Museum Pasir Angin #1: Cerita Dwarapala dan Kolam Angka Delapan

Tulisan dua bagian ini ditulis sebagai peringatan saya untuk Hari Museum Internasional, 18 Mei 2015. Sangat terlambat, memang, namun saya sangat senang kalau ada yang mau membaca tulisan ini sampai selesai :)).

Ini adalah bagian dari bolangan saya ke Kabupaten Bogor tanggal 17 Mei 2015 yang lalu, bersama dengan tulisan satu lagi, “Satu Lokasi, Dua Masa, Tiga Cerita: Ciaruteun” yang hingga saat ini masih berupa embrio di dalam kepala saya. Tulisan ini pun demikian, jikalau saya tidak mendapat sentilan informasi dari linimasa kicauan di Twitter dengan tagar #InternationalMuseumDay, yang membuat saya menyelesaikan tulisan ini :haha. Terima kasih banyak!

Cuplikan postingan Ciaruteun. Perkenalkan, saya dolmen! Sekarang saya jadi... lihat sendirilah.
Cuplikan postingan Ciaruteun. Perkenalkan, saya dolmen! Sekarang saya jadi… lihat sendirilah.

Kembali ke PC. Pertama kali saya dengar situs Pasir Angin ini adalah dari obrolan antara Pak Ugan, penjaga Situs Ciaruteun, dengan dua murid kelas X SMAN 1 Pamijahan. Nah, Pak Ugan sepertinya menyarankan pada mereka untuk singgah ke Pasir Angin.

Saya waktu itu belum ngeh, soalnya boro-boro mau ngeh, mengerti percakapan mereka yang dalam bahasa Sunda itu pun saya tidak, jadi yang bisa saya lakukan cuma mendengarkan dengan saksama, sambil mengambil beberapa nama tempat yang sekiranya saya mengerti, sebelum mendiskusikannya lagi supaya dapat pemahaman tentang lokasi dan akses ke sana.

Pasir Angin. Museum Peta. Museum Perjuangan. Herbarium. Museum Zoologi. Kebun Raya.

Beberapa tempat sudah saya kenal, tapi saya tetap saja bertanya, karena Pak Ugan sangat enak diajak bicara. Pada akhirnya, bahkan beliau yang menyarankan saya datang kemari, karena katanya letaknya sangat dekat dari Ciaruteun, tanggung kalau saya tidak ke sana.

Tak sampai sepuluh menit setelahnya, saya meneruskan jalan “belokan kanan Pasar Ciampea” itu untuk menuju lokasi.

Jalan yang sedang saya lalui ini jalan khas wisata alam. Bukit di kejauhan, sungai kadang samar terdengar. Matahari cukup terik, jadi panasnya lumayan, apalagi angkot yang membawa rombongan anak-anak SMP yang tadi itu jalannya tidak bisa terlalu cepat karena kadang diminta berhenti penumpangnya jadi kita mesti hati-hati.

Yah, namanya anak SMP, kadang naik angkotnya suka ugal-ugalan. Beberapa siswi bergelayut di pintu angkot, membiarkan rambut dan wajahnya diterpa angin seperti model video klip. Tambahan lagi, setiap lewat anak-anak yang sebaya, mereka pasti bersorak-sorai seperti merasa menang akan sesuatu. Padahal apa yang mereka menangkan itu juga saya tidak begitu jelas :hehe.

Ah, sudahlah, saya salip saja.

Bermotor di tengah alam memang sangat nyaman. Tapi di kejauhan, mendadak sesuatu menarik hati.

Ada sebuah bukit, entah bukit apa, sudah seperti terpotong setengahnya karena tergaruk alat-alat berat. Besar luka parut itu tampak dari jalanan sini, menganga lebar, mengekspos terang warna tanah dan bebatuan, yang semestinya tersaput hijau permadani pohon yang rimbun.

Lagi-lagi, ini soal eksploitasi. Ibarat kata, jika kita mau kejam mengibaratkan, kadang alam diperlakukan tak lebih sebagai seorang gadis lugu yang dipaksa menjadi pekerja seks. Alam tak melawan. Bahkan ketika satu bukit, satu bagian tubuhnya, dipangkas habis, pada saat itu alam tetap diam. Tak ada aduan, tak ada protes. Alam menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri.

Cuma bedanya, kita mesti bersiap kalau alam melancarkan pembalasannya, yang besarnya setimpal.

Akhirnya saya menemukan jalan besar. Benar, ini daerah Galuga. Itu artinya, saya sudah dekat. Tapi Museum Pasir Angin itu ada di sebelah mana? Tak ada petunjuk sama sekali.

Saya singgah di sebuah minimarket, untuk bertanya di mana Pasir Angin sekaligus membeli minuman dingin. Coba tebak, info apa yang berhasil saya gali dari mbak-mbak penjaga minimarket itu!

Tidak ada.

Mereka tidak tahu di mana Museum Pasir Angin. Mereka tahu ada daerah Pasir Angin, berkendara terus ke arah Leuwiliang, tapi mereka tidak pernah tahu kalau di sana ada museum.

Patutkah saya bertanya kenapa?

Lagi-lagi saya cuma bisa menggerutu dalam hati. Ah, tapi sebaiknya saya tidak marah terlalu cepat. Mungkin saja mbak-mbak penjaga minimarket itu bukan penduduk asli sana. Saya pun akhirnya membuka gawai dan tahu kalau Museum Pasir Angin cuma 4 menit berkendara dari tempat saya berada sekarang.

Ternyata, dari Alfamart Galuga itu perjalanan tidaklah panjang. Berkendaralah ke arah Leuwiliang, pokoknya arah berlawanan dengan menuju Bogor. Beberapa saat kemudian, akan ada petunjuk arah menuju Situs Pasir Angin, berukuran besar sehingga saya agak sangsi kenapa mbak-mbak penjaga minimarket itu bisa tidak tahu kalau situs ini ada.

Cuma, yang menurut saya agak salah dari si penunjuk jalan itu adalah letaknya yang ada justru setelah belokan menuju Pasir Angin. Saya harus bertanya lagi kepada seorang pria berusia menjelang enam puluh yang menjaga toko di tepi belokan itu. Barulah saya dapat informasi belokan ini tepat.

Tak sampai seratus meter berkendara dan papan situs ini sudah bisa saya lihat di ketinggian, di balik sebuah pagar tembok rendah.

Demi Tuhan. Ini bukit?

Baca terus untuk tahu ini buah apa.
Baca terus untuk tahu ini buah apa.

Astaga. Ini sebuah bukit kecil.

Tidak ada pengunjung yang lain, sejauh mata memandang. Sepi sekali. Bangunan museum pun tidak tampak dari gapura kecil ini, selain sebuah jalanan menanjak yang sama sepinya.

Lagi pula, tidak ada tanda berupa gapura atau yang semacamnya yang begitu spesial, selain sebuah plang keterangan bahwa tempat ini cagar budaya, dan pasal-pasal terkait dalam UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Yah, kalau saya boleh berkelakar, mungkin pengunjung pada ogah datang kemari karena baru masuk sudah “dihantam” dengan pasal undang-undang. Ampun!

Tidak ada tempat parkir di depan gerbang, selain pelataran berukuran mini untuk motor, tapi itu pun cuma muat untuk satu motor saja. Agaknya pengunjung yang membawa kendaraan roda empat mesti parkir di depan toko tempat saya bertanya tadi.

Saya baru naik setelah motor saya pastikan terkunci. Seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya duduk di tangga, tersenyum ramah pada pengunjung yang datang sembari menikmati udara segar hasil pepohonan di tempat ini.

“Museum ada di atas, di bangunan bertembok,” katanya.

Tak lama kemudian ada seorang temannya sesama ibu yang datang mengajaknya berbincang, jadi saya mohon diri untuk melanjutkan langkah.

Sepi yang sempurna. Di bukit kecil ini, suara jalan raya kadang masih bisa saya dengar, meski sayup. Tapi selain itu, di sekeliling saya, kesepian meraja dalam mutlak. Sesekali suara serangga musim panas terdengar, gemerisik dedaunan pohon rimbun tertiup angin juga singgah di ruang pendengaran. Bayang-bayang dedaunan jatuh di tanah, menemani daun-daun kering yang tak tersapu.

Saya melanjutkan langkah, sambil melihat ke kiri dan kanan mencari benda menarik. Ternyata ada satu, agak ke kejauhan sana, berdiri menghadap sebuah pohon besar, anggapan saya awalnya demikian.

Sebuah patung. Patung yang sepertinya belum selesai karena bentukannya yang kasar.

Patung?
Patung?

Keadaannya tidaklah baik lagi. Tersembunyi di tengah hutan begini, diterpa semua kemungkinan cuaca yang turun di daerah Bogor, hujan, panas, angin, embun, silih berganti. Tak ada sesuatu yang menaungi selain daun-daun pohon yang rimbun itu. Jelas saja kalau kondisi patungnya seperti ini.

Di situ kadang saya merasa sedih.

Patung ini seperti menampilkan orang yang duduk berlutut. Tingginya kurang lebih 120cm. Mungkin penampakannya yang hancur itu akibat patung ini belum selesai.

Tapi mungkin juga karena sebab lain, misalnya karena pengaruh cuaca. Atau perang.

Menghadap pohon. Atau menghadap utara?
Menghadap pohon. Atau menghadap utara?

Tak ada apa yang bisa ditafsirkan dari patung ini, selain bahwa ia menggambarkan orang berbadan besar, dalam posisi berlutut, dan di depannya ada dua bentukan kecil bulat.

Pikiran saya mulai aneh ketika menafsirkan ini, tapi berusaha saya tepis karena kalau saya pasangkan dengan apa yang saya lihat, hasilnya akan sangat berbeda. Saya memilih mengabaikannya dulu.

Ia menghadap ke sebuah pohon besar. Atau, ia menghadap ke arah utara. Dugaan saya yang paling awal adalah, saya sedang berada di sebuah situs Hindu atau Buddha.

Tarumanegara? Abad ke-5 Masehi?

Masih terlalu prematur untuk mengambil keputusan.

Ia berpose seperti memegang sesuatu, dan dari posisi tangan, arah hadap, serta sesuatu seperti sulur yang membelit dada, mendadak ide itu pun terbersit.

Ada sulur melintang di dada.
Ada sulur melintang di dada.

Ini Dwarapala?

Posisi duduknya persis benar dengan Dwarapala yang saya temukan di Singosari. Rambutnya panjang dan keriting tergerai, menandakan si empunya punya kekuatan yang seram. Seperti ada bentukan anting juga di kedua telinganya, tapi tak jelas terlihat karena sudah hancur. Bentuk tubuhnya yang gempal juga sangat mendukung dugaan ini. “Sulur” yang membelit dada itu saya duga sebagai upawita, atau tali yang menunjukkan status pemakainya dalam tingkatan kasta.

Dwarapalakah dirimu?
Dwarapalakah dirimu?

Tunggu. Kalau ini memang betul Dwarapala, itu artinya…

Benar. Ia memunggungi pintu masuk.

Dan bukankah kalau ini Dwarapala, mestinya ada satu lagi? Saya mencari-cari di seberang pintu masuk tapi tak menemukan apa-apa di seberang sana, selain hutan. Ibu yang tadi duduk-duduk di bawah sana berseru memanggil saya, dengan logat Sundanya yang permanen, katanya museumnya masih naik lagi di atas sana, ikuti saja jalanannya yang bagus. Saya cuma tersenyum sambil berkata kalau saya sedang mencari patung yang satu lagi.

Satu lagi, kalau Dwarapala ini mirip dengan ada yang di Singosari, patung ini sebenarnya dibuat tahun berapa?

Pencarian saya nihil, jadi saya agaknya mesti menuruti saran si ibu, kembali ke jalan bersemen itu. Beberapa kali saya agak tersaruk karena semennya tidak rata di beberapa tempat.

Paragraf di atas bisa dibaca: saya tersandung dua kali, dan jatuhnya pasti tampak keren sekali karena saya tidak lihat jalan :haha.

Sesuatu yang berbentuk seperti kolam angka delapan di dekat pintu masuk lagi-lagi mengalihkan perhatian saya. Seperti detektif amatir, lagi-lagi saya membungkuk-bungkuk, mencari tahu apa yang begitu penting sampai-sampai harus dibuat suatu tempat yang terpisah. Saya cuma butuh kaca pembesar dan mungkin saya bisa dipanggil Jupiter Jones.

Gempalnya sudah mirip, kok.

Kolam angka delapan. Punya arti pentingkah?
Kolam angka delapan. Punya arti pentingkah?

Saya cuma penasaran: ini apa, sih?

Di tengah “kolam” ini ada beberapa batu. Tak ada apa yang bisa saya tafsirkan dari sana. Mungkin cuma kebetulan kalau batu itu ada di dalamnya, mungkin itu cuma batu biasa, meski bukan tidak mungkin kalau batu itu adalah peninggalan dari zaman megalitik seperti batu dakon yang ada di Situs Kebon Kopi II. Ah, saya butuh tambahan informasi, tapi mau tanya sama siapa? Saat saya menoleh ke belakang, ibu-ibu yang tadi sudah menghilang, keluar bersama temannya tadi.

Praktis, di bukit sebesar ini cuma ada saya sendiri.

Kenapa ada kolam yang bentuknya seperti angka delapan ini? Apa untuk menempatkan bebatuan itu? Ataukah untuk menempatkan benda lain? Apa batu itu punya arti penting? Menhir berukuran kecil? Atau dolmen, seperti yang saya temukan di Situs Kebon Kopi I?

Apa batu-batu ini punya arti?
Apa batu-batu ini punya arti?

Ataukah ini cuma sekadar hiasan taman yang tak berarti lain kecuali untuk membantu memperindah suasana?

Bingung, euy. Saya mengelilingi kolam itu beberapa kali, mencari perbedaan. Ternyata, di dalam kolam itu ada tanaman buah, yang tak ada tumbuh di luar batasan itu. Buahnya hitam-hitam dan kecil-kecil.

Jawabannya: saya tidak tahu buah ini apa :haha.
Jawabannya: saya tidak tahu buah ini apa :haha.

Jadi saya cuma mengambil beberapa gambar.

Sambil mengembuskan napas, saya menatap lagi kolam itu, bersama patung Dwarapala yang menatap sendu ke arah utara di kejauhan sana. Mak, saya bahkan belum masuk ke bangunan museum dan pertanyaan serta ceritanya sudah segini banyak!

Tapi yang paling utama, untuk saat ini saya sangat kasihan dengan kenapa situs sebesar ini amat sangat terbengkalai. Kenapa museum sebesar ini terlantar? Situs purbakala ini sejatinya sangat menarik untuk dijadikan bahan penelitian, tapi sekarang, kelihatannya tak begitu banyak yang tahu kalau situs ini ada di dekat kita.

Padahal, tempat ini tak seberapa jauh dari Jakarta, tak sejauh Bandung atau Gunung Padang, dan kalau soal akses dari jalan utama, tak sampai 100m dari jalan besar. Untuk mencapainya, seseorang tak harus bersusah-payah mencapai situs ini. Bukan yang melewati tepi jurang atau berjuang dengan jalanan yang tak beraspal sejauh berkilo-kilo.

Hah, ya sudahlah. Mungkin ada alasan lain. Siapakah saya, menjustifikasi? Pengetahuan saya saja masih minim begini.

Gerbang museum. Akhirnya.
Gerbang museum. Akhirnya.

Sebuah gerbang di depan sana tidak tertutup. Untunglah.

Kita masuk?


n.b.
Saya baru menemukan satu laman blog berjudul Arca Gunung Cibodas. Agaknya ini memberi penjelasan tentang Dwarapala yang saya jumpai di sana.

Ya, itu memang Dwarapala. Ada fotonya sebelum mengalami proses penghancuran.

Dan, saat saya mencari-cari soal situs Pasir Angin ini, ada postingan yang menampilkan bahwa di sini juga ada bekas benteng pertahanan saat Perang Dunia II. Sayangnya saya tidak menemuinya saat bertandang ke sana.

Ini sangat all of a sudden, tapi kalau dilihat dari bentuknya, mungkinkah “kolam angka delapan” yang saya temui itu, sebenarnya, adalah sisa-sisa benteng zaman peperangan?

65 thoughts on “Museum Pasir Angin #1: Cerita Dwarapala dan Kolam Angka Delapan

    1. Kalau menurut saya banyak, Mbak, soalnya ternyata situs ini dipergunakan dari zaman prasejarah, kerajaan Hindu Budha, sampai masa penjajahan, baru dijadikan museum sekitar 1970-an. Jadi peninggalan di sini ada monolit sampai sisa benteng pertahanan, Mbak :)).

  1. Ya datanglah ke Bogor sini :haha. Kasihan :hehe.
    Malah ada pikiranku bahwa ini kalau mau digali, boleh jadi seperti Gunung Padang. Asal saja sih itu, tapi mungkin juga, kan?

    1. Oooh, itu yang namanya leunca… astaga saya baru tahu :hihi. Bisa dibuat petis juga? Hm, penasaran dengan rasanya :)).
      Terima kasih informasinya Mbak :hehe.

  2. Tambahan lagi, setiap lewat anak-anak yang sebaya, mereka pasti bersorak-sorai seperti merasa menang akan sesuatu. Padahal apa yang mereka menangkan itu juga saya tidak begitu jelas :hehe —-> berarti mereka bahagia, Gar. sepertinya saya juga dulu melakukan hal yang sama ketika masa anak-anak…. tak pelu alasan untuk bahagia 😀

    soal buah itu, namanya buah anu 😛

    1. Iya Mbak, cari-cari sendiri :hehe.
      Di sini sayangnya banyak Mbak, situs yang terbengkalai. Padahal kita diberi kekayaan begini melimpah tapi kita belum mampu menghargai apa yang sudah Tuhan berikan itu.

    1. Iya mas, meski dengan berat hati, kita harus akui, kebanyakan museum di Indonesia itu seperti ini.
      Ah, sama-sama. Terima kasih atas apresiasinya. Masih banyak yang belum terungkap dari situs ini, Mas :hehe.

    1. Iya, itu dolmen, digunakan sebagai tempat sesaji pada ritual oleh masyarakat prasejarah di daerah itu :)).
      Aksesnya sudah lumayan baik, kok :hehe. Tidak menembus hutan atau menerjang sungai. Mencari alamat di Jakarta jauh lebih susah ketimbang mencapai situs ini :hehe.

      1. Bisa jadi nyari alamat di Jakarta lebih susah daripada nyari situs ciariteun, haha.. Secara kalau k sana cukup tau nama daerahnya aja orang kemungkinan udah bisa tau, hehehe *dijawab serius ini sama akuuh hehe

  3. Wahhh menarik ini. Tapi pertanyaanku kenapa ada Dwarapala tapi tak nampak susunan batu berundak sama sekali ya? Apa dihancurkan saat pengaruh Islam masuk ke Pasundan? Misteri… tapi jadi pnasaran pingin ke sana kalo suatu hari liburan ke Bogor 🙂

    1. Entah dihancurkan saat itu, atau satu bukit ini sejatinya adalah punden berundak, seperti kasus Gunung Padang, masih belum terjawab, Mas :)).

  4. Ampunnn kamu keren deh sendirian menjeleajah situs musium yg ‘sedihnya’ tidak terawat dan terbengkalai ini Gara.. Bayanganku udah jd smacam film horor Indonesia yg di bioskop..

    1. Ah, terima kasih Mbak. Saya bukan orang pertama yang datang ke situs ini, kok :hihi. Tapi memang, situs ini kasihan sekali kalau saya lihat :((. Semoga ada penguasa yang tergerak untuk memperbaiki.

  5. “Tak ada aduan, tak ada protes. Alam menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri…”
    Paragraf ini biki aku miris,sedih,campur-campur deh kak :(( sedih banget kalo liat alam dikeruk sampai tak terlihat lagi keindahannya, tergantikan dengan bangunan – bangunan atau yg lain, yang juga kejadian di deket tempatku kak 🙁

    Ini tulisannya belum masuk museumnya ya kak udah sepanjang ini hehe tapi..

    tulisannya bagusss banget,suka 😀

    1. Iya, ada banyak tempat ya di negara kita yang eksploitasi kekayaan alamnya seperti tidak dilakukan dengan akal sehat :huhu. Padahal seyogianya semua punya batasan, punya porsinya.

      Ah, iya, soalnya banyak yang saya temui sebelum masuk museumnya (setelah masuk malah lebih banyak lagi, saya jadi bingung :haha).

      Terima kasih banyak buat apresiasinya! Terima kasih juga sudah berkunjung :)). Senang rasanya dikunjungi travelblogger keren seperti dirimu, Mbak :)).

  6. Sedih dan prihatin baca postingmu ini. Tinggal di benua yang menghargai masa lalu dan menjaga benda-benda arkeologi dengan seksama, suka gemes sendiri ketika baca betapa tidak pedulinya bangsa sendiri. Sudah saatnya ada kepedulian dari penduduk dan juga pemerintah setempat. Kalau ngarepin pemerintah pusat mulu mah bakalan lama..

    1. Iya Mbak, semoga ada kepedulian dari masyarakat dan pemerintah setempat, sebab situs ini spektakuler dan masih sangat misterius…
      Kehadiran bangsa Eropa di sini sebenarnya memberi beberapa hikmah, salah satunya karena mereka menyelamatkan beberapa peninggalan. Entah apa kita sendiri bisa merestorasi candi-candi besar negeri ini jikalau tidak pernah ada Oudhidkundige Dienst…

    1. Iya Mbak, sendirian :hehe.
      Bisa jadi keduanya. Dan kalau mau jujur, memang demikianlah nasib peninggalan yang ada di negeri ini: pelan-pelan dilupakan :huhu. Sayang sekali.

  7. Pasir angin yang membuat bertanya-tanya. Gatal pingin garuk-garuk kepala kepastian nasib sang museum dan dwarapala. Di sinilah ilmu arkeologi sepertinya berperan besar. Arkeolog ibarat detektif, ia harus menuntaskan kasus/penemuannya, sebelum musnah beserta barang buktinya. Sebelum keburu dibuat lahan cocok tanam atau pemukiman. Toh siapa tahu, papan bertuliskan undang-undang itu juga ikut rubuh 😀

    1. Membaca bagian “keburu dijadikan lahan cocok tanam”, saya jadi teringat Makam Dinger di Gabes itu, Mas… di mana-mana sudah jadi ladang wortel *kemudian gatal kepengen publish*. Padahal dulu Dwarapala itu di tahun 1863 masih bagus sekali penampakannya, tapi sekarang sudah tak berbentuk :huhu.
      Iya, arkeolog itu profesi yang keren banget. Setuju, sangat mirip dengan detektif! :hehe.

  8. Tulisan Bli Gara kalau sudah menyangkut sejarah selalu kelihatan hidup 🙂
    Sayang sekali museumnya tidak terawat seperti itu. Kalau kerusakannya semakin dan semakin parah, bukannya tidak mungkin patungnya tidak dikenali lagi (dan dikira bongkahan batu biasa). Jangan sampai deh :|.

  9. Pasir dalam bahasa Sunda artinya bukit. Ternyata emang bener.
    Dan itu termasuk sayuran bukan buah, leunca, solanum nigrum, tapi yg udah tua jadi item gitu.

      1. Leunca itu semacam terong-terongan, rasanya agak pahit. Sering dibikin tumis atau sebagai lalap temen sambel.
        Yg dimakan itu yg masih hijau, kalau yg udah hitam kayak gini biasanya sering dipake amunisi ketapel sama anak kecil.

  10. Pasir dalam bahasa sunda artinya puncak. Kadang-kadang juga disebut Pal. Makanya banyak tempat berawalkan pasir, dan lokasinya pasti di puncak punggungan.
    Aku sih nggak mau ikut2an berkomentar, sayang ya situsnya rusak, soalnya sudah banyak yang berkomentar demikian. Tapi sepertinya menimbulkan ide bahwa banyak menulis tentang tempat-tempat bersejarah begini untuk melawan lupa akan sesuatu. Semestinya tempat ini bisa lebih terawat jika muatan lokal, khasanah daerah diceritakan lewat tradisi lisan yang turun temurun. Seandainya bisa membuat drama atau apa tentang beberapa tempat semacam ini. Dwarapala si penjaga pintu sebagai bahan dongeng.

    Apaa, kamu sudah sampai Ciaruteun? Yang jalan kaki 6 jam katanya itu ketemu batu segede pelukan? Nanti kalau ditulis mention aku, yaaa. 😉

    1. Asyik, melawan lupa. Ya, kita seyogyanya tidak lupa tentang dengan cara bagaimana kita bisa sampai seperti saat ini.
      Hah? 6 jam jalan kaki? Kayaknya Ciaruteun yang kita maksud itu beda deh Mbak… lha wong saya parkir motor di samping Prasasti Kebon Kopi dan ke Prasasti Ciaruteun tinggal ngesot sedikit, kok :haha.
      Siap, saya akan senang sekali bisa melakukan itu!

  11. Sepi dan terbengkalainya terasa Gara.. yang menyebalkan itu adalah terbengkalainya, karena bisa jadi kita senantiasa diberi kemudahan meraih begitu banyak hal yang hebat tetapi keteteran dalam memeliharanya.
    Sayang banget ya.. tapi saya jadi pengen kesana… terima kasih Gara, this is gooooooooddd…

    1. Iya, ibarat kata, kita hidup di atas harta karun tapi harta karunnya kita sia-siakan :huhu.
      Sama-sama! Saya senang sekali kalau tulisan saya yang sederhana ini bisa menggugah orang lain untuk berkunjung ke sana :)).

  12. Wah pengetahuanmu soal arca-arca lumayan juga ya, kalau aku sih udah pasti cuma foto-foto, lalu lewat sambil menyimpan pertanyaan itu patung apa … *lanjut ke TKP*

    1. Terima kasih banyak, tapi sama juga di sini Mas, masih banyak pertanyaan saya tentang arca-arca yang ada di sana. Saya juga belum tahu itu tinggalan kerajaan apa, apakah Tarumanegara atau mungkinkah kerajaan sesudahnya :hehe.

  13. Wow! Menemukan tempat baru sepertinya menyenangkan, ya! Sedikit misterius…

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?