Mencolek Malimbu dan Selintas Senggigi

Saya tegaskan, seorang pejalan yang menghabiskan waktu di pulau ini tabu membiarkan senja meninggalkannya. Saya ulangi, tabu, karena setiap senja di Lombok adalah hadiah indah yang diberikan Tuhan penuh niat pada seluruh penduduk Lombok: selalu berbeda, selalu bernuansa, selalu cantik, selalu menguarkan aura.

Kami tidak membuang-buang waktu, selepas puas menatap matahari yang mulai mengantuk di Nipah, kami bergerak turun, menuju spot trotoar biru kedua yang menjadi ciri khas foto selfie di Jalan Lintas Mataram-Bangsal via Senggigi: Malimbu!

Halo!
Halo!

Malimbu used to be boomed kira-kira pas saya kelas 1 SMA. Orang bilang banyak hal soal Malimbu, dimulai dari pantai berkurvanya yang seolah terisolasi dari deretan pantai di sekitarnya dengan laut berarus kuat dengan warna sehijau lumut (bisa membayangkan indahnya, kan? :hehe), atau dua bukit karang tinggi pengapit sekaligus pelindung pantai yang menegaskan bahwa Malimbu berbeda dengan pantai-pantai sebelum dan sesudahnya, atau gosip tentang sepasang kekasih yang dipergok satpam berduaan di tengah malam pada pantai itu dan akhirnya dinikahkan.

Yah, intinya, merupakan sebuah petualangan tersendiri apabila pengunjung dapat meluangkan waktu untuk merasakan keunikan Malimbu :hehe.

Pose lagi!
Pose lagi!

Namun, berhubung sore itu kami mungkin sudah terlalu lama menghabiskan waktu di Nipah dan tidak berpikir untuk turun lagi ke Pantai Malimbu, kami hanya menikmati bagaimana gelap mulai dijelang oleh senja di Gumi Sasak, Pulau Lombok kampung halaman saya. Di sekitar kami wisatawan masih sibuk foto-foto, ogah kehilangan momen: kapan lagi bisa berfoto di balik mahakarya yang hanya ada di Lombok? Kapan lagi kesempatan menyombong lewat sosial media (Instagram, Path, Facebook, Twitter, WordPress #eh) foto-foto di Lombok bisa terlaksana? Tidak semua orang bisa sesuka hati datang ke Lombok, sebagaimana tidak semua orang punya kampung halaman di Lombok :geplaked.

Perlahan namun pasti, matahari mulai mengguratkan salam perpisahannya pada semua makhluk di seantero Bumi Gora (Gogo Rancah). Dengan semburat yang mungkin akan membuat pembaca sangat bosan kalau saya mendeskripsikannya lagi, jadi saya tidak akan mengulanginya di tulisan ini. Lagi pula, kami di Malimbu cuma berniat selfie doang kok, jadi yah… kami mengeksplorasi semua pose yang mungkin diperbuat dengan tongkat narsis Kak Randy, meskipun beberapa di antaranya mengundang tatapan sinis dari beberapa pengunjung gara-gara kami berdua terlalu lebar mengambil bidang foto :haha.

Foto lainnya.
Foto lainnya.

Tapi sungguh, deburan ombak di Malimbu lebih terdengar ketimbang di Nipah tadi. Dengan jalanan yang sepi, hanya sesekali kendaraan melintas pelan sebagai akibat letak lokasi ini yang tepat di sudut tikungan, membuat bunyi alam demikian memanja pendengaran. Sesaat, saya memegang erat birai biru trotoar, menatap teduhnya lautan yang membentang luas di hadapan saya, dengan sang surya yang sebentar lagi berpisah, bergilir dengan bulan sebagai penguasa malam.

Dalam hati saya berucap, terima kasih Tuhan, bisa mempertemukan saya kembali dengan tanah Kecimol, Gumi Sasak, Bumi Mataram, dengan semua kecantikan panorama alam yang bagi saya tiada banding. Meski saya tidak berdarah Sasak, namun saya lahir dan besar di sini, ini rumah saya, rumah yang sejauh apa pun saya pergi, selama apa pun saya tinggalkan, tetap menjadi rumah, yang akan selalu menyambut dengan tangan terbuka kepulangan anak-anaknya.

Lirih, lagu itu pun melantun, sebuah lagu tentang kecintaan kami terhadap kota tempat kami tinggal dan kesediaan mengabdi terhadapnya (saya sentimentil, ya begitulah saya):

Timaq ku lalo jaoq bedesan, bilin sida mirah
Deqku iniq, lupaq telang…
Desa dasan, lumbung alang, gunung gawah, bangket lendang,
Umbak umbul leq tamparan, leq Mataram, basubaya
Jari warga Kotamadya.

Sayang saya tidak terlalu fasih berbahasa Sasak, jadi saya tidak menyampaikan apa arti lirik itu dalam tulisan ini karena saya tidak terlalu yakin dengan artinya :haha. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya lagunya juga agak salah lokasi, sih, mengingat saya lagi ada di daerah Lombok Utara dan bukan di Mataram. Tapi, kecintaan terhadap kampung halaman kan tidak melulu harus terkurung dalam batas-batas administratif :hah :alasan.

Harus narsis supaya bisa eksis!
Harus narsis supaya bisa eksis!

Lombok, aku pulang!

Harus saya akui, bernyanyi kecil di tepi panorama seindah demikian itu betul-betul menggetarkan sanubari! Mungkin ditonton alam seperti ini rasanya jauh lebih hebat, jauh lebih spektakuler, dibandingkan bernyanyi dalam konser yang ditonton oleh ribuan orang :hehe.

Orang-orang yang pernah satu kendaraan dengan saya pasti tahu bagaimana saya kalau sudah bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan :hihi. Naik motor saja bisa seperti Giring Nidji! :haha.

Kami melanjutkan perjalanan, seakan enggan membiarkan matahari bergerak sendiri menuju peraduannya. Berdua, kami menuruni jalan terjal itu lagi, hati-hati di beberapa tikungan maut, mengecilkan gigi dan membiarkan mesin motor meraung-raung di tanjakan tinggi sebelum bernyanyi lagu Jepang kepunyaan Ikimonogakari keras-keras sambil melepas satu tangan di turunan setelahnya, membuat rombongan turis menatap kami sambil cengar-cengir. Tapi sensasi kecepatan tinggi itu susah diungkapkan! Dengan lagu pembakar semangat dan angin segar menerpa wajah, udara bersih, jauh dari polutan akrab yang selalu memapar di ibukota.

Butuh tiga puluh menit sebelum denyut kepariwisataan itu kembali terdeteksi. Di depan sebuah pasar seni (Pasar Seni Senggigi) kami berhenti, memarkir motor dan menguncinya (kali ini saya meninggalkan helm saya di sana saja :haha) sebelum masuk ke dalam pasar seni menuju pantai tersohor yang ada di halaman belakang pasar.

_MG_4078

Kami sudah memutuskan untuk bersenja di Senggigi.

Kenapa Senggigi? Well, karena sebenarnya hakikat perjalanan ini adalah sebagai ajang pergalauan kami berdua, dengan cerita-cerita lebay yang menurut kak Randy bisa membuat kami “duduk di tepian Senggigi sambil menangis” :malu, tentang kita dan orang-orang yang (pernah) ada di dalam kehidupan kita. Yang jelas tidak semua orang bisa membuat kami harus jauh-jauh memilih Senggigi sebagai tempat yang… bisa dijadikan tempat nongkrong sambil menangis cengeng, kan?

_MG_4077

Dengan deskripsi seperti itu, tahulah siapa yang kami maksud :hehe.

_MG_4069

Senggigi… tetap dengan panoramanya yang dahsyat. Memang hari itu berawan, jadi matahari tidak sempat mengucapkan salam perpisahannya yang penghabisan secara langsung kepada kami, tapi sajian terakhir sang bintang besar itu memang memastikan bahwa dirinyalah bintang sebenarnya di seluruh alam semesta. Dijadikan objek pemujaan bahkan sebelum waktu bergerak dan tahun berangka, matahari memang pusat dari segala alam semesta, yang akan tetap bersinar dengan intensitas yang sama, baik ketika dia dipuja, atau diabaikan oleh peneliti masa lampau yang menyatakan bumi adalah sumber segalanya.

_MG_4075

_MG_4076Sayangnya ada yang berbeda dengan Senggigi. Yang mungkin adalah ulah kaum kami juga, manusia yang mengeruk keuntungan ekonomi dari apa yang alam sediakan bagi kami. Kala itu, Senggigi seolah agak bersampah. Perahu-perahu nelayan menyangkutkan sampah yang terbawa aliran sungai di bawah dermaga. Pembangunan dermaga kecil yang sedang berlangsung di daerah itu mungkin juga turut menyumbangkan sebab, bagi bekas-bekas kertas semen yang menghiasi ombak di senja yang mulai menggelap. Belum lagi ditambah dengan muara dari sebuah sungai yang tak jadi mencapai laut, yang menguarkan bau halus nan menusuk.

_MG_4070

Oh Tuhan, ini Senggigi!

Namun kenyataannya memanglah demikian. Sebagaimana nasib Kuta di Bali dalam sebuah travelog abad ke-18 yang pernah saya baca, yang ditulis oleh traveler-traveler kolonial, yang juga saya percaya sebagai travelblog tanpa internet, mungkin para pengunjung datang ke Senggigi bukan untuk menikmati keindahan alamnya. Bukan pula untuk merasuk dalam kehidupan masyarakatnya, melainkan untuk sekadar menikmati dentuman musik keras dari kafe-kafe pinggir pantai, untuk merasakan pelayanan mewah dalam hotel-hotel berbintang yang dibangun di halaman depan pantai, untuk menyantap makanan-makanan mahal dari penyaji terkenal di restoran-restoran berpenerangan temaramnya obor di pinggir pantai berangin malam.

Perahu-perahu.
Perahu-perahu.

Jadi setelah matahari terbenam, kami bergerak menyisi ke arah selatan. Pada tanjung kecil kembar buatan yang jadi tonggak awal pertumbuhan Senggigi. Satu-satunya pemandu kami berjalan cuma berkas-berkas lampu terang dari restoran milik sebuah hotel yang ramai pengunjung bersantap malam. Tak kami hiraukanlah para wisatawan asing yang menyantap makanan mahalnya penuh minat, kami cuma ingin menikmati sepotong Senggigi terakhir yang masih tersisa.

Untungnya potongan itu masih ada. Tersembunyi di pinggiran pagar hotel, bernaungkan langit malam berlatar kerlip Mataram di belakang, tersisalah Senggigi untuk kami, para pejalan yang cuma mendamba buaian angin laut dan kerlipan bintang di atasnya. Deburan ombak beradu dengan karang di suatu tepi, sementara tak seberapa jauh di sebelahnya, seorang pemancing menunaikan ibadah senjanya di atas sebuah karang mendatar, dalam kegelapan yang hampir mutlak.

Semua tampak jauh.
Semua tampak jauh.

Saya terdiam menatap pemandangan itu. Bagaimana tepat di sebelah komersialisasi pariwisata yang saya anggap terlalu ekstrem, Tuhan masih berbaik hati menelungkupkan mangkok kacanya untuk pejalan-pejalan seperti kami yang belum rela melepas Senggigi bagi semua orang itu. Bagaimana kenyataan yang masih ada, keajaiban tentang kontrasnya cahaya di daerah ini mengajarkan kami untuk tetap tunduk pada kemahakuasaan Tuhan seru sekalian alam, tidak lantas menjadikan kami lupa dengan riuh-rendahnya dunia fana.

Dari sini, kami bisa melihat dua pantai sekaligus. Segara Batu Layar di sisi kiri, Senggigi di sisi kanan. Di kejauhan sana, cahaya Mataram yang menguar sampai Ampenan menjadi tanda. Lebih jauh lagi, samar temaram sinar kapal feri Lembar–Padangbai tampak kecil berkelip, seperti bintang senja di atas kami, membuat kami lupa dengan laut berkertas semen yang tadi kami lalui sebelum sampai ke tempat ini.

Lagi-lagi, di kejauhan.
Lagi-lagi, di kejauhan.

Ah, saya berkata asal dalam hati, mungkin saya harus merahasiakan sepotong Senggigi yang satu ini dalam gelapnya samudra…

Saya tak menyangka Tuhan menjawab permintaan saya, dengan pemadaman listrik tepat pada detik itu. Sebuah pemadaman yang membuat semua tempat, restoran dan bar itu, hitam gelap mutlak, sunyi senyap karena suara musik keras itu lenyap, meninggalkan gumaman dan seruan menyayangkan dari para wisatawan yang tidak bisa melihat makanannya. Padahal di sana masih ada lilin :hehe.

Just suppose it as the real candle light dinner–wasn’t it more romantic, then? Menurut saya sih sebenarnya demikian. Dengan lilin-lilin serta obor-obor yang cahayanya bergoyang tertiup angin laut, menyantap makanan dalam siraman cahaya seperti itu sebenarnya jadi dua ratus kali lebih romantis dan lebih hebat :hehe. Apalagi, dengan kedipan bintang dan bulan di atas sana, yang jauh lebih jelas terlihat apabila di sekitar tidak ada cahaya. Akhirnya, soal suara, oh, suara apakah yang lebih merdu dibandingkan kersikan pasir beradu dengan ombak, desiran angin, singkatnya, suara alam?

_MG_4074

Saya menengok ke belakang dan tersenyum dalam gelap. Paling tidak, potongan terakhir dari mozaik Senggigi itu juga tertelan dalam kegelapan malam :hehe.

Tapi saya tidak boleh egois. Jadi, satu petunjuk buat siapa pun yang ingin menikmati potongan terakhir dalam kegelapan Senggigi, hanya ada satu petunjuk juga :hehe, berjalanlah terus ke Selatan, teman, berjalanlah terus ke Selatan. Percabangan itu akan menjumpaimu dalam deburan ombak, desir angin menghias gerakan-gerakan malam.

Tapi tolong, satu pinta dari saya, jangan rusak potongan terakhir Senggigi kami dengan sampah-sampah, ya?

_MG_4080

61 thoughts on “Mencolek Malimbu dan Selintas Senggigi

    1. Beberapa masyarakat dan wisatawannya belum sadar Mas, kalau sampah itu bisa merusak semuanya :huhu. Mudah-mudahan waktu Mas ada kesempatan ke sana, kondisi kebersihannya sudah sedikit lebih baik. Malu saya, sebagai orang Lombok, menyajikan tempat wisata yang kurang bersih pada wisatawan, seperti membiarkan tamu berkunjung ke rumah yang tak terurus :huhu.

  1. Benci banget sama yg dengan entengnya nyampah. Waktu ke lampung kemarin aku sampe mungutin sampah2 plastik yg ada di pantai. Kesel ngeliatnya, yang lain gada yg peduli, atau jangan2 malah mereka yg nyampag

    1. Waa terima kasih, Mbak. Kalau ke Lombok, musti ke pantai-pantai ini, cuma ya itu, kadang agak zonk soalnya agak kotor. Tapi pemandangannya masih bagus sih :hehe.

    1. Syukurnya nggak banyak nyamuk Mbak, kecuali yang di dekat kali itu.
      Iya tidak terfoto, soalnya gelap, kamera saya rabun saat senja, Mbak :hehe.

  2. setiap senja di Lombok adalah hadiah indah yang diberikan Tuhan penuh niat pada seluruh penduduk Lombok
    –> setuju.. walaupun berkali-kali ke malimbu atau tanjung a’an rasanya ada yang berbeda setiap kesana. ngangenin.

  3. Ih sebel banget deh sama yg suka nyampah. Pernah waktu ke pantai di daerah bantul (lupa nama pantainya), ada ibu ibu rombongan pengajian, piknik disana.. trus bekas makanan nasi box nya, maen buang aja gak diberesin. Ih aku dah gondok banget, pengen negur tapi mereka berombongan gitu, masa kmaku hrs negur satu persatu sih.Akhirnya aku tanya aja panitianya siapa, trus langsung deh ngomong buat beresin sampah makanannya!

    1. Salut lho Mbak bisa negur ibu-ibu itu! Biasanya kalau mereka kita tegur, malah dimarahin balik *pengalaman pribadi*. Yah, kesadaran memang harus kita akui, masih kurang banget ya :huhu.

      1. iya makanya aku langsung cari panitiannya.. untungnya panitinya laki laki. Katanya sih nanti mau dibereain..tp entahlah bener diberesin atau engga, coz aku dah buru buru mau pulang.

    1. Eh iya banget itu mah kalau Ayam Taliwang, aku juga kangen :haha.
      Nggak bisa… tapi sedikit-sedikit ngerti, sih. Ibuku tuh baru pinter, maklum dia pedagang di pasar tradisional :hehe.

      1. Di sini ada sih cafe baru yang nyediain menu Ayam Taliwang. Rasanya hampir sama enaknya kayak yang di Lombok. Cumak kan Medan ngga punya pantai ketjeh! πŸ˜› *alesan aja biar balik ke Lombok*

        Waaaaaa.. Pengen belajaaaar πŸ˜€

        1. Pantai di Sumatera Utara adanya di mana Beb? Tapanuli? Tapanuli. Tapian na Uli :hihi.
          Di postingan selanjutnya saya ada beberapa kalimat pakai bahasa Sasak :hehe. Mohon ditunggu :)).

  4. setuju banget gara, tabu buat nglewatin senja di lombok. dan malimbu adalah salah satu tempat yang wow untuk menyaksikan kebesaran yang maha kuasa.

    btw gara ngomong-ngomong soal pantai malimbu. saya dan temen-temen pertama kali denger disana tuh salah kopi dengernya pantai malibu. halaaah biar si bli yang nganterin jalan-jalan udah benerin tetep aja kita bandel mlesetin jadi pantai malibu mhuahahahah

    hal lain mau grrrr dulu soal sampah gara, enggak banget deh soal sampah ini. kog gak sadar-sadar sampah itu bikin rusak pemandangan aja ya…

    salam
    /kayka

    1. Kalau mau jujur, pas SMA saya juga kiranya Malibu, sih Mbak :haha. Setahun kemudian baru sadar kalau yang benar itu Malimbu :wkwk.
      Yah, semoga ada kesadaran ya Mbak, tapi kalau saya sekarang usahanya dimulai dari diri sendiri dulu :hehe, berusaha tidak buang sembarangan, terus kalau tidak ada tempat sampah, dikantongin.
      Kalau di Eropa sana mesti sudah sadar banget ya Mbak :)).

      1. hahahha sama ternyata mungkin karena kita udah denger malibu duluan ya wkwkwkwkwk

        betul mesti dari diri sendiri dulu. ada rasa bangga lho gar saat kita bisa tahan tidak membuang sampah sembarangan dan kemudian membuangnya begitu ketemu tempat sampah. artinya udah mengurangi satu orang yang suka buang sampah sembarangan πŸ™‚

        disini kesadaran tinggi gar. tapi makin besar kotanya makin berkurang kesadarannnya alias ada aja sampahnya. mungkin karena masyarakatnya sangat majemuk ya datang dari tempat yang tidak punya budaya membuang sampah pada tempatnya. cuma bedanya gak lama langsung ada yang bersihin gitu…

        salam
        /kayka

        1. Setuju. Budaya “clean your own mess” itu juga bagus banget Mbak buat diterapin di negara kita, yah dari kita yang kecil-kecilan dulu mah :hehe.
          Oh… demikian. Yah kalau sudah budaya agak susah ya, semoga saja orang itu cepat adaptasi dengan budaya di sana :)).

  5. Eh bang, btw, pose temen bang gara itu gayanya hampir sama deh dari foto satu sampai tiga. Dia konsekuen banget ya wkwkw πŸ˜€

    Wohoo aku selalu suka sama senja di pantai :’ keren gimana gitu bang :’ tapi tetep sih, kenapa harus ada sampah ditengah keindahan pantai :’

    foto terakhir pecah banget, awannya, pantainya, perahunya. keceeee πŸ˜€

    1. Soalnya dia yang pegang tongsis dan di depan kami ada orang jadi posenya mesti diatur Feb :haha.
      Iya, keren memang, nanti pulang kampung saya mau puas-puasin mencari senja di pantai, ah, biar keren! :wkwk.
      Terima kasih banyak! :)).

      1. Wihihihi segitunya ya Bang πŸ˜€ kayaknya orang yang bawa tongsis itu gayanya kayak gitu semua ya πŸ˜€ wwkwkw

        Ajakiiiin aku Bang πŸ˜€ menikmati senja rame-rame gokil kalik bang πŸ˜€

  6. Baru tahu ternyata Bli Gara kampungnya di Lombok haha. (dan baru tahu kalau ternyata Bli Gara termasuk berjiwa narsis). Pantainya keren..semoga selalu bersih sampai suatu nanti saya bisa kesana

    1. Itu narsis karena kebetulan ada tongsis, Mbok. Biasanya mah susah buat narsis :haha *alasan banget ini mah*.
      Iya, mudah-mudahan bersih terus :)).

  7. Kesalahanku karena nggak tahu ada postingan ini. Ya Tuhan, Ya Rabb, lautnya…senjanya…
    Cantik! (Sayang yg narsis di foto ga cantik)

  8. Seorang teman pernah bercerita katanya Lombok bisa dikelilingi dalam sehari. Bahkan uniknya meski pulaunya kecil tapi kaya akan bahasa. Saya tidak menyangka kalau Pantai Senggigi yang menjadi kebanggaan masyarakat Lombok sekarang sangat keruh. Emm kapan ya bisa menikmati ayam taliwang asli Lombok. Sebab selama ini saya merasa kurang afdhal. Sering makan ayam taliwang tapi yang masak orang Jawa. Adik saya bilang, ayam taliwang asli Lombok jauh lebih nikmat daripada yang sering saya makan. Gak sabar menunggu tiket gratis dari adik saya.

    1. Semangat menanti ya Mas, semoga perjalanannya ke Lombok menyenangkan. Wah, saya tidak menyalahkan pendapat itu sih, mengelilingi doang memang bisa, tapi menggali cerita dari Lombok dalam satu hari, saya agak menyangsikan itu :hehe.

      1. Iya juga ya Bli, sekecil-kecilnya Pulau Lombok pasti menyimpan banyak cerita. Terutama Mataram. Pas bulan Maret waktu saya ke Jawa, teman2 saya pada backpacking ke Gili Trawangan. Sumpah saya nyesel banget gak ikut bareng mereka. Jadi iri waktu mereka pamer foto di bbm. Huft!

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?