Pergumulan dan Pemahaman Saya Seputar Upacara Mewinten

Ya Tuhan, saya minta maaf jikalau saya lancang menelurkan serial ini. Semoga saya tidak kena tulah. Semoga apa yang saya lakukan di sini tidak melanggar, er, dharma kapawintenan yang sekarang sudah saya emban. Astungkara.

Kesukaan saya mengunjungi bangunan-bangunan kuno Hindu-Buddha rupanya mendapat perhatian dari orang tua di kampung. Atas saran dari seorang Jro Mangku[i] tetangga dekat rumah beda gang, saya disarankan untuk mewinten. Tidak menunggu waktu lama untuk berpikir, orang tua saya mengiyakan saja. Bahkan menyambut baik.

Tanpa meminta pandangan saya terlebih dahulu.

Tapi meskipun saya agak kaget, saya bukan menolak mentah-mentah. Saya mencoba untuk memandangnya dengan pikiran terbuka. Dalam pandangan saya masa itu, bahkan sekarang pun kadang-kadang masih demikian, mewinten itu sederhana. Hanya sebuah upacara pembersihan diri secara spiritual. Mereka (orang tua dan Jro Mangku) menyarankan hal itu karena, sesederhana tampaknya, saya suka keluar masuk candi.

Nah lho, apa pula maksudnya ini.

Jadi begini. Bagi kebanyakan orang, candi hari ini mungkin hanya monumen mati. Namun, bagaimanapun dikatakan demikian, kami umat Hindu punya pandangan berbeda. Bagi kami, candi tetap abadi dalam semua kompleksitas kekuatannya. Apa yang kini berdiri dan disebut orang sebagai candi, bagi kami adalah bangunan yang tetap punya kekuatan spiritual dan kesucian yang sama seperti bagaimana dulu mereka didirikan.

Bagi kami umat Hindu, tingkat kesucian candi sangatlah besar. Pada bangunan itulah Tuhan kami sthana-kan. Pada relung-relungnyalah kekuatan-Nya ada dan bertempat. Pada arca dan relief perwujudan-perwujudannya lah sinar suci-Nya bermanifestasi.

Dengan demikian, ada tata krama yang harus dipahami dan ditaati bagi semua orang ketika akan keluar masuk candi. Salah satunya adalah bahwa tidak semua orang boleh naik dan masuk candi sesuka hati. Apalagi untuk umat Hindu sendiri. Apalagi untuk orang Bali yang leluhurnya berasal dari tanah Jawa (uhuk). Banyak kejadian tak diinginkan menimpa orang-orang yang kurang tahu tata krama dalam mengunjungi tempat suci. Hanya mereka yang bersih, serta punya niat yang tulus, diizinkan naik turun candi sesuka hati dan menggali cerita-cerita yang ada di sana.

Ajaran tattwa penyucian itu kemudian diejawantahkan dalam bentuk upacara mewinten, atau pawintenan. Dengan mewinten, maka secara spiritual, saya disucikan dan dibersihkan. Teknisnya, secara legal formal, seseorang akan sah naik turun bangunan suci setelah mewinten.

Kebanyakan bahan dari empat paragraf di atas adalah saduran verbatim ceramah panjang kali lebar yang suka saya terima ketika orang tua tahu saya sudah berkunjung ke beberapa candi (bahkan yang menurut mereka punya medan agak susah). Entah dari mana mereka tahu bahwa kunjungan-kunjungan itu kebanyakan tanpa permisi yang semestinya. Padahal kalau di rumah, saya bukan tipe petualang yang suka bercerita soal perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat yang sulit. Kebanyakan kunjungan ke candi-candi itu bahkan belum saya tulis di blog ini. Orang tua pun tidak tahu-menahu akan keberadaan blog ini.

Tapi orang tua saya, sekali lagi saya katakan, sudah tahu semuanya, bahkan sampai pada hal-hal yang belum saya ucapkan. Seakan-akan semua sudah tercetak jelas di muka.

Dan dengan pandangan penuh khawatir bercampur heran yang selalu mereka berikan kepada saya, saya tahu tak ada yang bisa saya tutup-tutupi. Bahkan ketika saya membantah dan mengatakan bahwa saya tidak kenapa-napa sepanjang kunjungan jadi tidak perlu dan tidak ada yang harus dikhawatirkan.

Mereka mengoreksi: “Bukan tidak, tapi belum.”

Saya terbungkam.

Dengan demikian, ketika saya (pada akhirnya) ditanya apa saya mau mewinten, apakah saya punya cukup argumen yang valid nan sahih untuk meyakinkan orang tua—tidak, meyakinkan diri sendiri dulu—bahwa saya bisa berkata “tidak”? Lagi pula, orang tua juga sepertinya kurang berkenan pendengarannya jika kata itu terlontar dari saya.

Jadi, ya, saya tidak menolak.

Kadang saya ingin berontak dengan pandangan-pandangan seperti itu. Mungkin di sinilah ribetnya menjadi orang Hindu, kata saya. Menurut saya sih, selama niatnya baik, maka semua orang tentu saja bisa dan boleh masuk dan keluar candi semaunya. Saya tidak berkata bahwa saya tidak percaya akan keberadaan candi sebagai tempat ibadah dan ada energi yang berbeda di sana—itu sama saja dengan menyalahi iman. Saya hanya tidak menyangka bahwa kadang-kadang semua bisa jadi seekstrem ini. Pemikiran saya pada awalnya adalah bahwa tidaklah perlu sebuah upacara khusus hanya agar saya bisa secara legal formal sah untuk naik dan melangkahkan kaki ke bagian-bagian tersuci dari tempat-tempat suci.

Namun begitulah Hindu, di Bali, dengan semua kompleksitasnya. Agama, adat, istiadat, budaya, bahkan sampai pada takhayul, menggabung dan menyatu, terformulasi menjadi apa yang saya imani saat ini. Meski saya mencoba kritis, kekuatan iman dan kepercayaan masyarakat terlalu kuat untuk coba saya tentang secara frontal. Menentang di sini bukan berarti menyalahkan, namun mencari padanan yang dapat saya masukkan dalam logika berpikir saya. Paling-paling saya baru bisa berlogika kritis (“laku kritis”, sesenggaknya Ayu Utami) dengan beberapa titik praktik keagamaan saja. Sementara sisanya, ya, saya ikuti, dengan helaan napas dan kata-kata pada diri sendiri bahwa nanti pasti akan saya cari penjelasannya.

Pada akhirnya tidak ada yang berubah dengan keputusan saya untuk ikut mewinten. Saya hanya mencoba berniat bahwa ini sesuatu yang tidak buruk. Seyogianya tidak ada hal-hal buruk yang dapat menghalangi ini semua.

Ya, semoga saja.

sudah-mewinten
Sudah mewinten! Hore!

Makna Mewinten

Mudah-mudahan hakikat dan tujuan mewinten sebagai sebuah upacara telah saya jelaskan dengan baik pada subjudul sebelumnya, sehingga tak perlu saya jelaskan lagi. Pada intinya mewinten dapat dipadankan dengan upacara ruwatan. Banyak kesamaannya, meskipun saya juga belum menelaah ruwatan secara mendalam jadi saya tidak bisa serta-merta menyatakan mereka berdua adalah sama.

Kata “mewinten” sejatinya berasal dari bahasa Jawa kuno: yakni “mawi” dan “inten”. Mawi, menawimawya, berarti “laksana, bilamana, jika”. Kata ini tergolong kata keterangan. Sementara itu, inten berarti intan. Jadi, mewinten berarti “laksana intan”. Maksud filosofisnya adalah bahwa dengan mewinten, seseorang akan bersih dan suci, memancarkan sinar laksana intan permata. Orang yang sudah mewinten adalah mereka yang bersinar, mereka yang mampu menyinari sekitarnya sebagai penerus sinar suci Tuhan.

Hakikat, sifat dan tujuan, sarana dan prasarana, tata dan urutan upacara mewinten tersebar di berbagai lontar. Sebut saja Tutur Pemangku, Tutur Pawintenan, Janma Prakerti, Tutur Saraswati, Yadnya Prakerti, Tutur Rare Angon, dan lain-lain. Masing-masing lontar akan membahas satu aspek tertentu dari pawintenan. Pemahaman yang lengkap baru bisa didapat apabila semua lontar itu sudah dipelajari. Terus terang, telaahan saya belum sampai ke sana.

Jenis-Jenis Upacara Pawintenan

Berdasarkan lontar-lontar itu, upacara mewinten punya beberapa jenis. Penentuan ini berpulang pada siapa yang akan mewinten dan untuk tujuan apa upacara itu diselenggarakan. Sebuah lontar, yakni Lontar Tutur Pemangku, membedakan pawintenan menjadi beberapa jenis, yang telah disarikan sebagai berikut:

  1. Pawintenan Sastra, untuk anak-anak yang akan memulai kegiatan belajar mengajar, terutama belajar keagamaan,
  2. Pawintenan Pemangku, untuk memulai tugas sebagai Mangku/Jro Mangku;
  3. Pawintenan Dalang, bagi orang-orang yang akan menjadi dalang pewayangan;
  4. Pawintenan Tukang, bagi orang-orang yang akan memulai karir sebagai tukang, entah pande atau tukang besi, sangging atau tukang ukir, atau serati/tukang banten;
  5. Pawintenan Balian/Dukun, bagi mereka yang sudah mendapat anugerah untuk menjadi balian/penyembuh secara spiritual;
  6. Pawintenan Sadeg/Dasaran, bagi mereka yang ingin menjadi medium/perantara untuk mendengar pawisik/wangsit dari para leluhur; dan
  7. Pawintenan Mahawisesa, bagi orang-orang yang akan menduduki jabatan dalam pemerintahan.

Namun, lontar yang lain memberikan penjelasan yang lain lagi. Menurut lontar tersebut, yang anehnya tak disebut judulnya, akan tetapi nantinya dikuatkan dalam Keputusan Jawatan Agama Provinsi Bali No. 85/Dh.B/SK/U-15/1970 tanggal 20 April 1970, ada empat jenis upacara pawintenan, yakni:

  1. Pawintenan Saraswati, bagi anak-anak yang baru mulai mempelajari agama;
  2. Pawintenan Bunga, bagi orang-orang yang baru berumah tangga;
  3. Pawintenan Sari, bagi orang-orang yang mulai belajar lontar atau Weda; dan
  4. Pawintenan Gede, bagi orang-orang yang akan menjadi Pinandita/Jro Mangku.

Begitu beragam definisi dan pembagian jenis pewintenan dalam agama Hindu sehingga meski membahas satu upacara, antara satu lontar dengan lontar yang lain pun berbeda. Sesungguhnya ini tidak terjadi dengan pewintenan saja. Hampir seluruh upacara agama Hindu punya variasi antara lontar yang satu dengan lontar sebelah.

Bahkan, himpunan keputusan seminar kesatuan tafsir aspek-aspek Agama Hindu yang telah dirilis oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia sebagai organ permusyawaratan umat Hindu tertinggi di Indonesia pun tidak mendefinisikan banyak soal jenis-jenis upacara pawintenan yang “resmi”. Padahal, dokumen itu bertajuk “kesatuan tafsir”, dengan kata lain, orang awam yang membukanya akan menjadikan apa yang tertera dalam dokumen itu sebagai rujukan resmi di tengah berbagai paham yang berkembang di masyarakat Hindu, yang masing-masing bersumber dari lontar satu dan lontar yang lain yang sama sahihnya.

Dokumen itu hanya menyebutkan:

Keadaan diri, upakara pawintenan, dan agem-ageman seorang Pemangku supaya disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya, sebagai[mana] dimaksud dalam sesananya. (HK.14).

Bagian lain dari himpunan keputusan yang sama menerangkan secara implisit bahwa kewenangan penentuan pawintenan dimiliki sulinggih. Artinya, sulinggih sebagai pendeta tinggilah yang akan menentukan upacara pewintenan seperti apa yang harus dijalani oleh seseorang yang hendak diwinten. Setelah mendengar kebutuhannya, maka sang sulinggih akan menentukan, jenis upacara pewintenan dan tingkatannya. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan orang yang akan diwinten. Di sinilah peran sulinggih sebagai pemandu umat, agar umat tidak salah tafsir akan sastra agama yang sangat beragam.

potret-sulinggih-upacara-mewinten
Beliau adalah sulinggih yang mengatur jalannya upacara pawintenan.

Serta-merta, di situlah letak fleksibilitasnya. Perbedaan tata cara itu bukan untuk dikontraskan dan dipertentangkan, melainkan menjadi petunjuk bahwa semua jenis tata cara bisa tercakup dalam satu payung besar upacara, kendati isinya sangat beragam. Hanya karena saya menjelaskan sebatas dua sumber mengenai jenis upacara pawintenan, bukan berarti saya sudah menjelaskan semua. Masih banyak jenis upacara pawintenan lain yang belum saya singgung. Beda lontar, beda jenis, tapi semua ada di bawah payung yang satu: upacara mewinten.

Para pembuat lontar agaknya sadar bahwa kebutuhan masyarakat akan upacara penyucian akan jadi sangat berkembang dan beragam. Mereka pun sadar bahwa penyucian sejatinya adalah milik semua orang, tidak khusus pada golongan tertentu. Semua orang boleh, bahkan harus, menjalani upacara penyucian. Alih-alih menyatukannya dalam satu tata cara yang akan menghilangkan esensi dari keragaman kebutuhan masyarakat itu, mereka pun menyajikan keragaman itu apa adanya dengan mendaftar semua jenis upacara pewintenan yang mungkin. Dengan demikian, dalam kondisi dan jenis apa pun upacara itu diselenggarakan, ia akan memiliki dasar hukum dalam sastra agama. Keberadaannya pun, secara letterlijk, bagi para penganut paham letterlijk tentunya (di masyarakat penganut paham ini akan selalu ada), sah.

Satu-satunya kelemahan, kalau bisa disebut begitu, adalah bahwa keberadaannya tersebar dalam berbagai lontar yang mungkin tidak semuanya bisa bertahan dari arus sejarah.

Pada akhirnya, Mahasabha PHDI sebagai pembuat himpunan kesatuan tafsir pun menurut saya sudah mengambil langkah yang tepat dengan tidak mengatur sesuatu yang sudah diatur. Apa yang dilakukan di dalam dokumen itu justru memberi legalitas secara modern terhadap praktik-praktik yang berkembang di masyarakat, sepanjang dilakukan sesuai tata cara dan bersumber dari sastra yang memang benar adanya, yang kesemuanya diakui.

Penetapan dalam sebuah kesatuan tafsir hanya dilakukan karena kala itu (tahun 1982-1983, kita sama-sama tahu ini orde pemerintahan siapa), legalitas demikian memang diperlukan sebagai syarat agar Hindu bisa ajeg sebagai agama yang diakui. Saya kira pembaca budiman lebih paham bagaimana politik agama di masa itu bersikap terhadap diversifikasi kepercayaan, imbas kejadian tak menyenangkan di medio dekade 1960-an.

Tapi, terlepas dari itu semua, yang tinggal bagi saya hanya sebuah rasa penasaran, upacara mewinten bagi seseorang supaya bebas naik turun candi itu termasuk di acara mewinten yang mana. Ketika upacara mewinten sudah pasti akan diselenggarakan, tanggalnya sudah ditetapkan, dengan kata lain rencana sudah pasti, saya pun bertanya.

Kata Bapak, ini cuma mewinten biasa saja, Pawintenan Sastra/Saraswati. Upacara pewintenan paling dasar dengan tingkatan yang paling rendah, (yang menurut kami [saya terutama] sudah) menyesuaikan dengan kebutuhan saya yang akan banyak berkunjung ke tempat suci dan membolak-balik sastra-sastra suci sebagai bahan tulisan.

Tuntutan karir sebagai bloger, sesumbar saya dalam hati (kalimat ini benar-benar membuat saya terbahak! Karir bloger macam apa?). Tak apalah. Toh saya sudah punya pengalaman, salah menyitir sastra suci dan percaya tak percaya, blog saya langsung blas bermasalah tanpa sebab jelas. Selain itu, untuk bisa menarik makna yang sebenarnya dari bangunan dan sastra suci itu, sesuai dengan kepercayaan, maka saya pun harus berada dalam kondisi yang bersih pula.

Bisa, bisa, itu bisa diterima. Tak apalah, kita jalani saja. Tidak ada yang berubah. Kalaupun ada, saya bisa dapat bahan tulisan baru.

Di luar itu, tidak ada. Tidak ada perubahan, tidak ada perbedaan. Semua tetap sama.

Tetap sama… sampai hari-H.

Tingkatan Upacara Pawintenan

Karena saya sudah memberi petunjuk soal tingkatan upacara mewinten, nama Mpu Kuturan pun harus saya sebut. Bapak Ratna Mangali (demi Tuhan Gar, ini klaim yang harus dibuktikan!) inilah yang menanamkan konsep mengenai tingkat-tingkatan upacara keagamaan agar bisa dilaksanakan oleh semua umat dengan semua kemampuan. Konsep itu pada akhirnya bertransformasi dalam semua aspek kehidupan Hindu, dari pembagian halaman, badan candi, tidak hanya upacara-upacara.

Konsep itu adalah konsep nista-madya-utama, yang berarti konsep rendah, sedang, dan tinggi. Dalam konteks upacara agama, konsep ini diterapkan pada bentuk upakara (bentuk, jenis, dan jumlah banten yang dipergunakan) dan urutan upacara. Nista berarti urutan terendah, upacara ini dapat dijalankan oleh umat yang memiliki kemampuan ekonomi yang sangat terbatas. Madya adalah tingkatan menengah, dan Utama adalah tingkatan tinggi. Setiap tingkatan pun masih bisa dibagi tiga lagi. Semisal, dalam tingkatan Madya, ada tiga pembagian lagi, yakni Madyaning Nista, Madyaning Madya, dan Madyaning Utama.

Dalam upacara mewinten, tingkatan upacara ini tercermin pada banten pokok yang dipergunakan, sebagai berikut:

  1. Tingkatan Nista akan menggunakan ayaban banten Saraswati;
  2. Tingkatan Madya menggunakan ayaban banten Bebangkit; dan
  3. Tingkatan Utama menggunakan ayaban banten Catur.

Berdasarkan apa penentuan tingkatan upacara ini? Tentu, berdasarkan pada kemampuan dan kebutuhan umat yang akan menyelenggarakan upacara pawintenan. Dalam kasus saya, akan terkesan sangat berlebihan dan menyombongkan diri (meskipun tidak dilarang jika memang mampu!) bagi saya yang hanya mewinten untuk tujuan yang sudah disebut di atas menggunakan ayaban banten Bebangkit, apalagi banten Catur. Kedua jenis banten ini biasanya dipakai untuk pujawali (peringatan peresmian) pura-pura besar.

banten-upacara-mewinten
Sedikit banten dalam upacara pewintenan.

Yang perlu dicermati, dan yang perlu diluruskan, menurut saya adalah bahwa tingkatan upacara semestinya tidak merusak esensi dari upacara itu sendiri. Tidak berarti hanya ketika seseorang menggunakan ayaban banten nista, upacaranya jadi kurang diterima atau kurang benarnya jika dibandingkan orang yang menggunakan ayaban banten utama atau madya. Begitu pun sebaliknya. Semua kembali lagi pada niat dari mereka yang melaksanakan upacara. Bhagawad Gita IX.26 sudah jadi kata putus bahwa ukuran diterima atau tidaknya suatu upacara kembali pada niat, bukan jenis dan banyaknya persembahan. Biarlah Tuhan yang menilai niat itu.

Saya yakin, ketika Mpu Kuturan merumuskan konsep (teknis) ini, niatnya adalah agar upacara dalam Hindu bukan hanya dilakukan oleh kaum berada saja, melainkan juga agar dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Semangat dan sudut pandang yang mestinya dipakai di sini adalah semangat menyatukan dalam perbedaan, bukan mengkotak-kotakkan dan akhirnya membedakan dan cenderung menjatuhkan seseorang yang berbeda.

Untuk upacara saya sendiri, akhirnya, kami memakai ayaban banten Saraswati. Selain menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, tingkatan itu dipilih untuk menyamakan dengan hari pelaksanaan upacara pawintenan yang dikondisikan agar tepat jatuh di hari raya Saraswati, Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi) wuku Watugunung, 19 Agustus 2017 yang lalu.

Siapa Yang Boleh Mewinten?

Saya kira, dari penjelasan-penjelasan serta klaim di atas, pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah. Siapa yang boleh mewinten? Siapa saja. Sepanjang ada niat dan mau menjalani upacara penyucian, apalagi kalau butuh, pintu untuk upacara mewinten pun terbuka lebar. Untuk kasus saya, mewinten adalah syarat untuk “menyamankan hati” agar saya dapat berkecimpung di bidang-bidang yang menuntut kesucian itu dengan baik dan benar. Mungkin untuk orang lain, penyebab untuk ikut upacara mewinten itu berlainan.

Silakan, sok atuh, mangga, ikut upacara pawintenan, supaya bisa bersih dan bisa mendalami hal-hal yang “suci” tanpa adanya kekhawatiran salah bersikap. Tapi, bukan berarti setelah mewinten bisa bebas banget melakukan apa saja. Sastra suci dan tempat suci tetap harus dijaga ajeg kesuciannya, agar cerita dan sinar yang terpancar dari dalam sana dapat sampai pada semua manusia secara murni, tanpa bias.

Satu hal terakhir, bukan berarti setelah upacara mewinten selesai, mendadak saya jadi orang suci dengan semua tata kramanya. Ha.

Haha!

Sori, saya terbahak lagi.

Justru pikiran ini yang selalu saya tanamkan ketika saya memutuskan untuk ikut mewinten. Nggak bangetlah. Saya tetap sama. Beberapa orang memang mendadak jadi orang yang berbeda banget setelah ikut mewinten, apalagi setelah menyandang gelar tertentu pascapawintenan kepemangkuan, tapi buat saya ya nggaklah. Pret banget. Toh pewintenan yang saya ikuti bukan pewintenan pemangku juga. Bukan pewintenan yang nanti punya konsekuensi juga.

Iya, kan?


[i] Jro Mangku adalah rohaniwan dalam agama Hindu, di bawah sulinggih. Mereka adalah orang-orang yang sudah menjalani upacara pensucian setingkat Pawintenan Pemangku dan, karenanya, berwenang untuk menyelesaikan jalannya upacara keagamaan. Mereka juga berwenang menghaturkan upakara dengan mantra-mantra, membuat tirta, singkat kata menjadi penghubung antara umat dengan Tuhan.


Referensi:
Parisadha Hindu Dharma Indonesia. 1983. Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-IX. Dari laman http://phdi.or.id/page/seminar-kesatuan-tafsir. Diakses tanggal 03 September 2017.
Zoetmulder, P.J. 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

31 thoughts on “Pergumulan dan Pemahaman Saya Seputar Upacara Mewinten

  1. Ooo ini penjelasan tentang ‘mewinten’ yang dirimu share beberapa waktu lalu (aku baca di twitter atau dimana ya?). Selamat yaaa, semoga semakin rajin menjelejah candi dan berbagi kisahnya di blog ini 🙂

    1. Nggak juga Mas. Wudhu kalau dalam agama Hindu sedikit mirip dengan melukat. Kalau mewinten ini betul-betul menjadikan orang yang sudah diwinten itu berbeda dalam artian bersih secara spiritual karena biasanya upacara ini dilakukan sekali seumur hidup.

  2. Sebenarnya aku agak takut jika mengunjungi sebuah candi. Salah satunya karena candi merupakan tempat ibadah, Mas Gara. Mungkin beda dg kebanyakan orang yg bisa leluasa melangkah seenaknya, tanpa takut terjadi sesuatu.

  3. Mewinten ini agak mirip dengan upacara penerimaan sakramen krisma buat umat Katolik, sakramen peneguhan untuk tetap di jalan-Nya, sebagai tanda bahwa ia sudah dewasa. Meski sudah menerima sakramen krisma, tapi yaaaa begitulah, berat bgt buat menjalani tanggung jawabnya 😅

    1. Cuma untuk yang satu ini, seseorang yang sudah mewinten bisa jadi Pemangku (tentunya setelah belajar mantra-mantra dan tata cara dalam memimpin upacara), hehe. Betul, tanggung jawabnya memang sangat berat, tapi ya mari dijalani saja, nanti pasti ada petunjuknya, hehe.

  4. Bagi mas Gara, mewinten adalah syarat untuk “menyamankan hati” agar saya dapat berkecimpung di bidang-bidang yang menuntut kesucian itu dengan baik dan benar.

    Mungkin untuk orang lain, penyebab untuk ikut upacara mewinten itu berlainan.

    Nah memang, contoh motivasi mereka yang ikut upacara mewinten apa mas?

    Jujur sih saya belajar banyak dari membaca tulisannya Mas Gara. Terima Kasih 🙂

  5. Membaca ini bertambah lah sedikit pengetahuan aku tentang mewinten, gak sepenuhnya ngerti dalam sekali cerna. Btw, soal energi itu, aku kok jadi tertarik ya sejak pulang dari Trowulan dan membaca sedikit2 tentang Madjapahit. Kapan2 mau ngobrol sama Gara

    1. Wah saya juga tertarik sekali dengan Trowulan Mbak, hehe. Belum sempat-sempat nih jalan ke sana. Yuk yuk kapan-kapan ngobrol, saya ada firasat kita akan bertemu dalam waktu dekat, hehe.

  6. Wow menarik sekali, saya baru ada ada upacara mensucikan diri semacam Mewinten. Masuk tempat ibadah yang bukan tempat ibadah saya sendiri bikin saya kikuk. Gereja, candi, vihara, semuanya. Kadangkala gak tau mesti bagaimana harus bersikap, ditambah saya mengenakan jilbab, identitas agama yang kelihatan banget. Pake jilbab masuk vihara mau ngapain? takutnya orang mikir yang enggak-enggak, padahal saya seringnya mau lihat situs-situs bersejarah aja 😀

    1. Sama Mbak. Kadang suka malu-malu kalau mau ambil gambar. Mungkin sebaiknya kita minta izin dulu dengan penjaga di situ, kali ya. Yang penting tidak mengganggu yang sedang ibadah sih, hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?