Recap. Baca: Pamer Foto!

Pose kerakyatan.
Pose kerakyatan.

Hai! Kangen saya?

Nggak, ya. Oke, sip :haha.

Jadi saya mau minta maaf dulu, karena selama beberapa hari ini saya alpa kucluk-kucluk di reader wordpress atau kotak notifikasi pranala blog pembaca yang budiman (mohon maaf kalau saya sangat ke-GR-an). Saya sedang berada dalam sebuah perjalanan menuju timur Jawa, untuk menguak kisah dan kasus yang ada, atau setidaknya pernah ada, atau masih ada, namun terlupa, di tempat itu.

Saya sebenarnya menahan diri untuk tidak menulis ini dan memilih untuk menjelaskannya per episode yang detailnya alakazam dalam jurnal perjalanan, tapi entah, dorongan untuk membuat paparan singkat tentang apa-apa saja kejutan abra kadabraย yang sudah saya lalui di dataran itu membuat saya harus menulisnya, mumpung masih panas!

Soalnya, bagaimana tidak, masih ada banyak tulisan yang harus saya cicil :haha. Oke abaikan, kita jalani saja dengan segenap keseruan ini. Semoga semua kata yang mengalir keluar dari tuts-tuts keyboard ini bisa memberi sesuatu pada pembaca budiman.

Jadi kemarin saya ke mana? Saya… bertualang ke sebuah tempat di mana Singo Edan bermarkas. Salah satu kota pelajar yang sejuk, tempat yang terkenal sebagai petirahan, bukan dari zaman kolonial, tapi semenjak kekuasaan Hindu berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Dataran Malang Raya!

Oke, sebetulnya lebih ke Kota Batunya, sih. De Kleine Switzerland. Dunia BNS, Jatim Park 1 dan 2, Museum Angkut, Eco Green Park, dan semua taman mahal yang bagi saya, kalau mau jujur, tak lebih dari pengelolaan pariwisata salah tempat. Ah, ini punya cerita panjangnya sendiri, yang masih berusaha saya selesaikan.

Saya jadi ingat cerita Mbak Joyce yang juga kucluk-kucluk ke Kota Batu dan ke taman-taman bermain itu. Tapi sayang, saya selama 4 malam 5 hari di sana dan… saya tidak ke semua tempat itu, hanya ke Jatim Park 2 dan BNS, itu pun hari terakhir setelah semua agenda habis :haha.

Wuh, itu perjalanan yang melelahkan, tapi seru. Begitu banyak cerita. Dari pesugihan, status quo, terharu dengan pengabaian, sampai embusan napas lega karena ternyata meski cuma satu orang, masih ada yang peduli. Ah, betapa banyak, dan saya tak sabar untuk segera menuliskannya!

Dan teriring terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam kepada sahabat terbaik saya, guide, penterjemah, nona panik-naik-roller-coaster, dan nona yang balik menenangkan saya yang panik kalau saya yang jadi sopir motor (tapi buktinya bisa melewati turunan Songgoriti dan Jurang Susuh, toh Hen?)

Heni Rochmawati, yang dengan nama penanya dikenal dengan nama Curio Cherry.

Tahu kan dianya yang mana? :haha.
Tahu kan dianya yang mana? :haha.

Terima kasih sudah menemani saya “disangka” cari pesugihan, terima kasih sudah jadi penterjemah saya, terima kasih sudah menemani saya riset pustaka di Perpustakaan Kota Batu (perpustakaan yang kecil tapi KEREN BANGET!).

Terima kasihย buat pinjaman motornya yang harus pecah ban dua kali dan oli bocor gara-gara terlalu semangat naik trotoar pas mau kenalan dengan Gunung Arjuno, mesin panas, rem blong, bau terbakar, sampai akhirnya teriak-teriak karena motornya mundur di Sumberawan dan hampir tabrakan di Bumiaji dan hampir menyerempet bapak tua di tanjakan Oro-Oro Ombo :haha.

Terima kasih sudah mau ikut mungutin sampah di Makam Dinger dan Omah Kayu meski sebenarnya yang kita pungut itu cuma SEDIKIT BANGET, terima kasih sudah membiarkan saya menangis di Arca Ganesha, terima kasih sudah mau susah-susah mencegah saya terserempet motor di Lintas Pujon saat saya terlalu semangat mencari spot yang sama dengan foto tahun 1929 itu.

Terima kasih buat semuanya.

Dan saya di sana ketemu blogger ketjeh juga! Mas Rifqy, bapaknya Papan Pelangi. Wow, terima kasih sekali sudah mau menemui saya yang bentuknya absurd dengan kepala harimau putihnya (well, kalau mau jujur, saya maunya cari topi Singo Edan supaya Aremania-nya keluar, tapi di JaPark 2 yang didapat cuma itu :haha). Terima kasih juga buat semuanya! Betul-betul banyak belajar saya selama pertemuan kita di Pujasera Ketan Pojok Jl. Sudiro malam itu. Dan kok ya saya kepingin naik Gunung Arjuno buat cari Kebo Ijo…

By the way, Mas, saya punya satu fakta mengejutkan soal Kebo Ijo, tapi itu nantilah saya ungkap, saat waktu menulis pertemuan kita itu telah tiba (baca: utang postingan masih buanyak… #bloggermurtad).

Pada akhirnya, tentu saja saya akan datang ke Malang lagi!

Jadi selama di sana, saya ke mana?

Inilah dia, dalam kalimat-kalimat singkat, karena saya belum mau terlalu banyak membuka rahasia!

Baru pertama datang ke Batu, sudah disambut dupa di Punden Tutup. Heni langsung ngacir, sementara saya anteng saja di sana :haha.

More than just a stone, Punden Tutup.
More than just a stone, Punden Tutup. Lihat asap dupanya, kan?

Selanjutnya kita menelusuri trek berbatu, latihan pertama dengan sepeda motor, dan ketika ketemu dengan Ganesha, saya menangis dalam haru, terlalu sedih meninggalkannya sendiri.

Tak akan kulupa. Terima kasih untuk semua.
Punggungilah kami, tapi jangan tinggalkan kami.

Kemudian disangka mau “nyekar” ke Punden Mojorejo, padahal cuma mau lihat rumah terakhir Prasasti Sangguran sebelum diboyong ke Skotlandia sampai sekarang.

Gelap, sepi, sendiri. Padahal tonggak Jawa Timur ada di sini: Punden Mojorejo.
Gelap, sepi, sendiri. Padahal tonggak Jawa Timur ada di sini: Punden Mojorejo.

Dan kita membuktikan foto-foto Juni 1929 itu, hampir 86 tahun setelahnya.

89 tahun? Hm, mari kita cek.
86 tahun? Hm, mari kita cek.

Kaget melihat jejak Hindu di Coban Rondo. Bagaimana mungkin benda itu bisa ada di sana, dan kenapa tidak ada orang yang sadar?

Oh, air terjun!
Oh, air terjun!

Kaget lagi dengan fakta soal waktu pembangunan di Candi Songgoriti dan empat sumber mata airnya yang tidak bercampur satu sama lain!

Yang tersisa cuma tubuh. Artinya? Mari diterka.
Yang tersisa cuma tubuh. Artinya? Mari diterka.

Jalan-jalan di Gunung Banyak, ketakutan dengan legenda pohon berdarahnya, tapi kesal setengah mati melihat puntung rokok di sembarang tempat :huhu. Kabutnya tebal!

Kabut, kabut, aku di tengah kabut!
Kabut, kabut, aku di tengah kabut!

Masuk lorong misterius, keluar di mulut singa Selecta. Haduh!

Kadang kekonyolan itu adalah... lorong kerongkongan.
Kadang kekonyolan itu adalah… lorong kerongkongan.

Pulang-pulang, kaget lagi dengan patung-patung Budha di Umbul Gemulo…

Dan aku tak tahu harus berkata apa, kalau semua menyuruhku berdiam dalam damai.
Dan aku tak tahu harus berkata apa, kalau semua menyuruhku berdiam dalam damai.

Berkenalan dengan Gunung Arjuno (dan legenda Gunung Wukirnya), Gunung Panderman, Gunung Anjasmoro, Gunung Biru, Gunung Welirang, dan di kejauhan, gugusan Semeru…

Kalau diterka-terka, sih... halo!
Kalau diterka-terka, sih… halo!

Sebelum muram dengan megahnya Makam Dinger yang jadi tempat sampah, tempat kita mendefinisikan kembali apa arti “terabaikan”…

Koar-koar tentang pelestarian tapi belum melihat yang ini? Think again.
Sayang sekali, padahal semegah ini. Semoga ada perhatian.

Dan makin suram tatkala mendengar tangis pilu macan penjaga Wisnu di Punden Masayu Sinto Mataram yang kepingin banget dibelai oleh pengunjung seperti kami…

Tidakkah ia tampak sangat senang karena ada yang mengunjunginya, setelah sekian ratus tahun?
Tidakkah ia tampak sangat senang karena ada yang mengunjunginya, setelah sekian ratus tahun?

Dan setelah itu, jelajah ibukota! Oh Tuhan, inilah Tumapel, tempat kita berspekulasi dengan arah hadap arca Dwarapala yang masif…

Oudheidkundige Dienst, 1937. Abaikan modelnya!
Restauratie, Oudheidkundige Dienst, 1937. Abaikan modelnya!

Sampai hampir jatuh dari motor karena derasnya hujan di Sumberawan… sebelum akhirnya mendapatkan fakta mengejutkan!

Perjuangan ke sini sepadan dengan ceritanya. Percayalah.
Perjuangan ke sini sepadan dengan ceritanya. Percayalah.

Akhirnya, apa kita harus ada di status quo dalam memerhatikan benda-benda itu?

Status quo? Atau? Jawablah.
Status quo? Atau? Jawablah.

Well, ini belum semua. Tapi menurut saya sudah membuat saya sendiri penasaran tentang akan seperti apa jadinya kisah petualangan ini akan saya tuliskan. Entah berapa bulan setelah ini baru karnaval tulisan itu akan menyentuh jurnal Batu, tapi saya yakin, itu akan jadi pengalaman yang sangat memperkaya dan tak terlupakan! Saya sangat menantinya, dengan semua memorabilia yang saya simpan dalam buku catatan saya.

OK, sekarang kita lanjutkan dengan menulis kisah tentang kampung halaman Semar… sampai nanti!

Dan saya sedang mempersiapkan perjalanan akhir pekan untuk jelajah Jawa Tengah! Wish me luck!

132 thoughts on “Recap. Baca: Pamer Foto!

  1. “Terima kasih buat pinjaman motornya yang harus pecah ban dua kali dan oli bocor gara-gara terlalu semangat naik trotoar pas mau kenalan dengan Gunung Arjuno, mesin panas, rem blong, bau terbakar, sampai akhirnya teriak-teriak karena motornya mundur di Sumberawan dan hampir tabrakan di Bumiaji dan hampir menyerempet bapak tua di tanjakan Oro-Oro Ombo”

    Kalimat di atas sungguh menghibur, Bli. Hahaha…

  2. Sepadan banget, Mbak! Antara pengorbanan dan ceritanya. Malah banyakan ceritanya :hehe.
    Wah, sampah-sampahnya sangat menyebalkan! Rasanya kepingin tak sobek-sobek itu. Mereka membuang sampah di… *elus dada*. Haduh… menyebalkan!

  3. Kalo aku jd yang minjemin motor kayaknya kamu takjitakin berkali-kali dehh, bisa-bisanyaaaa ๐Ÿ˜›

    Ditunggu banget kisah menarik jalan2 di Malang dr sisi yg lain ini. Jatim park museum angkut dll udah terlalu mainstream

    1. Wow, punggung saya suda jadi korban dipukulin berkali-kali Mbak :haha. Tapi seru banget dah, yang pecah ban yang oli bocor yang keluar bau kampas rem :hihi. Unforgettable experience pokoknya!
      Siap, sedang saya siapkan, terima kasih!

  4. wah ternyata Bli Gara baru plg jalan-jalan dari jawa timur toh,pantesan lama gak beredar *sok akrab* :-D.
    Gambar air terjunnya menyegarkan, dan ternyata banyak pengalaman seru dan lucu ya selama perjalanannya itu dari yg pecah ban dan oli bocor ya ampun ๐Ÿ™‚

    1. Batu sudah sangat berkembang Kak! Pariwisatanya, masyarakatnya, semuanya :)). Tapi tetap saja dingin dan berkabut, semoga sampai kapan pun tetap begitu :hehe.

  5. huaaa pesugihan… bisa cepet kaya duong ya.. #gakfokus

    suka banget deh gar liat foto gunungnya. terus foto yang ada kabutnya saya juga suka. jadi ingat buku cerita jaman saya dulu, petualangan lima sekawan namanya…

    duh sayang ya kesannya terlantar banget (sambil ngliatin foto makam dinger keren banget kalo diurus denga baik) padahal kebudayaan hindu di negara kita itu umurnya lebih tua dari kebudayaan disini.

    1. Ya, banyak yang terbengkalai Mbak di sana, padahal nilai sejarahnya tidak terhitung deh sepertinya, saking kayanya. Bahkan peninggalan sejarah pun ada di pinggir jalan, dilewati oleh pengguna jalan tapi tidak ada yang sudi berhenti untuk sekadar mengagumi. Sayang sekali.

      1. memang sayang sekali ya. peninggalan-peninggalan seperti ini, dinas kebudayaan dan pariwisata harus turun tangan untuk mengurus supaya pengunjung tertarik untuk mengunjunginya. semacam peta wisata tempat-tempat yang patut dikunjungi di daerah tersebut. jadi tau gitu bahwa ada sesuatu yang patut dilihat disini…

        salam
        /kayka

    1. Ayo Mbak, disinggahi lagi tempat-tempatnya :hehe. Mereka pasti sangat senang kalau ada yang mau mengunjungi. Ngomong-ngomong, dulu ke mana, Mbak? :)).

  6. Whaaaa saya malah fokus sama modelnya …. wakakaa….
    saya selalu merasa ketinggalan mas gara neh untuk acara hunting foto kaya gini …

    1. Wah, kalau fokus nanti dia besar kepala, Mas! :haha.
      Ah, Mas bisa saja. Saya pikir malah sebaliknya, saya masih harus belajar teknik fotografi dari Mas Ahsan :)).

  7. Asyik, mantap! Prolog ini sukses bikin saya penasaran dengan cerita-cerita selanjutnya. Terasa banget ada jiwa skeptis dalam diri njenengan. Pasti akan sangat menarik karena njenengan adalah segelintir orang yang mau mengulik sisi lain Malang Raya, yang mana kawan pejalan lain justru lebih asyik memburu taman-taman hiburan yang saya pun juga malas mengunjunginya. Ditunggu, sangat-sangat ditunggu! ๐Ÿ™‚

    1. Terima kasih banyak! Semoga saya punya napas yang cukup panjang untuk sampai pada masa menceritakan pengalaman yang saya sendiri susah untuk percaya, tapi yah, begitulah nyatanya :haha. Sekali lagi, terima kasih, juga buat malam yang menyenangkan di Pujasera Ketan Pojok Alun-Alun Batu!

  8. Gue kangen… Tapi ngga sempat komen juga karena juga lagi on the road ๐Ÿ˜€
    Itu ukiran – ukirannya indah banget. Kalau aku ke sana, bisa berjam2 motretin detail satu2 :-).. Keren Gara..

    1. Saya pun demikian! Mengingat fakta bahwa ukiran itu berasal dari lebih satu milenium silam, malah semakin membuat saya takjub. Bagaimana mereka melakukannya?
      Terima kasih banyak untuk apresiasinya, Mbak! Saya tak sabar untuk segera menuliskannya!

  9. foto-foto tentang sejarah, tempat2 sejarah saya sukaaa… ๐Ÿ˜€
    huwaaaaa… poto pertama itu arca atau bukan yang sambil “peace”
    *lariii
    *di lempat beton

  10. aku makin penasaran sama museum angkut, lagi pembicaraan hot topic juga sepertinya hihihi. Btw.. seru banget perjalanannya, aku baru tau semuanya lewat postingan ini, makin gak sabar baca petualangan selanjutnya.

    1. Iya, Museum Angkut memang nge-hits banget Mbak, soalnya berkelas internasional begitu, cuma kemarin saya belum ke sana jadi belum punya cerita tentangnya :hehe :peace. Mungkin kalau tahun depan saya ke sana lagi (tentunya), saya bisa singgah dan menarik cerita dari sana :)).

    1. Malang ternyata menyimpan hijau dan lestari pepohonan yang bagi saya menakjubkan. Monggo, silakan! Saya yakin Malang membuka tangannya bagi semua pejalan-pejalan baik dari seantero bumi ini :))

    1. Akhir bulan ini, semoga tidak ada halangan, saya kepingin ke Yogya lagi, Mas :hoho. Terus juga sudah ada jadwal di bulan-bulan selanjutnya. Semoga tidak ada halangan :hehe.

  11. Ternyata seru yg namanya eksplorasi makam, apalagi kalau ada kuncen atau penduduk lokal yg bisa diajak ngobrol. Pastinya dalam rangka kajian ilmiah bukan mistisme.

    1. Yap, setuju, jadi kita bisa tahu apa yang dilakukan masyarakat sekitar, tanpa harus menerka-nerka karena ada sumber informasi yang valid: masyarakat sekitar situs. Mereka ternyata punya banyak cerita lisan yang belum ada di buku :hehe.

  12. Ini tulisan pembukanya aja udah panjang banget. kayaknya bakal jadi berseri-seri nih tulisannya. Ditunggu yaaak ๐Ÿ˜€ *itu foto paling atas kenapa dikasih caption foto kerakyatan sih? hihi*

    1. Soalnya setiap foto saya pasti posenya kayak begitu, Mbak, makanya jadi pose kerakyatan :haha (curhatan anak yang miskin pose foto :hehe). Siap, terima kasih banyak, Mbak! :hoho.

  13. Walaaaah, Bang Gara ngilang gara-gara ada perjalanan toh, pantesan ๐Ÿ˜€ welcome back bang ๐Ÿ˜€ wkwkw

    eh, itu aku liat asap dupanya ._. bisa ngeri gitu ya bang hasil jepretannya, jangan-jangan, itu arwah bang ๐Ÿ˜€ wkwkw

    air terjunnya…. KECEEEE !!!

    1. Haduh, membaca arwah itu awalnya saya kira ada penampakan di dalam foto saya. Soalnya kami memang datang ke tempat yang terkenal banyak cerita seramnya (apalagi Makam Dinger :haha). Tapi bukan kok Feb. Sejauh ini itu masih asap dupa. Sejauh ini lho, ya…

      1. Iya deh, kayaknya Bang Gara datengnya ke tempat yang terkesan horor dan banyak makamnya gitu -_- kan mistis gimana gitu -_- emang suka hal yang bersejarah sih ya Bang Gara ๐Ÿ˜€ wkwk

        Eh, tapi udah pernah dapet foto yang bener-bener penampakan atau hal mistis belum bang? ._.

        1. Belum pernah Feb. Mungkin karena saya tidak pernah berniat cari yang begitu-begitu, ya :hehe. Amit-amit juga sih, jangan sampai ditampilin, soalnya saya penakut sama yang begituan :haha. Cuma mau tahu sejarahnya saja saya mah, suer! :)).

  14. Saya bulan Maret kemarin sempat merencanakan untuk pergi ke Malang dan sekitarnya. Apa daya, tumpukan pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya, jadinya mengalihkan perjalanan ke Palembang.

    Tapi sekarang jadi bersyukur karena saya jadi bisa mempelajari banyak hal mengenai Malang, Batu dan candi-candi di sana dari blogmu, Gara, sebelum saya sendiri ke sana. Nggak sabar nunggu cerita-cerita selanjutnya!

    1. Terima kasih banyak, Kak! Palembang juga pastinya sangat menarik buat dikunjungi, saya juga kepingin ke sana karena belum pernah tandang ke sana :)).
      Btw, senang rasanya bisa bertukar komentar dengan Kak Bama dalam bahasa Indonesia :hihi.

  15. Pedih ngga sih Gar, pas ngetik kalimat kedua paling atas? Bahahah! ๐Ÿ˜€

    Welcomeback ya.. Rada kangen sama komenan rusuh mu.. Wkwkwk.. ๐Ÿ˜› Aku malah sekarang ngga bisa terlalu sering blogwalking, soalnya ada kerjaan yang mesti dikelarin. *gaya banget*

    Btw, kalok ada bagian candi, terutama relief yang tinggal setengah, itu dicuri kah? ๐Ÿ™

    1. Pedih bangetlah! :p
      Santai, blogwalking kan menyesuaikan dengan kesibukan dunia nyata masing-masing Beb, jadi kita sabar menanti kok :hihi.
      Bisa jadi dicuri, kena letusan gunung, atau dihancurin pas perang. Atau kadang dijadiin bahan bangunan sama penduduk sekitar :huhu.

      1. saya sebenarnya juga biasa, kalo ke tempat “sunyi” pasti merinding, sejak tinggal setahun di rumah yg ada hantunya, respon dari saya kalo ke sebuah tempat bukan merinding lagi tapi “feeling” disini ada penunggunya

        1. Wah, tampaknya tinggal berdekatan memang menjadikan seseorang lebih peka ya Mas :hehe. Kalau kata orang, “antena”-nya jadi makin aktif :)).

  16. (Sebelum komentar di postingan terbarumu, ga afdol kalau belum komentar di postingan ini)

    Gara, nona-panik-naik-roller-coaster ini seneng banget dapat kesempatan menjelajah kotanya, berkunjung ke tempat-tempat; ada yang luar biasa indahnya, luar biasa anehnya, luar biasa agungnya, luar biasa mirisnya, dan luar biasa yang lainnya.

    Terima kasih!

    Im wondering how my beloved hometown looked like through your eyes. Im waiting~

    Yes, it’s beautiful. It’s wonderful. It’s shinning(haha). But recent years, this supposed quiet town were starting to make its people became a stranger in their own home.

    Ganbatte ne, Reiji-kun! (Remember those halcyon days where there were curio cherry and Reiji Mitsurugi in ffn)

    1. Bahkan dirimu sendiri belum tahu kan kalau pat tempat itu seluruhnya ada :haha.
      Masih banyak tempat di kotamu yang aku belum ketahui. Masih banyak kebiasaan di sana yang belum kutilik. Aku akan kembali :)).

  17. Ee aku penasaran dengan cerita selengkapnya. Kok nulisnya kaya yang lagi buru-buru gitu sih, Bli? Tapi emang sesuai judulnya ya, pamer foto. Haha… ๐Ÿ˜€

    Dari dulu bercita-cita pengen ke Malang tapi belum kesampaian. Katanya bahasa Malang banyak kosakata yang dibalik ya. Malang jadi Ngalam.

    1. Iya, kan cuma pamer foto doang Mas :haha. Iya kalau itu, namanya boso walikan :hehe. Tapi saya kurang bisa bahasa Jawa jadi kurang begitu tahu :haha.

      1. Kayanya Bli harus ceritain selengkapnya soal motor yang nyaris nabrak bapak tua itu. Gak kebayang kaya apa kalau saya di posisi itu. Seperti adegan laga di film action. Pasti keren tuh, Bli. Tapi syukur ya Bli, nyawa semuanya selamat. Cuma tekor di motornya ya.

        1. Iya Mas, maklum saya kalau naik motor dan asyik berpikir suka tidak lihat jalan, mata terbuka tapi tidak fokus karena pikiran sudah ke mana-mana :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?