Menyesap Memori di Museum Multatuli

kutipan-surat-multatuli
Kutipan surat.

Lancangkah saya, jika saya datang pada peresmian Museum Multatuli, dengan sedikit (atau bahkan sama sekali tanpa) pengetahuan soal Multatuli, Max Havelaar, atau Saijah dan Adinda?

Yah, bagaimanapun, saya datang juga. Berkereta rel listrik dari Jakarta, melintasi rute yang paling anyar untuk stasiun yang paling jauh. Datang mengendap-endap dari pintu keluar karena khawatir untuk memasuki arena via pintu utama harus menunjukkan kartu undangan (undangan macam apa?). Duduk di bagian pojok belakang, yang penting bisa mendengar apa yang disajikan orang-orang yang berkesempatan berdiri di belakang mimbar.

Oh, acara ini bertaburan sejarawan dan kaum intelektual! Tak ketinggalan, filsuf dan pegiat! Saya langsung minder.

konferensi-pers-museum-multatuli
Suasana pada Konferensi Pers Pembukaan Museum Multatuli

Rangkasbitung adalah sebuah kota yang, menurut pembaca setia Max Havelaar, paling kuat menguarkan aroma antikolonialisme dalam bentuknya yang paling murni. Bagaimana tidak, kata orang, dari kota inilah Multatuli mendapat bibit-bibit yang selama bertahun-tahun disemai dan dirawatnya guna menjadi karya yang menggetarkan Dunia Lama.

“Tempat ini merekam dan mengangkat perjuangan antikolonial,”ujar Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan. Salah satu peran Multatuli yang sangat penting adalah bagaimana ia, yang menurut pendapat saya dengan sangat ironis dan paradoksal terlahir sebagai seorang “penjajah by default”, malah justru mengkritik sistem kolonial akibat pengalaman dan interaksinya dengan masyarakat Lebak, orang-orang yang ia ayomi sebagai seorang asisten residen.

Saya pikir, saya bisa mencerna ceramah Pak Dirjen sebagai sesuatu yang lain: bahwasanya nilai-nilai antidiskriminasi itu bersifat universal. Universal, dengan U yang besar, yang melampaui hal-hal inheren yang didapat manusia melalui kelahirannya. Multatuli sudah membuktikan hal itu. Karyanya ada dan berwujud, serta bernilai. Nilai yang membentang jauh, bahkan melebihi umurnya sendiri.

lobi-museum-multatuli
“Tugas manusia adalah menjadi manusia.”–Multatuli

“Multatuli beresonansi; gemanya masih ada bahkan sampai saat ini,” kenang saya akan kata-kata dari speech Pak Hilmar. Secara khusus, kata beliau, Max Havelaar mengangkat hubungan yang begitu erat antara kekuasaan kolonial dan feodalisme. Dua sejoli yang kehadirannya saling menunjang, dan mengakibatkan faktor ketiga, yakni ketimpangan dalam masyarakat. Hal terakhir inilah bahan bakar bagi dua benda awal yang sudah disampaikan tadi.

Hal itu juga yang membuat resonansi Multatuli masih begitu relevan, sampai hari ini. Tak ada yang boleh menafikan bahwa pada hari ini ketimpangan itu masih ada. Pun, masalah sosial juga timbul karenanya, dalam bentuk yang mirip kendati berbeda. “Orang-orang gampang bicara intervensi dari luar, tapi lupa untuk membenahi apa masalah di dalam. Orang-orang mengkritik kolonialisme, tapi lupa memperbaiki apa yang salah di dirinya sendiri,” ujar Pak Hilmar.

Di sanalah museum ini mengambil peran: sebagai pendidik dan pusat belajar. Museum ini adalah tempat merawat ingatan, melawan lupa tentang betapa sulitnya masa lalu. Saijah dan Adinda yang sampai saya menulis ini masih asing, mungkin akan tetap asing jika saja saya tidak belajar untuk mengenal apa yang disajikan di museum ini. Sampai dengan saya mendengar pidato Pak Dirjen, bahkan sampai seluruh rangkaian simposium itu berakhir, saya masih belum begitu ngeh dengan Max Havelaar.

kesenian-tradisional-baduy-pembukaan-museum-multatuli
Kesenian tradisional pada pembukaan Museum Multatuli.

Namun dengan kehadiran museum ini, bukankah saya jadi bisa belajar dan mendengar cerita?

***

Tentang cerita. Itu jugalah yang diamini Peter Carey, seorang sejarawan dari Universitas Oxford. “Museum haruslah menjadi pusat dari cerita, pusat dari pendidikan dan pengetahuan. Apalagi, pengetahuan tentang diri sendiri, cerita tentang masa lalu sebelum bisa melanjutkan ke masa depan,” kata-kata beliau kelihatannya seperti ini, sejauh yang bisa saya ingat.

Saya mulai bisa menganggap bahwa “ledakan” Max Havelaar di medio abad ke-19 memanglah dahsyat. Buku ini di masa itu mengirimkan gelombang informasi yang tak diinginkan, yang mungkin tidak pernah diduga sebelumnya oleh publik di Belanda. Nyatalah bahwa publik di sana pun tidak begitu tahu tentang apa yang terjadi di tanah koloni Hindia Timur yang jauh.

Bagaimana tidak? Ada seorang pejabat pemerintah yang membuka mata semua orang bahwa kolonialisme tak lebih dari perwujudan lintah-lintah penghisap darah. Peter Carey menyampaikan, bahwa sistem tanam paksa sepanjang masa berlakunya menghasilkan 832 juta gulden, yang, jika dikonversi dalam daya beli (purchasing power parity) yang sama dengan nilai uang masa kini, akan menghasilkan angka fantastis: sebelas triliun dolar Amerika Serikat.

ucapan-selamat-pembukaan-museum-multatuli
Selamat dan sukses!

Max Havelaar membuka mata semua bahwa sembari sebelas triliun dolar itu mengalir ke gedung-gedung di Belanda, membangun kanal, bendungan, serta kincir air di sana, orang-orang seperti Saijah dan Adinda (yang sampai saat itu belum bisa saya bedakan yang mana yang laki-laki dan yang mana yang perempuan) harus melarat dan sekarat di tanah yang sebenarnya punya mereka sendiri.

Itulah menurut Peter Carey cerita-cerita yang harus ditampilkan dalam museum-museum. Museum, sekali lagi, adalah pusat cerita, tempat cerita masa lalu dan masa depan terselenggara. Cerita yang mengingatkan akan tanah yang kaya, namun di saat yang sama mengingatkan akan masalah yang perlu dituntaskan. Dalam Max Havelaar, masalah yang ditunjukkan adalah diskursus antara kolonialisme dan feodalisme. Pada masa sekarang, masalahnya mungkin berkisar antara hate speech atau terorisme, jika saya bisa menyebut dua.

Kenapa cerita itu penting? Menurut Peter Carey, karena semuanya berkaitan dengan identitas. Identitas budaya seorang manusia dibangun sejak ia kecil, melalui cerita-cerita yang didengarnya pada tempat-tempat yang didatangi. Bukan dengan teori dan rumus yang menjadikan jalan hidup lurus dan kaku. Cerita membuat orang sadar akan berbagai kemungkinan, tak terikat pada dogma dan doktrin yang membuat sikap jadi intoleran.

pemikul-padi
Pemikul padi (?) Saya juga lupa apa sebutannya…

Semua itu, sejauh yang masih bisa saya ingat dari pembicaraan Peter Carey, adalah karena tak lama lagi Indonesia akan menyongsong seratus tahun kemerdekaannya. Ada tiga pertanyaan dan tantangan yang harus dijawab pada saat kemerdekaan Indonesia beroleh umur seabad, kata Peter Carey. Tiga pertanyaan tersebut adalah:

  • Siapa saya?
  • Dari mana saya berasal?
  • Ke mana saya akan pergi?

Seratus tahun kemerdekaan, dengan begitu, bukan lagi soal senjata. Memanglah benar, perumpamaan kemerdekaan sebagai perjuangan mengangkat senjata secara eksplisit sudah berakhir di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, pada sebuah pagi di hari Jumat di bulan Ramadhan. Kata Peter Carey, seratus tahun kemerdekaan adalah soal soft power, soal identitas, bagaimana sebuah bangsa sebesar dan sekaya Indonesia menemukan identitasnya.

Bagi saya, menemukan identitas berarti menemukan kebanggaan. Bukan soal seberapa banyak kebudayaan Indonesia dipelajari dan dilakoni oleh orang-orang yang bukan Indonesia. Bukan pula seberapa banyak foto terunggah di Instagram dan beroleh ratusan likes, atau diposting ulang oleh akun-akun tenar. Namun, lebih ke soal bagaimana saya menerapkan gaya hidup Indonesia, gaya hidup yang menjadi kebanggaan Indonesia. Gaya hidup yang menjadi identitas, sebuah identitas yang ditemukan melalui sumber-sumber belajar di masa kecil. Sumber-sumber belajar yang sifatnya langsung.

bagian-belakang-museum-multatuli
Bagian belakang Museum Multatuli.

Ilustrasi paling nyata yang diibaratkan Peter Carey menurut saya cukup relevan dalam pembahasan paragraf sebelumnya. Ilustrasi tersebut terkait dengan penulisan sejarah Indonesia, bahwa sampai dengan saat ini, sembilan puluh persen sejarah Indonesia masih ditulis oleh sarjana-sarjana asing. Menurut saya, ini adalah tantangan sekaligus tamparan, bahwa orang-orang Indonesia, kaum cerdik cendekianya, masih terbukti sahih belum kenal akan identitas dan perjalanan bangsanya.

Tidakkah itu begitu lucu?

***

Namun demikian, perubahan zaman tak dapat dipungkiri membawa peningkatan minat pada identitas budaya dan kesejarahan secara khusus. Itulah yang diangkat oleh Bonnie Triyana, pemimpin redaksi Majalah Historia, dalam paparannya tentang museum sebagai mata rantai bagi sejarah di ruang publik.

Museum Multatuli, paparnya, tidak hanya akan menjadi ikon, melainkan juga menjadi pusat pembelajaran sebagai ruang publik yang tak terbatas pada pengajaran klasikal di kelas-kelas. Apalagi, topik yang diangkat adalah sejarah kolonialisme, sesuatu yang sangat rumit karena berkelindan dengan begitu banyak segi kehidupan, dan menggema sampai hari ini.

Mendengar Multatuli memang berarti membahas tentang kolonialisme yang tumbuh di Indonesia. Sejauh ini, pola pikir Indonesia soal kolonialisme berarti hitam-putih: ketika kolonialisme adalah salah sepenuhnya, dan semua perjuangan menentangnya adalah benar sepenuhnya. Sayangnya, meskipun dalam beberapa konteks pemikiran tersebut ada benarnya, pemikiran itu juga membawa bias yang tak diinginkan dalam kehidupan sehari-hari: ketika masyarakat menggeneralisasi, melihat ada yang “lain”dan “berbeda”, bagaimanapun maknanya, sebagai hitam dan putih pula.

menunggu-tamu
Menunggu tamu undangan.

Generalisasi tersebut juga berakar dari rasisme dan diskriminasi yang ada, baik di masa kolonial, maupun dalam perjuangan keluar dari kolonialisme itu sendiri. Persepsi yang salah tentang kolonialisme membuat distorsi bagi masyarakat Indonesia dalam memandang masalah-masalah sosial yang terjadi saat ini: ambil contoh isu SARA yang sepertinya masih saja ampuh memecah-belah masyarakat.

Persepsi itulah yang harus diluruskan dan dikembalikan pada porsinya masing-masing, itulah yang saya tangkap dari paparan Bonnie Triyana yang singkat. Tidak cuma soal bagaimana pandangan masyarakat secara umum, namun yang lebih penting lagi, dari bagaimana historiografi dalam sejarah Indonesia dijalankan, karena tulisan soal sejarah adalah satu yang paling ampuh dalam membentuk persepsi masyarakat Indonesia soal sejarah bangsanya.

Oleh karena itu, dari tulisan-tulisanlah semua bisa berubah. Sebagaimana Multatuli mengubah dunia, baik Indonesia dan Belanda, untuk selama-lamanya melalui tulisannya yang bertajuk Max Havelaar. Dengan adanya pembelajaran yang pelan dan menyeluruh dari sejarah Indonesia, semoga saja lebih banyak yang paham dan mampu meredam bias-bias kolonialisme yang masih ada dalam bentuk rasisme dan diskriminasi itu.

kopi-lebak-banten
Kopi dari perkebunan di Banten bagian selatan.

Bagi saya, jawaban atas persoalan tersebut juga merupakan jawaban dari pertanyaan kedua yang diajukan Peter Carey: Dari mana saya berasal? Dari sebuah bangsa rasis yang tak bisa melihat perbedaan? Dari sebuah negara yang “bhinneka tunggal ika”-nya tak lebih dari sebuah ironi? Atau, meminjam kata-kata Bonnie Triyana, dari sebuah bangsa yang bisa menafsirkan sejarahnya dengan terbuka dan manusiawi?

***

“Bagaimana nafas perlawanan dapat diukur?”

“Bagaimana, kendati telah menjadi pahit, seseorang seperti Multatuli dapat menulis kepahitan itu, tanpa ikut menjadi pahit?”

Pada akhirnya, semua bias dan usaha untuk meredam diskriminasi dan perbedaan pandangan soal yang ‘liyan’ coba dirangkum Saras Dewi dalam renungan-renungannya. Saya benar-benar terpukau dan tercerahkan dengan paparan ini, paparan terakhir yang sungguh akan membuat saya menyesal jika saja saya tidak datang sendiri ke acara pembukaan museum di Kabupaten Lebak itu. Saras Dewi lebih lanjut membuka paparannya dengan pernyataan bahwa Multatuli sudah berhasil. Berhasil untuk mengusik kenyamanan dan menggugat ketidakadilan yang relevan di masa itu.

Dan bergaung sampai kini, jika saya boleh menambahkan. Ada kenyamanan dan ketidakadilan yang masih harus terus diusik, karena bagaimanapun kolonialisme sudah tak ada di dunia ini, namun, jika saya boleh meminjam kata-kata Saras Dewi, inti dari kolonialisme masihlah ada. Masih ada dominasi dan eksploitasi yang mengorbankan rakyat kecil. Ini yang masih sangat perlu untuk digarisbawahi.

potret-multatuli
Litograf Multatuli

Melalui itu, Saras Dewi mengingatkan bagaimana Multatuli sudah begitu mengguncang dunia. Max Havelaar dijuluki Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang membunuh kolonialisme, dalam sebuah tulisannya di New York Times tahun 1999. Multatuli menjadikan penderitaan sebagai identitas, untuk membuka mata dunia akan kemakmuran sebuah bangsa asing yang berdiri dan menginjak tulang dan daging manusia-manusia pada sebuah negeri timur yang jauh.

Dalam keterkaitannya dengan perkembangan dunia saat ini, di sanalah, humanisme memegang peranan yang sangat penting untuk masyarakat modern. Humanisme adalah pengingat. Humanisme adalah salah satu jalan keluar, jika saya boleh menyimpulkan secara prematur. Dan humanisme adalah sikap beradab yang melintasi batasan ras. Mungkin humanisme belum (dan mungkin tidak akan) menjawab semua, tapi menurut saya humanisme bisa membuka jalan menuju penyelesaian masalah.

Yang menarik, dalam paparannya Saras Dewi mengangat isu kesetaraan gender. Sebuah isu yang senada, tapi mungkin belum dikenal pada masa Multatuli. Di masa itu, kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sebagaimana ada. Dimensi diskriminasi di masa itu baru mencakup soal ras. Gender yang setara pada masa itu, masihlah jauh. Terlalu jauh dan terlalu bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum adat yang ada.

koleksi-karya-multatuli
Koleksi karya-karya Multatuli.

Namun, nilai-nilai antirasisme dan antikolonialisme dalam Max Havelaar bukannya tidak relevan terkait dengan jenis kelamin. Itulah salah satu poin paparan Saras Dewi yang membuka mata saya. Ketimpangan soal gender justru merupakan hakikat yang mendasar bagi berlangsungnya kolonialisme di negara-negara Dunia Ketiga. Ketimpangan gender bagaikan bahan bakar, bagi imperialisme dan bagi adat istiadat, yang pada gilirannya menjadi pertentangan yang membentur bagi kaum perempuan, menjadikan posisinya makin terjepit dan terbelakang.

Tokoh pertama yang mengaitkan Multatuli dan kesetaraan gender, menurut Saras Dewi, adalah Kartini. Saras Dewi menunjukkan pada kami semua saat itu bagaimana Kartini adalah fans dari Multatuli dan Max Havelaar, yang terinspirasi darinya dan bertindak berdasarkannya. Jika saya boleh meminjam kata-kata Saras Dewi hari itu, Kartini berusaha (ya, berusaha) menerobos reaksi-reaksi sosial, termasuk di dalamnya reaksi-reaksi adat. Kartini mendambakansebuah dunia yang setara, dunia yang merangkul keberagaman, tidak melulu bersifat kompetitif, sebuah dunia yang datang dari empati dan belas kasihan yang dalam.

patung-saijah
Patung Adinda. Entah perasaan saya namun patung ini seolah menangis?

Maka pada pertanyaan yang digaungkan pada semua kami hari itu, ada sebuah kesimpulan yang muncul dengan sendirinya. Jika seseorang ditanya, bagaimana nafas perlawanan Multatuli dapat diukur, jawabannya adalah: panjang, merentang dalam, menembus generasi, menuju sebuah zaman yang baru. Napas yang sama bermanifestasi dalam kegigihan, guna menumbuhkan gagasan. Gagasan yang pada nantinya, terlahir nyata dalam tokoh-tokoh yang mendirikan pilar-pilar bangsa ini. Gagasan yang didasarkan pada sebuah aksioma bahwa keadilan harus diperjuangkan, apa pun risikonya.

Saya pikir bagian selanjutnya soal bagaimana Museum Multatuli akan saya berikan nanti, setelah saya membaca habis Max Havelaar. Supaya saya tidak terlalu merasa lancang, menelisik Museum Multatuli tanpa sedikit pun paham akan isi dari Max Havelaar.

48 thoughts on “Menyesap Memori di Museum Multatuli

    1. Iya Mas, hadir di acara pembukaan, hehe.
      Wah keren banget, diundang eksklusif sama kepala museum! Sejauh ini belum ada undangan serupa nyasar ke tempat saya, padahal saya ngarepin banget, haha…

      1. saya diundang secara lisan sama kang ubaidillah muchtar, kasi kebudayaan Lebak yg mengawal proses berdirinya museum tersebut.hehe

        oh ya, saya juga pernah ke sana beberapa waktu sebelumnya dan sempat ditulis di blog juga

        1. Wah hebat banget, kalau saya mah boro-boro diundang Mas, datangnya saja seperti tamu tak diundang, hihi. Tapi yang saya dengar kemarin, beliau sudah jadi Kepala Museum Multatuli. Mungkin sudah promosi, ya.
          Oh ya, akan saya cari dan coba baca-baca postingannya sebagai referensi. Terima kasih atas informasinya!

  1. Wow, keren banget Gara bisa datang di acara pembukaan museum yang kalibernya seperti itu!!

    Ya, aku rasa begitu ya, banyak publik Belanda yang mungkin tidak tahu dulunya koloninya itu seperti apa. Ya di abad begitu belum ada transportasi yang cepat yang menghubungkan Eropa dan Asia Tenggara kan, jadilah nggak banyak yang pernah ke koloni mereka sendiri…

    1. Betul, Kak. Transportasi dan komunikasi yang andal dan cepat itu ternyata berpengaruh sekali pada kehidupan, ya. Banyak kejadian dunia berubah gara-gara komunikasi dan transportasi, dan dampaknya besar banget.

  2. Kirain di tulisan ini Gara udah bahas seperti apa isi museumnya, beralur baik atau membosankan seperti museum-museum yang begitulah hehehe. Ada ajakan teman untuk ke sana bareng, tapi belum kuiyakan. Sepertinya nunggu ajakan pencinta sejarah semacam Gara yang belum pernah membaca buku Multatuli saja, karena daku juga belum pernah baca buku tersebut. 😀

    1. Belum Mas, haha. Ini artinya memang saya harus ke sana lagi setelah baca Max Havelaar, hehe. Hayuk atuh Mas, bareng kita ke sana. Kabar-kabari kalau ke Jakarta agak lama ya, hehe.

    1. Iya, menurut saya itu kelihaian sang pembuat patung. Beliau tentu sangat pandai menangkap ekspresi dari cerita Saijah-Adinda dan menuangkannya dalam karya seni ini. Saya jadi makin penasaran untuk segera baca Max Havelaar, hehe…

  3. Kalau ke museum harus barengan sama Gara nih, agar tak bingung sendiri 😀
    Museum menyimpan sejarah yang seharusnya kita cari tahu yaa.
    Jadi mengingat2 kapan saya ke museum? Hiks.

    1. Iya Mbak, museum menyimpan sejarah, dan cerita yang seyogianya berfungsi untuk diperdalam melalui imajinasi. Agar tak kehabisan bahan untuk bercerita kepada anak cucu. Ayo ke museum, Mbak.

  4. Mau kesana jadi lansung baca tulisan ini. Ternyata datang pas pembukaan tho. Sayangnya informasi yg kucari tentang museum itu sendiri tidak banyak kudapat dari tulisanmu mas. Mungkin sudut pandangnya memang beda.

    1. Iya Mas, memang sengaja ambil sudut pandang yang agak berbeda dulu, hehe. Yang lain disimpan buat tulisan selanjutnya. Maka dari itu, kuy Mas, berkunjung ke sana, hehe. Museumnya menarik.

    1. Betul banget Kak, saya pun di museum juga hunfot adalah kegiatan utama, hehe. Untuk mempersingkat waktu kunjungan, keterangan koleksinya difoto juga, nanti dibaca setelah di rumah, haha.

    1. What a quote! Betul sekali, bukannya malah kebalikan, masuk museum sudah kenyang (perutnya) terus keluar museum tahu-tahu ngantuk karena museumnya tidak menarik, hehe. Dengan demikian menurut saya seyogianya harus banyak kegiatan yang dilakukan di dalam museum, agar waktu dapat dipakai secara maksimal dan ilmu yang didapat pun juga semakin banyak, hehe.

  5. Lebaran tahun kemarin mudik ke pandeglang via rangkasbitung. Tapi museum itu juga baru dibuka bulan ini. Semoga nantibpas mudik bisa singgah ke museum ini sekalian.

    Sudah mendengar nama multatuli sejak pelajaran sejarah pas sd

    1. Amin, semoga bisa segera berkunjung ke sana. Saya pun tak sabar ingin berkunjung lagi, hehe.
      Iya, nama Multatuli sudah akrab juga di telinga saya sejak zaman SD. Mungkin karena beliau ini orang Belanda tapi justru lebih peduli dengan Indonesia dibandingkan orang Indonesia asli (semisal Bupati Lebak atau Demang Parangkujang), jadi unik dan membekas.

  6. Aku suka sudut pandang tulisanmu ini Gar. Benar-benar mengajak berpikir, tidak menyoal anatomi museumnya sendiri. Atau mungkin memang ini baru pendahuluannya ya?

    Ngomong-ngomong itu angka 11 triliun dollar AS nya sangat mencengangkan. Secara tidak langsung, Belanda sebenarnya berhutang banyak dari Nusantara. Belum lagi negara lain, yang sampai saat ini masih ‘menggorogoti’ kekayaan kita. *wink*

    Ditunggu ulasan selanjutnya, tentang museumnya yaaa.

    1. Memang baru pendahuluan, Mas. Menurut saya acara simposium kemarin sangat mencerahkan dan mencengangkan, sehingga saya berpikir untuk membagi pokok-pokok ide yang disampaikan para narasumber kepada semua pembaca. Terutama bagian 111 triliun dolar AS itu, bagi saya sangat mengagetkan, haha. Meskipun benar katamu Mas, mungkin masih banyak lagi kekayaan Indonesia yang diambil negara asing, tapi yah… rasanya sayang sekali kekayaan itu harus mengalir keluar.

      Siap! Semoga saya bisa segera menyelesaikannya. Terima kasih untuk semangatnya!

  7. Sedikit menyesal waktu itu tidak hadir ke pembukaan museum ini, padahal adik saya sudah mengajak dan akhirnya ia pergi sendiri.

    Memang dibutuhkan keberanian yg luar biasa untuk melawan sesuatu yang dianggap benar, apalagi hal tersebut berlangsung sudah sangat lama.
    Saya yakin, sebenarnya banyak multatuli-multatuli lainnya jaman dahulu dari bangsa Belanda yg tidak setuju akan kolonialisme.

    Seperti dibilang di atas, kolonialisme memang sudah berakhir, tapi intinya masih tersisa dan sangat terasa hingga sekarang.

    Terima kasih Bung Gara sudah berbagi 🙂

    1. Weits Bang, kalau Abang ikut mungkin kita bisa bersua, ya.
      Saya setuju, melawan “adat” yang salah memang sangat susah, karena adat itu sendiri sudah dianggap benar! Tapi sepanjang apa yang diperjuangkan adalah untuk kebaikan semua orang, saya rasa itulah kebenaran yang jauh lebih baik.
      Ya, sampai sekarang memang masih ada…

      Sama-sama!

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?