Pernikahan Adat Bali: Cerita Jawil-Jawil

judul-pernikahan-bali-jawil-jawil

Banyak teman dan pembaca yang bertanya soal pernikahan adat Bali di postingan (curhat) sebelumnya: Yang Pertama Bagi Kami. Di sana saya sudah menjelaskan sedikit bahwa rangkaian upacara pernikahan yang umum bagi masyarakat Bali ada tiga rangkai: memadik alias meminang si gadis, widhi widana alias peresmian pernikahan di hadapan Tuhan, yang terakhir adalah mepamit/nunas wara nugraha/acara bebas, ketika si pengantin perempuan “berpisah” dengan keluarga besarnya (jangan artikan ini secara harfiah), karena ia sejak saat pernikahan sudah menjadi tanggung jawab dari keluarga suami.

Pernikahan Adat Bali: Kerja Diplomasi

Bagi saya, pernikahan adat Bali adalah kerja diplomasi dan public speaking tingkat tinggi yang sangat diikat oleh pakem-pakem adat, dalam bentuk pembicaraan adat resmi yang tingkat kesukarannya tidak main-main. Kendati pakem itu tidak (terlalu) kaku, keseleo sedikit dalam pembicaraan resmi di ketiga tahap pernikahan tersebut bisa menjatuhkan martabat keluarga besar di mata keluarga besar mempelai yang lain.

Itulah sebabnya, kehadiran seorang juru bicara (disebut pemayun) yang piawai berbahasa Bali halus level malaikat adalah MUTLAK (pakai capslock). Tak jarang dari pembicaraan-pembicaraan itu banyak makna dan permintaan yang tersirat, sehingga untuk menjadi seorang juru bicara perkawinan, tak cukup dengan hanya bisa berbahasa Bali halus, namun juga mesti pandai membaca situasi, memilih kata, pendeknya: pintar bersilat lidah.

Di tangan pemayunlah, komunikasi antara dua keluarga besar bisa berjalan lancar, dan semua orang merasa puas karena tak ada aturan adat yang dilewati. Pernikahan berjalan dengan baik, pasangan pengantin beserta keluarga besarnya berbahagia, dan saya rasa, kalau semua orang sudah berbahagia, tak ada yang lebih baik lagi daripada itu.

mempelai-pernikahan-adat-bali
Kedua mempelai yang berbahagia <3

Kasus-kasus yang lebih menyeramkan akan kejadian kalau pernikahannya dari kasta yang berbeda, lebih khusus lagi jika kasta si perempuan (yang akan diambil) lebih tinggi dari kasta si pria. Beban sang pemayun dari keluarga pria akan jadi seribu kali lebih berat, karena tentu pembicaraan akan diawali dengan nada tinggi penuh amarah dari keluarga wanita.

Bahkan kendati semua cuma skenario.

Memadik: Kesan Pertama yang Menentukan

Jadi di hari baik yang sudah ditentukan, keluarga pihak laki-laki datang ke pihak perempuan untuk meminang sang gadis. Mereka membawa seserahan untuk mempelai perempuan, sekaligus cincin kawin, karena di acara pinangan inilah pasangan pengantin akan bertukar cincin kawin sebagai pengikat.

Apa yang terjadi di acara memadik kemarin? Sebagaimana namanya, ini acara ketika si gadis dipinang oleh si pria, ditanya langsung di depan umum tentang kesediaannya menikah dengan pria yang datang melamarnya. Ketika si wanita sudah menjawab setuju, seserahan diserahkan, cincin disematkan, dan si wanita pun langsung diboyong ke rumah si calon suami.

Di sinilah perpisahan yang paling menyedihkan semestinya terjadi. Ibu saya juga sangat bersedih kemarin. Meskipun di dalam acara memadik banyak kejadian seru terkait soal pembicaraan adat, bagaimanapun seorang ibu pasti berat berpisah dengan anak gadisnya.

Menurut saya, esensi dari pernikahan adat Bali justru berada di sini.

Widhi Widana: Peresmian dengan Tiga Saksi

Pernikahan adat Bali akan sah jika sudah disaksikan oleh tiga saksi: Dewa Saksi, yakni disaksikan Tuhan, Manusa Saksi, disaksikan oleh manusia, dalam hal ini keluarga, tamu undangan, pihak pemerintah, dan Bhuta Saksi, disaksikan oleh para bhuta kala sebagai energi-energi negatif yang akan turut dinetralisir dengan acara pernikahan ini.

upacara-byakala-calon-pengantin
Ilustrasi upacara Bhuta Saksi atau Mabyakala.

Bhuta Saksi sebenarnya dilaksanakan di penghujung acara memadik. Ketika mempelai perempuan dibawa ke rumah suami, mereka berdua akan melakukan upacara mekala-kalaan atau mabyakala, yang bermakna menyucikan diri kedua mempelai karena kini mereka sudah selangkah lebih jauh sebagai pasangan suami-istri.

Sementara itu, Dewa Saksi dan Manusa Saksi dilaksanakan di acara Widhi Widana, dengan upacara natab Banten Pawiwahan serta mapiuning (pemberitahuan) di Merajan. Upacara ini dipimpin oleh seorang sulinggih (pendeta tinggi Hindu), meski dalam versi yang sangat sederhana kadang dapat pula diselesaikan oleh seorang Pemangku.

Upacara ini biasanya dilakukan besar-besaran, minimal mengundang saksi dari pemerintah (dalam hal ini Catatan Sipil dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia). Sistem kekerabatan adat Bali yang patrilineal menyebabkan acara ini dilakukan di rumah keluarga mempelai pria, dan tanggung jawab acaraย widhi widanaย berada di keluarga mempelai pria.

Terus bagaimana dengan keluarga mempelai wanita? Datang dong… tapi cuma jadi tamu, jadi tidak repot apa-apa :hihi. Atau fotografer, terutama kalau salah seorang kerabat mempelai wanita kebetulan berprofesi sampingan sebagai blogger ala-ala.

Acara ditutup dengan sebuah resepsi, yang akan menjadi awal dari resepsi-resepsi yang lain :hehe.

Mepamit: Diplomasi Pengalihan Tanggung Jawab dan Simbolisasi Kesuburan

Beberapa jam setelah acara widhi widana usai, biasanya setelah matahari menggelincir ke arah barat, rombongan mempelai beserta keluarga mempelai pria datang lagi ke rumah keluarga mempelai wanita. Di sini mereka akan mengadakan upacara mepamit di sanggah kemimitan (merajan klan) mempelai wanita. Dengan kata lain, tanggung jawab terhadap si mempelai wanita, secara adat, yang sampai saat sebelum mepamit ini masih ada di keluarga orang tuanya, dialihkan ke keluarga suaminya.

Garis bawahi, secara adat, jadi jangan anggap si mempelai wanita putus hubungan dengan kedua orang tuanya dan tidak boleh bertemu lagi. Jangan pula menganggap bahwa, meskipun si mempelai wanita sudah mepamit dari merajan klannya, ia tak boleh lagi sembahyang di sana. Ada beberapa pengecualian memang (ketika kasta sudah ambil bagian), tapi bagi kami sih, pembatasan tempat sembahyang hanya karena sudah diambil keluarga suami itu adalah nonsens, BANGET.

ritual-kunyit-keladi-adat-bali
Sebelum ritual kunyit keladi dimulai.

Sistem kekerabatan Bali yang menganut sistem klan mengatur bahwa seseorang tidak boleh memiliki klan ganda. Mirip-miriplah dengan sistem marga dan boru di adat Batak. Akibatnya, ketika seorang gadis sudah diambil keluarga suami, ia bukan lagi anggota klan orang tuanya, tapi menjadi anggota klan keluarga suaminya. Misal di kasus kakak saya kemarin, berhubung ia diambil oleh keluarga Bendesa Mas, maka ia bukan lagi jadi anggota klan Tangkas Kori Agung, klan keluarga saya (hayo siapa yang kawitannya juga Tangkas Kori Agung? :hihi).

Pemberitahuan pada leluhur keluarga Tangkas Kori Agung inilah yang kemarin menjadi esensi acara mepamit. Dipimpin lagi oleh seorang sulinggih, dapatlah dikatakan bahwa acara ini merupakan perpisahan ala-ala dengan keluarga besar mempelai wanita (meski, lagi-lagi, jangan artikan ini secara harfiah). Dalam acara ini, peran juru bicara juga sangat diperlukan, untuk meyakinkan keluarga mempelai wanita kalau acara pernikahan sudah berlangsung dengan lancar (antar, lanus lan labdakarya) dan mempelai wanita pasti akan diperlakukan baik oleh keluarga barunya.

Acara ditutup dengan resepsi lagi (tentu saja!) dan ritual kecil bernama mekunyit keladi, menggelindingkan mikrokosmos dan makrokosmos (postingan tentang peripih Candi Pari akan memberi petunjuk apa yang dipakai untuk menyimbolkan dua kosmos itu) sebagai permohonan akan kesuburan bagi kedua mempelai; sebuah doa agar pasangan baru ini segera dikaruniai keturunan yangย suputra, keturunan utama yang membawa kebaikan bagi seisi dunia.

ritual-kunyit-keladi-adat-bali
Tahap awal di ritual kunyit keladi.

Akhirnya, kedua mempelai membawa kunyit keladi itu kembali ke rumah mempelai pria. Kedua mempelai pun meninggalkan rumah mempelai wanita tanpa sekali pun boleh menoleh ke belakang.

Tanpa sekali pun boleh menoleh, karena selama membawa kunyit keladi itu, menoleh adalah DILARANG.

Epilog

Wah, tangan saya sudah gatal ingin menulis, menjelaskan semua, meriset semua aspek dalam pernikahan adat Bali yang kemarin baru saya saksikan hampir semua ritualnya secara langsung. Namun saya mesti bersabar karena masih banyak sekali cerita yang belum saya tuliskan dengan sungguh-sungguh, sehingga kisah pernikahan (dan semua dramanya yang membuat semua orang jatuh sakit karena kelelahan) ini harus ditunda perinciannya. Mudah-mudahan tidak terlalu lama.

Saya harap tulisan pendek ini bisa jadi letikan soal bagaimana sebuah pernikahan adat Bali berlangsung, meski tentu saja tulisan ini tidak bisa menggeneralisir bahwa ritual pernikahan adat Bali akan selalu berjalan dengan urutan sesuai dengan yang saya kenalkan di sini.

Saya tak akan heran ketika ada komentar yang mengatakan bahwa “pernikahan adat Bali di tempat saya tidak seperti itu”. Justru inilah uniknya adat Bali, karena tidak ada pakem yang, sebagaimana saya tulis di awal, terlalu kaku. Adat Bali menganut postulat DKP alias desa, kala, patra, yang berarti bahwa semua aspek adat mesti menyesuaikan diri dengan tempat, waktu, dan suasana masyarakat yang menjalankannya.

Namun, ini tak berarti adat bisa seenak perut diselewengkan. Tetap ada aturan dasar, tapi variasinya adalah bebas. Inilah yang menjadikan adat Bali sangat kaya, lantaran mampu mengakomodir semua perbedaan dalam sebuah wadah besar yang satu. Bhinneka tunggal ika, ya.

Miguel Covarrubias (2014: 148) bahkan menulis hal berikut tentang pernikahan adat Bali:

Sebagaimana dengan segalanya di Bali, adat pernikahan berbeda-beda dari kabupaten ke kabupaten di Bali, dari kasta ke kasta, dari pernikahan dengan pilihan bebas, dan yang lain pernikahan yang diatur sebelumnya oleh orang tua, sampai ke penculikan dengan kekerasan. Sering apa yang dianggap biasa pada satu desa tidak terjadi di desa lain, tidak ada aturan umum yang dapat ditegakkan yang diterapkan di seluruh Pulau Bali. […]. Bagaimanapun juga, dalam rincian, upacara beragam, asas mendasar bagi jenis yang berbeda tetap sama di mana-mana.


Referensi:
Covarrubias, Miguel. 1930 (terj. 2014). Pulau Bali: Temuan yang Menakjubkan. Denpasar: Udayana University Press.

63 thoughts on “Pernikahan Adat Bali: Cerita Jawil-Jawil

    1. Iya ada yang mengharukan memang, tapi paling cuma sebentar, toh besoknya kedua mempelai balik lagi ke rumah saya buat bantu bersih-bersih :hehe.

  1. Jelas sekali, saya sangat awam akan hal ini hahaha. Dan ini di Indonesia dengan beragam adat dan budayanya yang ‘colorful’ ๐Ÿ™‚

    Tapi pesan tersirat dalam proses pernikahan adat ini, selain tak mudah, tentu harus sabar ya Mas ๐Ÿ™‚

    1. Iya Mas. Saya belajar banyak soal kesabaran dari kakak saya yang satu ini–menunggu bertahun-tahun supaya bisa menikah. Syukurlah semua berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.
      Kayaknya kalau membahas “adat pernikahan di Indonesia” itu bisa sangat sangat panjang… karena banyaknya suku bangsa di negara ini dan di dalam suku yang sama pun ada variasi-variasi unik :hehe. Tapi jadinya lebih indah kaaan :hehe.

  2. Wah, oke banget penjelasaanya. Cocok buat referensi pelajaran budnus hehe literally ga boleh noleh ya itu, gar?
    Yg berbeda dr kami, Sunda, adalah yg meminang yg membuat hajat ya. Kalo di Sunda kan yg meminang pria, tp tuan rumah pesta biasanya wanita.
    Btw selalu suka liat baju ada pernikahan budaya Indonesia, artistik banget! Terutama hiasan kepalanya ๐Ÿ™‚

    1. Iyaa nggak boleh noleh… kemarin saya yang jagain pengantin berdua itu dari keluar rumah sampai ke mobil supaya nggak noleh :haha.
      Iya itu unik, yang meminang pria tapi kenapa acara pokoknya di tempat perempuan ya, Mbak?
      Hiasan kepalanya berat banget itu… zaman dulu hiasannya pakai emas asli jadi pasti lebih berat lagi :hehe.

    1. Iya, unik banget ya setiap suku beda-beda adat pernikahannya :)). Okesip, mudah-mudahan bisa menulis lagi buat rincinya di masa depan. Terima kasih sudah membaca!

  3. Secara garis besar hampir serupa dengan adat pernikahan di betawi, gar. Meminang, menikah plus resepsi di rumah perempuan, mengantarkan perempuan ke kediaman pengantin laki, biasanya selang beberapa hari kemudian, lalu resepsi di rumah laki2.

    Kalau pakai adat ya… Ada palang pintu yg pake balas pantun dan berkelahi…. Tp ya sekedar skenario. Saya pernah nulis juga neh cerita pernikahan adat betawi

    1. Iya Bang…. kalau adat Bali urutannya saja yang berbeda. Kemarin saya sempat penasaran juga dengan adat palang pintu, kenapa harus bersilat-silat dulu kalau mau menikah :hihi. Terima kasih buat rekomendasi tulisannya!

  4. Baca tulisan pendekmu yang ini udah berasa ikut kondangan, tapi diseret keluar mendadak karena ceritanya udah selesai mendadak hahahaha. Jadi penasaran dengan step selanjutnya dari rangkaian pernihakan adat di keluargamu. Eh iya jangan lupa daku daftar jadi yang pertama hadir ngeliput lengkap kalo Gara nikah ya hihihi.

    1. Iya nih, pengen nulis lengkap tapi jadinya pasti serial lagi serial lagi hahaha. Tak nikmati sajalah aliran ide ini, syukur-syukur masih ada yang bisa ditulis :hihi. Siap…

  5. Baca tulisanmu berasa jadi salah satu anggota keluarga yang ikut repot ngurusin nikahannya, hehe. tapi budaya yang jelimet gini justru bikin keren, ya.

    By the way, mind to help? Perkenalkan, saya Meylia Setia mahasiswa Univ Mercubuana dan sedang dalam penyusunan tugas akhir. Boleh minta waktunya sebentar untuk isi dan sebar kuesioner tentang persepsi followers ke konten blog dan personal branding Henry Manampiring? https://www.surveymonkey.com/r/qsmey

    Ada pulsa 100 ribu untuk 4 pengisi kuesioner yang beruntung loooh, hehe. Thankyou and have a nice day!

    1. Iyaa, persiapannya memang sangat menyita waktu dan tenaga, namun saya sangat bersyukur semua bisa selesai dengn baik :)).
      Kuesioner sudah saya isi ya, terima kasih kembali :hehe.

    1. Nama pun pesta ya Mas :hehe. Pasti banyak yang harus dikeluarkan supaya bisa berhasil dengan baik. Kayaknya saya harus banyak menabung agar pesta pernikahan saya kelak bisa berlangsung dengan sukses :amin.

    1. Kalau saya tak salah, itu kain tenun ikat Bali Mbak, beberapa orang yang mampu pakai tenun geringsing yang dari Tenganan Pegringsingan itu, tapi kalau yang di foto sepertinya tenun ikat biasa :hehe.

  6. Hai salam kenal ๐Ÿ™‚
    Tulisannya bagus, nambah pengetahuan tentang budaya Bali. Btw, di Bali kan adatnya kental, kalo misalnya ada yang mengusung konsep pernikahan modern, jadi omongan engga di masyarakat?
    Kalo boleh tau, (maaf sebelumnya, tanpa maksud rasis) upacara adatnya apa berkaitan dengan unsur agama?
    Karena saya suka Hindu, waktu skripsi saya juga belajar Hindu untuk materi skripsi saya.
    Ditunggu kelanjutan tulisannya yang lebih mendalam ๐Ÿ™‚

    1. Halo juga, salam kenal.
      Agaknya iya, sebab di Bali kayaknya tak ada orang Bali yang memilih mengusung konsep lain selain konsep Bali (selama ia beragama Hindu ya, tentu saja). Kalau ada tema lain yang ingin disajikan, mungkin akan diterapkan di pesta yang terpisah, tapi pesta adat tetap harus seperti ini.
      Tentu saja berkaitan erat, di Bali budaya dan agama saking eratnya sudah jadi satu, budaya ya agama, agama ya budaya :hehe.
      Wah keren sekali mengangkat Hindu sebagai topik skripsi! Sip, moga-moga saya tetap semangat menulis yaa :amin.

  7. Lho mas gara apa berarti semua perempuan bisa dipastikan akan pindah klan setelah menikah? Atau ada pengecualian tertentu sehingga pihak pria yang ikut klan keluarga perwmpuan?

    1. Ada Mas… namanya sentana kalau di Bali… jadi posisinya dibalik, yang berposisi sebagai perempuan justru pihak laki-laki. Tapi itu sekarang sudah jarang banget dan pertimbangannya banyak sebelum memutuskan jadi sentana/nyeburin :)).

    1. Eh iya nyerod itu topik yang menarik banget sih :hehe, terima kasih idenya Mbak.
      Iya mepamit memang semestinya sedih, kan anak gadisnya sekarang sudah benar-benar lepas dari keluarga asal :)).

  8. Gara, aku pengen banget bisa meliput pernikahan adat seperti ini. Baru tau ada bahasa Bali halus level malaikat, hahaha.. Ini biasanya siapa yang bercakap dalam bahasa ini, keluarga kerajaankah?

  9. Makasih Bli, akhirnya ditulis tentang prosesi adatnya… pengen banget lihat langsung, semoga saat ke Bali nanti, ada kesempatan. walau, nggak mungkin ngerti bahasanya…

    oh ya, apakah masih berlaku kasta juga sekarang? Mesti banyak baca lagi saya ini.

    1. Sip, saya doakan semoga bisa lihat banyak prosesi adat ketika ke Bali nanti :)).
      Masih, meski tidak seekstrem dulu. Tapi sistem itu kadung sudah berakar dan beberapa orang sudah terlalu terbiasa, ya jadilah… :hehe.

  10. Uwwooooww… Prosesi pernikahan Bali itu wow banget yaa. Epic!
    Bli, aku kudu ngescroll kebawah banget dong soalnya aku ketinggalan banyak postingan2 dimari ๐Ÿ˜

    Bli, apa yg terjadi kalo semisal kedua mempelai noleh kebelakang secara sengaja / ga sengaja?

    Eiya bli, di home reader aku comment bli muncul semua hayoh, kirain aku itu postingan bli semua, tataunya komen2 doang ๐Ÿ˜

    1. Iya nih, memang blog saya lagi error di tempat yang belum saya ketahui, yang muncul malah komen dan bukan postingan, saya bingung mau diapain lagi :haha.
      Yang terjadi? Pengantinnya meledak.
      Haha, bercanda, itu kepercayaan doang sih, katanya begini begitulah yah namanya adat kan :haha. Tapi nantilah saya jelaskan kalau ada tulisan yang khusus membahas kunyit keladi :)).

  11. wah .. panjang juga prosesi adatnya .. tapi rata2 adat pernikahan suku di Indonesia memang panjang2 dan membutuhkan juru bicara yang fasih berbahasa daerahnya.
    tapi di kota2 besar umumnya proses adatnya sudah banyak yang di pangkas …

  12. wah..ini saja sudah detail banget menurutku. jd baru tau kalau semisal nikah beda kasta itu boleh ya? eh benar apa gimana? hehehe
    Keren ya masih ada klan-klan an gitu, namaku tidak ada marganya

    1. Namanya menikah tentu boleh dengan siapa saja Mas (asal masih lawan jenis ya :hihi). Cuma adatnya akan agak ribet kalau pernikahannya antarkasta yang berbeda :)).
      Kami juga tidak menggunakan nama marga (lagi), cuma kami masih tahu kami berasal dari klan apa :haha. Ah, bagi saya klan cuma nama, saya ya tetap saya :hehe.

    1. Iya Mbak ada, disebutnya “kawitan” atau leluhur… biasanya leluhur itu merunut ke tanah Jawa, karena bagaimanapun kami semua asalnya dari Jawa :)).
      Iya tepar banget… rumah itu berminyak selama beberapa hari gara-gara gulai kambing berceceran ke mana-mana :haha. Tapi syukurnya semua sudah bersih sekarang :)).

  13. Woooaah…ini pertama kalinya aku membaca pernikahan dalam adat Bali. Yang aku pernah dengar, pernikahan beda kasta itu ga dibolehin. Ternyata salah ya. Boleh-boleh aja tapi diplomasinya bakal berjalan alot ya, Gar? Pada paragraf yang kutipan Covarrubias, ada penculikan juga, yang aku pernah dengar dari kawan-kawan cewek di Lombok, mereka menikah dg cara diculik dulu oleh si calon suami tapi tanpa kekerasan. Ini ada kaitannya kah dengan adat di Bali?

    1. Kalau penculikan tanpa kekerasan itu kawin lari Mas :hehe. Kawin lari memang lazim kalau di Lombok, terutama ketika perempuannya berkasta lebih tinggi, sebab akan sangat malu jika anak gadis keluarga kasta tinggi diambil dengan cara diminta oleh lelaki berkasta rendah–mau ditaruh di mana kasta keluarga besar itu? Cuma beberapa saja kawin lari yang memang tanpa persetujuan keluarga–selebihnya cuma skenario karena toh keluarga dua belah pihak sebetulnya sudah setuju, hanya syarat adat saja yang mengharuskan mereka kawin lari.

  14. Sama seperti komen Citra di atas, ini pertamakalinya aku membaca ulasan yang agak jelas tentang adat pernikahan di Bali. Ini ulasan yang menarik banget Gara. Seandainya aja setiap travel blogger mau membagi kisah adat pernikahan di daerah asalnya masing-masing dan dikompilasi, pasti menarik banget khan? *langsung kepikiran*

    Btw, meskipun namanya berbeda, ada beberapa hal yang secara benang besar mirip dengan adat pernikahan di daerah lain ya. Terutama dengan Sunda (Jawa Barat). Mungkin karena akar budaya kita sama. Jadi meskipun mayoritas penduduk Jawa Barat saat ini muslim, namun beberapa budaya nya masih terpengaruh Hindu. Jadi kepengen nih suatu saat bisa menyaksikan langsung pesta adat pernikahan Bali ๐Ÿ™‚ #kodebanget

    O iya aku penasaran dengan pernikahan yang dilakukan oleh beda kasta dan jika kasta wanitanya lebih tinggi. Jadi meskipun scenario, harus tetap diawali dengan nada tinggi dalam pembicaraan dan peminangannya? Lalu, bagaimana dengan perpisahan dengan klan nya juga? Tentu itu akan menjadi proses yang mengharukan dan agak berbeda pula.

    1. Iya, hubungan antara Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan akhirnya Bali serta Lombok memang bisa dibilang cukup dekat, kendati kejadian-kejadian sejarah berjalan agak berbeda, jadi berkas-berkas budaya Sunda pasti ada sedikit di ujung timurnya sekarang :hehe. Wit kami semua asalnya dari Jawa Barat juga, jadi namanya pengaruh menurut saya memang pasti ada.

      Nada tinggi dalam pembicaraan menurut saya terkait emosi pribadi ya Mas :hehe, tapi kalau kejadian di pernikahan beda kasta, upacara-upacaranya, pemilihan kata para utusan, pasti akan berbeda, akan ada utusan yang menggunakan bahasa superhalus tapi responsnya hanya akan berupa bahasa level biasa (kelihatanlah siapa yang menggunakan bahasa kasar). Ada pula beberapa prosesi unik (dan bikin emosi) di upacara pernikahan beda kasta :hehe. Tapi love conquers all, kasta mah apa atuh :)).

      OK, semoga saya ada waktu untuk menceritakan semua. Terima kasih atas apresiasinya, ya.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?