Tapi ya begitulah yang saya rasa :)).

  13. Mohon maaf Bli, saya baru baca kepindahan blog Bli. Mengapa pindah, Bli? (Oh, maafkan atas ketidaktahuanku ini). Tapi semoga dengan adanya blog baru ini, Bli semakin aktif berkarya.

    Wah, tema tulisan ini sahabat ya? Hiks, ini membuat saya sedih. Saya mempunyai seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak kami berumur 4 tahun. Waktu itu ke mana-mana kami selalu bersama. Hingga saat mulai masuk SD kami berpisah karena sahabat saya itu pindah rumah. Persahabatan yang terputus itu baru terhubung kembali ketika kami kelas 3 SMP. Saya berkunjung ke rumahnya yang sebenarnya masih satu kota dengan saya. Meski berbeda sekolah, kami menjadwalkan pertemuan rutin minimal satu kali dalam seminggu. Biasanya kami menghadiri perkumpulan English Club yang ada di kota kami.

    Tetapi sejak saya lulus SMA dan hijrah ke Kalimantan pada tahun 2004, kami jarang sekali bertemu. Akhirnya kami menjadwalkan setahun sekali untuk dapat bertemu. Namun sejak 2009, saya tidak rutin lagi pulang ke Bogor setiap tahunnya. Baru pada bulan Maret 2015 silam kami bisa bertemu kembali. Sedih, senang, bercampur jadi satu saat pertemuan terakhir itu. Karena jujur Bli, saya sering iri melihat orang lain yang selalu pergi ke mana-mana bersama sahabatnya. Setiap kali saya mempunyai sahabat, kami selalu terpisah jauh. Dari pengalaman yang saya alami ini, saya menyimpulkan sahabat itu bukan barang mainan kesayangan yang bisa kita bawa ke mana-mana. Mereka ada sekalipun tidak ada. Sahabat selamanya akan selalu bertemu dengan kita di dalam doa.

  14. kalau mau sahabat yang bisa selalu ada itu ya pasangan (suami/istri). makanya jadikan mereka sebagai sahabat baik dan pastinya tulus tak terkira….
    kalau sahabat diluar pasangan aku setuju sama tulisanmu mas gara, ada tiadanya tidak lagi perlu dipikirin, yang penting komunikasi tetap jalan, saling mendoakan, dan selalu care walaupun posisinya berjauhan…

  15. Kk bilang sahabat itu ada, tapi tidak harus selalu ada. Tapi saya memiliki sahabat yang setiap ada masalah keluh kesalnya ke saya, dan akir” ini dia jarang curhat lagi, aku khawatir dengan itu. Dua jarang curhat semenjak ada kesalahpahaman dan dia juga pernah bilang kalau dia tidak enak terus curhat di saya. Apakah dia mencoba untuk menyelesaikan maslaahnya sendiri? 😦

    1. Bisa jadi dia mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Bisa jadi juga dia memendam sendiri karena tidak enak terus curhat padamu, Kak. Kalau saya boleh kasih saran, coba sekali waktu Kakak mulai tanya kabar sahabat Kakak itu. Siapa tahu bisa jadi jalan untuk membuka percakapan dan akhirnya Kakak bisa tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Syukur-syukur kesalahpahamannya (kalau ada) bisa diselesaikan juga, hehe.
      Semangat, ya!

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?