Menjemput Terik di Tepian Mawun

Bapak-bapak yang melihat motor kami bagaikan membawa setengah truk lumpur mengernyitkan dahi, keheranan ketika melihat kami datang. Tentu saja dia bertanya, tak mungkin ada orang waras yang tidak bertanya kalau didekati dua motor berlumpur seperti motor kami saat itu. Oh, kecuali pengendara motornya sendiri, tentu saja.

“Kalian baru habis petualangan di mana?” Logat Balinya kental sekali.

Susah-payah kami menjelaskan apa yang tadi kami alami, tapi pada akhirnya kami berharap si bapak tidak salah paham. Dan syukurlah tidak, tapi dia tertawa kecil dan menjelaskan kalau kami ternyata tadi tersasar ke satu pantai yang sebenarnya sedang dalam taraf persiapan dan belum dibuka untuk publik. Pantai Semeti yang kami cari masih jauh dari sini, pengunjung yang akan ke sana bisa lewat Pantai Mawi yang ada setelah Pantai Mawun ini.

siang-yang-panas
Siang yang panas. Ngomong-ngomong, ini pohon apa ya?

Kami mengerti siapa yang harus disalahkan. Google Maps. Ha!

Sepuluh ribu rupiah untuk masing-masing sepeda motor kami tukarkan dengan secarik tiket masuk kecil. Pak Ketut, nama penjaga portal pantai, kemudian mempersilakan kami masuk. Tak seberapa lama, di belakang sudah ada rombongan turis asing yang ingin mencari ombak di seputaran Mawun. Pantai ini ternyata terkenal pula di kalangan peselancar, tapi bukan di bagian pantai yang akan kami datangi, melainkan di segmen pantai yang agak jauh, di dekat kaki bukit.

Masih ada lima menit lagi yang harus ditempuh sebelum tiba di tempat parkir dekat pantai. Untunglah tempat parkir ini beratap dan ada penjaganya. Pak penjaga di sana pun menatap motor kami heran, tentu karena lumpur sebanyak itu menempel. Saya juga jadi heran dan agak bingung, penjelasan macam apa yang harus saya berikan pada orang tua kalau mereka melihat motor ini seperti baru habis berenang di kawah lumpur?

Tapi ya sudahlah. Yang nanti kita selesaikan nanti. Bukankah sekarang kami sudah sampai di Mawun, hal yang paling diidam-idamkan selama perjalanan ini?

pantai-mawun-1
Berloncatan di Pantai Mawun.

Mawun… masih perawan. Belum ada tanda-tanda pembangunan besar-besaran sejauh mata memandang. Tempat parkir motor pun hanya sebuah pelataran bersemen dengan atap yang masih sangat sederhana. Untuk para mobil, si pengendara tampaknya mesti merelakan kendaraannya berpanas-panas di atas tanah berumput yang cuma dinaungi pohon kelapa. Hujan semalam memperburuk suasana, becek di beberapa tempat. Saya masih bisa melihat beberapa genangan air di sana-sini.

Untuk ukuran pantai yang sebenarnya sangat terkenal di seantero jagad sebagai salah satu mutiara Lombok, saya seperti merasa ada yang kurang dengan pantai ini. Peningkatan yang dilakukan hanya pembangunan beberapa berugak-balai-balai permanen yang sudah dikeramik–yang menjadi tempat beberapa pedagang menjajakan barang-barang kerajinan penduduk lokal atau digunakan rombongan pengunjung untuk melepas lelah dan meletakkan perbekalan. Tapi di dekat kami, kamar mandinya seperti tidak terurus. Terus kalau ada pengunjung yang mau buang air kecil atau buang air besar bagaimana? Buang di laut, gitu?

bukit-hijau-pantai-mawun
Bukit menghijau di Pantai Mawun yang sangat terkenal.

Seriusan… side becanda kan?

Kami melipir cepat ke arah laut. Berlarian seperti anak kecil yang membawa banyak bawaan (oke, itu saya), sebelum akhirnya harus berlari lebih cepat lagi sambil berteriak-teriak.

Bukannya kenapa-napa, pasirnya panas! Panas banget! Ya iyalah, secara kami ke sana jam setengah dua belas siang!

pasir-pantai-mawun
Pasir panas Pantai Mawun

Hm. Lagi-lagi, tanpa sebab yang jelas, saya harus mengatakan kalau saya tidak begitu puas dengan Mawun saat itu. Lautnya mengkeruh, berwarna cokelat tercampur lumpur. Yah, akibat hujan semalam, sih, saya mesti terima, tapi saya mesti bilang juga, kalau warna lumpur itu seperti merusak suasana. Padahal di kejauhan sana, bukit sedang berhijau dengan demikian moleknya. Tambahan lagi, sekeliling kami sepi, keramaian cuma ada di berugak-berugak kecil dan itu pun tak kami rasakan karena kami melipir ke sisi timur, mencari tempat yang terlindung dari keganasan sang raja siang di bawah pohon yang entah apa namanya saya tak tahu. Mungkin pohon ketapang.

Namun saya juga mesti mengakui kalau Mawun telah menyenangkan saya. Dengan sepinya. Dengan bentuk pantainya yang melengkung sempurna, seperti teluk mahapribadi, dengan bukaan kecil penghubung dengan dunia luar jauh di depan saya. Dengan dua bukit penjaga yang membuat kami para pengunjung bisa mengecap rasa aman, tanpa perlu khawatir dengan deburan ganas ombak Samudra Indonesia di balik bukit-bukit itu.

pantai-mawun-02
Bentukan pantai yang melengkung sempurna.

Para wisatawan asing pun tampaknya merasakan hal serupa. Mereka berjemur dan membaca buku, tidur siang tanpa ada siapa pun yang mengganggu. Bahkan dengan keterbatasan seperti ini pun, dengan ketiadaan parasol dan tempat-tempat yang layak untuk berbaring-baring, turis-turis asing tetap juga asyik beristirahat melepas lelah di tempat ini, menikmati alam dengan bermandi matahari tropis.

Sementara Randy sedang shalat Jumat di sebuah masjid (semoga ia menemukannya), saya melakukan apa ambisi terdalam yang pada saat itu menguasai diri ini.

Leloncatan!

Sendiri rupanya tidak menjadikan kesenangan berhenti. Beruntung, saya membawa tripod. Jadi saya tinggal memasang tripod pada tempat yang tepat, siapkan shutter release, dan zap!

Pose-pose gila pun tercipta.

loncat-di-pantai-mawun
Salah satu pose loncat terbaik.

Loncat, loncat, loncat! Seperti kata Ikimonogakari dalam salah satu lagunya, judulnya “Jump!”. Sebenarnya teringat itu juga karena judulnya “Jump!” dan saat itu sayanya juga sedang leloncatan. Tapi yang jelas lagunya semangat, kami juga saat itu sedang semangat-semangatnya berloncatan meski pasir pantainya panas. Namanya juga tuntutan profesi, ya, haha, jadi ya kami leloncatan terus! Eh tapi sangat menyenangkan lho, soalnya saya jadi bisa dapat beberapa pose epik yang sampai saat ini belum bisa saya lupakan gara-gara lucu banget.

laut-keruh-pantai-mawun
Laut keruh di Pantai Mawun.

Entah sampai jam berapa saya leloncatan. Lelah, saya jadi penasaran dengan bukit di sebelah kanan saya. Kebetulan sekalian mau foto-foto jejak langkah juga, blog ini namanya mencari jejak tapi belum ada satu foto pun tentang jejak secara harfiah. Kan malu, ya. Mau ditaruh di mana muka saya lantaran nama tidak sesuai dengan isi (padahal dari dulu juga demikian, sih).

Rasanya jauh saya berjalan, dan memang demikian sepertinya, soalnya ketika saya memfoto jejak-jejak kaki ini, bisa dapat foto yang jejaknya itu sampai yang kecil banget. Menurut saya itu bagus sekali. Di kejauhan ini juga ada muara sungai, dan rupanya inilah biang yang menyebabkan air Pantai Mawun siang itu agak keruh.

mencari-jejak-pantai-mawun
Jejak kaki di Pantai Mawun

Tapi tetap indah, kok. Tidak akan pernah jadi suatu kerugian kalau tandang ke sini. Percaya deh. Ini yang bilang orang Lomboknya langsung.

Ada pertemuan, ada juga perpisahan. Sekitar jam dua siang kami menyudahi kunjungan kami untuk hari itu. Randy sudah keburu harus balik ke Bali dengan kapal sore, supaya tidak kemalaman. Kami berterik-terik dari Pantai Mawun, kemudian berpisah jalan sebelum By Pass Bandara. Dengan motor yang awalnya berlumpur maksimal, ya, tapi kami juga sama-sama tahu, bahwa ketika kami sampai di tempat masing-masing, kami tidak usah cuci motor lagi.

Lho kok bisa?

Bisa dong, kan cuaca Lombok alakazam!

37 thoughts on “Menjemput Terik di Tepian Mawun

    1. Tenang Mas, pasti ada kesempatan kedua dan ketiga dan seterusnya, hehe. Saya pun ingin ke sana lagi. Yep, gara-gara hujan deras, air jadi keruh. Namun jika sedang jernih, duh indah banget.

  1. Pantai Mawun! Sebenarnya sudah ada di list ketika Ramadhan kemaren main ke Lombok, tapi tepar duluan sesudah dari Bukit Merese~~ wah, keren nih, lain kali kudu kesini ^^

    1. Oh iya, Bukit Merese (later Bukit Isyana) memang bagus banget juga… saya malah ke Mawun dulu baru ke Merese, hehe. Sip, ayo ke pantai ini, keren banget soalnya!

  2. Yeay! Tampilan baru berkat Mas Alid! 😀

    Saya melihat foto-fotonya serasa ikut kepanasan dan haus Mas. Semoga dalam waktu dekat Mawun lebih bersolek lebih rapi dan teratur. NTB itu luar biasa banyak mutiara wisatanya 🙂

    1. Hore! Iya, banyak dibantu Mas Alid nih, saya bersyukur dan berterima kasih banget, hehe. Terima kasih juga untuk Mas dan teman-teman yang lain karena sudah setia menunggu, hehe.
      Amin, mudah-mudahan objek wisata NTB segera berbenah, tapi dengan tidak melupakan masyarakat asli di sana.

  3. AKu justru melihat dari sisi berbeda, justru warna keruh coklat itu dipadu dengan birunya laut di tengah sana, plus ijo gelapnya gunung plus biru langit dan putih2 artistik yg ditampilkan oleh awan.. aaaah. PERFECT!

    1. Iya Mas, memang letaknya si pantai ini terlindung banget jadi sangat tenang untuk berenang-renang. Cuma mesti hati-hati juga kalau berenang sebab kata orang arus bawah di laut selatan sini memang kuat, meskipun dari permukaan tak terlalu beriak, hehe.

    1. Iya Mas… memang pantai ini cenderung lebih sepi ketimbang Pantai Kuta, mungkin karena letaknya yang agak jauh. Kalau pantai yang letaknya strategis, apalagi parkirnya bagus, sudah lumayan ramai, hehe.

  4. belum kesampaian main ke lombok nih. seorang teman dari Kediri merekomendasikan pantai mawun ini, eh malah nemu infonya di blog Gara. sepi pula ya, seru! kayanya kalau kesini sambil bawa banyak bekal deh, sepi gini kalau kelaparan kan repot juga. hehe

    1. Iya, Mas! Masyarakat Lombok sendiri umumnya pasti bawa banyak perbekalan kalau main ke pantai ini. Lalu mereka semua makan bareng di pinggir pantai, bercengkrama bersama keluarga. Mungkin lain kali akan saya ceritakan kebiasaan unik ini, hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?