Museum Pasir Angin #4: Serpihan Kisah Masa Protosejarah

Sebelumnya di Jurnal Pasir Angin:
#1: Cerita Dwarapala dan Kolam Angka Delapan
#2: Kandang Ular dan Arca Tong Sampah
#3: Cerita Arca dan Prasasti Misterius

“Paling tidak, saya sudah di dalam,” pikir saya sambil mendudukkan diri di lantai berlapis perlak.

Satu keunggulan dari lantai seperti ini adalah bisa diduduki, jadi kita bisa sejajar dengan arca-arca Pasir Sinala untuk mengamatinya lebih dekat. Kalaupun dilarang, tak ada siapa pun yang mengingatkan karena di ruangan itu cuma tinggal saya dan si bapak. Anak-anak tadi sudah entah pergi ke mana.

Hanya dua orang, di sebuah museum berpenjaga yang bahkan pintu menuju ruang kantornya terbuka lebar dari sini.

Dan saya bahkan belum bilang kalau museum ini (sepertinya) adalah yang satu-satunya di Kabupaten Bogor, ya?

Astaga, saya bahkan belum mengabadikan tempat yang menjadikan Pasir Angin sebagai situs prasejarah. Langsunglah saya keluar dan menjepret bintang utama yang sebenarnya menarik perhatian dan pasti muncul dalam setiap berita tentang tempat ini.

Monolit.

Tentang Monolit

Kenalkan, nama saya monolit. Saya masih muda kok, baru 3.000 tahun.
Kenalkan, nama saya monolit. Saya masih muda kok, baru 3.000 tahun.

Sepintas benda ini cuma sebuah batu di atas sebuah bukit kecil. Di dekat arca tong sampah, sebuah batu tak beraturan yang bentuknya mirip batu kali yang dipendamkan di halaman. Sisi-sisinya tidak rata, tak ada kesan bahwa ini batu yang khusus ditempatkan di sini.

Tapi tanaman hias yang ditata melingkari kelilingnya menjadikan batu ini pasti bukan batu biasa, ia juga bukan sekadar dekorasi taman karena ukurannya yang terlalu besar.

Dan di sekitar batu inilah, semua peninggalan Pasir Angin ditemukan, membujur berkelompok dari timur ke barat, sejalan dengan arah terbit dan terbenamnya matahari.

Batu seperti ini juga agak tidak umum ditemukan di atas bukit, kebanyakan mereka ada di kali di bawah sana dan perjuangan membawa ke atas sini tentunya tidak sedikit.

Batu ini unik karena dua hal: bagian atasnya rata dan ia menghadap ke timur. Butuh mata yang agak jeli, memang, tapi akan tampak kalau bagian yang rata menghadap ke timur, sementara sisi belakangnya (yang tampak di gambar) agak mencembung dan tidak rata.

Inilah monolit, umumnya tanpa hiasan dan tidak dikerjakan, beda dengan menhir yang sudah dikerjakan dan telah dihias. Tapi fungsinya sama-sama vital bagi masyarakat prasejarah, yang menurut para sejarawan sangat berkaitan dengan di lingkungan yang seperti apa ia ditemukan.

Untuk Pasir Angin, ia ada di puncak bukit.

Menurut beberapa sumber, kepercayaan megalitik menjadikan puncak gunung (atau bukit) sebagai lokasi penguburan jenazah. Gunung dipercaya merupakan tujuan dari roh yang meninggalkan badannya, karena gunung adalah tempat tinggal asal dari para roh: mereka turun gunung menuju dunia sebagai manusia, dan ketika mereka meninggal, mereka akan kembali ke gunung sehingga mereka juga mesti dimakamkan di gunung.

Batuan yang menjadi koleksi.
Batuan yang menjadi koleksi.

Pertanyaannya sekarang, apa monolit Pasir Angin juga merupakan tempat penguburan jenazah? Apa arah hadap timur itu berpengaruh?

Penemuan topeng emas yang disimpulkan sebagai penutup muka jenazah (sekarang disimpan di Kantor Pusat Arkeologi Nasional) memperkuat pendapat demikian. Penguburan mayat pada masa itu dilakukan di puncak bukit, menggunakan emas dan permata sebagai bekal kubur, selain besi dan tembikar, kemudian di atasnya didirikan monolit yang bersusun melingkar.

Namun, ada dua kontradiksi di Pasir Angin.

Pertama, hanya ada satu monolit di sini.

Fakta ini sebenarnya masih bisa dipatahkan. Pendirian bangunan atau monumen di puncak gunung juga bisa diartikan sebagai “rumah” bagi arwah nenek moyang yang bersemayam di sana. Ibarat kata, sebagai penghubung antara orang yang masih hidup dengan leluhur yang telah tiada. Jadi anggaplah monolit ini sebagai tugu atau kuil di dekat makam leluhur.

Tapi, di tempat ini tidak pernah ditemukan tulang manusia. Yang ditemukan justru pernak-pernik pemujaan.

Di sinilah monolit Pasir Angin menjadi unik, karena dengan dua fakta itu, artinya tempat ini sebenarnya bukan dimaksudkan sebagai tempat penguburan sebagaimana monolit-monolit lainnya, melainkan tempat pemujaan. Sekaligus, bagi saya, memberi sedikit petunjuk tentang “apa” yang saat itu disembah oleh masyarakat yang hidup di sini.

Matahari.

Spekulasi sedikit, mungkinkah “bunga” yang tergurat di tengah prasasti di dalam ruangan tadi menggambarkan bintang ini?

Sadar akan semua itu, saya berdiri di depannya hampir-hampir menahan napas. Gila. Satu monumen dan ceritanya sudah sederet dengan segudang spekulasi. Saya membayangkan dulu monolit ini adalah pusat perkampungan, pusat kegiatan spiritual yang dilakukan masyarakat prasejarah. Tidak sembarang orang boleh masuk, tidak sembarang orang bisa memimpin upacara di sini, tapi masyarakat selalu ingin merasa dekat dengannya karena dianggap menguarkan rasa aman, karena di batu inilah, kekuatan pengatur jagat raya dianggap berstana.

Tapi kini, 3.000 tahun setelah kejayaannya, siapa yang mau melihat dirinya?

Siapa yang masih sudi menjadikannya sekadar tempat untuk bercerita?

Memento Zaman Batu
Koleksi pertama dalam etalase yang saya jumpai berupa sebuah batu berasah dengan bentuk seperti trapesium sama kaki. Warnanya agak unik, oranye dengan latar merah, tapi kaca etalase yang tampak kusam membuat fotonya buram.

Foto lain benda ini, yang saya lihat di buku Sejarah Nasional Indonesia (bibelnya sejarah Indonesia), menampilkan kondisi aslinya yang terpoles, dan hasilnya menakjubkan. Jelas saja, benda ini kan umumnya dibuat dari batu setengah permata. Mungkin seperti batu akik ya, kalau zaman sekarang.

Beliung persegi.
Beliung persegi.

Agaknya, adalah sebuah fakta kalau bangsa ini hidup di atas harta karun, karena masyarakat prasejarahnya pun membuat beliung (nama benda ini) dari batu-batu yang kini sangat berharga. Padahal benda ini digunakan seperti pisau zaman sekarang, untuk memotong bahan makanan, sayuran, atau hasil pertanian.

Bayangkan saja kalau pisau dapur yang ada di rumah seseorang saat ini dibuat dari setengah permata, pastinya orang itu sangat kaya raya, kan :hihi.

Namun sayang, sebagaimana cerita tentang peninggalan masa kuno lain di negeri ini, keberadaannya selalu disertai dengan satu (atau beberapa) cerita menyedihkan. Untuk beliung, dahulu pihak kolonial menemukan banyak peninggalan seperti ini, namun sejak 1852, banyak beliung batu yang dikirim ke negara asal mereka untuk dijadikan hadiah bagi para profesor. Pun, masyarakat pribumi kala itu tidak berani menyentuh beliung, apalagi menyimpannya, karena berkembang mitos bahwa beliung merupakan “gigi kilat” atau “gigi guntur”.

Sekarang, satu beliung berharga itu tertinggal di sini. Saya mencegah menggunakan kata “teronggok” tapi situasinya memang seperti apa yang ada di gambar. Hanya ada satu potongan kertas HVS bertuliskan nama koleksi. “Karpet” merah yang ada di bawahnya juga dalam keadaan seperti berdebu.

Ah, saya tak tahu mau berkata apa lagi.

Pernak-Pernik Perundagian
Bergerak ke etalase sebelah, pecah-pecahan keramik dan serpihan tembikar mendominasi. Beberapa di antaranya adalah peninggalan abad ke-14 sampai dengan abad ke-16, contohnya mangkuk yang berasal dari Thailand pada zaman Suwan Khalek.

Mungkin ini adalah salah satu koleksi yang tidak berasal dari Pasir Angin, karena sebagaimana diketahui, museum ini tidak hanya menampilkan hasil penggalian yang berasal dari situs ini, tapi juga dari situs-situs lainnya.

Mangkuk Thailand Suwan Khalek Abad 14--16.
Mangkuk Thailand Suwan Khalek Abad 14–16.

Di sebelah bawah keramik inilah zaman seolah berganti. Ada dua ornamen di sana, dan tulisan yang ada di dekatnya bertuliskan “Bandul Kalung Perunggu”. Terdapat pula, di atasnya, gambar dari bandul kalung ini, seandainya bandul itu masih utuh.

Mengapa “seandainya”?

Karena kini, setidaknya saat saya ke sana, bandul itu sudah tidak utuh lagi. Bahkan wajah manusia yang ada di puncak bandulnya telah tidak jelas tampak, saya harus membandingkannya dengan gambar merah itu untuk memastikan bentuknya. Padahal, dalam sebuah gambar yang saya lihat di buku SNI, bandul di sebelah kiri itu masih lengkap bagiannya. Tapi kenapa sekarang cuma tinggal setengah, dan kenapa keadaannya sudah berkarat begini, seperti bangkai kapal yang terbenam lama di dasar laut? Hadoh!

Bandul kalung perunggu. Bentuk asli ada di bagian atas.
Bandul kalung perunggu. Bentuk asli ada di bagian atas.

Kerumitan bentuk bandul ini membuktikan bahwa pada zaman perunggu di Indonesia, kemahiran teknik menuang perunggu sudah berkembang menjadi sangat kompleks. Dalam hal ini adalah bentuk manusia, dengan kepala, lengan yang melengkung ke bawah, bertemu dengan ujung kaki yang melengkung ke atas. SNI menjelaskan spesifikasi bandul ini, tingginya 10,8cm, lebarnya 9,2cm, dan tebalnya 0,7cm.

Saya takjubnya itu adalah semuanya terjadi di zaman tiga ribu tahun sebelum Masehi menjadi tajuk tarikh dunia. Cerita tak berhenti sampai di sana, sampai di masa kekuasaan Wanga Isyana, profesi penempa besi menjadi penting dan bahkan dibuatkan tempa khusus.

Atau kalau perlu bukti karya, sila datang ke Museum Nasional, Gedung Arca Lantai 4, di sana ada Khazanah Wonoboyo dan Khazanah Muteran yang membuat mata terbelalak dengan kerumitan tempaan emasnya.

Sejatinya ada lagi koleksi lain dari Situs Pasir Angin, yakni kapak perunggu Tipe II dan Tipe VII, yakni tipe sriti (tangkai kapaknya membelah seperti ekor burung sriti sementara ujungnya mencembung) dan tipe candrasa (tangkai berbentuk seperti paruh burung yang diperbesar beberapa puluh kali). Kedua jenis kapak ini umum ditemukan di Jawa Barat, dan tempat mereka ditemukan umumnya adalah tempat-tempat pemujaan. Ada pula arca manusia dan tongkat perunggu bermotif spiral dan lingkaran.

Motifnya kira-kira seperti ini.
Motifnya kira-kira seperti ini.

Tapi sayang, saat saya ke sana saya tidak menemukannya, atau kalau saya menemukannya, saya lupa mengambil gambarnya :hehe kemudian dikeplak pembaca.

Sedikit tentang Gerabah

Serpihan gerabah.
Serpihan gerabah.

Beberapa serpihan tembikar agak berbeda dengan yang lainnya, karena seperti bandul dan beliung, mereka dijejerkan di atas “karpet” merah. Tulisannya pun bukanlah tulisan komputer, melainkan tulisan tangan di atas sepotong kertas yang mulai menguning.

Saya curiga, dan memang benar nyatanya, kalau tembikar ini adalah peninggalan gerabah yang ditemukan di Situs Pasir Angin. Beberapa pecahan tampak polos. Beberapa lagi punya hiasan, garis-garis berjalur, seperti jala, atau seperti anyaman tali. Goresannya tampak tidak begitu teratur, seperti dibuat dengan tangan. Agaknya memang demikian, karena pengerjaan saat ini untuk beberapa gerabah pun masih hand made.

Tapi serpihan gerabah yang bertahan ribuan tahun pastinya punya cerita sendiri, kan?

Fragmen periuk polos.
Fragmen periuk polos.

Memang demikian.

Ternyata, sarana pemujaan di masa lalu tidaklah jauh berbeda dengan di masa sekarang (setidaknya dalam agama Hindu), karena menggunakan sarana logam (bandul di masa lalu, genta di masa kini), dan gerabah (kendi-kendi untuk menempatkan air suci). Artinya, sistem kepercayaan masyarakat di masa prasejarah Indonesia sudah sedemikian kompleksnya, karena sudah mengenal pemuka ritual, sudah mengenal sarana pemujaan khusus, dan sudah memiliki tempat ibadah tersendiri.

Sebagai penutup untuk bagian gerabah, sebuah informasi menyatakan bahwa gerabah yang ditemukan di sini unik. Alasannya, motif ragam hias gerabah Pasir Angin tidak sama dengan motif ragam hias dari temuan gerabah yang umum berasal dari masa itu.

Pola hias tera sisir dan anyaman.
Pola hias tera sisir dan anyaman.

Begini ceritanya. Para sejarawan mengelompokkan kebudayaan gerabah di Indonesia menjadi tiga kompleks besar. Kompleks Buni (dengan pusat Bekasi), Kompleks Gilimanuk (pusatnya di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali), dan Kompleks Kalumpang (di Sulawesi). Ketiga kompleks ini pada dasarnya adalah bagian dari kebudayaan gerabah yang berkembang di regional Asia Tenggara kala itu, yakni Kebudayaan Bau Malaya (Malaysia) atau Kebudayaan Sa-huynh Kalanay (Vietnam–Filipina).

Nah, gerabah Pasir Angin tidak memiliki hubungan dengan semua kebudayaan yang telah dituliskan sebelumnya. Tambahan lagi, buku SNI tidak menjelaskan dengan kebudayaan apa gerabah ini berkorelasi, jadi agaknya ini masih merupakan suatu misteri, tersembunyi di balik serpihan-serpihan gerabah yang mungkin kalau tergeletak di tanah pun tak ada orang yang mau mengambilnya.

Doh kok jadi pesimis begini yak? :haha.

Tak bolehlah. Pesimis itu tak boleh. Pastilah masih ada yang peduli :)).

Iya, kan?

Penutup: Sebuah Rekoleksi
Di ruangan ini, seingat saya, juga ada buku-buku yang dijadikan koleksi dalam etalase. Beberapa jurnal terbitan Ditjen Kebudayaan, Kementerian P dan K (namanya kala itu), dan seingat saya ada juga beberapa buku arkeologi karangan Satyawati Suleiman.

Saya jadi berpikir, untuk apa buku dijadikan koleksi museum. Bukankah semestinya buku-buku dan laporan-laporan penelitian ini dimasukkan perpustakaan untuk bisa dibaca? Maksud saya, ketimbang di sini dimasukkan rak kaca yang tidak disentuh siapa-siapa, terus cuma bisa dilihat?

Doh, andai saja saya punya kemampuan tangan super menembus kaca, mungkin buku-buku itu sudah saya curi soalnya saya penasaran sekali isinya seperti apa!

Keadaan etalase Museum Pasir Angin. Kapak candrasa ada di baris terbawah, dari sini ternyata tertangkap kamera.
Keadaan etalase Museum Pasir Angin. Kapak candrasa ada di baris terbawah, dari sini ternyata tertangkap kamera.

Sembari saya mencoba membaca sampul buku, si bapak masih ada di sana, menatap peta tua Jawa Barat yang tergantung di dinding.

Saya merasa tersindir dengan orang tua yang menatap peta itu. Apa sejarah cuma konsumsi orang-orang berumur? Apa harus selalu hanya orang tua yang tahu sejarah tentang tempat-tempat seperti ini? Sungguh, minat kaum muda, terutama pelajar, terhadap tempat-tempat bersejarah harus terus ditingkatkan. Bagaimana mau menjaga sesuatu yang ada, ketika keberadaannya saja bahkan belum diketahui?

Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul setengah satu, dan itu artinya saya harus undur diri dari sini. Begitu saya bersiap untuk pulang, suara di ruang lobi menarik perhatian kami.

Ternyata ibu yang tadi, ia tersenyum ramah pada kami. Sambil membenarkan kainnya, ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam laci meja, buku dobel folio yang berisi daftar nama pengunjung. “Silakan, Mas, diisi dulu buku pengunjungnya,” katanya ramah sembari duduk di belakang meja.

Langsunglah saya bertanya. “Ini penjaga museumnya ke mana ya, Bu?” tanya saya, berusaha terdengar sopan.

“Oh, Bapak?” Dia memaksudkan suaminya. “Bapaknya lagi tidak ada, Mas, lagi ke kebun.”

Saya terdiam. Mungkin si penjaga museum pergi ke kebun untuk mencari tambahan penghasilan. Itu artinya penghasilan sebagai penjaga museum tidak cukup, ya. Boro-boro mau membuat program beranggaran besar untuk menarik minat pengunjung kemari, kalau untuk menyejahterakan penjaga museum saja belum bisa, akan jadi seperti apa?

Yah, harus diakui, tampaknya, ini jadi satu masalah baru lagi, di samping koleksi yang tak terurus, bangunan museum yang kusam dan sepi, ketidaktahuan masyarakat sekitar, belum lagi dengan masalah eksplorasi arkeologi yang seperti kurang diperhatikan, karena semuanya itu sebenarnya dan pada dasarnya berujung pada satu masalah yang sama:

Keuangan.

Pembaca budiman tentu sudah tahu permasalahannya seperti apa.

Masih banyak yang perlu dibenahi, itu jelas. Tapi kadang terlalu banyaknya sektor yang mesti dibenahi membuat orang bingung mesti dimulai dari mana. Belum lagi masalah lainnya, yang seperti sulur tanaman erat membelit, menyesakkan napas, mencekik, mematikan. Ujung-ujungnya malah tidak berbenah, dan masalah itu pun makin parah seiring waktu.

Tapi ya… jangan begitu sih, kalau menurut hemat saya. Jangan mendaftar masalahnya saja. Lebih baik memulai. Menulis di blog, misalnya. Mudah-mudahan ada yang baca dan bergerak :haha kemudian digampar lagi.

Sebuah pulpen diberikan si ibu pada saya karena tidak ada alat tulis yang saya bawa dalam penjelajahan kali ini. Saya membuka buku yang ternyata sudah mulai dibuat sebelum 2014, dan isinya mungkin baru sedikit saja. Ada beberapa komunitas, anak sekolah (termasuk SMA 1 Pemijahan yang saya ulas di Episode 1), pun wisatawan asing, tapi bisa dihitung dengan jari.

Cepat saya beranjak ke tanggal 17 Mei 2015 dan membubuhkan nama di sana. Saya juga harus menuliskan tanggal sebagai pembuka, karena di buku tamu itu, saya pengunjung pertama.

Saya bahkan belum cerita soal golok besi melengkung.
Saya bahkan belum cerita soal golok besi melengkung.

Saya di sini tidak menggambarkan banyak. Kapak candrasa, kapak sriti, golok besi, batu obsidian, manik-manik, semua belum saya gambarkan. Selain khawatir postingan ini akan terlalu panjang dan sangat terkesan seperti buku sejarah, saya agaknya lebih suka membiarkan benda-benda itu bercerita pada pembaca budiman yang sudi mendatanginya. Cerita dari tangan pertama akan jauh lebih menarik ketimbang mendengar dari orang lain, jika saja kita mau membuka telinga dan mata lebih lebar.

Akhir kata, selamat Hari Museum Internasional. Maaf ucapannya telat :)).


Bacaan Lanjutan:

  1. Tim Penulis (editor umum Marwati Djoened Pusponegoro, Nugroho Notosusanto). 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1: Prasejarah. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Tim Penulis. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah: Prasejarah. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.

39 thoughts on “Museum Pasir Angin #4: Serpihan Kisah Masa Protosejarah

  1. wuih…. batu permata dijadiin alat dapur?
    bener2 kaya yah orang zaman itu. bisa jadi standar kekayaannya ditentukan dengan terbuta dari batu apa perkakas darpurnya yah?

    1. Boleh jadi Mas, kan semua pernak-pernik itu menunjukkan status sosial, yang pada gilirannya sangat mendukung suburnya sistem kasta di masa Hindu di negeri ini :hehe.

    1. Makanya nama-namanya saya foto Mbak, supaya kalau lupa, tinggal lihat arsip fotonya saja :haha.
      Terima kasih banyak atas apresiasinya! Masih banyak yang belum saya tulis, artefak yang menunggu untuk dikunjungi secara langsung :hihi.

  2. wah gar keramik-keramik untuk souvenir aja udah mahal apalagi pake batu berharga ya.

    kalau info-info penting seputar keperluan untuk pemujaan ini bisa dicek di arsip yang ada perpus atau museum nasional gitu gak ya gar, jadi gak perlu mempergunakan tenaga untuk menembus kaca hehehhehe

    salam
    /kayka

    1. Pada akhirnya itu sih yang saya lakukan, Mbak, menyasarkan diri ke Perpustakaan Nasional dan mencari semua informasi di sana :hehe. Lumayan lengkap sih dapatnya :haha, minimal bisa tambah tahu tentang apa yang dulu pernah terjadi di sana :)).

        1. Penjaganya masih rada judes sih, Mbak, buku juga masih ada beberapa yang ada di katalog tapi fisiknya tidak ada… saya baru-baru ini saja ke sana jadi belum bisa membandingkan, Mbak :hehe.

          1. Sebenarnya saya agak paham sih Mbak, mungkin karena pekerjaan di sana monoton (banget), pasti mereka rada bosan dan akhirnya suasana hati yang kurang enak itu jadi berimbas ke pengunjung :hehe.

          2. hahahah bisa jadi ya gara…

            orang yang salah ditempat yang salah. kalo benar-benar suka dengan pekerjaannya harus melakukan apapun untuk membuat tempat kerja jadi menyenangkan. kalo enggak waduh delapan jam akan sangat lama sekali….

            salam
            /kayka

    1. Perjalanan ke museum memang selalu menjadi kesenangan bagi saya karena di sana pasti banyak cerita yang dapat saya dengar :haha. Terima kasih banyak sudah berkunjung!

    1. Iya Mbak, mungkin karena saya juga suka baca cerita detektif makanya jadi suka membungkuk-bungkuk cari petunjuk :hihi. Terima kasih atas apresiasinya!

  3. wow lengkap banget ulasanya Gara, hebat! saya paling gak bisa nulis lengkap2 gini, cara menulisnya pun seperti bercerita, ada alurnya gitu,hebat *kasih 2 jempol* 🙂
    wah batu monolitnya udah 3000 tahun ya

    1. Semestinya kita yang hidup di zaman yang lebih maju dan berkembang ini bisa lebih hebat ya Mbak ketimbang yang hidup di masa lalu :hehe.

      Terima kasih banyak, Mbak :hehe.

    1. Iya, displaynya terkesan seadanya jadi tidak menarik pengunjung, padahal kalau di-emphasize dan disajikan cerita singkat yang membuat orang penasaran, pasti akan lebih menarik :)).

      Salam kenal, terima kasih sudah berkunjung!

  4. Kalau di Solo ada juga museum seperti ini, tepatnya sih di Sangiran, Sragen. Cukup terkenal juga di Indonesia museumnya. kalau inget manusia purba, jadi inget manusia sekarang yang kadang masih saja terbawa sifat purbanya, seperti sadisme atau semacamnya 😀

    1. Oh ya, Sangiran! World Heritage kan itu yah, Mas? Sangiran memang jadi satu tujuan saya dalam waktu dekat, semoga bisa ke sana :amin!

      Nah itu dia yang jadi masalah, padahal sudah sering menggunakan kata “manusia” tapi kadang apa yang dilakukan tidak “manusiawi” :hihi.

    1. Pasti akan menyenangkan kalau kita bisa kembali ke sana untuk menyelidiki dinamika masyarakatnya, meski kalau betul-betul terlempar dan tidak bisa balik ke masa sekarang, saya akan pikir-pikir dulu sih :haha.

      1. Aku juga.. Mestinya ada msin waktu yang bisa bawa kita kembali ke masa sekarang, seperti di buku ‘Timeline’ nya Michael Crichton.. Kalau menetap, ogahhh juga.. hahaha

  5. Orang sekarang bilang, orang zaman dulu bodoh karena tak secanggih sekarang. Tapi kupikir-pikir, dengan keterbatasan materi dan media pada saat itu dan dihasilkan banyak mahakarya (bisa dibilang begitu), bukankah orang dahulu lebih cerdas daripada orang sekarang (termasuk saya)? Sekarang kan kita lebih dimanjakan teknologi yang tak semuanya ramah lingkungan/alam. Sedangkan mereka (para leluhur) menyatu dengan alam dan memanfaatkan benar kelebihan-kelebihan yang melekat di alam sekitar yang dapat dibaca oleh mereka.

    Ini sih kesan yang saya dapat saat tur sejarah purbakala di manapun, termasuk membaca tulisan-tulisan Mas Gara akhir-akhir ini 🙂

  6. Jadi ingat, dulu waktu kecil almarhum kakekku punya semacam batu berwarna hitam dan mulus. Bentuknya mirip anak kampak, besar. Waktu aku tanya itu benda apa, beliau menjawab kalau itu adalah beliung. Dan aku sama sekali gak ngeh, beliung itu apa.

    Sekarang jadi mikir. Itu beliung apa, darimana, kenapa bisa di rumah kakek dan sekarang ada dimana? :-p

    1. Wow, saya jadi penasaran kepengen melihat juga itu seperti apa, apalagi ukurannya juga besar ya :)). Kayaknya masih ada di rumah kakeknya, Mas :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!