Pulau Menjangan #3: Usana Jawa dan Duka Brahma Ireng

Saya agak kaget ketika tahu ke mana kami akan menuju setelah itu. Tapi antara kaget dan penasaran juga.

“Kebo Iwa?” Saya bertanya heran, untuk memastikan.

“Ya, Kebo Iwa.”

Tak puas dengan jawaban ayah saya, saya bertanya lagi, “Kebo Iwa yang itu?”

Bapak berhenti dan menoleh. “Memangnya ada Kebo Iwa yang lain?”

Saya terdiam. Suara gemerisik di semak-semak kering dekat saya yang langsung di-uuh, aaah, oooh oleh pengunjung lain karena sadar di sana ada menjangan (ya iyalah di pulau ada menjangan, memangnya apa sebabnya pulau ini dinamai Pulau Menjangan?) tidak saya perhatikan. Benak ini justru melanglang buana pada nama itu.

Kebo Iwa.

Saya tak yakin ada orang Bali yang tidak tahu siapa itu Kebo Iwa, karena ialah salah satu penjaga terakhir pulau ini sebelum Bali masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit.

Suara aaah, oooh, waaah, itu makin keras. Sudah matahari terik, mereka masih bersorak-sorai karena bertemu menjangan. Astaga, di sini kan banyak menjangan, nanti pasti kita bertemu dengan beberapa dari mereka. Tak usah berlebihan begitulah, kasihan menjangannya pada takut semua. Jangan seperti orang yang belum pernah tahu menjangan begitu, deh.

_MG_7220

Saya mengikuti kerumunan orang, duduk di sisi kanan agak ke belakang, di belakang Bapak dan Ibu. Melihat langit-langit yang merah dan tinggi itu, pikiran saya mulai melayang pada masa hampir tujuh ratus tahun lalu. Pada kejadian-kejadian legenda yang sebagian besar hampir nyata, yang versinya sudah jadi bermacam-macam.

Ini saatnya bercerita, tentang Bali di tahun 1343. Cerita yang suka saya baca semasa kecil dalam buku yang Bapak pinjam, saat tidur-tidur ayam di kursi depan rumah. Cerita yang bagi saya tampak sangat fantasi, ketika sudut pandang tentang “kerajaan yang makmur” untuk pertama kalinya dinodai dengan upaya-upaya ekspansi kerajaan dari tanah seberang, tanah Jawadwipa. Sebuah cerita yang hampir saya percaya sebagai legenda semata, pengisi malam-malam gelap agar imajinasi terus membara.

Namun kini, cerita itu mewujud nyata di depan saya. Pada sebuah monumen yang sangat Brahma.

Maksud saya, sangat merah.

Di kala itu, Bali adalah kerajaan subur makmur, dipimpin oleh seorang raja bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten, dikenal dengan julukan Dalem Bedahulu (karena ibukotanya ada di Bed(ah)ulu, daerah Gianyar sekitar Ubud kini). Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dikawal oleh dua orang patih yang sangat setia, yakni Kebo Iwa dan Ki Pasung Grigis, dua orang yang paling sakti mandraguna dan dua orang terkuat di seantero Bumi Bali.

Bali adalah kerajaan subur, makmur, indah, tentram, aman, pokoknya semua kata sifat yang baik-baik, yang pendeknya, Bali adalah sempurna. Namun itu juga berarti Bali adalah sasaran empuk sekali untuk perluasan kekuasaan, terutama bagi kerajaan yang sedang jaya-jayanya di Jawa Timur sana.

Majapahit.

Apalagi, dengan seorang patih legendaris bernama Gajah Mada, yang sudah bersumpah (hati-hati dengan sumpah!) untuk mempersatukan Nusantara di bawah satu panji yang teragung di Jawa sana: Surya Majapahit.

Mungkin Gajah Mada lupa. Ikatan sejarah antara Bali dan Jawa sudah dimulai jauh sebelum ada orang berpikir untuk membuka hutan di daerah Tarik dan mencicipi buah maja yang rasanya pahit. Hubungan antara raja-raja di Jawa dengan raja-raja di Bali adalah hubungan keluarga, karena pada awal mulanya, awal mula Hindu mulai menjejak di Jawa Timur, raja di Jawa tak lain adalah adik dari seorang raja di Bali.

Lebih kental lagi, ibu negara di kerajaan Bali yang pertama kali tercatat sejarah tak lain adalah putri dari penguasa Jawa. Jawa, dan Bali, adalah saudara karena darah, hubungan saudara yang setara, bukan saudara yang dipaksakan sebagaimana nantinya Jepang mengaku-aku Indonesia adalah saudara mudanya. Jawa dan Bali adalah satu, yang hanya karena kedurhakaan seorang putera dengan ayahnyalah maka Selat Bali bisa terbentuk.

Jawa dan Bali dilahirkan dalam kedamaian. Tapi akibat kekuasaan dan keserakahan, manusia penguasa yang ada di atasnya lupa dengan sejarah. Saudara pun lupa dengan betapa tak berbedanya darah yang mengalir di antara mereka. Semua terbolak-balik, ketika negara api menyerang ambisi Majapahit mulai tercium di Bedahulu dan membuat intrik menggelora di sana.

Jelas, sebagai raja yang berdaulat, Sri Astasura Ratna Bumi Banten tentu tidak mau melihat Bali dikuasai oleh orang yang sudah punya daerah kekuasaan sendiri. Tentu saja ia menolak “paksaan” Majapahit untuk tunduk dan menjadi kerajaan bawahannya.

Namun alih-alih damai, Majapahit dan Gajah Mada memilih menyerang. Menginvasi dengan segala cara yang mungkin. Persetan dengan halal atau tidaknya. Bagaimanapun, Bali mesti dikuasai.

Dengan segenap argumentasi di atas, pantaskah kalau demikian, Majapahit saya sebut sebagai penjajah? Karena apa bedanya Majapahit dan penguasanya itu dengan negara adidaya yang tak bisa melihat kedamaian bersemi di negara lain, bahkan ketika negara lain itu dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?

Menjangan. Menjangan Saluang?
Menjangan. Menjangan Saluang?

***

Tersebutlah bahwa Gajah Mada akhirnya melakukan penyerangan ke Bali bersama dengan delapan (beberapa versi menyebutkan sepuluh) patih terkuat kerajaan untuk membantunya menguasai Bali. Kedelapan patih (arya) itu adalah Arya Damar, Arya Sentong, Arya Kutawaringin, Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pengalasan, Arya Kanuruhan, dan Arya Belotong (versi yang lain menyebutkan tambahan Arya Gajah Para dan Arya Getas). Penyerbuan itu hampir berhasil karena hampir seluruh Bali bisa dikuasai, kecuali Bedahulu, the capital.

Tapi bagi Gajah Mada itu tak ada artinya, karena Kebo Iwa masih hidup dan dengan demikian, Bali belum berhasil ia kuasai.

Kebo Iwa memang terkenal kesaktiannya, sejak kecil Kebo Iwa ini sudah tumbuh sebagai seorang pria yang ajaib, berotot kawat, bertulang besi, dan berkulit baja. Bagaimanapun cara Gajah Mada berusaha membunuhnya dalam berbagai pertempuran, ia tak pernah berhasil, malah ia sendiri yang hampir mati dalam pertemuan-pertemuan mereka, dan Kebo Iwa hampir tidak pernah menderita luka barang sedikit pun.

Gajah Mada memutar otak. Bagaimana caranya menyingkirkan Kebo Iwa dari Bali agar para patih yang sudah menguasai sebagian besar pulau ini bisa menuntaskan ekspansi mereka? Bagaimana cara memusnahkan Kebo Iwa dengan membuatnya kehilangan muka di hadapan rajanya?

Akhirnya (tentu saja), Gajah Mada mendapatkan pemecahan yang sangat baik. Ia datang ke Istana Bedahulu, membawa proposal perdamaian dari sang ratu, Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani. Proposal perdamaian itu adalah: sebuah tawaran pernikahan dari kerabat kerajaan Majapahit untuk, tentu saja, Kebo Iwa.

Sebenarnya Kebo Iwa ragu dengan tawaran ini. Bagaimana mungkin, orang yang kemarin berusaha keras sekali untuk membunuhnya, sekarang datang baik-baik ke istana membawa proposal perdamaian, dan yang lebih tidak masuk akal lagi, membawa sebuah tawaran pernikahan? Namun berhubung sang raja sudah setuju, jadi ia tak boleh menolak perintah raja. Berangkatlah ia ke Jawa Timur, ke Majapahit.

Sebuah pesta ternyata sudah disiapkan di tempat yang sudah disiapkan di Majapahit, pesta yang sangat meriah. Kebo Iwa pun diajak Gajah Mada untuk menemui sang ratu, dan pembicaraan berlangsung dengan sangat lancar, benar adanya bahwa ia akan dinikahkan dengan seorang kerabat kerajaan bernama Ni Gusti Lemah Tulis. Namun, sebelum acara dimulai, ada satu permintaan Gajah Mada yang ingin sekali dipenuhi oleh orang kuat seperti Kebo Iwa.

“Menggali sebuah sumur,” kata Gajah Mada. “Tentunya itu bukan masalah buatmu, kan?”

_MG_7223

Semakin tak enak rasa hati Kebo Iwa mendengar ini—karena ini semakin mirip tipu muslihat, alih-alih tawaran berdamai. Namun ia berpasrah diri pada Yang Kuasa, dan menyanggupi keinginan Gajah Mada itu. Toh, rakyat Majapahit kala itu memang sedang kekurangan air (menurut cerita Gajah Mada) jadi berguna untuk masyarakat di sini akan sangat membantu mereka.

Digalilah sumur itu, dan cukup dalam juga Kebo Iwa menggali sebelum akhirnya ia menemukan air. Tak kekurangan udara dan suatu apa ia di dalam sana lantaran kesaktiannya membuat patih Bali ini bisa bernapas di mana saja. Sejauh ini juga tak ada yang aneh jadi ia terus menggali untuk memastikan sumur itu punya debit air yang cukup untuk semua orang.

Sampai akhirnya ketika secara tiba-tiba ia mendengar Gajah Mada berteriak nyaring:

“TIMBUN DIA DENGAN BATU!”

Tak sempat Kebo Iwa mendongak dan batu sudah menghujaninya. Ia dikhianati! Rupanya Gajah Mada sudah bersiap dengan patih-patihnya itu, untuk menimbun sumur yang tadi digali Kebo Iwa. Tak sempatlah ia untuk melakukan apa pun, ia kalah jumlah sehingga dalam waktu singkat, sumur itu sudah terkubur kembali.

“Sebenarnya sangat disayangkan seorang patih besar harus mengalami ini,” kata Gajah Mada kepada para pengikutnya. “Namun apa daya, hal ini harus kulakukan, agar Nusantara bisa kupersatukan, di bawah satu bendera, Bendera Majapahit…”

“BELUM!”

Suara menggelegar itu tiba-tiba saja muncul dari dalam tanah, disertai bunyi gemuruh yang demikian hebat, sebelum Gajah Mada menyelesaikan perkataannya. Batu-batu yang ditimbun di dalam sumur itu pun meledak, terlontar keluar, menyertai seorang patih sakti mandraguna yang melompat dari dalam sumur, dengan muka penuh kemarahan.

“Dan beginikah balasan yang kuterima?” tanyanya marah. “Sebuah pengkhianatan? Selama aku masih bernapas, Bali tak akan bisa kau kuasai, Gajah Mada!”

Tak banyak cakap Gajah Mada dan ia langsung menerjang Kebo Iwa dengan segenap kekuatan yang ia miliki.

Banyak cerita yang beredar kalau peperangan dua mahapatih ini adalah pertempuran terberat dalam sejarah Penaklukan Palapa. Bagaimana pertempuran berlangsung dengan sangat sengit karena dua patih ini sama kuatnya. Peperangan pun berlangsung selama beberapa waktu, dan membuat takut semua orang yang melihat.

“Aku melakukan ini untuk mempersatukan dan memperkuat Nusantara!” seru Gajah Mada di tengah-tengah peperangan. “Dan kau berdiri di garis yang salah sebagai penghalang!”

Seketika itu juga Kebo Iwa terdiam. Ia melihat baik-baik raut wajah Gajah Mada. Pikirnya, keinginan patih yang berdiri di depannya ini begitu tulus untuk mempersatukan Nusantara, ia bisa mengerti kenapa Gajah Mada bertindak sampai sejauh ini. Tapi… menaklukkan kerajaan Bali, tentu saja tak bisa ia terima sebagai seorang patih. Bagaimana mungkin kesetiaannya kepada Sri Astasura Ratna Bumi Banten harus ia pindahkan kepada seorang ratu baru, Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani, yang baru ia temui sekali? Bagaimana mungkin ada raja di atas raja?

Ia pun menerjang lawannya dari Jawa itu sampai kehabisan napas, dan Gajah Mada pun sadar kalau dirinya tak akan mungkin menang melawan Kebo Iwa, sampai akhirnya ia menyerah dan memilih jujur soal tipu muslihatnya ini, bahwa sebenarnya ia membawa Kebo Iwa kemari untuk membunuhnya, bahwa pernikahan itu sebenarnya tak pernah ada.

Langit-langit yang bagus.
Langit-langit yang bagus.

Ni Gusti Lemah Tulis hanyalah karangan belaka, karena sebenarnya Lemah Tulis hanyalah nama sebuah daerah di Trowulan.

Kebo Iwa pun mundur. Ia dirundung perasaan bersalah yang amat sangat. Bagaimana mungkin ia bisa kembali ke Bedahulu untuk menatap muka rajanya ketika ia sudah gagal melaksanakan perintah? Ia tak mungkin kembali ke sana tanpa seorang istri, padahal sang raja sudah berpesan padanya untuk kembali dengan seorang wanita sebagai bentuk perdamaian dengan Majapahit. Dengan demikian, gagal sudah ia melaksanakan tugas, dan balasan untuk seorang patih yang gagal melaksanakan tugas adalah…

Mati.

Adegan selanjutnya menurut saya adalah yang paling mengharukan dari seluruh cerita itu. Bagaimana dengan kesetiaannya yang menurut saya bahkan tidak bisa diterima akal sehat, Kebo Iwa meminta kepada Gajah Mada untuk membunuhnya, dengan cara menaburkan bubuk pamor (kapur sirih) ke sekujur badannya sebelum menghabisinya.

Tentu saja Gajah Mada melakukannya, dan menurut saya ini perbuatan yang sangat… pengecut, menghabisi seseorang dengan cara seperti itu. Persis seperti ketika Patih Sawunggaling menghabisi I Jayaprana (ini intrik yang lain lagi).

Astaga, saya menyebut Gajah Mada sebagai seorang pengecut.

Tapi ia memang pengecut. Seorang ksatria tidak akan melakukan segala cara untuk menghalalkan tujuannya yang sangat ambisius itu.

Tak akan saya lupa apa kata-kata terakhir Kebo Iwa sebelum meninggal, yang saya dapat ingat dari buku yang sudah saya lupa judulnya itu. Di tengah sisa napasnya yang makin terengah-engah karena bubuk kapur sirih, di sela-sela darah yang terus mengucur dari tusukan keris sang mahapatih, Kebo Iwa pun berkata pada satu-satunya orang yang bisa mengalahkannya itu:

Persatukanlah Nusantara. Kuserahkan Bali padamu. Namun aku mohon, jaga Bali sebagaimana kau menjaga kerajaanmu. Meski ragaku tak ada lagi di dunia ini, ketahuilah kalau aku akan selalu mengawasi bagaimana kau—dan keturunanmu—menjaga Bali.

Kalau sampai kau lalai menjaga Bali, aku akan datang kembali bersama dengan orang-orang yang berkulit seputih kapur sirih ini, para kerbau putih, untuk mengingatkanmu bahwa kau dulu meminta Bali padaku dengan kapur yang sama. Dan kalau kau tidak bisa menjaga Bali lagi, bersiaplah… maka Jawa akan kutenggelamkan.

Ingat sumpahku, Gajah Mada.

Dengan matinya Kebo Iwa, maka tak ada lagi halangan Gajah Mada untuk menguasai Bali, dan memang demikian, karena Sri Astasura Ratna Bumi Banten adalah raja terakhir Bali yang berkuasa, sebelum kekuasaan pindah ke Gelgel dan menjadi awal dari sejarah panjang Bali yang lain lagi…

***

“Gar, Gar! Menjangan Gar, Menjangan! Ada menjangan di dekatmu!”

Menjangan!
Menjangan!

Riuh orang di sekeliling saya memotret menjangan yang makan sisa-sisa banten tapi saya tak memerhatikan. Astaga, sudah berapa lama saya melamun, sampai saya tak sadar kalau sudah ada keriuhan di dekat saya ini. Persembahyangan sudah hampir dimulai jadi saya sebenarnya baru melamun sekitar lima sampai sepuluh menit, tapi kok ya rasanya lama banget, ya? Rasanya ada film yang baru saja terputar di kepala ketika saya menatap papan nama pura ini lekat-lekat.

Pura? Ini lebih mirip sebuah rumah dengan satu kamar pemujaan dan teras berpendapa yang cukup besar, alih-alih sebuah pura. Dan memang benar, persembahyangan di sini adalah bentuk penghormatan pada Kebo Iwa, patih hebat yang pernah dimiliki oleh Pulau Bali, yang menurut cerita beberapa orang masih ada di sekitar Bali untuk mengawasi bagaimana pulau ini dijaga oleh Gajah Mada dan keturunannya.

Saya benar-benar tidak percaya kalau pemangku baru saja selesai munggah mepuja padahal saya rasanya sudah melamun sedemikian lama. Saya bahkan sampai berdebat dengan kakak saya tapi dia cuma berkata sinis, “Kita kan baru di sini lima menit, mungkin kamu ngantuk kali, Gar.”

“Lima menit dari mana? Ini sudah lama sekali!” Saya tetap bersikukuh, tapi kakak saya menunjukkan jam dan berkata, “Kita baru di sini lima menit!”

Saya terdiam. Ah, ya sudahlah ya, saya memang suka melamun, persembahyangan sudah mau dimulai jadi mari kita menyatukan pikiran. Mari menghormat pada tokoh yang mungkin sedang ada di dalam, menyaksikan saya keheranan dengan waktu yang seolah berjalan begitu lambat. Tokoh yang mungkin menatap kami dalam diam, namun tersenyum penuh arti…

***

Ada yang berbeda antara persembahyangan di pura ini dengan pura lainnya. Pembaca budiman yang jeli akan bertanya, kenapa di sini dinamakan Brahma Ireng padahal jelas-jelas Brahma identik dengan warna merah.

Petunjuk lain saya dapatkan setelah persembahyangan. Biasanya, umat Hindu, apabila selesai bersembahyang dan diperciki air tirtha, akan menggunakan bija, yakni butiran beras di tengah-tengah dahi dan tengah-tengah leher (ada juga yang ditelan). Nah, di sini tidak menggunakan bija, melainkan pakai abu suci (namanya wibhuti), dengan cara pakai yang unik: dengan jari tengah tangan kanan, abu suci yang ada dalam wadah diambil sedikit, kemudian ditempelkan di tengah-tengah dahi dan diguratkan ke atas, membentuk bindi, atau tilak, sebutannya bagi masyarakat India. Saya suka memakainya, soalnya baru pertama kali.

Abu suci itu warnanya hitam.

Brahma Ireng.
Brahma Ireng.

Menurut saya, inilah sebab mengapa ada kata ireng (alias hitam) di nama tempat yang sedang kami ziarahi ini. Hitam berarti kedukaan, kesedihan, kemuraman. Siapa yang tak akan berduka ketika tahu dasar dari semua kekuasaan Majapahit yang diletakkan di Bali, dan bukan tidak mungkin, daerah-daerah lain (ingat Sunda dan Perang Bubat?) adalah tipu daya dan pengkhianatan?

Ya, mungkin kita mesti selalu ingat dengan pengkhianatan itu sehingga di kemudian hari tidak terulang lagi.

Mungkin ada yang bertanya kenapa tidak pakai bija? Karena penggunaan bija dilarang keras, khusus di pura ini. Inilah salah satu keunikan pura di Pulau Menjangan yang ten-tu-sa-ja tidak ada di pura lain di Bali.

Dan jikalau saya menyelipkan fakta bahwa bija dibentuk dari beras, beras yang berwarna putih, maka pertanyaan itu bisa pembaca budiman simpulkan sendiri. Saya menyerahkan sisanya kepada para pembaca, kenapa di sini tidak identik dengan warna putih, melainkan dengan warna hitam.

Tapi ada cerita unik di sini. Ketika persembahyangan selesai, tirta sudah selesai dibagikan, saya yang kebetulan giliran bertugas menarik dana punia pun bersiap mencari tamas yang sudah saya ambil tadi di Pura Beji/Ida Bhatari Duayu Taman. Seingat saya, tamas itu sudah saya letakkan di samping tempat saya duduk.

Tapi kok sekarang tidak ada?

Saya bertanya kepada orang sekitar tapi mereka semua tidak merasa melihatnya. Padahal sudah saya ganjal dengan tas kamera, tapi tas kameranya masih ada, sedangkan tamas itu sudah hilang.

“Terus kita tarik dana punianya pakai apa?” Saya mendesis pada ayah yang duduk di depan saya. Tak perlu lama-lama, bapak saya itu sudah menunjuk ke bawah lapan (meja lebar untuk meletakkan sesaji) di depan sana.

“Itu, ada di bawah sana.”

Saya baru sadar lama setelah saya meninggalkan Pasraman Brahma Ireng itu, tapi ini cukup aneh, sebab saya mengambil tamas itu dalam posisi yang persis sekali dengan tamas yang saya ambil di Pura Beji sebelumnya. Mungkin tamas itu sudah jatuh entah di mana. Ibu saya tadi sempat meminjamnya untuk menghalau sinar matahari (padahal saya ingat betul Ibu sudah mengembalikannya). Ya, mungkin ini cuma kebetulan.

Tapi bukankah di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan?

Tak sampai seberapa lama, semua sumbangan sudah selesai dikumpulkan. Bapak bersama saya kemudian memasukkannya ke dalam kotak yang sudah disediakan. Sempat saya berusaha mengambil gambar arca Kebo Iwa yang ada di dalam bangunan itu, tapi mungkin terlalu gelap sehingga foto saya pun tidak ada yang sukses.

Ah, entahlah, mungkin yang ada di dalam sana belum begitu berkenan untuk diambil gambarnya.

Mungkin cerita saja sudah cukup.

Selalu terhalangi.
Selalu terhalangi.

***

Banyak yang bilang kalau kata-kata terakhir Kebo Iwa itu adalah kutukan bagi Gajah Mada. Banyak orang yang berkata kalau “orang-orang dengan kulit seputih kapur sirih (kerbau putih)” dan, yang paling baru, “menenggelamkan Jawa” sudah menjadi kenyataan. Pembaca yang budiman pasti bisa mengingat, bagian mana dari sejarah Indonesia yang berisi tentang bukti dari kejadian-kejadian ini, dan di mana Jawa (terutama Jawa Timur) sudah mulai ditenggelamkan. Legendanya, di sanalah sumur (ini kata kunci yang lain lagi) tempat Kebo Iwa diperdaya.

Cerita Gajah Mada dan Kebo Iwa sendiri menurut saya masih di antara legenda dan kisah nyata yang batasnya sangat kabur, sampai-sampai susah untuk membedakan mana yang nyata, dan mana yang fiksi. Adalah kembali pada penilaian arif pembaca masing-masing untuk menentukan apakah kisah ini lebih tepat disebut mitos/cerita rakyat, atau kejadian yang benar-benar terjadi.

Bukannya bagaimana-bagaimana. Sejarah Jawa, Bali, dan Lombok, sebenarnya penuh dengan keajaiban. Kadang saya tidak percaya sampai harus memutar buku yang saya baca berulang-ulang hanya untuk mendapat penjelasan yang memuaskan dan masuk dalam logika saya. Legenda, mitos, cerita rakyat, bercampur dengan kenyataan yang sudah ada buktinya di dunia nyata kadang membuat saya bingung. Namun, untuk sekarang, mari dihargai saja sebagai suatu kekayaan budaya Indonesia. Inggrisnya, let’s leave it as it is.

Nah, dengan demikian, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan pada bangunan merah beratap tingkat yang merupakan pos selanjutnya?

_MG_7291

44 thoughts on “Pulau Menjangan #3: Usana Jawa dan Duka Brahma Ireng

  1. Aku kok mendadak sedih ya baca ini 🙁 Aku baru tau soal Kebo Iwa, anw.
    Sering mendengar bahwa banya tipu muslihat dilakukan saat zaman dahulu untuk menaklukkan kerajaan lain, tapi yang ini tipu muslihat yang sangat menyakitkan. Huhuhu.

    Btw aku jadi teringat beberapa waktu lalu ada penolakan dari warga Bali soal wisata halal, hmm apakah mungkin ada kaitan sejarahnya? I mean, penduduk Bali kan dulunya adalah orang-orang Jawa yang migrasi karena tetap ingin memeuk Hindu (tidak mau ikut terlibat pada saat ekspansi Muslim di Jawa dulu)

    Haduh, pagi-pagi pikiranku jadi kemana-mana 🙂

    Aku suka tulisanmu. Ada beberapa hal aku highlight di sini, yang aku suka soal pasrah kepada yang Maha Kuasa yang dilakukan oleh Kebo Iwa. Dan aku suka caramu menautkan kisah-kisah sejarah dengan masa sekarang. Btw kamu suka wayang nggak?

    1. Nah, saya malah tak tahu yang Bali mau dijadikan wisata halal Mbak :haha. Tapi saya rasa itu tak ada kaitannya dengan sejarah antara Jawa dan Bali sih Mbak, itu lebih ke perkembangan terkini di sana akhir-akhir ini, kalau menurut saya ya.
      Kalau saya mengerti bahasa yang dipakai di wayang, mungkin saya akan suka Mbak
      Terima kasih atas komentar dan apresiasinya ya Mbak :hehe.

      1. Oh berarti kamu kurang suka ya? Aku punya buku wayang dan ingin aku hibahkan ke yang sungguh-sungguh menyukainya.

        Ayo ditunggu tulisanmu yang lain ya. Aku nggak terlalu suka baca sejarah ( tapi gaya bahasa berceritamu bisa lumayan bikin masuk ke otakku 😛

        1. Maksud saya, saya tidak mengerti bahasa Jawanya, tapi kalau bahasanya Indonesiamah saya mau banget *giliran buku aja semangat :haha*
          Hihi, terima kasih sekali ya Mbak. Ini masih ada lima episode lagi soal ini, kok :hehe.

  2. Baca tentang Majapahit, dan taktik Gadjah Mada, jadi teringat kisah penaklukan Padjajaran oleh Majapahit. Siasatnya juga mirip. Karena itu pula, banyak rumor beredar tentang ‘larangan’ gadis Sunda untuk menikah dengan jaka dari Jawa, ya gara2nya dendam di masa lalu.

    Dan sebagai alumni, apapun yang ceritanya, saya tetap bangga dengan Gadjah Mada hehe

    Eniwei, mantab banget mas, penuturan kisahnya. Mengoyak emosi dan imajinasi…

    1. Iya, “esti larangan ti kaluaran” dan kenapa di Bandung tak ada nama jalan yang Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi Gajah Mada ya :hehe.
      Terima kasih ya Mas :)).

    1. Ini cerita rakyat sih Mas sebenarnya kalau di Bali… sampai saya menjumpai bukti sejarahnya berupa bangunan pura itu :haha, makanya batas fakta dan fiksinya jadi kabur, kabur banget :hehe. Terima kasih sudah mampir!

  3. kak….suer keren….salut kak, dirimu begitu hafal dengan kisah sejarah dan bisa mengisahkannya kembali dengan cara yang menarik… Aku duluuuuu banget pernah baca Kebo Iwa… dulu hanya sekedar baca, tapi kali ini benar-benar terasa bahwa Kebo Iwa memang sosok nyata, dan bukan sekedar dongeng.. Kak, ceritain yang tentang terjadinya selat Bali dong….

    Salut, kak…. lanjutkan….

    1. Kebo Iwa menurut saya memang nyata… at least saya percaya kalau dia nyata :)).
      Selat Bali? Mudah-mudahan saya ada kesempatan buat menuliskannya ya, Mbak.
      Terima kasih sekali karena sudah membaca dan mengapresiasinya, saya sebetulnya agak pesimis ada yang mau baca sampai selesai soalnya tulisan ini panjang banget, tapi ternyata Mbak membacanya. Terima kasih sekali :)).

  4. Garaaa… merinding nih baca tulisan ini. Apalagi pas Patih Gajah Mada dan Kebo Iwa. Bener2 merinding abis. Merasakan banget apa yang kamu rasakan. Well,… strategi perang jaman dulu. Kadang susah dimengerti tapi begitulah adanya. Keep posting kakakkkk…

    1. Iyah Mas, memang sejarah mereka berdua itu agak unik dan penuh intrik :hihi. Mudah-mudahan bermanfaat ya, terima kasih sekali sudah membaca tulisan ini :hehe. Sip, akan posting terus selama ada kesempatan buat menulis Mas :hihi.

    1. Kisah cinta yang lebih jos lagi itu kisahnya Airlangga lho Mas :hihi. Nanti kalau sudah waktunya akan masuk dalam serial ini juga :hehe. Semoga bisa terlaksana :)).

  5. Uwouwouwooo… aku setuju dengan Bli (Gajah Mada PENGECUT).
    Gajah Mada dan pengkhianatan berada di satu ujung tombak, sekarang aku tau kenapa di Geguritan Sunda masyarakat Bali lebih salut pada kerajaan Sunda.

    Makasih Bli, aku jadi ngeh ternyata Bali itu bukan mutlak pewaris kerajaan Majapahit.
    *sampe lupa kalo ini cerita tentang persembahyangan di pulau menjangan, saking larut dalam kisah Kebo Iwa hihihi. TOP MARKOTOP 🙂

    1. Terima kasih ya :hihi.
      Hmm… saya jadi penasaran dengan Geguritan Sunda sih, tapi memang kalau dari sejarahnya, jalur Hindu kan dari barat lalu ke timur, dari Sunda lalu ke Bali. Ah ini baru sebatas hipotesa… ayo kita meneliti lagi :haha.

      1. Jalur penyebaran memang dari Barat ke Timur bli, tapi kalo dari penguasaan wilayah nusanatar kerajaan Sunda itu paling terakhir dikuasai.
        Ayo ayo… kita mempelajari sejarah Indonesia tercinta ini…. hehe

  6. Wah seneng saya membaca postingan ini. Setahu saya gajah mada merupakan sosok yang sangat dihormati masyarakat. Di banyak buku yang saya baca gajah mada banyak digambarkan sebagai orang yang sempurna.

    Mengetahui fakta atau mitos diatas membuat saya sadar bahwa yang namanya manusia pasti memiliki sisi negatif. Entahlah….

    1. Saya juga baru sadar kalau Gajah Mada juga sebenarnya manusia biasa yang punya ambisi dan banyak keinginan, yah, mungkin ini sisi negatifnya. Terima kasih, Mas :)).

  7. Benar-benar buta akan sejarah dan baca tulisanmu kayak masuk ke mesin waktu. Tiba2 kita sudah masuk dimasa majapahit dengan kisah epiknya.

    Bagiku selama ini gajahmada adalah sosok pahlawan perkasa dan berakhlak budi tapi ternyata disini jelas ambisinya menghalalkan segala cara dengn intrik2 jahat. Hiksss..

    Tulisan lu selalu keren Gara, keren

    1. Menurut saya, bagaimanapun Gajah Mada juga manusia, yang punya ambisi dan kekurangan. Saya di sini mengambil sikap seperti itu Mbak :hehe. Terima kasih sudah mengapresiasi, ya!

  8. dear Gara,
    maaf Gara, pararagraf pertama di bawah foto menjangan saluang sepertinya salah ketik deh (… Tersebutlah bahwa Gajah Mada akhirnya melakukan penyerangan ke Majapahit…) bukannya seharusnya ke Bali?
    saya teringat cerita tentang upaya Roro Jonggrang untuk menggagalkan pembuatan sumur jalatunda oleh Bandung Bondowoso yang caranya serupa dengan ceritamu tentang Kebo Iwa yang dicoba dibunuh dengan menggali sumur lalu ditimbun. Intinya, benar salahnya sebuah tindakan di sebuah peristiwa yang mirip itu sangat tergantung dari sudut mana kita memandangnya atau dari sisi siapa kita sedang berdiri…
    Termasuk permintaan Kebo Iwa sendiri untuk mati ditangan seseorang yang sesama mahapatih, dilihat dari sudut seorang ksatria besar. bukankah mati ditangan ksatria besar itu sangat membanggakan? Sebuah pilihan yang harus dihormati dan dihargai oleh seorang ksatria.
    Dan Gara yang baik hati dan tak pernah menyiksa :p , rasanya tak elok bila melabeli seseorang dengan pengecut karena bukankah tindakan heroik Kebo Iwa yang memilih mati secara terhormat itu tetap heroik dan membanggakan tanpa harus merendahkan pihak yang memenuhi permintaan terakhir seorang ksatria? karena tiba-tiba saya teringat kisah karna yang tak bersenjata gugur ditangan arjuna
    Gara, seperti yang saya tuliskan dalam blog ketika berada di depan sebuah tempat pemahkotaan raja, bahwa di sekitar tahta itu selalu saja ada bau pengkhianatan, kekejian, penganiayaan, tipu muslihat, keserakahan yang sangat kental bahkan diantara orang-orang terdekat dan keluarga sekalipun.
    lalu… soal tamas dan dirimu yang seakan dikeloni sang kala, juga foto yang terhalang, semua itu sudah terhampar di hadapanmu, bukankah lama2 kamu bisa mengenalinya? semua itu ada alasannya kan… nah find that 😀 😀 😀
    salam dari champanegeri 🙂

    1. Hihihi… akan saya cek lagi ketikan says ya :)). Terima kasih sekali atas pendapat dan pemikirannya. Mungkin ada sisi yang saya lewatkan. Iya sih, kalau dilihat dari sisi yang berbeda memang bisa seperti itu, tapi dari pemikiran saya yang awam ini sangat nggak baik kalau kita menghalalkan segala cara buat mendapatkan kekuasaan. Dan kalau saya tak salah, yang saya labeli pengecut itu kayaknya Gajah Mada… tapi biarlah nanti saya cek lagi :)).
      Sekali lagi terima kasih yah… senang rasanya ada yang membaca dan menelaah tulisan ini sampai sejauh ini :hihi.

  9. politik menghalalkan cara ya..
    tapi memang cerita2 rakyat dari daerah mana pun di Indonesia ini selalu ada tipu daya alias akal untuk memenangkan pertarungan
    nggak usah jauh2 , si kancil aja juga gitu kan..

    kalau hidup jaman sekarang Kebo Iwa pasti udah ngetop banget di sosmed ya..

    sifat Kebo Iwa yang taat pimpinan ini mirip juga dengan prinsip samurai ya,

    1. Sip, nanti akan saya baca lagi untuk saya sederhanakan. Patih yang kuat dan sakti, Kebo Iwa itu, kalau saya tuliskan secara sederhana :)). Terima kasih sudah mampir!

  10. Aku membayangkan perasaan Kebo Iwa ketika dikhianati seperti itu
    Lalu kemudian pasrah menyerahkan diri demi kehormatan

    Ah… Sementara hingga saat ini kita mengagungkan sumpah palapa yang dikumandangkan oleh Gadjah Mada, nyatanya sebuah peristiwa berdarah yang sangat tidak kesatria terjadi dibaliknya

    Semoga Jawa – Bali senantiasa damai
    Demi kesetiaan seorang Kebo Iwa

    1. Tidak semua hal yang diceritakan oleh Gajah Mada adalah hal yang patut dibanggakan. Bagaimanapun, Gajah Mada juga manusia… menurut saya sih demikian :hehe.
      Astungkare ya Mbak…

  11. jadi inget pertanyaan aku waktu SMA dulu waktu ada presentasi sejarah, kelompok temen ada yang presentasi ttg kerajaan Bali, kan disebutkan kalo Jawa n Bali itu kan awal2nya “kerabat” atau dari akar yang sama lah, naah aku tanya tuh, tapi kenapa budaya jawa sama bali kok kayaknya buedaaa bgt, semuanya lah, bahasa, pakaian dll dll, bu guru pun ga bisa jawab, knapa ya?
    Gara tau ga?

    1. Kalau menurut saya karena perjalanan sejarah ketika yang mengisi Bali adalah kaum ningrat Jawa yang tertinggi. Sudah pasti budaya mereka beda dengan orang Jawa kebanyakan. Setelah itu, Bali adalah pelarian ketika kerajaan Demak menggempur Majapahit sehingga psikologi masyarakat Bali yang mempertahankan kehinduan mereka pasti berubah (buktinya adalah kain yang lebih pendek). Hal yang menurut saya juga turut berkontribusi adalah dinamika setelahnya sih, adanya pemurnian ajaran Hindu di Bali, personifikasi Tuhan, dan perpaduan dengan budaya Bali Aga yang berasal dari zaman Hindu tua. Banyak sebabnya Mbak.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!