Pengelolaan Museum #3: Sinergi Kunjungan? Yakin?

Saya sempat berkelakar bahwa alangkah bahagianya apabila saya tinggal di perumahan ini, jadi museum ini bisa saya kunjungi setiap hari. Melihat ke sekeliling, ada beberapa bangunan yang sepertinya institusi pendidikan, satu sekolah dasar dan satu kampus sekolah tinggi ilmu ekonomi, menurut penjelasan Mbak Mimin. Kemarin saat saya gagal mengunjungi museum ini, saya juga menjumpai rombongan anak-anak baru bubar sekolah. Ternyata di dekat sini juga ada SMP negeri.

Ha, bahagianya menjadi mereka, dekat dengan Museum Mpu Purwa. Bisa menemui Sang Buddha setiap hari secara gratis tentu sebuah anugerah. Sementara saya di sini? Jalan ke Museum Nasional saja mesti bayar. Lima ribu doang sih, tapi kan tetap saja namanya tidak gratis. Tidak termasuk biaya transportasi lho, ya. (Dasar manusia tidak bersyukur kau, Gar.)

Maka ketika saya menjenguk buku tamu dan tahu kalau kunjungan di tempat ini hanya 1.300 orang (di tahun 2013) dan menurun terus selama dua tahun terakhir (proses pembangunan tentu berperan besar), sambil menahan napas dan mengerutkan dahi karena keheranan, saya bertanya apakah sekolah-sekolah di dekat sini rutin berkunjung sebagai penunjang pembelajaran sejarah.

Mbak Mimin seperti sudah menduga pertanyaan saya. Dia menjawab tidak.

pucuk-rejuna
Sebatang pucuk rejuna tak berbunga.

Demi Tuhan. Hanya seribu tiga ratus orang dalam setahun?

Ternyata, mayoritas pengunjung di sini adalah mahasiswa yang mencari bahan untuk tugas-tugas. Jelas mahasiswa jurusan sejarah atau arkeologi, jadi sekolah ekonomi dan ilmu komunikasi yang ada di depan sana tidak pernah mengirim mahasiswanya untuk berkunjung kemari. Padahal, menurut saya ada banyak hal yang bisa dikaitkan antara ekonomi, ilmu komunikasi, dan pengelolaan museum. Bukankah satu postingan penuh sebelum ini sudah membahas keuangan negara dan museum, dua hal yang dari disiplin ilmunya sebenarnya sangat tak berkaitan?

Baca juga: Pengelolaan Museum #1: Anggaran yang Bikin Nyinyir

Okelah kalau para mahasiswa universitas ekonomi itu berdalil urusan arkeologi tidak mereka pelajari dan bukan disiplin ilmu mereka. Tapi masalahnya, sekolah-sekolah dari tingkat pendidikan dasar dan menengah yang ada di sekitar sini juga jarang berkunjung kemari. Mbak Mimin menekankan pada sekolah yang bertetangga dengan museum, yang bahkan belum mengadakan kunjungan kembali selama dua tahun terakhir.

Namun saya menegaskan apakah memang sama sekali tidak ada sekolah yang rutin berkunjung ke museum ini. Ada, jawab Mbak Mimin. Tapi sekolah yang rutin kemari hanya sekolah dasar di daerah Malang Selatan dan Probolinggo. Setiap tahun, pasti ada saja rombongan anak-anak beserta guru kelas mereka berkunjung kemari dan berkegiatan, entah sekadar mencatat penjelasan benda sejarah atau berimajinasi soal bagaimana membuat arca. Kebanyakan sih hanya mencatat penjelasan benda-benda purbakala.

Miris. Miris sekali. Tentu saja miris. Bagi saya ini contoh dalam skala paling kecil betapa kita tidak pernah menghargai apa yang ada di dekat kita, namun justru orang luar yang lebih peduli. Ini terjadi juga pada kesenian dan kebudayaan daerah Indonesia, betapa sebagai orang Indonesia sendiri kita enggan melestarikan budaya bangsa dan peninggalan purbakala, namun justru orang asinglah yang tertarik untuk belajar dan menelaah kebudayaan kita sampai sudut terdalam.

Nanti, giliran benda-benda produk budaya bangsa diaku-aku oleh negara tetangga, baru semua ribut. Capek deh.

halaman-museum-empu-purwa-1
Halaman Museum Empu Purwa 1

Bahkan SMP negeri yang ada di perumahan ini pun, yang anak-anak muridnya saya lihat kemarin sore, jarang mengirimkan muridnya untuk berkunjung ke Museum Mpu Purwa dalam sebuah kunjungan resmi. Jika pun ada murid SMP itu mencari bahan tugas di tempat ini, hampir pasti tidak pernah didampingi oleh guru sejarah. Menurut Mbak Mimin, hampir-hampir tidak pernah ada guru sejarah sekolah itu membawa muridnya berkunjung ke museum ini.

Menurut saya, agak tidak bijak jika kita samakan metode siswa SMP dengan mahasiswa dalam mencari bahan penelitian. Mahasiswa bisa mencari telaahannya sendiri karena mereka sudah tahu apa yang akan dicari dan bagaimana mengembangkan pemikirannya dari benda-benda yang ditemukan. Sementara itu, siswa SMP masih ada dalam taraf pengembangan pola pikir; mereka perlu dibimbing ketika menemukan benda bukti yang mungkin saja berbeda dengan teori yang dipelajari. Misalnya, mereka akan menerima mentah penamaan tiga candi di depan kompleks inti Prambanan sebagai candi-candi wahana, padahal penamaan itu salah besar mengingat itu cuma karangan arkeolog masa kolonial. Hanya Candi Nandi yang dimaksudkan sebagai candi wahana, candi di kiri dan kanannya tidak dinamai Candi Garuda dan Candi Angsa, melainkan Candi A dan Candi B.

Untuk itulah peran guru sejarah sangat dibutuhkan. Menjelaskan benda-benda sejarah tidak hanya melulu jadi tugas juru pelihara situs, tetapi juga menjadi tanggung jawab guru sebagai pembimbing. Tidak hanya untuk menjelaskan situs dalam bahasa yang mudah dimengerti, namun lebih ke bagaimana memberi penjelasan soal artefak yang ditemukan di museum sesuai dengan pola pikir seorang dengan usia sekolah menengah tingkat pertama.

Tentunya tidaklah pantas jika murid SMP diberi tahu bahwa lingga dan yoni yang digambarkan sepasang adalah ikonografi paling dasar dari kelamin laki-laki dan perempuan yang bersatu dalam sebuah hubungan seks, kan?

yoni-museum-mpu-purwa
Saya lebih memilih memotret yoni berlatar lapik arca ketimbang mendengar cerita sedih itu.

Mbak Mimin bercerita bahwa dulu sempat ada kunjungan rutin dari sekolah-sekolah di Kota Malang ke museum ini, paling tidak sekali dalam tiap semester. Usut punya usut, itu buah dari Kurikulum 2013 yang salah satu sasaran pengajarannya mewajibkan tiap satuan pendidikan mengunjungi museum yang dekat dengan lokasi sekolah setiap semesternya. Sayang, setelah Kurikulum 2013 ditunda penerapannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan, berhenti pula kunjungan semianual sekolah-sekolah ke museum ini.

Saya pikir, tidaklah pada tempatnya saya menguliahi semua orang tentang bagaimana kurikulum hendaknya bisa berkontribusi pada kesadaran masyarakat akan situs-situs sejarah. Kurikulum disusun oleh ahli pendidikan. Gelar yang tersemat di nama mereka tentu bisa menjadi bukti kecendekiaannya (kalau bukan ini, lalu apa?). Meskipun, jika semakin banyak orang berkunjung, pada gilirannya tentu akan menaikkan prioritas pelestarian situs-situs serupa karena fungsi edukasinya sudah dimaksimalkan. Prioritas naik, anggaran makin mudah didapat, program makin banyak yang bisa dilaksanakan. Tidakkah ini sebenarnya sederhana?

Sekali lagi, banyak ahli pendidikan dan keuangan yang tentunya bisa melihat hal serupa lebih baik dari saya.

Mbak Mimin meletakkan sapu dan berujar bahwa ia sudah terlalu banyak bicara sampai lupa mengajak kami berdua berkeliling. Dengan banyak meminta maaf karena banyak mengatakan hal-hal tak perlu (dan banyak penolakan juga dari kami karena kami berdua sangat menikmati obrolan tadi), ia membimbing kami menyisi ke arah timur, pada profil Ganesha terpenggal yang batu sandarannya bisa saya lihat dari sini.

Baca juga: Pengelolaan Museum #2: Sumber Daya dan Alur Kerja

Sama sekali saya tak pernah menduga bagaimana bentuk dalam ruang penyimpanan sementara koleksi Museum Mpu Purwa. Pun saya tak pernah menduga bahwa batu sandaran Ganesha yang ada di samping saya itu bertulisan, dan patung ini adalah satu dari koleksi-koleksi maskot Museum Mpu Purwa.

halaman-museum-empu-purwa-2
“Barak” di latar belakang adalah inti museum untuk saat ini.

Ketika saya menyebut koleksi maskot, saya merujuk pada nilai benda yang sama dengan cara bagaimana Buddha Bhairawa dan Bodhisattwa Prajnaparamita van Singosarie berarti bagi Museum Nasional.

29 thoughts on “Pengelolaan Museum #3: Sinergi Kunjungan? Yakin?

  1. Memang sayang ya gara bahwa museum belum jadi tempat destinasi utama atau destinasi yang diinginkan oleh wisatawan Indonesia. Pengunjung museum masih didominasi oleh kalangan ilmuwan dan anak-anak sekolah. Mungkin untuk wisata umum kita harus menunggu beberapa tahun lagi sampai seseorang merasa membutuhkan informasi yang disediakan oleh museum sambil rekreasi

    1. Iya Mbak. Namun ketika bagi ilmuwan dan anak-anak sekolah saja museum merupakan tempat yang enggan didatangi, agaknya bakal jadi kerja yang keras banget supaya masyarakat umum semangat berkunjung kemari. Pekerjaan mengemas museum supaya atraktif dan edukatif menjadi sangat mendesak. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya wisata museum, hehe.

  2. Potensi terbesar buat mengunjungi museum memang masih anak sekolah. Kunjungan ke museum harusnya diwajibkan untuk anak sekolah supaya terbuka cakrawala ke masa lalu untuk menjangkau masa depan.
    Nah, ternyata kegiatan mengunjungi museumpun kena imbas akibat perubahan kurikulum.

    1. Yep, ternyata K2013 ada juga dampak baiknya: menambah kunjungan ke situs bersejarah, hehe. Betul Mas, anak-anak Indonesia mesti tahu bagaimana kaya bangsanya supaya tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar, hehe.

  3. Lah iya ya jadi selama ini Candi A dan Candi B di kompleks Prambanan selalu disampaikan dengan salah oleh guru-guru sekolah jika mereka yang membawa murid-muridnya sendiri tanpa bantuan guide. Eh atau mungkin ada guide di sana yang salah memberi informasi juga? Serba mungkin. Hehehe.

    Jumlah pengunjung yang ditulis Gara kurang dari 1.300 pengunjung itu kulihat beberapa kali, takut salah lihat. Ternyata memang betul segitu. Dohh miris pake banget! Jadi ingin ngeramein segera Museum Mpu Purwa itu.

    1. Papan nama candi di sana juga sebetulnya masih keliru sih Mas, haha. Tapi mungkin agar mudah diingat masyarakat–selain itu cerita soal candi itu jadi lebih nyambung kalau candinya diberi nama-nama seperti Garuda dan Angsa. Cuma nama resmi candi-candi itu Candi A dan Candi B.
      Dulu saya ada data kunjungan cagar budaya di Jawa Timur (sekarang sepertinya sudah hilang dari website resminya). Jarang ada cagar budaya yang kunjungannya mencapai ratusan ribu dalam setahun. Puluhan ribu pun sudah bersyukur banget kayaknya, hehe.
      Ayo ke sana, Mas.

    1. Salah kemasan, kurangnya kesadaran karena sejarah tidak dianggap penting, dan lain-lain. Penyebabnya banyak, dan semua itu dibiarkan terus dalam waktu yang lama, jadilah sejarah bangsa sendiri bagaikan barang usang yang cuma dikonsumsi para ilmuwan, hehe.

  4. As always ya Gar, museum itu yg sering dikunjungin ya sama anak sekolah, orang berkepentingan, sama turis mancanegara. Orang pribumi sendiri banyak bosennya, terus gak mau tau πŸ™

    1. Makanya museum mesti dibuat tidak membosankan, Beb. Ini tantangan besar. Mungkin bisa dimulai dengan mencari tahu apa yang booming di masyarakat. Misalnya gosip, hehe. Kan bisa tuh bikin operet Ken Arok merebut istri orang di museum, haha.

    1. Iya Mbak, museum di Indonesia memang masih kurang diurus. Pasti banyak ya museum yang suasananya horor. Mudah-mudahan masalah di semua museum Indonesia bisa selesai jadi museum kita bisa bersaing dengan museum luar negeri.

  5. saya lama juga gak main ke museum πŸ˜€ . Mungkin anggapan museum itu tempat yang menjemukan dan gak asyik, alhasil sepi deh. kalau misal museum dijadikan/teknologinya kekinian. sepertinya akan menarik banyak pengunjung

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?