Nostalgia Jelajah: Pengalaman Pertama Naik Railink di Medan

Adalah sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan bahwa pada akhirnya saya menjejakkan kaki di Kota Medan, kota terbesar di Sumatera Utara. Dengan ini, genap ada tiga kota di Pulau Sumatera (itu ganjil!) yang sudah saya kunjungi (sampai saat itu). Metro, Meulaboh, dan yang terakhir ini, Medan. Kebetulan yang menyenangkan pula bahwa ketiga kota itu diawali dengan alfabet yang sama. Dan lagi, seakan belum cukup, satu kebetulan lagi yang sangat menyenangkan adalah bahwa saya kembali menjelajah bersama Mbak Din, rekan seperjalanan semasa di Meulaboh dulu.

Baca juga: Menyapa Meulaboh

Rasa-rasanya seperti mengulang kembali petualangan kami berdua ketika menyusur jalan raya dari Meulaboh sampai Banda Aceh. Saya jadi tak sabar, jika untuk Medan, apa-apa saja tempat unik yang akan saya pintasi dalam perjalanan kali ini? Tak sabar rasanya untuk bisa menceritakan semua. Cuma, tak perlulah berpanjang-panjang. Satu-dua ribu kata pun cukuplah.

Tentu saja, kami berdua mendarat di Bandara Internasional Kualanamo.

bandara-internasional-kualanamu-medan
Bandara Internasional Kualanamu Medan, di sisi udara.

Saya tak pernah menyangka akan kembali ke bandar udara ini dan mendapat sensasi yang berbeda. Dulu, bisa transit dan melihat langsung bagaimana bagian dalam bandara ini saja sudah membuat saya bahagia. Dalam kedatangan yang kedua ini, penjelajahan sampai dengan pintu keluar membuat rasa penasaran saya makin besar. Apalagi, ketika saya tahu bahwa transportasi menuju kota (yang akan menempuh jarak sekitar 39km) akan menggunakan kereta bandara pertama di Indonesia: Si Railink.

Rasanya bahagia dan bersyukur sekali. Ini pengalaman pertama saya naik kereta dengan bandara dalam negeri sebagai tujuan terminusnya. Ini pula pengalaman pertama naik kereta di luar tanah Jawa. Rasa senang dan syukur sungguhlah terasa. Mudah-mudahan, pengalaman-pengalaman seperti ini akan terulang lagi di masa depan.

Keterpukauan saya dengan bandara internasional kepunyaan Sumatera Utara ini tidaklah perlu diragukan lagi. Ia begitu bersih, lagi pun rapi. Ia terkesan futuristik, akan tetapi tanpa meninggalkan nilai lokal. Sejauh ini, bagi saya Kualanamu adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Sangat berkesan melihat bagaimana bandar udara seperti ini bisa ada di luar Indonesia, dan di luar Jawa. Tak sia-sia pajak yang dibayar seluruh komponen bangsa jika pembangunan bisa sebaik dan sebermanfaat ini.

Kabin Menunggu

Dari pintu kedatangan kami bergerak keluar. Sepanjang jalan saya tak henti mengagumi betapa besarnya bandara ini. Saking megah dan tinggi langit-langitnya, orang-orang yang ramai di sekeliling saya tampak kecil. Sepanjang jalan ada beberapa bapak menawarkan transportasi menuju kota. Kami menolaknya dengan halus. Beberapa bus Damri menunggu di sebelah kanan jauh, siap membawa penumpang ke sebuah tempat yang tak dapat dengan jelas saya lihat dari sini.

Stasiun keberangkatan kereta ada sekitar lima puluh meter dari pintu keluar. Baru masuk, saya terlalu takjub gara-gara saya justru berasa ada di luar negeri, alih-alih di sebuah kabupaten yang bertetangga dengan Kota Medan.

Futuristik agaknya memang kata yang tepat. Koper-koper dibuat melayang di atas langit-langit, sangat mengesankan bahwa ini tempat untuk memulai traveling. Menurut saya koper yang melayang ini sudah bagus banget, meski kata Mbak Din, di luar negeri sana ada yang lebih bagus penataannya dari ini. Sayang, sekalinya saya keluar negeri, saya tidak menjumpai koper-koper melayang sehingga belum bisa membandingkannya.

Konter tiketnya pun sudah bagus banget, sejauh yang saya ingat. Ada ticketing vending machine juga, kalau saya tak salah. Harga tiket memang agak mahal, Rp100k waktu saya ke sana kala itu. Bukan tipe transportasi yang akan saya naiki jika saya menyambangi bandara ini secara reguler. Namun, menurut saya harga tiketnya cukup pantas dengan fasilitas yang kami dapatkan, seperti ketepatan waktu dan kebersihan kabin.

Kami menunggu di ruangan yang besar dan bersih. Di dekat kami ada minimarket, beberapa kios lain sepertinya belum ada penyewanya. Cuma sedikit ada orang di sini–selain kami hanya ada pasangan suami istri yang sepertinya juga menunggu kereta. Sepuluh menit setelahnya segerombolan penumpang juga bergabung dengan kami.

Kabin Penumpang

Sudah ada kereta yang menunggu di jalur, tetapi sepertinya bukan kereta yang akan kami naiki sebab jalurnya berbeda. Di tiket, kereta yang akan membawa kami ke Medan ada di Jalur 2, berangkat pukul 09.52. Kami mulai menunggu mulai pukul 09.30, itu artinya ada sekitar dua puluh menit untuk membunuh waktu. Belum lagi kalau ternyata keretanya telat, seperti yang lazim kejadian di Jawa sana.

Eh tapi ternyata tidak, lho. Keretanya berjalan tepat waktu. Sekitar 09.45 announcer memanggil para penumpang untuk segera naik.

Saya pikir ini kereta biasa, paling pol juga seperti KRL, tapi terus terang perasaan agak beda ketika melihat di tiket tertera nomor tempat duduk. Sistem duduk di kereta ini tidak bebas seperti di KRL.

Begitu saya masuk, saya agak tidak percaya. Ternyata interior keretanya bagus sekali. Salut saya dengan PT Angkasa Pura II dan PT KAI yang membuat perusahaan patungan seperti ini. Semangat perbaikan transportasinya terasa, dari bentuk kereta dan interiornya terasa simpel tapi rapi dan efisien. Kursi-kursinya nyaman dan arah hadapnya dapat diganti. Kabin juga bersih, top dah pokoknya.

bagian-dalam-kabin-railink
Kabin penumpang yang tidak terlampau ramai.

Beberapa detik lepas 09.52, kereta pun melaju. Saya tersadar, ini pengalaman pertama saya naik kereta di tanah Andalas. Langsung saya bertanya dalam hati, apakah kami akan melewati jalur rel itu? Jalur yang terkenal di Sumatera Utara zaman kolonial sebagai jalur pengantaran karet dari perkebunan-perkebunan di Deli?

Belum lama lepas dari stasiun bandara, Mbak Din mengingatkan saya. Katanya, saya mesti menangkap gambar monumen kecil nama bandar udara ini, yang menurut Mbak Din akan terlihat kalau kita duduk di posisi yang tepat. Saya pun menanti, sembari kereta melewati kebun bunga yang berwarna-warni, yang di kejauhan sana ada jalanan panjang dengan kendaraan sesekali melintas, sampai saya menoleh ke sisi sebelah dan mendapati monumen nama bandara itu terlewat dan kian menjauh.

kebun-bunga-pinggir-rel
Rerumputan dan bebungaan di pinggir rel.

Saya cuma tertawa. Rupanya saya terlewat. Yah, tak apalah, saya cukup bersyukur bisa mendapat foto-foto ladang bunga yang cantik-cantik. Ini pertama kalinya saya naik kereta di Sumatera dan pemandangan yang disuguhi lumayan menarik.

Pesona Nuansa Persawahan

Beberapa lama setelahnya, kami menyusuri persawahan. Ada sesuatu yang terbukti dari bagaimana ‘rasa’ pemandangan itu terbawa pada saya: bahwa nuansa sawah memang berbeda di setiap daerah. Dalam serial Purwokerto saya sudah pernah membahas ini. Mungkin benar agaknya bahwa budaya setiap daerah, yang berpengaruh dalam gaya hidup masyarakat, memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dari gaya bercocok tanam di persawahan pada daerah itu.

Baca juga: Sawah, Sungai, Jembatan, Hutan: Barat Daya Jawa Tengah

Dan menariknya lagi, bahkan dalam skala yang lebih mikro pun nuansa sawah di Sumatera bagian selatan berbeda dengan Sumatera bagian utara. Sawah-sawah di Sumatera Utara dan Aceh pun berbeda. Sebuah perbedaan yang susah untuk dijelaskan, tapi sekali lagi, ada nuansa berbeda yang selalu saya rasa ketika melihat sawah-sawah di beberapa daerah dalam beberapa pulau yang sudah saya sambangi.

Saya susah menjelaskannya, tapi mungkin bangunan-bangunan unik yang saya lihat di sepanjang perjalanan turut menyumbang sebab. Untuk kasus Sumatera Utara, rumah-rumah penduduk berselang-seling dengan gereja. Semuanya keren karena punya warnanya tersendiri, laksana potong-potongan mozaik disusun oleh si empunya hidup menjadikan apa yang kereta kami lewati. Indah sekali.

persawahan-dan-bangunan-di-kejauhan
Persawahan dan bangunan di kejauhan.

Saya tidak sempat mengambil foto sebuah stasiun bergaya kolonial yang kami lewati. Ia ada di sisi sebelah jadi saya tak sempat memfotonya. Namanya Stasiun Batang Kuis, kalau saya tidak salah ingat. Saya tidak terlalu mengingat nama. Yang membekas di pikiran ini cuma lengkungan-lengkungan di atas jendela/ventilasi, mirip dengan lengkungan di tempat yang sama pada bangun-bangunan peninggalan Belanda di seputaran Jatinegara atau Ungaran. Selalu ada lengkungan di atas jendela. Mungkin gaya arsitekturnya mensyaratkan demikian.

Saya berjanji dalam hati, semoga saja saya masih bisa memotretnya di perjalanan kembali ke bandara. Semoga masih ada kesempatan.

Kereta kini sudah masuk ke kota besar. Rel-relnya mulai lewat deretan bangunan yang saya kira merupakan bagian belakang ruko-ruko. Pernah saya membaca, bahwa di zaman dulu kebanyakan rumah menghadap ke rel. Entah apa yang menyebabkan kini semua rumah justru membelakangi rel.

Stasiun terakhir yang kami lewati, seingat saya, bernama Stasiun Medan Pasar. Beberapa perlintasan ada setelah itu sebelum bangunan bergaya Tionghoa berukuran sangat sangat besar ada di sebelah kanan kami. Megahnya. Saya belum tahu itu bangunan apa, dan mengapa ia ada di sana. Namun, mengingat ukurannya yang fantastis, komunitas Tionghoa di Kota Medan mestinya punya cerita yang lebih dari patut untuk diperhitungkan.

rel-stasiun-medan
Rel di Stasiun Medan.

Dua menit sebelum jadwal semestinya, kereta sudah berhenti dengan sempurna di stasiun terminus perjalanan, Stasiun Medan.

Selamat datang di Medan.

53 thoughts on “Nostalgia Jelajah: Pengalaman Pertama Naik Railink di Medan

    1. Iya Bang, saya juga kalau sering ke Medan, tidak akan terlalu sering naik kereta, karena harga tiketnya itu, haha…
      Mending uangnya buat belanja di mal yaak, hehe.

  1. Aku jadi penasaran dengan Bandara Kualanamu Gara (Lho? Hahaha 😆 ). Kalau dibandingkan dengan Terminal 3 Ultimate-nya Soekarno-Hatta atau Terminal Internasionalnya Ngurah Rai bagaimana? 😀

    Ah, juga penasaran dengan Railink-nya juga sih. Kursinya nampaknya cukup nyaman untuk diduduki ya 🙂 .

    1. Saya belum pernah masuk T3 Ultimate atau Internasionalnya Ngurah Rai Kak, jadi saya belum bisa membandingkannya, haha…
      Iya, sepadan dengan harga tiketnya yang agak tinggi, hehe….

  2. Wah mas Gara lagi ada di Medan ya, wah sayang nya saya saat ini lagi Travelling, jika ada waktu pengen bgt ketemuan dgn mas Gara dan yess yuk kita keliling Medan. Ada banyak tempat menarik loh di Medan. So ayo ke Medan…..

    1. Hayuk Mas, mudah-mudahan bisa ke Medan lagi dalam waktu dekat, dan semoga waktunya pas jadi bisa jalan-jalan bareng, amiiin. Eh tapi tulisan ini sesungguhnya cuma kenangan sih, saya saat ini sedang tidak ada di Medan, hehe…

  3. Selamat datang di Medan, Gara. Wah, Aku sendiri malah belum pernah naik kereta Ini. Karena lokasi rumahku berada di antara Bandara dan stasiun Medan. Jadi nanggung kalau naik kereta.. Enjoy Medan ya

  4. Ini yang sering dibilang sama teman Medan, katanya kalau main ke Medan naik kereta tetap enak. Biarpun Kualanamu jauh dari kota, ada transportasi kereta api yang bagus untuk mencapai ke kota.

  5. Aku dua kali ke Medan, dan dua-duanya di tahun 2015. Sempet kepengen naik Railink, tapi tarifnya lumayan mahal. Dan karena budget yang terbatas, jadinya naik Damri.

    Baca postingan ini jadi berandai-andai, seandainya ke Medan lagi, harus dicoba naik Railink hehehe.

    1. Dengan harga tiket yang segitu, saya pun belum bisa berpikir akan sering-sering naik kereta, Mas, haha. Jika ada pilihan yang lebih murah dan lebih cepat, tentu saya akan mengambilnya. Tapi untuk percobaan, sekali waktu bolehlah coba naik kereta… sayang kalau selalu sepi, kan.

  6. kagum sama bandaranya yg didesain mewah, modern, tp tetap mempertahankan budaya tradisional (terutama budaya Deli dan Karo), dulu pernah naik railink tp sayang gak bisa foto2 keluar karena jendela ditutupi filter

    1. Iya, Mas. Saya harap semua bandara bisa menonjolkan desain lokal masing-masing. Kan keren ya, dari bandara saja sudah tampak kekayaan khazanah arsitektur lokal Indonesia, hehe…

  7. Mantep mas bisa sudah coba kereta di luar Pulau Jawa kalau saya masih kereta Jabodetabek saja he he, semoga suatu saat saya juga bisa naik Railink di Medan

  8. Kalau gak salah itu Vihara Titi Gantung, lupa nama aslinya, Setia Budi kalau tak salah ingat. Semoga rute kereta api yang ke Parapat cepat kelar ya, jadi nanti pas ke Toba tak perlu ganti moda transportasi lagi. 😀

    1. Amin, saya juga pingin banget ke Danau Toba Mbak, haha. Banyak peninggalan di sana.
      Iya sawahnya unik dan punya nuansa berbeda daripada sawah-sawah lain yang pernah saya lihat. Hehe.

  9. Keren ya di Medan udah ada railink 😀
    Coba deh Jayapura juga ada, pasti keren juga. Hahaha.
    Ya semoga aja masyarakat umum yang menggunakan juga bisa merawat ya, gak hanya sekedar tahu pake aja.
    Kan sayang juga kalo besok2 udah rusak disana-sini 😀

    1. Amin, semoga pembangunan infrastruktur kereta di Papua bisa segera terlaksana. Keren banget kalau di setiap pulau besar di Indonesia bisa terhubung kereta api. Transportasi pasti bisa jadi lancar.
      Amin (lagi), semoga kita semua bisa merawat semua yang sudah dibuat pemerintah supaya makin bagus lagi, hehe…

Terima kasih sudah membaca, mari lanjut dengan diskusi di kotak bawah ini!