Menjejak Metro

Ayo bersiap, Kawan!

Pagi tanggal 30 Oktober 2014, kami melanjutkan perjalanan dari Candimas, Natar, Lampung Selatan, menuju Metro, Lampung Timur. Kami mengawalinya dengan sarapan di restoran hotel, yang sebenarnya sempat saya sangka rumah makan Padang gara-gara hotel ini satu pekarangan dengan restoran Padang. Ternyata bukan, restoran ini ada di sebuah ruangan tepat di sebelah restoran Padang itu. (Untung saja kami jadi sarapan, pada awalnya kami bahkan tak mau menyambangi tempat makan itu gara-gara agak ogah makan masakan Padang pagi-pagi :haha).

Makanannya standar sarapan hotel. Menu nasi, menu bubur kacang hijau, menu roti, saya coba semua (iya saya maruk). The taste is so-so, it wasn’t bad but it wasn’t the best food that I’ve ever had, either. :hihi

Kami dijemput sekitar pukul 09.00. Sesungguhnya tidaklah seberapa jauh perjalanan ke kota Metro, jaraknya mungkin hanya sekitar 30—40km, tapi karena saya baru pertama kali ke sana, dan saya mencoba mengingat semua hal yang mobil kami jumpai di perjalanan, rasanya lama.

Sebenarnya boleh dibilang, Metro agak jauh dari jalan utama. Kami meniti jalan dengan mobil Kijang, lurus ke arah utara, sampai pertigaan Tegineneng. Pokoknya pertigaan pertama yang ada monumennya. Di dekatnya ada beberapa mini market terkenal di Indonesia, inisial I dan A.

Dari pertigaan Tegineneng, yang notabene bagian Jalinsum, belok kanan, diperlukan sekitar 20 menit lagi untuk masuk ke wilayah Kota Metro. Di kota ini juga menurut saya masih kurang objek wisata, hanya ada beberapa taman di tengah-tengah kota sebagai alternatif para penduduk untuk berwisata tanpa harus pergi jauh-jauh. Meskipun demikian, di kota ini sudah mulai ada pembangunan infrastruktur, seperti pusat perbelanjaan baru ataupun restoran waralaba yang biasanya ada di kota besar.

Atau sayakah yang kurang mengeksplorasi?

Yang unik dari perjalanan menuju Metro adalah adanya kanal besar yang mengikuti jalan. Sekarang kanal tersebut sedang dikerjakan, ibaratnya seperti membuat saluran air tapi dalam ukuran yang masif. Ketika saya tanyakan, kanal besar ini rupanya adalah saluran sekunder dari Bendungan Batu Tegi di wilayah Tanggamus, yang akan menjadi saluran utama bagi saluran-saluran tersier menuju lahan-lahan pertanian. Diperkirakan, pembangunan kanal ini akan selesai dalam waktu dekat, kalau bisa sebelum musim hujan.

Tunggu. Kalau saluran sekundernya saja sebesar itu, saluran primernya sebesar apa ya?

Kanalnya ada di sebelah kanan (diambil dari kursi belakang) :)).
Kanalnya ada di sebelah kanan (diambil dari kursi belakang) :)).

Apabila dibandingkan dengan kota-kota lain, Metro memang tidak memiliki sejarah terlampau panjang. Menurut beberapa sumber, kota ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1936-1937 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai upaya pembukaan lahan. Per tanggal 9 Juni 1937, daerah tersebut resmi diberi nama “Metro” (oleh karena itu, 9 Juni 1937 ditetapkan sebagai hari jadi kota Metro). Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Lampung, setelah Bandar Lampung. Pada mulanya, kota Metro adalah ibukota Kabupaten Lampung Tengah, tapi per tanggal 27 April 1999, kota ini ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif yang dipimpin seorang walikota.

Sebagai sebuah kota, Metro sedang dan akan terus berkembang. Tapi, untuk saat ini, janganlah menyamakan Metro dengan Bandar Lampung, apalagi Palembang. Keaslian Metro sebagai kota kecil masih tetap ada, dan itu memberi nuansa tersendiri. Masih ada beberapa hutan kecil di pusat kota, contohnya “kesendirian” di Jl. Sutan Syahrir.

Kesendirian sang rambu lalu lintas.
Kesendirian sang rambu lalu lintas.

Siang menjelang. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, kami makan siang di sebuah restoran pinggir kolam. Namanya pun menyiratkan lokasinya, “Kolam”. “Makan sambil lihat ikan, Gar,” kata Pak Handi. “Khasnya di sini seperti itu.”

Ternyata di sini lumayan ramai. Dengan anak sekolah, atau pegawai kantoran, yang menghabiskan waktu makan siang mereka mencari penyegaran pandangan. Sebenarnya rumah makan ini tidak terlalu spesial, berada di atas sebuah kolam ikan, yang airnya terlalu tenang sehingga saya juga bingung di sana ada ikannya apa tidak. Pada titik yang agak jauh terdapat beberapa pohon kelapa, sementara di kejauhan sana tampak perumahan yang tertutup pepohonan.

Oke, inilah kolam.
Oke, inilah kolam.

Orang-orang mungkin akan bertanya, “Apa istimewanya?” Tapi ya, makan siang dengan pemandangan kolam, meski sederhana, jadi menyejukkan mata. Membuat mata jadi segar dan tidak mengantuk (meski angin sepoinya enak juga sih kalau dibuat pengantar tidur :haha). Saya juga jadi betah berlama-lama menyantap makan siang saya (padahal saya biasanya makan seperti dikejar setan). Apalagi menunya familiar, bukan makanan khas Lampungnya sendiri, tapi sebagaimana yang banyak dijumpai di Lampung, menunya khas warung tegal.

Dan tiba-tiba saya ingat: Lampung is the land of transmigrants.

The Land of Transmigrants

Kalau sedang ada di Lampung, jangan heran melihat banyak warung pecel lele atau warung tegal di sepanjang jalan. Jangan kaget juga kalau mendengar banyak orang Lampung berbicara dengan bahasa Jawa atau bahasa Madura (dan bahasa Bali di beberapa desa), sampai-sampai kita akan berpikir, “Orang Lampung aslinya di mana?” Jangan pula heran melihat nama tempat di sini sama dengan di Jawa, seperti Pasuruan, Probolinggo, Sleman, atau Bantul!

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan di mana orang (atau kota) asli Lampung, namun kalau ditanya mengapa ada nama-nama Jawa di Lampung, mungkin saya bisa menjawab. Atau mungkin kalian sudah tahu jawabannya bahwa Lampung adalah tujuan transmigrasi (salah satu yang utama) pada zaman Orde Baru dahulu? Hehe.

Yap, akibat program pemerataan penduduk yang sempat digalakkan pemerintah pada dekade 70-an sampai 80-an itu, banyak penduduk Jawa (dan Bali) yang ditransmigrasikan ke Lampung. Mereka diberikan lahan pertanian seluas dua hektar untuk diolah, sambil mendirikan tempat tinggal di sini. Secara alamiah, mereka masih membawa budaya asal mereka, dan itu tercermin dari nuansa pemerintahan dan nama-nama tempat yang menyiratkan daerah asal mereka. Mungkin saja, penduduk di daerah Bantul, Lampung, dahulunya memang berasal dari Bantul, Yogyakarta.

Saya berbincang dengan seorang satpam, yang saya jumpai ketika saya duduk-duduk capek (note: capek mencari point of interest yang terjangkau tapi tidak kunjung ketemu traveller apa saya ini, plak) di dekat sebuah pos satpam. Setelah meminta izin untuk duduk, kami lantas bercakap-cakap tentang keadaan daerah sekitar. Lantas, semua berawal ketika satu pertanyaan untuk mencegah kebuntuan saya lontarkan:

“Mas, asli mana?”

“Asli sini, Mas.”

“Lha tapi kok itu logatnya Jawa? Hihi…”

“Ya iyalah, Mas, di sini orang trans semua.”

“Apa, Mas?” Saya agak tidak mudeng. “Orang trans?”

“Transmigran, Mas. Transmigran. Orang tua saya transmigran dari Jawa, tapi saya lahir dan besar di sini…”

Nah, saya pikir, saya sedikit banyak senasib dengan mas-mas satpam ini (tentunya bukan dalam hal sebagai satpam, karena saya bukan satpam, dan saya tidak punya bakat menjadi satpam :haha). Maksudnya, saya juga kalau ditanya, “Orang mana, Gar?”, nah lho saya bingung juga, tuh. Masalahnya, orang tua saya orang Bali tulen, tapi saya lahir dan besar di Mataram, NTB. Eh tapi lagi, kalau orang tua saya dibilang Bali tulen 100% juga kurang tepat, sih. Dari garis ibu, ada beberapa tetes darah Tionghoa peranakan juga. Tapi, balik lagi, saya lahir dan besar di Mataram, tidak tinggal di Bali (kendati agama saya Hindu dan biasa melakukan upacara adat Bali), tidak bisa bahasa Bali (meski kedua orang tua asli Bali dan fasih berbahasa bali), apalagi bahasa Tiongkok juga, boro-boro, deh.

Apesnya lagi, meski saya lahir dan besar di Mataram, saya tidak bisa bahasa daerah Mataram (bahasa Sasak) juga, jadi ya kalau saya dibilang orang Mataram ya Mataram KW 2 hehehe…

Maaf-maaf ya, saya jadi curhat. Intinya saya orang Indonesia!

Hehehe…

Elephants Everywhere

Satu hal yang menarik dari Metro dan kota-kota lain di Lampung, di samping keberagaman etnis dan terik matahari dan suhu udara yang cukup menghitamkan kulit hanya dengan keluar makan siang (:hiks), adalah bahwa kota ini identik dengan gajah! Gajah di mana-mana. Bukan gajah asli, tapi banyak patung gajah di tepi jalan atau di mulut-mulut gang. Gajah digambarkan dengan semua kegiatannya. Gajah bermain bola, gajah berpose, gajah menari, gajah menyanyi, gajah belajar… pokoknya semua kegiatan yang dilakukan gajah!

Unik saya melihatnya. Di kota-kota lain yang sejauh ini telah saya sambangi, belum ada satu kota pun yang mengabadikan hewan sebagai maskot dengan sebegini intensnya. Yah, Lampung memang pusat gajah Indonesia, dengan Taman Nasional Way Kambasnya, yang menjadi pusat penangkaran gajah terbesar di Indonesia.

Conclusively, We Talked A Lot

Accidentally, I met my friend here. My old friend, back in the college.

Pusing mencari-cari, jalan-jalan, capek, dan selesai menemani Mas Ali melaksanakan tugas, saya memutuskan keluar dari ruangan ber-AC itu. Orang pertama yang saya temui di luar ruangan membuat saya terlonjak.

“Lho? Kamu di sini?”

Kaget! Ternyata sekarang dia bekerja di sini, sebagai bendahara di salah satu kantor instansi vertikal kementerian. Namanya Putu, dia juga orang Bali, dan asalnya dari Singaraja, seperti (orang tua) saya.

Kami banyak berbincang. Hal yang jarang saya lakukan ketika saya bertemu kembali dengan teman yang telah lama berpisah (biasanya kami hanya bertegur sapa, atau saya bahkan tidak melanjutkan percakapan karena tidak merasa kenal begitu dekat). Entah, rasa-rasanya senang bertemu dengan seorang perantau, senang juga mendengar ceritanya tentang merantau, seakan-akan merantau adalah topik terseru di dunia.

Kami banyak bertukar pikiran tentang masyarakat perantau dari Bali yang banyak terdapat di Lampung. Kami juga berbincang tentang objek wisata di daerah sekitar sini, di mana objek wisata terdekat, intinya obrolan seputar dunia jelajah petualang sekitar (bilang saja capek nyari dan obrolan penduduk lokal jadi panduan). Kami juga banyak membahas kondisi keanekaragaman etnis yang ada di sini, tambahan lagi beberapa kejadian konflik SARA yang sempat melibatkan masyarakat Bali di Lampung, yang terjadi beberapa tahun silam.

Saya menilai keramahan suatu daerah bagi perantau dari satu hal: keamanan. Sehingga saya awali topik itu dengan satu pertanyaan singkat:

“Di sini aman, kan?”

“Iya, aman, di dalam kota. Tapi kalau sudah keluar kota… aku tak berani keluar malam-malam pakai motor.”

OK, saya cukup paham masalahnya. Sebagaimana biasa di jalur-jalur lintas pulau yang sepi, pasti ada saja orang-orang yang berniat jahat. Keterbatasan ekonomi akibat ketimpangan pendapatan membuat beberapa penduduk yang telah putus asa mengambil jalan pintas: melakukan kegiatan kriminal. Mereka, sering disebut bajing loncat atau begal, suka mencegat pengemudi mobil (dalam kasus ini terutama motor) untuk dirampok atau dirampas kendaraannya. Tidak jarang, mereka tidak segan melakukan tindak kekerasan terhadap korbannya.

Ketika kami diantar pulang ke hotel pada malam harinya, rekan sekantor Putu juga menceritakan hal senada. Kata mereka, dulu sempat ada kejadian mobil kepala kantor dilempari orang tak dikenal ketika sedang melintasi daerah sepi di jalan lintas Metro—Tegineneng. Untung saja tidak sampai mengenai kaca mobil dan mengakibatkan korban luka—batu berukuran sedang itu mengenai spion, melepaskan spion dari tempatnya.

Tidak ada yang mau repot berhenti untuk mengambil spion itu. Tancap gas!

Saya rasa, hal tersebut sedikit banyak meresahkan masyarakat. Apalagi terhadap perantau yang belum begitu paham kondisi daerah yang ditinggalinya, jadi takut untuk menjelajah daerah sekitarnya. Begitupun dengan wisatawan yang berkunjung: bukankah keamanan adalah kebutuhan dasar bagi kenyamanan berwisata?

Apabila kita mau jujur sih, berdasar pengalaman saya kemarin, memang kondisi jalannya agak menyeramkan. Lampu jalan terpasang, dengan solar cell penemuan terbaru. Tapi semua lampu itu tidak ada yang menyala. Lepas kota Metro, kegelapan seperti menelan kami. Sebenarnya saya tidaklah terlalu asing dengan gelap. Di kampung halaman saya, Lombok, masih banyak jalanan seperti itu. Meski badan jalan sudah bagus, penerangan masih sangat minim. Hanya saja, mengingat saya mendapati semua ini jauh dari rumah… ada sedikit gentar di hati :haha.

Kondisi medan jalan juga sebenarnya tak sulit. Tak banyak tikungan. Memang, di kiri kanan jalan persawahan kering, dengan sesekali beberapa gelintir kerumunan pepohonan membentuk hutan kecil menyapa. Menjadi tempat yang sempurna bagi para penjahat untuk bersembunyi, menanti mangsa sebelum melancarkan aksi… seru! lho kok mikirnya seru, Gar?

Iya seru… asal tidak mengalami sendiri, ya!

Tapi kok ya kemarin kami semua tak ada yang takut, malah sibuk gosip sepanjang jalan tentang gaji yang (mudah-mudahan) naik… :haha. Mungkin karena masih jam setengah delapan malam juga sih. Saya sempat bertanya, “Katanya di sini agak rawan, Pak. Kok kita sampai buka jendela?” (Posisi itu adalah saya sudah seperti film-film zaman dulu dengan melambai-lambaikan tangan ke luar jendela).

Jawabannya membuat saya memasukkan tangan dan tak berani mengeluarkannya. “Ya baru jam segini, Mas. Tapi kalau sedikit malam saja, kita cuma bisa berdoa dan ngebut.”

Setahu saya berdoa dan ngebut kurang begitu bisa menjadi variabel yang regretif… :haha

Yah, kembali ke persoalan rawan keamanan di jalan, dibutuhkan kerja sama semua pihak, baik penegak keamanan maupun pemerintah dan masyarakatnya sendiri, sih, supaya tindak kriminal ini bisa ditekan kemunculannya. Menurut saya, salah satu caranya adalah dapat melalui perbaikan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, pendidikan semua lini, secara berkesinambungan, dengan kata lain menghapus akar permasalahan, karena masalah kriminal sejatinya hanyalah puncak dari gunung es masalah sosial kemasyarakatan buset ini udah kayak makalah seminar yak, abstrak banget :hihi.

Ke-sim-pul-an-nya

Kami tiba di hotel pukul delapan malam. Setelah mengucapkan selamat berpisah, ditempeli janji akan berkunjung kembali ke kota ini (itu pasti), kami berpisah. Empat orang yang mengantar kami kembali ke Metro, sementara aku dan Mas Al kembali harus menikmati burung-burung yang bertengger di kabel listrik depan hotel.

Hahaha.

Memang, tak banyak tempat yang saya sambangi di Metro dalam petualangan kali ini. Tapi saya berpendapat: Well, this travel is kinda different. Di sini saya tidak membolang ke tempat-tempat bersejarah, dikejar orang gila atau dicurigai juru kunci karena intip-intip dan mondar-mandir di depan situs tapi tidak berani masuk gara-gara sendirian (:hehe). Di Metro saya menikmati perjalanan, menikmati jalan (yeah, secara harfiah), ketemu teman lama, banyak berbincang, bertukar pikiran, hal-hal yang kalau saya boleh jujur, sangat jarang saya lakukan, mengingat saya lebih banyak bertualang sendiri.

Tapi hal-hal yang jarang saya lakukan itu justru membawa banyak perubahan bagi diri saya, terutama ketika saya melakukan satu hal ini: membuka diri.

Saya belajar tentang bagaimana perantau hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa sanak saudara, di sebuah tempat yang beribu kilometer jauhnya dari kampung halaman. Saya belajar bagaimana para perantau hidup berdampingan dengan penduduk asli. Saya belajar bagaimana keanekaragaman etnis dalam dinamika hubungan kemasyarakatan perantau dan penduduk asli berlangsung dengan segala geliat dan riak riuh rendahnya. Saya belajar juga tentang bagaimana menikmati kesederhanaan di kota yang sederhana. Dan saya belajar betapa petualangan akan sedikit lebih membekaskan makna ketika kita melibatkan orang lain di dalamnya.

Karena bukankah memang demikian hakikat avonturir, ketika kita menyadari kemanusiaan kita, sadar bahwa kita tak hidup sendiri?

Ehem, kenang-kenangan dari Metro :haha.
Ehem, kenang-kenangan dari Metro :haha.

Apa senyum saya tampak terlalu lebar? Hahaha.

12 thoughts on “Menjejak Metro

  1. Lampung ini dulu nya lokasi transmigrasi jadi banyak penduduk asli jawa, bali, madura yg kesana. Sempet ketemu orang asli daerahku yaitu gresik di bandar lampung yg sukses buka toko kelontong dan dulu nya adalah transmigran

    1. Iya, Mas. Lampung memang tanah transmigrasi yang terbukti sangat berhasil. Bahkan Lampung sudah jadi kampung halaman bagi orang-orang transmigran itu. *manggut-manggut*

  2. Salam kenal Gara!

    Terdampar di artikel ini karena penasaran dengan kota Metro yg namanya kebarat2an, selain itu kota ini akan saya kunjungi dalam bbrp bulan ke depan. Trims ya, saya jadi dapet sedikit gambaran mengenai kota Metro itu sendiri 🙂

    1. Salam kenal, Mas Badai!
      Wah, terima kasih sudah berkenan untuk berkunjung di gubuk saya yang ala kadarnya ini. Yup, sama-sama! Senang rasanya bisa membantu dan berguna :))

  3. Lampung, penduduk transnya lebih terlihat dari penduduk aslinya… Daerah yang banyak keturunan bali-nya sepanjang jalan rumah2nya ada pura mewah2 dan bagus…

    Jadi kangen jalan lintas sumatera…. 🙂

    1. Saya malah belum pernah melihat kampung suku Bali di Lampung Mbak, tapi memang pernah dengar cerita kalau mereka memang sangat sejahtera di sana. Ah, Jalinsum memang petak yang sangat seru untuk dijelajahi, ya. Apa kabar kalau bertualang dari Lampung sampai ke Aceh? Wow banget pastinya.

      1. Saya kalau dari Padang ke Jakarta naik bus, pasti liat perkampungan Bali di sana. Di depan tiap-tiap rumah ada pura yang gede-gede banget dan bagus-bagus.

        Lahan pura pribadi tersebut yang ada di tiap2 rumah bisa jadi lahan rumah yang gede juga. Ada juga yang bikin di lantai atas rumah kalau ga salah.

        Kalau dari Jakarta ngga pernah bisa liat karena pasti lewat sana udah malam.

        Dari Aceh sampe Lampung pasti keren bgt kali yaaak… tertarik nih Gara? 🙂

        1. Wah, itu membuktikan ekonomi masyarakat Bali di sana rata-rata sudah sangat baik ya, Mbak. Iya, tentu tertarik, tapi tentunya perjalanan itu butuh kekuatan fisik dan mental yang besar juga :haha *lebay.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!