Pulau Menjangan #8: Jawaban Misteri Tamas dari Sang Perempuan Tangguh

Mari sedikit merekap perjalanan di Pulau Menjangan sejauh ini.

Setelah meminta izin pada penjaga dan menjalani ritual pensucian dengan air, kami sudah melewati Brahma dan Wisnu. Brahma dengan Brahma Ireng, Wisnu dengan Avalokitesvara dan Gajah Mada. Berarti di depan sana mestinya perlambang Siwa, mengingat sejauh ini kami belum mengecap satu pun berkas Siwa di Pulau Menjangan.

Ada perasaan gamang di hati ini ketika kami meninggalkan pendopo Gajah Mada. Tak tahulah saya sebab jelasnya kenapa. Namun sepertinya, ada penjelasan yang saya lupakan di sana. Mungkin saya butuh berpikir beberapa lama lagi untuk memilah-milah semua poin. Mengurutkan, menyambung semua, agar menjadi satu jalinan rantai yang bagus.

Namun bukankah semua hal yang berkaitan dengan Gajah Mada akan selalu jadi misteri?

paduraksa-pura-pasupati-pulau-menjangan
Paduraksa putih dengan bahan batu yang banyak ditemukan di kawasan Bali Barat.

Baru menengok ke barat pendopo, sebuah gapura paduraksa menyambut kami. Putih besar. Kori agung berbentuk kerucut dengan desain paling anyar. Jika kori agungnya sudah sebesar ini, sepertinya kami sudah kembali dengan pura dan desainnya yang konvensional. Biarpun konvensional, namanya tempat ibadah tentu punya keindahan dan makna yang tak tertandingi sebagai sarana pemujaan Tuhan. Setelah semua pendopo penghormatan yang membuat kepala pusing karena fakta sejarah mesti dikaitkan dengan ritual, saya bisa kembali sembahyang dengan tenang.

Sembahyang adalah, sederhananya, saat ketika kita menghubungkan diri dengan Tuhan. Tak perlu bahasan dan batasan mengapa dan bagaimana. Ada saya, ada Tuhan, kami terhubung. Selesai.

Kami langsung masuk ke pelataran pura dari pintu sebelah kiri, sebagaimana aturannya, langsung mengambil tempat duduk. Sebenarnya semua baik-baik saja di sini, perjalanan kemari berjalan sangat mulus dan persembahyangan bisa langsung dimulai.

Ah, senang sekali rasanya bertemu padmasana! Sepertinya ini padmasana pertama di Pulau Menjangan?

padmasana-pulau-menjangan
Padmasana yang terkena backlight matahari sore.

Kami semua mencoba mengabaikan matahari sore yang mulai menggelincir. Sinarnya membuat bagian depan padmasana agak tersamarkan silau. Namun, pengabaian yang sama tak menghapus kekhawatiran di dalam benak saya. Semua kami tentunya mengharap Tuhan melambatkan waktu, meski barang sejenak saja. Paling tidak sampai kami bisa memastikan sisa waktu yang ada cukup dengan sisa pura yang mesti kami datangi.

Kala itu saya bahkan tidak berani melihat jam tangan.

Saya melihat padmasana yang ada di depan kami menjulang tinggi berwarna putih bersih. Di belakangnya, matahari menimbulkan pancaran sinar pada sekeliling bentukan padmasana. Tampak sangat dramatis, apalagi di kejauhan sana ada awan-awan kelabu sebagai latar belakang…

Sampai saya bertemu pandang dengan patung dewi itu dan mulai menjadi tidak tenang. Pandangannya tajam sekali, dan tegas, seperti menguliti semua makhluk yang menatapnya hidup-hidup. Apalagi payungnya berwarna merah. Selama beberapa waktu saya mencoba menatap matanya, mencoba mencari celah bahwa sensasi itu adalah buah kepiawaian si pemahat. Tapi tidak bisa. Akhirnya saya mencoba memotret patung itu (dan itu butuh beberapa kali pencet tombol shutter untuk mendapat gambar yang sekiranya paling tidak blur).

Sebenarnya siapa dewi ini? Saraswati? Atau Laksmi? Dewi mana yang digambarkan dengan tatapan setajam ini?

Ibu di belakang punya pertanyaan yang sama dengan saya. Ia bertanya pada Kakak, “Sebenarnya itu dewi siapa sih? Saraswati?”

Saraswati tak mungkin punya tatapan seseram itu. “Bukan,” potong saya sambil meringis. “Bukan Saraswati, kendati tadi saya memang berpikir demikian juga.” Dalam hati saya menggambarkan, “Saraswati terlalu baik untuk digambarkan mengintimidasi seperti itu.”

“Terus?”

Saya berbisik lirih, “Adi Shakti.”

“Siapa? Jangan bisik-bisik sih, ah.”

Bukannya saya mau bisik-bisik tapi di sini kayaknya kita tidak boleh ribut-ribut. “Parwati, Bu. Adi Shakti.”

Oh, ibu saya kini langsung mengerti. Ya, untuk soal ini, beliau jauh lebih mengerti daripada saya karena sering menonton serial Mahadewa.

Salam jumpa dengan Parwati, sakti Siwa, dalam wujudnya sebagai Adi Shakti. Wujud Parwati dalam kekuatan penuh, kalau saya terjemahkan dengan bahasa yang mudah diterima akal sehat.  Dan memang beginilah gambarannya, sesuai dengan apa yang digambarkan dalam serial televisi itu juga: berwibawa.

Ya, itulah kata yang tepat. Berwibawa.

Adi Shakti biasa digambarkan dalam khasanah Jawa sebagai Durga Mahisasuramardhini. Dalam personifikasi demikian, Parwati, sakti Siwa, digambarkan dalam keadaan marah, tangannya berjumlah delapan atau sepuluh dan masing-masingnya memegang senjata. Sorot matanya pun sudah bisa menjelaskan banyak; bahwa kita tidak bisa macam-macam. Penggambaran Durga memang selalu seperti itu.

Akibatnya, menjejak pada tanah di mana Ia berada adalah seperti masuk ke ruangan seorang presiden direktur. Dewi Durga menatap dengan pandangan yang mengintimidasi. Ia tak melakukan apa-apa. Saya pun demikian. Tapi saya didorong untuk berusaha saja melakukan semuanya dengan baik dan benar. Pandangan mata yang tajam itu saja sudah jadi satu sinyal untuk melakukan semuanya dari jarak yang demikian jauh. Supaya aman.

dewi-parwati-pulau-menjangan
Sang dewi. Selalu mengawasi.

Papan nama pura ini ada di depan padmasana. “Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Pasupati—Sang Hyang Nunggal.” Nama pura mengartikan bahwa tempat ini pemujaan Siwa. Pasupati adalah nama senjata sakti Bhatara Mahadewa yang menempati arah barat. Senjata yang sama dianugerahkan Bhatara Siwa (Guru) pada Arjuna untuk digunakan memusnahkan raksasa Niwatakawaca dan mengalahkan Kurawa di Perang Bharatayuddha. Omong-omong, perjalanan di Pulau Menjangan ini memang dilakukan dari timur, bergerak ke barat.

Tapi apakah Mahadewa itu Siwa? Bukankah Siwa penguasa arah tengah dalam Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa penguasa mata angin), sementara Mahadewa adalah penguasa barat?

“Ya elah. Semuanya itu kan dasarnya satu,” saya menghardik angin yang bertanya. Iswara juga Siwa. Rudra juga Siwa, Sambhu juga Siwa. Ekam sat viprah bahuda wadanti, kalau kata Rig Weda. Artinya, Tuhan itu satu, cuma orang bijak menyebutnya dengan banyak nama. Perbedaan nama bukan hal yang pantas dipertentangkan, apalagi diperdebatkan. Dalam Hindu, semua itu dasarnya satu. Itulah juga alasan pura ini dikatakan sebagai “Linggih Sang Hyang Nunggal”.

Secara umum persembahyangan berlangsung lancar, meskipun saya mencoba mengabaikan kenyataan kalau tamas itu hilang lagi (drama sejauh ini selalu berkisar soal tamas!). Pengamatan terhadap pura ini menghasilkan kesimpulan yang unik, saya melihat bale pawedaan dan sadar yang memimpin persembahyangan adalah seorang wanita: mangku istri.

mangku-istri-pulau-menjangan
Mangku istri Pulau Menjangan. Perhatikan siapa yang masuk bidang gambar.

Sebenarnya tidak aneh kalau yang memimpin persembahyangan adalah seorang mangku istri. Pedanda istri pun ada dan lazim, tak ada bedanya dengan pedanda lanang. Tapi ternyata, selentingan beredar (selalu ada cerita angin kalau kita sedang bersama banyak orang!) bahwa kalau khusus di pura ini, pemimpin sembahyangnya harus seorang wanita.

“Ah,” saya membulatkan mulut ketika mendengar kabar itu. Mungkin itu sebabnya di pura ini ada patung Adi Shakti yang sangat berwibawa. Kalau saya pikir, dari zaman kerajaan dulu wanita sudah ada diberi tempat sebagai pemimpin pada beberapa bidang. Hemat saya, bukan tidak mungkin juga kalau kini ada persembahyangan yang harus dipimpin seorang wanita. Obrolan soal kenapa posisi wanita agak menurun (dalam perkembangannya) menarik dibahas, tapi di luar cakupan catatan perjalanan ini.

Saya sebenarnya bisa menggali lebih jauh dengan mengkonfirmasikannya kepada Bapak, atau orang-orang lain, sekiranya Bapak juga tidak mengerti. Tapi saya berpikir lagi, kenapa harus? Toh tak ada yang salah kalau berita itu memang demikian benarnya. Tak ada juga yang keliru kalau berita itu tak seperti demikian. Saya baru akan menggali apabila sekiranya ada sesuatu yang aneh dan yang salah. Tapi ketika tak ada suatu yang aneh dan yang salah, apa yang dapat saya cari selain sebuah informasi?

dewi-parwati-pura-menjangan-dan-naga
Ia yang selalu mengawasi…

Jawaban Misteri Tamas Pulau Menjangan

“Ga, tamasnya mana?”

Astaga, pertanyaan itu lagi. Ketika saya dipaksa untuk mengingat sesuatu yang dengan sengaja saya lupakan, itu artinya satu: saya harus mengingatnya (ya iyalah), atau, jawaban atas pertanyaan itu akan segera datang. Oh, saya sangat berharap yang kejadian adalah kemungkinan kedua. “Hilang,” kata saya pelan pada Bapak, berusaha untuk tidak terlalu kaget atau heran.

“Kok dari tadi hilang terus, ya?” Bapak bertanya dan saya cuma mengangkat bahu sambil menatap sekeliling. Oke, kalau memang ada maksud di dalam semua ini, pasti saya akan menemukannya di tempat yang sama sebagaimana kejadian yang sudah-sudah.

Betul, kan. “Sebentar, di depan sana ada.”

Saya mengambil tamas di bawah balai-balai besi tempat banten diletakkan. Ketika saya kembali, saya dengar Ibu dan Bapak sedang berdiskusi sambil menyebut-nyebut kata “tamas”, cuma saya belum mendengar jelas apa, jadi saya pancing lagi, “Kenapa? Kenapa soal tamas?”

“Tidak,” kata Ibu. “Cuma dari tadi tamasmu hilang terus, mungkin itu artinya side,” dia melihat Bapak, “tidak dikasih ngambil-ngambil sembarangan dari pura-pura itu. Lasingan side (Lagian Bapak) juga suruh anaknya bawa-bawa begituan, padahal sudah tidak diperbolehkan. Siapa tahu apa yang akan terjadi kalau kita tetap memaksa bawa pulang sesuatu padahal sudah diberi pertanda kalau itu dilarang?”

paduraksa-ageng-pulau-menjangan
Kori agung yang indah dan putih.

Bapak diam, dan saya cuma cengengesan. Iya, memang di luar saya tertawa, tapi di dalam hati saya tersentak. Penjelasan Ibu memang sangat berbau klenik, tapi hal tersebut sebenarnya umum dan dipercayai oleh hampir sebagian besar masyarakat Bali tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam suatu lingkungan pura.

Setiap pura di Bali punya penjaga yang tak terlihat. Penjaga-penjaga ini, disebut pelancah, menjaga kesucian pura dengan mengawasi tindak-tanduk orang-orang yang masuk ke dalamnya. Mereka juga memberi peringatan dalam berbagai tingkatan kepada orang-orang yang berperilaku tidak pada tempatnya, jika perlu, demi tetap menjaga kesucian pura. Dalam berbagai kesempatan pembuktian, pelancah memiliki logika dan awig-awig (aturan) tersendiri tentang bagaimana menurut mereka kesucian pura harus dipertahankan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, bolehlah dikatakan kalau mereka-mereka itu adalah makhluk astral penghuni pura.

Hal itulah yang menurut ibu terjadi dalam drama tamas ini, alih-alih menganggapnya sebagai suatu kebetulan semata. Menurut Ibu, kejadian-kejadian kehilangan itu bermakna bahwa pelancah-pelancah di pura-pura ini tidak berkenan jika ada benda dari luar dibawa masuk ke dalam lingkungan pura yang dijaganya. Oleh sebab itulah, menurut Ibu, tamas-tamas itu “dihilangkan” sebagai peringatan untuk tidak membawa benda-benda dari luar yang dipertanyakan kesuciannya. Jika saya, atau anggota rombongan lain, tetap membandel dengan membawa benda-benda dari pura sebelumnya, bisa jadi bentuk “peringatan” yang kami terima makin keras dan bukan tidak mungkin berdampak panjang.

Agak di luar pemikiran ilmiah memang, tapi di Bali dan sebagian wilayah Lombok, hal tersebut umum terjadi dan membentuk suatu aturan tidak tertulis mengenai adab berkunjung ke tempat suci. Saya mencoba mencari penjelasan yang lebih logis; saya menduga diri ini kelupaan selama beberapa kali berturut-turut. Namun penjelasan itu terkesan terlalu sederhana dan menggampangkan persoalan, karena saya sudah berusaha mengingatkan diri untuk membawa tamas.

Sepertinya, untuk sekarang, saya masih harus menerima penjelasan Ibu.

Orang-orang ternyata sudah mulai bergerak menuju pos selanjutnya, meninggalkan kami bertiga di belakang. Tak mau jadi penghambat karena persembahyangan tak akan dimulai tanpa Bapak, kami pun mengikuti. Pintu keluar ada di samping kanan, sebelah utara, dan begitu keluar, kami langsung bertemu tembok yang bertuliskan: Tempat Persembahyangan VI, Linggih Dalem Airlangga dan Dalem Waturenggong.

Airlangga dan Dalem Waturenggong? Di Pulau Menjangan?

paduraksa-pulau-menjangan-2
Kori agung yang ditimpa sinar matahari itu sangatlah menggoda…

31 thoughts on “Pulau Menjangan #8: Jawaban Misteri Tamas dari Sang Perempuan Tangguh

  1. Banyak hal yang sempat lupa, menjadi tanya, akhirnya, menemukan jawaban dan menepis semua keraguan dengan melakukan kunjungan ke Pura ya.
    Saya sempat mengikuti Mahadev sebelum jam tayangnya jadi terlalu malam 🙂

    1. Aware dengan apanya Mbak, hehe. Terima kasih ya, senang rasanya tulisan saya ada manfaatnya, hehe.
      Iya… petilasan terakhir yang menyangkut Gajah Mada konon terkubur di bawah Lumpur Lapindo. Saya belum memastikan hal ini sih tapi selentingannya demikian.

        1. Kebanyakan dari membaca beberapa buku, atau ngobrol-ngobrol dengan orang-orang tua, kadang juga browsing internet atau mengamati gejala serupa yang berulang di beberapa candi, hehe.

    1. Mungkin Yang Di Atas tidak mengizinkan kami membawa tamas-tamas itu, Mas, hehe.
      Iya banget! Detilnya mengagumkan, dan kaya akan filosofi. Semoga saya bisa membahasnya dalam satu postingan nanti.

  2. Detail kori agungnya megah sekali. Selama ini lebih menyapa pulau Menjangan dari sisi ekologis ternyata menyimpan nilai religi luar biasa. Suksma ya Gara berbagi postingan elok ini.

  3. Pengen sih ke bali, namun sampai saat ini belum kesampaikan juga. Masih nabung dulu, mudah-mudahan bisa melihat keindahan bali secara langsung, tidak hanya di layar TV atau membaca artikel. Btw thanks informasinya mas 🙂
    Salam kenal

    1. Hayo ke Bali Mas, semoga cepat dapat kesempatan untuk ke sana ya. Keindahan Bali harus disaksikan secara langsung, kalau lewat TV atau artikel saya jamin tidak lengkap, hehe.
      Salam kenal, terima kasih sudah berkunjung…

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!