Pulau Menjangan #1: Drama Transportasi

Drama di Air Panas Banjar ternyata masih saja berlanjut ketika bus kami melaju, melintasi Gerokgak dan Panca Pura Pulaki menuju Pelabuhan Lalang. Padahal, saat itu saya masih asyik karaoke lagu Geisha sementara bus melintasi plang selamat datang di Taman Nasional Bali Barat, sambil meriset tentang pura-pura yang akan kami jelajahi di Pulau Menjangan itu, namun diskusi antara Bapak dan Ibu Mangku K masih seru.

“Ingatkah dulu kamu yang pertama, mencium keningku tanpa bertanya…”

Tiba-tiba telinga saya mendengar fakta bahwa jumlah pura yang ada di sana bukan satu, bukan dua, tapi tujuh. Iya, tujuh. Delapan sebenarnya, kalau Pura Ibu Parwati juga kita hitung.

Saya langsung berhenti menyanyi. Setelah saya memberitahukan hal ini pada Bapak, ia pun bertanya pada Bu W, si pemandu. “Nanti perahunya menunggu berapa jam?”

“Tiga, Pak.”

Oke, sip. Dan Bapak pun langsung tampak khawatir.

Rombongan kami.
Rombongan kami.

Sebagai koordinator grup (yang jelas jumlah anggotanya tidak sedikit karena mencapai hampir enam puluh orang), tentunya ia tahu kalau semua peserta (termasuk yang sedang mengetik ini, :haha) ingin bisa menyambangi semua pura itu, apalagi karena cerita di pura yang satu beda dengan pura-pura lainnya di Bali. Pura-pura di sana terkenal “unik dan punya kekhususan sendiri”.

Tapi waktu yang diberikan oleh pengelola perahu hanya tiga jam.

Untungnya tiga jam itu di luar waktu tempuh jadi bersih adalah waktu di sana. Tapi tetap saja, di sana ada tujuh pura. Kalau sembahyang di satu pura saja dengan semua pernak-pernik upacaranya itu butuh waktu tiga puluh menit pun, totalnya ada 210 menit alias 3,5 jam. Belum lagi dihitung dengan waktu untuk bergerak dari satu pos ke pos yang lain pura ke pura yang lain.

Terus terang, saya pun agak ragu. Tiga jam, tujuh pura, bisakah?

Akhirnya, setelah berpikir beberapa lama, Bapak memutuskan bahwa kita nantinya mungkin tidak menyambangi seluruh pura. Paling hanya beberapa pura, maksimal tiga, yang secara simbolis sudah menyiratkan Tri Murti: pura tentang Brahma, Wisnu, dan Siwa (daftar lengkap pura masih saya sembunyikan supaya nantinya sedikit seru, soalnya setiap pura punya postingannya sendiri-sendiri :haha). Untuk pura-pura yang lain, yang akan singgah hanya para Jro Mangku, untuk meminta air suci yang akan dipercikkan pada semua kami.

Tapi dari sisi kanan, Bu Mangku Istri K seperti kurang setuju.

“Kita jalani saja dulu Mang, pelan-pelan, satu-satu, dari pura yang pertama terus sampai pura terakhir. Anggap saja ini diuji, yang penting kita niatkan dulu sembahyang ke semua pura, kalau Tuhan memang mengizinkan, jalan ke sana pasti akan dibuka.”

Saya dan Bapak terdiam.

Itu sangat ada benarnya. Namanya perjalanan suci, saya yang mulanya sangat skeptis saat pelayaran ke Nusa Penida itu dimulai pun kini sudah percaya bahwa dalam melangsungkan perjalanan suci seperti ini godaan dan ujiannya sangat, sangat banyak. Meski dramanya banyak, semua selesai dengan sangat baik, bahkan dengan secercah keajaiban.

Jadi meski saya tidak mengutarakannya secara langsung, saya setuju dengan Ibu Jro Mangku K. Kita sudah sejauh ini, kita sudah lulus semua ujian sejauh ini, satu ujian lagi tak akan membunuh kita, kan?

Lagipula, what doesn’t kill you makes you stronger, kan?

Untuk kasus ini, misalnya, siapa tahu, saat kami datang ke sana nanti, pura-pura itu sepi pengunjung, tak seperti beberapa pura yang bahkan rencana kunjungan ke sana mesti kami batalkan karena padat turis asing. Namanya campur tangan Tuhan pasti bisa dalam berbagai bentuk, baik yang kita duga maupun yang paling tak terduga. Kita cuma perlu menunggu dan berpasrah sambil tetap berusaha :hehe.

Makin semangatlah diri ini jadinya untuk berkaraoke lagu-lagu Geisha di sepanjang jalan, sembari mata ini berusaha tetap mengamati dan mengingat apa yang telah dilalui. Kami tidak mengambil jalan ke kanan ketika penunjuk arah menunjukkan “Gili Menjangan”. Mungkin karena kami bukan turis dan di mulut jalan itu ada banyak plang-plang promosi hotel-hotel sepanjang pantai barat laut Bali yang terkenal sebagai pintu gerbang menuju Pulau Menjangan.

Kami juga melewati pintu masuk menuju Menjangan Resort, yang dulu pernah saya baca ulasannya dalam salah satu postingan travelblogger kondang dan kesimpulan saya, tempat itu memang keren. Benar-benar menyatu dengan alam, karena pintu masuknya saja agak tersamarkan, kalau saja tidak ada umbul-umbul yang menjadi pertanda lokasi.

Ternyata, Pelabuhan Lalang pun demikian. Tak terlalu meriah tanda menuju pelabuhan ini, tiba-tiba saja bus kami sudah berbelok, dan…

Tadi saya bilang sepi?

Tidak. Di sini ramai sekali dengan bus-bus berisi penumpang yang berpakaian adat. Ini artinya jelas, mereka semua juga sedang berencana sembahyang menuju Pulau Menjangan. Seperti kami!

Rombongan lain.
Rombongan lain.

Wow, amazing! Senang sekali, bukan?

Senang, tidak. Bikin hilang semangat, iya. Apalagi ternyata pihak travel tidak bisa mem-booking perahu sebelum kedatangan. Aturannya, mesti go show, siapa yang datang lebih dulu, ya dia yang berangkat lebih dulu. Itu pun, dengan melihat semua keramaian begini, kami semua cuma bisa menelan ludah, sambil meminta pihak travel (Bu W dan Pak N) memesan perahu dan berpasrah di giliran keberapa kami akan diberangkatkan.

Kami mendapat kloter kelima. Ada satu rombongan yang sudah naik perahu, dan kami bertanya dengan semangat, “Itu kloter berapa?”

Itu kloter pertama.

Sekarang pukul sembilan, dan rencananya, kami sudah harus ada di Padangbai jam delapan malam nanti agar tak terlalu malam tiba di Mataram. Tahu sendirilah, rawannya jalur di luar kota Mataram kala malam itu bisa sangat mengkhawatirkan.

Tapi mesti saya akui, bahkan tanpa drama ini pun, jadwal kami pada paruh kedua di hari terakhir ini memang penuh. Dengan fakta bahwa kami mesti mengunjungi tujuh pura di sini, makan siang di sini juga dan makan malam di Bedugul, bisa dipastikan kalau kami tidak punya banyak waktu untuk menunggu perahu pergi pulang mengantar kloter lain. Apa kita butuh Rencana B?

Astaga, kayaknya saya mulai panik dan khilaf. Ini ujian, Gar! Ujian paling berat untuk mencapai tanah para dewa, tanah Menjangan! Panik dan akhirnya melakukan hal-hal yang akan merusak hari dan perjalanan baik ini justru membuktikan bahwa kita belum lulus dari ujian itu. Seperti kata Bapak kepada para peserta, ini perjalanan suci, banyak godaan, jadi kita kudu sabar.

Kudu sabar, Gar…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kudu sabar… sampai jam menunjukkan pukul sebelas dan serombongan turis asing yang baru datang langsung naik perahu, ketawa-ketiwi padahal kami yang sudah menunggu dua jam mulai kering dan saya sudah kehabisan objek foto. Orang-orang berpakaian adat (baca: kami) pun cuma bisa menatap rombongan turis itu sambil melongo. Bertanya pada pengelola pelabuhan, jawabannya sama, yang berangkat baru kloter dua.

Saya yang ikut dalam rombongan penanya menyelipkan pertanyaan tambahan. Mungkin nada saya tinggi karena beberapa orang tampak kaget dengan apa yang saya tanyakan. Persetan dengan bahasa Bali halus.

“Terus itu rombongan turis kenapa bisa berangkat duluan, Pak? Kan mereka datang belakangan? Aturan kalau perahunya terbatas kan dipakai untuk mengangkut yang sembahyang dulu?”

Perahu-perahu yang sudah disewa!
Perahu-perahu yang sudah disewa!

Ternyata karena mereka bayarnya juga beda… dan saya langsung tidak bisa cerewet lagi sesudahnya.

Jadi begini. Ongkos perahu kami, dengan ketentuan satu perahu maksimal 15 orang dan itu pulang pergi dengan perjanjian si perahu akan menunggu tiga jam, adalah Rp465.000 per perahu. Sementara itu, untuk wisatawan, ongkosnya pulang pergi adalah Rp200.000 per kepala.

Iya, Rp200.000 per kepala. Sementara untuk kami, sederhananya, ongkos per kepalanya cuma… Rp31.000.

Ya jadi tidak boleh cerewet, kan kalian bayarnya murah, mungkin kira-kira begitu kata-kata yang ingin disampaikan pengelola pelabuhan meski itu cuma secara tersirat :hehe :peace. Baru juga kloter dua, kalian kloter lima, sabar sedikit kenapa sih. Mungkin itu juga ingin sekali disampaikan oleh si pengelola, cuma urung karena melihat kami datang dengan niat bersembahyang di Pulau Menjangan yang dikenal tak berpenghuni.

Tapi, kalau saya boleh membela diri, sebenarnya bukan cuma saya yang rewel akibat terlalu lama sendiri menunggu. Para ibu pun sudah myah-myuh (bahasa Bali: rewel dan merengek) sejak tadi karena perahu yang akan membawa mereka tak kunjung datang. Pun kalau ada perahu yang datang, yang diangkut adalah wisatawan yang berniat menyelam di perairan Pulau Menjangan, atau rombongan dengan kloter sebelum kami. Tambah kagetlah mereka ketika tahu yang berangkat baru kloter dua sedangkan kami kloter lima, dan jam sudah akan menunjukkan pukul 12 siang.

Orang-orang itu naik lebih dulu...
Orang-orang itu naik lebih dulu…

Seorang ibu, sebut saja Ibu S, malah sampai setengah kesal. “Bagaimana, sih? Tidak bertanggung jawab sekali pihak travel ini. Mestinya kan mereka memesankan perahunya dulu, jadi kita begitu datang bisa langsung naik? Kalau begini kita berangkatnya jam berapa?”

Saya yang sedang mengambil foto dermaga kayu ringkih di sisi sebelah timur itu kok seperti langsung kesal. Seolah-olah ia menyalahkan pihak travel (iya, sih) dan akhirnya menyalahkan Bapak sebagai tour leader? Wohoho, lain kali dipikir dulu ya Bu sebelum berkata-kata.

Langsunglah saya jawab dengan (susah-payah) berusaha menahan diri, “Aturannya tidak bisa booking duluan, Bu. Go show, siapa yang datang duluan, dia yang akan berangkat duluan, setelah perahunya tersedia. Yang lain saja di sini sedang menunggu.”

Ingin rasanya saya menambahkan, “Ya kalau Ibu rasanya tidak setuju, mungkin ada baiknya kalau Ibu membikin itinerary sendiri, dengan kata lain, ngetrip sendiri. Dikira yang kesal cuma Ibu sendiri, apa?”, tapi akhirnya tidak jadi karena si Ibu sudah paham dan berbicara dengan ibu saya yang ada di sebelahnya dengan topik yang lain lagi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sabar Gar, sabar… doh ini mah memang ujian kesabaran banget, sumbu sabar mesti panjang sekali dengan semua drama ini, letikan sedikit dan saya sepertinya sudah mau langsung meledak. Selesai mengambil gambar, saya lebih memilih belanja seperti orang-orang lain, terutama minuman dan makanan mengingat Pulau Menjangan tidak punya pedagang, apa lagi minimarket, karenanya, perbekalan mesti disiapkan sedari di Pelabuhan Lalang ini.

Meski minuman dinginnya sebagian besar sudah habis karena kami kelamaan menunggu :hehe.

Ngomong-ngomong, kalau bertandang ke sana, jangan lupa membeli telur puyuh rebus dan tahu goreng dari pedagang pikulan yang banyak di sana. Rasa bumbu tahunya enak banget, seperti petisnya Tahu Prasojo yang ada di Simpang Lima Semarang!

Berhubung jam sudah tepat pukul dua belas, itu artinya saatnya makan siang. Prasmanan pertama kami di sepanjang perjalanan ini setelah sebelumnya makan nasi kotak terus, baik di Silayukti maupun Nusa Penida. Kami makan siang di restoran yang ternyata ada di Pelabuhan Lalang ini juga, padahal saya kira rumah makan ini ada di Jembrana.

Nama restoran ini ‘Murah Meriah’, dan seperti namanya, menu restoran ini lumayan meriah. Seingat saya menunya ada bermacam-macam, dan lumayan enak. Sayang saya lupa mengambil foto makan siang kala itu karena sudah terlalu kalap dan makan pun akhirnya sangat lahap. Pengaruh emosi juga kali ya, makanya makannya pun seperti orang kesetanan :hehe :peace.

Jembatannya bagus, ya.
Jembatannya bagus, ya.

Namun, saya akui, itu makan siang yang sangat menyenangkan. Orang-orang tua saling bertukar lelucon dengan para Jro Mangku yang ikut dalam perjalanan. Saya pun ikutan tertawa meski tidak mengerti di beberapa kata, terutama saat lelucon kopi yang dijadikan bekal perjalanan, tapi dibawanya di dalam botol air mineral jadi jelas saja cepat dingin dan tidak begitu nikmat ketika diminum.

“Terus itu kenapa kopinya disayang sekali? Kenang-kenangan dari si ibu travel, ya?” Saya bertanya di tengah gelak tawa.

“Ya iyalah!” Pak Mangku menjawab dalam bahasa Bali. “Kalau begini kan tetap hangat!”

“Woooi Pak Mangku, ingetang je Mangku Istri, inget sube ngaba calon mantu…” Seorang bapak menimpali dengan bahasa Bali dan kami semua tergelak lagi bersama-sama.

Memang ada juga gila-gilanya peserta tur ini :haha.

Mendadak, pengeras suara yang ada di kantor otoritas pelabuhan membuat kami hening. Ternyata kloter lima sudah dipanggil, dan kami masih ada di tengah-tengah makan siang, beberapa orang bahkan belum selesai makan.

Doh, ini deramak lagi! Jangan sampai, jangan sampai, dong. Tapi memang sih, ini satu ujian lagi dan kami mesti sadar akan hal itu, soalnya itu benar yang dipanggil adalah kloter lima!

Untunglah, meski panggilan itu hampir saja jadi drama, tapi akhirnya tidak, karena sebenarnya sebelum makan siang, Bu W sudah memastikan ke pihak pengelola pelabuhan kalau kapal akan menunggu kami yang sedang makan siang. Tidak perlu ada orang yang khawatir akan soal itu (iya, maksudnya kamu, Gar).

Tapi pertanyaannya, kalau seandainya pihak pengelola sudah berjanji akan menunggu, kenapa kami masih dipanggil lewat pengeras suara?

Setelah selesai makan, kami kembali lagi ke pinggir pantai tempat menunggu perahu. Orang-orang yang menunggu sudah semakin menipis, sepertinya tinggal rombongan kami saja yang menunggu. Namun perahu belum kunjung tiba. Beberapa orang mulai khawatir lagi. Saya pun demikian, tapi saya memilih mengalihkan pikiran dengan berfoto dan mencari tahu gunung apa yang ada di kejauhan sana, yang sepertinya mengeluarkan asap berwarna berbeda dengan awan putih yang ada di sekelilingnya.

Gunung Ijen di kejauhan.
Gunung Ijen di kejauhan.

Oalah, ternyata itu Gunung Raung! Gunung yang memuncak tinggi di sebelahnya adalah Gunung Ijen, dan di utara sana, lebih utara dari Pulau Menjangan yang sudah tampak dari sini, adalah sebuah gunung di dalam Taman Nasional Baluran. Paling tidak, begitulah menurut aplikasi GPS yang ada di tablet yang sedang saya bawa.

Gunung Ijen (lagi).
Gunung Ijen (lagi).

Pengeras suara berbunyi lagi, dan kali ini, nama Bapak yang dipanggil.

Kita langsung keheranan. Eh? Apa lagi ini? Saya dan anak-anak yang sedang bermain pasir di sana bertatap-tatapan, sepertinya kita sama-sama keheranan. Apa pula yang terjadi? Saya menatap punggung Bapak yang bergerak menjauh, ingin rasanya ikut tapi ternyata masih banyak foto yang belum saya ambil, apalagi pemandangan di sini menurut saya cukup unik dan sangat sayang untuk dilewatkan (kedengarannya sangat salah, ya :hehe :peace).

Bapak dan Bu W dari pihak travel kembali beberapa saat kemudian, sudah membawa secarik kertas berisi nama-nama perahu yang akan kami naiki, dan… sisanya berlangsung dengan sangat cepat.

Mungkin ini karena orang-orang sudah terlalu lama menunggu (hampir pukul 12.30 ketika akhirnya kepastian mengenai perahu ini tiba), jadi begitu mereka tahu ada perahu yang bisa dinaiki, para peserta langsung merangsek menuju ke perahu-perahu itu. Kami sudah dipesan Bapak untuk tidak ikut merangsek juga, toh kami pasti akan naik perahu dan pasti akan ke sana.

Rombongan kami naik ke perahu!
Rombongan kami naik ke perahu!

“Sabar sedikit,” katanya.

Padahal saya sudah tidak sabar, aaaargh!

Di sini, saya mesti mengakui kemampuan kepemimpinan Bapak dalam mengatur orang-orang yang sudah tidak sabar itu. Pihak travel pun sebenarnya sudah menyerah dan membiarkan saja orang-orang melakukan apa pun sekehendak hatinya, tapi Bapak, dengan cuma berbekal sebuah megafon, berhasil mengatur jumlah orang yang akan naik perahu, menginstruksikan orang-orang untuk siap pada posisinya dan naik ke perahu yang tepat (perahu yang akan dinaiki sudah ditentukan oleh pihak pelabuhan).

Keren, bahkan untuk saya yang cuma diam di sini.

Saya melanjutkan jepret-jepret sambil berusaha membuka percakapan dengan penumpang perahu yang lainnya. Bertanya apakah mereka sudah pernah mengunjungi Pulau Menjangan sebelum ini. Sebagian menjawab ini baru pertama kali (seperti kami!), sebagian menjawab kalau ini kunjungan yang kesekian kali.

Sebagian pamedek yang berkemampuan lebih, bahkan, demi mengirit waktu, rela membayar biaya wisatawan untuk menyewa perahu yang akan digunakan ke sana. Iya, biaya wisatawan yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Perjuangan mereka patut diacungi jempol! Semoga kita semua berhasil menyelesaikan ujian ini, berhasil sampai di sana dan sembahyang di semua pura yang ada di sana, ya.

Yang penting kita bisa berangkat... :hehe.
Yang penting kita bisa berangkat… :hehe.

Tak seberapa lama, pengangkutan orang untuk tiga perahu pertama selesai. Saya mengerti betapa leganya Bapak ketika melihat tiga perahu sudah lepas landas dari pelabuhan, susul menyusul menuju Pulau Menjangan. Tinggal satu perahu yang tersisa, perahu yang mengantar orang-orang yang belum terangkut. Perahu yang akan mengantar kami yang tinggal. Pihak travel sudah berangkat duluan, karena di setiap perahu mesti ada pihak travel yang ikut… kecuali perahu kami, karena alasannya, Bapak sebagai koordinator grup sudah ada jadi tidak memerlukan pihak travel lagi.

Sudahlah, ya. Yang penting kita semua bisa sampai ke sana.

Tapi apa dengan ini, drama sudah selesai?

Sayangnya belum, karena ketika kami semua, orang-orang yang tersisa, sudah naik seluruhnya di atas perahu, tukang perahunya bersungut-sungut kesal dan kami pun baru sadar dengan satu fakta yang sangat sederhana.

Perahu kami berisi 18 orang termasuk anak kecil, sedangkan kapasitas maksimalnya adalah 15 orang.

Hore. Dan tadi saya bilang kalau Bapak saya berhasil mengatur orang-orang.

“Tadi Bapak lupa menghitung pemandu dan orang dari travel yang ternyata juga ikut sembahyang ke Menjangan,” jawabnya. “Tapi memang sudah diperingatkan sama petugas pelabuhannya, kalau mungkin nanti bakal ada kelebihan muatan. Itu sebabnya tadi Bapak dipanggil.”

“Maksudnya?”

“Ya… kita kan pesannya lima perahu, sebetulnya. Tapi yang datang cuma empat, kalau mau menunggu sampai pas lima, mesti agak lama. Ya sudah Bapak iyakan saja, asal mereka semua mau menjamin keselamatan kita. Mereka sih menjamin, pokoknya tidak akan ada apa-apa. Ya yang penting ada baju pelampung sih.”

“J-jumlahnya cukup, ndak?” Saya merasa suara saya mulai bergetar, ketakutan.

“Anggap saja demikian.”

Ombak mengempas dari sisi kanan dan saya langsung berdoa.

Oh Tuhan…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

0 thoughts on “Pulau Menjangan #1: Drama Transportasi

    1. Iya, memang perjalanan ibadah itu mesti banyak cobaan… supaya makin berasa kalau kita ini kecil banget dan tunduk pada Yang Esa. Terima kasih sudah mampir yaa :)).

    1. Iya, ujian kesabarannya bertebaran sepanjang perjalanan. Tapi mungkin itu mesti kita lalui, namanya ibadah ya, mesti ada ujian untuk mencari tahu apa kita umat yang baik atau tidak :hehe. Terima kasih sudah berkunjung!

    1. Terima kasih sudah mengapresiasi ya :)). Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera rilis :hehe. Iya, saya awalnya tak percaya dan menganggap grup kami dirundung sial. Tapi lama-lama, kok ayah saya berkata begitu dan kebenarannya mulai terbukti…

    1. Kami selamat, syukurlah. Iya memang horor banget :hehe, kelebihan muatan apalagi jaket pelampungnya entah disimpan di mana. Ya kami kemarin berdoa saja, sih.

      Terima kasih sudah mampir!

    1. Ini tulisan lama Mbak… :malu, baru bisa di-publish sekarang :hehe. Iya jadi ketua rombongan memang heboh banget. Tapi Bapak bisa melalui semua itu dan menurut saya, beliau bahkan sangat menikmati :hehe.

  1. Aku ikut speecless ketika pihak pengelola perahu memberikan perahu ke wisatawan, kalo uang sudah berbicara apa mau dikata.

    Kuncinya memang satu : SABAR
    Ujian keimanan ini memang banyak cobaannya, seperti kata pepatah “what comes easy won’t last long and what lasts long won’t come easy.

    1. Aah, what a nice quote! Betul banget ya, semua yang kita dapatkan di sana memang tidak mudah, makanya sekarang jadi membekas banget dan susah buat dilupakan. Mau lagi, mau lagi!

    1. Di sana lebih emosi lagi Mas sebetulnya :haha. Semua orang jadi nyinyir… kalau tidak sabar-sabar mungkin sudah ribut dari kapan tahun kali ya :hihi.

    1. Yang kita sayangkan itu adalah kenapa perahunya tidak bisa di-booking, sih. Minimal boleh dibooking oleh rombongan sembahyang deh. Cuma memang mesti ada juga perahu yang go show. Ah, apa mungkin mereka kekurangan armada, ya?

  2. luar biasa perjuangan ibadahnya ya, gara.
    dan super sekali kamu masih bisa mengingatnya dengan banyak.
    nggak sabar rasanya kepengen lihat pura-pura di tengah laut itu. biasanya aku tahunya orang ke menjangan untuk wisata, tapi ini ibadah. 🙂

    1. Entah kenapa saya selalu dikelilingi emak-emak nyinyir. Apa karena saya juga nyinyir, ya? #eh
      Wah, kalau dada ayam ke ep ci mah mau Mas. Katanya Mas mau traktir?

    1. Yep, lewat sana juga bisa… in fact malah kalau wisata agaknya lebih banyak yang lewat Watu Dodol ketimbang Pelabuhan Lalang :hehe. Yang dari Bali kebanyakan orang-orang yang mau sembahyang di sana :)).

    1. Lancar atau tidak, ada di postingan selanjutnya Mbak :hihi.
      Memang, butuh sabat banget! Kalau tak sabar, perjalanan ini bisa gagal semudah saya menjentikkan jari. Terima kasih sudah mampir!

    1. Makasih ya Mas :hehe. Iya pulaunya memang agak gersang, tapi di sana masih ada pohon sih, meski sedikit :hehe.
      Sip, saya cari ketapel dulu

  3. Hahaha..Benar-benar drama soal transportasi ini ya, Gara. Tapi pada akhirnya semua selamat sampai ke tujuan dan kembali lagi. Kalau gak, gak ada posting ini dong…

  4. Saya ingat cerita 3 jam itu, Gar dan tetap membuat saya merinding walau sering mengalaminya sendiri. Cerita awalan ini saja sudah memberikan sensasi sendiri dan sepertinya memang selalu demikian.
    *leyeh-leyeh nungguin cerita berikutnya

    1. Sebetulnya bukan cuma turis asing, sih. Siapa pun kalau bayarnya lebih mahal pasti akan didahulukan. Tak peduli di belakang mereka ada serombongan peziarah yang ingin sembahyang di pulau itu. Mungkin ini sebabnya penjualan tiket cuma bisa go show.

      Terima kasih sudah mampir, salam kenal!

    1. Iya. Butuh kesadaran banget pada-Nya supaya tahu kita sedang diuji. Lupa sedikit dan entahlah akan jadi sehancur apa perjalanan kami kala itu. Bibit-bibit konflik sudah bertebaran, di mana-mana. Saya bersyukur kami bisa selamat :hehe.

  5. Gara foto dermaga berkali-kali deh. Ini kayaknya karena udah bosan banget nunggunya ya 😀
    Gak kebayang mesti nunggu lama gitu, pasti gemes juga ngeliat turis asing yang baru datang udah bisa berangkat duluan. Ya mau gimana lagi 🙁 bayarnya juga beda euy

    1. Iya Mbak, bosan banget, pengen pisah eksplor ke tempat yang agak jauh takut nanti dipanggil dan dicariin, jadinya mari memotret banyak-banyak :haha.
      Ada harga ada rupa… yah demikianlah. Sayanya tidak bisa terlalu menyalahkan juga, sih.
      Terima kasih sudah mampir!

    1. Sedikit-sedikit saja Mbak bisanya, sebatas “nggih” atau “ten mresidayang” :hehe. Bapak saya baru piawai banget, sudah sering jadi perwakilan dalam dialog pernikahan :hehe.

        1. Orang tua dari Bali asli, saya lahir dan besar di Lombok, Mbak.
          Iyakah? Memang kalau blog self-hosting seperti itu Mbak, tapi saya usahakan untuk membalasnya, biarpun tak masuk notifikasi, tak apa :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?