Mewinten #2: Tahapan, Kekagetan, Persiapan

Rencana mewinten boleh jadi makin pasti. Tanggal pun telah ditetapkan. Namun, kala itu saya tak berani mengumbar rencana ini di media sosial. Ada ketakutan dalam diri, jika saya mengumumkan sesuatu yang kepastiannya sesungguhnya bahkan belum diyakini. Sebutlah bahwa itu berawal dari semacam kebimbangan. Yang akhirnya, berujung pada jawaban “lebih baik tidak usah.” Demikianlah memang, lebih baik tak usah sesumbar.

Ada perasaan, sesungguhnya ini bukan acara sepele. Ada bagian dalam hidup saya yang saya yakin betul akan berubah setelah saya mewinten. Keyakinan itu, terus terang, datang begitu saja. Saya tak pernah mengharapkannya. Ia ada. Ia tumbuh dan berkembang hari demi hari. Sampai saya tak bisa hanya mengabaikannya. Bahkan, saya mungkin terkonsumsi olehnya. Pernah terbersit di pikiran saya untuk membatalkan upacara ini. Dengan batalnya, saya tetap menjadi diri saya sebagaimana adanya.

Itulah mengapa saya sangat menahan diri dari memosting rencana mewinten di akun media sosial. Saya takut.

Namun demikian, bayangan terburuk dalam benak saya adalah bahwa saya sesumbar. Kemudian menikmati perhatian media sosial terhadap itu. Di pikiran saya, mewinten itu keren banget. Menurut saya belum ada tulisan seorang bloger yang membahas acara mewinten. Tak sekadar sebagai peliput, namun sebagai pelaku. Ha, saya menang.

Astaga, sombongnya. Saya lupa untuk ingat, siapalah saya di dalam hemisfer narablog. Padahal ekstremnya, saya ini begitu tidak dikenal. Mungkin saya harus membuat onar di depan Istana Merdeka jika saya ingin diingat sebagai sebuah sensasi.

Tapi khayalan bisa membuat gelap mata, bukankah begitu? Anggaplah demikian. Dalam bayangan saya, saya sedang menikmati popularitas karena mewinten (ini lucu sekali). Eh, untungnya (atau sialnya?), ternyata, acara mewinten saya batal karena satu dan lain hal. Nah! Mau ditaruh di mana muka saya? Ibarat kata, semua kredibilitas yang sekarang saja belum terbangun kokoh langsung runtuh. Alamak. Semua orang akan langsung makin tidak percaya terhadap apa yang saya tulis.

Baca juga: “Sekadar” Batu yang Bersejarah (Dan Sebaiknya Jangan Macam-Macam Terhadapnya)

Jika saya kenang sekarang, mungkin ketakutan soal mewinten dan postingan media sosial itu memang berlebihan. Tapi saya sangat bersyukur karena keputusan saya untuk diam kala itu ternyata tepat. Jadi, sekarang saya bisa menulis ini tanpa suatu beban. Jika saja saya tak punya ketakutan itu, boleh jadi apa yang saya bayangkan di atas adalah kenyataannya kini.

Sampai dengan, kurang lebih, dua minggu sebelum acara, belum banyak kemajuan terkait informasi yang saya dapat. Mungkin sekali sebabnya karena saya ada di Jakarta. Sementara itu, upacara ini akan dilakukan di Lombok. Oleh karenanya, orang tua sayalah yang melakukan persiapan. Tapi, masa iya sampai dengan saat itu, saya tak dapat berita barang sedikit pun?

Informasi yang ada di saya sampai saat itu belum berubah dari sebulan sebelumnya. Dengan catatan, di luar riset soal upacara ini. Upacara pawintenan saya tidak diselenggarakan di rumah. Tidak juga di pura. Akan tetapi, di griya peranda. Semua banten disiapkan di sana. Jadi, orang yang akan mewinten (bolehkah saya bilang ‘peserta’? Kesannya seperti ‘peserta ujian’) datang ke sana, ikut upacara mewinten, dan setelah selesai, kembali ke rumah.

Pernah sekali waktu saya mengingatkan diri sendiri. “Gar, kamu berlebihan,” batin saya. Saya tidak yang mediksa atau mewinten ala pemangku. Ini hanya upacara penyucian kecil. Toh, kalau memang ada persiapan, persiapan apa? Semua sudah kami serahkan ke sana. Logika kasarnya, saya tinggal terima beres.

Makanya, semestinya saya tidak boleh begitu khawatir. Saya kan sudah meyakinkan diri sendiri bahwa ini acara mewinten kecil mungil nan sederhana. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi, saya tetap khawatir. Sebagaimana yang saya bilang tadi, tanpa sebab yang jelas. Itu saat-saat yang bagi saya sangat tidak enak. Saya khawatir akan sesuatu. Tapi saya tidak tahu apa yang saya khawatirkan. Akhirnya, bagaimana mungkin saya mengurangi kekhawatiran itu, jika saya bahkan tidak tahu bagaimana bentuknya? Bagaimana saya bisa mengalahkan musuh, jika saya bahkan tidak tahu musuh itu bentuknya seperti apa? Jika saya bahkan tidak tahu, apakah musuh itu ada atau tidak?

Ya Tuhan, yang bisa saya lakukan cuma berdoa.

Namun, pernah sekali waktu saya berpikir lucu soal ini. Terlepas dari ketakutan yang kiranya (agak) berlebihan itu, ya. Dilihat-lihat, pandangan saya akan upacara mewinten kiranya akan mirip dengan pandangan terhadap upacara pernikahan.

Eh, yang terakhir ini akan saya urus nanti.

***

Seminggu sebelum acara, barulah saya berani bertanya. Pada sebuah hubungan telepon antara saya dan ibu. “Bagaimana?” tanya saya.

Baca juga: Pulau Menjangan #8: Jawaban Misteri Tamas dari Sang Perempuan Tangguh

Saya tidak membahas tentang mewinten. Setidaknya, tidak secara spesifik. Satu kata ‘bagaimana’ bisa berarti banyak hal. Namun, Ibu memang cenayang yang ahli untuk niat anaknya. Betapa pun tersirat. Beliau langsung tahu apa yang saya maksud. “Oh, soal mewintenmu?” tanyanya balik.

Di Jakarta, saya gelagapan. Sebelum Ibu sempat meledek, saya sudah klarifikasi duluan. Saya bertanya hanya karena saya sudah pesan tiket pulang. Alangkah tidak lucunya kalau saya sudah pulang tapi acaranya batal. Mengingat saya biasanya jarang keluar rumah kalau mudik. Maka saya tidak akan dapat apa-apa kalau mudik tapi acaranya batal. Dalam artian, tidak dapat bahan tulisan.

Ibu cuma ketawa. Saya yakin Ibu sebenarnya sudah tahu isi hati saya. Sampai ke hal yang tidak saya katakan. Bahwa saya cukup penasaran dengan acara ini. Bahwa saya sebenarnya mulai ‘menyiapkan niat’ untuk mewinten. Saya pun yakin Ibu tahu bahwa saya cukup kaget dengan acara ini. Tapi, mau bagaimana lagi, saya memang harus bersiap. Mungkin upacara ini salah satu bentuk perhatian beliau pada saya.

Dan Ibu selalu punya cara untuk membuat saya agak baikan. Beliau memberi tahu bahwa bibi saya dari Bali akan ikut mewinten. Nah, ini informasi baru. Kata Ibu, bibi mau mewinten agar lebih mudah kalau mau melakukan upacara agama skala kecil. Bahasa beliau, “supaya bisa nganteb sendiri kalau mau ngodalin sanggah di rumah.”

Saya yakin pembaca ada yang kebingungan dengan kalimat itu. Akan saya jelaskan konsepnya.

Satu bagian dalam kerangka dasar dalam agama Hindu adalah ritual. Dengan demikian, ajaran Hindu dibungkus dalam pelaksanaan upacara-upacara agama. Upacara itu disebut yadnya. Secara harfiah, yadnya berarti korban suci. Maksudnya, esensi dari setiap upacara dalam Hindu adalah pengorbanan. Dalam arti, pengorbanan umat manusia kepada Tuhan melalui alam semesta.

Sebagai sebuah upacara, sudah tentu mereka semua memiliki tata cara. Sebuah upacara agama Hindu terdiri dari tiga segi. Mereka adalah sarana persembahan, prosesi upacara, dan orang yang menyelesaikan upacara. Tiga fungsi ini dinamakan tri manggala ning yadnya. Secara harfiah, ia berarti “tiga pemimpin dalam yadnya”.

Nama pun “pemimpin”, maka tiga fungsi tersebut adalah fungsi dari individu. Dengan demikian, umumnya ketiga fungsi itu dipegang oleh orang yang berbeda. Sarana persembahan, atau banten, dipegang oleh sang serati (harfiahnya ‘sang pengendali’), alias tukang banten. Prosesi upacara adalah tanggung jawab si empunya kerja, atau sang yajamana. Sementara itu, orang yang menyelesaikan upacara, biasa disebut sang pemuput karya, adalah pendeta. Dalam hal ini, pemangku atau sulinggih, tergantung tingkatan upacara itu.

Upacara-upacara di lingkungan rumah tangga lebih sering dalam tingkatan yang sederhana (untuk yang ingin tahu sekilas soal tingkatan upacara dalam Hindu, dapat menjenguk episode sebelum ini). Ketika upacara dilakukan sederhana, penyelesaiannya cukup dengan memakai pemangku. Dengan sendirinya, saya bisa langsung paham apa yang ibu saya maksudkan. Dan dengan sendirinya juga, pertanyaan saya setelah itu menjadi jelas.

Baca juga: Pergumulan dan Pemahaman Saya Seputar Upacara Mewinten

“Tapi kita kan katanya bukan mewinten sebagai pemangku?”

“Ya katanya sih boleh ngodalin sanggah sendiri tanpa pemangku. Kan juga sekadar ngodalin sanggah. Meski bukan pemangku, juga boleh,” jawab Ibu saya. “Asalkan, sudah mewinten dan tahu mantra sedikit-sedikit, katanya boleh. Begitu-begitu itu bisa dipelajari lewat buku,” katanya.

Kalau sudah bahasanya berbunyi ‘katanya boleh’, saya tidak bertanya lebih jauh. Menurut saya, mungkin adat di daerah Bali tempat bibi saya tinggal seperti itu. Sebagaimana diketahui, meskipun sama-sama Hindu, secara teknis pelaksanaan ritual agama berbeda di berbagai tempat. Itulah yang dimaksud dengan konsep DKP alias desa kala patra. Maksudnya, pelaksanaan ajaran agama berpulang pada desa (tempat), kala (waktu), dan patra (keadaan). Dengan demikian, ritual Hindu bisa dilakukan dengan sangat fleksibel.

Tapi… sekarang saya agak menyesal dulu tidak berpikir soal itu lebih jauh. Saya tidak membahas soal mantra. Atau soal buku. Padahal, seandainya saja saya bertanya, mungkin obrolan itu bisa jadi seru. Apalagi mengingat apa yang terjadi setelah-setelahnya. Eh, saya agak kejauhan. Yang pasti kala itu saya tidak menganggapnya penting. “Ya sudahlah,” kata saya. “Bapak mana?”

Nah ya, saya baru paham. Jawaban atas pertanyaan dua kata itulah yang mengubah keadaan. “Oh, lagi keluar, dengan Pak K. Mau pesan nasi sama jajan lagi buat besok itu. Kayaknya tadi kurang.”

“Hah? Memangnya mau pesan nasi sama jajan buat apa?”

“Ya buat acaramu, dong? Masa undangannya enggak dikasih makan?” Jawaban Ibu menyiratkan bahwa mestinya saya sudah paham. Mestinya saya tidak usah bertanya. Apa yang dilakukan Bapak adalah sesuatu yang sangat normal.

“Hah? Hah? Pakai acara mengundang-undang? Lho kan cuma mewinten?”

Begitulah. Saya baru tahu kalau ternyata Bapak dan Ibu memberitahukan acara ini pada beberapa tetangga dan keluarga dekat. Dengan memberitahukan, berarti meminta kehadiran. Dengan kata beberapa, saya berpikir jumlahnya maksimal dua puluh orang. Dengan acara ini, maksudnya acara mewinten. Dengan demikian, yang menyaksikan acara nanti bukan cuma saya dan keluarga kecil. Artinya, apa yang akan terjadi di Saraswati nanti akan sedikit lebih ‘meriah’ dari perkiraan saya.

tamu-undangan-pria
Ilustrasi tamu undangan: para pria.

Oh, Tuhan. Saya harus bertanya. Tapi Ibu juga tidak memberi jawaban yang memuaskan. “Bapakmu maunya begitu,” katanya. Memberi tahu geng, konco, dan friend, istilah-istilah untuk lingkaran pertemanan Bapak yang terdekat. Isinya tetangga dan rekan-rekan yang akrab di kampung. Termasuk di dalamnya paman dan bibi Bapak yang tinggal di Mataram.

Saya tidak bermasalah dengan tamu undangan. Tidak juga saya bermasalah dengan jumlah undangan. Saya tidak menentang konsep undangan. Bukan berarti juga saya tidak kenal baik dengan tamu undangan. Meskipun memang, saya tidak punya hak untuk memprotes keputusan Bapak. Apalagi menentangnya. Tapi bolehlah dikata, bahwa saya sedikit gentar kala itu. Mungkin gentar di sini juga bisa berarti kaget.

Dalam kasus ini, bagaimana tidak? Saya sedang berpikir bahwa ini acara kecil. Tepatnya, saya meyakinkan diri begitu. Saya pun membayangkan begitu. Pawintenan saya tidak ribut-ribut. Hanya dihadiri keluarga dekat. Ini bukan acara pernikahan. Ini bukan acara besar. Kalau pernikahan, sebanyak mungkin orang harus tahu. Namun, apa kabar dengan mewinten? Bahkan ia tak sejenis dengan upacara pernikahan.

Pun, saya agak bingung menjelaskan ratio legis mewinten ini. Seandainya ditanya, “Kenapa mewinten?” “Supaya bisa masuk candi.” Demi Tuhan. Sebenarnya saya ini siapa? Yang harus melalui ritual khusus supaya bisa masuk candi? Padahal orang penting juga bukan, haha. Terus terang, saya sendiri merasa konyol kalau jawaban itu saya dengar. Apalagi orang lain?

Saya tak bisa mengubah apa-apa kala itu. Ketetapan adalah ketetapan. Saya hanya mencoba menganggap bahwa pikiran-pikiran tadi hanya paranoid berlebihan. Saya sebenarnya yakin, Bapak pasti punya penjelasan. Penjelasan yang menenangkan saya. Hanya saja, mengingat saya ada di Jakarta, saya belum bisa menduga. Penjelasan Bapak terasa agak jauh. Pada akhirnya, ketenangan pun belum berpihak pada saya. Sampai saat saya mendarat di Lombok, tak sampai seminggu kemudian.

***

Hal pertama yang saya cari begitu menjejak rumah di Lombok adalah daftar tamu undangan. Bapak terkenal sebagai seorang perencana. Jadi ia pasti membuatnya. Maka saya tidak kaget, kendati takut, ketika menemukannya. Sesuai dugaan, ada nama dua puluh orang di sana.

Kebetulan sekali Bapak ada, jadi saya bisa bertanya. “Kenapa harus ngundang-ngundang sih, Pak?”

Bapak seperti sudah siap dengan pertanyaan saya. Saya berani jamin Ibu sudah cerita. “Ya supaya kita didoakan oleh orang-orang yang datang. Kalau kita memberi tahu orang acara baik, dan orang itu datang, kita didoakan. Kita cuma cari doanya doang, kok.”

tamu-undangan-wanita
Ilustrasi tamu undangan: para wanita.

Saya berusaha baik-baik dalam memilih kata. Supaya kesannya tidak menyinggung. “Tapi kan ini acara mewinten kecil, Pak. Nggak usah terlalu banyak yang tahu juga nggak apa-apa. Lagian kan nanti kita bingung kalau ditanya kenapa mewinten. Masa kita mau bilang supaya bisa keluar masuk candi. Kayak penting banget gitu, haha…”

“Justru kita memberi tahu keluarga dekat itu supaya ada saksi,” katanya. “Jadi, kalau nanti kamu juga mau naik-naik pelinggih, atau ngetisin tirta, tidak ada yang mempertanyakan. Sebagai pengumuman ke masyarakat luas juga. Bahwa dirimu itu sudah mewinten, atau sudah bersih. Begitu, lho.”

Baca juga: Upacara Melasti: Imaji-Imaji Pembersihan

Bapak sedang membahas tentang unsur saksi dalam upacara agama Hindu. Saksi adalah penting, dalam konteks ini, menurut Bapak tentunya. Saya paham. Memang, dalam setiap acara agama, saksi harus ada. Apalagi yang sifatnya deklaratoir seperti pernikahan atau upacara mewinten. Saksi haruslah ada. Dalam acara seperti ini, fungsi pengumuman adalah cukup penting. Sama seperti alasan mengapa setiap kejadian hidup harus dicatatkan.

Dalam setiap upacara agama Hindu, ada tiga saksi yang harus ada. Disebutnya ia dengan nama Tri Upasaksi. Ia terdiri dari, pertama, dewa saksi, atau saksi Tuhan. Kedua, bhuta saksi, atau saksi para bhuta kala (penjelasan tentang ini akan menarik lantaran membahas mengapa ‘makhluk rendahan’ juga harus ada sebagai saksi). Dan yang terakhir adalah hal yang Bapak bicarakan. Ia adalah manusa saksi, atau saksi manusia.

“Iya Pak, tapi itu cocoknya buat mewinten pemangku,” kata saya. “Sedangkan ini kan bukan. Tujuan kita sejauh ini juga tidak untuk naik pelinggih. Apalagi untuk ngetisin tirta. Ya kan katanya cuma untuk masuk candi, supaya bersih…”

Bapak mengangguk-angguk mengerti. Dan saya berpikir, dia pun paham bahwa saya dan ia belum satu frekuensi. Definisi saksi bagi saya dan bagi Bapak itu berbeda. Bagi saya, saksi itu asal ada. Bagi Bapak, saksi adalah pemberi legalitas bagi upacara agama dalam tataran sosiologisnya. Maka pelakunya pun haruslah yang berkompeten: elemen masyarakat di luar keluarga kecil kami.

Lama setelah upacara mewinten baru saya paham. Bahwa Bapak memang mempertimbangkan sisi kemasyarakatan sebuah ritual. Mau bagaimana lagi, yang saya ajak bicara adalah tokoh masyarakat dan pemimpin banjar. Memang, apa yang akan saya lakukan, dalam konteks saya, tidaklah lazim. Tidak ada rencana saya untuk berkecimpung di bidang spiritual. Tak ada pula bayangan saya ke depan untuk menjadi rohaniwan. Memang, kala itu pikiran saya masih sempit. Saya cenderung memandang berbeda candi dan bangunan suci yang kami gunakan sekarang.

Dengan demikian, di sanalah pikiran kami berdua bertolak belakang. Ketidaklaziman itu membuat Bapak merasa semua orang harus tahu. Sementara saya justru merasa harus menyembunyikannya. Karena itu adalah sesuatu yang tak lazim. Dan kembali lagi, untuk saat itu saya masih merasa bahwa pikiran Bapak ada di luar konteks. Menurut saya, untuk upacara seperti ini tidak harus berbanyak-banyak orang. Jika ingin saksi berwujud orang, bukankah keluarga inti kami juga bisa?

Sayang, saat itu, Bapak menutup obrolan dengan satu kalimat yang membuat saya makin bingung. Ia tidak memberi penjelasan. Ia cuma berkata, “Ya, siapa tahu?”

Tapi itu mungkin karena Bapak tahu, saya akan menemukan jawabannya sendiri….

37 thoughts on “Mewinten #2: Tahapan, Kekagetan, Persiapan

    1. Hehe, terima kasih, Mbak. Kita jalani satu-satu Mbak. Kalau dilihat-lihat memang konsekuensi acara ini akan besar tapi yah, saya mencoba untuk santai saja (meski kadang juga suka nggak santai, sih). Hehe.

  1. Kok aku setuju dengan jawaban bapakmu yang terakhir ya Gara: “Ya, siapa tahu?”

    Dirimu memang tidak berencana untuk berkecimpung di dunia spiritual atau menjadi rohaniwan. Tapi siapa tahu khan, takdir membawa dirimu ke sana.

    Ngomong-ngomong aku menemukan banyak kata baru lho di sini. Istilah-istilah di luar istilah Hindu, yang menarik untuk dicatat. Meskipun panjang, aku betah lho bacanya sampai akhir. Walaupun di beberapa bagian aku sempat kehilangan arah hehehehe …

  2. Trims Gara atas ceritanya, aku jadi (lebih) tahu akan acara mewinten ini 🙂 .

    Hahaha, kita mirip, cukup sering aku merasa ogah untuk melakukan sesuatu yang mungkin bisa dipandang sebagai bentuk “sesumbar”, padahal mah belum tentu ya 😛

    1. Iya, hehe… takutnya pamali, sudah diumumkan di media sosial, tahunya tidak jadi. Kan malu, ya. Mau ditaruh di mana muka ini.
      Sip, sama-sama. Karena acaranya sudah selesai (lama) saya bisa tenang menulis di media. Wkwk.

  3. Bacanya jadi berasa ikut deg-deg an juga.. Haha.. Ternyata mewinten itu acara khusus buat kita nya ya saya kira kayak cuma ikut ke tempat ibadah buat disucikan saja. Ga pake acara undang-undang tamu segala. Nice info. Makasih gar.

  4. Ini hal baru lho bagiku. Istilah2 dalam agama Hindu yang mungkin sudah pernah aku lakukan adalah melukat. Itupun sebenarnya konsep yang umum dalam semua agama. Tapi aku suka istilah itu. Ini dapat istilah baru lagi.

    Aku sih berharap, dengan sudah diberi tambahan amanah seperti ini, Gara jadi makin bijak dalam melangkah dan berucap. Selamat ya 🙂

  5. Baca di paragraf2 awal, kirain beneran gak jadi Mewintennya 😀 ternyata sudah ya. Selamat, Gara. Acaranya ramai juga ya.

    Beda perspektif amat ya anak muda dgn seniornya. Sementara ayah kamu ‘berpikir panjang’, Gara mikirnya cuma yg penting bisa masuk candi 😀 kalo saya jadi Gara pun bakal mikir hal yg sama sih. Ngapain ngundang orang, kenapa bukan keluarga inti aja 😀

    1. Terima kasih, Mbak. Demikianlah, tamu undangan semua kewenangan Bapak. Saya ikut saja, hehe.

      Betul, hihi. Saya berpikirnya masih terlalu pendek. Ngapain ribut-ribut… kan akhirnya jadi ribet… eh Bapak berpikiran berbeda, wkwk.

  6. Salut banget sama Bli Gara, pasti butuh keteguhan hati yang kuat untuk melaksanakan upacara mewinten ini. 😄
    Beberapa tahun yang lalu paman saya juga diwinten, dan sekarang beliau jadi pemangku di desa.
    Hoo, ternyata untuk masuk candi harus diwinten dulu ya? Eh, tapi memang candi kan tempat suci untuk ibadah ya… 😅

    1. Dikuat-kuatkan saja… meski banyak yang tak terduga, hehe.
      Haha, pikiran kita sama. Saya juga berpikir candi ya candi, bukan pura. Jadi pasti lebih mudah untuk masuk sana, dilihat dari kacamata agama Hindu. Ternyata orang tua dan Jro Mangku Dalem berpendapat lain. Jadi, yah…

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?