Pantai Tebing, Pantai Piroklastik

Pertama kali saya mendengar soal Pantai Tebing ini adalah ketika saya ribut-ribut soal Pantai Malimbu. Maklum, anak baru tumben jalan-jalan, jadi preferensinya agak ketinggalan zaman. Ternyata, semua teman menganggap Malimbu sudah biasa banget, sama dengan saya yang membandingkan Senggigi vs Malimbu dengan hinaan, “Apaan sih, Senggigi doang” (songong banget, padahal jumlah kunjungan ke Senggigi juga bisa dihitung jari).

Mungkin mereka juga kasihan sama saya, jadi supaya saya up date dengan wisata Lombok yang lagi nge-hits, mereka menyarankan saya untuk tandang ke Pantai Tebing ini.

Kali ini postingannya masih tentang pantai.
Kali ini postingannya masih tentang pantai.

Tapi sampai saya benar-benar tandang ke sana kemarin, ternyata belum ada satu pun dari mereka yang datang ke sana :haha. Nasib, nasib, tinggal di Mataram tapi tidak pernah datang ke sana itu rasanya… bagi saya penyesalan terbesar.

Karena Pantai Tebing itu sejujurnya keren pakai banget!

Mencapainya dari Mataram tidaklah susah. Temukan perempatan Bangsal (yang sering ke Gili Trawangan pasti tahu). Jalurnya ada dua mode, mode jungle atau mode pesisir. Untuk mode hutan, maka mencapainya adalah via Pusuk Pass. Dari rumah saya itu artinya lurus terobos terus ke utara jangan belok, bahkan jika kiamat sekalipun :haha.

Lengkapnya, dari Perempatan Rembiga lurus ke Gunung Sari. Lendang Bajur, kemudian Kec. Batulayar, tembus-tembus sudah di pasar kuliner dekat gerbang kabupaten yang banyak pedagang kacang dan belinjo, serta tuak manis, yakni air enau yang belum difermentasi. Banyak konsumen berupa Jro Sedahan (bahasa Bali halus untuk “monyet”) menunggu untuk diberi makan. Hati-hati, mereka kadang nakal dan mengutil barang milik pengendara yang sedang istirahat di pinggir jalan, mengambil barang yang menarik perhatian mereka.

Namanya mode hutan, ya jalanannya berkelok-kelok seperti kalau lewat Gitgit atau Kintamani, di Bali, meski belum seekstrem tikungan di sana. Tapi jalur ini lebih dekat 11km, karena tahu-tahu kita sudah tembus di Pasar Pemenang, sepelemparan batu kemudian, Perempatan Bangsal.

Untuk mode pesisir, memang lebih boros 11km tapi pemandangannya lebih ciamik karena bernuansa pantai. Senggigi, Malimbu, Nipah, Pandanan, Kecinan, Pantai Sire, urut-urutannya pernah saya bahas di beberapa postingan #Lombok sebelumnya. Pura Batu Bolong, Pura Kaprusan, Segara Melasa dan Segara Batu Layar juga ada. Jalur ini jalannya tidaklah semengerikan jalur Pusuk, meski tetap ada beberapa tikung-tanjakan (paling ekstrem di Nipah) yang membuat persneling harus tetap rendah tatkala mendaki di sana.

Ada catatan saya soal jalur pantai. Yang follow Instagram saya di @gara.pw pasti tahu (promosi :hehe).

Begini. Dulu, pas saya masih kecil dan suka diajak jalan ke Senggigi, sepanjang Batu Layar sampai Senggigi itu masih banyak pantai-pantai perkampungan nelayan yang bisa kita lihat sepanjang jalan. Pohon-pohon kelapa menari malu mengiringi gerak Bhatara Bayu, menahan sedikit sinar Bhatara Surya dengan daunnya yang jarang.

Tapi sekarang… yang ada malah tembok-tembok seng jadi penghalang sepanjang jalan, bahkan setelah Nipah. Belum cukup, plang-plang “For Sale” dan dua nomor telepon untuk calon pembeli berbahasa asing seolah menjajakan semua tanah ini pada orang luar negeri, padahal aturan di negeri ini, tanah cuma bisa dimiliki warga negara Indonesia.

Dihantam lagi dengan, papan-papan yang bertuliskan bahwa di sini akan dibangun Hotel A, Villa B, Resort C, Bungalow D, Resto E, Bar F, Diskotik G, Kondotel H, Apartemen (eh ini mah belum ada :hihi), padahal saya ingat betul dulu jalan masuk pantai yang sering saya kunjungi bersama rekan-rekan kerja ayah di sekolah adalah lewat sana. Dan kalau masih kurang, bahkan perbukitan Senggigi yang dulu rimbun dan menggelapkan suasana ketika kendaraan melintasinya pun sudah berubah menjadi konstruksi-konstruksi yang tentunya akan hancur paling pertama tatkala longsor menerpa.

Semoga pantai ini tetap bertahan sebagaimana aslinya.
Semoga pantai ini tetap bertahan sebagaimana aslinya.

Begitukah daerah kami sekarang? Begitukah pulau kami? Pantai jadi milik privat, tebing jadi vila pribadi, semua menutup mata dan telinga akan kelangsungan para pejalan yang setiap hari lewat di sekeliling mereka?

Apa mesti tunggu ada tanah longsor dulu baru semua berteriak soal tata ruang? Apa mesti ada tsunami dulu baru semua peduli soal penataan bangunan di pesisir?

Gilak, sebegitu pentingkah bangun pagi sambil menatap matahari di pesisir pantai, padahal untuk kasus Senggigi, mereka semua menghadap barat jadi tidak bisa melihat matahari terbit? Kenapa tidak kemah di pantai saja, atau sewa kapal, tidur di atas kapal, beratapkan bintang? Saya rasa itu jauh lebih bermanfaat untuk semua orang. Infrastruktur yang dibangun adalah pelabuhan, yang memang diperlukan di daerah sini untuk wisata.

Ah, terlalu banyak bernyinyir, siapa saya? Kebanyakan nyinyir membuat tidak terasa kalau kita sudah bertemu di Perempatan Bangsal.

Bagaimana Pusuk? Sudah beli tuak manis?

Dari Perempatan Bangsal, luruslah terus kalau dari Senggigi, dan belok kanan jika dari Pusuk, menuju Tanjung. Kita akan melewati Kec. Pemenang, kemudian Kec. Tanjung, ibukota Kabupaten Lombok Utara. Ikuti saja jalannya, melewati beberapa desa dan satu pura, sampai nama jalan akhirnya berganti menjadi Jalan Raya Tanjung—Bayan.

_MG_7393
Sepotong pantai landai di sisi sebelah sana.

Iya, kalau terus, bisa ke Bayan, desa yang terkenal dengan Masjid Kuno Bayan, rumah dari penganut Islam Watu Telu (dahulu).

Tapi kita tidak sampai ke Bayan. Dari Tanjung, jalan akan membawa ke Kec. Gangga. Sebuah kecamatan bernama sama dengan satu dewi di dalam Hindu, yang secara kebetulan, kecamatan ini juga terkenal dengan wisata sungai dan air terjunnya. Ada Air Terjun Tiu Pupus dan Air Terjun Gangga. Setidaknya kita harus lewat dua gapura menuju tempat wisata itu sebelum menjumpai kembali pesisir di sebelah kiri. Itu artinya, sebentar lagi sampai di tempat tujuan.

Gunung yang kalau di Mataram ada di sebelah utara kini jadi sebelah selatan kita. Itulah sebab kenapa tempat ini dijuluki “Gumi Dayen Gunung” (daya dalam bahasa Sasak berarti Utara). Sengaja saya jelaskan kalau-kalau ada yang penasaran dengan bacaan ini di gapura perbatasan dua kecamatan itu :hehe.

Berjalanlah terus, melewati kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Utara, sampai menemukan SMPN 2 Gangga atau plang menuju ke Desa Rempek. Ini artinya sudah dekat. Teruslah sedikit, perhatikan sebelah kiri jalan, di dekat sebuah kios nanti ada plang bertuliskan “Pantai Tebing, Montong Pal”. Itu karena pantai ini ada di Dusun Montong Pal, Desa Rempek, Kec. Gangga, Kab. Lombok Utara (beberapa tulisan menyebutkan pantai ini ada di Dusun Luk cuma saya mendapatkan papan kemarin bertuliskan Montong Pal).

Kios itu adalah pedagang terakhir menjelang jalan masuk pantai, jadi apabila sekiranya pembaca budiman berkunjung ke sana, lupa membeli bekal dari Matara, dan kepengin membeli logistik untuk disantap di pinggir pantai (tapi ingat sampahnya jangan ditinggal di pantai, ya!), belilah di sini. Kemarin saya tidak membeli apa-apa karena memang tidak lapar. Rasa penasaran yang terlalu kuat tentang Pantai Tebing sudah memenuhi seluruh rongga dalam tubuh saya, termasuk memenuhi perut!

Jalan masuknya kira-kira seperti ini.
Jalan masuknya kira-kira seperti ini.

Masuklah ke jalan kecil itu, 50m di awal jalanannya sudah bersemen meski 300m sisanya masih berupa jalan tanah. Sebagaimana pantai lainnya di Lombok, akses kemari akan sedikit susah kalau wisatawan berkunjung ke sini di tengah musim hujan, tapi jangan biarkan itu menyurutkan niat karena sebenarnya lokasi pantai sudah sebegitu dekat.

Mobil bisa masukkah? Bisa. Cuma karena kadang tempat “parkir” kadang sudah agak penuh jadi kalau itu terjadi, mobil mesti ditinggal di semacam pelataran alami, 100m menjelang lokasi. Untuk motor, terus saja, nanti di dekat pesisir ada sebuah pondokan kecil dan di depannya adalah ujung jalan tempat kendaraan bisa diparkir. Tidak ada tiket masuk ke pantai ini, cuma ada ongkos parkir Rp2k untuk motor (kondisi per Juli 2015).

Di pelataran ini, mobil bisa diparkir, kalau di ujung jalan tidak ada tempat kosong.
Di pelataran ini, mobil bisa diparkir, kalau di ujung jalan tidak ada tempat kosong.

Pun kalau pembaca budiman berkunjung ke sini saat musim hujan dan jalanan berubah sangat berlumpur, kendaraan bisa diparkir di tepi jalan besar (di kios tadi), dan perjalanan menuju Pantai Tebing bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki. Di kiri jalan ada sebuah bukit yang ketika saya berkunjung ke sana hanya berisi tanaman yang mulai meranggas akibat kemarau yang mulai memanjang. Mungkin musim hujan bisa membuat semuanya jadi tambah hijau :hehe.

Sudah turun dari kendaraan? Oke, jika sudah, perhatikan sekitar, sebuah plang ada di sisi kiri dan memberi bukti bahwa… ini bukan situs sembarangan.

Kira-kira plangnya seperti ini.
Kira-kira plangnya seperti ini.

Teriring kesalutan saya pada pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang menjadikan seluruh situs yang berkaitan dengan keberadaan gunung api itu sebagai satu kesatuan, sebagai salah satu upaya menjadikan TNGR sebagai Kawasan Geopark Dunia (semoga berhasil). Situs ini, pantai ini, ternyata adalah bagian dari situs geologi di kawasan taman nasional, sebagai tempat lahar Gunung Rinjani menyentuh laut pada saat ia meletus bertahun-tahun silam. Wah, teman-teman yang ahli geologi pasti sangat senang kalau bertandang kemari dan meneliti jalur lahar dari gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia ini.

Keinginan orang awam ini untuk membuktikan semua yang tertulis di gambar itu membuat saya langsung cepat-cepat turun, kemudian berjalan sedikit ke kiri, dan membuka mulut saking kagetnya.

Jreng!
Jreng!

Saya membayangkan saat-saat ketika gunung api ini meletus. Aliran material berupa lava pijar dan awan panas bergulung-gulung dari puncak gunung, lalu saking banyaknya volume material letusannya (ada teori bahwa Rinjani purba dulu berpuncak ganda yang kemudian satu puncaknya habis dalam letusan superdahsyat berjuta tahun lalu), mereka bahkan membentuk endapan baru ketika mencapai laut, dengan banyak asap dan membuat perairan bergejolak, membuat dataran baru yang lebih tinggi daripada sekelilingnya.

Tinggi, tinggi sekali.

Lihat perbandingan dengan pengunjung yang sedang berjalan di sana itu!
Lihat perbandingan dengan pengunjung yang sedang berjalan di sana itu!

Seiring waktu, debur ombak dan angin menggerus bentukan batu ini sehingga menjadi seperti sekarang. Sampai saat saya berkunjung ke sana pun, proses abrasinya masih terjadi.

Kadang angin bertiup pada tebing-tebing itu, menggerusnya, menjadikannya pasir yang bertumpuk di sebelah bawah sebelum akhirnya, bila ada pasir yang terjangkau, tersapukan oleh ombak.

Kadang mereka tersapukan.
Kadang mereka tersapukan.

Proses itu menimbulkan bunyi yang agak mengerikan karena mereka semua bergema. Beberapa kali fenomena itu terjadi ketika saya ada di sana. Sangat dramatis, melihat pasir itu jatuh dan membentuk gundukan yang mulus seperti gunung kerucut di pinggir pantai.

Gundukan pasir yang masih terus tumbuh.
Gundukan pasir yang masih terus tumbuh.

Hal yang unik dari Pantai Tebing, dan yang menjadikannya nge-hits di kalangan kanaq Lombok adalah tebing ini tinggi sehingga jadinya terlihat megah banget. Saya sejenak berpikir kalau ini situasinya seperti di Mesir atau daerah Mesopotamia dengan bukit-bukit berwarna serupa ini, serupa tanah yang gersang. Kalau fotonya diambil dalam sudut yang tepat, pasti yang tampak adalah semua tebing itu tanpa menyisakan pasir dan laut biru yang ada di sisi sebelah.

Menurut saya ini mirip dengan Mesir...
Menurut saya ini mirip dengan Mesir…
Tuh, kan.
Tuh, kan.

Padahal, tebing ini tidak terlalu panjang. Mungkin cuma 200m sampai 250m. Di sebelah sana ada pantai yang seperti pantai pada umumnya, berkontur landai dan bisa dijadikan tempat mandi-mandi. Di sebelah sananya lagi, di sisi lain teluk, perahu-perahu nelayan berjajar, bersiap untuk melaut malam nanti.

Balik kanan, pantai landai.
Balik kanan, pantai landai.

Ah, sejauh mata memandang dan panorama yang bisa saya lihat sudah sangat bermacam-macam! Seru, ayo kita lanjutkan penelisikan :hehe.

Kedua, pasir pantai ini hitam. Kok bisa, ya? Padahal tebingnya punya warna seperti tanah di Mesir sana :hehe. Apa ini mungkin ada kaitannya dengan lahar yang mencapai laut, mengingat di bekas jalur lahar dingin gunung berapi, umumnya menjadi tempat penduduk menambang pasir hitam berkualitas tinggi? Mohon maaf, saya awam soal ilmu geologi jadi penjelasan ini malah semakin membuat saya bertanya-tanya.

Buat yang butuh penegasan soal pasir hitam.
Buat yang butuh penegasan soal pasir hitam.

Saya takjub, dan tempat ini memang menakjubkan. Sejauh ini, Pantai Tebing terkenal sebagai tempat yang cocok banget buat dijadikan tempat pemotretan dengan latar yang spektakuler. Tak heran banyak orang yang kemari, silih berganti, dengan tujuan yang sama (dengan saya): foto-foto.

Foto-foto dalam berbagai pose (nb. galakan fotografernya :haha).
Foto-foto dalam berbagai pose (nb. galakan fotografernya :haha).

Cuma, yang saya masih belum bisa paham adalah beberapa tangan pengunjung sepertinya lebih gatal dari tangan manusia pada umumnya. Beberapa bagian tebing bertuliskan nama-nama pengunjung! Sepertinya mereka adalah tipe orang yang kepengin sekali terkenal dengan cara mudah—meninggalkan nama di tempat yang sering didatangi orang.

_MG_7317
H. Warid dan Hamdi… oh.

Ya kalau namanya ditinggalkan di buku tamu sih tak apa, kalau namanya diukirkan di objek wisata itu kan namanya tindakan perusakan :hadeh.

Saya cuma bisa mengelus dada… ngurut dada.

Satu lagi keunikan pantai ini, menurut papan informasi di sana, adalah adanya fragmen koral yang ditemukan di dinding tebing. Menurut si papan, koral itu berasal dari tsunami tahun 1815 hasil letusan Gunung Tambora. Jadi, saya membayangkan, saking besarnya energi letusan itu, gelombang tsunaminya bahkan sampai menerpa pesisir utara Lombok ini, membuat koral-koral bawah laut beterbangan dan mendarat di daratan.

Proses alam yang sudah saya ceritakan di atas tadi membuatnya kini berada sebagai bagian dari dinding tebing itu, dan bisa dilihat sampai sekarang. Kemarin sih saya tidak terlalu memerhatikan, tapi memang ada batu-batu putih aneh yang menyembul di dinding tebing.

Mungkin beberapa dari fragmen koral itu tertangkap kamera di gambar ini.
Mungkin beberapa dari fragmen koral itu tertangkap kamera di gambar ini.

Yah, semoga saja tangan-tangan gatal tadi tidak ikut mencongkel-congkel koral itu karena dianggap mereka adalah buah tangan yang bisa dibawa pulang.

Selain itu, saya agak menyayangkan tingkah para pengunjung yang sepertinya terlihat sangat hebat kalau mereka bisa berfoto di dinding tebing. Tebing-tebing ini memang bisa dipanjat, dan di beberapa tempat ada lokasi yang bisa dipijak. Tapi mengingat ini tebing pasir yang terus mengalami proses alam, agaknya sedikit bahaya kalau pengunjung naik ke sana dan berfoto, terlebih di sini belum ada guard rail pengaman. Bagaimana kalau tebing itu tak kuat menahan bobot tubuh pengunjung, dan akhirnya runtuh?

Kalau saya, sih… karena saya sadar diri ini gemuk, jadi saya berfotonya dari bawah saja, deh. Toh cakepnya sama, bisa berpose ala-ala juga, dengan properti berupa batang kayu yang tampak seperti fosil banget :hehe.

Pose ala-ala :haha. Doraemon!
Pose ala-ala Doraemon!

OK, jadi siapa yang mau mengisi liburan di Lombok dengan bertualang ke Pantai Tebing?

108 thoughts on “Pantai Tebing, Pantai Piroklastik

  1. ngemeng2 soal rembiga, trus aku keingetan sate nya dong, gar! mwahahahaha, anaknya ga jauh2 dari makanan. btw, itu pante banyak bener yak di lombok. aku cuman baru ke senggigi, kuta sama gili2an doang. duh kapan ya ke lombok maning? travelokaaaa endorse akik dong berangkatin ke sono! *ngayal* 😀 😀

    1. Iya, Rembiga mah sudah famous duluan dengan satenya Mbak, cuma mudik kemarin saya lupa makan sate Rembiga :hwee *terus menyesal*.
      Kayaknya sepanjang petak garis pantai di Pulau Lombok ini, kalau ada batasnya bakal jadi pantai sendiri deh Mbak :hihi. Ayo, ayo, ke Lombok lagi… :hehe.

    1. Sip, sama-sama! Memang pantai ini adalah destinasi yang wajib disinggahi ketika kita di Lombok :hehe. Sekarang lagi ngehits banget ini pantai :)).

  2. Entah saya juga harus apa dan bagaimana sama Indonesia ini. Selalu saja sering terjadi: nunggu bencana dulu baru sadar, nunggu masalah dulu baru berbenah. Ah kalau sudah bicara namanya uang itu kan ya, sudah buta semua.

    Ikut terkejut dengan betapa kerennya tebing-tebing itu. Dan betapa kecilnya kita! Semoga upaya TNGR membuahkan hasil, selama pintu bagi vandalisme dan sampah atau perilaku jahil lainnya ditutup rapat-rapat! Laiya, padahal kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, di tangan kita kan? Mestinya suara kita layak didengar pihak yang berwenang 🙂

    1. Iya Mas, memang kadang ada orang yang tidak menghargai harta karun tempat mereka tinggal, baru ketika harta karun itu hilang, mereka menjerit sedih–karena bukankah kita baru menghargai sesuatu setelah mereka tiada?

      Upaya penetapan Rinjani sebagai kawasan geopark dunia memang mulai gencar, banyak festival, pemetaan situs (di depan Museum NTB ternyata ada peta lengkapnya), dan penataan situsnya sendiri dengan pendirian papan-papan keterangan. Semoga hal itu menjadi kenyataan–paling tidak, untuk saat ini pamor Rinjani pasti akan sangat naik dengan penetapannya sebagai kawasan geopark. Semoga ketika itu terjadi, kita sudah lebih dewasa untuk menjaga rumah Dewi Anjani itu dengan lebih baik.

  3. duluuu rasanya pernah nyasar bawa mobil ke daerah itu, karena nyusurin pantai dari Senggigi munculnya di Bangsal, tetapi saat itu perut keroncongan jadinya melototnya nyari makanan bukan pantai hahaha…

    Bener kata Winny sekilas kayak Petra, bagus banget yaaa….

    BTW, kok ga pake jaket Gar? Harusnya Jaketnya pake doraemon hihihihi….

    1. Di Nipah ada banyak dagang ikan bakar lezat Mbak :hihi. Yep, saya juga mengiranya ini seperti di Mesir itu :hihi. Oh, untuk yang ini saya tidak salah kostum karena sudah dipersiapkan sebaik mungkin :haha.

  4. Gara, jadi begini ya:
    1. Saya sudah ke Malimbu, tapi… belum pernah ke Senggigi *nunduk malu*
    2. Apakah di Lombok area pantai bisa dimiliki properti pribadi? Jika demikian adanya, sungguh menyedihkan! Kasian rakyat Indonesia yang tinggal di negeri kepulauan tapi gak punya akses untuk menikmati pantainya sendiri T_T
    3. Pantai Tebing ini sungguh marvelous! Magnificent! Thanks for sharing (y)

    1. 1. Ayo Mas, kita mesti segera ke Senggigi!
      2. Menurut saya tidak boleh. Seharusnya juga tidak boleh. Tapi fakta bahwa saya selalu diusir satpam ketika menjejakkan kaki di lahan pantai yang di depannya ada hotel atau vila pribadi membuat saya mesti berpikir dua kali kalau mau halan-halan ke sana. Diusir terus, diusir terus… *ngelus dada*.
      3. You’re welcome! Mirip seperti di Petra ya Mas :hehe.

  5. Wah,, pernah liat pantai tebing di My Trip My Adventure di trans..
    Sambil ngebayangin lari-lari di pinggir pantai pake backsound Paradise nya Coldplay gitu.. Hihihi
    Dri tv aja udh keren banget. Ternyata kamu udah kesana…
    Aaahhh,, mauuuuuuuu!

    1. Saya malah baru tahu kalau tempat ini sudah masuk MTMA Mbak :hihi. Syukurlah, saya sudah pernah menjejak di sana, sangat tidak menyesal, apalagi ke sana tidak susah, aksesnya cukup bagus :)).

  6. Baca ini jadi takjub, banyak sekali pantai di Indonesia ya..dan yang ini super keren. Aduh itu siapa sih H. Warid dan Hamdi – perusak banget, gemes deh melihat daerah cantik jadi rusak gara-gara ego manusia – so not cool..

    btw, bukannya sekarang lagi disiapin Undang-Undang yg memperbolehkan WNA untuk punya property di Indonesia ya?

    1. Mungkin mereka berdua adalah dua orang yang tangannya lebih gatal dari tangan manusia lain pada umumnya Mbak :hehe.
      Ya, saya dengar berita soal itu. Jujur kalau dari hati kecil ini saya tidak setuju. Tanpa aturan seperti itu saja harga properti sudah meningkat banget, sudah tak terjangkau masyarakat Indonesia, apalagi kalau aturan itu menjadi kenyataan? Tapi ya sudah sih ya, buat sekarang kita lihat saja dulu jadinya akan seperti apa :hehe.

  7. Gara itu mah mirip Petra di Yordania.. Bagus yaa pantai sama tebingnya.. Tp bener kata ko arman, kalau pasirnya putih pasti lebih keren *sirem oake bayclin*

  8. Astagah nagah Gaaar.. Bagus bener ituuu. Kalo ke Lombok suatu saat nanti akan gw buka postingan ini! Beruntungnya dirimu yang tinggal di sana ya.
    Itu ngelihat perbuatan vandal kok gemes banget ya gw. Semoga dibales ama tuhan deh..

    1. Amin ya Mas… lha kalau rumah dicoreti dindingnya pakai spidol saja kan yang punya pasti marah banget. Heran lho, sama sekali tiada rasa memiliki. Padahal yang berkunjung ke sini masih kebanyakan orang lokal, wisatawan luar daerah dan mancanegara masih agak jarang.

  9. Wah menarik banget pantai satu ini Gara, apalagi kalau ditilik sejarah terbentuknya. Pengen ah kesitu, seandainya nanti main-main ke Lombok lagi. Temenin yaaa *request*

    Btw, aku agak-agak serem sebenarnya melihat tebingnya, ngeri kalau pas lagi di bawahnya tiba-tiba longsor. Aku penasaran sama papan penjelasannya, sayangnya gak bisa dizoom, padahal aku tertarik sama penjelasannya hehehe …

    O iya Gara sempat melaut di situ gak? Gimana underwaternya, ada reviewnya? Suka gatel soalnya kalau liat pantai hehehehe …

  10. Kalau dilihat-lihat keadaan pantainya masih sepi, masih terlihat alami. Biarkan saja tetap seperti itu tidak usah dikelola buat wisata. Soalnya biasanya pantai yang sudah dibangun ini dan itu bakal ngrusak keseimbangan alam. Btw klo dipikir-pikir saya ini kurang gaul lho cuma sekali doang ke pantai. Itupun pantai kuta yang sudah kotor dijaili ulah manusia. Ntar klo ada dana dan orang2 yg wisata ke lombok pasti saya ikutan deh…

  11. kapan bisa ke lombok yah? sedang membayangkan, dan merencanakan dalam angan. setiap kali dengar lombok yang keinget mesti pantai-pantai dan snorkeling. tebing pantai itu serem banget kalau dilihat-lihat, kayak monster *keseringan nonton pirates carribean*. emang mirip yang di film jack sparrow itu. tulisan-tulisan yang norak di tempat wisata kayak gitu entah maksudnya apa ya? saya sampai sekarang juga belum paham motivasi orang-orang yang suka nyoret-nyoret pake nama mereka dengan tulisan jelek lagi. mungkin ada yang bisa jelasin ke saya, mungkin.

    1. Aih, imajinasimu keren Umami :hehe.
      Ya mungkin mereka ingin dikenang :haha. Ada sebagian orang yang pada dasarnya kepengin terkenal tapi mereka belum mau repot berusaha sekuat tenaga, sehingga memilih cara-cara yang mudah :)).

  12. ada rencana setelah lebaran ini gar ke lombok mudahan jadi, mau ketemu teman juga disana makasih infonya yaaa untuk jelajah lebih luas lagi nanti tentang pantai ini

    1. Sip, jangan lupa tandang kemari Mas, bagus pantai dan tebingnya, sambil mandi-mandi bisa lihat keajaiban alam yang bagus banget :)). Siap, sama-sama, terima kasih juga sudah mampir dan membaca! :)).

  13. Ya ampun cakepnya Indonesia gak ada abis-abisnya.. aku liat foto2nya aja mangap, apa kabar kalo ke sana langsung!! Senangnya yg berkesempatan buat travelling kemana mana.. #envy

  14. pas liat foto pantainya yang pertama diatas kayak biasa aja… laut biru dan pasir pantai yang enggak putih.. tapi pas liat foto selanjutnya… ada bukit tinggi deket pantainya yang buat keren .. duh… itu foto dari atas bakal keren….

  15. Oo iya lupa, skarang domisili di Jakarta ya. Hahahaha dibikin penasaran, baiklah, kalau begitu harus main-main ke situ.

    Duuh ayo belajar renang, sayang banget tinggal di segitiga terumbu karang dunia kalau gak cibang cibung di laut …

    1. Hayoloh, masa sih? :haha (eh ini serius lho :haha). Jadi salah fokus kan saya, mau bahas pantai tapi jadi bahas ukuran tubuh :hehe.

      Pantai ini memang keren dan lagi happening banget di Lombok, Om. Kunjungan ke sini kudu musti lah pokoknya.

    1. Siap, sudah dilaksanakan ya Mas :hehe.
      Iya, memang jadi tantangan tersendiri kalau kemari saat musim hujan, tapi jalan yang berkondisi seperti ini tidak jauh kok :hehe.

    1. Ayo #explorelombok, Lombok itu seru! :hehe.
      Entah ya, motif ekonomi kayaknya jadi nomor satu, membuat semua seperti balik ke zaman kapitalisme klasik macam dulu itu ya… ah dirimu tentu lebih paham soal ini :hehe,

    1. Iya banget Mbak, saya juga dari tahun lalu mupeng banget kemari, syukurlah bisa kesampaian berkunjung ke sana :hehe. Tebingnya memang nggak nahan! :hoho.

  16. Wuih komenku gagal terpost. Baiklah akan saya ulangi dengan sabar! *tabok koneksi spidi yg lemot*

    Kalau aku ke sana, aku bakalan lincah ceria lompat sana sini berlevitasi lalu ber #ootd berbackgroundkan tebing ikzotik ituh! Haha.

    Ayok kak, gaya berfotonya dilebih-heits-kan lagi yak! Kalau perlu sini aku ajarin! HAHAHA..

    1. Iya Kak, tolong ajari aku bagaimana berfoto supaya tampak keren seperti dirimu :hehe. Paling pose saya kalau tidak ala Doraemon, ala Spongebob Squarepants… (itu ada di postingan selanjutnya sih :haha).

    1. Sepertinya demikian Mas, tapi tebingnya masih bisa dilihat dari pantai di kejauhan itu :)).
      Mungkin karena memang saat itu tidak ada orang kecuali saya dan mas-mas serta mbak-mbak yang foto-foto, Mas. Padahal lautnya sih cebur-able banget :hehe.

  17. wah baru tahu ada pantai keren begini di Lombok, satu lagi alasan untuk terus mengeksplor keindahan pulau ini. terima kasih informasinya, dan fotonya keren banget, duh!

    salam kenal! :))))

    Yuki

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!