Paradoks Kuta #1: Kasihan Sih, Tapi…

Mungkin semua orang di sini sudah pada tahu apa yang betul-betul unik dari Pantai Kuta sampai-sampai orang rela bersusah-susah menghadapi semua rintangan untuk bisa datang ke tempat ini.

Pasir seperti ini.
Pasir seperti ini.

Pa-sir-nya.

Pasir mericanya.

Maka jelas saja kami langsung jejeritan hore-hore begitu kaki kami menjejak di pasir merica… yang sebenarnya panas. Jadi setelahnya kami langsung pakai sandal dan menuju ke tempat yang sedikit lebih teduh. Padahal baru jam sembilan lebih sedikit, tapi gaharnya matahari pantai itu memang tidak bisa diduakan.

Yap, butir-butir pasirnya, yang seperti merica, bulat-bulat kecil banyak memenuhi darat dan ruang pandang. Bahkan ketika sudah sedikit ada di dalam laut, pasirnya juga masih seperti ini. Unik sekali. Saya yang baru pertama kali kemari sengaja berlama-lama memain-mainkan kaki dengan pasir-pasir yang sebenarnya agak sedikit susah untuk membuat kaki berjalan itu.

Tapi kemarin, bagaimanapun menyusahkannya pasir-pasir itu, saya dan Kak Randy sudah kepalang senang: akhirnya kita bisa sampai ke Kuta! Well, sebenarnya Kak Randy sudah pernah kemari sebelumnya, jadi agaknya sayalah yang overexcited dengan kenyataan bahwa saya sudah bisa menjejakkan kaki di pantai iniβ€”salah satu dari delapan mutiara di selatan Lombok Tengah!

Berjepret-jepretlah saya dan Kak Randy di pantai indah itu. Di bawah langit biru nan spektakuler, putihnya awan berarak di selatan kami, dekat horizon. Sementara itu, perbukitan di kiri dan kanan kami terbungkus permadani hijau, gabungan dari rerumputan dan pepohonan yang menambah sejuk gradasi yang masuk dalam penglihatan kami. Kata Kak Randy, apabila kami datang kemari saat musim kemarau, yang akan kami hadapi adalah bukit gersang dengan warna tanah terpampang jelas dan pohon-pohon yang meranggas.

Saya rasa, itu akan menjadi satu edisi hebat lain yang ditampilkan oleh Pantai Kuta :hehe.

Nah, di saat itulah serangkaian kejadian-kejadian ini terjadi. Saat kami sedang asik berleloncatan unyu untuk bisa berpose levitasi. Sengaja saya tempatkan ini dalam postingan terpisah, sekadar menjadi pengingat dan antisipasi bagi siapa pun yang hendak berkunjung ke sana.

Siapkan tekad setegar batu karang!
Siapkan tekad setegar batu karang!

Tersebutlah anak-anak penjaja gelang di pantai Kuta.

Nope, ini bukan lirik lagu, tapi memang anak-anak kecil penduduk lokal yang berjualan gelang kepada para wisatawan yang ada di sana. Mereka, bertelanjang kaki, berpakaian lusuh, dan berambut kuning nyaris pirang karena sinar sang raja siang, membawa papan-papan dengan banyak gelang terikat dalam dua karet yang terpaku terpisah di setiap sisi, berjuang melawan panasnya matahari demi menghabiskan jatah barang dagangan dalam hari itu.

Sama sekali tidak ada yang salah dengan mereka. Tak ada yang salah dengan wujud dan penampilan mereka. Tak ada yang salah dengan pekerjaan yang mereka lakoni.

Yang agak sedikit keliru, mungkin, adalah bahwa kadang mereka terlalu hanyut dalam perjuangan menjual gelang, sampai membuat calon pembeli jadi merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka.

Jujur, kami pun demikian. Awalnya, kami kasihan dengan mereka. Kami melihat mereka mengumpul di bawah bayang-bayang karang di dekat laut, sambil membawa dagangan mereka yang masih banyak. Agak heran sebenarnya melihat mereka berkumpul di sana seolah di bayangan karang itu adalah tempat yang salah… dan memang salah, karena bukankah semestinya mereka ada di sekolah? Hari sekolah di seluruh Nusa Tenggara Barat tidak berubah dari zaman saya sekolah hingga saya mengetik ini; Senin–Sabtu.

Kami ke sana hari Jumat.

Kenapa mereka tidak ada di sekolah?

Mereka ada di sini tapi tidak di sekolah. Bukan, bukan yang sedang bermain kano itu.
Mereka ada di sini tapi tidak di sekolah. Bukan, bukan yang sedang bermain kano itu.

Seorang anak mendekati saya, menawarkan dagangannya. Anak lain menawarkan dagangan gelangnya kepada Kak Randy. Sekali lirik dan saya langsung tahu kalau itu gelangnya sama persis. Kalaupun itu buatan tangan, pasti dibuat oleh orang/perusahaan yang sama. Satu buah gelang harganya Rp5k. Saya rasanya agak iba melihat mereka yang dagangannya masih penuh begitu, jadi ya, saya memutuskan untuk membeli. Saya tak tahu kalau Kak Randy juga melakukan hal serupa; mengeluarkan dompet, selembar uang lima ribuan.

Kami membayarnya, kemudian mendapatkan gelang kami. Dua anak itu pergi.

Tapi kami tidak tahu dong kalau terus itu semua pedagang cilik-cilik itu datang, mengerubuti kami, memohon-mohon kami untuk membeli barang dagangan mereka…

Saya bilang memohon? Nope. Memaksa. Saya bilang semua? Yep. Semua.

Ada sekitar 15 anak yang mengerubuti kami, semua bicara pada saat yang sama, supaya kami mau untuk membeli dagangannya. Apalagi mereka melihat kamera tergantung di leher saya, sudah. Stereotipe berjalan. Kami wisatawan, punya banyak duit, jadi kami juga pasti bisa meladeni mereka yang memasang muka memelas (yang detik itu saya kurang peduli apa itu memelas sungguhan atau topeng memelas) dan akhirnya membeli masing-masing dagangan mereka.

Ya elah. Kalian pikir saya pakai gelang dari pergelangan tangan sampai siku?

Melafalkan kembali dialog mereka saat itu saja bisa membuat kepala saya sakit. Saya ingat, saat itu, saking banyaknya mereka, dengan logat Sasak yang oh Tuhan, saya sudah jauh lebih fasih daripada mereka (biarpun saya tidak bisa bahasa Sasak, begini-begini logat Sasak saya otentik):

“Kak, ayok apa kak, beli apa gelang saya, satu saja,” pinta seorang anak, sebut saja Bunga, dengan muka memelas yang saya berani sumpah didapat dari acara-acara penganiayaan pembantu di stasiun televisi.

“Ndak, kan sudah saya beli sama temenmu tadi.”

“I tapinya itu lain dia kak, beli sama saya kak, satu aja,” anak lain menjawab.

Riuh anak-anak lain mengiyakan. “Iya kak, untuk uang jajan saya, iya kak, untuk uang jajan saya.”

Sekali dua kali tidak apa, tapi lima enam kali, saya mulai merasa anak-anak ini setengah mengemis. Mereka bahkan semacam mendesak kami ke arah karang itu, supaya kami tak bisa lagi lari ke mana-mana selain membeli dagangan mereka.

OK, ini betul-betul menguji temperamen.

“Ndak ya, makasih ya, makasih.”

“I kak beli apa kak.”

“Aoq kak, beli kak, barang saya, lain dia, bagusan yang ini.”

Untuk sesaat mereka berkelahi antarsesamanya tentang barang dagangan siapa yang paling bagus. Semua ya mengaku paling baguslah. Ibarat kata, mana ada kecap nomor dua?

Ndeq, kan uwah tiang beli jok temen side. (Tidak, kan saya sudah beli sama temanmu).” Saya bahkan mengeluarkan kemampuan berbahasa Sasak Pasar yang saya kenal sedikit-sedikit. “Lagian tiang ndeq naraq kepeng niki. (Lagian saya juga tidak punya uang sekarang).”

I si kakak, padahal iye bawa kamera sik SLR meno, laguq ber ongkat iye ndeq naraq kepeng. (Ih, kakak ini, padahal dia bawa kamera yang SLR itu, tapi dia bilangnya tidak punya uang).”

Deziiig!!

Wohoho, mulai berani bawa-bawa tentengan. Kepala sudah panas gara-gara matahari yang meninggi, tapi saya kudu sabar, kan. Maksud saya, walaupun Lombok adalah halaman belakang saya, tetap saya harus menghormati semua yang asli ada di sini, dalam artian skala yang lebih kecil. Maksud saya lagi, homebase saya itu Mataram, sedangkan sekarang saya ada di Kuta.

Dan itu 60km jauhnya dari Mataram.

Bisa berabe kalau saya bikin masalah di sini.

Ada beberapa kali ping-pongan penolakan-penolakan yang terjadi setelah itu, tapi saya rasa akan terlalu panjang kalau dikatakan di sini. Intinya mereka terus menguntit kami ke mana pun kami pergi. Kami kira mereka akan menyerah, ternyata tidak! Terus saja mereka menawarkan dengan mode setengah memaksa seperti itu. Para wisatawan mungkin masih menolak dengan halus, karena mereka bukan asli Lombok, tapi saya yang sama-sama orang lokal? Saya rasanya harus menyelesaikan ini semua. Malu saya, kalau sampai ada orang lain yang membahas ini di media massa, mengatakan kalau pantai ini tidak layak dikunjungi karena tidak memberi kenyamanan pada wisatawan!

Tapi secara umum, Kuta Lombok adalah sebuah pantai yang sangat layak dikunjungi.
Tapi secara umum, Kuta Lombok adalah sebuah pantai yang sangat layak dikunjungi.

(Terus yang kamu lakukan apa Gar, kalau bukan membahas ini?)

“I kakak ini makasih makasih aja, beli keknya sama kita, masak dia di toko beli gelangnya, pelit dia kakak ini.” (Yang ini saya tidak perlu jelaskan ya, mungkin yang berbeda hanya soal aksen, tapi menurut saya kalimatnya sudah bisa dimengerti, kan? :hehe).

Gila, itu kalimat membuat saya geram. Berujarlah saya dengan nada yang sedikit agak tinggi, sinis menusuk, ilmu yang saya salin betul dari ibu saya, menyindir tajam tanpa terkesan marah:

Eh dek, lamun tiang araq kepeng, tiang beli semua dagangan side no. Tapi tiang jujur ne, tiang ndeq naraq kepeng. Dendeq sih begitu caramu bedagang. Niki daerah wisata, side harus menghargai jak turis-turis siq dateng leq tene. Lamun side mau bedagang dendeq meno caramu, dendeq maksa. Ndeq naraq ape orang siq mau beli barang dagangan side lamun cara side maraq pengemis meno.

(Eh dek, kalau saya punya uang, saya beli semua daganganmu itu. Tapi saya ini jujur, saya tidak bawa uang. Jangan begitu caramu berdagang. Ini daerah wisata, kamu harus menghargai turis-turis yang datang ke sini. Kalau kamu mau berdagang jangan begitu caramu, jangan memaksa. Tidak akan ada orang yang akan mau membeli daganganmu kalau caramu seperti pengemis begitu.)

Respons yang saya dapatkan bahkan setelah ceramah setengah songong itu betul-betul di luar dugaan.

Angkak kakak sih siq meli barang dagangan tiang!” serunya.

(Makanya kakak dong yang harus beli barang dagangan saya!)

Astajim! Demi! Kata-kata gue disahutin! Ini anak-anak diajari siapa sih? Apa suara gue kurang tinggi? Apa tampang gue kurang meyakinkan? Sesaat gue itu yang semacam speechless tapi kepingin banget menghantam isi tas ini ke kepala mereka pasir, hampir lupa kalau di dalam tas itu ada dua lensa. Astaga, gue gak boleh kalah adu argumen sama anak-anak seperti ini! Tapi sumpah itu gue heran banget banget kemarin, ini anak-anak diajarin siapa, sih?

Intermezzo dengan sebuah gambar. Pantainya cantik, ya.
Intermezzo dengan sebuah gambar. Pantainya cantik, ya.

Oh. Ehem. Maafkan saya. Memang saya kalau lepas kendali omongannya bisa jadi seperti itu, dengan panggilan “gue” dan lain-lain, gaya bicara yang sebenarnya cuma saya lakukan kalau saya lagi marah. Tapi saya tidak marah, kan ya? :haha.

Sesuatu di dalam diri ini sebenarnya menyuruh untuk menyerah. “Udah sih Gar, kasih duit aja sedikit, mungkin mereka mau pergi…”

Kasih duit? No way! Mereka bukan pengemis! Meski cara mereka hampir tipis bedanya dengan mengemis, saya tidak akan pernah mau mendidik mereka sebagai seorang pengemis! Saya cuma ingin mereka tahu bahwa cara mereka berjualan itu salah! Berjualan itu bukan mengemis supaya orang mau membeli barang daganganmu!

Beralihlah saya ke cara kedua. Mereka masih belum menyerah. Meski beberapa pergi untuk mencari mangsa wisatawan lain yang baru datang, beberapa masih setia mengerubuti kami. Kak Randy tidak berkata apa-apa selain senyum dan beberapa kata tidak. Kami berusaha untuk tidak terpisah, karena perjuangan menghadapi bocah-bocah ini tentunya lebih berat kalau sendirian.

Dan seakan ingin menambah masalah kami…

Dua bocah yang tadi sudah kami beli gelangnya itu balik lagi!

“Ayok apa kak, beli gelangnya lagi, itu tangan kakak yang satu belum pakai gelang…”

Hell yeah! Lo pikir gue pakai gelang sampai ketek? Noh lo gelangin aja deh diri gue dan kehormatan gue! Biar puas lo semua!

Astaga, saya lepas kendali lagi. Mohon maaf. Tapi memang suara mereka itu menyebalkan sekali kalau saya ingat-ingat. Ehem. Diberitahu sefilosofis apa pun sudah tidak mempan untuk mereka, mungkin karena mereka belum begitu paham tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Maka, sembari berusaha untuk tetap sabar, saya menggunakan jurus ibu saya untuk menolak pedagang yang exasperating seperti ini:

Tawar serendah-rendahnya.

Aoq, mele tiang beli. Tapi lima ribu telu, aoq! (Ya, mau saya beli, tapi lima ribu tiga, ya!)” Saya berusaha melucu-lucukan suara supaya mereka juga tidak terbawa emosi (tapi apa iya mereka punya emosi?). “Ato sepuluh ribu empat. Mele ndak? (Atau sepuluh ribu empat. Mau tidak?)”

Cara seolah-olah mau membeli barang dagangan itu memang seperti mengumpan kucing dengan ikan asin. Mereka akan sangat bersemangat, bahkan melonjak-lonjak. Tapi saya harus tetap pada pendirian saya: tidak boleh menyerah! Teruslah saya bertahan, berjalan ke sana kemari supaya mereka bosan, dengan tetap berkata “Ndeq, makasi, uwah punya tiang, lamun side mele, lima ribu telu aoq!” berulang-ulang. Kak Randy yang tidak bisa berbahasa Sasak mengikut di belakang saya. Jangan terpisah, supaya mereka tidak ada kesempatan mengintimidasi dengan trik-triknya yang… seperti yang saya jelaskan di atas itu.

Setelah berjuang selama lima belas menit, beberapa anak bahkan mengiyakan kalau saya mau membeli dua gelang seharga satu gelang (tapi saya menawarnya tiga), peperangan itu pun akhirnya kami menangkan, dengan anak-anak yang bersungut-sungut kesal. Mereka menggerutu, “Ndeq naraq gelang sak aji meno, Kakak! (Tidak ada gelang yang harganya segitu!).”

Untungnya setelah itu tidak ada yang terjadi sebab ada wisatawan lain yang siap untuk menjadi, sorry to say, sasaran mereka.

Tapi menurut saya mereka itu cepat lupa. Buktinya, sekitar satu jam kemudian ada anak-anak yang tadi lagi menjajakan gelangnya pada saya, tapi saya cuma tersenyum dan berkata manis, “Lima ribu telu. Mele?”

Itu terbukti ampuh.

Ah, yang penting kami bisa jejingkrakan di pasir merica Kuta yang indah itu!

Di bawah teriknya matahari dan di depan layar pemandangan ini, saya berpikir.
Di bawah teriknya matahari dan di depan layar pemandangan ini, saya berpikir.

Tapi untuk beberapa jenak saya merenung. Di bawah matahari yang mulai mendidihkan kepala, di hadapan layar berpanorama tiada dua. Ada yang salah dengan anak-anak itu.

Tapi bocah-bocah itu tidak berdosa. Mungkin yang agak keliru adalah pola pikir mereka bahwa barang mesti terjual meski caranya memaksa dan setengah mengemis. Mungkin yang keliru adalah kondisi ekonomi mereka yang tetap saja seperti ini kendati pariwisata tengah mulai menggeliat, meski lemah. Satu bukti bahwa pemain besar tidak melulu membawa perbaikan dalam bidang pekerjaan, tapi mungkin juga menambah besar disparitas koefisien Gini di masyarakat itu.

Ya, ada yang salah dengan itu. Sebuah dilema di tengah keindahan Kuta. Sebuah paradoks di tengah-tengah surga tersembunyi pariwisata di pulau mutiara.

94 thoughts on “Paradoks Kuta #1: Kasihan Sih, Tapi…

    1. Ya, pantainya memang keren, sayang saya dapat kenangan yang agak tidak enak di sana, tapi tetap keren kok Mas :hehe. Wajib dikunjungi kalau ada di Lombok :)).

  1. suwer bang gara ._. disaat temen-temenku dulu waktu SMP ngebanggain diri bilang udah pernah ke kuta, aku sampai sekarang belum pernah ke kuta ._. ke bali pun belum pernah -_______-

    1. Kurang bagus buat perkembangan pariwisata di sana, Mbak.
      Astaga, ternyata di Tanjung Aan juga ada? Untungnya saya tidak bertemu dengan pedagang itu sih, sewaktu ke sana :hehe.

        1. Iya, mungkin bagi wisatawan luar Lombok, opsi memberikan uang sedikit memang feasible banget. Tapi kayaknya tidak buat saya *dasarnya memang pelit mah sayanya :haha*.

  2. Ya ampunn segitunya yah cara anak-anak itu menawarkan dagangannya. pantang mundur haha…
    kasihan sih tapi harusnya mereka harus belajar respect sama turis-turis yang berkunjung.

    Untungnya itu tas ga sampai mendarat ya dikepala mereka hihiihi… butuh kesabaran menghadapi anak-anak yg dapat dikatakan sangat polos.

    1. Iya Mbak, mereka polos banget, bukan yang maksud nggak baik begitu, tapi mereka mungkin semacam “diharuskan” seperti itu oleh seseorang yang saya juga belum tahu. Yep, intinya perpanjang sumbu sabar, Mbak. :)).

  3. hahaha ngakak pas baca yang pake gelang sampe ketek. Aduh, lumayan ngeselin juga ya kalau ditawarin dagangan sampe segitunya. Lebih kasian lagi si adeknya bukannya sekolah tapi bedagang. I didnt mean to judge, tapi ya mudahan nanti adeknya walaupun gak sekolah bisa jadi pengusaha yang handal pas udah gede. Asal jangan nyebelin aja kayak gitu hahaha -_-

    1. Amin, semoga masa depan mereka bisa lebih baik. Saya agak menyesalkan saja sih kenapa hal-hal seperti ini luput dari mata semua pihak padahal jelas banget kenyataannya ada di lapangan.

  4. iya,. sedih juga kalau adanya pariwisata justru membuat mereka memilih jualan dan meninggalkan sekolah. I mean, mereka ngga akan berjualan gelang terus kan? sampai besar. Tapi tips terakhirnya jitu mas,. tawar serendah-rendahnya..

    1. Semestinya sekolah adalah yang utama, karena cuma dengan pendidikan masa depan bisa jadi lebih baik kan :hehe.

      Saya belajar dari ibu saya yang notabene juga seorang pedagang :hehe. Terima kasih.

    1. Ya Mbak, dugaan saya juga begitu, dari barang dagangan mereka yang sama persis. Saya takutnya mereka akan dapat hal yang aneh-aneh kalau tidak bisa menjual gelang sampai habis, makanya perjuangan mereka supaya ada yang membeli sampai sebegitunya.

  5. Aduh broh, entah apa ya tapi memang kalau melihat sampai anak-anak jualan itu miris rasanya. Tapi entah ini yang salah apa pemerintah yang gak bisa provide sekolah murah atau orangtuanya kurang ajar dan masih konsep lama bahwa anak-anak kudu bantu ekonomi keluarga. Padahal kalau mau pake logika sih anak itu investasi buat mereka. Anak yang secara pendidikan baik bisa mengangkat harkat dan ekonomi keluarganya secara keseluruhan. Tapi kayaknya udah lingkaran setan sih…

    Kakek gw datang dari keluarga yang sangat miskin dan anaknya banyak dulu di era-era kita masih angkat bambu untuk perang, tapi kemudian prioritas dia setelah jaman kemerdekaan adalah semua anak-anaknya sekolah. Kalau denger cerita kakek dan nenek saya dulu sedih banget, sampai pakai dicemooh sama tetangga karena anaknya banyak dan miskin..Alhamdulillah sebagai generasi ketiga saya merasakan apa yang diperjuangkan kakek saya.

    1. Nah itu dia, masalahnya sudah jadi lingkaran setan, parahnya lagi mereka terkesan nyaman dengan itu, ibarat kata, anak sekolah tapi bisa di pantai terus kan enak banget bagi mereka, padahal itu salah besar, mesti ada di sana yang berani dobrak zona nyaman itu supaya bisa lebih maju.

      Salut dengan kakeknya, Mas, investasi di pendidikan memang tak akan merugi :)). Tak apa miskin harta yang penting kaya ilmu :hehe, dan perjuangan untuk sesuatu yang baik memang akan selalu berbuah manis :)).

  6. Aih, aku jadi ikutan darah tinggi nih bacanya. Adek2 itu ngapain ya gitu. Kasihan tapi sekaligus ngeselin. Ckckck.

    *oke lupakan, mari lihat pantainya saja. Kayaknya asyik ya main di pantai berpasir seperti merica. πŸ˜€

    1. Saya juga kurang mengerti kenapanya, Mbak, tapi menurut saya ada masalah besar dengan anak-anak di sana. Kenapa mereka tidak ada di sekolah, dan masih banyak pertanyaan lain :)).

  7. duh, sesuatu banget ya.
    kalo ada anak anak kecil jualan gitu ya ga tega, tapi kalo maksa gitu sapa yang gak sebel. jadi heran, orang tuanya kemana..

    1. Antara kasihan dan kesel… tapi akhirnya lebih ke kasihan :hehe, habisnya anak-anak itu kan kayaknya tidak begitu tahu apa yang mereka lakukan…

    1. Iya, antara mengesalkan tapi kita mesti sabar-sabar banget soalnya tidak boleh kasar :hehe.

      Salam kenal juga! Terima kasih sudah berkenan mampir di sini :)).

  8. Wah Gar. Gw pake lu gw kalo ngobrol. Semoga gak dianggap gak sopan ato marah-marah mulu ya.
    Serem bener ya itu anak-anak. Gw bacanya aja sampe ikut emosi.

    1. Saya juga kadang suka pakai “lu” dan “gw” juga kok Mas, tapi ke orang-orang tertentu saja :hehe :peace.

      Bagaimanapun, mesti hati-hati Mas :)). Banyak kejutan di tempat wisata seperti ini :)).

  9. Aku kesal bacanya, tapi entah kenapa malah ketawa pas baca adegan tarik ulur itu. Belum pernah dengan bahasa Sasak sebelumnya, jadi penasaran seberapa tinggk suara Bli Gara pas berhadapan dengan anak-anak itu.

    Dan yah, ini paradoks yang pahit. πŸ™

  10. Aku kira tadi Kuta, Bali. Kok aku nggak familiar. Ternyata Kuta, Lombok. Salah satu wish beach yang pengen aku kunjungi. Hmmm, kalo bawa orang lokal ngaruh nggak ya buat sedikit menghalau para penjaja itu?

  11. Gak nyangka ya sudah turistik juga Pantai Kuta di Lombok. Aku juga suka susah nolak sama anak-anak kecil seperti itu.
    Biasanya aku suka bawa mainan kecil kalau liburan. Kalau ada anak-anak di pantai yang jualan, bukannya beli dari mereka, tapi malah aku kasih mainan itu, biasanya sih mainan yg murah meriah dan ada nilai edukasinya gitu – misalnya bikin pesawat atau perahu dari kertas atau kayu. Pernah waktu di India, saya bawa pensil, dan anak-anak itu udah seneng banget. Untungnya, mereka jadi gak minta-minta aku untuk beli barang dagangannya, tapi ribetnya, pas ketemu masih minta lagi πŸ˜€ Tapi pengalamanku sih, setelah aku bilang mainan-nya udah abis, mereka gak ganggu aku loh..yah itung-itung membantu menyenangkan mereka juga..kasihan soalnya masih kecil bukannya sekolah malah bekerja πŸ™

    1. Wah, saya jadi kepengin mencoba yang satu ini. Mesti lihat dulu nih mainan apa yang bisa saya bawa untuk mereka :)) *sambil berusaha menghilangkan prejudice :hehe*. Terima kasih untuk idenya, Mbak. Kuta memang indah dan kalau semua pihak berusaha menjaganya, keindahannya pasti makin terpancar :)).

  12. Menguras emosi ya percakapan dengan mereka. Maksudnya gigih menjajakan dagangannya, tapi apa daya. Takutnya mengganggu kenyamanan dan wisatawannya jadi males mengunjungi ulang.

  13. bwahahahahahahahahahahaha…..*ketawasampeselongbelanak saya baca ini sesudah baca postingan tentang tips itu dan saya ga habis-habis ketawanya…

    Gar, ini postingan bagus banget dan saya membayangkan dirimu dikerubutin mereka dan berusaha jaim…

    positifnya adalah dalam liburan jadi punya record test kesabaran kan… Jadi kalau pergi ke tempat lain bisa jadi referensi…. dan belajar jadi bapak yang punya anak modern yang demanding hahaha…

    dan saya mau ngelanjutin ketawanya hahahahahaha….

    1. Akhirnya ada juga yang tertawa setelah membaca postingan saya! Woohoo! Terima kasih, Mbak :hihi. Iya saya pun jadi ketawa sendiri pas membacanya, sumpah deramak banget ya, eh tapi saya juga setiap hari deramak nan lebhay sih hidupnya :haha :peace.

      Tapi bagaimanapun, saya belajar dari drama-drama kehidupan itu, ibarat kata, hidup tanpa drama kan jadi monoton banget, betul tidak Mbak? :hihi.

      1. Actually, saya inget kejadian serupa yang menimpa kawan saya waktu ke Mumbai. Karena penampilannya keren, dia diikuti terus menerus oleh pengemis dan tidak mau dilepasin. Ekspresi wajahnya dari yang baik hati sampai jutek sampai akhirnya melotot tapi tetap harus jaim…. jadi bener-bener terbayang bagaimana kamu disana… πŸ˜€ *peace yaa…

        1. Oalah, ternyata pernah juga ada yang senasib sama saya :huhu. Memang rasanya serbasalah Mbak, antara mau galak tapi takut bikin masalah di sana, mana jauh dari rumah lagi kan :hehe. Jadi antara jaim tapi mesti tetap tegas :)).

  14. kekeh surekeh anak-anak disana ya gar πŸ™‚ #sambilgliatinfotopantaikutanyayangbagusbanget

    pantai yang sangat bagus, tapi kalau pake mangkel harus cari cara untuk tidak diganggu dijamin keinginan untuk bisa menikmati keindahanpun pasti perlahan kegerus.

    waktu itu kita pergi dengan supir lokal gar dan akhirnya terpaksa bilang kalo kita cuma mau jalan-jalan aja. gak tau si mas nya bilang apa akhirnya gak diganggu lagi. kasian sih sebetulnya tapi gak mungkin juga beli hanya karena rasa kasihan.

    salam
    /kayka

  15. Ternyata semua orang yang pernah main ke Kuta Lombok, pasti ngalamin hal semacam ini ya? Dibeli satu, datanglah temannya yang lain. Kadang kalau kita gak mau beli, mereka minta dikasih uang jajan aja. Sampai kita pergi ke rumah makan pun mereka ngikutin, nungguin di jendela nya sambil ngeliatin kita yang makan.

    Btw, lucu juga ya bahasa Sasak. Baru ini kali pertama bacanya, penasaran pengen denger langsung logatnya kaya apa πŸ™‚

    1. Ya, kegigihan mereka terkadang sangat membuat tidak nyaman :)).
      Logatnya juga unik banget :hehe, berbeda dengan logat Bali kendati dua pulau ini sebenarnya dekat :)).

        1. Itu dari segi pengucapan Mas, kalau menurut saya :haha. Misalnya “dendeq” itu bukan “dendek” dengan k yang keras, bahkan huruf e-nya saja agak beda melafalkannya :hehe.

  16. Saya pikir Kuta Balo, eh ternyata yang di Lombok tah Mas..
    Mas Gara ternyata galak tapi peduli yak.. Mirip seperti ibu ya Mas?
    Saya juga sih Mas kalo dikerubuti begitu pengen berubah jadi monster biar anak2nya pada takut.
    Eh kenapa gak bilang gini mas “Saya beli semua gelangnya, saya tukar pake SLRnya ya” hihihi

    1. Memang banyak orang berkata kalau saya mirip Ibu :hihi.
      Waduhm bisa repot urusan kalau SLR ini saya serahkan Mas, bisa-bisa saya berhenti jadi blogger :haha.

  17. Omaygaaaattt… emang siy, nyebelinnya destinasi wisata itu ya begitu ituuu. Enggak di Lombok, di Jogja, dimana2 kayaknya adaaaa aja, yang maksa wisatawan untuk beli2 ini-itu Grrrhhhh ^^emosijiwa ^^sabambaaak ^^belumbukapuasaa hahaha.

    Eits, tapiii Kuta Lombok paraaaaaah cakepnya yak. Aku satu kali ke Lombok, cuman ke senggigi, dan kurang menggigit. Kapan2 deh, ke sini πŸ™‚

    1. Eh iya di Jogja juga ada sih Mbak potensi buat jadi seperti ini tapi masih lebih mendinganlah daripada di Lombok, kalau di Lombok itu sudah kuejam… :huhu. Sabar Mbak… :hihi.
      Nah, itulah Mbak, masih banyak orang yang mau kemari, mungkin karena panoramanya yang memang masih tiada duanya :hehe. Tapi Senggigi juga sebenarnya keren kok, Mbak, meski banyak sampahnya… saya sudah pernah ada menulis tentang itu :hihi :)).

  18. Saya jadi teringat sebuah status yg dipasang seorang teman di laman Facebook. Dia bertemu seorang anak penjual jagung rebus di lapangan Renon. Memelas agar orang mau membelinya. Setelah diajak ngobrol, didesak mengapa ia berjualan, ia mengaku. Jualannya tiap hari harus habis. Kalau tidak habis, ia dihajar oleh seorang yang ia panggil β€˜Kakak’ yang menyuruhnya berjualan setiap pulang sekolah. Ditelusuri dari tubuh anak itu, teman saya memang melihat bekas-bekas cakaran hingga biru lebam. Beberapa hari kemudian, teman saya bahkan datang ke sekolah anak itu untuk mengkonfirmasi ceritanya. Dan di sana, ia justru mendengar beberapa cerita yang lebih memilukan dari guru2nya.
    Sejak ada cerita itu, saya menjadi lebih trenyuh kalau melihat anak-anak yang mengasong. Memang sih, mengesalkan didesak seperti itu. Tapi jadi kepikiran, apakah ada β€˜kakak-kakak’ di belakang mereka yang memaksa mereka berjualan? πŸ™

    1. Saya pun curiganya demikian, Mbak. Ada orang-orang di belakang mereka yang mengorganisir semua ini, dan mesti ada yang mengungkap itu. Ah, sayang kemarin saya sudah terlalu emosi jadi tidak bisa menggali lebih banyak :)).

  19. Hahaha iya nih, anak-anak itu pada maksa banget -__-”
    ketemunya bukan di pantai kuta sih, tapi di pantai seger. Gak bakalan pergi deh kalau dagangannya gak dibeli. Sekalinya dibeli, kumpulan pedagang gelang yang lain datang lagi.

    1. Kayaknya mereka punya daerah operasi sepanjang pantai selatan itu, ya Mbak. Semoga mereka mendapat pembinaan yang terbaik supaya tidak berjualan dengan cara seperti itu lagi, deh :amin.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!