Pulau Menjangan #5: Uniknya Bersembahyang di Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im

Saya tidak bisa tidak mendeskripsikan Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im tanpa menyebut-nyebut damai yang ada di dalamnya. Meski saya berada dalam ruangan yang penuh manusia, orang-orang bersimpuh dan bersila dengan banyak dupa terbakar, tapi tidak ada yang merasa sumpek atau gerah, apalagi gelisah ingin cepat-cepat keluar dan menghirup udara segar ketimbang asap dupa yang membuat sesak. Malah, rasanya ingin berlama-lama menikmati suasana yang ada di sini.

Baca juga: Pulau Menjangan #4: Sekali Lagi, Bodhisattva Avalokitesvara?

Apa ini yang disebut kedamaian spiritual? Ah, jikalau memang benar demikian, maka saya rela menghabiskan waktu berlama-lama di dalam pagoda ini, hanya untuk mengamati dan menikmati setiap momen.

di-dalam-pagoda-kemakmuran-dewi-kwan-im-1
Di dalam Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im. Betapa sangat dominan dengan warna merah!

Tapi mari mengesampingkan sedikit. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat sama di pura-pura yang mewujudkan Tuhan dalam sosok Kwan Im. Mulai dari ornamen Tiongkoknya, perasaan damainya juga demikian. Tapi untuk yang satu ini saya baru sadar di pagoda Pulau Menjangan: para pemangku di kedua pura itu sama-sama bercerita dengan cara yang sangat menyejukkan.

Saya mulai berkesimpulan kalau pemangku di suatu pura, secara tidak langsung, akan mengikuti vibrasi di pura itu. Apa yang saya rasakan di Pura Ratu Gde Mas Mecaling adalah “sesuatu yang sangat kuat tapi mengawasi dari jauh dengan sorot mata menekan”. Di sana, saya bahkan tak bisa mengangkat muka untuk menatap langsung wajah pemangku yang memercikkan air suci pada saya.

Sedangkan dalam permulaan kegelapan kemarin, Wisnu dan Naga Basuki memancarkan aura yang mirip, sangat berwibawa tapi mereka berdua punya kewibawaan yang lebih dahsyat. Pemangku di pura itu pun demikian. Ketika berbicara, gema yang bergaung nyaring di dalam gua itu seperti menghipnotis orang untuk melihat dan memerhatikan pada si pemangku.

Saya sempat curiga bahwa mungkin nuansa itu muncul akibat pengaruh dari fakta bahwa kami sembahyang di dalam gua. Namun ketika saya pikir lagi, agaknya tidak demikian. Masalahnya, kemarin di ujung gua kami juga bertemu dengan Pura Kwan Im tapi aura pemangku di pura itu sangat lain.

Dan di sini, aura yang sama terulang. Lembut, gemulai, penuh welas asih, tapi jadi petunjuk yang kadang membuat hati haru tentang makna hidup dan apa yang harus kita lakukan sebagai seorang manusia. Agaknya aura Dewi Kwan Im menyebar jelas pada orang-orang yang mengabdi di kuil ini sebagai pengantar persembahyangan.

Keunikan Persembahyangan di Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im Pulau Menjangan

di-dalam-pagoda-dewi-kwan-im

Saya sangat menikmati bagaimana penjelasan pemangku itu tentang tata cara bersembahyang di tempat ini. Memang agak berbeda dengan apa yang saya ketahui dari sembahyang sehari-hari. Kalau biasanya, umat Hindu bersembahyang dengan diawali Puja Tri Sandhya dan setelahnya Kramaning Sembah (Panca Sembah), maka di sini tidaklah demikian. Cara beribadah di sini lebih mirip cara beribadah orang Tionghoa.

Sekadar catatan sebelum kita terlalu jauh, saya tak terlalu fasih menjelaskan penyebab dari “kenapa kami saat itu sembahyangnya seperti ini”. Tapi memang, pura-pura di Pulau Menjangan punya keunikan banget dibandingkan pura-pura lain di Pulau Bali, jadi saya lebih memilih menerima ini sebagai fakta bahwa pulau ini memang unik dalam jalannya sendiri.

Aturan pertama, jumlah dupa yang digunakan di sini tidak boleh genap, selalu ganjil. Satu, tiga, lima, tujuh, dan seterusnya, terserah orang yang bersembahyang, yang penting jumlahnya ganjil. Dupa tersebut kemudian dipegang di depan dada, persis seperti cara orang Tionghoa kalau bersembahyang. Bukan ditancapkan ke tanah sebagaimana biasa dalam persembahyangan kami sehari-hari.

Dua, doa dan cara sembahyang yang digunakan di sini pun berbeda. Tidak menggunakan Puja Tri Sandhya, maupun Kramaning Sembah. Hanya satu doa, yang terdengar sangat Buddha: “Om Namo Shivaya Amitabha”, diucapkan tiga kali. Kemudian dupa yang tadi dipegang di depan dada diayun ke depan sebanyak tiga kali.

Ada satu bukti lain lagi kalau Hindu dan Buddha memang sudah punya hubungan yang erat sejak berabad-abad silam, sehingga bisa ada percampuran budaya (juga agama) di antara keduanya: penempatan kata Siwa. Penempatan kata “Siwa” di dalam doa tersebut justru mengkonfirmasi “Siwa-Buddha” menjadi konsep dasar bagi keunikan Hindu yang saat ini berkembang di Bali. Di Bali, Siwa-Sogata, atau Siwa-Buddha, memang telah menyatu.

Satu bukti lagi, mengingat Wisnu diidentikkan dengan Buddha sebagai salah satu awataranya, maka jikalau saya dekatkan lagi dengan konsep ‘Shankaranarayana’ yang lebih populer di Indonesia sebagai “Harihara”, jelaslah bahwa di sini kita mengakui kalau Siwa-Wisnu juga adalah satu. Ingat, Sutasoma tidak pernah menyebut ‘Hindu’ dalam slokanya, melainkan ‘Siwa’.

Aturan ketiga adalah aturan yang menurut saya paling unik, karena tercetak langsung di papan di atas pintu masuk. Di pura ini tidak diperkenankan menghaturkan daging. Daging apa? Ya daging apa saja. Ayam, sapi, apalagi babi. Juga, dari apa yang saya lihat di dalam, sesaji yang ada di pura ini juga lebih mirip sesaji yang biasa saya lihat di wihara-wihara atau klenteng-klenteng, berupa buah-buahan yang mulus-mulus seperti jeruk, apel, atau buah persik.

aturan-sesaji-dewi-kwan-im
“Aturan” dalam menghaturkan sesaji di Pagoda Dewi Kwan Im.

Ketika saya mengobrol dengan Ibu Mangku K, saya baru dapat info kalau di pura Kwan Im ini juga ada aturan lain soal sesaji, yakni tidak menghaturkan segala sesuatu yang “tajam”. Maksudnya tajam adalah, buah-buahan berkulit tajam, seperti salak. Atau durian, kalau boleh saya tambahkan.

Ya kali, masa sembahyang mau pakai banten durian utuh?

Keunikan lain, di sini juga tidak menggunakan bija setelah sembahyang, melainkan menggunakan abu suci sebagaimana di Pasraman Brahma Ireng (Pos 2). Hanya saja, cara mengenakan abu suci di sini agak berbeda. Kalau di Pasraman Brahma Ireng, abu itu dicolek dengan jari tengah tangan kanan kemudian dititikkan di antara kedua alis, di sini abu itu diambil dengan jempol tangan kanan kemudian dioleskan mulai dari tengah dahi, naik sampai ke rambut.

Dan warna abu suci di sini agak berbeda—putih.

Saya tak begitu mengerti tentang mengapa cara memakainya berbeda namun saya rasa ini ada hubungannya dengan tilaka di India sana yang berbeda-beda, tergantung sekte mana yang dianut oleh seseorang, apakah yang dianut adalah sekte Brahma atau Waisnawa (Wisnu). Penelitian yang lebih teliti mungkin bisa membuktikan hipotesis tentang pengaruh India yang masih tersisa dalam tata cara sembahyang umat Hindu di Indonesia.

Berhubung jumlah orang yang bersembahyang di sini ternyata tidak sedikit, saya harus menunggu agak lama sebelum pemangku pura ini siap kembali dan menutup persembahyangan secara resmi. Tapi saya cukup senang, soalnya jadi bisa mengamat-amati apa yang ada di dalam sini, selain patung Dewi Kwan Im yang besarnya lumayan itu.

Ternyata sebagaimana pura Kwan Im yang saya temui di ujung kegelapan kemarin, di sini juga ada altar untuk Dewa Langit dan Dewa Bumi, dua dewa dalam mitologi Tiongkok yang juga masuk dan menjadi bagian di agama Hindu yang berkembang di Indonesia. Penggambaran mereka pun hampir mirip, Dewa Bumi dilambangkan sebagai seorang pria gemuk dengan muka tersenyum, dan Dewa Langit digambarkan tanpa arca, hanya sebuah kekosongan.

posisi-papan-aturan-sesaji
Posisi papan aturan sesaji secara relatif dengan pintu masuk. Perhatikan ornamen Tionghoanya.

Papan-papan bertulisan di belakang sana juga sangat menarik untuk dibahas. Mereka menggambarkan ajaran-ajaran welas asih yang identik dengan karakteristik Dewi Kwan Im dari Tiongkok. Salah satu yang bisa saya ingat, adalah bahwa musuh terbesar diri ini adalah kesombongan, dan kesombongan juga yang menjerumuskan kita pada kematian.

Yah, saya jadinya cuma bisa melihat, merenung sebentar, melihat lagi, kemudian merenung lagi saking menyadari kalau apa yang dituliskan di sana memang benar banget. Berapa kali sih di dunia ini saya pernah tidak sombong? Rasanya saya selalu sombong. Bahkan dalam tulisan ini juga mungkin saya sudah menyombongkan sesuatu tanpa saya sadari.

Tak seberapa lama kami ada di sana, sebagaimana biasa. Setelah selesai mengumpulkan dana punia (kali ini via tas kresek karena tamasnya lagi-lagi hilang) dan memasukkannya dalam kotak, saya untuk sekali lagi melihat ke dalam, sebelum akhirnya tertarik dengan sebuah plakat peresmian yang ada di belakang meja banten (tidak ada terfoto). Plakat itu, seingat saya, ada bertuliskan “Cahaya Bawah Laut”.

Hm, ini bukan apa yang seperti saya bayangkan, kan?

Tak terlalu banyak foto yang saya ambil di dalam sana, sayang sekali, karena rombongan kami di luar sudah ribut-ribut mau berangkat ke pos (baca: pura) selanjutnya karena waktu semakin menipis. Saya melihat ke jam tangan dan berdesis kepada kakak saya, “Ya elah, baru setengah dua. Bukannya janjinya jam empat?”

Kakak saya menimpali dengan tatapan sinis campur keheranan, “Setengah dua dari mana?”

Uh oh, saya pun langsung sadar ada yang salah.

Oh tidak, jam saya masih waktu Jakarta, dan itu artinya persembahyangan di Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im ditutup ketika waktu sudah pukul setengah tiga. Artinya lagi, tiga pura dalam setengah waktu perjalanan, dan kami masih punya… empat pura lagi!?

Pantas semua orang berjalan cepat-cepat! Alamak, Tuhan, hentikanlah waktu barang sejenak supaya kami bisa sempat datang ke empat pura itu, batin saya sambil mempercepat langkah karena semua orang sudah naik ke pendopo sebelah!

Tapi tunggu, itu pendopo atau kantor?

34 thoughts on “Pulau Menjangan #5: Uniknya Bersembahyang di Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im

    1. wah ngeri banget pak halim kelenteng bapak…kelenteng dimana itu yang patungnya hidup?
      hehe bercanda pak salam kenal deng hehe

    2. Itu karena patungnya sudah sangat disucikan, Mas. Istilahnya kalau di Bali sudah jadi pratima, jadi tidak bisa disentuh sembarang orang. Arca-arca kuno dan penting di pura-pura juga kebanyakan diperlakukan seperti itu. Bahkan tidak sembarang orang boleh naik dan membersihkan patung itu, hehe.

  1. wah kelenteng itu salah satu tempat kesukaan saya memotret manusia dan budaya, cuma saya enggak tahan dengan bau dupanya.
    oh iya kalau kebetulan lagi cari tips foto, cuman ada baru sedikit hehe.
    maklum bang baru mulai, nih blog saya
    gariswarnafoto[dot]com
    yuk mariii

  2. Selalu asik rasanya membaca sesuatu dari segi yang berbeda dan belum saya ketahui. Dari ragam budaya dan agama, saya jadi semakin ciiintaaaa banget sama Indonesia, hehe. Nice post. 🙂

  3. Saya dapat pelajarannya. Kayaknya saya masih suka sombong. Bahkan kata teman juga begitu. Padahal dari dulu gak ada niatan sombong sama sekali. Dewi Kwan Im kayaknya bakal gak suka sama saya haduuh……

    Oh ya mas gara sedari kecil saya tahunya bahwa umat hindu di Indonesia lebih identik dengan memuja Sang Hyang Widi. Kenapa bukan Siwa ya? Klo berkenan tolong dijawablah biar saya nggak penasaran.

    1. Dari apa yang saya percayai selama ini, Siwa, Sang Hyang Widhi, Wisnu, Brahma, dan lain-lain hanya nama untuk Tuhan yang satu. Jadi sebetulnya itu satu, hanya para pendeta masa lalu mewujudkannya dengan banyak nama dan wujud. Demikian, Mas, semoga jawabannya memuaskan, hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!