Pulau Menjangan #4: Sekali Lagi, Bodhisattwa Avalokitesvara?

Jika antara Pos 1 (Ida Bhatari Duayu Taman) dengan Pos 2 (Pasraman Agung Kebo Iwa: Brahma Ireng) jaraknya cukup jauh, hampir tiga menit jalan kaki, maka jarak dari Pos 3 menuju pura-pura setelah itu tak seberapa. Tak sampai setengah menit dari Pura Brahma Ireng, kami tiba di pos selanjutnya, bangunan segi delapan beratap tingkat tiga, beraksen merah sempurna di semua sisi.

Baca juga: Pulau Menjangan #3: Usana Jawa dan Duka Brahma Ireng

Selesai mengambil gambar Ganesha yang bertindak sebagai penyambut, saya melihat papan nama putih yang tergantung di depan bangunan, berisi nama pura yang akan kami masuki.

ganesha-pulau-menjangan
Patung Ganesha di depan Pagoda Dewi Kwan Im, Pulau Menjangan

“Sekali lagi, Bodhisattwa Avalokitesvara?” batin saya lirih bertanya. Untuk beberapa saat saya tertegun, melihat bahwa bangunan berukuran sedang yang ada di depan saya adalah sebuah pagoda bergaya Tiongkok.

Nama di papan putih mengingatkan saya pada hari yang lalu. Ini adalah kedua kalinya kami berjumpa dalam perjalanan suci ini. Sebelumnya, kemarin sang dewi telah menjadi penutup yang amat manis dalam perjalanan melintas kegelapan (dalam arti harfiah). Dan saya juga sudah beberapa kali menemui akulturasi budaya Tiongkok dalam persembahyangan di beberapa pura Bali. Maka kali ini saya tak terlalu heran, meski saya tetap tertarik, karena di pura ini konon ada beberapa aturan bersembahyang yang unik sifatnya.

Mungkin saya terlalu lama menekuri bangunan ini. Rombongan saya sudah setengahnya masuk ke dalam pagoda! Wah, saya langsung merangsek masuk, dengan satu niat terulang di kepala: saya mesti masuk, saya mesti masuk, saya mesti masuk. Bahkan ketika beberapa ibu di belakang sudah bergumam-gumam kalau di dalam tidak ada tempat lagi, saya tetap saja memaksa masuk. Bagaimanapun caranya saya mesti masuk!

Dan saya berhasil! Saya berhasil duduk di dalam. Tanpa sempat mempertanyakan dan menganalisis bagaimana ini bisa terjadi. Padahal sebelumnya saya juga sudah membuang waktu dengan mengambil gambar papan di atas pintu masuk, salah satu benda yang membuktikan adanya keunikan bersembahyang di pura ini. Hampir-hampir tidak ada tempat lagi karena ruangan sudah penuh, sepertinya saya adalah peserta terakhir di dalam ruangan. Namun jangan khawatir, orang-orang yang tidak bisa masuk masih bisa sembahyang di teras depan pagoda, meski tentu, vibrasi dan pengalaman spiritualnya akan sangat berbeda.

Namun demikian, saya tidak sempat memerhatikan, apalagi memikirkan tentang orang-orang yang tidak bisa masuk. Apa yang ada di hadapan saya, apa yang menjulang di depan saya, apa yang saya rasakan dengan panca indra saya terlalu memenuhi pikiran sampai-sampai tidak memberi kesempatan saya berpikir tentang hal lain.

Selama beberapa saat saya tertegun menatapnya. Tubuhnya yang semampai, berselimutkan pakaian putih yang selembut sutra. Air mukanya yang teduh, terlalu teduh, dengan mata terbuka sedikit, memandang ke bawah, pada kaum papa yang tak berkasta. Mudra tangannya yang khas, memegang sebuah daun kecil, memercikkan air suci pada seantero bumi.

Bodhisattva Avalokitesvara, alias Sang Buddha yang Melihat ke Bawah.

Dikenal dengan nama Guanyin atau Kun Lam di Tiongkok dan sekitarnya, Kanon di Jepang, Gwan-eum di Korea, tapi di Indonesia orang-orang mengenalnya dengan nama yang mirip:

Dewi Kwan Im.

Baca juga: Pulau Menjangan #2: Si Penjaga dan Sang Dewi Pemilik Taman Bawah Laut

dewi-kwan-im-pulau-menjangan
Dewi Kwan Im, Pulau Menjangan

Sebagaimana sudah saya jelaskan di atas, dalam perjalanan ini hubungan antara kami dan Dewi Kwan Im memang sudah tak asing. Namun meski begitu, berada demikian dekat dengan sang Bodhisattva, baik di pertemuan kemarin maupun hari ini, masih memberi pengalaman spiritual yang sangat unik nan memperkaya. Lagi-lagi saya merasakan sensasi berbeda yang hanya terasa di depan Dewi Kwan Im.

Altar yang berisi banyak persembahan dan patung Dewi Kwan Im setinggi kurang lebih dua meter ada di depan kami. Pagoda ini tidak besar, namun saya tidak kepanasan. Alih-alih panas, kami justru merasa agak sejuk. Mungkin karena atap pagoda ini sangat tinggi sehingga sirkulasi udara berjalan dengan sangat lancar. Angin dari laut memastikan udara dingin bergerak masuk sementara asap dupa dan udara panas membubung untuk keluar dari puncak pagoda yang berventilasi.

Tapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang hanya saya rasakan ketika berkunjung ke bangunan-bangunan bernapaskan Buddha. Rasa nyaman, hangat, tenang, aman, tapi tidak tertekan dengan wibawa yang sangat. Seolah-olah kami bisa belajar dengan bebas di sini, di bawah tatapan teduh dari sang dewi. Ekstremnya, seakan-akan saya bisa haha-hihi ketawa-ketiwi sana sini dengan leluasa, tapi di sela-sela tawa itu kami belajar soal menikmati hidup, menghargai hidup, soal memelihara kehidupan semua makhluk di dunia.

Dan itulah kata kuncinya. Memelihara.

“Wisnu,” seseorang di belakang menjelaskan pada anaknya.

Wisnu. Dari sudut pandang seorang Hindu, melalui Wisnulah Hindu dan Buddha bisa terhubung.

Pengaruh Buddha dan Tiongkok di Bali: Belajar Akulturasi

Kehadiran Buddha di tanah Bali punya sejarah yang panjang. Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa agama yang pertama kali masuk ke Bali adalah Buddha, bukan Hindu, kendati Hindulah yang kini menjadi agama mayoritas di Bali. Stupika-stupika tanah liat yang ditemukan di daerah Gianyar berusia lebih tua ketimbang artefak-artefak Hindu yang berasal dari masa yang lebih muda.

Termasuk pula di dalam dinamika Agama Buddha di Bali adalah cerita panjang soal perdagangan internasional antara Tiongkok dengan Bali. Hubungan erat inilah yang menyebabkan di semua pura Bali yang berkaitan dengan laut, bahkan di Pura Ulun Danu Batur, pura terbesar di Bali yang berkaitan dengan air (dan air adalah kekuasaannya Wisnu dalam konsep Tri Murti), ada satu pelinggih yang sangat bernuansa Tionghoa, bernama Pelinggih Ratu Agung Mas Subandar. Perhatikan, bahwa pelabuhan adalah titik awal adanya percampuran budaya dan agama antara pendatang dan penduduk asli.

dewi-kwan-im-pulau-menjangan-2
Pemangku di Pagoda Dewi Kwan Im, Pulau Menjangan

Selain itu, kata “subandar” mengalami perubahan bunyi dari “syahbandar”. Secara tidak langsung, bukti lain bahwa hubungan erat antara Bali dan Tiongkok adalah berkat adanya perdagangan internasional antarkedua negara.

Pendapat di atas memang tidak sejalan dengan apa kata Stutterheim yang dipercayai Coedes, yang konon menyangsikan (meskipun tak pernah membuktikan) bahwa kebudayaan Tiongkok jarang ada yang berkembang lebih jauh dari daerah taklukan militernya. Namun menurut saya pribadi, bukti yang menjulang di depan saya tentu mematahkan anggapan tersebut, dan saya cenderung percaya dengan apa yang sudah mewujud di depan mata. Dengan demikian, pengaruh Tiongkok, seperti kebudayaan lainnya di dunia (India dan Eropa), juga menyebar melalui perdagangan, tidak semata-mata berkat kekuasaan militer.

Terlepas dari semua itu, yang patut saya garis bawahi adalah ketika sebuah agama dan kebudayaan baru masuk dan berasimilasi dalam kebudayaan Bali, unsur-unsur agama lama tetap dipertahankan. Hindu di Bali tidak sama dengan Hindu di India. Pun pengaruh Buddha dan Tiongkok yang ada padanya tidak lantas membuat kami orang Bali bersembahyang ala Tiongkok.

Perpaduan antara dua budaya itu justru menjadikan agama baru dalam bentuk yang tersesuaikan, kendati tulang punggungnya masih satu. Saya memandangnya seperti air yang mengemulsi, tidak ada yang bertentangan di antara mereka karena selain pada hakikatnya Hindu dan Buddha berasal dari satu akar. Sinkretisme itu berlangsung sangat manis, sangat sinkron, saling melengkapi.

Begitu kuat dan menyatunya hubungan antara Hindu dan Buddha, sampai-sampai seorang pujangga masa lalu, seorang empu yang tidak terpengaruh (tan berarti tidak, tular berarti terpengaruh) berhasil menasbihkan postulat ini ke dalam mahakaryanya. Pupuh 139, bait 5, sebuah bait yang berhasil mempersatukan Indonesia:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Buddha dan Siwa adalah dua yang berbeda.
Mereka memang beda, tapi dalam hal yang bagaimana kena dikenali,
Sebab Tattwa (inti) Jina dan Tattwa Siwa adalah satu?
Berbeda tapi tetap satu jua, tak ada kebenaran yang mendua (Sut 139.5).

pagoda-kemakmuran-dewi-kwan-im
Pagoda Kemakmuran Dewi Kwan Im, Pulau Menjangan

Setelah semua persiapan upacara selesai, Pak Mangku yang biasa bertugas di pura ini mengambil tempat di depan. Agaknya, ada sesuatu yang harus ia jelaskan, sesuatu tentang keunikan cara bersembahyang di pura ini yang sudah saya tunggu-tunggu. Pada awalnya saya tidak merasa ada yang aneh, sampai ketika ia membuka mulut dan saya merinding sendiri mendengar apa yang ia ucapkan.

Benar katamu, Mpu Tantular. Hindu dan Buddha memang berbeda. Namun dalam hal yang apa perbedaan itu dapat dikenali kalau pada intinya, pada hakikatnya, dan sebenarnya, mereka adalah satu?

23 thoughts on “Pulau Menjangan #4: Sekali Lagi, Bodhisattwa Avalokitesvara?

    1. Sebenarnya ini sampai episode 10, Mbak, haha. Dulu pas saya upload untuk pertama kali bertepatan dengan blog yang error, jadi eksposurnya kurang maksimal. Amin, semoga ada penerbit yang tertarik. Terima kasih ya atas apresiasinya, hehe.

    1. Yang ini diambil sebelum persembahyangan mulai, Umami. Kalau soal jarak, saya memotretnya sambil duduk jadi tidak ada masalah. Yang tidak boleh itu kalau orang-orang sedang duduk tapi si pemotret wara-wiri di depan buat foto-foto. Itu kan tidak sopan, hehe.

    1. Iya Mbak, saya mengambil sisi ini karena yang snorkeling atau diving pasti sudah banyak yang bahas, hehe. Saya juga tidak begitu bisa berenang jadi kalau bahas laut kurang begitu bisa menikmati, haha.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!