Pulau Menjangan #11: Akhirnya, Ganesha Pulau Menjangan!

Pelan, dan masih tidak percaya, kami mendekat punggung Ganesha Pulau Menjangan. Punggung batu padas putih yang berukuran sangat besar itu. Kami tidak bisa tidak berpikir soal semua, semua cerita dan semua kejadian yang sudah kami lakoni. Dari drama nan absurd sampai kejadian-kejadian aneh dan di luar akal sehat untuk beberapa jam ke belakang. Semua kejadian yang bisa membuat kami sampai ke tempat ini.

Dari drama transportasi. Batu karang penyucian. Kemarahan akan pengkhianatan. Misteri tamas. Foto presiden pertama. Tatapan wibawa seorang ibu. Cerita dua raja yang membuat kami bertahan dari arus sejarah. Dan di atas semua itu, misteri waktu, yang seolah memanjang sesuai kebutuhan, menjadikan kami semua tak percaya kalau kini kami sedang melangkah masuk ke pura terakhir.

Kami masih punya satu jam untuk pura ini. Enam puluh menit penuh. Hanya berpikir soal itu membuat saya kagum, takjub, dan tidak habis pikir. Bagaimana mungkin?

Tapi ya, itu mungkin. Dan itu terjadi pada kami. Pada saya.

Saya sering mendengar bahwa Tuhan menjawab doa umat-Nya dalam tiga kemungkinan. Pertama, langsung dikabulkan tanpa banyak tanya. Kedua, ditunda sejenak untuk dikabulkan pada saat yang tepat. Ketiga, tidak dikabulkan sama sekali, namun sebagai gantinya, sadar atau tidak, Tuhan memberikan apa yang paling dibutuhkan sang pendoa.

Ketika kami menyadarkan diri kembali bahwa waktu masih tersisa satu jam, dan punggung besar Ganesha itu sudah memberi bayangan pada kami yang kesilauan, kami agaknya sudah mendapat jawabannya.

punggung-ganesha-pulau-menjangan
Punggung Ganesha Pulau Menjangan, memberi keteduhan.

Tuhan menjawab doa kami tidak dengan satu cara, namun dengan ketiganya.

Dia mengabulkan niat kami langsung untuk tandang ke Pulau Menjangan. Dengan laut berangkat yang tenang, angin yang mendukung suasana, bahkan ketika perahu yang saya tumpangi secara teknis kelebihan muatan. Dia mengabulkan langsung doa kami untuk menyinggahi tujuh pura tanpa putus atau terlewat, bahkan tanpa berkesan terburu-buru, padahal ritual yang dilakukan di setiap pura dilakukan komplet. Seolah-olah (ini saya ulangi lagi) waktu direntangkan bagai karet, memanjang sesuai kebutuhan kami agar cerita ketujuh pura itu masing-masing bisa ditampilkan dengan lengkap.

Tapi Dia menunda kami untuk langsung bergerak pada kesempatan pertama tatkala kami menjejak di pelabuhan. Dia meminta waktu kami untuk sabar dan menata perasaan, juga hawa nafsu dan kesombongan kami, sebelum kami dapat menjumpai punggung yang memberi keteduhan ini. Dibiarkannya kami menunggu perahu dari kloter dua sampai kloter lima. Dibiarkannya pikiran kami bercabang dengan kekesalan kenapa pengelola lebih memilih mengangkut wisatawan ketimbang kami yang akan beribadah.

Tapi hadiah dari semua pembiaran dan penundaan yang kami terima itu sangatlah tepat: sebuah sore yang amat manis, menjadikan latar kanvas biru kobalt sempurna bagi Ganesha Pulau Menjangan yang tertangkap kamera.

ganesha-pulau-menjangan-orang-yang-mendekat
Ganesha Pulau Menjangan dan mereka yang mendekat.

Dan apa yang tidak Dia kabulkan bagi kami? Perjalanan yang damai, bebas-drama.

Ia tak mengabulkan perjalanan yang penuh tawa. Letikan-letikan kemarahan meledak di antaranya. Bahkan bagi saya yang berkesempatan menulis ini. Gerutuan, keluhan, kekesalan soal perahu yang tak datang, tamas yang terus menghilang, orang-orang yang saling menyalahkan, semua diisi dalam waktu-waktu ini.

Tapi kalau perjalanan ini tidak bebas drama, mungkin serial ini tak akan ada, dan itulah ganti terbaik yang bisa saya terima: sebuah cerita yang lengkap untuk dibagikan.

Selalu ada ganti yang lebih dibutuhkan, kalau saja mau dipandang dari sisi yang berbeda. Ketimbang mengutuk bahwa banyak sekali drama tidak penting sepanjang perjalanan ini, agaknya bijak kalau kita coba berpikir bahwa semua drama itu diberikan Tuhan untuk memberi ciri; mengisi karakter pada perjalanan kami, agar perjalanan suci ini selalu kami ingat.

Dan apa yang lebih baik dari itu?

ganesha-pulau-menjangan-dan-umatnya
Ganesha Pulau Menjangan, dan umatnya.

Orang-orang berlalu lalang di sekitar saya sementara saya seolah tak bisa bergerak. Rasanya semua saraf yang ada di tubuh ini lumpuh. Orang-orang lewat, berseliweran dengan kecepatan beberapa kali lipat, sementara saya diam. Kalau ini film, mungkin sinematografinya akan tampak sangat keren.

Tapi ini bukan soal saya yang sedang berusaha membingkai masa agar tampak seperti karya sinema. Mengingat pada enam pos di belakang, dengan pos ketujuh di tempat ini, maka fakta bahwa kita sudah tiba di ujung perjalanan, tiba-tiba saja membuat saya tak bisa bernapas. Sedih. Ada pertemuan, maka pasti ada perpisahan.

Namun suara ombak menyadarkan. Panorama di depan itu makin membuat dada ini tak mampu mengembang untuk membiarkan oksigen masuk ke aliran darah.

Pelancong mungkin sudah lebih dulu mengenal tempat ini dari saya. Mereka punya julukan untuk terumbu karang di depan patung ini: Temple Point. Ciri khasnya tentu, patung Ganesha setinggi kurang lebih sepuluh meter ini, yang menjulang menghadap barat. Tanpa bantuan sinar pun patung ini sudah sangat berwibawa, sekarang bayangkan apabila tokoh utama di Pulau Menjangan ini mendapat cahaya lampu sorot dari lampu sorot terbesar yang pernah dilihat makhluk hidup: matahari.

ganesha-pulau-menjangan-biru-langit
Ganesha Pulau Menjangan dan birunya langit.

Campuran biru marin dan hijau toska membentuk daerah-daerah di kanvas hijau laut yang warnanya lebih gelap. Pertanda bahwa di sana hidup kekayaan terumbu karang Bali Barat yang semua orang mungkin sudah terlalu lelah untuk memujinya. Sementara terumbu karang itu ada, berkas-berkas sinar berlebih dari lampu sorot yang saya ceritakan tadi menerpa laut, membentuk garisan lurus yang bergoyang-goyang lantaran laut tak pernah tenang. Sesekali jukung dengan wisatawan, baik lokal maupun asing, lewat di depan pulau, tentu bulatan-bulatan lensa kamera berbagai rupa dan warna teracung pada tempat saya berdiri.

Ah ya, di sini ada bintang pertunjukan. Sebaiknya kita tak terlalu fokus pada audiens yang ada di tengah laut, karena tokoh utama dari tulisan ini justru sedang melakukan tugasnya.

Kita mesti menghargainya.

Cerita Singkat Pura Ganesha Pulau Menjangan

ganesha-dan-singgasananya
Ganesha Pulau Menjangan dan singgasananya.

Ganesha. Putra kedua Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Ia punya cerita tersendiri tentang bagaimana kepalanya bisa “diganti” dengan kepala gajah, dan cerita lain kenapa gadingnya bisa patah—hasil kemarahan ayahnya yang membuatnya seperti ini, tapi seorang anak memang tak akan bisa belajar jika ia tak pernah berbuat salah, bukankah demikian? Dalam Hindu, ia digambarkan sebagai dewa yang jenaka, cerdik, sangat cerdik, suka teka-teki, penguasa ilmu pengetahuan, pendikte Mahabharata kepada Bhagavan Vyasa, dan tentu, yang paling dikenal di Bali, penguasa dari segala macam kesusahan, bentuk ekstrem dari teka-teki.

Di Bali ia punya nama sendiri: Bhatara Ganapati.

Saya mengenal Ganesha dari tindakannya yang populer. “Ketika kau ingin mengelilingi dunia, maka kelilingilah orang tuamu sebanyak tiga kali”. Itu satu dari sedikit aksioma yang membuat hati saya melumer. Tak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari jawaban atas pertanyaan hidup; orang tua adalah jawaban yang sangat jitu untuk semua pertanyaan seorang anak.

Saya jadi ingat bagaimana cerita Dewa Ganesha mengelilingi orang tuanya tiga kali dengan kendaraan berupa seekor tikus. Saya pernah membaca ada sebuah kuil di India yang diperuntukkan bagi Ganesha—kuil itu dipenuhi tikus. Out of topic, Indonesia juga punya Candi Tikus.

Bapak membuyarkan lamunan saya, meminta saya ikut ke barisan orang-orang yang bersujud di kaki patung Dewa Ganesha itu. Katanya tinggal saya yang belum melakukannya, dan persembahyangan akan segera dimulai. Oh ya, saya lupa, ini Pulau Menjangan, pulau tempat pura-pura anti-mainstream. Mainstream dalam artian pura-pura di sini punya tata cara sembahyang yang tidak biasa, tapi dengan makna yang jelas sehingga tidak ada pertanyaan yang terlalu skeptis. Saya juga kemarin tidak sempat bertanya terlalu banyak—semua orang sudah bercerita jadi pada akhirnya semua tinggal pada bagaimana saya mendengar dan mengingat semua itu.

Posisi duduk Ganesha yang ini membuat saya teringat dengan Ganesha yang ada di rumah Sangsit (yang sudah memberi pelajaran pada Ibu yang jahil) dan di beberapa foto-foto Ganesha yang beredar di internet. Satu kakinya menyilang sementara kaki yang satu lagi menjuntai. Saya sangat yakin posisi seperti ini punya julukannya sendiri. Bla-bla asana. Namun saya belum sempat merisetnya. Namakan saja ia posisi bla-bla asana, untuk gampangnya.

peziarah-silih-berganti-ganesha-pulau-menjangan
Peziarah datang silih berganti pada-Nya.

Selanjutnya, orang yang akan bersembahyang akan menyentuhkan kening ke kaki yang menyilang itu dengan mengucapkan doa—doa apa saja terserah. Soal dikabulkan atau tidak, silakan lihat paragraf keempat postingan ini. Saya menyentuhkan kepala dengan berdoa semoga semua makhluk berbahagia.

Jika kacamata arkeolog dan sejarawan amatir (banget) ini saya pakai, saya menduga ini Ganesha dengan langgam yang sudah modern, ada pengaruh India asli di dalamnya. Ganesha yang sudah disesuaikan dengan langgam Indonesia di masa lampau sedikit berbeda posturnya, kakinya rapat seperti bayi. Sebagai contoh dapat dilihat Ganesha dari Candi Banon yang ada di Museum Nasional (di sana juga banyak patung Ganesha yang lain).

Kalau mau cari Ganesha yang sedikit “berbeda” dari segi langgam dan penggambaran, sila datang ke Kota Batu, di samping Punden Tutup ada jalan ke barat, ikuti saja. Di sana Ganeshanya agak berbeda, khas banget Indonesia. Atau dapat pula berkunjung ke Ganesha Karangkates, karena yang terakhir ini posisinya berdiri. Apakah ada bedanya? Jelas, tapi itu kita simpan dulu untuk bagiannya sendiri.

Meski saya datang terakhir, saya dapat tempat di depan untuk persembahyangan inti. Tentu saja di samping Bapak. Bagian belakang Ganesha itu mengingatkan saya pada bagian belakang Dwarapala di Singosari (dua patung besar dengan arah hadap penuh teka-teki), dengan rambut panjang ikal terurai sampai ke punggung.

Saya sudah beberapa kali mengulang teka-teki teka-teki. Ganesha adalah penguasa seluruh teka-teki. Apa saya perlu nyanyi lagu Raisa di sini? Mungkin tidak dulu, ya.

Uniknya Bersembahyang di Pura Ganesha Pulau Menjangan

ganesha-dan-padmasana
Ganesha Pulau Menjangan dan bagian belakang Padmasana.

Pemangku sudah mengantarkan pemujaan sampai ke titik ketika kami mesti mendorong semua doa dengan ikut mengucapkannya. Sekarang saatnya ia menjelaskan bagaimana tata tertib bersembahyang di pura ini—sesuatu yang sudah saya tunggu, keunikan apa lagi yang ada di cara sembahyang di pura terakhir Pulau Menjangan ini? (Sebenarnya ini pertanyaan yang agak melebaykan tulisan saja karena kata Pak Mangku, di sini tak begitu jauh bedanya. Ya iyalah, mengingat kami sudah dapat pemandangan sekece itu).

Sebagai pembuka persembahyangan, kami diminta untuk mengucapkan aksara suci “Om” sebanyak tiga kali. Setelahnya kami mengucapkan Mantra Gayatri, yang dikenal sebagai ibu dari segala mantra (RV III.62.10). Japa mantra untuk Ganesha menyusul sesudahnya, “Om Maha Ganesha Ya Namah Swaha” dan itu diucapkan sebanyak tiga kali juga.

Saya masih menunggu Puja Tri Sandhya tapi kelihatannya kami tidak melakukan itu saat ini. Oh, kenapa saya mesti mengganggu meditasi? Mari kita ikuti bagaimana selanjutnya.

Pemangku meminta kami untuk berdoa sesuai dengan keinginan masing-masing—apa yang hendak kita doakan. Saya pun bertanya pada diri sendiri: apa yang hendak saya doakan?

Model sembahyang “mintalah apa yang ingin kau pinta pada Tuhan” sejauh ini memang baru saya temukan di Bali Utara. Di sini, biasanya hal tersebut diakomodir dengan sebuah muspa sebelum persembahyangan dimulai, bernama manut dresta, yang arti harfiahnya kalau saya tak salah adalah “sesuai keadaan”. Agaknya konsep itu dianut pula di sini, tapi dalam urutan yang agak berbeda.

ganesha-pulau-menjangan-rasa-syukur
Bisa melihatnya saja sebenarnya sudah sangat pantas sebagai penyebab syukur.

Pada akhirnya, Parama Santih menutup rangkaian persembahyangan di Pura Ganesha, setelah seperti biasa, pembagian air suci (wangsuhpada Ida) dan bija. Tak ada Puja Tri Sandhya, tak pula ada Kramaning Sembah. Tapi bersembahyang atau berdoa, menurut kepercayaan kami, tidak mesti selalu ikut dalam pakem tertentu, karena bukankah berdoa pada hakikatnya adalah bentuk dialog antara seorang umat dengan Tuhannya, dan dialog boleh terjadi dalam berbagai bentuk?

Yang jelas, Parama Santih itu menjadi penutup yang sangat manis untuk petualangan di Pura Menjangan, karena ya, kami sudah selesai!

Orang-orang riuh rendah menyuarakan ketidakpercayaan. Bagaimana mungkin, dalam tiga jam kurang, kita bisa menyelesaikan persembahyangan di tujuh pura tanpa satu pun melewati ritual yang mesti dilakukan? Saya sudah menghitung di persembahyangan pura pertama dan itu saja memakan waktu tiga puluh menit. Belum termasuk lama perjalanan antarpos, dan drama-drama yang terjadi di pos-pos itu, sebut saja drama tamas, kelamaan melamun, atau kelamaan foto-foto.

Bapak pun tidak percaya dengan apa yang terjadi pada saat itu, tapi kelihatan sekali kalau Bapak sangat puas dan lega, seperti beban yang sangat berat terangkat dari pundaknya sebagai pemimpin rombongan. Tak henti beliau mengucapkan terima kasih dan syukur pada Tuhan karena ya, Tuhan memberi kami izin untuk bertandang ke tujuh pura di Pulau Menjangan ini. Kita cuma butuh percaya kalau kita berusaha, biarkan hasil sisanya Tuhan sendiri yang mengatur.

peserta-tirta-yatra-yang puas
Lelah, tapi puas.

Tapi Bapak tentu menganalisis sedikit kenapa kami bisa tiba di sini tepat waktu. Agak susah dipercaya, tapi yang membuat saya mengangguk-anggukkan kepala siang itu adalah bahwa kami baru saja sadar, ketika kami akan masuk ke sebuah pura, pasti persembahyangan bersama saat itu tepat akan dimulai, tapi belum dimulai, jadi mereka (para pemangku dan orang-orang yang sudah ada di pura itu sebelum kami) menunggu kami menyelesaikan persiapan upacara sebelum akhirnya sembahyang bersama-sama.

Sangat mungkin kejadian itu dikatakan kebetulan. Saya juga pasti akan menganggap demikian. Tapi itu mungkin kalau “kebetulan” ini cuma terjadi di satu, paling banyak dua pura. Sedangkan sepanjang ingatan Bapak (dan Bapak saya jarang salah), kebetulan itu sudah terjadi di pura kedua hingga pura ketujuh! Percaya atau tidak, dari pura kedua, ketiga, sampai Pura Ganesha ini, rombongan kami selalu tiba di saat yang tepat, jadi begitu kami selesai persiapan, langsung sembahyang, selesai persiapan, langsung sembahyang, seperti itu, secara terus-menerus.

Saya menahan napas ketika saya juga ikut sadar dengan seluruh rangkaian kejadian di dalam perjalanan hari ini. Terlalu susah untuk disebut kebetulan. Namun bagi saya, terlalu memaksakan juga kalau kita sebut ini keberuntungan. Akhirnya kami berdua sepakat dengan satu kata, yang kira-kira cocok menggambarkan apa yang terjadi pada kami hari ini: Keajaiban. Semua yang terjadi hari ini adalah sebuah keajaiban.

Agaknya keajaiban memang nyata adanya.

Dan kami masih punya waktu 40 menit! Itu saatnya untuk foto-foto!

Rasanya seperti hadiah yang sangat menyenangkan; bisa berada di tempat ini dan menilik Menjangan dari sisi yang sedikit berbeda. Saya menghabiskan beberapa saat mengamati patung Ganesha yang tinggi dan besar itu. Padmasana di pura kelima menjadi latar yang bagus sekali untuk patung ini; mereka benar-benar hebat membangunnya. Langit biru di timur ditambah dengan matahari yang tepat bersinar ke sini adalah kombinasi terbaik yang bisa saya minta pada Tuhan—dan saya mendapatkannya.

Oh, bicara tentang anugerah.

pagoda-merah-kwan-im
Pagoda Merah Dewi Kwan Im.

Namun waktu terus berjalan, dan petualangan kami di Menjangan pun mesti tiba pada sebuah akhir. Setelah betul-betul meyakinkan diri dengan mengambil semua sudut foto yang mungkin, dan berdoa dalam hati agar hasil foto yang saya ambil tidak ada yang mengecewakan, kami kembali. Tentu dengan menyusuri pura-pura yang sudah kami datangi tadi, dan rasanya seperti nostalgia!

penjaga-pura-beji
Si jinak yang garang: penjaga Pura Beji.

Inilah dia, saat perpisahan.

jalan-pulang-pulau-menjangan
Jalan pulang.

Di kejauhan sana Bali menunggu, siap membuat cerita bersama waktu yang juga berbenah-benah untuk menyambut kami. Sekarang perpisahan, saat yang tidak menyenangkan, tapi ketika saya tahu kalau saya masih bisa kembali, hati terasa jauh lebih tenang, semua kesedihan seolah terlipur. Saya pun berharap sama dengan jurnal ini: semoga melipur hati orang-orang yang membacanya.

berduyun-duyun-menuju-bali-daratan
Berduyun-duyun menuju Bali daratan.

Sebagaimana bait pertama Pupuh Jerum bertembang, tulisan ini saya tutup:

Tangeh ana mun turida,
salimur tan kasalimur,
prakerti abayeng dangu,
tumuwuhta anadi wong,
rasa tan kadi ageman,
marmanira misreng kidung,
tan anuting pupuh basa
pinahewa de sang wiku…

(Banyak kejadian kalau ditimpa asmara,
dihibur tak terhibur.
Janji lahir semenjak dahulu,
hidup sebagai manusia,
seperti memang bukan pegangan.
Makanya menggubah kidung,
tak sesuai pupuh dan bahasa,
membuat gusar sang pendeta.)

Dengan ini, tulisan ini, serial panjang soal Pulau Menjangan, berakhirlah. Namun saya akan membukanya kembali kalau saya punya cerita baru dari Pulau Menjangan. Dan saya tak akan menolak kalau nanti ada seseorang yang mengajak saya kembali ke Menjangan untuk merunut semua jejak di pulau ini. Pulau Menjangan bukan cuma soal keindahan bawah laut. Ada khasanah spiritual yang sangat kaya tersimpan di dalamnya.

Satu rangkaian selesai, masih ada serial tulisan lain yang menanti dibahas…

laut-masih-luas
Laut masih luas…

16 thoughts on “Pulau Menjangan #11: Akhirnya, Ganesha Pulau Menjangan!

  1. Suksma ya Gara, duh syukur banget diajak berkelana rasa jiwa di Pura Ganesha Pulau Menjangan. Putih bersih berlatar biru agung. Sungguh tak ada yg kebetulan dalam penyelenggaraanNya.

  2. Akhirnya, Mas. Aku kelar membaca. Dari beberapa tulisanmu sebelumnya, jujur, tulisan ini bagus, menarik sekali. Mulai dari drama sampai filosofi dan bla-blanya bener2 penuh karakter.

    Aku suka ini: “Ketika kau ingin mengelilingi dunia, maka kelilingilah orang tuamu sebanyak tiga kali”. Walaupun punya artian yang berbeda, aku menafsirkan kalau restu orangtua itu penting untuk bisa menjelajahi orangtua. Cakep.

    Oh ya, ga jadi nyanyi lagu Raisa nih? Yah, kecewa deh.
    Dabes pokoknya tulisanmu ini!

    1. Syukurlah, hihi. Habisnya tulisan ini memang panjang banget. Terima kasih ya Mas sudah membaca sampai selesai, hehe. Mohon maaf belum sempat berkunjung balik, semoga saya segera dapat waktu untuk itu ya, hehe.
      Nanti saya konser kalau main ke Yogya ya Mas, hihi.

  3. sayang seribu sayang, pilihan kata dan diksi untuk artikel ini udah sanga baik .. tapi pemilihan foto terkesan monoton. hanya memilih foto patung ganesha saja, padahal buat saya yang belum pernah kesana, sangat tertarik ingin tau bagaimana keadaan dan pemandangan di sekitarnya.

    main main juga ke blog saya ya (klik di nickname)

  4. Boleh tau ngga mas, motretnya pake kamera apaan? Soalnya saya masih pemula nih dalam dunia fotografer. Apalagi soal spesifikasi kamera.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?