Museum Pasir Angin #3: Cerita Arca dan Prasasti Misterius

Disclaimer: Dengan ini saya menarik omongan saya sendiri bahwa tulisan ini “terdiri dari dua bagian” :huhu. Dua bagian dari mane.

Sebelumnya di Jurnal Pasir Angin:
#1: Cerita Dwarapala dan Kolam Angka Delapan
#2: Kandang Ular dan Arca Tong Sampah

Sejujurnya, saya meminta si bapak untuk ikut masuk agar ada saksi bagi penjelajahan saya, dan agar saya tidak dituduh masuk tanpa izin (padahal memang masuk tanpa izin, sih). Bagaimanapun, yang penting ada saksi bahwa saya tidak ngapa-ngapain selain mengambil gambar.

Bau rumput segar yang habis dipotong menguar kuat di ruang lobi. Asalnya dari sebuah mesin pemotong rumput yang tergeletak di dekat pintu masuk, dekat jerigen pestisida. Sebuah meja, mungkin meja penyambut tamu, ada di sana, tampak tua dan usang dengan sebuah tas kerja tersandar di atasnya. Tak ada buku tamu, atau kotak sumbangan.

Ruangan museum menyambut setelahnya. Pengunjung harus melepas alas kaki karena ruangan ini berlantai kayu yang ditutupi perlak. Kantor penjaga ada di sebelah kanan, terhubung langsung dengan ruangan ini. Tampak agak berantakan, dan ada beberapa mainan terserak di lantai. Ini menjelaskan banyaknya sandal anak-anak di pintu masuk.

OK, petualangan dimulai. Sebelum saya menyibukkan diri dengan arca-arca yang menarik perhatian itu, baik saya lengkapi penjelasan tentang situs ini. Supaya semua jadi terang benderang.

Informasi Singkat
Situs Pasir Angin terletak di sebuah bukit kecil berketinggian 210m di atas permukaan laut, pada muara Sungai Cianten. Situs ini merupakan bukti adanya kompleksitas kepercayaan pemujaan nenek moyang oleh masyarakat prasejarah pada masa protosejarah, transisi menuju masa sejarah oleh masyarakat yang corak hidupnya sudah bercocok tanam dan sudah melalui masa perundagian.

Bahasanya sudah kayak buku sejarah, ya. Intinya situs ini adalah peninggalan tempat ibadah dari masyarakat Indonesia sesaat sebelum agama Hindu masuk ke negeri ini.

Pernah dilakukan dua kali penggalian di sini. Yang pertama di tahun 1971–1975, dan yang terakhir pada tahun 1991–1995. Penemuan itu menghasilkan banyak temuan, yang uniknya, semua temuan itu berpusat pada sebuah monolit yang menghadap timur dan posisi asal temuan-temuan itu adalah membujur dari timur ke barat. Meskipun ada pendapat bahwa posisi itu adalah simbolisme kelahiran dan kematian, menurut saya ini malah jadi bukti bahwa pemujaan masyarakat prasejarah sudah mengenal matahari sebagai sesuatu yang dipuja.

Sesuatu yang sinkron sekali dengan pemujaan Hindu yang menjadikan Dewa Surya sebagai (salah satu) menifestasi Tuhan. Pantas saja, Hindu di Jawa pertama kali berkembang di Jawa Barat.

Kenalkan, nama saya monolit. Saya masih muda kok, baru 3.000 tahun.
Kenalkan, nama saya monolit. Saya masih muda kok, baru 3.000 tahun.

Apa yang ditemukan di Pasir Angin? Banyak. Beliung persegi yang terbuat dari batu setengah permata (psst, ini rahasia), kapak perunggu berekor sriti, kapak perunggu berbentuk candrasa, tongkat perunggu, bandul kalung perunggu, manik-manik batu dan kaca, ujung tombak dan kapak besi, gerabah tanah liat, serta alat-alat obsidian. Ditemukan pula arang dan fauna.

Banyak? Ya. Dan semua saya akan jelaskan di sini evillaugh.

Menurut jumlah dan tipe benda yang ditemukan, disimpulkan bahwa situs ini ditinggali pada tahun 600-200 SM. Itu artinya di masa perundagian, maksudnya zaman logam (tapi memang keren sekali menggunakan istilah “zaman perundagian”, ya :haha). Namun, penanggalan karbon C-14 yang dilakukan oleh Australian Nasional University (ANU) dari empat contoh arang yang dikirimkan, menghasilkan penanggalan absolut sekitar 1000SM sampai 1000M.

Sebuah hasil yang mengejutkan, karena artinya, sejak zaman prasejarah, protosejarah, sampai zaman Tarumanegara, bahkan setelah itu, kepercayaan pemujaan megalitik tetap dilaksanakan di situs ini. Hebat, kan?

Menurut saya, ini jadi satu bukti lagi, selain Situs Kebon Kopi II dan penuturan Pak Ugan, bahwa kepercayaan megalitik tetap tumbuh dan berkembang pada masa Tarumanegara karena kesamaannya dengan ajaran Hindu. Logikanya, suatu ajaran agama akan mudah diterima masyarakat kalau sudah ada kemiripan dengan apa yang sehari-hari dilakoni oleh masyarakat itu.

(Ngomong-ngomong, Hindu yang saya anut sekarang bahkan mengandung berkas-berkas pemujaan masa prasejarah ini. Nanti saya cerita di episode depan).

Bahkan, menurut penuturan Pak Ugan, Situs Kebon Kopi II (batu dakon) tetap dijadikan tempat sembahyang pada zaman kerajaan itu. Bukan tidak mungkin bahwa situs ini sebenarnya juga pernah mengalami keadaan serupa. Punya tempat ibadah yang bisa bertahan selama 2000 tahun itu pastinya keren banget pakai kacamata item.

Semua info itu disarikan di sebuah kertas A3 tua yang tertempel di papan informasi di sisi kanan ruangan, kalau dari pintu masuk. Kusam, usang, sudah agak dimakan rayap, warnanya kuning. Alih-alih menggunakan komputer, semua info itu ditulis tangan.

Ah, saya tak berniat terlalu banyak membahas kondisinya. Kisah tentang “kesederhanaan” museum-museum di Indonesia sudah terlalu banyak mengundang keprihatinan serta kesedihan, dan saya sudah banyak membahas itu dalam dua episode sebelumnya. Di sini, kita hanya akan membahas kehebatan, serta betapa berharganya situs Pasir Angin.

Tentang keprihatinan itu, biarlah terbersit di hati pembaca budiman yang baik hati, yang mau membaca sampai selesai. Khusus di sini, saya cuma menyampaikan apa yang saya lihat.

Mari mulai dengan koleksi dari Pasir Sinala.

Koleksi Pasir Sinala
Di luar, kita sudah lihat fragmen arca gajah dan arca lain yang kini sudah tidak jelas bentuknya. Di dalam sini juga ada beberapa potongan arca lagi, yang menurut peta yang berada di atas kotak, berasal dari Gunung Cibodas, atau menurut penuturan masyarakat setempat, Pasir Sinala.

Arca-arca ini mungkin ditemukan sekitar 1863. Kala itu, seorang fotografer bernama Isidore van Kinsbergen mengabadikannya dalam gambar berikut ini. Saya rasa penting menunjukkan gambar ini di sini, supaya… kondisinya pada saat saya yang mengambil gambar, satu setengah abad setelah ditemukan, bisa jadi jelas apabila diperbandingkan dengan gambar tahun 1863 itu.

Keadaan arca pada tahun 1863. Sumber gambar: Rijksmuseum.
Keadaan arca pada tahun 1863. Sumber gambar: Rijksmuseum.

Sesudah lihat gambar aslinya, mari, kita lihat bagaimana kondisi arca-arca itu. Kita mulai dengan fragmen pertama, ya.

Foto pertama.
Foto pertama.

Potongan badan serta kaki yang ini merupakan bagian dari arca yang di undakan bawah, tepatnya arca yang di tengah. Dari detil yang ada di foto 1863 itu, bagian tangan kanan memang sudah hilang, tapi saat ini bagian kepalanya juga hilang. Ikat pinggang yang ada di foto 1863 masih tampak tapi sudah sangat samar. Gelang lengan yang ada di foto itu juga sudah tidak tampak lagi, menyisakan sebuah tonjolan kecil.

Arca ini unik, karena posisi duduknya tumben saya lihat. Digambarkan telanjang dada dengan kain yang pendek, kakinya yang sebelah menapak sementara kaki yang satu lagi bersila. Ketiadaan perhiasan dan ekspresi wajah yang seperti itu tidak menyiratkan bahwa si arca ini sedang beribadah (bandingkan dengan arca di sebelah kiri), meski informasi yang bisa kita tarik dengan cukup pasti, si arca ini adalah rakyat biasa.

Foto kedua.
Foto kedua.

Foto kedua tidaklah susah untuk diterka dari arca sebelah mana. Arca terkanan di undakan bawah. Kalau di tahun 1863 bentuknya masih lengkap, menggambarkan seorang pria yang duduk bermeditasi, maka di tahun 2015 ini yang tersisa tinggal bagian kaki bersilanya saja. Sayang sekali.

Bukti lain bahwa arca-arca Jawa Barat masih kental betul dengan nuansa megalitik meski berasal dari masa sesudahnya, menurut saya tercermin dari posisi tangan arca ini. Ia seperti menggenggam sesuatu di bagian dada, sesuatu yang tampak seperti tombak, atau kuncup bunga. Posisi tangan seperti ini memiliki kemiripan dengan arca-arca megalitik yang ditemukan di Pura Besakih, Desa Kramas, Gianyar Bali.

Kain yang panjang (kita tidak bisa melihat kakinya), gelang lengan yang berbentuk seperti ular, dan gelang tangan manik-manik di kedua pergelangan tangan memberi kesan bahwa orang ini berasal dari status sosial yang lebih tinggi, karena pada masa itu, perhiasan umumnya dikenakan oleh pemimpin atau kepala suku.

Ada yang unik dengan cara pemakaian kain di arca ini. Caranya dilancing (haduh, susah mencari padanan katanya), yang jelas caranya mengenakan kain sama persis dengan cara saya mengenakan kain kalau mau pergi sembahyang, yakni sisa kelebihan kain dilipit di bagian depan (hayo, pernah melihat pria Bali berpakaian sembahyang, belum?). Saya belum sempat mengamati bagaimana arca-arca Jawa Tengah dan Jawa Timur terkait hal ini, tapi kalau ada kesamaan, ini bisa jadi merupakan petunjuk tentang jalur peralihan budaya Jawa Bali.

Foto ketiga.
Foto ketiga.

Foto ketiga juga menampilkan fragmen kaki orang yang duduk bersila. Tidak susah untuk mengidentifikasi ini, potongan ini berasal dari arca di undakan atas, sebelah kanan. Meskipun bagian atas tubuhnya sudah hilang semua (bagian kepala bahkan telah hilang sebelum 1863), gagang dari sesuatu yang ia pegang itu masih terlihat hingga kini. Ia mengenakan kain dengan cara yang sama seperti arca di foto kedua, namun tampaknya lebih pendek, karena kita masih bisa melihat lekukan kakinya.

Dua arca lain yang ada di foto tahun 1863 itu tidak dapat saya temukan lagi, kecuali saya harus membongkar fragmen-fragmen arca yang ada di dalam kotak. Dan arca yang tak ada justru yang menurut saya paling menarik–arca dengan posisi tangan mengatup dengan tutup kepala aneh. Sepintas, tutup kepalanya mirip ketu di masa lalu. Ketu adalah penutup kepala yang biasanya digunakan pedanda atau pendeta tinggi agama Hindu.

Mungkinkah arca itu menggambarkan kaum Brahmana yang datang dari India?

Oh ya, tentang “fragmen yang ada di dalam kotak”, maksud saya adalah sebuah kotak penyimpan potongan-potongan arca, seperti ini.

Fragmen dalam kotak.
Fragmen dalam kotak.

Seperti mainan yang dijejalkan di dalam kotak mainan, kalau saya mau berkata kejam. Bongkah-bongkahan batu itu diletakkan saja di dalam sana, sepertinya lama tak tersentuh. Saya tak berani menyentuh apalagi memindahkannya untuk dilihat-lihat, jadi saya cuma mengambil gambar untuk mengabadikan keadaannya.

Fragmen lagi.
Fragmen lagi.

Kasihan. Sedih rasanya melihat peninggalan-peninggalan ini berada dalam kondisi seperti ini. Apalagi saya bukan sejarawan atau arkeolog, jadi saya tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan benda-benda ini. Tapi menurut saya, arca-arca ini adalah harta karun bangsa yang semestinya diperlakukan dengan baik. Apa yang saya lihat di sana bukanlah perlakuan yang baik.

Kita yang sekarang ada karena leluhur di masa yang lalu. Apa yang kita lakoni sekarang adalah hasil dari perkembangan apa yang leluhur kita lakukan di masa yang lalu. Kalau leluhur kita dulu tidak melakukan sesuatu, boleh jadi kita tidak melakukan apa-apa saat ini.

Sederhana saja. Kalau leluhur kita yang dulu tidak ada, boleh jadi kita yang saat ini juga tidak akan pernah ada.

Bagian dada ini dari arca yang mana, ya? Ada yang mau berpendapat?
Bagian dada ini dari arca yang mana, ya? Ada yang mau berpendapat?

Ada satu hal yang membuat saya penasaran. Sebuah buku menyatakan bahwa terdapat temuan arca Siwa di Cibodas, dengan ciri unik hiasan ikat pinggang (mungkin maksudnya selendang) rantai pendek, yang ternyata makin panjang dari abad ke abad, pada arca zaman Majapahit hiasan ikat pinggang itu panjangnya bahkan sampai menyentuh tanah. Di tempat itu juga ditemukan arca bergaya Polinesia.

Mungkin Cibodas yang dimaksud dalam buku itu bukan Gunung Cibodas. Memangnya ada berapa Cibodas di Jawa Barat? Haduh…

Potongan yang saya lewatkan.
Potongan yang saya lewatkan.

Ternyata ada satu yang saya lewatkan. Potongan arca terakhir ada di sebelah kotak. Tanpa perlu banyak mencocokkan, saya menduga arca ini berasal dari arca sebelah kiri di undakan paling atas. Yang tinggal cuma fragmen bagian kakinya, yang dari foto tahun 1863 itu memang tampak sudah terpisah dengan bagian badan. Mungkin bagian badannya ada di dalam kotak mainan itu.

Bedanya, benda yang dipegang arca ini ada dalam posisi yang miring. Apakah ini ada arti khusus, saya tidak tahu, yang jelas, dari kelima arca itu, hanya arca satu ini yang memegang benda dalam posisi miring.

Ada satu koleksi arca batu kapur yang tidak ada di gambar itu, yakni potongan kepala ini. Arca kepala yang entah kenapa menurut saya tersenyum, meski ia memiliki taring. Dari ketiadaan rahang bawahnya, menurut saya ini mirip dengan kala makara dari langgam Jawa Tengah. Sebagaimana diketahui, ciri khas candi Jawa Tengah menurut Satyawati Suleiman adalah kala makara tanpa rahang bawah.

Dengan demikian, fragmen kepala ini mirip dengan langgam Jawa Tengah. Ataukah justru langgam Jawa Tengah yang mengambil dasar dari Jawa Barat? Nah lho, kalau yang terakhir ini yang benar, berarti kutipan yang menyatakan bahwa leluhur Hindu berasal dari Jawa Barat itu dapat buktinya satu lagi.

The Smiling Head.
The Smiling Head.

Prasasti Aneh
Satu benda aneh tergeletak di bawah papan pengumuman, berupa sebuah batu alam yang berukir. Aneh, karena di saat arca-arca ini menggunakan batu kapur, prasasti (katakan saja demikian) ini menggunakan batu alam sebagai bahan. Aneh yang kedua adalah karena ukiran yang terdapat di batu itu.

Peringatan dulu, jangan anggap ini terlalu serius, karena ini murni spekulasi dari pikiran saya yang seorang awam, bukan sejarawan apalagi arkeolog, jadi sangat mungkin menyesatkan. Boleh jadi prasasti ini cuma hiasan, alih-alih barang temuan. Tapi karena tidak ada keterangan lain, maka saya akan membahasnya sedikit di sini, karena sesungguhnya, saya juga penasaran.

Sebenarnya saya merasa aneh dan merasa bahwa prasasti ini tidak pada tempatnya. Tidak sejalan dengan ragam hias budaya yang ada di ruangan ini, ragam hias masa itu. Keanehan yang sama pernah saya rasakan juga pada keberadaan Candi Sukuh di Jawa Tengah. Menurut saya candi itu, ragam reliefnya, SANGAT tidak pada tempatnya, tapi bendanya ada. Semua penjelasan tentang relief candi itu, yang mengaitkannya dengan mitologi India, dalam berbagai buku kayaknya aneh dan dipaksakan. Candi Sukuh lebih mirip dengan kebudayaan Suku Maya di Meksiko sana.

(Psst, Satyawati Suleiman, dalam bukunya, Monumen-Monumen Indonesia Purba, telah memberikan foto perbandingan antara Candi Sukuh dengan peninggalan di Meksiko sana.)

Inilah penampakannya.
Inilah penampakannya.

Nah, sesuatu tentang Suku Maya tiba-tiba strikes my head as odd ketika saya melihat goresan di prasasti ini. Asalnya dari lima kotak yang ada di bawah itu. Kotak-kotak kecil itu mendadak mengingatkan saya pada bacaan-bacaan saya soal suku ini pada 2012 (tahu sendirilah kenapa saya bacanya tahun 2012 :hihi), dan yang paling saya ingat itu karena penulisannya yang menggunakan kotak-kotak kecil, mirip dengan apa yang ada di depan mata ini.

Saya cocokkanlah dengan apa yang ada di internet, dan saya kaget.

Saya curiga dengan kotak kedua dan kotak kelima (hitung dari kiri). Bandingkan dengan, angka 11, dari sistem penulisan angka suku Maya di bawah ini. Gambar saya peroleh dari Wikimedia Commons.

Maya

Haduh, saya tak mau banyak berspekulasi, takut menyesatkan, tapi itu kok sama, ya? Dua garis mendatar dan di atasnya ada titik? Sama bukan, sih? Pendapat kalian bagaimana?

Tapi memang prasasti ini unik banget, sih. Di bagian paling atas ada gambar kecil, yang saya lihat-lihat mirip gajah (ada belalai dan ekornya) gajah lagi gajah lagi. Di tengah ada sesuatu seperti bunga, dalam lingkaran dengan empat guratan lagi di sisi atas, kanan, kiri, dan bawah lingkaran itu (arah mata angin?). Terakhir, goresan tidak jelas terdapat di sudut kiri bawah, entah apa maknanya.

Misterius, dan menimbulkan banyak tanya. Kenapa gajah? Dan apa arti gambar yang ada di bawah itu?

Karena misterius, mari kita beranjak ke benda lain yang ada di ruangan ini. Memori kamera saya sudah mau penuh, lagi :huhu.

54 thoughts on “Museum Pasir Angin #3: Cerita Arca dan Prasasti Misterius

  1. hihihihi, saya jadi teringat pelajaran sejarah waktu ngebahas zaman perundagian, detail banget bang serasa ngunjungin museum secara langsung 😀
    oiya bang Gara, Museum Pasir Angin ini yang ada di Bogor itu bukan ya ?

      1. wkwkkw oiya bang ngga kegoda buat ngambil batu atau apa gitu buat oleh” pas waktu keliling disana 😀 hahahha lumayan loh bang bisa dijual terutama beliung persegi tuh yang terbuat dari batu setengah permata kwkwkw #bisikansetan

        1. Tidak boleh :haha, soalnya dilarang undang-undang :)). Lagi pula, artefak masa lalu adalah ditampilkan untuk semua orang supaya bisa menikmati, ya masa saya bawa untuk kepentingan saya sendiri? :)).

          1. Sepertinya tidak :hehe. Saya agak sentimentil kalau soal barang bersejarah, menurut saya mereka mesti tetap di mana mereka dimaksudkan :)).

          2. josss bang thumbs up :), mudah-mudahan orang seperti bang Gara nih makin banyak, bisa menghargai benda” bersejarah kagak tergoda duit yang tak seberapa dibanding nilai dari benda bersejarah tersebut 😀

  2. Akhirnya!
    Kalau saya komentar soal miris, udah diwakilin sama yang nulis. #jadilewatkan

    Seru walaupun saya kaget liat the smiling head. #entahkenapa.

    Thanks kak Gara sudah menambah ilmu pengetahuan sejarah! #yeay

    1. Terima kasih kembali! Jujur, saya juga paling cetar melihat kepala tersenyum itu. Senyumnya nggak nahan! Tapi memang arca-arca sezamannya nanti senyumnya juga lebih lebar ketimbang arca-arca dari masa sesudahnya :hehe. Kapan-kapan akan saya ceritakan :)).

  3. gara kamu hebat deh bisa menurunkan tulisan seperti ini, lengkap sekali #salutabis

    btw cerita museum pasir angin yang gara turunin menurut saya bobotnya malah ada disini lho 🙂

    salam
    /kayka

  4. Kalo liat arca-arca yg udah rusak gitu jadi suka bayangin gimana bentuk dan suasana di zamannya itu 🙂 *bayangin angling dharma 😀
    Garaaa… ampe diteliti yaa itu tulisan di arcanya : hebaat!

    1. Iya, saya juga paling suka membayangkan begitu Mbak, membayangkan bagaimana keadaan saat arca-arca itu masih dalam bentuk dan fungsinya yang asli :)).
      Ah, terima kasih banyak! Itu juga gara-gara ingat dengan dulu pas 2012 getol banget baca soal suku Maya gegara isu mau kiamat :hihi, tetiba sekarang ketemu yang mirip banget :hehe :peace.

  5. Nah, aku baca bagian ini berasa ikut-ikutan jadi detektif, Bli. Apalagi sepertinya ada kaitannya dengan suku Maya. Duh, jadi penasaran dengan cerita selanjutnya :).

    1. Itu cuma spekulasi saya saja. Sangat mungkin salah, apalagi saya cuma punya satu bukti. Masih banyak ilmu yang harus saya tamatkan sebelum bisa mengambil kesimpulan yang lebih dapat dipercaya :)).

    1. OK, itu agak ekstrem :haha, tapi mungkin memang ada yang bernasib sedemikian. Beberapa arca memang dikenal punya kemampuan layaknya manusia, karena kekuatan yang “menghuni” arca tersebut :)).

  6. Sekali lagi, Bang Gara membeberkan informasi tentang sejarah secara detail 😀 ya ampun Bang 😀 kamu mempelajari banyak tentang sejarah sepertinya ya 😀 itu batu ada penunggunya nggak ya bang ? *lah

  7. huah, judul blognya membuat aku teringat pada cerita silat di masa dulu. dan buat aku yang memang mencintai batu, entah kenapa, suka banget melihat batu, tebing batu arca batu, dan sejenisnya ceritamu, terutama interpretasinya begitu menarik! analisis tentang bagaimana benda-benda itu berfungsi di masa lalu.

    aku terakhir kali membaca tentang peninggalan2 batu ini dari buku paket sejarah sewaktu SMP. membaca bagaimana kamu bisa bercerita tentang bentuk-bentuk seperti yang kamu kira itu apa (misalnya udeng) dari sebuah batu tak berbentuk agak membuatku mengerutkan kening. tapi interpretasinya masuk akal.

    benda peninggalan tanpa cerita tidak akan punya arti, ya.

    1. Kadang dalam sejarah ada sedikit bumbu imajinasi dalam bentuk probabilitas. Itulah yang menurut saya mungkin dapat membuat cerita hari kemarin bisa jadi menarik untuk dibawa ke masa besok. Terima kasih atas apresiasinya, Mbak Indri :hihi.

  8. Sumpah itu yg ada arca pake sorban epic banget.. kemungkinan menandakan hubungan kerajaan disini dengan kerajaan-kerajaan di India kali ya??? Mennn sedih emang di indonesia ini yang kayak ginian gak dijaga dengan baik.. melupakan kejayaan sejarah negerinya masa lalu jadi kayak orang tua yang ngga pernah punya memori…

    1. Yap, pengaruh India di awal-awal masuknya agama Hindu di negeri ini memang kuat banget-banget, dari tulisan meminjam tulisan Pallawa, bahasa meminjam Sansekerta, dan nama pun meminjam akhiran -warman kan Kak :hehe.

      Memprihatinkan, ya. Padahal ceritanya banyak dan tak ternilai harganya. Ah, saya suka perumpamaannya!

      Terima kasih sudah berkunjung!

    1. Sebenarnya saya curiga sama teori Ancient Aliens itu sih, Mbak (looh?). Tapi sembari mengisi ilmu, untuk sekarang saya nikmati saja keindahan yang ada di depan mata ini :)).

  9. percaya gaa, jaman SMA, gue beneraan ga suka yg namanya pelajaran Sejarah, bahkan kalo pas penjurusan gue ga bisa masuk IPS karena nilai IPS gue ancur semua ahhahahah

    tapi herannya gue suka banget di museum, terlepas dari ngerti atau engga isi si museum, tapi menurut gue cuma dengan cara ini gue bisa belajar sejarah. Bahkan jauh bisa lebih cepat paham ketimbang harus dengerin guru ngomong atau baca dari internet 😀

    sayangnya sekarang ga banyak yah orang-orang yang suka ke museum *ga punyaa temeen*
    udah coba ngajak teman-teman ke museum nasional yg udah modern dan kece aja teteeep pada ga suka-suka amaat, akhirnya pernah punya cara sih, bikin “Candi hunt Trip” di Jogja ahhahaha.

    apalagi kalo gue ajak ke museum ini yah :((

    1. Wah, keren banget Mbak, bisa bikin event tersendiri, andaikata saya tahu ada event itu pasti saya sudah daftar dan ikutan :hehe :peace.
      Saya juga bukan jurusan IPS dan kuliah serta pekerjaan saya sama sekali tidak berhubungan dengan sejarah, sekali baca buku SNI juga langsung susah payah menahan rasa kantuk, satu-satunya yang bisa membuat saya bertahan membaca babon sejarah itu cuma keyakinan kalau minggu depan saya akan pergi ke tempat yang dituliskan dalam buku, dan itu sangat, sangat membantu :hihi.

      Teori tentang Pasir Angin dalam SNI pun sangat, sangat menjemukan, tapi kalau saya ingat-ingat apa yang saya lihat, mendadak semua jadi menarik :haha. Yah, tidak mesti hapal buku sejarah untuk suka sejarah, kan :hihi.

  10. Kalau dilihat dari dasar batuannya yang mengandung kapur, rasanya wajar jika arca-arca di Pasir Angin ini tidak terlalu tahan terhadap cuaca dan alam. Secara mekanis pun, pasti lebih rapuh. Seharusnya preservasi nya lebih diperhatikan ya, gak bisa disamakan dengan arca-arca dari batuan keras … Ah tapi kita khan juga bisa mengeluh dan prihatin ya. Yang berwajib juga terlalu sibuk dan abai soal ini 🙁

    1. Iya, memang dari teman-teman yang saya tanyakan juga, menurut mereka batu kapur itu sangat rentan, apalagi kalau umurnya sudah ratusan tahun. Tapi menurut saya tidak sehancur ini juga kondisinya. Betul Mas, mungkin orang-orang di atas sana punya hal-hal yang menurut mereka lebih penting.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?