Menguntit Samudra di Selatan Pulau Mutiara

Pose dulu :haha.
Pose dulu :haha.

Jumat yang cerah!

Saya sudah bersiap dari pukul tujuh pagi untuk menjemput Kak Randy di penginapan. Sambil mendendangkan satu nomor dari Ikimonogakari berjudul “Egao”, saya membelah jalan-jalan Monjok-Pajang-Pejanggik yang masih sepi kendaraan menuju Cakranegara. Berkas-berkas sinar yang menembus dedaunan membuat saya tersenyum makin lebar.

Mari melupakan sejenak semua persoalan, mari tersenyum di pagi yang cerah #yeah!

Smile :)).
Smile :)).

Saya bersyukur sekali karena cuaca Mataram cerah ceria. Maklum saja, ini Desember menjelang Januari, saat-saat yang paling tidak disarankan untuk berlibur di luar ruangan. Ancaman hujan, angin, dan petir akan senantiasa mengintai.

Cerita sedikit soal cuaca, Lombok, dan Mataram terutama, memang punya segmentasi cuaca lokal yang alakazam uniknya. Unik karena pembagian daerah cuaca itu mengikuti batas administratif. Silakan, boleh percaya atau tidak, tapi saya sudah membuktikan sendiri saat saya tiba di Lombok beberapa hari sebelum perjalanan ini saya lakoni.

Mendungnya seperti di belakang itu.
Mendungnya seperti di belakang itu.

Kala itu, keanehan memang sudah tampak bahkan dari landasan pacu Bandara Indonesia Lombok (BIL). Pesawat kami sempat mesti berputar-putar untuk mencari celah dari pilar-pilar kumulonimbus. Beruntung, pesawat yang basah kuyup itu bisa menemukan celah yang tepat sebelum mendarat pada landas pacu yang juga basah kuyup gara-gara hujan lebat.

Oh, maksud saya sebenarnya pada setengah landas pacu yang basah kuyup gara-gara hujan lebat, karena setengah landas pacu yang satu lagi kering kerontang dengan matahari bersinar terang tepokjidat. Dari bangunan bandara, seseorang bahkan bisa melihat di kejauhan sana hujan turun kejam sementara matahari di sisi sebelah sini hore-hore main bekel dengan angin dan dahan pohon. Haduh.

Satu lagi, dan ini yang paling ajaib, adalah ketika saya berada di dalam Damri. Lombok Tengah masih aman-aman saja, cuma mendung-mendung cantik, tapi begitu lewat gapura “Selamat Datang di Lombok Barat”, gapura itu seolah bertuliskan, “Selamat Datang di Lebatnya Badai.”

Gila, itu hujan turunnya seperti saat langit masih belum beratap. Petir, angin, hujan dengan bulir-bulir besar. Dari Bypass Penujak sampai Sedayu Kediri itu hujan belum ada tanda berhenti, bahkan makin deras. Panik karena jemputan saya cuma Bapak dan motor tuanya (kami menyebutnya ceketer) dan bawaan saya seperti orang mudik (ya saya memang mudik, sih), saya menelepon rumah, bilang kalau hujannya seperti orang gila.

Orang rumah tidak percaya. “Lha wong panas begini kok.”

Saya juga tidak percaya.

Sampai bus kami lewat gapura “Selamat Datang di Kota Mataram” dan detik itu juga hujan berganti matahari yang panas dan jalanan yang kering tepat setelah gapura itu. Saya pun tepok jidat keras-keras.

Haduh, Lombok, kok saya bisa lupa cuaca alakazammu?

Beruntung Kak Randy sudah bangun jadi kita bisa langsung cus. Tidak usah khawatir soal makanan soalnya saya sudah beli makanan yang khas Sasak banget. Kita cuma beli air minum dan langsung berangkat menuju tujuan yang sudah kita rencanakan sejak beberapa hari yang lalu:

Ashtari, Kuta, Mawun, Tanjung Aan, Gerupuk, Seger, Semeti, Mawi, Selong Belanak, HERE. WE. COME.

Bebatuan di Pantai Kuta.
Bebatuan di Pantai Kuta.

Itinerary-nya banyak banget, Gar? Masa bodoh. Delapan pantai dan satu bukit di selatan Lombok ini sudah lama saya idamkan sejak zaman Kuta belum seterkenal sekarang, saat Kuta masih cuma sebuah pantai sepi yang cuma dikenal penduduk lokal, yang gambarnya terpampang pada salah satu halaman di buku IPS bermuatan lokal untuk kelas tiga Sekolah Dasar.

Jadi, setelah semua penantian ini, jelas saya kepalang senang ketika kesempatan mengunjungi pantai-pantai ituΒ datang secara langsung.

Kami berdua kembali lagi :haha.
Kami berdua kembali lagi :haha.

Singkat cerita, berpaculah kami dengan melodi waktu untuk menuju daerah-daerah yang sebenarnya, apabila diurus dengan saksama, akan sejuta kali lebih indah dari sekadar Kawasan Nusa Dua di Bali itu. Tapi fokus ke kunjungan dulu, kalau bisa tercapai semua dalam satu hari, syukurlah. Tapi kalau tidak bisa, sesempatnya saja. Lombok kan kampung halaman, beda dengan Nusa Dua di Bali yang agak jauh…

Jadi saya selalu bisa kembali.

Aduh, dilema lagi. Kadang saya suka merasa bersalah. Kalau mengagungkan Lombok, saya ini darahnya Bali. Kalau saya terlalu menyanjung Bali, saya lahir dan besar di Lombok, meski saya suka pulang dan tinggal di Bali juga. Bagaimana dong? Susah ya, punya ikatan darah aslinya daerah pariwisata semua :haha :digampar.

Rute ke mutiara-mutiara di selatan itu sekarang sudah jauh lebih baik. Saking baiknya, petunjuk arah ke sana bisa ditempuh dengan satu kalimat saja, kalimat pamungkas dari sang kakak perempuan saya, yang meski terdengar kejam, harus saya akui, itu benar.

Cari BIL, terus lurus saja ke selatan, mentok-mentok itu di Pantai Kuta.

Mesti saya akui kalau kata-kata itu benar 99%. Carilah BIL. Dari Mataram itu sangat mudah dilakukan. Cukup ikuti rambu-rambu yang setiap 100m pasti ada. Kalau tidak bisa baca rambu, minimal berkendaralah ke selatan. Bisa lewat Pagesangan–Gunung Pengsong–Gerung–Bypass BIL (rute kurang kerjaan), atau seperti kami bocah-bocah negeri, dari Perempatan Cakra ambil ke selatan terus Panaraga terus Dasan Cermen jangan belok, Rumak terus Kediri, Gerung, dan Patung Sapi.

Nah, di patung sapi ambil kiri. Silakan pacu kendaraan anda sekencang mungkin, karena… jalanan sepi!

Ya bukan berarti bisa seenaknya ngebut-ngebut, ya. Mesti hati-hati juga. Tapi memang jalanannya sepi sekali, sih. Entah mungkin karena kami lewatnya sekitar pukul 8 pagi. Dengan lebar jalan seperti Sudirman Thamrin, dan badan jalan masih lumayan mulus, memacu motor laju di sini memang jadi kenikmatan tersendiri.

Sekali lagi ingat, hati-hati, karena banyak pertigaan-pertigaan percabangan jalan yang akan dilewati. Dari sini, seseorang juga bisa menuju ke desa-desa wisata lain, seperti Sukarara yang terkenal dengan tenun rangrang Lomboknya, atau Puyung yang terkenal dengan tingkat kepedasan kulinernya yang sangat membinasakan.

Jalanan yang empat lajur baru berubah kembali menjadi jalan provinsi biasa ketika kami sudah beberapa ratus meter melewati BIL. Terus saja ke selatan, melewati Tanak Awu dan Sengkol. Jangan terkecoh dengan belokan-belokan, ikuti saja jalan utamanya. Medan jalan di sini tidak terlalu sulit, tidak seperti Nipah dan pantai lain di utara. Badan jalan juga mulus, meski tetap disarankan berhati-hati karena di beberapa tempat kelokan-kelokan setengah curam dan kontur berbukit membuat kewaspadaan mutlak ditingkatkan.

Yang jelas, motor saya yang bergigi tidak terlalu tersiksa dengan medan jalannya.

Tidak? Setidaknya belum.

Saya ingat ada sebuah lagu yang pas betul dengan perjalanan kami setelah ini. Lagu daerah berjudul Pante An, yang saya nyanyikan pelan-pelan sembari motor melaju (nyanyi di atas kendaraan memang jadi ciri khas saya yang paling berbeda :haha). Lirik tentang lokasi Pante An itu menjadi petunjuk bagi kami ketika sudah melewati Desa Sade, Rembitan, bahwa kami sudah dekat dengan Pantai Kuta, sebelum ke lokasi di lagu itu, Pantai Tanjung Aan.

Lirik di akhir lagu itu kira-kira begini:

Temue bekelampan, lewat Sade, Kute jok Pante An
Santer siq ne demen, klebet bejoraq jang kebian

Santer siq ne demen, klebet bejoraq jang kebian.
Santer siq ne demen, klebet bejoraq jang kebian.

Sebetulnya masih sekitar 10km sih antara Sade dengan percabangan jalan Gerupuk Kuta. Pengunjung akan melewati gapura “Welcome To Kuta” yang tersembunyi dan menyembul tiba-tiba sehingga membuat kaget. Setelahnya, baru ketemu dengan percabangan: jalan ke kiri menuju Pantai Gerupuk, jalan ke kanan menuju Mong Kuta. Saat itu, karena kami belum punya rencana ke Gerupuk, kami ambil ke kanan.

Cerita sedikit, Gerupuk itu pantai yang terkenal dengan ombak ganas buat para peselancar. Wuhu. Saya mesti ke sana. Bukan, bukan buat selancar. Cuma mau lihat ombaknya doang :hehe.

Kehidupan pariwisata menyapa kami pada saat yang sama ketika garis laut menyapa mata. Rumah-rumah penduduk berubah menjadi penginapan atau restoran lokal yang sifatnya sporadis. Beberapa kios yang lain menjadi tempat penukaran uang atau penyewaan alat-alat selancar, atau penyewaan sepeda motor.

Ketiadaan transportasi umum membuat sepeda motor jadi alat utama bagi jelajah daerah selatan ini. Kesan pertama saya dengan Kuta, tempat ini mulai mirip dengan Senggigi dicampur daerah sekitar Nusa Dua (bukan daerah BTDC-nya lho ya, tapi daerah di luarnya). Syukurlah kalau pariwisata di daerah ini mulai berkembang. Semoga saja perkembangan ini membawa dampak positif bagi masyarakat lokal.

Meskipun kalimat terakhir itu sebenarnya akan sedikit saya revisi nanti.

Kami memarkir motor di sebuah pelataran. Eh salah, bagian dari pantai. Kami parkir di atas pasir pantai, tapi masih sekitar 30m dari bibir pantainya. Tempat seterkenal ini tapi tempat parkir saja tidak ada. Boro-boro tukang parkir. Saya agak ketar-ketir juga parkir motor di sana. Memarkir motor di tempat yang ada tukang parkirnya saja saya tegang, apalagi ini tempat yang dikhususkan buat parkir saja tidak ada? Haduh…

“Yakin nih, Kak, parkir di sini?”

“Iya Kak, di sini saja.” Kak Randy sudah pernah ke sini sebelumnya.

Saya bertanya lagi, “Kemarin Kakak parkir di mana?”

“Di sini.”

“Nggak hilang?”

“Kemarin sih nggak.”

Waduh.

Tapi… ya sudahlah. Laut di depan saya sudah seperti menggoda-goda dan memanggil-manggil untuk segera disambangi dan dicumbui, jadi saya menyerah. Lo que sera, sera.

Saya pun mengeluarkan kamera dari ransel, melepas sandal dan membiasakan kaki menjejak pasir Kuta yang terkenal sebelum mengambil beberapa gambar. Kami menuju ke arah timur sedikit karena di sana ada gugus karang yang tentunya asoi sekali untuk menjadi objek fotografi.

Yah, demikianlah.
Yah, demikianlah.

Saya tak sadar beberapa pasang mata menatap kami dari kejauhan dengan tatapan berminat yang sebenarnya bisa membuat tubuh bergidik.

Glek.

Tapi mengambil beberapa foto percobaan dulu, bolehlah, ya.

Masih gagal.
Masih gagal.
Kak Randy berhasil lompat.
Kak Randy berhasil lompat.
Kostum lengkap ini membuat saya tampak gemuk!
Kostum lengkap ini membuat saya tampak gemuk!

61 thoughts on “Menguntit Samudra di Selatan Pulau Mutiara

  1. Semacam kenal pantai-pantai itu, dua tahun yang lalu pas travelling ke lombok juga sempat mampir pantai2 itu. Memakan waktu dua hari dan sampe nginep dirumah warga untuk susur pantai2 lombok tengah saja… belom lombok timur, barat, utara. Ah seminggu tidak cukup untuk mejelajah lombok… berbahagialah orang yang tinggal disana πŸ™‚

  2. dua daerah di satu pulau dan bersebelahan, tetapi cuacanya sangat berbeda.
    waktu saya datang ke lombok, yang mengantarkan saya juga bercerita seperti itu tentang lombok

  3. Jadi kangen lombok selatan πŸ˜€ Pantai gerupuk sih belum pernah mampir, tapi kalau pantai favorit saya disini ya pantai selong belanak πŸ˜€ udah beberapa kali kesana tetep nggak bosan~

  4. Pantainya tidak seperti pantai Kuta yang di Bali yang pernah aku kunjungi 7 tahun yang lalu. Pantai Kuta yang aku kunjungi itu, sudah tidak asri lagi, dengan hotel2nya, turis seabrek2 dan sampah yang berserakan πŸ™

    1. Yap, sedih memang, tapi harus kita akui bahwa itulah kebenarannya, Mbak. Kuta Bali sudah tidak seperti dulu. Meski senja di sana masih cukup indah, jika kita menengok ke belakang… cuma bisa mengelus dada :huhu.

    1. Iya Kak. Seperti mau ke Puncak. Padahal di sana panas sekali udaranya.
      Yap, mungkin saya juga lupa salah kostum gara-gara view pantai yang ciamik banget itu :hehe.

  5. Gar, elo emang ga kurus jd ga usah nyalahin kostum.
    Btw, knp 90% fotonya narsis semua? I was expecting more pictures of the sea or the beach. Karena fokusnya kalian berdua, aku ga bisa melihat cantiknya pantai-pantai itu. Che.
    I just want the sea, the ocean and the beach!

    1. Kostum itu membuatku tambah gemuk :haha.
      Ada… banyak foto narsis. Bahkan lebih banyak foto narsisnya :hehe. Kan edisinya edisi narsis biar eksis…

  6. gar kog panas-panas pakaiannya lengkap begitu siiih? πŸ™‚

    nah foto batu numpuk di pantai kuta itu kog lucu ya gar, kenapa kog bisa begitu? jangan-jangan ada cerita malin kundangnya juga disana…

    soal mengangung-agungkan tanah kelahiran… hehhehe udah betul itu gar, lombok kan tanah tumpah darah… begitu juga soal bali, udah pasti lah ya bali punya tempat yang khusus karena orangtua gara berasal dari sana… tapi ada bener juga deh memang bikin bingung aja ya gar karena dua-duanya saingan lho soal kepariwisataan…

    salam
    /kayka

    1. Iya Mbak, memang kebiasaan saya salah kostum :hehe.
      Pengaruh angin dan ombak sih Mbak, tapi legendanya bukan di pantai ini, tapi legenda sebelah, tentang Putri Mandalika :hehe.
      Iya Mbak, kadang pala jadi pusing :hihi. Tapi saya bangga bisa punya ikatan dengan keduanya :)). Jarang ada yang bisa begini, sih :hehe :peace.

  7. Kamu mukaknya baby face loh, Gar! πŸ˜€ Aku aja ngiranya masih anak SMA. Huahahahah πŸ˜€

    Kenapa sih ngga pede? Kalok aku malah gegulingan di pasirnya tuh. Wkwkwk πŸ˜›

    1. Aduh saya jadi malu pakai banget deh :haha.
      Nggak pede aja diliatin. Semacam malu. Tapi sekarang sudah agak malu-maluin sih, jadi sifat itu sudah lumayan hilanglah :haha.

  8. Gambar satu dan dua kelihatan banget biru pantainya, great! yang no 5 juga. Oiya, banyak foto narsis ya hahaha

      1. target berikutnya kalo ke lombok mau ke g kelimutu, plus nginap di gili trawangan sambil leyeh2 plus keliling dari pantai ke pantai, tapi kayaknya butuh waktu banyak itu…hadeuh..nasib kuli kantor

    1. Setuju, Mbak. Ternyata ada foto jumpingnya dengan kaki ditekuk dan jatuhnya lebih spekta :hihi.
      Awannya memang keren… sayang kalau sudah berkumpul semua jadi kurang keren, soalnya malah hujan :haha.

    1. Memang! :hoho. Kayaknya di sekitar sini juga ada yang menyewakan tenda deh, cuma saya tidak terlalu memerhatikan :)).
      Suka! Dulu, sih, sekarang sudah tidak terlalu mengikuti trend. Paling-paling cuma sesekali mengecek apa Ikimonogakari ngeluarin single terbaru apa tidak :hehe.
      Terima kasih sudah berkunjung, salam kenal!

  9. hihihihi, buset dah jadi pingin balik kesana lagi XD
    nyesel banget tahun kemaren pas maen ke lombok ngga mampir wkwkwk, πŸ˜€
    iya bang Gara salam kenal juga πŸ™‚

      1. mudah”an bang kalo ada rejeki, saya balik kesana lagi, πŸ˜€ entar bang Gara boleh lag jadi tour guide pas disana kwkwkw XD

        saya kangen sama sensasi naik diatap angkotnya bang wkwkwk

        1. Amin, semoga ada kesempatan bagi dirimu untuk ke Lombok, dan bagi saya supaya bisa jadi tour guide :haha.

          Lho, saya malah tidak pernah :haha. Terlalu ekstrem!

          1. wkwkwk, mantap bang πŸ˜€ rencana balik ke lombok kpn bang ?

            hihihi perlu dicobain bang, entar jadi pusat perhatian loh, terutama sama polisi ahahha πŸ˜€

          2. Rencana sih buat mudik doang Mas, sekitar Juli nanti, semoga tidak ada halangan sampai Juli nanti :amin.
            Saya anak baik yang belum pernah ditangkap polisi! :haha.

          3. Aminn bang mudah-mudahan semua berjalan sesuai rencana, πŸ™‚

            wkwkwkwk ah yang bener bang ? kemaren aja baru bebas dari lapas cipinang wkwkwk XD #becandabang

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?