Mausoleum Dinger #1: Percakapan, Analisa, dan Hipotesa

Sebenarnya saya bingung mau memulai tulisan panjang ini dari mana, karena petualangan di Batu sejatinya adalah satu kesatuan yang sudah berurutan dari sejak saya menapak di Stasiun Malang Kotabaru sampai berpisah di stasiun yang sama.

Namun, untuk alasan efisiensi, dan katakanlah supaya saya tidak bosan menggali kepala untuk mencari kenangan eidetik pada kota lain yang sedang saya garap, mari kita mulai dengan petualangan setelah saya dan Curio menyelesaikan riset kecil-kecilan kami, dengan dua buku ajaib yang saya berteriak-teriak histeris ketika menemukannya.

Percayalah, menemukan buku itu membuat saya kejang-kejang dan sampai guling-guling di lantai perpustakaan, saking histerisnya. Gila, buku itu menakjubkan! Sangat!

Inilah kedua buku itu :hehe. Teman bacaan yang menarik!
Inilah kedua buku itu :hehe. Teman bacaan yang menarik!

Singkat cerita, setelah saya yakin dua buku itu bisa terbawa ke Jakarta, barulah kita melanjutkan perjalanan. Seperti yang sudah-sudah, kami memutuskan untuk mengunjungi tempat yang berlokasi paling jauh dulu, kali ini lokasinya di daerah Gabes, Junggo, Batu Utara.

Makam Dinger.

Ketika pertama kali melihat foto makam itu pada buku, saya tak tahu kenapa tapi saya merasa harus ke sana. Makam yang lebih cenderung saya sebut sebagai mausoleum itu terlihat megah, demikian megahnya, sesuai dengan cerita singkat yang ada pada kedua buku itu.

Makam itu milik seorang tuan tanah (ada pula yang menyebut ini makam keluarga) yang dimakamkan di tanah perkebunan kina di Gabes, daerah kaki Gunung Arjuna. Daerah sekitar makam biasa dikenal sebagai “gedung seng”, karena di depan makam itu dulu ada tempat penyimpanan seng milik masyarakat, yang tidak tampak di gambar yang ada di buku.

Tapi, sayangnya, dari gambar itu pun kemegahan Makam Dinger seolah tertutupi dengan usia, tanaman perintis, dan tentu saja, pengabaian dalam kesendiriannya. Padahal di makam inilah, menurut saya, ada jejak pemerintah kolonial di Kota Batu, sebagai kota penting dalam hal pertahanan, perlindungan, dan tentu saja, tetirah.

Sebenarnya rute ke Junggo tidak susah. Dari pusat kota, ambil rute yang mengarah ke Selecta, Permandian Air Panas Cangar, atau Arboretum Brantas. Kalau sudah tiba di Selecta, jangan belok kiri, tapi lurus terus dengan jalan menanjak, sampai masuk ke areal desa Junggo. Dari kota Batu, itu artinya sekitar 20–25 menit. Jalanan bagus, dan tidak terlalu banyak berlubang, meski tanjakan tak berputus itu tentu berarti harus menaikinya dengan persneling rendah.

Dengan angkot, daerah Junggo ini pun bisa dicapai, menggunakan angkot yang mengarah ke Desa Sumber Brantas, angkot yang berwarna oranye. Jangan khawatir, angkot di Kota Batu sangat ramah wisatawan, bahkan untuk wisatawan yang baru pertama kali singgah, dan tidak bisa berbahasa Jawa Timuran barang satu kata pun coughmoicough.

Namun, hati-hati dengan cuaca. Namanya daerah pegunungan, cuaca pasti sangat mudah berubah. Suhu pun jelas di bawah normal. Untuk kasus kami, ketika separuh jalan sampai Selecta, cuaca cerah. Tapi semua berubah ketika kami melewati tapal batas Desa Junggo, kabut turun, dan hujan menggerimis sementara langit memendung. Masih untung hujan tidak menderas, tapi hujan seperti ini juga tak baik, soalnya intensitasnya konstan.

Jam tangan saya berkondensasi. Apalagi saya tidak pakai jaket, cuma pakai kaos dan flanel, itu pun flanelnya tak berkancing. Saya rasa saya sudah pernah membahas kalau saya ini suka salah kostum dalam beberapa postingan sebelum ini? Nah, ini juga salah satu contohnya, sehingga walhasil, menggigillah diri ini sepanjang perjalanan ke atas sana.

“Ini sebenarnya sudah Junggo, Gar,” Curio menjelaskan ketika kami melewati perkampungan kecil.

Kan tadi ada gapuranya kita lewati, Bu. “Gabesnya yang mana?”

“Aku juga tidak tahu.”

Oke sip. Maksud hati mengajak orang asli Batu sebagai guide dan penterjemah teman jalan, eh ini malah dianya yang tidak tahu jalan :haha langsung ditabok Curio pakai kaleng oli.

Saya juga melihat ke kiri dan kanan jalan, betul ini Desa Junggo, cuma belum ada tanda-tanda bahwa kami akan tiba di daerah Gabes (atau menurut penyebutan orang sana, Nggabes). Cuma ada perumahan penduduk, yang terus terang agak takjub juga saya lihat soalnya mereka punya pohon jeruk di halaman rumah.

Ini daerah dingin jadi pemandangan itu bukanlah sesuatu yang asing, tapi tetap saja, pohon jeruk, di halaman rumah.

Kalau tidak salah Si Curio juga punya pohon jeruk dalam pot.

What?

Hujan yang masih belum berhenti tapi sudah membuat muka saya basah mengakibatkan saya memelankan laju motor itu kemudian menepi. “Kita tanya orang saja,” saran saya sambil mengelap muka.

Tapi tak ada orang sejauh mata memandang. Beberapa mobil barang memuat jeruk dan hasil hortikultura lain memang lewat, melenggang turun ke bawah menuju kota, tapi kami tak bisa menghentikannya untuk sekadar bertanya.

Akhirnya, di tengah gerimis itu, Curio membuka ponsel dan menelepon adiknya. Mas Widi memang sudah saya kenal sebagai tukang penemu jalan kami, baik di Punden Mojorejo, Pujon, dan di tempat ini :haha. Semoga saja dia punya pemecahan bagi kami tentang di mana daerah Gabes.

Tentu saja, saya tak mengerti sepatah kata pun antara dialog kakak beradik ini, meski menurut penafsiran saya atas percakapan itu, kami sudah menuju ke tempat yang tepat, atau setidak-tidaknya kami mengambil jalan yang benar. Saya bisa melihat belokan menuju Pura Arjuna, masuk lagi dengan jalan menanjak. Selain itu, saya juga bisa melihat warung Bakso Jamur yang saat itu posisinya sudah kami lewati. Tapi masih belum ada tulisan Gabes.

Demi Tuhan, di manakah gerangan daerah itu?

Butuh perjuangan mencari tempat ini, terutama ketika informasi di buku sangat sedikit,
Butuh perjuangan mencari tempat ini, terutama ketika informasi di buku sangat sedikit.

“Katanya lurus terus Gar, terus ada belokan ke kiri, lurus-lurus itu sudah Gabes,” Curio menjelaskan. Entah kenapa saat itu suaranya terdengar tidak yakin.

Saya kembali menyuruhnya naik dan melanjutkan perjalanan. “Nanti kalau ada orang kita tanya saja.”

Siapa tahu, meski Batu sudah lebih terkenal dengan Cangar dan Selecta, dan lebih terkenal lagi dengan Jatim Park 1, 2, dan Batu Night Spectacular, masih ada satu orang yang ingat dengan Makam Dinger.

Itu pun, dengan catatan kami bisa menemukan orang untuk kami tanyai.

Beruntung, seorang pria paruh baya sedang berdiri di pinggir jalan. Meski penampilannya tidak menyiratkan bahwa ia penduduk asli sana, kami tetap menganggap si bapak adalah warga sekitar yang mungkin akan menghadiri undangan pernikahan tetangga di ibukota.

“Hen, Hen, tuh, tuh, tanya Hen, ayo kita tanya di mana Makam Dinger,” desis saya sambil menepikan motor.

Dialog itu pun dimulai, dalam bahasa Jawa. Strategi kecil (yang baru saya sadari sebagai strategi ketika saya menulis postingan ini) itu ternyata mengkonfirmasi ketidakyakinan saya.

Si bapak tidak tahu sama sekali tentang Makam Dinger. Dia tidak tahu di sana ada sebuah makam tua, apalagi makam tua yang besar, apalagi makam tua yang mewujud seperti monumen.

Oke, berdasarkan hal tersebut, berarti bisa kita simpulkan bahwa per tahun 1960-an, cerita tentang Makam Dinger sudah musnah.

Barulah saya terlibat dalam percakapan itu. “Makam Belanda, Pak, di sini ada makam Belandakah?” tanya saya.

“Oh, Makam Belanda! Kayaknya ada. Sebentar, tak tanyaken Bapak saya,” katanya.

Kejutan pertama. Kenapa dia memanggil sang ayah ketika kami menyebut kata “Belanda”? Apa kata itu berarti sesuatu bagi generasi tua di sini?

Kejutan kedua ternyata datang ketika ayah dari pria paruh baya tadi bergabung bersama kami, ketika kami bertanya padanya tentang makam seorang Belanda yang bernama Dinger.

Ternyata si bapak tahu.

Saya tak akan lupa bagaimana raut wajahnya yang seperti mengingat sesuatu, kemudian berseru,

“Oh, Makam Pak Denger! Kalian mau ke sana?”

Informasi selanjutnya lagi-lagi disampaikan dalam bahasa Jawa, tapi setelah kami berpamitan karena Curio sudah dapat gambaran di mana daerah Gabes itu, ia menceritakannya kepada saya, dan informasi yang disampaikannya cukup membuat saya antara kaget, kagum, dan agak miris.

“Jenazahnya sudah tidak ada, Gar, sudah dibawa keluarga kembali ke Belanda. Jadi yang ada di sana tinggal bangunan kosong, sehingga kita tidak bisa ziarah ke sana. Di sana memang masih ada bangunan, tapi cuma tinggal sedikit, itu pun tembok-temboknya saja.”

Saya terdiam sebentar sembari mencari belokan ke arah Gabes, sementara otak ini mulai berputar sedikit.

Terus terang, ini menarik. Ini sangat menarik, kalau saya cocok-cocokkan dengan fakta yang saya dapatkan di buku perpustakaan di atas.

_MG_6746

Pertama, bagaimana mungkin masih ada saksi hidup yang mengetahui Makam Dinger dan memanggilnya dengan tambahan kata “Pak”, yang itu artinya menunjukkan rasa hormat, padahal kalaupun umur ayah dari pria paruh baya itu mencapai 70 tahun, itu artinya si bapak lahir pada tahun 1945, tahun yang jelas bukan tahun yang menyenangkan bagi seorang pengusaha Belanda untuk membangun sebuah mausoleum untuk seseorang?

Lagi pula, menurut buku yang saya baca itu, Makam Dinger dibangun sekitar 1920. Ada gap 25 tahun di sini, gap yang meskipun tampak aneh, ternyata bisa saya jelaskan dengan hipotesa belakangan. Tapi sebelumnya, mari kita bahas bersama keanehan nomor dua.

Ke-du-a, foto yang ada di buku itu memang tidak menunjukkan kapan diambilnya. Tapi dari dugaan saya, agaknya foto itu belum lama diambil, menurut saya paling lama satu atau dua tahun sebelum buku itu ditulis. Di sana masih tampak jelas bangunan utama dan sebuah jembatan yang ada di depannya. Itu, bagi saya, lumayan megah. Meskipun lebih megah lagi kalau saya lihat langsung :hehe.

Megah, ya. Tapi si bapak bilang kalau di sana sudah tinggal tembok-temboknya saja.

Ini jadi keanehan yang ketiga, seandainya perkataan bapak ini memang benar (quod non), just how big this grave was? Saya masih belum bisa membayangkan bagaimana besar aslinya bangunan ini kalau “tembok-temboknya” saja sudah semegah itu, demi Tuhan!

Dan yang terakhir, fakta bahwa si bapak tahu kalau makam ini sudah dipindahkan oleh anak dan cucu dari Tuan Dinger, bagi saya terdengar sedikit aneh. Aneh, karena, kalau kita mengingat-ingat, anaknya si bapak yang notabene sudah separuh baya tidak tahu sama sekali dengan adanya pemindahan jenazah itu. Taruhlah bahwa di desa kecil ini, beberapa orang Belanda datang lima atau sepuluh atau dua puluh tahun lalu (ini berarti paling lama 1990) bertujuan untuk memindahkan makam ayah dan kakek mereka.

Di tahun itu, ketika Indonesia sudah merdeka dan pemerintahan kita sudah mulai bertatanan, tidakkah itu berarti sesuatu yang “menggemparkan” bagi penduduk desa? Mustahil ada penduduk desa yang tidak tahu dengan proses penggalian makam, pemindahan jenazah, termasuk pengirimannya ke Eropa sana, jika memang benar pemindahan itu ada dan terlaksana. Tapi yang tahu adalah penduduk lansia, dan informasi itu menghilang ketika kami tanyakan pada anaknya.

Apalagi kalau ternyata orang-orang Belanda itu datangnya baru-baru ini, ya. Entah deh, sudah segempar apa. Minimal masuk koran tuh, pasti.

Nah, dengan demikian, ini boleh jadi berarti satu hal. Pemindahan itu dilaksanakan sebelum 1960. Tapi kemungkinan yang muncul, bisa jadi sebagian besar penduduk berusia lansia ini tahu dengan keberadaan Makam Dinger, tahu tentang bagaimana Makam Dinger sebelum ini, dan tahu juga tentang pemindahan jenazah itu ke Eropa oleh anak dan cucunya.

Satu lagi kemungkinan, batu loncatan yang muncul menuju kesimpulan itu adalah: logis saja, tidakkah mungkin warga sekitar, kala itu sekitar pertengahan 1950-an, setelah semua huru-hara perang kemerdekaan mereda, juga turut membantu prosesi pemindahan jenazah?

Kesimpulannya, bukankah itu berarti Tuan Dinger, atau setidak-tidaknya orang yang dimakamkan di sana, memang orang besar, orang berpengaruh yang pernah ada, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar di perkebunannya, perkebunan sejuk di lereng Gunung Arjuna?

Bagi saya, kesimpulan itu sedikit menjelaskan segalanya. Menjelaskan kenapa bisa si bapak berkata makam itu tinggal “tembok-tembok” padahal di buku saya lihat lumayan megah. Itu artinya memang makam itu sangat megah, dan tentu saja makam yang megah tidak dibangun untuk orang biasa semata, kendati dia warga Eropa.

Harus orang yang sangat-sangat-sangat-sangat kaya, berpengaruh, dan punya perkebunan super-duper luas sehingga bisa membangun monumen untuk, katakanlah, dirinya sendiri dan keluarganya. Itu artinya, Dinger (kalau ini memang benar nama orang yang dimakamkan di sana) bukanlah orang sembarangan.

Kedua, bukti bahwa Tuan Dinger ini (untuk selanjutnya saya sebut demikian) adalah tuan tanah kaya raya dan berpengaruh tampak dari gap waktu yang kalau kita cocokkan dengan cerita si bapak, berarti satu kemungkinan. Tidakkah itu artinya ia mendapat cerita dari orang yang lebih tua, yang kalau tidak tetangga (kita kesampingkan dulu dugaan ini), didapatnya dari orang tua sendiri?

Ini menjelaskan gap waktu? Ya. Sebabnya, bagaimana mungkin, seorang ayah, bercerita tentang seorang tuan tanah kaya raya, tentang makam dari tuan tanah kaya raya ini kepada anak laki-lakinya tanpa sebab yang jelas?

Cerita rakyat? Saya sangsi.

Kecuali, kalau si ayah dulu pernah bekerja di tuan tanah itu, dan bukankah tidak mungkin, kenal dengan orang-orang yang melakukan pemindahan jenazah di tempat itu, sehingga rantai penyampaian cerita itu tetap tersambung untuk generasi seperempat abad setelah kejadian berlangsung?

“Gar, Gar, belok kiri Gar, itu di monumen katanya belok kiri.”

Ah, otak saya tampaknya mulai berpikir terlalu jauh. Kesimpulan tentang Tuan Dinger sebagai orang berpengaruh sebenarnya sudah punya banyak bukti, dan itu cukup menjelaskan. Jadi saya berusaha mengabaikan suara kepala saya dulu dan membelok di sebuah jalan bergapura dengan monumen burung elang di tepi jalan.

Gapura itu bertuliskan, kalau saya tidak salah, Perumahan TNI AU Gabes. Saya baru membaca ada kata Gabes, dan Curio juga memberitahu saya bahwa kami sudah masuk ke area Gabes. Terkait dengan fakta bahwa ini daerah militer, belum ada pikiran aneh-aneh lain yang terbersit di kepala kami ketika itu.

Sampai ketika dua malam yang lalu saya berdiskusi lagi dengan Curio soal makam Gabes, dan mendadak saya teringat kompleks kantor saya, yang dulunya merupakan perumahan Siliwangi di Lapangan Banteng. Betapa dekatnya dengan pusat pemerintahan.

Mungkinkah hal-hal itu berhubungan?

Ah, masih banyak pertanyaan dan kami bahkan belum kunjung menemukan makamnya, untuk pembuktian. Di sebelah kiri kami memang ada perumahan, tapi sejauh mata memandang, yang tampak hanya hijau-hijau rumpun tanaman hortikultura yang saya belum tahu apa. Saya sebegitu tidak memerhatikannya bahkan sampai saya juga tidak sadar kalau hujan telah makin mereda, meski jam saya, saya lirik dari sini, masih membeku kendati waktu yang ditunjukkan adalah tepat…

“Gar, Gar, GAR! Itu dia, Makam Dinger, Makam Dinger!”

Pastinya saya langsung mengerem mendadak dan menoleh. Detik ketika saya menolehkan kepala di pagi mendung berkabut itu… di sanalah ia.

Saya bersorak histeris.

Mei 2015 dan keadaannya seperti ini.
Mei 2015 dan keadaannya seperti ini.

Note: Menurut buku “Akar Sejarah Pertanian Kota Batu” yang ditulis oleh Debora Sulistyo, S.Pd., M.M. dkk., pada halaman 41–42 dituliskan:

Sedangkan pusat pemerintahan Kecamatan Batu saat itu (saat penjajahan kolonial) terletak di Junggo.

Saya sudah tidak mengerti lagi…

72 thoughts on “Mausoleum Dinger #1: Percakapan, Analisa, dan Hipotesa

    1. Masih banyak sampai akhirnya kami membuktikan apa yang sesungguhnya ada di tempat itu, Mbak. Sangat terbengkalai, kami jadi sedih pas ada di sana. Padahal dulunya mausoleum ini pasti indah banget…

  1. Dari atas aku membaca, bertanya-tanya kenapa cuma foto bukunya aja yang muncul. Mana foto aslinya? Jangan-jangan ngarang :p
    Anw suamiku orang Malang dan alu malah baru tau soal makam ini dari blogmu. Ditunggu cerita lainnya ya

    1. Fotonya ada di yang paling bawah Mbak :hehe, sisanya saya simpan untuk postingan selanjutnya :)).

      Memang belum banyak yang tahu tentang ini Mbak, saya pun baru ngeh kalau situs ini ada setelah membaca buku itu :)).

    1. Ayo ke sana Mas :hehe, banyak kejutan di tempat itu, termasuk cerita hantunya :hihi.

      Fotokopi, Mas. Soalnya mau dicari penjualnya, saya tak bisa menemukan :)).

    1. Ah, ini tempat wisata bonus Mbak, sebenarnya ke Batu saya cuma niat cari Candi Songgoriti dan Punden Mojorejo kok :hehe.

      Terima kasih banyak buat apresiasinya! Ini berarti sekali buat saya :)).

  2. Gak sabar pengen baca kelanjutannya, setelah itu apa yang kalian lakukan di sana? Keliatannya makam nya terkunci gitu.

    Btw, liar juga ya pemikiranmu merangkai hipotesa sambil dibonceng naik motor cari alamat 😀

    1. Ya, selanjutnya adalah bagian yang paling seru kalau menurut saya, habisnya kita banyak membuktikan sesuatu dari apa yang kita lihat :hehe.

      Itu sebenarnya suka melamun, Mas… tak heran, semua orang yang saya bonceng pasti ketar-ketir dan motornya memang suka menerjang genangan, lubang, dan sering juga hampir tabrakan :haha.

      1. Membuktikan sesuatu dari apa yang kalian lihat? hmmm makin penasaran aku hahaha …

        Noted. Berarti PR nya kalau dibonceng sama dirimu, harus diajak ngobrol terus biar gak ngelamun ya 😀

  3. Seru banget eh bacanya. Sampe mikir keras hihi

    anyway, klu ke batu lg kak Gara mending bawa jaket tebel apalagi musim maba, cuacanya beh..

    dan jas hujan yang 10rban dipinggir jalan ada 🙂

  4. Keren!! Sempet berenti baca krja jam istirahat kerja selesai, trs lgsg baca lagi pulang kerja lanjutannya. Penasaran, dalemnya kaya gmn nih? Ak aja yg dulu 5 taon d malang, ga tau sm skali tmpt ini. Rada spooky juga tapi yah modelnya –“

    1. Sayang kami tidak sempat masuk ke dalamnya karena digembok, Mbak :haha. Yep, memang rada spooky, tapi ini karena bangunannya sendiri terbengkalai dan tidak ada yang mengurusnya :huhu.

  5. duh gar ikut-ikutan seru sendiri seperti baca cerita petualangan gitu. senang ya ketemu juga akhirnya… #phewww pasti megah sekali dulunya….

    salam
    /kayka

  6. Akhirnya makam Dinger! Kalo sekarang kita ke sana, lebih dingin lagi! Siang aja maksimal 22°, dingin di awal Mei kemarin cuma salam perkenalan aja.

    Lihat foto paling bawah bikin nyesek. Kasihan.

  7. wah saya baru tau ada makam tersebut,yg terkenal di batu ya selecta,cangar dan tempat wisata modern seperti jatim park, bns dan museum angkut. pencarian yang menyenangkan mas…iki mesti senengane wisata sejarah yo?

    1. Iyo Mas, kemarin ke Batu juga kebanyakan mencari wisata sejarah (meski akhirnya tetap ke Jatim Park 2 :haha). Bagus-bagus Mas, tempat wisata di sana :hehe. Tak rugi apabila dikunjungi :)).

  8. Begitulah sejarah. Ada yang masih terjaga, ada yang hilang. Ada yang ingat, ada yang lupa…
    Kalo guru sejarahku dulu pinter menjelaskan dan nggak bikin bosen kayak Mas Gara pasti aku bakal masuk IPS sewaktu jaman SMA.

    1. Ah, terima kasih banyak Mbak :hehe.
      Iya, sejatinya sejarah adalah rangkaian kejadian, yang menurut saya kalau hilang seserpih saja pasti membuat semua jadi tidak logis dan tidak padu. Akibatnya usaha untuk melengkapi serpihan itu bagi saya sangat berharga, supaya rantai sejarah itu tidak berputus dan menjadi kesatuan yang utuh dengan kejadian yang sedang dan akan terjadi :hehe.

  9. keren ulasan sejarahnya mas (bacanya sambil mikir keras) saya jadi tau makam Dinger. Disitu cuman ada makam aja atau ada monumen yang lain mas, kayaknya cuman satu ditengah padang rumput hijau ya??

    1. Terima kasih banyak, Mbak :)). Iya, cuma satu itu di tengah perkebunan wortel dan seledri, tapi tentu saya tak tahu apa yang pernah berdiri di sana di masa lalu :)).

      1. Ya begitulah kita Gara… banyak peninggalan bersejarah yang tak terawat. entah pemerintah yang nenang tak mau bertanggung jawab, atau kita sebangai masyarakat juga tidak mempunyai kesadaran untuk merawat

          1. Ah, saya cuma datang, mencari jejak, menuliskannya, dan membaginya di sini, sama sekali belum bisa dibilang menjaga, Mbak, semua orang bisa melakukan apa yang saya buat di sini, tapi terima kasih banyak ya atas apresiasinya :hehe, Mbak baik sekali :)).

  10. Semakin ke sini, saya semakin memahami kekhasan dari Mas Gara dalam bercerita. Ada satu nilai yang patut dipelajari: Skeptis. Dengan daya skeptis yang tinggi, akan muncul pertanyaan-pertanyaan, hipotesa-hipotesa, lalu kesimpulan awal. Seperti pada tulisan ini. Tinggal mengkonfirmasikan hipotesa dan kesimpulan awal itu pada sumber terpercaya agar tidak bias.Sulit, tapi dengan semangat yang ada pasti bisa kok. Tulisan yang sangat baik 🙂

    Lebih jauh lagi, kondisi makam Belanda tersebut menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah setempat dan pihak yang berwenang di Kota Batu. Jika sudah terlanjur berdiri dengan slogan “Kota WIsata Batu” atau “Shining Batu”, maka sudah semestinya pemegang wewenang memperhatikan situs-situs seperti ini. Bukan hanya terpaku pada pengembangan theme park, wisata agro, kuliner.

      1. Iya Mas, komentarnya tidak masuk notifikasi… kenapa, ya Mas? Kayaknya bukan cuma saya saja yang mengalami ini, yah :hehe.

        Terima kasih banyak Mas atas apresiasinya :hoho.

        Jujur, saya merasa pengembangan pariwisata yang tidak memerhatikan sejarah kotanya itu sangat salah. Bukannya saya antitaman bermain, saya juga suka main di Jatim Park tapi kalau bermain di sana saya ingat ada arca-arca serta monumen yang seperti menangis minta ditoleh dan dilihat barang sejenak… waa rasanya tidak tega. Seperti bersenang-senang di atas penderitaan orang :huhu. Padahal keterikatan paling kuat dengan masyarakat kota adalah keterikatan sejarah, bukan keterikatan antara pemodal dan taman bermain berbiaya mahal :hehe.

        1. Iya e, serasa masuk rumah langsung nyelonong tanpa ketuk pintu. Tapi saya tidak paham problemnya di mana 😐

          Hehehe, setuju banget dengan pernyataan njenengan yang terakhir. Keterikatan manusia adalah masa lalunya, sejarahnya. 🙂

  11. wah. biasanya saya tidak terlalu terarik sejarah bli Gar. Baca ini jadi lebih pingin tau tentang sejarah. Saya suka baca semua jenis buku, kecuali buku sejarah…dulu ya ketika masih sekolah. Terima kasih sudah mengemasnya dengan apik! Mungkin kl nanti ke perpusda saya akan menuju rak-rak buku sejarah nih. Analisisnya bagus! Makam Dinger ini berarti segede apa ya dulu dan tentu kalau gede biasanya untuk orang penting kan ya. Nice post bli Gar!

    1. Iya, soalnya megah banget, kan kalau untuk orang biasa kayaknya agak susah untuk membangun makam semegah ini, kecuali uang yang dia miliki sangat sangat banyak banget :hehe. Terima kasih atas apresiasinya!

  12. Gara, uuh aku tau gairah yang menggelegak kalau menemukan apa yg dicari, apa yang udah lama diidam2kan.., persis deperti waktu aku penasaran ke Trowulan, meskipun masih pengen balik ke sana cari lebih lengkap lagi

    aku jadi penasaran dengan pak Denger, nemu buku itu di mana Gar? nggak disebut nama bukunya sikitpun, nambah penasaran

    1. Judul buku dan semuanya ada di postingan depan Mbak, soalnya pembuktian dan semuanya ada di sana :hehe. Iya memang rasanya senang dan lega sekali bisa melihat langsung mausoleum itu, kita seperti lama tak bertemu setelah saling mencari :)).

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!