Mausoleum Dinger #2: Pembuktian, Definisi Ulang Pengabaian

Kalau-kalau ada yang bertanya, saya berteriak histeris dalam artian harfiah. Sampai-sampai saya kayaknya tidak bisa bernapas barang beberapa saat. Tidak bisa mencerna pemandangan lain yang ada di sekitar saya, kecuali satu monumen dan hanya satu monumen itulah, yang mengisi ruang pandang ini sepenuh-penuhnya.

Pattern.
Pattern.

Tuhan, kalau saja saya bisa memeluk monumen itu, pasti dia sudah saya peluk!

Jelas, saya tak mampu berkata. Dan yang keluar dari mulut saya cuma, “Gila. Ini bukan makam. Ini… monumen.”

Perasaan hati ini campur aduk ketika pertama kali melihatnya. Ada keprihatinan kuat dan mendasar melihat bagaimana mengenaskannya bentuk dan kondisi dari Makam Dinger ini. Ada kekaguman, karena mausoleum sebesar ini didirikan hanya untuk makam–bukan rumah tinggal, tangsi militer, rumah sakit, apalagi pusat pemerintahan. Ini makam. Makam yang, bagi saya, monumental.

Saking takjubnya, saya sampai merinding. Entah sudah berapa tahun monumen ini berdiri, tapi sampai tahun 2015, tempat ini masih ada, berlatar perkebunan, dan pegunungan sejuk nan berkabut. Dia masih bertahan, meski mungkin orang hanya melewatinya dalam perjalanan turun menuju taman bermain yang ramai, menganggapnya bangunan tua tak terurus.

Itu namanya pengabaian, kan?

Pertama kali yang saya lakukan setelah memarkir motor di pelataran berumput dan berlumpur itu adalah mengecek beberapa informasi di buku tersebut, dan sumber lain yang bisa saya temukan. Sebuah buku yang saya temukan di dunia maya mengkonfirmasi bahwa benar, di sini dulu dimakamkan keluarga dari seorang tuan tanah bernama Dinger, dengan luas perkebunan yang ia miliki mencapai 1.000 hektar (itu artinya 10km2). Ia kemudian mendirikan sebuah perusahaan untuk mengelola perkebunan kina dan kopi ini, namanya Firma Gabes.

Saya rasa Gabes mendapatkan namanya dari nama firma ini.

Untuk Keluarga Dinger.
Untuk Keluarga Dinger.

Pada saat perang kemerdekaan, Tuan Dinger (yang saya pikir adalah keturunannya) menyerahkan perkebunan ini kepada orang kepercayaannya, bernama Kuwat. Ekonomi yang gonjang-ganjing membuat usaha perkebunan ini mencapai kehancuran, dan akhirnya, Kuwat menjual perkebunan ini kepada TNI pada tahun 1958.

Ini adalah bukti kenapa wilayah ini kini menjadi perumahan militer.

Biarkan dia bercerita.
Biarkan dia bercerita.

Setelahnya saya menutup tablet, dan membiarkan bangunan ini bercerita sendiri, karena bagaimanapun, cerita dari tangan pertama pasti lebih sahih daripada berita dari pihak ketiga.

Kami pun mendekat, tentu saja, demi Tuhan. Tidak ada jalan masuk yang tegak lurus menuju makam ini kalau dari jalan besar. Seseorang harus menggunakan jalan di sebelahnya, yang tentu saja bukan dimaksudkan untuk menuju ke areal makam. Tapi untuk rumah di sebelahnya, yang jarak antara pagar tingginya dengan Makam Dinger tidak sampai sepuluh meter.

Mei 2015 dan keadaannya seperti ini.
Mei 2015 dan keadaan tangga grandenya seperti ini.

Sementara di depan kami? Ilalang yang lumayan tinggi, tumbuh di atas tanah yang mengubur sesuatu, yang saya yakin betul adalah anak tangga karena di atasnya juga ada anak tangga serupa, semakin ke atas semakin menyempit. Persis seperti tangga grande yang umum ada di lobi-lobi bangunan zaman kolonial akhir.

Kami memarkir kendaraan bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari megahnya struktur di depan kami, meski selain megah, Makam Dinger tampak tua dan mengenaskan. Lumut memang musuh utama, cat bangunan yang sewarna putih tulang sudah berbercak di sana-sini karena paparan sinar matahari dan lumut yang terus tumbuh. Di balkon yang tampak dari sini saja, saya bisa melihat ilalang tumbuh di depan jendela yang tertutup perlak biru.

Perlengkapan perang kami :haha.
Perlengkapan perang kami :haha. Dan sampah.

Tapi, dengan semua itu, bangunan ini masih tampak sangat kokoh. Tak berkejap mata ini kalau menatapnya. Mendung masih terus bergelayut, seolah memayungi kami yang sedang menghadap makam monumental itu. Dari bawah sini, jalan yang menghubungkan tangga dan bangunan utama tampak setinggi satu setengah meter, menandakan kemegahan bangunan ini memang tidak dibuat-buat.

Beberapa coret-coretan tak membuat saya heran. Di mana sih, ada tempat kosong yang tidak tercoreti pada bangunan bersejarah, kecuali bangunan itu sudah dijaga dua puluh empat jam?

Mencari coretan? Tak usah repot.
Mencari coretan? Tak usah repot.

Ini sudah jam setengah dua belas siang tapi mendung dan kabut membuat sinar matahari hampir-hampir tidak terasa. Kami pun mengira kalau saat itu masih pukul sembilan di pagi hari. Hah, memang, waktu serasa terbang kalau saya sudah ada di tempat-tempat yang membahagiakan seperti ini.

Meski kala itu, kebahagiaan saya terasa tertutup, seperti langit biru yang tertutupi mendung. Tertutup dengan keprihatinan, tanya, rasa kesal, dan sejuta campuran dan adukan perasaan yang membuat hati ini terasa geram.

Dari semua bangunan ini, yang masih bertahan cuma bangunan utama dan sebuah jalan kecil bertangga grande yang letaknya lebih tinggi dari sekitar. Tulisan yang termakan usia di puncak makam membuat saya mendekat untuk mengamati lebih lekat.

Mari mendekat dan mengamati!
Mari mendekat dan mengamati!

Tulisan di tengah tak jelas terbaca. “…LIE GRAF”, dan di bawahnya tulisan “DINGER” dalam ukuran yang lebih besar. Oh, rupanya dari sanalah makam ini mendapatkan namanya. Tentang kata pertama yang kabur karena tertutup lumut, beberapa buku menyertakan asumsi yang berbeda, tapi satu hal yang pasti, mereka sepakat kalau kata itu adalah “FAMILIE”, atau keluarga.

Familie Graf, DINGER.
Familie Graf, DINGER.

Dan kalau saya mengartikan “graf” sebagai “grave” karena bunyinya yang mirip, bukankah tulisan ini bisa diartikan sebagai “Makam Keluarga Dinger”?

Tulisan di kiri dan kanan jauh lebih mudah ditafsirkan. “Anno”, berasal dari “Anno Domini”, dan “1917”. Dugaan awal, monumen ini didirikan pada tahun 1917. Bisa juga berarti, orang (atau orang-orang) dimakamkan di sini pada tahun 1917. Dua tahun lagi, dan monumen ini sudah berusia 100 tahun.

Anno.
Anno.
1917.
1917.

Pertanyaan besarnya, apakah monumen ini bisa bertahan sampai 100 tahun lagi?

Iseng, saya lagi-lagi menjelajah dunia maya, mencari berita atau apa pun yang ditemukan. Saya berjumpa dengan sebuah berita, berjudul “Penggalian Makam Dinger Gagal Dilaksanakan”. Di sana dikatakan bahwa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu sedianya akan melakukan ekskavasi untuk mencari tahu apa di bawah situs ini masih ada situs lain, dan sekaligus untuk mengetahui seberapa besar situs ini pada awalnya.

Tapi semua itu gagal karena keterbatasan anggaran…

Lihatlah sendiri bagaimana kondisinya.
Lihatlah sendiri bagaimana kondisinya.

Bagian yang lebih tinggi agak membuat saya menduga kalau di bagian sana dulu ada balkon. Tiga bentukan jendela itu mirip dengan jendela-jendela gereja, hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil. Dari segi umur, bangunan ini sepantaran dengan Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri… bukankah tidak mungkin kalau di tiga jendela itu dulu ada karya-karya dari kaca patri?

Sebenarnya, dugaan bahwa ada balkon di sana patut direvisi, sih, soalnya tidak ada pintu yang menghubungkan tiga jendela dengan pelataran di depannya. Jadi, sepertinya ada bagian yang memiliki langit-langit yang lebih tinggi di dalam sana.

Cuma ada satu lampu kecil di atas pintu, itu pun cuma lampu biasa yang sambungan listriknya dicantol dari tiang listrik depan rumah dengan kabel seadanya. Dalam gambar terakhir yang saya lihat di buku, masih ada tiang dengan lampu di depan makam, tapi kini benda itu telah tak bisa saya temukan.

Pintunya terbuat dari kayu yang sepertinya belum diganti sejak dulu, atau kalaupun diganti, penggantiannya sudah dilakukan dalam waktu yang lama. Kini pintu itu terkunci, meski bukan dengan kunci aslinya, melainkan dengan engsel dan gembok yang tampak baru.

Pintu yang masih berdiri. Berusaha berdiri.
Pintu yang masih berdiri. Berusaha berdiri. Eh, ada kaki!

Syukurlah, paling tidak ada yang mencoba menjaga apa yang ada di dalamnya. Tapi di mana kami bisa mendapatkan kunci? Tak ada orang di sekitar kami. Singgah ke rumah sebelah itu pun tak mungkin, karena rumah itu tampak seperti gudang pengepul buah-buahan. Adalah agak berandai-andai kalau rumah itu menyimpan kunci menuju bagian dalam makam ini… atau ini hanya saya yang terlalu skeptis?

Gagang pintu yang masih asli.
Gagang pintu yang masih asli.

Justru kunci asli dari pintunya yang menarik. Terbuat dari bahan logam yang agak berat, sayang sudah berkarat sehingga saya tak pasti ini logam apa. Ada bekas bongkaran juga di sana, dan saya tak terlalu kaget, meski kotak kunci berkarat yang ukurannya besar (semua kotak kunci dari bangunan zaman kolonial pasti punya ukuran jumbo) dapat saya lihat dari sini.

Yah, pikir saya, mungkin kuncinya dipegang oleh staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Saya mencoba mengintip tapi saya tak bisa melihat apa-apa. Gelap.

Coretan dan coretan. Kapan kita bisa menjaga?
Coretan dan coretan. Kapan kita bisa menjaga?

Letak bangunan yang lumayan tinggi membuat saya bisa melihat sekitar dengan sangat jelas. Apalagi kalau saya berdiri di balkon sana, wah, rasanya seperti tuan tanah yang melihat daerah kekuasaannya. Mungkin, makam ini dibangun sebagai bentuk penghormatan padanya, supaya di dalam tidur panjangnya pun, Keluarga Dinger bisa tetap memantau apa yang terjadi di perkebunan kina miliknya.

Sebuah perkebunan kina pada tanah yang begitu subur, dengan pohon-pohon merimbun, menghilang sampai ke horizon dengan kontur tanah yang berbeda-beda tingginya…

Perkebunan kina?

Oh, perkebunan.
Oh, perkebunan.

Itu dulu. Sekarang, yang bisa dilihat dari sini adalah rumpun-rumpun tanaman, yang saya lihat dari sini mirip seledri. Dan dari tadi saya berasumsi bahwa perkebunan ini memang milik Keluarga Dinger, padahal menurut sumber tertulis yang saya temukan di perpustakaan tadi, perkebunan kina ini dulunya milik Madame Nelly, bukan Keluarga Dinger, meski tentu, kalau Madame Nelly punya nama keluarga Dinger, maka teori itu akan sangat salah :haha.

Setelah puas dengan tanaman-tanaman itu, tiba-tiba saja mata saya menangkap sebuah pemandangan tak sedap di agak belakang sana. Sesuatu yang membuat senyum ini tampak agak memudar.

Itu, di belakang sana. Lihat, kan?
Itu, di belakang sana. Lihat, kan?

Tumpukan sampah.

Bukannya saya pertama kali ini melihat sampah. Bukan pula saya orang yang munafik betul dengan bersumpah bahwa selama ini saya tidak pernah buang sampah sembarangan. Saya cuma merasa bahwa ada beberapa tempat yang tidak semestinya dijadikan tempat pembuangan sampah. Salah satunya adalah monumen cagar budaya berusia hampir seratus tahun.

Tapi yang ada di kejauhan itu adalah tumpukan sampah yang mungkin juga menatap saya; kita sama-sama bingung harus apa.

Saya menengok lagi dan kaki saya merasakan sesuatu. Sebuah tas plastik yang sudah jadi sampah.

“Padahal tadi saya potret-potret di dekatnya,” gerutu saya dalam hati sambil memungut. “Kok ya saya tidak lihat?”

Curio memanggil saya, katanya ada hal menarik di belakang sana yang harus saya pastikan.

Bekas pondasi. Bagaimanapun, di sini pernah ada sesuatu.
Bekas pondasi. Bagaimanapun, di sini pernah ada sesuatu.

Agak ke belakang makam, sekarang ada di tengah-tengah ladang wortel, tampak sesuatu seperti bekas pondasi. Lengkungannya sempurna benar, sesempurna kurva dari tangga grande yang menyapa kami di bawah. Tapi tidak ada apa lagi yang ada di atasnya, selain lumut. Sebagian bahkan sudah hancur, mungkin terhancurkanย peladang saat menggemburkan tanah perkebunan.

“Itu kira-kira apa, ya?” Curio bertanya ketika saya mendekat, dan spontan membelalakkan mata.

Sesuatu seolah tersambung di dalam kepala ini dan saya cuma bisa berseru keheranan, “Hah? Hah?”

Sumpah, saya tak mengerti lagi. Saya kira bangunan ini sendiri sudah cukup megah, tapi pondasi barusan memberi bukti bahwa di sini pernah berdiri struktur lain yang besarnya sampai masuk ke tanah yang kini jadi perkebunan itu! Guna membuktikannya, saya langsung mengecek ke sisi sebelah, sisi tempat gang itu berada.

Benar saja, di sana ada bekas pondasi juga! Tapi… sudah hancur.

Hanya tinggal bagian yang menunjukkan kalau di sana pernah ada sambungan pondasi, tapi selebihnya, nihil. Melihat sekitar, saya pun sadar kalau saya sedang berdiri di atas jalan.

_MG_5603
Kenapa orang tega berlaku buruk padamu? Apa hanya karena kau tua? Apa semua yang tua itu jelek?

Mereka menghancurkan sebagian monumen ini untuk membuat jalan? Demi Tuhan!

Rasa geram itu betul-betul… rasanya saya seperti bisaย makan orang. Monumen ini tidak melakukan kejahatan apa-apa, ia hanya ada di sana untuk mengenang, ia pun tidak minta dijaga, seratus tahun sudah jadi bukti kalau dia bisa bertahan bahkan ketika ia tidak ditoleh sekali pun, tapi apa itu jadi alasan untuk menghancurkannya? Semua orang sudah melupakannya, yang masih ingat mungkin cuma mereka yang kini sudah tak mampu berjalan, tapi ia tidak protes!

Kenapa orang-orang ini masih pula tega menghancurkannya?

Saya megap-megap seperti ikan kehabisan napas. Tuan dan Nyonya Dinger tidak melakukan hal yang merugikanmu, kenapa kau harus merugikannya?

Saya kontan berlari ke arah belakang untuk mengecek apakah masih ada pondasi yang tersisa. Nihil. Curio mengikuti di belakang saya dan dia cuma bisa menatap bangunan yang ternyata cukup tinggi itu dengan kekaguman yang tergambar jelas. “Wow, jadi ini ada di kampung halaman gue?”

Saya bahkan tidak peduli lagi dengan fakta bahwa tidak semua penduduk kota ini tahu akan keberadaan Makam Dinger, tapi saat itu, ya, saya ikut mendongak dan lagi-lagi terkaget-kaget.

Bagian samping.
Bagian samping.

Bagian belakang makam ini tampak sangat tinggi pondasinya, dan belakangnya membulat. Kalau dibayangkan, bagian belakangnya ini seperti setengah silinder yang di atasnya ditumpuk seperempat bola dengan diameter sama persis.ย Jendela-jendela yang mungkin pernah ditutupi kaca patri ada beberapa di sisi kiri dan kanan, dalam jumlah yang sama, empat buah. Sayang, kini semua juga ditutupi perlak biru, sebagai tanda bahwa kaca patrinya sudah hilang entah ada di mana.

Bagian belakang.
Bagian belakang. Pondasi yang hancur ada di sisi sebelah kiri.

Saya mengambil beberapa gambar sebagai bukti. Dan mungkin kami terlalu keasyikan mengamati bagian belakang sini, sampai kami tak sadar bahwa sedari tadi ada orang lain yang ada di tempat ini, karena ketika kami sadar, yang kami dengar cuma suara pintu gerbang yang ditutup dari rumah sebelah.

Ada perbedaan pandangan dari arah tangga grande. Kami tak perlu berpikir lama untuk memastikan apa itu.

Orang tadi baru saja membuang sekeranjang rumput di bawah jembatan.

Lihat apa yang ia buang!
Lihat apa yang ia buang!

Astaga, sekeranjang rumput.

Astaga, ini jembatan.

Astaga, ini jembatan.
Astaga, ini jembatan.

Dan tiba-tiba semua tampak demikian jelas. Jembatan ini sebenarnya bisa menjelaskan semuanya, bukti terakhir yang saya perlukan untuk membuat bayangan tentang bagaimana penampakan Makam Dinger ini dahulunya, saat ia masih baru dibangun dan menjadi tempat warga menjumpai anggota keluarga Dinger yang sedang berziarah.

“Tak mungkin ada jembatan kalau tidak ada air,” kata saya saat itu. “Konstruksi ini tidak berarti lain, ini artinya jembatan. Lihat, lengkungan penyangganya bahkan ada dua.”

“Sungai?” sahut Curio. “Jadi ini berarti ada dua sungai yang mengalir di sini? Aku tidak melihat ada sungai, Gar.”

Letaknya di atas sungai?
Letaknya di atas sungai?

Kemarin saya memang belum bisa menjawab argumen Curio itu. Memang, di sana tidak ada sungai. Dan saya sampai mencari aliran sungai, untuk membuktikan, tapi tidak ada aliran air yang bisa saya temukan. Bekasnya pun tak ada, apalagi tanda-tanda bahwa ini aliran rendah. Tanah di sekitar Makam Dinger kini sudah berubah menjadi perkebunan, dan konturnya meninggi ke timur.

Ingat, Makam Dinger membujur timur barat, jadi kalaupun ada sungai, sungai itu mestinya punya aliran menyilang dengan jembatan di Makam Dinger, jadi dengan kata lain, paralel dengan pematang sawah dan bangunan mausoleum. Itu jelas melanggar fitrah air secara kodrati yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

Tapi ketika saya menulis ini, mendadak ide itu terbersit, dan satu kata ini menjelaskan semuanya, semua fakta yang sudah saya temukan saat kunjungan di sana.

Kolam.

Makam Dinger dibangun di tengah-tengahย sebuah kolam.

Ini menjelaskan. Ini menjelaskan semuanya. Semua cocok pada tempatnya.

Makam ini dibangun seolah mengapung, di tengah-tengah sebuah kolam yang cukup dalam, kalau dilihat dari tinggi pondasinya.

Ini menjelaskan kenapa daerah sekitar lebih rendah daripada pondasi Makam Dinger, sekaligus menjelaskan kenapa pondasi makam ini cukup tinggi terutama di bagian belakang. Ini menjelaskan soal tangga grande, yang naik cukup tinggi menuju jembatan sempit dengan dua lengkungan di bawahnya. Tak pernah ada aliran air di sana, melainkan lengkungan jembatan karena air di bawahnya tenang beriak sebagai kolam di tengah perkebunan.

Jembatan!
Jembatan!

Dan ini menjelaskan tentang pondasi yang hancur, karena pondasi itu tidak menandakan di atasnya pernah berdiri sebuah bangunan, melainkan karena pondasi itu adalah bagian dari kolam yang dulu mengelilingi Makam Dinger…

Astaga, demi Tuhan dan semua yang ada di dunia. Makam ini dibangun di atas sebuah kolam yang tinggi airnya bisa jadi sedada saya…

Ingatan ini mencoba merekonstruksi bagaimana kejadian seratus tahun lalu itu.

Saya membayangkan bagaimana makam ini saat baru diresmikan, saya membayangkan air tenang di kolam berukuran besar ini, kolam yang di tengahnya terdapat monumen untuk mengenang keluarga yang telah tiada. Monumen yang megah, besar, terawat, dan bersih, dan saya sampai harus melangkah mundur beberapa langkah, saking takjubnya, untuk bisa melihat kemegahan bangunan ini secara keseluruhan.

Saya membayangkan bagaimana bulan terpantul di air kolam, pada malam-malam yang cerah. Saya membayangkan bagaimana kabut dingin memeluk erat bangunan ini, menyembunyikan kemegahannya supaya semua bisa beristirahat, setelah seharian lelah bekerja di perkebunan mahabesar.

Dan saya membayangkan, tatkala musim tempat malam-malam yang hangat tiba, mungkin, di sebuah malam sunyi sekitar 100 tahun lalu, suara katak yang riuh bermain di kolam itu turut menemani anggota keluarga dalam tidur panjangnya, dalam paviliunnya yang abadi di tengah kolam yang padanya terdapat kuncup-kuncup bunga teratai…

A last picture.
A last picture.

Makam Dinger
Perumahan Gabes, Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kec. Bumiaji, Kota Batu.


Further reading:
1. Cahyono, Dwi dan Tim. 2011. Sejarah Daerah Batu: Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa. Yogyakarta: Jejakata Kita.
2. Sulistyo, Debora dkk. 2012. Akar Sejarah Pertanian Kota Batu. Batu: Kantor Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi Kota Batu.

92 thoughts on “Mausoleum Dinger #2: Pembuktian, Definisi Ulang Pengabaian

  1. Kayanya bener Gara…. Dulunya makam ini ditengah kolam… Pasti dulunya ini luar biasa indah ya….

    Kamu udah ke perkebunan teh Malabar di pangalengan belum… di situ ada makam Boscha di tengah perkebunan teh… Makamnya terawat, pasti kau senang banget di sana… ๐Ÿ™‚

    Oya… 1000 ha itu menurutku sama dengan 1 km persegi, bukan 10 km persegi….

    1. Waah Pengalengan… belum pernah ke sana Mbak, kayaknya menarik :hihi, terima kasih buat informasinya :hehe.
      Ah iyakah? Mohon maaf atas kesalahannya, nanti akan saya betulkan. Terima kasih ya :)).

      1. juga ada rumahnya boscha yang sekarang dijadiin museum… asyik deh di situ…

        oya, aku udah baca link yang kamu kasih. Jadi ingat di Boscha itu dulunya (kata orang sana yang cerita) juga pernah kedatangan orang Belanda yang masa kecilnya di sana. nah trus ya, dia nyari tempat penyimpanan barangnya dengan cara menghitung beberapa langkah dari jendela kamar kalau ga salah, trus beberapa langkah ke kiri atauke kanan. gali gali tanah, nemu deh emas, hahaha… ๐Ÿ™‚

        1. Waaaaw. Jalan sekian langkah ke sana-sini dan ketemu emas? Itu petualangan mencari harta karun betulan ya :hehe. Mungkinkah di dalam mausoleum ini juga ada sesuatu? Ah, tapi itu mesti pejabat yang berwenang yang mencari tahunya :hehe.

  2. Suka sekali sama hipotesa-hipotesanya! Penemuan-penemuan baru tak terduga membuat saya ikut-ikutan membayangkan bagaimana rupa Makam Dinger pada masa lampau. Melihatnya menua di tengah perkebunan dan perkampungan (yang relatif baru), membuat saya miris dan prihatin.

    Dengan keadaan yang demikian mengenaskan, bolehkah saya mengatakan bahwa: Mana rasa terima kasih kita kepada bangunan dan warisan perkebunan ini? Kita memang bangsa yang tidak melupakan sejarah, tetapi kita lupa cara berterima kasih. Semoga tulisan ini (seharusnya) menyentil pihak berwenang setempat untuk membangkitkan hakitkat ke-cagar budaya-annya ๐Ÿ™‚

    1. Terima kasih atas apresiasinya Mas, mohon maaf baru sempat saya balas sekarang :hehe.

      Saya sangat khawatir kalau 100 tahun setelah ini, monumen ini masih belum mendapat perhatian, akibatnya hancur sedikit demi sedikit sampai bangunan utamanya pun sudah tinggal tembok-temboknya lagi :huhu. Apalagi otoritas pariwisata di sana konon kabarnya tidak memerhatikan situs seperti ini, mereka sibuk dengan promosi taman-taman bermain yang menguntungkan kaum pemodal itu, dan berdalih ketiadaan anggaran menyebabkan semua upaya konservasi terpaksa ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Saya tak kuat membayangkan apa yang akan terjadi.

      Batu dan Malang sebenarnya bisa menjadi sentra sejarah yang lengkap, Mas. Dari zaman kerajaan Hindu, Islam, sampai masa kolonial. Dikelola dengan sedikit lebih baik saja dan saya yakin satu kota kecil ini bisa menghasilkan kesejahteraan berpuluh-puluh kali lipat ketimbang saat ini, dan kesejahteraannya merata, bukan cuma untuk pemilik modal yang sedikit demi sedikit menggerus alam di tatar Malang Raya…

      1. 100 tahun setelah ini bukan hanya monumennya yang hancur. Bisa saja Cangar, dan lereng Gunung Arjuno ikut hancur. Berganti dengan beton-beton tanpa resapan air hujan. Saat ini saja sudah rawan longsor karena kurangnya hutan yang mengikat air.Dampaknya terasa, sedimentasi sungai Brantas bahkan sejak di bawah hulu pas!

        Itulah, padahal ada kolonial Belanda, ada Gajayana, Kanjuruhan, Singhasari. Belum lagi jejak-jejak purbakala kecil yang belum terbuka untuk umum.

  3. Makam Dinger ini membuat saya tersadar kalau waktu 100 tahun itu bisa merubah segalanya ya mas ๐Ÿ™‚ entah apa yang terjadi di negara ini 100 tahun kedepan, kalau sebuah makam saja bisa berubah drastis seperti ini. Untuk masalah vandalisme dan sampah, memang sudah menjadi masalah klasik di negara ini, yang mungkin hanya bisa disembuhkan dengan tingkat edukasi yang lebih tinggi. mungkin sih ๐Ÿ˜€

    1. Ya, 100 tahun menurut saya bukan waktu yang singkat, Mas. Semua bisa terjadi–dua kali perang dunia, satu kali perang dingin, kemerdekaan, revolusi, dan reformasi :hehe. Semoga saja perubahan yang akan terjadi 100 tahun ke depan adalah perubahan yang baik, bukan ke arah sebaliknya. Sudah terlalu banyak kehancuran pada monumen kolonial di negeri ini dan kok ya saya tidak rela kalau 100 tahun lagi mausoleum ini sudah tinggal setengah saja :huhu.

  4. sampe2 minta dimakamin di indonesia, jadi inget makam belanda di kerinci, makam olivia raffles di bogor…. di tengah2 perkebunan yang asri dan adem dan enak buat “beristirahat”

    1. Iya Mas, beristirahat di udara sejuk dan berhadapan dengan hamparan perkebunan luas memang seru dan asyik banget :hehe. Dan orang-orang ini memang terlalu cinta dengan Indonesia sampai-sampai tidak rela meninggalkannya :)). Eh saya mau Mas kapan-kapan ke makam yang di Kerinci… itu di kaki gunung apa bagaimana, Mas? :hehe.

  5. Very well written. I love this post so much!!! Hatiku jg hancur klo mendengar ada bangunan tua jaman Belanda yg dihancurkan. Menurutku itu adalah merupakan kejahatan. Sayang skali di Indonesia, tingkat kepedulian pemerintah n masyarakat thdp pelestarian bangunan tua, masih sgt rendah

    1. Setuju! :hehe. Memang kepedulian masyarakat dan pemerintah masih sangat rendah. Bahkan pemerintah menghancurkan beberapa peninggalan kolonial yang penting untuk dijadikan pusat komersil, contohnya saja di daerah Harmoni itu. Terima kasih untuk apresiasinya, Mbak :)).

  6. gile bener gak sih gar, makam dibangun ditengah kolam. pasti keren banget awalnya mana disekelilingnya ijo royo-royo. lumutan aja masih keliatan bagus begitu.

    iya saya liat tuh sampahnya gar, bener-bener merusak pemandangan aja. harusnya ngerti ada yang namanya tempat pembuangan sampah.

    btw saya harus bilang foto pattern adalah foto favorit saya di postingan ini gara… #goodjob!

    salam
    /kayka

    1. Hore, terima kasih ya Mbak sudah membaca dan mengapresiasi :hehe.
      Iya, kalau dibayangkan memang megah dan indah sekali. Apabila dikembalikan ke fungsi awal, pasti jadi semacam tambahan landmark bagi pemerintah kota, tak perlu repot membuat landmark baru karena yang semegah ini saja sudah ada! :hehe.

      1. wah ide banget tuh gar menjadikan tempat ini sebagai landmark disana. direkonstruksi dan direnovasi seperti bentuk awalnya dan dijadiin taman.

        ngebayanginnya aja udah seru sendiri gara. abis adem banget ngliat tempatnya. itu sebab dijadiin tempat peristirahatan terakhir si meneer kali ya. jadi si meneer dari alam sana dan keluarga yang mengunjunginya bisa ‘ngobrol-ngobrol’ sambil menikmati pemandangan di sekelilingnya…

        mudah-mudahan aja yang mengurusi hal ini nyasar ke blog gara ya #semogaaa

        salam
        /kayka

        1. Amiin, terima kasih atas doanya yang baik ini Mbak :hehe. Berada di sana memang sangat menyamankan, sebuah perkebunan yang sejuk di kaki Gunung Arjuna. Ah, jika saja monumen itu masih dalam bentuk asli, pasti akan sangat indah!

          1. huaaa keren banget nama gunungnya ya…

            pastinya indah gara kalau aja semuanya bisa dikembalikan sesuai aslinya….

            salam
            /kayka

    1. Soal vandalisme memang klasik sekali dalam khasanah monumen bersejarah di negara kita, Mbak. Entah cara apalagi yang pantas untuk menyembuhkannya.

      Terima kasih sudah membaca dan mengapresiasi :)).

  7. Kaaan…. Ini lagi baca sherlock tapi yang di Indonesia deh, penuh teka-teki hehehe
    Coba bangunannya direkonstruksi ulang gitu ya, beneran bisa lihat bulan di kolamnya kali ya hehehe

    1. Yep, dan bulan di atas kolam itu pasti dramatis banget!

      Tempat wisata di Indonesia memang masih banyak yang penuh dengan teka-teki jadi tentunya belum akan habis untuk dijelajahi. Mari terus menjelajah!

  8. Gak tau lah ya sampai kapan kita bisa mengelola sampah-sampah kita sendiri. Seperti kata Bang Fahmi di atas, mungkin memang perlu edukasi yang tinggi, entah setinggi apa. Itu masih perkara sampah, belum lagi menjaga peninggalan seperti ini. Yang ada saja dihancurkan.

    1. Entah edukasi atau kadang mesti “dipaksa”… soalnya kadang banyak contoh kalau beberapa dari kita agak menggampangkan masalah atau meremehkan bangunan tua hanya karena ia tua…

  9. Mantep banget Bli penjelasannya! Wah, sayang ya ga bisa dapet liat gimana di dalem makam itu. Dan, penjelasan tentang kolam itu membuat saya berandai-andai kalau saja ada mesin waktu doraemon, mungkin bisa kembali ke masa yang hampir seabad itu.

    1. Terima kasih banyak, Mbok! Ya, petualangan ini sebenarnya akan lengkap kalau saya bisa masuk ke dalam sana–itu jadi satu alasan yang mengharuskan saya untuk kembali! :)).

      Mesin waktu, ya… :hehe.

  10. Kamu kok hebat Gar, sampe detail segitunya. Kamu diceritain langsung nyantol, sampe tahun-tahunnya juga. Salut men. Bahkan kalau ada bangunan tua, kayaknya kamu bisa cari cara buat ngorek informasi dengan membaca prasasti, ckckck. ๐Ÿ˜›

    1. Kebetulan sumber infonya lumayan lengkap di buku yang saya sebutkan di bawah itu, Umami… sisanya tinggal membungkuk-bungkuk sambil mencari sesuatu yang aneh di atas tanah, kan sayanya pencari jejak :haha. Terima kasih banyak buat apresiasinya!

    1. Iya, bangunan masa lalu memang terkenal sekali kekuatannya. Kalau sekarang agaknya bangunan itu rata-rata rapuh ya… :hehe.

      Dengan perawatan yang baik, pastinya bangunan ini bisa tampak lebih baik :)).

    1. Iya Mbak… saya juga sempat takjub dengan pintunya itu, kalau benar pintu ini bertahan selama 100 tahun, maka hebat sekali pintu ini! Memang produksi zaman dulu kualitasnya tak usah diragukan lagi ya, Mbak :)).

    1. Di Kota Batu, ada sangat banyak situs bernasib serupa, Mas. Kayaknya sepanjang perjalanan saya ke sana kemarin, rata-rata situsnya pasti sendiri dalam keterbengkalaian seperti ini :huhu. Semoga ada keajaiban untuk mereka, ya :)).

  11. Sekalipun kurang terawat patut dihargai juga usaha pelestarian Makam Dinger ini ya, Gara. Bagaiamanapun ia bukan tokoh Republik, kepentingan kita padanya hanya ikatan sejarah. Bila 100 tahun makamnya masih bertahan artinya boleh lah kita bwri penghargaan terhadap usaha pelestariannya ๐Ÿ™‚

    1. Ya, dapat juga dilihat dari sisi yang sedemikian, Mbak :)). Bagaimanapun 100 tahun bukan waktu yang singkat, masih bisa menyaksikan bangunan utama sampai dengan saat ini tentu sebuah prestasi yang mesti kita apresiasi :)).

  12. wah petualangan yang seru tuh mas bro ๐Ÿ™‚
    Ideku yg lama jadi timbul lagi nich..
    apa tuh? Memotret budaya kota lama Banyumas…
    Disini banyak gedung2 dan makam bersejarah..
    Makam2 kerabat Mataram… dan Juga bangunan2 yg sudah berusia hampir 200 tahunan…

    hmmm…
    apakah kebiasaan TIDAK peduli pd hal2 yg berhubungan dg sejarah sdh mjd tradisi bangsa kita yah?

    1. Eh ya Banyumas seru tuh Mas, soalnya di sana banyak peninggalan kereta api, saya sudah pernah ke beberapa tempat di sana cuma belum sempat diposting di blog ini :haha. Jadi ayo dilanjutkan lagi ide lamanya Mas, saya dukung :)).

      Yah, tidak semua kita abai dengan peninggalan masa lalu, tapi sayangnya orang-orang yang berkuasa di atas sana sedikit yang peduli dengan sejarah, saya cuma bisa bilang begitu sih Mas :hehe.

      1. walah… aku malah belum pernah “nyelidiki” kereta api disini… hehehhee…

        nah benul benul benul…. eh betul.
        Buktinya ditempatku, pabrik gula Kalibagor, pabrik gula yg konon pernah menjadi salah satu pemasok besar gula ke negeri Belanda di jamannya dulu, mau di hilangkan..
        untunglah ada beberapa komunitas yg peduli…. hanya cerobong asap dan beberapa bagian yg nampak hilang..
        hmmmm…. sedih juga ๐Ÿ™

        1. Oh iya pabrik gula Kalibagor… ah saya kepengin sekali tandang ke sana :hehe. Iya, kita harus bersyukur dan membantu gerakan yang peduli seperti itu, Mas :hehe.

  13. Pertama, post ini panjang sekali kakak, hohoho, lebih panjang dari yang kedua.

    Di tulungrejo ya, tempat teman-teman aku KKN, tapi kayaknya mereka nggak menyebut-nyebut makam dinger~

    Oh iya, kalau Pak Dinger punya makam yang sedemikian istimewa, saya heran, kenapa ya nggak sampe masuk sejarah,

    Terus kalau masalah pengabaian dan coret mencoret, itu memang masih masuk budaya masyarakat indonesia yang kurang menghargai sejarah. Coba mas ke daerah Tumpang. DIsana ada Candi Jago. Kata ibu dulu megah, tapi sayangnya banyak bagian-bagian candi yang sudah di curi warga dan banyak coretan juga, huft beud. Kalau ingin merenovasi pasti alasannya anggaran oh anggaran ~

    Anyway foto-fotonya suki desu! :3 (y)

    1. Nah saya penasaran dengan Candi Jago, kepengin deh ke sana :hehe. Semoga bisa suatu hari nanti ya Mbak :)). Iya, Tn. Dinger memang punya nama besar, tapi menurut saya, seiring dengan runtuhnya usaha perkebunan miliknya, maka runtuhlah juga nama dan kenangan tentang Tn. Dinger. Yang tinggal adalah kenangan tentang nama firma yang menjadi nama daerah itu: Gabes.

  14. keasyikan saya bacanya, ikut takjub juga geram melihat kenyataan yg ada.
    salut, penggambarannya detail. terus lestarikan yg ada walau yg lain mulai mengabaikan!

  15. I like the way you do your research. Jadi keinget pas SMP saya beli buku soal Sejarah Jakarta karangan Adolf heukeun. Dari sana ada tuh list bangunan tua di Jakarta (dan sekitarnya) dan asal muasal nama-nama di wilayah Jabodetabek. Nah yang paling saya inget adalah salah satunya rumah tuan tanah di daerah Cililitan… Dari foto-foto tuanya indah banget.. lalu pd tahun 2007 atau 2008 saya kesana naik motor.. lalu melihat rumahnya masih ada, tapi halaman luasnya sudah hilang.. rumahnya sendiri nggak keurus dan dipartisi jadi kamar-kamar kontrakan.. Rumahnya dibangun tahun 1775 oleh keluarga Hendrik Laurens van der Crap. SEDIHH banget.. kita selalu melupakan sejarah..

    1. Ya, buku itu bagus banget!!! Saya baru mulai baca kemarin (itu pun cuma bisa di perpus soalnya saya belum mampu beli bukunya :haha) dan di bagian pengantar saja sudah banyak sekali catatan menarik :)). Saya juga kepengin sekali jelajah situs-situs yang ada di buku itu, seperti yang dirimu lakukan Mas (:hoho), meski harus menyiapkan hati, agaknya, melihat bagaimana keadaan tempat-tempat itu hari ini :huhu.

      1. Gar masak sih bukunya mahal? Pas saya beli jaman SMP tahun 1995 (tua) harganya Rp.35000 (softcver) dan Rp.50000 (hardcover).. sekarang harganya berapa ya? Nyesel dulu belinya yang softcover.. hehe.. You know what, kayaknya saya mau nulis tentang kunjungan saya ke pintu ketjil beberapa bulan yang lalu deh di blog…. ๐Ÿ˜€

  16. Gara suka banget ya sama sejarah. Tulisannya bener-bener menggambarkan itu.
    Nah kalo ke Palembang, hmmm, sayangnya nggak ada candi-candi. Paling juga taman komplek purbakala yang berupa museum. Kalo ke sini, kita wiskul sajalah Gar hehehe

    1. Hmm… bukit Siguntang? Palembang itu mengingatkan saya akan Sriwijaya jadi kayaknya mesti cari dulu Om, tapi ada Pulau Kamaro yang pernah Om ceritakan di blog itu, legenda juga sangat menarik untuk diselami :hehe.

      Tapi tentu saja saya harus juga mencicipi kuliner khas sana! Aaak, pempek yang bermacam-macam itu!

      1. Kalau Bukit Siguntang lebih ke makam sih. Iya memang makan tua juga ๐Ÿ˜€ kalo pulau Kemaro, pagodanya itu sudah bikinan moderen gitu Gar. Paling kelentengnya yang berusia tua ๐Ÿ™‚

  17. aah Gara, aku sampai bolak balik ke sini, baca berulang2
    jadi gemes …, apakah sedemikian banyaknya situs di wilayah kita ini sampai kerepotan sekali bagi2 anggaran penelitian…? aku juga jadi ingat sisa2 benteng Amsterdam di Jkt di tanah yg kini milik angkatan, jadi parkir container…
    aduuh kendaraan berat seperti itu takut getarannya mampu merontokkan sisa2 benteng yg tinggal secuplik itu

    1. Mungkin itu bisa jadi sebabnya Mbak. Di Bali dan Lombok saja situs purbakala ada ribuan jumlahnya, apalagi di Jawa yang sejarahnya panjang sekali. Tentunya untuk situs-situs kecil seperti ini pastinya jadi prioritas kesekian dalam anggaran penelitian itu. Miris memang tapi saya rasa memang seperti itulah yang terjadi.

  18. Saya menikmati sekali membacanya Gara… ikut deg-degan dengan kejutan-kejutan yang ada. Keren sekali Gara!
    Terlepas dari semua kegalauan tentang pemeliharaan dan tingkat prioritas serta 1001 alasan yang bikin tambah galau, pada akhirnya memang banyak hal yang harus hilang dari permukaan peradaban dan berganti wajah sejalan waktu yang konsisten menapaki kita semua…

    1. Iya Mbak, saya sependapat, jikalau memang sudah takdirnya, maka apa yang bertakdir hilang akan hilang, apa yang bertakdir muncul akan muncul :hehe. Saya cuma berharap semoga sesuatu yang menjadi pengganti akan membawa kesejahteraan yang lebih bagi semua makhluk Tuhan yang hidup di atas dunia :hehe.

      Terima kasih atas apresiasinya ya, Mbak :)).

  19. Tulisan Diger ini salah satu pengabaian negara terhadap sosok yang ikut membesarkan sebuah desa/ kota di masa kolonial. Sayang banget yah terabaikan begitu, harusnya sih dirawat syukur kalau jadi tempat wisata sejarah yang mumpuni. *catet di wish list kuburan wajib dikunjungi* ๐Ÿ˜€

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?