Menapak Malam di Kota Bawor (1): Kekenyangan di Pratistha Harsa

Semestinya saya menulis tentang Cilacap, meski sejatinya di sana kami juga tidak ke mana-mana lantaran waktu kunjung yang begitu singkat, kurang dari sepuluh jam. Bohong juga sih, sebenarnya ada tempat makan yang kami sambangi, sebuah warung yang kata abang-abang sopir terkenal dengan sop iganya. Dan sop iganya terbukti enak, pakai banget. Belum lagi dengan warung makannya yang unik dengan menu tertuliskan di plakat-plakat kayu berusia tua.

Tapi sayang, semua memori di tablet saya (termasuk foto-foto itu) hilang tanpa sempat saya duplikatkan sebelumnya gara-gara tablet saya terserang error-error yang sangat mengganggu. Apesnya lagi, kala itu saya alpa menggunakan kamera DSLR ini gara-gara tengsin, mengingat saya berpikir alangkah malunya kalau cuma saya satu-satunya pengunjung yang jejepretan sana sini buat mengabadikan warung makan yang menurut saya ringkih tapi tetap bernapas itu.

Padahal saya mengaku sebagai travel blogger kan ya, jadi bukankah jejepretan buat mengabadikan momen ruang dan waktu itu adalah keniscayaan?

Baca juga: Sawah, Sungai, Jembatan, Hutan: Barat Daya Jawa Tengah

Belum lagi dengan fakta bahwa saya harus ketiduran sepanjang perjalanan pulang gara-gara kecapaian. Padahal kerja saya juga apa, selain duduk manis dan menunggu di dalam mobil. Sedang enak-enaknya tidur, Mbak Er membangunkan saya karena dia heran melihat saya tidak memotret bangunan yang dengannya Cilacap menjadi terkenal.

Saya terkesiap, gelagapan sebentar, sebelum kagum dengan bangunan itu, dan hampir saja kelupaan memotretnya sebelumΒ buru-buru mengangkat kamera, menjepret, tanpa sempat mengatur setting-an apa-apa. Walhasil gambarnya blur banget dan kurang layak diangkat dalam postingan ini.

Tahu kan ini landmark apa?

pertamina-refinery-iv-cilacap
Yang menjadikan Cilacap tersohor, monumennya pun ada di kota.

Ah, betapa menyesalnya! Tapi yah, akhirnya jadi pelajaran juga sih, bagi saya. Lain kali mesti lebih sigap. Lain kali riset dulu sebelum mau jalan, jadi tahu di mana belokan yang jarang dilewati orang, kalau kata banyak blogger senior, minimal tahu the road less traveled, lah. Jadi bisa lebih siap kalau mau ambil gambar. Jangan lupa juga, istirahat yang cukup, jadi siangnya tidak ngantuk dan tertidur di atas mobil.

Dan demikianlah, sore menjelang, berganti malam yang turun di Purwokerto, sesuatu yang saya nantikan karena Mbak Er akan mengajak saya menggali beberapa kuliner khas kota dengan banyak Bagong di mana-mana ini. Tapi semua sempat akan terhenti karena mendadak, hujan turun, petir menyambar. Kata Mbak Er, Purwokerto memang terkenal dengan petirnya yang alakazam. Besar-besar dan tajam-tajam. Saya kurang mengerti itu deskripsi yang macam apa, tapi demikianlah katanya.

Bolak-balik saya menggerutu. Kenapa saya selalu harus berjumpa dengan hujan pada setiap perjalanan? Eh, mudah-mudahan itu artinya saya jadi pembawa berkah secara sangat-sangat kebetulan, ya (karena hujan adalah pembawa berkah, kan). Namun saya sempat menggerutu: kalau hujan sih tak apalah, tapi ini ada petir juga, apa pasal kalau kami jalan-jalan dan kebetulan saat kami ada di bawah pohon, geledek menyerbu? Kan bisa gosong?

Beruntung, kerabat Mbak Er datang ke penginapan, dan membawa benda yang sangat kami perlukan saat itu (baca: payung). Kita mengobrol sebentar, biasa, basa-basi dan kenal-kenalan, masing-masing saling tanya kabar. Setelah itu, langsung keluar gang hotel menuju jalan protokol kota, menuju ke arah alun-alun.

Bagi saya, Purwokerto itu permai. Tidak tahu kenapa, tapi rasanya begitu. Saya memang suka punya “rasa” akan tempat yang saya kunjungi dan “rasa” itu pun terpupuk menjadi kesan. Dalam kasus ini, mungkin saya merasa demikian karena ini baru jam delapan tapi jalanan sudah sepi. Orang emoh keluar gara-gara hujan. Atau mungkin karena kota ini ada di kaki gunung, jadinya udaranya enak dan sejuk meski tidak sedingin Malang atau Batu yang ada di lembah Gunung Arjuna.

Coba bandingkan dengan Jakarta.

Mbak Er dan sang ayah mengajak saya menuju sebuah bangunan baru di tepi Jl. Jenderal Sudirman. Namanya Pusat Kuliner Pratistha Harsa. Lambang Pemerintah Kabupaten Banyumas terpajang gagah di atas nama pusat kuliner ini, mengingatkan saya pada kop surat.

Bisa tidak jangan memikirkan pekerjaan kantor?

Bangunannya besar dan cukup bersih (cukup lho, ya). Di bagian depan ada ruko seperti swalayan kecil, yang ternyata pusat kerajinan dan oleh-oleh makanan. Sementara itu, bagian belakang pasar modern ini (saya sebut pasar saja, ya) disulap menjadi semacam food court yang menyajikan makan-makanan khas dari Kabupaten Banyumas. Kata Mbak Er, pedagang-pedagang yang ada di sini sebagian besar “gusuran” dari alun-alun, karena daerah alun-alun akan ditata supaya jadi taman yang lebih baik.

Sepertinya semua kota mulai menggusur pedagang kaki lima di alun-alun. Tak apalah selama mereka diberikan tempat yang lebih baik.

Namun untuk kasus Purwokerto, sempat agak skeptis saya mendengar itu. Ditata supaya jadi taman yang lebih baik, atau ditata karena ada hotel guede mau dibangun di depannya? Lha wong alun-alun Jakarta yang ada dua biji itu saja masih banyak PKL-nya, kok (tulisan ini diketik medio 2015).

Food court a la Purwokerto itu memanjang, sampai ke bagian belakang sana, dan malam itu juga tidak terlalu ramai karena hujan lagi deras-derasnya. Baru setelah hujan mulai mereda, sekitar sepuluh menit kemudian, pengunjung mulai berdatangan, yang menurut saya, mayoritas juga wisatawan.

Duh, lagi-lagi tidak sempat mengabadikan suasana sekitar, karena perut sudah lapar! Saya dipesankan makanan khas dari daerah sana, tentunya. Jauh-jauh ke Purwokerto cuma buat makan bakso dan nasi goreng tentunya sangat sayang. Jadilah, setelah menunggu beberapa (belas) menit, makanan-makanan itu tiba di depan saya. Kita mulai dengan semangkuk makanan pokok.

Sroto Sokaraja!

sroto-sokaraja-banyumas
Sroto Sokaraja Khas Banyumas.

Yang khas dari makanan ini kalau menurut saya, adanya bau kacang samar masuk ke dalam hidung. Terus kerupuk warna-warni yang kalau istilah kami namanya Kerupuk Wantek No. 9 #peace. Sroto ini isinya ada ketupat, bihun, kecambah, dan daging ayam yang banyak. Suka bangetlah saya dengan olahan kalau banyak daging dan ketupatnya, jadi kenyang! Semangkuk ini rasanya padat banget, dan semua itu disiram dengan kuah kaldu bening yang di dalamnya ternyata tercampur dengan bumbu kacang kaya rasa.

Rasanya? Wihi, mak nyuss. Dasar sayanya suka makan sih, ya, jadi apa saja ya enak, apalagi kalau sedang lapar. Suka dengan tumbukan kacang yang tiba-tiba menghias kuahnya dan melumat saat dikunyah bersama dengan ketupat dan daging ayam yang banyak itu (mesti banget ditegaskan), terus dengan rasa kuahnya yang gurih banget, porsinya yang banyak, apalagi dengan harga yang sangat murah, yang ternyata cuma Rp10k.

Surga banget itu, kalau buat saya.

Nah, satu lagi yang unik dari makanan itu ya soal kecambahnya. Lebih besar dari kecambah pada umumnya, dan kata Mbak Er, memang bukan kecambah seperti yang biasa ada di pecel atau ketoprak yang umum saya santap di ibukota. Kalau saya tidak salah, ini kecambah kacang kedelai, ya? Soalnya ukurannya lebih besar.

Ah, yang penting kenyang!

Lanjut dengan kuliner lainnya, padahal sebelumnya bilang kenyang tapi begitu sepiring gorengan ini mendarat di depan mata, tetap saja saya habiskan sedikit demi sedikit sampai akhirnya licin tak bersisa.

gorengan-khas-banyumas
Sepiring gorengan khas yang saya cicipi malam itu.

Tentunya pembaca budiman sudah kenal dengan Tempe Mendoan. Tempe yang digoreng “mendo” alias seperempat matang, dalam minyak yang banyak dan panas. Celup, diamkan sebentar, balik, tunggu sebentar lagi, langsung diangkat, demikian kira-kira prosesnya, yang membuat tempe mendoan ini tentunya sangat basah, dan belum garing, ketika mendarat di atas meja. Tapi bukan berarti tidak matang, ya. Saya sih belum pernah merasakan tempe mendoan yang masih berasa tempe mentah di dalam mulut.

Mungkin karena tempe yang digunakan juga khusus? Alih-alih mengiris sepapan tempe, tempe mendoan kan menggunakan tempe yang memang dibuat selapis-selapis, dibungkus daun pisang, jadi kedelainya utuh-utuh, tidak terpotong sebagaimana tempe iris. Di Jakarta juga saya menemukan tempe mendoan yang seperti ini, jadi kalau ada yang penasaran “tempe kedelai utuh” itu seperti apa, boleh mampir ke dagang tempe mendoan yang tersebar di mana-mana. Sejauh ini sih semua dagang tempe mendoan yang saya temui di Jakarta juga menggunakan tempe seperti itu, kalau ada yang pakai tempe iris, itu namanya dagang gorengan.

Nah, yang unik justru gorengan yang satu lagi, namanya ranjem dan bentuknya bulat-bulat. Awalnya saya kira itu combro, di dalamnya juga ada potongan cabai rawit sebagai ranjau, tapi rasanya sedikit berbeda… dan benar saja. Kata Mbak Er, ranjem ini dibuat dari ampas tahu! Pantas rasanya unik begini, ya. Bahannya pun tidak biasa, karena ampas tahu biasanya dipakai untuk pakan ternak. Jadi saya memakan pakan ternak?

Ha, peduli amat, yang penting enak :haha. Buat saya yang pecinta pedas, ini favorit banget.

Gorengan satu lagi juga tak kalah unik, dan ini dia favorit saya, sampai saya memajangnya di depan bidang potret. Namanya dage, dan warnanya hitam, cuma baluran tepung goreng saja yang menyematkan predikat gorengan padanya. Yang unik, dage dibuat dari ampas kelapa dengan beberapa bumbu, jadi citarasanya gurih-gurih manis, juga mengenyangkan. Pokoknya menyenangkan.

Kata Mbak Er, dage ini juga dibuat kripiknya, ya namanya Kripik Dage, sebagai solusi untuk pecinta dage tapi tidak bisa membawanya ke luar daerah gara-gara si dage cuma bertahan beberapa jam (sebagaimana semua olahan parutan kelapa segar pada umumnya). Semoga kami bisa menemukannya pada saat hunting oleh-oleh nanti (ini juga ternyata ada kisahnya sendiri, lho).

Semangkok soto yang padat ketupat, sudah. Sepiring gorengan, juga sudah, dan itu kebanyakan saya santap sendiri. Tapi mungkin saya sebenarnya masih lapar, jadi ketika melihat ada kuliner unik yang dipesan Mbak Er, saya langsung minta abang-abangnya untuk menambah satu porsi lagi. Mbak Er tampak agak kaget mendengar itu, dia bilang saya gila banget masih bisa makan itu, padahal makanan yang dipesan adalah makanan yang bagi beberapa orang ekstrem.

keong-sawah-tutut-banyumas
Keong sawah alias tutut, lengkap dengan cangkangnya.

Oh, sejak kapan keong sawah jadi makanan ekstrem? Di kampung halaman saya, Mataram, keong sawah mah favorit. Disate dengan bumbu pedas.

Tapi mari kembali ke Purwokerto. Sepiring keong sawah tersaji di depan saya, dan memang, saya agak kaget juga, karena di sini ternyata keongnya masih lengkap dengan cangkangnya. Di tempat saya, keongnya sudah lepas, jadi sate keong yang enak banget. Di sini, kita butuh sedikit usaha dengan tusuk gigi buat memaksa si daging kecil-kecil-kenyal-gurih itu buat keluar dari cangkangnya.

Rasanya enyaak. Kuahnya ini pun rupanya kaya bumbu, dan meresap ke dalam daging keongnya. Agak peer memang makannya, apalagi mesti hati-hati soalnya kadang ada butiran pasir kecil nyasar sampai ke dalam keongnya, tapi secara keseluruhan ini enak.

Harganya juga enak banget di kantong, cuma Rp5k! Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, kalau kau bisa makan di tempat yang enak, bersama orang-orang baik, dengan harga yang tidak membuat likuiditasmu terancam?

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Setelah membayar semuanya (yang tentu saja kurang dari Rp50k untuk tiga orang itu), kami melangkahkan kaki menuju ke arah depan pusat kuliner ini, mencoba menggali cerita yang masih tersisa di swalayan depan sana.

Ceritanya masih banyak, jadi jurnal ini masih akan panjang.

69 thoughts on “Menapak Malam di Kota Bawor (1): Kekenyangan di Pratistha Harsa

  1. Wah kenapa makanannya serba ampas? Ada ampas tahu, ampas kelapa. Eh ada juga loh jenis makanan yg enak, yaitu menjes, entah tahu atau tempe busuk yg digoreng.

    Klo keong sawah waktu kecil juga banyak diperjual belikan di daerah saya. Cuma sekarang saya nggak pernah liat lagi. Mungkin orang jamansekarang udah nggak doyan sama begituan.

    Satu2 kesimpulan dari postingan kali ini adalah ternyata mas gara porsi makannya banyak ha ha ha……

    1. Mungkin alasannya sama dengan kenapa banyak banget olahan jerohan di Indonesia, khususnya Jawa, hehe.
      Saya masih doyan keong sawah, haha. Plis jangan menghilang #eh
      Wah itu dulu Mas… hehe.

  2. Srotonya nampak menarik, hehehe πŸ˜€ .

    Mengambil foto memang susah, diperlukan kesabaran banget karena momen yang pas nggak ada setiap waktu kan, hehehe πŸ˜€

    1. Ini jalannya sudah awal 2015 kemarin Mas, haha. Jadi sudah hampir 2 tahun lalu (semoga jawaban ini nyambung dengan komentarnya Mas, haha). Iya Banjarnegara mah lumayan jauhnya dari sini. Tapi kalau saya kebetulan plesir ke Banjarnegara tentu saja saya akan kabar-kabar Mas, hehe.

  3. Sroto dan tututnya menggugah selera. Waktu kecil tinggal di desa yang dikelilingi sawah, hampir tiap hari menyantap tutut dan selalu ketagihan. Dulu kesan saya saat berkunjung ke Purwokerto, kotanya lumayan bersih dibandingkan JaBoDeTaBek.

    1. Iya, tutut memang enak banget Mas. Sampai sekarang juga saya masih suka, sayang pedagang di Mataram langganan saya sudah tidak berjualan lagi karena sudah sepuh banget. Kalau kesan saya, Purwokerto itu permai, haha.

      1. Tapi di Kalimantan belum pernah lihat sawah meskipun ada juga sawah di sini. Sawahnya tanah kering sih. Hehe… Setiap menurunkan kaki di Purwokerto pas kebetulan malam hari karena cuma singgah untuk makan dalam perjalanan Bogor-Semarang dan sebaliknya. Jadi belum pernah melihat keasriannya. Hanya tahu kebersihannya saja.

          1. Variasi Bli, supaya tahu daerah orang. Keseringan sih lewat pantura. Karena pada waktu itu ibu saya tinggal di Sumedang, saya naik bis dari Semarang ke arah selatan dan melewati Purwokerto.

    1. Pokoknya keluar-keluar dari Pratistha Harsa saya kekenyangan banget sampai susah jalan, haha. Iya, mendoannya memang enak banget. Pulang-pulang dari sana saya juga jadi suka tempe mendoan sampai sekarang. Wah iya tututnya memang enak banget, hehe.

  4. Wah urat malunya harus segera diputus hehe, dulu awal-awal pegang kamera juga gitu, suka tengsin kalau moto dilihatin orang banyak. Sekarang mah masa bodoh haha.
    Aku ngences keong sawahnya hiks, tempe mendoan tidak pernah alpa kalau lagi ke Banyumas. Ah saya seumur idup baru dua kali ke sana haha. Unik ya nama tempatnya pakai sansekerta πŸ™‚

    1. Iya, sekarang untungnya sudah lebih baik, sudah tidak begitu malu lagi. Mesti banyak-banyak turun ke lapangan supaya bisa benar2 putus urat malunya, haha.
      Enak-enak kuliner di sana. Tapi beberapa sudah ada di Jakarta jadi kalau sedang kepengin bisa sedikit melipur. Yep, namanya indah, tapi bagaikan sindiran juga. Kita bahas di postingan selanjutnya, satu siklus setelah ini, hehe.

  5. Suka dengan rasa Sroto Sokaraja, Gar? Brarti lidah sudah oke dengan kuliner Banyumasan dan sudah bisa dianggap sebagai bloher kuliner hahahaha. Soalnya nggak semua orang suka dengan campuran bumbu kacang di Sroto Sokaraja. Lanjutken ekspedisi kulinernya di daerah lain. πŸ˜€

    1. Lumayan sih Mas, hehe. Saya penyuka olahan kacang jadi rasa kuah kacangnya bisa diterima, apalagi daging dan ketupatnya banyak, bisa dicampur sambal juga jadi enak deh pokoknya. Waduh belum mah kalau bloher kuliner Mas, lha wong makan-makan makanan khas yang saya dokumentasikan sepertinya hanya ini, selebihnya ya balik situs lagi situs lagi, haha. Tapi boleh juga kali ya…

  6. AKu tau nih, kalau kita liburan bareng suatu saat nanti akan ke mana saja: MAKAN MAKAN!

    Hahahha terbukti foto makananmu lebih lezat dibanding tugu apa itu di sana itu HAHAHA

    1. Hehe… kalau sroto sokaraja sekarang tidak jadi terlalu eksklusif lagi soalnya di kantin kantor sudah ada dagangnya. Tapi kalau dage memang baru sekali juga saya makannya, hehe.

  7. Kangeen…dulu kita dari UGM prakteknya disini..Btw, kerupuk warna-warni disana stilahnya kerupuk Wantek No. 9 ya ? wkwk lucu juga…Ajib itu penampakan Sroto, aku suka banget, makan pake sambel dengan level pedas 11 πŸ˜€ huaaaa muantep, plus mendoan πŸ™‚

  8. Ih Garaaa.. Srotonya bikin ngiler!

    Aku juga sering tuh kecolongan gak motret, dan biasanya emang karena kecapekan, ketiduran di mobil, atau batere hape/kamera udah keburu abis. πŸ˜€

  9. btw mas gara klo lagi di suatu daerah, lebih milih makanan khas daerah tersebut atau cari yg aman? soalnya kan ada makanan daerah yg terkenal banget, tapi mau makan takut gak enak, takut ga cocok di lidah atau kebingungan yg lain

    1. Syukurlah saya jarang tidak cocok dengan makanan tertentu sehingga semua bisa saya makan. Saya memilih makanan khas, hehe… jika makanan khasnya tidak cocok di lidah, tak apa, kan sudah dicoba.

      1. pengennya gtu mas gara, nyobain, sepet waktu itu mau nyoba rujak soto, atau rujak es gtu loh aku lupa, udah pesen padahal, tapi takut banget klo mau makan jadinya ga nyoba, padahal pgn tau kan sayang udah kesana tapi ga totalitas πŸ™ , mngkin ada tips biar gak takut untuk nyoba-nyoba gtu, heheh

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?