Panel #23, Teras Pendopo Candi Penataran: Sekali Baik, Tetap Baik!

Si harimau mengeluarkan name tag dan memakainya. Tertulis: “Bhatara Kalawijaya – Kepala Biro Pengujian Pertapa.”

“Oh, demi Buddha!” Bubuksah menghentikan pemujaannya, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Ehem, selamat, Bubuksah! Kau berhasil lulus ujiannya. Kamu punya moral yang jauh lebih baik dari saudaramu. Kini kau berhak untuk pergi ke nirwana, bersama saya,” kata si harimau putih.

“Saya mau interupsi, boleh?”

Belum sempat juga Bubuksah menjawab. Mendadak suara lirih terdengar di belakang mereka. Si kerempeng, Gagak Aking, datang dengan kain panjang yang hampir terserimpet. Dari sorot matanya, kasihan juga kalau melihat pertapa kerempeng ini. Sedih sekali tampaknya.

“Silakan,” sahut Bhatara Kalawijaya.

“Saya merasa tidak adil,” kata Gagak Aking. “Saya juga melakukan tapa seperti Bubuksah–lihat saja badan saya sampai kerempeng begini. Bhatara tahu sendiri–saya hanya memakan makanan suci, sementara Bubuksah memakan segalanya, termasuk darah dan daging. Sudilah kiranya Bhatara memberikan saya jawaban atas tapa saya?”

“Ya… jawabannya: bagus sih, terima kasih,” jawab Kalawijaya. “Tapi yang namanya aturan, tetap aturan. Saya diinstruksikan untuk mengambil satu di antara kalian dari sebuah ujian. Setelah diuji, ternyata yang menang Bubuksah. Jadi saya harus membawa Bubuksah ke nirwana, sementara kamu tetap tinggal di dunia, karena kamu belum lulus.”

Kata-katanya agak menggantung. Jelaslah tentu ini sebenarnya bisa juga jadi ujian kedua untuk Bubuksah…

“Tidak, saya tidak mau pergi kalau sendiri,” jawab si usus serakah sambil tersenyum. Jika ada orang yang lebih pintar dari Kalawijaya, mungkin pertapa gemuk ini orangnya. “Saya dan Gagak Aking sudah berjanji untuk selalu bersama-sama. Kalau satu orang masuk nirwana, yang lain juga masuk nirwana. Kalau dia tidak bisa ke nirwana, saya tetap tinggal.”

Kalawijaya mendesah. “Nah, sekarang masalahnya ada di saya,” katanya. “Pesan Bhatara Guru, saya harus membawa satu. Dengan kata lain, saya cuma bisa ditunggangi satu. Sekalipun saya mau bawa dua-duanya, saya tidak bisa. Seperti tadi, saya cuma bisa ditunggangi satu.”

“Oh, itu soal gampang,” jawab Bubuksah. “Sekarang dengarkan aku.”

Kalawijaya kini yakin, bahwa memang pantaslah Bubuksah menghuni nirwana. Bukan nirwana sekadar nirwana, melainkan nirwana tertinggi.

“Ya sudah, naiklah. Jangan lupa pegangan kuat-kuat.”

teras-pendopo-23
Panel 23, Teras Pendopo Candi Penataran

“Sebenarnya saya juga bersyukur kalau kamu yang menang, Bubuksah,” kata Bhatara Kalawijaya.

“Oh iya? Kenapa bisa?”

“Kalau yang menang Gagak Aking, bisa saya pastikan bahwa saya akan lebih sulit terbang, karena kamu pasti berat kalau bergelantungan di ekor,” katanya.


Kiranya demikian interpretasi kreatif saya (bagian name tag itu tentu saja kreatif!) tentang Panel 23 di Teras Pendopo Candi Penataran. Kisah Bubuksah-Gagak Aking sendiri ada lima panel di sana. Kisahnya dimulai dari Panel 19, dan berakhir di panel ini.

Panel ini punya kesan tersendiri bagi saya. Humor kisah ini memang cukup menggelitik. Namun, di balik humor itu, nilai moralnya sangat dalam. Hebatnya, nilai moral yang dalam ini dibungkus ironi yang sangat manis akan penampilan (dan arti dari nama) dua orang pertapa bersaudara itu. Ironi ini juga bisa diartikan sangat menohok, dari bagaimana kebiasaan tapa dua bersaudara itu akhirnya paradoks dengan hasil yang mereka terima. Menggelitik dan menjadi bahan untuk diskusi panjang, jika saya boleh mengistilahkan.

Saya akan kembali membahas ini apabila panel 19 sampai dengan panel 23 sudah saya tuliskan semua dengan ala ala arkeolog, hihi.

Lagi-lagi janji yang belum juga saya ketahui kapan bisa saya penuhi.

Soal apa dan bagaimana nilai moral itu, saya kembalikan ke pertimbangan pembaca masing-masing. Nilai moral bukanlah doktrin yang bisa didefinisikan secara eksplisit, kata sebuah buku. Ia dirasakan, dan intensitasnya tentu berbeda pada setiap orang. Namun yang bisa dipastikan, nilai moral adalah konsep universal yang membuat rasa hangat di hati. Saya berharap seperti itu.

Kredit soal penomoran relief dan panduan dalam menerjemahkan relief Teras Pendopo saya berikan kepada dua ibu: Satyawati Suleiman dalam karya Lydia Kieven (2014: 209-210). Referensi ada di bawah, kebetulan sekali buku beliau baru saja cetak ulang di awal 2018 ini.

Akhir kata, ingatkan saya untuk mengumpulkan tautan pada postingan ini sebagai bahan ketika saya mulai menapak untuk membahas tentang Candi Penataran, langkah demi langkah. Semangat!


Referensi:
Kieven, Lydia. 2014. Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit: Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

14 thoughts on “Panel #23, Teras Pendopo Candi Penataran: Sekali Baik, Tetap Baik!

    1. Iya Mbak, sebab saya hanya mengambil panel terakhir, dan kisah Bubuksah di Teras Pendopo itu ada lima panel. Itu saya lakukan supaya tulisan saya tidak jadi terlalu panjang, hehe.
      Kebanyakan saya belajarnya dari buku Mbak, seperti referensi yang saya sertakan dalam tulisan ini, hehe.

Terima kasih sudah membaca, mari lanjut dengan diskusi di kotak bawah ini!