Mudik #0: Balada Mudik ala Gunung Raung

Mudik, mudik. Niatnya sih begitu, dan semua sudah direncanakan dengan sangat sempurna. Pulang buka puasa bareng bersama blogger kece, saya check in tiket pesawat saya buat tanggal 10 Juli. Tiketnya sendiri sudah dipesan jauh hari. Okelah ya. Check in selesai, tinggal tidur.

Besok ke kantor sudah bawa tas, motor tinggal di kantor, jam empat sore pas pulang langsung cus ke Gambir buat naik Damri ke bandara. Pokoknya malamnya saya sudah ketemu tempat tidur di Mataram sana. Ah, indahnya dunia.

Tapi besoknya, saya mendapat berita kalau bandara Lombok adalah satu dari lima airport yang ditutup gara-gara erupsi Gunung Raung. Pertamanya sih belum khawatir, habisnya ditutupnya sesuai NOTAM yang pertama cuma sampai jam 06.30 LT. NOTAM yang kedua juga bilang kalau penutupannya cuma sampai jam 09.30 LT, dan di NOTAM kedua ini saya aksesnya sudah siang. Aman dong, ya. Sudahlah dibuka kayaknya LOP itu jam 12.00 siang.

Eh tiba-tiba saya dapat SMS kalau penerbangan saya di-cancel… bersama semua flight ke DPS dan LOP di hari itu. Diminta menghubungi nomor tertentu buat refund full, eh nomornya tidak bisa dihubungi. Mulai panas nih kepala saya, apalagi atasan sudah menagih kerjaan pantauan ke ruang kerja Menteri gara-gara saya meninggalkan berkas di sana untuk ditandatangani Bapak Menteri. Ya sudahlahya, saya selesaikan semua, setelahnya saya coba lagi menghubungi maskapai singa terbang itu.

Hasil nihil.

Jadi saya langsung capcus tancap gas ke Harmonie buat meminta pertanggungjawaban atas janin dalam kandungan #eh.

So far, pelayanan di sana lumayan bagus. Cepat dan ramah. Apalagi mbak-mbaknya solutif. Sayangnya si pelanggannya ini yang tidak aplikatif. Tiket itu saya cancel-lah dengan meminta full refund. Alasannya sih, selain supaya dapat uang cepat, kebetulan refund-nya full juga kan :hehe, penerbangan ke LOP buat tanggal 11 dan 12 tidak ada, sudah penuh semua, adanya baru tanggal 13. Belum terpikir alternatif apa yang bisa saya ambil kalau tiket itu saya cancel. Tapi tiket itu saya cancel… doh, menyesal kan.

Itu pun setelah saya tanya ke si mbaknya lagi, pesawat tanggal 13 itu belum tentu bisa terbang.

Sadar nggak sih ada yang salah dengan pertanyaan “Mbak, itu yang tanggal 13 itu pasti terbangnya?”. Kayaknya ada yang salah. Ya masa si Mbak itu bisa memastikan apa pesawat bisa terbang di tanggal segitu.

Tapi kemarin itu saya tidak berpikir ke arah sana… sampai ketika saya dihadapkan pada kemacetan Istiqlal yang alakazam gara-gara habis Jumatan, saya berpikir, “Ini kan Lebaran jadi jalanan mesti macet pakai banget, ya. Terus gue mau naik apa ke Mataram?”

Wuaduh itu yang saya sudah mulai panik pakai banget karena ini sudah H-7 dan saya belum tahu mau naik apa buat pulang kampung. Sesampai di kantor saya langsung cari penerbangan buat tanggal 13 itu (iya saya menyesal) dan harganya sudah selangit…

Masalah kedua adalah, ternyata saya tidak bisa ambil uangnya karena saya pesannya lewat aplikasi di gawai. Makjang… kelimpungan lagi saya mengurus refund dan lala lili segala macamnya itu, untungnya pas di kantor semua bisa selesai dengan baik, setelah telepon-teleponan dengan Customer Service Travel(o)ka yang baik hati banget dan sangat solutif. Tapi konsekuensinya, wuaduh betul-betul cekak nih saya. Transportasi belum dapat tapi likuiditas mulai terhambat karena ada yang menguap.

Kayaknya pilihan transportasi satu-satunya cuma… naik bus.

Aplikatifkah?

Iya, bus. 1.300 km jarak Jakarta Mataram mesti saya tempuh via jalan darat. Masih kalah sih dengan Jakarta–Medan yang hampir 2.000km, tapi pembedanya adalah, ini musim Lebaran dan… semua orang pada mudik. Jadi bisa dibayangkan, legendarisnya pemberitaan mudik yang saya tonton setiap tahun sejak saya masih kecil itu, dan di tahun 2015 ini, saya ada di dalamnya.

Bos dan rekan kerja saya langsung mencak-mencak begitu mereka tahu saya naik bus. “Kakimu itu bakal bengkak, Gar. Bisa rontok semua dirimu.” Ingat banget bos saya ngomong seperti itu, dan rekan kerja saya (geng gosip, biasa) langsung bergerak dengan semua sarana komunikasi yang tersedia buat mencarikan saya tiket pesawat. Kita seperti lupa ada pekerjaan apa soalnya cowok termuda di satu divisi ini (iya, paling muda :haha) bakal pulang mudik dan semua orang tidak rela kalau dia naik bis.

Oh, saya terharu, mereka perhatian betul dengan saya… kemudian digampar.

Tapi sembari mereka mencari itu, saya menelepon perusahaan oto tempat satu-satunya bis dari Jakarta ke Mataram. “Safari…” renyah suara bapak itu megangkat telepon. Suatu hal yang tak saya sangka mengingat setahu saya kehidupan bus dan terminal itu erat dengan premanisme jadi boro-boro mau melayani. Makanya saya agak pesimis.

Ketika saya bertanya, dia bilang dengan santainya kalau buat pemberangkatan hari ini ada bus. “Oke, jam berapa Pak busnya?” tanya saya.

“Jam tiga, Mas.”

“Jam tiga!?” Ini betulan saya telepon ke tempatnya dia pakai mengulang kalimatnya, lho. Ini kan sudah jam satu siang…

Doh, kayaknya agak tidak mungkin kalau dari Lapangan Banteng sampai ke Kebayoran Lama itu dalam waktu 100 menit. Soalnya Tanah Abang lagi macet-macetnya karena semua orang agaknya ingin belanja pakaian muslim menjelang lebaran. Belum lagi bahwa teman-teman dan bos saya (iya, bos saya bahkan sampai mencarikan bus dari Surabaya ke Mataram) sedang sibuk mencari transportasi.

Kayaknya baru kali ini lho saya traveling diurusin banyak orang :hehe. Terima kasih ya semuanya!

Jadi rute usulan mereka adalah: naik pesawat sampai ke Surabaya kemudian naik bis sampai Mataram. Sangat solutif… kalau saja bus Bungurasih–Mandalika tidak habis dan baru tersedia di tanggal 22.

“Ke Bali Gar, kalau ke Bali bagaimana?” Bos saya menyampaikan usul.

Saya teleponlah Terminal Bungurasih. Kagum juga, telepon saya cepat ditanggapi dan saya diminta menelepon bagian pengurusan tiket. Agak kaget juga ketika tahu pembelian tiket di terminal terbesar di Surabaya ini sudah pakai sistem terpusat, sehingga bisa tahu jam pemberangkatan ke Bali itu adanya di jam berapa saja. Info didapat, jamnya adalah jam 8 pagi dan jam 4.30 sore. Kursi mah masih banyak tersedia.

“Terus saya dari Bali ke Mataram mau naik apa?”

Sebenarnya sih banyak, kalau mau dipikir sekarang. Ada teman, keluarga, dan lain-lainnya. Tapi semuanya tidak jadi terlaksana karena saya sudah keburu beli ini…

Tiket bus Jakarta–Mataram yang harganya sama dengan tiket pesawat saya.

Yah… 1.300km, 2 kali naik kapal feri, aku datang… tapi mungkin ada perkembangan terbaru soal ini, dan memang benar. Bandara masih ditutup sampai jam 12.00 tanggal 11 Juli. Dan Tuhan mungkin tahu kalau saya sekarang jadi travel blogger ala-ala so Dia mungkin memutuskan bahwa saya mesti melihat banyak jalan… lagipula bukankah saya memang suka perjalanan?

Oh Tuhan, saya mohon diberkati dong perjalanan ini… :huhu.

Ya sudahlah, saya sekarang cuma bisa menikmati perjalanan sambil nyanyi-nyanyi”

Kicauan burung mengalun riang, memberikan suasana tenteram
Mengiringi ingatanku pada dirimu kasihku, saat pertama kita bertemu
Sayang…

Ketahuan kan saya ini angkatan berapa? :haha.

102 thoughts on “Mudik #0: Balada Mudik ala Gunung Raung

  1. Yaampyun Garaaaaa. kebayang gw betapa heboh dan bingungnya kemaren itu. Sekarang dah sampe manakah? Semoga lantjar djaya sampai tujuan yaaa…

  2. Gejala alam di luar kuasa kita. Itu sudah kehendakNya. Dan kehendakNya terjadi di musim mudik ya. Jadi banyak sekali yg merasakan imbasnya. Semoga semua bisa sabar dan mendapatkan solusi yg tepat buat berkumpul dengan keluarga. Sy dengar ada 100 lebih penerbangan yg dibatalkan. Happy mudik, Gara. Semoga selamat sampai rumah dan berkumpul dgn keluarga.

    1. Syukur banget, ternyata banyak hadiah Tuhan di perjalanan kemarin Mbak. Saya bersyukur sekali. Terima kasih ya Mbak, semoga kita semua di hari raya ini bisa berkumpul dengan keluarga :)). Iya Mbak, memang banyak banget flight yang di-cancel :)).

  3. Wahhh iya Garaaa kmren waktu ada berita ttg Gn Raung langsung inget sama plan mudikmu. Semoga semuanya lancar yaaa…dinikmati aja. Setay setrong! 😀

  4. Waduh rempong jg ya ternyata mau mudik. Naik bus pula. Semoga semua lancar2. Naik bus biasanya ada jeda istirahat, saat itu kaki harus direfresh biar nggak bengkak. Urut2 trus dipake buat jalan.

    1. Siap, terima kasih Mbak! Sudah saya praktikkan selama perjalanan kemarin, dan untung banget kaki saya baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih banyak ya :)).

  5. hadaooo gara jadi kebayang kalau lewat daratnya hari biasa gapapa ya, tapi ini mau lebaran #sambilngelapkringetsendiri

    tapi gapapa deh gara. jadi inget saya pernah nonton acara tv yang judulnya air crash investigation. salah satu ketika mereka membahas matinya mesin pesawat british airways dari london tujuan auckland. jadi manteng nonton karena mreka meyebut-nyebut gunung galunggung. saat pesawatnya terbang di atas jawa barat, mendadak seluruh mesin pesawatnya mati. pesawat akhirnya diarahkan ke jakarta. setelah sempat gagal menghidupkan mesin akhirnya pilot british airways berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat. investigasinya cukup lama sampai akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa matinya mesin itu akibat kemasukan debu dari ledakan gunung galunggung. nah sejak itu untuk jaminan keselamatan penerbangan nasional maupun nasional kalo ada gunung meletus, semua penerbangan dalam radius yang dianggap berbahaya harus dibatalkan….

    kurleb begitu gara.

    yasut memang mungkin udah jalannya gara untuk bisa meliput perjalanan panjang mudik lebaran. lewat tol baru gak tuh gar? kali aja ya bisa brenti dan foto-foto disana juga. katanya bisa ngirit waktu perjalanan dua jam ketimbang lewat jalur pantura.

    salam
    /kayka

    1. Wah ternyata begitu ya Mbak penyebabnya, pantas saja bandara jadi ditutup semua, ternyata dampaknya memang bahaya sekali. Agaknya lebih baik tidak terbang Mbak ketimbang memaksakan diri tapi ujung-ujungnya malah berbencana dan akhirnya terbangnya bukan ke kampung tapi ke surga :huhu. Haduuuh.

      Eh memang perjalanan kemarin banyak banget ceritanya Mbak :)). Semoga saya bisa menuliskannya di sini :hehe.

      1. kapan nyampe di mataram gara? mesti tepar dan pantatnya tepos ya #oppsssss hahahhaha

        iya kalo ke surganya maksudnya surga liburan di bali atau di mataram sih gapapa ya, tapi ke surganya terbang pake sayap malaikat #hadaooo

        siiip ditunggu ceritanya ya gara.

        salam
        /kayka

  6. Bener, lho. Saya kasihan sama yg mudik naik pesawat. Padahal, pesan tiketnya udah dari jauh2 hari. Kemarin, ngeliat banyak banget bule aussie ngantri di salah satu ticketing di Kuta begitu ada berita bandara buka sabtu sore. Eh, hari ini udah tutup lg :(. Good luck buat perjalanannya, ya. Jangan lupa pake masker, krn kabarnya abu gunung raung udah nyampe Gilimanuk.

    1. Siap Mbak! Saran Mbak sudah saya laksanakan dan berhasil dengan baik sekali :)). Memang banyak drama dengan gunung berapi ini, tapi juga jadi hadiah Tuhan untuk saya :)).

    1. Iya Mbak, ada sisi baiknya banget memang perjalanan kemarin itu, sesuatu yang tidak bisa saya lupakan dan itu semacam hadiah dari Yang Kuasa :)). Terima kasih ya Mbak :hehe. Tak sabar rasanya untuk segera membagi semua keseruan itu di sini :)).

    1. Iya Mbak, tapi mendadak jadi seru banget dengan gunung meletus ini :huhu.
      Sekarang (syukurlah) sudah di Mataram, terima kasih banyak ya Mbak :)).

  7. Met mudik Gar, enjoy sama perjalanan daratnya yaaa… Klo pegel berdiri gaya-gaya peregangan pas senam. Sabodo teuing klo diliatin org, hehe…

    Eh itu pasti duduk kan. Soale ak pernah mudik ke tasik (yang ga ada pesawatnya) lagi hamidun, eh berdiri pula krn bus pertama mogok #curcol

    1. Siap Mbak, memang peregangan itu kudu mesti mah kalau di atas kereta :hehe.
      Astagah… pegimana ceritanya itu Mbak, kan mestinya ibu hamil diberikan kesempatan untuk duduk ya :huhu.

      1. Beuh, ga ada y nawarin duduk dan macet pula. Pdahal jelas2 dlu msh kurus perut buncit. Masa iya disangka busung lapar, hehehe.. udah nyampe rumah ya, met mencicipi masakan ibu dunk 🙂

  8. Mudiknya bener-bener perjuangan bang XD memang yang namanya alam sulit ditebak,
    Tp semoga erupsinya ngga berlarut”, kasian yang tinggal di wilayah sekitar sama banyak calon penumpang yang terbengkalai gara-gara penerbangan yang di cancel.

    Oiya Ati-ati bang, semoga selamat sampai rumah tercinta dan bisa berkumpul bareng keluarga 🙂

    1. Sekarang si gunung kayaknya masih erupsi Bang :huhu. Makanya bersyukur bangetlah karena ketika saya mengetik balasan ini, saya sudah selamat di kampung halaman :)). Terima kasih banyak ya Mas, semoga Masnya juga Lebaran kali ini bisa dilalui bersama orang-orang terkasih :)).

  9. ceritanya full, liburannya menyenangkan.. bener tuh lebih baiq cancel penerbangan bahaya erupsi… motor,mobil kan bisa minggir nah loh kalo pesawat kena erupsi berhenti d’atas udara wah gimana jadinya

    1. Bahaya banget setahu saya, soalnya ada teman yang bilang (Mbak Kayka) kalau mesin pesawat bisa mati mendadak karena abu vulkanis itu. Jadi ketimbang mengambil risiko yang fatal, saya pilih jalur aman saja :hehe.

  10. Jadi kamu di hamili ama si singa itu ??? kamu mau sama tukang delay ??? hahaha
    Btw gw baru tau kalo LOB juga termasuk yg di tutup.
    Jadi kamu naik bus yaaaa, kamu JUARA saluttttt, kalo gw pasti batal mudik hahaha

    1. Terima kasih banyak yah Om! Wah kalau batal mudik, bisa dicoret saya sebagai anak :haha. Iya, LOP juga ditutup, bukan karena bandaranya kena abu tapi jalur penerbangan dari dan menuju LOP-nya yang kena imbas :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!