Oleh-oleh Pasar Manis yang Manis

Satu lagi pagi yang permai di Purwokerto.

Hari ini Gunung Slamet tidak terlihat lagi, karena mendung yang ada di atas gunung. Padahal kota sedang cerah ceria. Matahari cerah, tapi ini masih pagi, jadi belum terik. Nyaman dan, seperti yang saya sudah katakan berulang-ulang, permai sekali. Ah, saya berpikir, mungkin Gunung Slamet sedang bersembunyi sebentar, lelah menjadi penjaga kota. Semua benda sejatinya perlu istirahat. Termasuk sebuah gunung.

Pagi ini adalah pagi terakhir kami di kota Sang Bawor. Mbak Er, yang kemarin terceplos tentang sebuah pasar untuk oleh-oleh, akhirnya mengajak saya (setelah saya tagih) untuk cari buah tangan. Yang ada di pikiran saya tentu berupa makanan (jalan sama Gara berarti harus bawa banyak makanan) bagi teman-teman di kantor, atau keluarga di rumah. Namun berhubung keluarga saya semua ada di kampung, maka saya tentu pada akhirnya membeli oleh-oleh untuk saya makan sendiri.

Sesungguhnya saya di Jakarta juga belum punya siapa pun yang bisa saya bawakan oleh-oleh, sih. Kecuali teman kantor.

ke-pasar-membeli-oleh-oleh
Ke pasar membeli oleh-oleh.

Dari penginapan, kali ini kami mengambil arah yang berbeda. Kami naik angkot di jalan depan Pratistha Harsa ke arah barat. Belok kanan di lampu merah pada sudut Museum BRI, untuk terus melaju ke utara menuju tujuan kami.

Gedung Museum BRI barulah tampak dengan jelas di pagi ini. Pertama kali saya melewatinya adalah saat baru tiba dan kami berdua ada di atas becak jadi tak tampak terlalu jelas. Tambahan lagi, itu malam hari. Dengan mengabaikan logo BRI besar di depan, saya memerhatikan apa yang ada di belakang sana. Bangunannya jelas tua, tampak kolonial tapi anehnya ada sentuhan lokal. Warna bangunannyanya khas paruh akhir abad ke-18. Apa bangunan itu masih asli? Dan lebih lanjut lagi, apa yang ada di dalam sana? Apa yang ada di bawah pohon itu? Prasastikah?

Sayang sekali kami tak berhenti. Saya bahkan belum sempat mengolahnya di dalam kepala karena kami melewatinya tidak sampai setengah menit.

Angkot kami bergerak terus ke arah utara. Sepanjang jalan, ternyata banyak bangunan bergaya kolonial. Semua saya tatap dengan penuh minat, dari ujung ke ujung, sampai leher saya harus bolak-balik saking semangatnya. Wow, peninggalan kolonial itu memang terasa sekali megahnya. Di kota ini pun ada daerah perumahan kolonial, laksana Jakarta yang punya Kota Baru Gondangdia atau Malang dengan kawasan Ijennya.

Meskipun deretan bangunan itu cuma sepanjang satu jalan, dan beberapa di antaranya sudah berganti dengan bangun-bangunan modern, kemegahan masa lalu itu masih terasa. Pencerita-pencerita itu, langgam arsitektur rumah-rumah itu, seolah punya sekotak penuh cerita. Mereka menanti siapa pun untuk sudi diam di dekatnya, menyentuhnya, merasanya, dan mendengarnya.

“Di daerah sini memang banyak Gar, rumah-rumah tua,” Mbak Er yang tahu akan kegemaran saya dengan bangunan tua bercerita. Katanya, di dekat rumahnya juga banyak rumah kolonial seperti ini. Sekarang rata-rata dimiliki oleh masyarakat keturunan Tionghoa, dan difungsikan sebagai rumah tinggal.

“Tapi bangunan lamanya masih ada kan, Mbak?” Pertanyaan yang selalu saya ajukan setiap tahu bahwa ada bangunan tua yang dimiliki pihak swasta. “Masih berfungsi baikkah?”

“Beberapa sih iya,” kata Mbak Er. “Soalnya aku lihat bangunan itu dirapihkan lagi, jadi bagus. Bahan-bahan bangunannya kan memang bagus, Gar. Tapi nggak tahu juga deh, kalau yang lainnya, nasibnya bagaimana,” sambungnya.

Saya belum sempat menimpali karena kami ternyata sudah akan sampai di tempat tujuan kami. Sebuah daerah berpagar tembok, berpintu kecil menuju sebuah daerah lain di belakang yang beratap rendah. Semula saya sangsi sekali bahwa ini sebuah pasar. Namun sebuah plang dari Dinas Perdagangan, hilir mudik angkot dan kendaraan pribadi membawa barang dagangan atau para wanita dengan belanjaan, dan sederet panjang motor yang terparkir di depan memberi bukti bahwa ini sebuah pasar.

pasar-manis-purwokerto-1
Pasar Manis Purwokerto

Meskipun judulnya pasar, tidak ada pedagang yang menggelar lapak di pinggir jalan, sejauh yang bisa saya ingat. Tak ada kemacetan yang terlalu berarti juga. Angkutan umum yang datang dari daerah penghasil sayur-mayur di utara kabupaten, alih-alih tumpah ruah memadati jalan, datang silih berganti. Tentunya saya tidak tahu bagaimana keadaan dari lapangan parkir di samping pasar, di sana cukup ramai, tapi dari sini semua tampak masih ramai lancar, eh, maksud saya, terkendali.

Semua pedagang dan pembeli masuk ke area berpagar tembok dan beratap rendah itu dari sebuah pintu kecil. Saya tak tahu apakah di sisi sebelah ada pintu yang besar, seperti pasar pada umumnya, tapi dengan apa yang ada di depan mata saya, pasar ini kesannya tradisional sekali, seperti sudah bertahan sejak zaman dulu.

“Setahuku juga pasar ini sudah ada sejak lama, Gar,” kata Mbak Er. Ia juga menatap sekeliling, sebelum bercerita, “Ada bibiku berdagang bubur di dalam gang sebelah sana, laris sekali. Kalau aku datang, harus telepon dia dulu supaya disisihkan buburnya, soalnya kalau aku datang mendadak, biasanya suka habis.” Bubur yang dimaksudnya adalah bubur sumsum. Jelas bukan bubur ayam karena saya tahu kami berdua sama-sama tidak suka makanan yang satu itu.

“Bagaimana kalau kita datangi sekarang, Mbak? Ditelpon gitu, ini kan masih pagi.”

“Kalau mau datang ke sana, dari subuh Gar, jam lima. Jam segini pasti sudah habis.”

Oalah. Saya memutar bola mata dari balik viewfinder. Ya kalau begitu tidak usah cerita kan, Mbak, jadinya saya kan tidak mupeng.

Selesai mengambil foto, saya mendekati papan nama pasar itu. Sudah sepanjang ini dan saya bahkan belum begitu paham ini pasar apa namanya.

Pasar Manis.

“Pasar Manis?” tanya saya. “Jadi ada Pasar Asin, Asam, Pahit, dan Pasar Nano-Nano?”

“Bukan! Itu nama-nama hari pasaran!” sahut teman jalan saya yang satu itu sebelum memimpin jalan masuk melalui si pintu kecil.

parkir-motor-depan-pasar-manis
Parkir motor di depan Pasar Manis.

Ya saya juga tahu kalau ini nama pasar, Mbak, yang bilang ini nama kantor bupati itu juga siapa… oalah. Untung tak jadi saya ucapkan. Rupanya butuh waktu beberapa saat bagi saya untuk sadar kalau “nama pasaran” itu adalah “nama hari pasaran”, yakni (U)manis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Saya baru ngeh setelah ingat, semalam, di sebuah iklan yang ada di pinggir jalan, sebuah department store dibuka di lantai dasar Pasar Pon.

“He? Jadi di sini ada lima pasar?” Saya bertanya lagi.

Tak jelas apa jawaban Mbak Er, tapi sepertinya ia mengiyakan. Hm, tapi pikiran saya sudah lain. Terlepas dari banyaknya pasar, ini unik. Sepengetahuan saya, nama pasaran Manis/Umanis itu kini lebih dominan digunakan di Bali, ketimbang di Jawa (meskipun asalnya dari Jawa). Pasaran Umanis di Jawa lebih populer dengan sebutan Legi.

Untuk mencegah saya menganalisis ini dan pada akhirnya menjadi ahli primbon sejarawan Jawa, mari saya tutup paragraf ini dengan pertanyaan, “Apa ada alasan tersendiri di balik penggunaan kata Umanis, selain kemungkinan bahwa di masa lalu pasar ini hanya dibuka di hari ‘umanis’?”, sembari saya masuk ke dalam sana melalui pintu besi kecil ini.

Ternyata bagian dalam pasar ini sesuai dengan apa yang sudah saya duga dari luar tadi. Ia berlangit-langit rendah, dengan atap genting yang tampak ringkih karena pengaruh umur. Akibatnya, sinar matahari menembus di beberapa sudut pasar, membuat pasar ini terasa sangat tradisional.

Hm, saya tidak terlalu mengerti bagaimana proses belanja di sana karena Mbak Er sebagai yang berbelanja menggunakan bahasa Jawa. Saya cuma kebagian tugas bendahara untuk mengeluarkan uang. Kira-kira ada 45 menit kami di sana, mencari oleh-oleh dan bekal untuk perjalanan di atas kereta nanti.

Dan, inilah yang kami dapatkan di Pasar Manis!

Oleh-oleh Pasar Manis: Mini Nopia, Klanting, dan Satu Makanan yang Tidak Saya Tahu Apa Namanya

klanting-nopia-dan-makanan-yang-saya-tidak-tahu-namanya
Kue Mino, Klanting, dan satu makanan lain.

Ya memang saya tidak tahu apa namanya, masa mau dipaksakan.

Kami berhenti di sebuah pedagang berbagai macam makanan kecil. Saya melihat-lihat dan berusaha meminta Mbak Er supaya saya bisa mencoba beberapa dari makanan-makanan kecil itu. Banyak sekali jenisnya. Berplastik-plastik besar makanan disajikan di depan pedagang. Belum lagi berbagai jenis cemilan, dengan beragam bentuk, nama, warna serta rasa, termasuk yang sudah dikemas dengan berat tertentu, tertebar di depan si pedagang.

Surga banget untuk pecinta cemilan macam saya.

Dari semua itu, kami cuma memilih beberapa, seperti yang ada di judul bagian ini. Mino alias mini nopia, klanting, dan satu cemilan yang saya tidak tahu apa namanya.

Mino itu… seperti bakpia. Cuma lebih renyah, karena kulitnya lebih tebal. Isinya juga lebih dominan cokelat atau gula jawa, isian aslinya. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan kalau akan ada mino isi kacang hijau, isi keju, atau seperti yang sedang mainstream (banget), isi pasta green tea.

Mungkin kue mino ini dibuat dengan cara dipanggang. Bagian dasar kue itu tampak menghitam. Tapi tetap enak karena ia tidak gosong. Apalagi karena rasanya yang manis, membuat rasa pahit akibat gosong, jika ada, tidak terasa. Jujur, saya jadi penasaran dengan bagaimana cara mereka membuat makanan kecil satu ini. Mungkin kalau ada kesempatan tandang ke pabrik mino, saya bisa mengulasnya di sini.

Kue mino ini harganya sangat murah. Satu bungkusan itu cuma Rp4k. Bayangkan kalau saya tinggal di sini, mungkin saya bisa beli beberapa bungkus kue mino isi cokelat sebagai persiapan cemilan sebulan (atau dwimingguan). Jumlah itu masih akan bertambah kalau ternyata kue mino isi keju dan green tea sudah ditemukan. Mungkin ada yang mau memulai usaha kue mino isi green tea?

Yang satu lagi namanya klanting. Mungkin makanan ini terkenal di mana-mana ya, soalnya dulu sewaktu kuliah saya pernah dibawakan oleh-oleh ini dari teman saya yang berasal dari daerah Gombong (Kebumen). Namun, berbeda dengan kue mino yang cita rasanya manis, klanting ini cita rasanya gurih-gurih begitu, meski saya kira mungkin ada juga yang rasanya manis. Harganya juga relatif murah, sekitar Rp5k per bungkusnya. Satu bungkus kalau saya tidak salah isinya seperempat kilo, jadi jumlahnya juga lumayan banyak. Berguna sekali sebagai makanan kecil di hari Lebaran.

cemilan-khas-purwokerto
Cemilan khas?

Seseorang menubruk tas kamera saya dari belakang. Sambil kesusahan, saya meminta maaf. Terus terang, lorong Pasar Manis ini tidak terlalu lebar. Kalau seandainya pasar ini sedang ramai-ramainya, saya agak seram juga, pasti tumplek blek dan tingkat kesesakannya jadi maksimal.

Satu lagi cemilan dibeli Mbak Er untuk keluarganya di rumah. Warnanya cerah, oranye, mengingatkan saya pada makanan ringan bungkusan yang suka dibilang iklan TV sebagai “snek angin”, berinisial C tapi bukan C yang asalnya dari kentang iris (tahu dong ya :haha). Saya tidak sempat tanya apa namanya, belum sempat merasakannya juga. Namun saya sempat menculik bendanya sebentar untuk saya foto, karenanya saya bisa punya gambarnya :haha.

Makanan Berat: Jajanan Pasar, Ketupat, dan… Bumbu Pecel.

aneka-jajanan-pasar
Aneka jajanan pasar.

Jajanan pasar! Kami dapat beberapa, dengan harga yang lagi-lagi sangat, sangat murah. Mungkin inilah sebab kenapa tinggal di kota kecil jauh lebih sejahtera bagi beberapa orang ketimbang berjuang di kota besar. Harga-harga barang di sini masih sangat terjangkau. Agaknya, dengan gaji pas-pasan seperti saya pun bisa makan dengan nyaman di sini. Saya sampai sedikit terharu ketika tahu berapa harga yang harus saya bayar untuk semua ini: tidak sampai Rp10k.

Kami dapat bermacam-macam. Ada kue ku, kue bebongko, bakwan udang, risoles, dan roti kukus. Ada juga beberapa kue lain yang kini saat saya menuliskannya, saya sudah lupa apa saja namanya. Sebenarnya, penganan seperti ini bisa ditemukan di mana saja. Akan tetapi, mendapat semua itu dengan harga sangat terjangkau tentunya bagai hadiah besar untuk kami.

Mungkin si pedagang juga memang dikenal tidak mahal membandrol harga. Buktinya, selain kami, orang-orang juga mengerubuti pedagang kue-kue pasar ini, ikut memilih mana yang disukai. Beberapa orang bahkan rela menunggu agar kue yang diinginkan datang ke si pedagang dari pengrajin kue yang tersebar di seantero kota.

Ah, inilah pasar. Meski agak sesak, saya suka. Saya suka suasana pasar yang ramai, tempat jual beli yang berdenyut kencang, pasar yang hidup, dan menghidupkan dalam artian yang paling konkret: menjadi urat nadi bagi perekonomian masyarakat kota.

Ketika saya mencicipi kue-kue itu di atas kereta, rasanya sangat enak. Persis seperti kue-kue yang pernah saya rasakan di kampung dulu. Ada rasa rumah di dalamnya.

Mbak Er menawarkan untuk membeli makan siang yang akan kami makan di atas kereta. Saya mengiyakan. Pada awalnya saya mengira kita akan membeli nasi bungkus, atau semacamnya, tapi Mbak Er malah berhenti di depan dagang ketupat dan bertanya berapa harga satu ikat yang berisi tiga ketupat besar-besar. Harganya antara Rp3k sampai Rp5k.

Nah, ini membuat saya heran. “Mbak, kita di kereta nanti mau makan ketupat?”

“Ya iyalah! Kau kan belum pernah rasa bagaimana enaknya ketupat dari kotaku! Besar-besar lagi ukurannya,” Mbak Er menjawab cepat. “Bisa-bisa dirimu malah ketagihan nanti, Gar,” ia menambahkan sambil tertawa.

Saya diam sebentar sebelum menjawab, “Baiklah…”

Oke, sejujurnya saya sedikit menerawang bagaimana rempongnya kami nanti makan ketupat di atas kereta, tapi sudahlah, semua bisa diselesaikan sebagaimana mestinya jika saatnya sudah tiba, kan? Ya, kita memang selalu bisa.

Saya kira kita bakalan keluar setelah itu untuk mencari lauk makan ketupat. Entah di sebuah rumah makan atau pedagang makanan tradisional di pinggir jalan, atau di dalam pasar, jika ada. Tapi Mbak Er malah melanjutkan langkahnya menelusup lebih jauh seluk-beluk Pasar Manis (mbak yang satu ini kayaknya sudah hapal betul letak semua dagang), sebelum berhenti di depan sebuah kios di dalam pasar. Saya pelan-pelan membaca plang yang ada di atasnya, karena Mbak Er ternyata menyebutkan benda yang sama.

‘Sedia Bumbu Pecel’. Tentu, maksudnya adalah bumbu pecel setengah jadi.

Dengan ketupat, apa itu artinya…

“Mbak, Mbak!” tegur saya. “Kita nggak bakalan bikin pecel di atas kereta, kan?”

Itu terdengar sangat konyol, karena setelahnya, semua orang malah seperti hening sepersekian detik, sambil menatap saya dan mengerutkan kening, menunggu saya berpikir, untuk pada akhirnya sadar kalau pertanyaan itu… memang pertanyaan konyol.

“Ya nggak, lah! Ini buat suami dan anakku di rumah!”

Tentu saja kita harus cari lauknya di tempat lain, Gar. Memangnya kamu sudah tidak sabar kepingin makan ketupat itu? Lagian, kalau akhirnya bikin pecel di atas kereta, memang bikinnya mau pakai apa, Gar?

Pakai gigi?

Rasa-rasanya saya kok ya kepingin ada lubang besar membuka di tanah, untuk menelan saya dan tampang ini yang saat itu pasti sudah konyol sekonyol-konyolnya…

ketupat-dan-bumbu-pecel
Ketupat dan bumbu pecel.

Pelajaran dari Oleh-Oleh Pasar Manis: “Sate” Ayam yang Nendang Banget!

Terlepas dari saya yang saat itu memang sudah kepingin banget nangis guling-guling sambil jedot-jedotin kepala ke tembok, kami mulai dikejar waktu keberangkatan kereta menuju ke Jakarta. Menurut perhitungan saya, waktu yang kami miliki tinggal 70 menit lagi.

Sebenarnya 70 menit belum berarti harus khawatir banget-banget. Tapi supaya cerita (panjang) ini terlihat nyambung, katakan sajalah bahwa itu artinya, kami harus sedikit mempercepat pergerakan kami. Kami mesti segera melengkapi apa-apa yang belum terbeli sebelum akhirnya menyudahi kunjungan.

Sejauh ini bawaan saya sebenarnya sudah lumayan. Lumayan berat. Beruntung, kamera itu urung saya keluarkan di dalam pasar lantaran tangan sendiri sudah mulai penuh dengan beberapa tas kresek. Entah bagaimana jadinya kalau ada DSLR tergantung di leher, sementara ketupat, bumbu pecel, jajanan pasar, dan oleh-oleh ada di kedua tangan.

Tapi kunjungan masih belum selesai, Saudara. Mbak Er masih berjalan masuk ke dalam Pasar Manis. Ia seperti mencari sesuatu, bahkan sempat bertanya pada seorang pria paruh baya. Tentu saja saya tidak mengerti apa yang ditanyakan soalnya dalam bahasa Jawa. Namun menurut saya, jawaban yang diberikan bapak-bapak itu kurang begitu memuaskan.

“Yah Gar, dagang sate ayam langgananku sedang tidak jualan, padahal aku kepingin kasih lihat yang itu, enak lho satenya,” sesalnya.

“Heh? Sate ayam?”

Saya tidak menambahkan apa-apa lagi. Khawatir, nanti dugaan saya terlalu berlebihan dari apa yang sebenarnya akan terjadi. Tapi, di antara kita saja ya, ya masa kita mau makan sate ayam dan ketupat di atas kereta?

Meskipun kalau saya berkata yang sejujurnya, sebenarnya asyik juga sih, ide sate ayam itu. Saya sangat tidak menolak makanan-makanan enak. Kendatipun, jujur saja… sepertinya agak eksentrik, kalau makan sepiring sate ayam lengkap dengan bumbu kacang itu di atas kereta eksekutif Purwokerto–Jakarta.

Apa saya perlu mencari tilam buat digelar sebagai alas piknik?

Mendadak, Mbak Er ingat sesuatu. “Oh ya, di dekat pintu keluar sana ada. Kita beli di sana saja. Memang tidak seenak yang di dalam sini, tapi rasanya hampir-hampir samalah,” katanya sambil memimpin jalan.

Saya bagaikan hulubalang kebingungan yang sedang tersasar di belantara membingungkan. Akhirnya saya punya penunjuk jalan yang sudah kenal betul situasi dan kondisi hutan belantara ini. Jelas, hamba tak bisa melakukan hal lain selain turut. Ikut, Bunda Ratu!

Ternyata Mbak Er menghampiri seorang wanita tua berkebaya yang sepertinya baru tiba di lapak dagangannya. Jualannya, yang saya lihat dari sini berupa satu kardus tua bekas mi instan yang belepotan noda arang di sana-sini, belum digelar di atas meja. Meja itu sendiri berperlak kembang-kembang yang juga banyak noda arang, dan bumbu yang sudah mengering meski terlihat sering dilap.

Namun benar agaknya, bahwa penampilan memang bisa menipu, meski aroma tak bisa berdusta. Aroma ayam bakar yang wangi manis pelan-pelan masuk ke indra penciuman dan berusaha untuk bisa saya nikmati. Mbak Er bercakap-cakap ramah dengan wanita tua itu dalam bahasa Jawa, layaknya pembeli yang datang ke sebuah kios disambut si penjual. Tak sampai seberapa lama, tangan-tangan yang tampak sangat keriput itu membuka pelan kardus berisi hidangan yang ternyata penuhnya tak sampai setengah.

Sate ayam yang jauh sekali dari dugaan saya tentang sate ayam Madura yang biasa saya jadikan makan malam.

sate-ayam-khas-purwokerto
Sate ayam yang satu itu. Ah, saya rindu.

Mungkin ini lebih cocok disebut sebagai daging ayam bakar yang disate. Dagingnya besar-besar, sampai saya bingung mau memilih yang mana. Dan ternyata, ada jenisnya, ada sate bagian dada, paha, bahkan bagian leher. Banyak sekali, dan aromanya sangat nikmat.

Mbah yang menjual ini bertanya pada saya mau memilih yang mana, tapi karena saya tidak mengerti bahasa Jawa, saya cuma cengengesan saja sebelum akhirnya Mbak Er menerjemahkan.

“Oalah,” saya tertawa. “Maunya yang dada.”

Untunglah si Mbah bisa berbahasa Indonesia meski cuma sedikit jadi saya diberi kesempatan memilih yang saya sukai. “Ini dibuat sendiri ya?” tanya saya, sebenarnya lebih pada diri sendiri, tapi pertanyaan itu malah akhirnya diterjemahkan oleh Mbak Er, dan ditanyakan kepada si Mbah.

“Iya Gar, bikin sendiri katanya, bangun dari jam empat.”

Saya mengangkat muka, agak keheranan, sementara si Mbah senyum-senyum. Saya lupa bertanya, karena agak takjub dengan ini (saya orangnya (agak) ndeso (banget) jadi agak gampang takjub), tapi tentunya semua itu tidak ia lakukan sendiri, kan? Pasti ada yang membantu, kan?

Iya, kan?

Pada akhirnya kami membeli empat tusuk sate ayam. Tiga untuk dua orang (tak usah ditebak siapa yang makan dua), dan satu tusuk lagi rencananya mau dibawa Mbak Er untuk diberikan pada anaknya di rumah. Harganya sangat murah, satu tusuknya cuma Rp4k. Saya jadi agak bersalah kalau harga yang seterjangkau itu adalah upah untuk bahan baku, tenaga, dan usaha yang dilakukan seorang wanita berusia senja. Wanita yang sama harus bangun setiap hari pukul empat untuk menyiapkan dagangan yang tidak seberapa.

Dan ngomong-ngomong soal jumlah yang kami bayar, ia bahkan menyuruh kami untuk membayar Rp15k saja, alasannya sebagai penglaris karena baru mulai berjualan di hari itu.

Hah, saya jadi menghela napas dan agak merenung lagi kalau memikirkan wanita tua itu. Ia saja bisa bertahan, melakukan semua yang ia bisa lakukan. Tapi ia tetap bertindak, melakukan sesuatu, dengan sinar mata yang baik dan penuh semangat, menghabiskan hari-hari di kota kecil pada barat daya Yawadwipa.

Secara tidak langsung, ia sudah memberi pelajaran pada saya. Bukan dengan cara klasikal, tapi melalui usaha yang ia lakukan, keramahannya saat menghadapi pembeli, dan tangan keriputnya yang kadang gemetar saat mengeluarkan sate-sate ayam itu dari dalam kardus.

Ia mengajari saya tentang bagaimana arti bertahan, dalam artian yang sesungguhnya.

belajar-dari-sate-ayam
Belajar dari Sate Ayam.

Catatan:
Tulisan ini berdasar perjalanan tahun 2015. Kini (Tahun 2017) Pasar Manis sudah dimodernisasi. Bangunannya sudah baru, tidak lagi beratap rendah. Lantainya pun bukan lagi tanah. Di Kabupaten Banyumas, kini Pasar Manis digadang sebagai prototipe pasar modern. Saya belum membahas pasar ini setelah dipermak, jadi saya belum punya komentar apa pun.

50 thoughts on “Oleh-oleh Pasar Manis yang Manis

  1. Hmm.. Kayakny sate ayamnya enak, makanan/kuliner di daerah jawa gitu biasanya masih murah meriah, dari segi rasa jg enak2.. hebat ya siibu penjual sate itu.. Perjuangannya memang patut kita jadikan teladan, semoga diberi kemudahan dan berkah rezekinya..

    1. Tapi kan banyak Mas, haha. Kalau begitu nanti kalau saya main ke Yogya, ke pasar tradisional ya kita! Kalau Mas beli banyak, kan bisa saya makan kelebihannya, haha.

  2. Segitu banyaknya kamu beli mas? hahahhahahah
    Biasanya kalau di daerah sana emang Klanting itu camilan khas sana.
    Sepertinya kamu harus ke sini lagi mas. Siapa tahu bangunan tua di sana melambai-lambai loh 😀

    1. Iya Mas, buat cemilan di kereta, haha. Iya ya, saya agak jarang melihat Klanting di daerah lain. Boleh nih jadi objek penelitian.
      Betul banget! Bangunan tuanya menggoda sekali. Sejarah Karesidenan Banyumas memang perlu sekali buat ditelisik dan diulas lebih dalam, hihi.

  3. Duhhh aku lemah kalo liat jajanan pasar, pengen borong semua rasanya. Tapi perut ga cukup 😀 Eiya jadi ketupatnya dimakan bareng sate, Mas? Atau beli lauk lain? Repot ga di keretanya? *ngebayangin

    1. Borong saja Mbak, kan dimakannya nggak sekaligus juga, hihi.
      Betul sekali, dimakan dengan sate! Kami tidak beli lauk lain, haha. Repot sih tapi ya sudahlah ya, pede saja. Kalau mau pinjam piring atau sendok bisa melipir ke gerbong restorasi, hehe.

  4. Lha di pasar tradisional emang semuanya serba murah mas gara. Jangan dibandingkan dengan di jakarta, pasti jauh berbeda. Masalahnya pedagang di pasar itu tidak berpikir untuk mengembangkan usaha, jadi seolah diam saja. Sehingga pas dagangannya mulai ketinggalan jaman, mereka kebakaran jenggot sendiri. Seandainya saja ada pelatihan2 untuk pedagang2-kecil, tentu kesejahteraan mereka akan semakin baik.

    1. Ayo Mas, sebagai seorang pedagang dan penulis berikan pelatihan bagi pedagang di sekitar kita, hehe. Mudah-mudahan dengan teknologi dan pemikiran yang terus berkembang, kesejahteraan pedagang pasar tradisional dapat semakin meningkat.

  5. Saya pikir membaca judul di awal, oleh-olehnya manis semua.
    Setidaknya Gara ketemu sosok ‘manis’ di pasar, tapi semua oleh-oleh itu memang terasa manis di mata.

    1. Manis di mata, di lidah, dan di kantong juga Mbak, hehe.
      Saya setuju, kita bisa belajar di mana saja, dengan siapa saja, jika Tuhan mengizinkan, hehe.

      1. Pasarnya ramai hanya 5 hari sekali, walaupun tiap hari ada penjual, tapi gak seramai saat hari nama pasar itu. DI Purwokerto juga ada Pasar Wage, tapi saya belum pernah masuk, hanya lewat saja..hehe
        Pernah diceritakan kalau penjual jaman dahulu itu pindah-pindah saat jualan, jadi setiap satu hari jawa, itu satu pasar.

        Pas saya di Aceh juga pasarnya seminggu sekali di tiap kecamatan, jadi setiap hari penjualnya berpindah-pindah juwalannya dari satu kecamatan ke kecamatan lain.

    1. Betul Mas, di pasar ada banyak dinamika manusia, ekonomi, sosial politik serta hukum pun ada. Banyak kenangan juga di sana, hehe. Sepertinya kunjungan ke pasar tradisional memang harus dirutinkan ya.

  6. Sesungguhnya saya di Jakarta juga belum punya siapa pun yang bisa saya bawakan oleh-oleh, sih. Kecuali teman kantor —> polos sekali kalimat ini, haha.

    Di Malang ada pasar macam gini, bersih, sekitar 2 tahun silam dinobatkan pasar tradisional terbersih se-Indonesia, … namanya. Tunggu, ya, masih jadi draft, nanti kupublikasikan. Kalau ke Malang lagi, kuajak ke sana, bubur Sumsumnya nikmat. 😀

    1. Saya memang polos dan lugu, Kak! Haha.
      Oke, jangan lupa mention saya di Twitter jika tautannya sudah siap, ya. Sekarang sudah jarang buka Reader jadi takutnya terlewat, hehe. Oke siap-siap saya tagih janji makan bubur sumsum! Hoho.

  7. Gara kalau mau bawa oleh2 silakan bawa aja, nanti saya siap nampung, hahaha!

    BTW kebalikan dengan Gara, saya malah jarang ngemil, apalagi yang manis-manis. Tapi kalau sudah terhidang ya bakal dinikmati. Tapi saya memang paling suka kunjungan ke pasar tradisional apalagi yg jual makanan2 eksotis suatu daerah, paling seru malah interaksi sama orang2nya sih 🙂

    1. Siap Kak! Saya siap berkabar kalau ada kelebihan oleh-oleh, hihi!
      Iya Mas, melihat masyarakat lokal itu membawa banyak manfaat. Memang belajar dari sesama manusia adalah yang paling utama. Hikmahnya itu lho, nggak nahan! Hoho.

  8. Klanting yang mirip angka delapan Gar? Di Bukittinggi dan Payakumbuh juga ada cmilan yang mirip angka delapan namanya karak kaliang, tidak manis juga, penasaran sama rasanya, mungkinkah sama

  9. ohh pasar manis dari hari jawa toh .. hehehe.. kirain penjuanya manis 😀
    tiap daerah memiliki makanan2 khas .. saya baru tahu ada camilan mino .. tapi satenya beda banget dengan sate2 yang ada di Jakarta … penasaran … kalau ke purwokerto mesti nyobain sate ini

    1. Ayo, disegerakan. Sekarang pasarnya sudah bagus, bangunannya baru, penataannya juga sudah apik. Tapi harga barangnya tetap murah. Makin senang deh belanja di sana.

  10. di dekat rumahku ada pasar wage panggul, pasar terbesar di trenggalek. pasar yang berdenyut setiap limaa hari sekali. dan allhamdulilah, pasar itu tempat aku di besarkan,.. aduh… ini sduah lebaran, aku sungkem kepadamu, gar. Maaf lahir batin.

    1. Bukanya masih lima hari sekali, Mas? Uniknya. Saya jadi ingin datang ke Trenggalek dan meneliti pasar, haha. Tapi kapan dapat waktunya ya…
      Minal aidin wal faidzin juga ya Mas. Mohon maaf lahir batin, siapa tahu saya punya salah-salah, baik disengaja atau tidak. Semoga ibadahnya Ramadhan kemarin diterima dengan baik oleh Tuhan ya Mas, amin.

      1. Kalau di rumahku pasar wage, gar. Di kecamatan sebelah ada pasar kliwon. Dan sebagainya. Pokoknya mengikuti pasaran jawaaa. Sejarahnya dulu dr peninggalan kerajaan Mataram.

  11. Wah, jadi kangen sama klanting. Dulu waktu kereta masih semrawut, pedagang bisa masuk kereta. Tiap lewat Purwokerto pasti ada pedagang yang naik jualan klanting. Sekarang saya pergi Bandung-Madiun ga ada yang jualan di kereta, haha. Jadi gak bisa nostalgia deh.

    1. Kebijakan melarang pedagang untuk naik dan turun seenaknya begitu ada positif dan negatifnya ya Mas, hehe. Menurut saya semestinya pedagang-pedagang seperti itu diberi tempat berjualan, jadi makanan yang nostalgia atau kudapan yang enak seperti itu bisa terus dapat dinikmati.

    1. Iya Mbak, saya mesti ke Purwokerto lagi nih, sudah kangen, haha.
      Wkwk, iya, kuliner artis ini diam-diam membayangi dengan modernisme yang mulai menggeser tradisi yang melekat di sana. Doh ngomong apa saya ini.

    1. Wah mohon maaf, saya belum mengulik sampai sejauh resep membuatnya, haha. Mungkin saya harus datang ke sentra pembuatan penganan-penganan tradisional ini, ya. Terima kasih atas umpan baliknya, hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?