Mengembalikan Syukur di Batavia Lama

Total enam jam penerbangan kucluk-kucluk dengan drama sukses membuat semua indra saya tumpul dan suasana hati turun drastis, seolah semua kegiatan seratus tiga puluh dua jam petualangan di leher Cendrawasih itu tidak ada artinya :huhu. Tambahan lagi, kondisi tubuh sebenarnya agak tidak memungkinkan untuk jalan, apalagi ketergantungan maksimal pada kondisi internet membuat emosi setipis benang katun ketika tahu di sana sinyalnya alakazam :hehe.

Tapi di sana ada banyak cerita. Banyak sekali cerita. Termasuk masalah gara-gara persinyalan dan kunci kamar hotel serta penerbangan yang mendadak dibatalkan banting ransel.

Nah, satu pelipur lara yang bisa mencegah saya jadi zombie betulan adalah fakta bahwa teman-teman saya dari kampus datang kembali untuk mengikuti pelatihan guna menjadi fiskus-fiskus andal :hore. Itu artinya, Kak Randy (salah satu sahabat terbaik saya, rekan seperjalanan yang akan pembaca budiman ketahui di Jurnal Lombok) juga datang dari Bali! Yah, kenyataan itu bisa membuat saya yang sedang berusaha mengejar ketertinggalan ini untuk tetap waras, dan setelah satu minggu terombang-ambing, toh ternyata saya berhasil mengejar ketertinggalan itu :hehe :peace.

Tapi marilah kembali sejenak untuk bercermin pada kegalauan seminggu silam.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk meletakkan ransel superberat itu asal-asalan di lantai kosan, menyambar tas selempang, kemudian meluncur membelah jalanan Jakarta di hari Sabtu malam, menuju bilangan Slipi-Kemanggisan, Jakarta Barat, tak sampai satu jam setelah matahari berpisah dengan dunia.

Kami baru saja berjumpa sekitar tiga puluh menit ketika Kak Randy melontarkan ide (gila)nya.

“Kak, ke Kafe Batavia yok?”

Ide yang terlalu bagus, karena sebenarnya saya juga sudah menanti-nanti waktu ke sana. Hitung-hitung mood booster. “Yuk, yuk? Sekarang?”

“Iyalah sekarang, masa April depan?”

Saking tumpulnya indra-indra ini, saya lupa kalau malam itu malam Minggu. Duh, malunya saya, sebelumnya saya malah menyarankan untuk makan di warung nasi goreng sebelah kosan!

Jadilah kami berdua, sekali lagi, membelah jalan dari Kemanggisan menuju Tanah Abang, Jati Baru, Abdul Muis, Harmoni Central Busway, Sawah Besar, Mangga Besar, Olimo, Glodok, Kota (eh ini mah urutan halte busway yak :hehe), belok di Grote Rivier, belok lagi di utara Museum Sejarah sebelum masuk di parkiran yang sudah penuh dengan kendaraan bermotor. Untung saja kami dapat tempat.

Stadhuisplein di malam Minggu? Ramai. Dan itu sebenarnya makin menambah ruwet hati ini.

Orang di mana-mana, membawa pasangan, membawa teman, membawa keluarga. Alun-alun di 2015 seolah kembali di saat-saat Batavia masih jaya-jayanya, tiga abad silam, di tengah-tengah masa pemerintahan Christoffel van Swoll yang nantinya tidak berjalan lama.

Lapangan itu masih sama, tak seberapa luas untuk sebuah kota berkembang, tapi penuh dengan dinamika masyarakat dengan semua problema hidupnya. Tiga ratus tahun berlalu dan kota ini masih terus berdetak. Untuk beberapa saat saya berhenti, berhenti di tengah orang yang terus bergerak, sampai akhirnya berbelok dan

Pertanyaan dari Kak Randy sebenarnya sempat membuat (kantong) saya gentar.

“Kak, kira-kira harganya mahal nggak, ya?”

Kalau saya memesan ini, apakah berbeda?
Kalau saya memesan ini, apakah berbeda?

Saya belum bisa menjawab. Maklum, sebelumnya saya belum pernah masuk ke kafe-kafe sekelas ini. Pun saya tidak mencari tahu Kafe Batavia itu memiliki citra yang seperti apa, dan meninggalkan kesan yang seperti apa di benak pengunjungnya. Yang kami tahu cuma, ini kafe terletak di kompleks bangunan tua, dan kami tak bisa menyebut diri penggemar bangunan tua kalau belum icip-icip di sana :)).

Tapi saya harus, jadi secara normatif saya berkata, “Udah, masuk aja, nanti biayanya kita bagi dua.” Sombong sekali sih kedengarannya, tapi yah… sebagaimana rasionalitas kami nanti, “Ini sekali seumur hidup, jadi jangan terlalu mikirin urusan duit dulu, deh.”

Meskipun sampai sebelum buku menu datang, itu saya pikirkan terus…

Urusan duit saja kami tidak berpikir, apalagi urusan penampilan? Jujur, penampilan saya malam itu sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang mau makan di kafe berkelas. Istilah Kak Randy untuk menyebut penampilan kami malam itu adalah “tampilan gembel”. Hanya dengan baju kaos bulukan, celana jeans, sandal jepit, dan jaket yang sudah bau asap tidak karuan habis terpapar kejamnya jalanan Jakarta setiap hari.

Fix, tingkat kepercayaan diri yang asalnya sudah rendah ini makin jatuh, jadi minus.

Saya pun membuka pintu yang ternyata masih asli terbuat dari besi dan kaca itu, untuk disambut ramah oleh seorang ibu berpakaian tradisional dengan mahkota daun di kepalanya. “Selamat malam, untuk dua orang?”

Saya yang lagi tingkat confidence minus itu, malu-malu, mengiyakan. Gila, ini sifat takut orang saya kumat lagi, nih. Perlahan, saya agak menyisih dengan bahasa tubuh yang terkesan agak menghindar gara-gara malu, merasa bahwa tatapan si ibu agak mengintimidasi. Saya bau asap, saya ngaku!

“Smoking atau non-smoking?”

Saya menjawab cepat, “Smoking… eh maksudnya non, Bu :hehe. Non-smoking.”

Salah, kan… malu, dah.

“Mau di lantai satu atau lantai dua saja? Di lantai satu ada live music-nya lho, Mas…”

Emoh, saya yang begini lagi malas menonton (dan ditonton) orang. Niatnya sih mau bilang supaya lantai dua saja, setidaknya melihat balkon dan balai kota di malam Minggu begini pasti jadi nuansa tersendiri, tapi tiba-tiba Kak Randy langsung semangat, “Eh, ada live music-nya, ya? Wah, di lantai satu aja deh, siapa tahu bisa request-request lagu.”

Hah, memang bisa ya? Duh, saya tidak pernah melakukan hal itu, lagi pula saya juga sedang tidak kepingin. Apalagi, saat itu saya masih agak kaget, yakin nih mau duduk di bawah?

“Penampilan kita lagi gembel, lho, Kak. Nanti kalau orang-orang pada lihat bagaimana?”

“Udah, nanti juga pasti ada orang yang lebih gembel dari kita.”

Tak seberapa lama kemudian, seseorang yang persis penampilannya seperti kami (kaos dan celana jeans berantakan) memasuki ruangan.

“Tuh kan, Gar, gue bilang apa?”

Yah, pertanyaan-pertanyaan semacam itulah, sampai akhirnya saya menemukan posisi duduk yang pas: membelakangi panggung. Saya cuma mau duduk. Saya cuma mau istirahat, cuma mau mengistirahatkan semua indra yang menggelenyar setelah perjalanan jauh. Mungkin emosi saat itu juga sedikit tidak stabil, ya, karena ketika saya menulis ini, saya kok jadi terasa lucu sendiri dengan diri saya malam itu. Semacam yang I was letting my guard down. Saya yang tidak biasanya.bat (9)

Saking tidak biasanya, saya malam itu tidak begitu tertarik dengan fakta bahwa kami ada di dalam bangunan tua yang konon katanya punya terowongan rahasia menuju balai kota. Saya cuma mau makan, saya cuma mau menghabiskan malam dengan makanan enak dan minuman hangat. Anggapan yang sama bertahan sampai akhirnya buku-buku menu datang dan kami melihat harga makanannya.

Mahal, euy… makanan paling murah saja harganya Rp85k. Rasanya dompet itu meraung-raung. Tapi seperti kesepakatan tadi, kita di sini ingin cari pengalaman dulu, kan? Akhirnya kami pesanlah dua jenis spaghetti, satu porsi fish and chips, dan minuman masing-masing: cokelat panas untuk Kak Randy, dan teh panas untuk saya. Kami berharap akan mendapatkan rasa yang sesuai dengan harga yang tertera di sana. Tentulah, harganya untuk ukuran kami itu sebenarnya agak mahal… :huhu.

Cokelat panas untuk Kak Randy.
Cokelat panas untuk Kak Randy.

Yah, meskipun suasana hati saat masuk sini tidaklah terlalu bagus, mesti saya akui, suasana lingkungan sekitar yang temaram sedikit banyak mengembalikan keceriaan saya, membuat saya yakin kalau ketertinggalan seminggu itu bisa saya kejar. Biasa, saya suka kepikiran soal hal-hal yang tidak perlu kalau lagi dalam situasi capek mental seperti itu.

Sejauh yang saya bisa ingat, memang kita serasa berada di sebuah tempat yang sudah banyak memegang memori selama tahun-tahun yang lewat. Meja bar di depan saya ditempati dua pengunjung, sementara kursi-kursi di dekat kami terisi pelanggan selang-seling. Malam Minggu, kafe ini memang banyak pengunjungnya, tapi tidak sampai membuat ruangan jadi penuh sesak. Nyaman sekali.

Saya, membelakangi panggung. Oh, kantung mata!
Saya, membelakangi panggung. Oh, kantung mata!

Dinding penuh dengan pigura-pigura dengan berbagai macam gambar orang-orang terkenal di masanya dahulu. Dari semua orang yang ada di foto, saya cuma kenal dengan Marilyn Monroe. Selebihnya saya tidak tahu siapa, karena saya tak terlalu memerhatikannya.

Dan sebagaimana kata Kak Randy yang langsung saya curhati, jangan terlalu peduli dengan orang, “Karena setiap orang punya problemanya masing-masing, Gar,” katanya. “Mana mungkin mereka peduli dengan kegembelan kita?” Satu hal yang seperti menampar saya, karena kenapa saya bisa lupa dan lagi-lagi terfokus pada diri sendiri?

Ha, mungkin malam itu saya masih terlalu capek dan sudah dalam perjalanan untuk berubah menjadi zombie, ya :hehe. Apa yang dikatakan Kak Randy memang benar, dan saya jadi seperti dapat mood booster. Kesimpulannya, spending good times with your best friend is indeed, healing. At least, for me, it keeps me sane.

Makanan kami datang setelah puas berfoto untuk Instagram (gambar pertama saya, kalau saya boleh menambahkan). Live music-nya belum mulai. Kami mencicip spaghetti pesanan kami masing-masing, dan inilah komentar saya:

Teh panas saya. Bisa langsung jadi lemon tea :haha.
Teh panas saya. Bisa langsung jadi lemon tea :haha.

“Agak nggak al dente, ya, Kak.”

“Nggak kok Gar, ini pas banget. Enak.”

“Kok hambar, kak?”

“Masa sih? Enak begini, kok.”

“Kurang pedas, nih…”

“Itu ada sambal botol, kamu tambahin lagi aja sih Gar?”

Mungkin orang yang ada di samping saya sudah ingin menabok karena saya protes terus. Saya menoleh dan mendapati bapak-bapak yang duduk di samping saya ternyata seorang asing.

Semoga dia tidak mengerti :haha.

Tea.
Tea.

Saya sebenarnya tidak terlalu mengerti, entah rasa makanan aslinya itu memang begini, entah sayanya yang belum pernah makan spaghetti, atau apakah memang rasa makanannya yang memang sedang tidak pas di lidah saya, soalnya Kak Randy bilang makanannya enak banget? Oh iya, ini pasti gara-gara pilek yang mematikan lidah saya nih, jadi tidak bisa makan dengan maksimal. Mak, saya ingin bisa merasai makanan itu lagi.

Sekitar jam delapan ketika semua personil live music siap di posisinya masing-masing. Kak Randy sudah semangat banget, dia malah sudah mempersiapkan lagu yang bakalan di-request-nya kepada Mbak penyanyi. Sementara saya, masih agak kesal dengan diri sendiri karena penampilan gembel, kepala pusing, muka berminyak, lidah yang tidak bisa merasa, cuma bisa melamun menatap sisa-sisa kejayaan kolonial pada bentuk pintu dan lantai kayu di atas saya, tidak berminat menikmati penampilan para pemusik. Saya sedang benci dengan diri saya sendiri jadi saya tidak berminat untuk melakukan apa-apa selain mengaduk-aduk makanan tidak enak yang ada di depan saya. Lagi pula, saya duduk membelakangi mereka, kan?

My spaghetti before.
My spaghetti before.

Namun, tiba-tiba saja, lagu pertama itu mengalun, dan membuat garpu saya terhenti di tengah pasta yang bentuknya sudah tidak karuan.

“Spend all your time waiting, for that second chance, for a break that would make it okay.
There’s always some reason to feel not good enough, and it’s hard, like the end of the day…”

Kenapa harus lagu itu? Ada banyak cerita pribadi antara saya dengan satu nomor kepunyaan Sarah McLachlan itu, dan entah, rasa-rasanya Tuhan mengirimkan lagu itu (lagi) untuk memberitahu saya bahwa ada sesuatu yang salah dengan semua anggapan saya terhadap semua yang terjadi?Jpeg

Ya, sih. Ada banyak yang salah selama minggu kemarin. Saya yang berubah lagi menjadi orang yang sangat-sangat sinis dan melihat semua dari sisi gelap hanya karena saya tidak puas dengan apa yang sudah saya lakukan, karena saya yakin kalau saya bisa melakukan yang lebih dari apa yang sudah saya capai. Ketidakpuasan yang membuat saya membenci diri sendiri dan menyalahkan diri untuk semua yang terjadi. Padahal sebenarnya apa yang saya lalui kemarin tidak buruk-buruk amat, tapi entah, sampai dengan sebelum saya mendengar alunan melodi itu, saya belum bisa membuka mata.

So tired of the straight line, and everywhere you turn, there’s vultures and thieves at your back.
The storm keeps on twisting, you keep on building the lies that you make up for all that you lack…

Lagu itu, yang saya cuma bisa dengar suara lantaran saya harus menengok ke belakang untuk melihat penyanyinya, terasa seperti tamparan. Telak dan keras. Dengan semua yang sudah saya dapatkan malam itu, kok ya bisa-bisanya saya masih tidak bersyukur, dan kembali ke masa silam ketika saya harus menjalani semua kejadian sebelum saya bisa mengatakan kalau saya tidak membenci diri sendiri?

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Semua alasan yang saya anggap ada, semua pembenaran dari tingkah saya yang seperti anak kecil itu luruh, meninggalkan saya yang akhirnya sadar bahwa semua yang ada di dunia ini tidak berputar terhadap saya.

Hayoloh… sudah diberi semua kenikmatan ini dan saya masih bisa merasa lemah, patut dikasihani, dan merasa jadi orang yang paling sial di dunia? Menjadi orang yang paling capek yang ada di dunia? Banyak orang yang penderitaannya lebih daripada yang saya lalui, tapi mereka tidak menyalahkan dirinya ketika apa yang terjadi dalam kehidupan ini tidak sejalan dengan yang diinginkan. Mereka malah makin semangat. Sementara saya belum juga dicoba sudah mau menyerah. Katanya semua yang kita dapat di dunia ini sebanding dengan usaha yang dikeluarkan? Kenapa tidak mau usaha lebih kalau kepingin dapat lebih dari yang sekarang?

Entah kenapa, sendokan selanjutnya dari makanan itu terasa lebih nikmat.

Fish and chips yang lumayan.
Fish and chips yang lumayan.

Ternyata kesimpulan untuk beberapa pertanyaan bisa didapat dengan demikian sederhana, ya :hehe.

60 thoughts on “Mengembalikan Syukur di Batavia Lama

  1. aih, dalem…
    homo sapiens kayak kita emang sukanya berasumsi macem-macem. Lupa kalo dunia nggak muter di kita aja. Note to My Self banget nih, thanks Gar 🙂
    Semoga cepet ilang deh betenya :p

  2. Jadi catatan buat diri sendiri untuk lebih bersyukur. Memang kalau suasana hati lagi nggak enak itu, semuanya akan jadi terasa nggak enak, seenak apapun itu seharusnya. 🙂

  3. Syukur lah punya sahabat baik seperti Randy, Gara…Seseorang yg sanggup memperlihatkan sisi plus dan menekan sisi minus kita. Dengan makanan enak, musik indah dan sahabat yang baik, malam di Cafe Batavia was yours 🙂

    1. Saya bersyukur sekali bisa diberi kesempatan mendapat malam seperti itu :)).
      Semoga malam-malam kita semua adalah malam-malam yang menyenangkan dan mendewasakan :)).

  4. I know how you feel Gara…..
    *entah mengapa minggu ini aku juga ngerasain hal hal yang kamu tulis di atas*
    terus baca tulisannya, benar-benar mengingatkan untuk selalu bersyukur dan tetap semangat untuk memperbaiki diri jadi lebih baik lagi 🙂

    1. Ilmu bersyukur menurut saya adalah ilmu yang paling sulit Mbak, tapi mari tetap mencoba melakukan yang terbaik untuknya :)).
      Yep, mari terus berusaha!

  5. Saya juga penggembel sejati hahaha! Tapi ah cuek aja, meskipun mestinya ya lebih rapi ya biar gak malu-maluin, dan Bapak saya pernah bilang, “Kalo pengen dihargai orang lain, hargai dulu diri sendiri. Salah satunya dgn berpakaian dgn baik dan pantas”
    Kayak di novel-novel ya Gar, dapet jawaban pas lagi di kafe hihi

    1. Iya, penampilan kita memang mencerminkan kepiawaian kita mengurus diri. Teman saya pernah bilang, “Bagaimana mau mengurus keluarga kalau mengurus diri sendiri saja belum becus?”
      Itu makjleb banget… tapi memang benar, sih :haha.

      Seperti di novel… :hehe, menurut saya hidup ini memang seperti novel yang ditulis oleh Sang Pemilik Hidup, Mbak, dengan prolog dari tarikan napas pertama, dan epilog saat saya mengembuskan napas terakhir. Sisanya tinggal bagaimana saya membantu-Nya menulis, agar novel kehidupan saya layak dibaca dan dikenang banyak orang *tsaaahh* :hehe :peace.

  6. Itu bangunannya agak klasik-klasik gitu ya Bang? ._.

    tapi kok, harga paling murah 85k .______. ngeri banget harganya -_-

    Dibuku menu itu aku baca ada yang harganya 250k. itu makanan apaaaaaan? -_-

    Tapi, yah, kelihatannya enak-enak semua itu bang makanannya 😀

    1. Yep feb, bangunannya memang klasik, tapi saya lupa dulu ini bekas apa. Kabarnya ada terowongan rahasia antara Museum Fatahillah dengan tempat ini. Gosipnya lagi, ada terowongan tua yang sampai ke Istiqlal…

        1. Iya Feb :hihi.
          Kalau museum fatahillah sih masih mungkin feb, soalnya seberangan. Dengan Istiqlal itu yang agak menakjubkan, soalnya jaraknya 4km…

    1. Iya Mbak, Tuhan selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan umatnya :)).
      Saya sangat bersyukur Tuhan masih sayang saya dengan mengingatkan saya :)).

  7. Kenapa harganya mahal gitu sih, Gar? Yang istimewa apa sebenarnya? Hihihi 😛 Dari dulu aku kalok ada cafe yang makanannya ngga enak selalu nyeseeeel.. Ngga pernah mau balik lagi. Entah lah, orang bilang beli suasana, tapi aku tetep ngutamain kelezatan rasaaa 😀 *halah*

    1. Mungkin mereka susah mendapat bahan. Mungkin karena mereka berjualan di gedung tua, Beb :hehe. Atau mungkin mereka lelah dengan yang murah :haha.
      Sama banget! Saya lebih mengutamakan rasa di atas segalanya. Kalau tempatnya tidak memungkinkan… beli dibungkus!!

  8. Indonesia banget…spaghetti dengan sambal saos..hihihi..sama dong, aku di sini gak bisa lepas deh, mesti pakai sambal ABC 😉
    Ternyata kafe Batavia masih ada toh..hebat juga loh, udah lama banget yaa..

    1. Spaghetti dengan cabe juga Mbak, kalau saya boleh menambahkan :hehe :peace.
      Saya memakannya bahkan mesti ditambahi sambal lagi secara tersendiri :huhu.
      Iya Mbak, hebat kafe ini, bertahan lama banget :)).

  9. aku pernah me time di sini, sendirian makan siang di lantai dua, duduk depan jendela asyiiik banget sih berlama2 nonton orang di lapangan Fatahillah..
    cuma ya itu makan nasi goreng yg cukup banyak tapi mahaaal, he..he.., cepek buat nasgor doang, agak2 nggak rela..,
    tapi malas datang lagi karena toiletnya waktu itu rusak dan banyak tulisan nggak genah.., masnya dibilangin toilet kotor aja , nggak respon

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!