Menara Syahbandar Batavia

Sore tadi aku menerawang.

Jauh pada masa lampau, tatkala Sang Ratu dari Timur masih menyibakkan kemegahan gaun nan anggun miliknya. Dengan kanal-kanal lebar membentang dari pelabuhan sampai rumah peristirahatan di kaki Gunung Salak, berkilau tertimpa sinar mentari senja. Orang-orang berpesta di dalam kastil. Gubernur Jenderal menyelenggarakan pernikahan putri tunggalnya. Langit beranjak ungu pekat, dengan semburat jingga jernih di horizon. Senja menjelang. Semarak di tengah pesta.

img_3166

img_3158

Tapi tidak semua orang larut dalam keriangan. Aku mengisi Dagregister kota, pada sebuah meja kecil di lantai tiga. Dekat empat jendela lebar berwarna kemerahan. Warna terang untuk memandu kapal pembawa rempah. Langkah-langkah terdengar di lantai atas. Sahabat-sahabatku mungkin sibuk mencocokkan jumlah kapal masuk dengan jumlah kapal berangkat dari Enkhuizen delapan minggu silam. Aku tinggal menunggu laporan untuk dimasukkan dalam catatan kota.

Angin berembus masuk, membawa aroma air laut yang demikian khas. Kutatap tugu hadiah dari pedagang Tionghoa di bawah sana. Tugu beraksara Tiongkok yang kata pedagang ikan di pasar menunjukkan titik awal jarak di Batavia. Tapi bagiku itu tidak penting; toh dari bastion mana pun kita tahu persis berapa jarak dari bastion itu ke tempatku berada sekarang.

img_3161

Kesibukan masih saja terjadi di Gudang Penyimpanan Timur dan Barat. Wangi rempah tercium jelas dari sini, terbawa angin semilir. Tajam, eksotis, khas kepulauan timur. Aku menghela napas lega, membayangkan berapa keuntungan yang akan didapat perusahaan. Kenaikan gaji yang langsung membayang di kepala membuatku mempercepat pekerjaan, dengan tetap berusaha memperbagus tulisan di perkamen-perkamen itu.

Ketika aku selesai, dan aku mendaki ke ruang pantau, matahari telah terbenam di barat sana. Kapal-kapal mulai menyalakan lampunya. Tiga kapal di kejauhan sana tampak mendekat. Aku tahu itu kapal-kapal dari kantor kami di Jepang. Semoga saja mereka membawa banyak keuntungan, seperti perjalanan terakhir ke sana (aku juga ikut, untuk membuat catatan harian).

Ketika malam turun, Batavia masih berdenyut dengan kemakmurannya. Kuharap kemakmuran ini akan terus bertahan, seratus, dua ratus, bahkan lima ratus tahun ke depan. Kami ingin meninggikan tembok kastil dan menambah armada pertempuran.

Selain itu, Gudang Penyimpanan Timur tampaknya harus diperluas.

img_3154

3 thoughts on “Menara Syahbandar Batavia

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?