Makam Van Ham: Berkisah Tentang Mereka yang Terlupakan

Saya menatap pintu Museum Daerah NTB yang telah menutup. Baiklah, ini baru jam sebelas dan hari masih panjang. Kembali ke rumah dan membereskan beberapa draf postingan agaknya adalah kegiatan yang sangat salah untuk dilakukan, karena bukankah hari cerah seperti ini seyogianya dihabiskan dengan menjelajah kota, menilik satu atau dua destinasi dan menyesap cerita yang disediakan di dalamnya?

Namun lantaran bingung mau ke mana, saya memilih putar-putar kota saja. Dari bilangan Arya Banjar Getas tempat museum berada, saya ambil Jl. Majapahit melewati Perpustakaan Daerah. Belok kiri, melintasi Airlangga, kemudian menyusuri Pejanggik yang rapi berderet di sisinya pepohonan yang konon ditanam pemerintah kolonial.

Sebuah rahasia yang tak begitu banyak orang yang tahu, karena ini pendapat saya semata, banyak bukti yang membuktikan jika dahulu kala, Mataram sempat disiapkan sebagai “kota pohon”, dengan jalur utama antara Ampenan sampai Cakranegara bernaungkan pohon-pohon besar dan pemandangan yang menggelap, seperti menembus lorong pepohonan asam.

Ya, semoga saja pohon-pohon ini bisa tetap bertahan dan tidak mulai bertumbangan satu demi satu karena batang-batang pohon yang mulai keropos.

Kediaman resmi pejabat kolonial yang kini menjadi kantor gubernur Nusa Tenggara Barat saya lalui begitu saja. Mau mencari apa, bangunan kolonial? Hampir-hampir tak ada, kecuali bangunan yang masih didiami tentara di samping Taman Sangkareang. Taman itu sendiri sebenarnya adalah alun-alun kota yang anehnya, tak berhadapan dengan pusat pemerintahan, tapi dengan sebuah hotel yang pendiriannya melibatkan kebakaran (dalam tanda kutip) dan tukar guling lahan (simpulkanlah sendiri).

Tak ada yang menarik, meski saya sempat menengok ke kiri sedikit, pada halaman dengan latar tulisan ‘BUMI GORA’ besar-besar tertera di dinding lumbung Lombok, mencari kira-kira di mana letak meriam berelief lambang kerajaan itu dulu terletak, namun saya tak mendapatkan hasil berarti.

Bilangan pepohonan masih menyapa ketika saya membelok di daerah Pajang. Sejenak berhenti di Kencana Warsa Mahardhika, menyesap aroma pusat kota yang riuh rendah di kejauhan sana.

Lampu merah berganti hijau dan kendaraan pun melaju.

Selamat datang di Cakranegara.

Inilah ibukota kerajaan Lombok. Kota yang menurut cerita orang tua saya dibangun dengan bantuan ahli tata kota langsung dari Prancis, dengan arsitektur kota dibangun dengan begitu presisi, sehingga beberapa lapis jalan disiapkan, jalur lingkaran kota, dua jalur pusat istana, dan sisi selatan bagi para pengikut yang setia.

Di antaranya, jalan-jalan paralel membentuk jaring dengan ketepatan sempurna membuat Jl. Pejanggik tampak seperti perempatan besar yang silih berganti memisahkan satu blok dengan blok lainnya, pusat kekuasaan Hindu di Gumi Sasak sebelum kini, seiring waktu, mulai memudar dan menjadi kantong-kantong ekonomi pendatang dari laut seberang lantaran letaknya yang demikian strategis.

Pendatang dari laut seberang? Tidakkah kami sebenarnya juga demikian?

Matahari agak menyerong dari tempatnya bersthana saat ini. Padahal, pada bulan-bulan kesepuluh atau saat tahun baru Saka menyapa, sebuah fenomena unik konon bisa dilihat dari sini: matahari akan timbul tepat di ujung jalan yang jauh, di pangkal jalan yang membelah antara Pura Meru dan Istana Mayura. Inilah hasil dari perencanaan kota yang begitu spesifik itu, bahkan matahari pun sudi berjalan di jalur pusat istana. Ah, saya belum boleh terlalu banyak membuka ini karena belum melakukan riset yang tepat dan cukup (Maret 2016 saya mesti mudik untuk membuktikannya), tapi yang jelas, Kerajaan Lombok memang salah satu yang terkaya di Indonesia kala itu.

Timur--Barat, beginilah jejaring jalan di Cakranegara yang usianya sudah berabad-abad. Sumber: Google Maps.
Timur–Barat, beginilah jejaring jalan di Cakranegara yang usianya sudah berabad-abad. Catuspata Ageng (Simpang Empat Utama) ada di antara Jl. Pejanggik dan Jl. Selaparang. Sumber: Google Maps.

Saya hampir saja memutuskan untuk pulang saja ketika lampu lalu lintas yang memisahkan Soekarno-Hatta (maksudnya Jl. Bung Karno dan Jl. Bung Hatta) tampak beberapa ratus meter di depan sana. Jalan agak membelok di sekitar Cilinaya, belokan yang menjadi akhir dari kota kuno Cakranegara karena itu berarti kita sudah kembali ke Karang Jangkong, tapal batas pengaturan kota yang paling barat, sebelum tiba-tiba mengerem motor karena melihat sesuatu.

Untunglah saya sudah berada di sebelah kanan jadi saya tak perlu bergeser ke kiri dan mengacaukan arus lalu lintas, alih-alih demikian, langsung saya menerjang kerikil berdebu yang ada di sebelah kanan jalan.

Di depan saya ada sebuah papan berwarna dasar biru dengan pohon cemara doyong dan plang tercetak di atasnya, konsensus dari entah siapa yang mengatakan bahwa papan itu penanda tempat wisata.

Papan penanda.
Papan penanda.

***

Jalanan berdebu karena kendaraan yang mengangkut material pembangunan hilir mudik, keluar masuk situs pembangunan sementara tidak ada yang mau repot menyiram jalan itu supaya debu tidak terlalu memaksa pengemudi motor seperti saya menahan napas. Penjaga Pura Dalem Karang Jangkong pun sepertinya kurang begitu memerhatikan jalan sebelah sini karena akses menuju pura bisa lewat samping Sekretariat Bersama Parisadha atau, jalan masuk yang lebih menantang, membelah kuburan Hindu dari sisi sebelah utara.

Keadaan jalan menuju situs.
Keadaan jalan menuju situs.

Saya masih ingat dulu, saat saya mekemit (mekemit berarti menginap di pura) bersama teman-teman SMP, seseorang melihat penampakan sesuatu seperti tirai putih melayang di daun-daun pepohonan yang rimbun. Kami langsung tidak berani keluar sampai pagi.

Sekarang memang siang bolong. Tapi rimbunnya beringin dari mandala utama pura membuat obelisk kecil yang ada di sini, tempat tinggal si mayor jenderal, ternaungi dengan begitu sempurna.

Sepi.

Padahal Lombok sedang ramai, kan? Maksudnya, dengan semua gembar-gembor 200 tahun Gunung Tambora dan Bulan Budaya NTB, mestinya semua tempat wisata di sini dapat perhatian yang sedikit lebih. Dan semestinya orang yang berkunjung kemari lumayan banyak, karena bagaimanapun sejauh ini di Lombok saya belum melihat adanya makam kolonial yang bermonumen selain di sini.

Tapi di sini sepi.

Saya menoleh dan langsung tahu sebabnya. Papan penunjuk tempat wisata ini tertutupi oleh seng yang dijadikan pagar bagi konstruksi yang berlangsung di sebelah.

Papan penunjuk dicium dinding seng.
Papan penunjuk dicium dinding seng.

Langsung, saya kehilangan kata-kata. Bagaimana mungkin orang tahu apa yang ada di sini kalau petunjuk arah terakhir yang menuju ke Makam Van Ham tertutup oleh pagar konstruksi? Satu-satunya petunjuk kemari adalah papan di ujung gang, yang cuma menunjuk masuk tapi tak menjelaskan kalau situs yang dimaksud adalah obelisk kecil di dekat pura. Plang itu hanya menunjuk ke arah pekuburan, dan menurut logika orang normal, sudah hampir pasti situs makam Belanda ini ada di tengah-tengah pekuburan Hindu itu.

Oh ya, di sebelah sana ada papan pemandu. Saya berputar arah dan mencoba membaca papan itu, yang ternyata bahkan berada dekat tempat saya memarkir motor. Astaga, bahkan saya yang sudah meniatkan diri kemari pun bisa tidak sadar dengan keberadaannya.

Penjelasan yang tidak menjelaskan.
Penjelasan yang tidak menjelaskan.

Tak ada informasi apa pun dari sana selain bahwa ekspedisi Lombok dikatakan terjadi pada tanggal 5 Juli 1894 (padahal intrik dimulai jaaaauuuuuh sebelum itu), dan tidak ada tanggal lain tentang kematian si jenderal jadi menurut penalaran normal orang yang membaca ini, Jenderal Van Ham pasti meninggal di tanggal 5 Juli 1894 juga.

Padahal Van Ham meninggal tanggal 26 Agustus 1894.

Saya melanjutkan membaca, dan tibalah pada bagian akhir, yang berkata, “Di tempat itu kemudian didirikan monumen peringatan gugurnya Van Ham dan sampai kini sering dikunjungi wisatawan Belanda yang berkunjung di Kota Mataram…”

Waduh, hebat sekali. Tempat ini terkenal hanya karena banyak wisatawan Belanda yang berkunjung ke tempatku, menyempatkan diri ketika mereka tandang ke Kota Mataram.

Saya menepuk dahi. Keras-keras. Demi Tuhan, masa mereka tak tahu kalau yang membunuh petinggi militer ini adalah seorang wanita? Masa mereka tak bisa menjual itu sebagai info bernilai sejarah bahwa dari Lombok pun ada seorang pahlawan wanita?

***

Keadaannya kini. Motor saya numpang nampang; teman setia saya mengukur panjang jalanan Lombok.
Keadaannya kini. Motor saya numpang nampang; teman setia saya mengukur panjang jalanan Lombok.

Dibandingkan bangunan yang dulu sedari kecil selalu saya tatap tiap kali lewat sini, berdinding putih dengan jeruji bergaya serupa, bangunan tempat makam ini berada kini jauh terlihat lebih baru. Ornamen-ornamen sederhana khas Bali berupa lengkungan dan beberapa hiasan di dinding menghiasi dinding dan pagar yang berwarna abu-abu sewarna tembok jelek.

Monumen ini terpencil. Kalau saja tidak ada dua plang di pinggir jalan itu, tak mungkin ada orang yang mengira kalau di sini ada makam. Dahulu, memang makam ini masih terlihat dari jalan Panca Usaha (itu sebabnya saya yang sering dibonceng Bapak selalu menekuri makam ini lekat-lekat ketika lewat), tapi sekarang tak ada yang bisa tahu di sini ada monumen serupa obelisk, terima kasih pada lesehan besar yang mengganti kebun kangkung yang dulu menjadi halaman belakang makam.

Iya, halaman belakang.

Pintu masuk monumen ini kan letaknya salah.

Makam ini seolah dikondisikan menghadap selatan.
Makam ini seolah dikondisikan menghadap selatan. Perhatikan empat bulatannya.

Makam Van Ham sebenarnya tidak seperti sekarang, dikondisikan menghadap selatan. Dahulu, monumen ini sebenarnya menghadap utara, sebagaimana sempat diabadikan dari foto sekitar tahun 1920 ini. Buktinya, relief pahatan itu berada di sebelah utara, sebagai penanda bagian depan monumen, jadi bukan obelisk polos sebagaimana yang saya hadapi ketika itu. Bagian utara monumen kini cuma disisakan sedikit karena selebihnya sudah menjadi bagian dalam pura, tempat dibangun sebuah wantilan (pendapa besar).

Pura Dalem Karang Jangkong di masa kolonial. Makamnya ada di sebelah kanan, agak di belakang. Tampak kecil tapi masih bisa terlihat.
Pura Dalem Karang Jangkong di masa kolonial. Makamnya ada di sebelah kanan, agak di belakang. Tampak kecil tapi masih bisa terlihat. Koleksi: Tropenmuseum.

Padahal dulu dari utara pura, Makam Van Ham tampak dengan sangat jelas… menandai bahwa di sinilah, di pura yang sangat Hindu ini, pasukan Belanda pernah bertahan dari gempuran Puri Cakranegara, berusaha melarikan diri dari gempuran pasukan kerajaan tanpa makanan, tanpa air minum. Hanya ada mereka, amunisi, dan Pura Dalem.

Pintu makam tak dibuka. Tergembok. Mungkin saya harus menghubungi orang dari Dinas Pariwisata dulu kalau mau membuka dan masuk ke dalamnya. Namun saya tak menghubungi siapa pun, jadi saya pun memilih mengitari makam, mencari sesuatu yang bisa dibaca.

Dari pengalaman mengunjungi beberapa makam Belanda di luar kota (Taman Prasasti, ‘s Plantentuin, dan Kerkhof Aceh), umumnya banyak tulisan disematkan di dinding nisan sebagai penghormatan atas jasa si meninggal.

Tapi di sini tidak ada apa-apa… selain empat lubang dangkal bulat di setiap sisi. Ini aneh, padahal yang dimakamkan di sini tergolong petinggi militer, tapi kenapa tak ada tulisan apa pun tentangnya?

Empat bulatan di setiap sisi pinggang obelisk membuat saya curiga. Tunggu dulu, ini berarti…

Saya mengecek koleksi foto tua di dunia maya dan lagi-lagi menggigit lidah. Astaga. Dulu di sini ada plakat. Tapi sekarang sudah hilang.

Kira-kira beginilah makam Van Ham kalau diambil dari arah yang tepat, sisi utara. Koleksi: Tropenmuseum. Perhatikan pagar dan plakatnya.
Kira-kira beginilah makam Van Ham kalau diambil dari arah yang tepat, sisi utara. Koleksi: Tropenmuseum. Perhatikan pagar dan plakatnya.

Iya, apa yang saya katakan memang tidak sepenuhnya salah. Plakat yang dulu dipasang pada bagian pinggang obelisk itu kini telah raib, menyisakan empat lubang kecil di setiap sisi tempat dulu pernah dipasang sesuatu. Semuanya kini diganti dengan nisan buatan di sisi selatan (saya selalu mau tertawa setiap mengingat ini), dengan tulisan nama si jenderal, jabatan terakhirnya, tanggal lahir dan tanggal meninggalnya.

Mayor Jenderal P.P.H. (Petrus Paulus Hermanus van Ham), lahir di Breda, 10 Februari 1839, meninggal (tulisannya gesneuveld alias “terbunuh”) di Mataram, 26 Agustus 1894, dimakamkan di sini. Ya, putra kebanggaan Breda itu kini dimakamkan beribu-ribu kilometer jauhnya dari kampung halaman. Saya tak mendapat keterangan apakah jenazahnya sudah dipindahkan, jadi saya menganggap jenazah sang jenderal masih ada di sini.

"Nisan" salah tempat.
“Nisan” salah tempat.

Melihat monumen ini, entah kenapa saya agak prihatin. Dalam kesunyiannya, Van Ham sendiri, tak ada serdadu-serdadu yang menemani karena mereka semua entah dimakamkan di mana. Makam ini kini ternaungi pohon lebat dengan daun yang terus gugur, sehingga pada akhirnya yang menemani lantai makam itu hanya daun-daun yang tergeletak di tanah, menunggu untuk membusuk. Tak ada yang membersihkan karena bahkan gembok gerbang ini tak begitu sering dibuka, buktinya tumpukan dedaunan yang ada di dalam situs ketika siang itu saya berkunjung demikian tebal seperti sudah berbulan-bulan tak dibersihkan.

Astaga, bahkan deskripsi tentang makam ini berakhir sampai di sini. Padahal yang dimakamkan di sini adalah seorang penting, pria genius yang menjadi kebanggaan kota kelahirannya. Anak ajaib yang sudah lulus ujian guru di usia 15 tahun, yang semestinya bisa menjadi profesor paling ternama di seantero Belanda namun kecintaannya di bidang militer membuatnya berlayar jauh ke Hindia Belanda… dan menemui ajalnya di sana, dikuburkan di tempat itu hingga sekarang.

Satu pandangan lengkap.
Satu pandangan lengkap.

***

Pintu tertutup.
Pintu tertutup.

Intrik di Lombok secara resmi dimulai pada tanggal 7 Juni 1843 dengan adanya Korte Verklaring (secara tidak resmi sebenarnya dimulai jauh sebelum itu). Perjanjian itu adalah perjanjian dalam tanda kutip, ketika Belanda “memohon” kepada Raja Lombok kala itu, Ratu I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, untuk mengakui kedaulatan Hindia Belanda dengan catatan Belanda tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Kerajaan Lombok.

Pihak Lombok mematuhinya dengan menandatangani perjanjian itu.

Sedangkan pihak Belanda? Tentu saja tidak demikian, meski mereka menandatanganinya.

Maksud saya, siapa yang tak merasa terancam melihat ada sebuah kerajaan Hindu di pulau kecil bernama Lombok yang memiliki angkatan perangnya sendiri, politik luar negeri sendiri, hak tawan karang sendiri dan bahkan, menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara di Laut Utara?

Siapa yang tak ingin menerapkan hukum rimba atasnya, berkuasa atas orang yang memiliki kuasa?

Atas motif segelintir “pemilik modal” yang mengatasnamakan “perkembangan industri dan ekonomi”, demi mencegah perekonomian Indonesia dikuasai oleh negara lain (terutama Inggris), Belanda membuat “perjanjian-perjanjian susulan” yang intinya mencegah perekonomian Selat Lombok (dan tentu saja, politik) dikuasai oleh negara-negara asing.

Motif ekonomi pulalah yang membuat kejadian selanjutnya susul menyusul. Insiden tembakan meriam akibat candu di Selat Lombok pada awal 1887, penahanan saudagar Ambon (yang juga adalah agen dari perusahaan dagang Belanda) di tahun yang sama, pemberontakan Praya pada tanggal 7 Agustus 1891 yang ternyata berakhir berkepanjangan, semakin membuka jalan bagi Belanda untuk menerapkan politik adu domba antara rakyat Lombok (yang notabene beragama Islam) dengan raja mereka yang berasal dari Bali, sekaligus melancarkan tuntutan yang semakin hari semakin tak masuk akal.

Papan penanda.
Papan penanda.

Didesak oleh Belanda di Ampenan dan oleh pemberontak di Praya dengan pemberontakan yang berlangsung sampai tahun 1892, Cakranegara tidak hilang akal. Dengan dua kapal, Sri Mentaram dan Sri Cakra, Raja Lombok mengirimkan permintaan bantuan kepada Singapura yang notabene telah dikuasai Inggris. Sayang pemerintah di Batavia sudah keburu mencium gelagat tidak baik dari Raja Lombok ini sehingga dua kapal tersebut diembargo dan ditenggelamkan. Padahal dua kapal ini sebelumnya sangat membantu untuk mengangkut amunisi guna menumpas pemberontakan di Praya itu.

Pemerintahan kerajaan bahkan sempat pula melayangkan permohonan ke Rusia via Singapura (iya, Rusia), tapi perhitungan yang tidak maksimal membuat utusan Rusia yang membawa senjata justru mendarat di Tejakula, Bali, yang apesnya merupakan daerah di Buleleng yang sangat dikuasai Belanda. Beruntung utusan itu bisa melarikan diri ke Tianyar—Tembok, dan berlayar sampai Mataram.

Meskipun “berlayar ke Mataram” berarti mendarat di Ampenan dan itu berarti pusat kota Belanda di Lombok…

Barulah Belanda menyadari kalau Lombok adalah ancaman. Ancaman besar, karena bagaimana mungkin pulau kecil ini bisa meminta bantuan sampai Inggris dan Rusia sana?

Makam berupa obelisk.
Makam berupa obelisk.

Demikianlah, pada tanggal 27 Mei 1894 Belanda mengirim ultimatum ke Raja Lombok berisi beberapa tuntutan, yakni agar Raja Lombok tunduk dan menaati segala perintah Sri Paduka Gubernur Jenderal, plus menanggung semua biaya yang sudah dikeluarkan Belanda dalam peperangan selama ini. Perundingan berjalan sengit karena Raja Lombok sama sekali tidak mau mematuhi tuntutan Belanda yang sangat tidak masuk akal itu, sampai puncaknya pada tanggal 5 Juli 1894 ketika Belanda mengultimatum Lombok untuk, yah, menyerah, karena Belanda sudah bersiap dengan kekuatan militer penuh di Pantai Ampenan untuk menggempur puri.

Ultimatumnya, jika sampai jam 6 pagi tanggal 6 Juli 1894 belum ada jawaban memuaskan dari pihak kerajaan Lombok, maka per jam itu juga perang akan berlangsung. Di sinilah Van Ham mulai tampil. Kala itu, dia adalah petinggi militer kedua setelah Jenderal Vetter, pemimpin ekspedisi.

Tapi belum ada yang terjadi pada tanggal itu. Memang, 6 Juli 1894 sudah ada keributan di Ampenan, namun belum ada korban jiwa, selain seorang punggawa yang ditahan, karena Belanda melihat ada gelagat keragu-raguan dari Raja Lombok untuk berperang, dan lagi pula, tujuan Belanda sebenarnya jauh dari itu. Tak ada gunanya menghabisi raja yang sudah mulai lunak karena sang raja lebih ingin melindungi rakyat (dan keluarganya) ketimbang menghancurkan keduanya.

_MG_7779

Tujuan Belanda sebenarnya adalah menghabisi pemimpin Lombok yang disukai oleh rakyat, yakni Anak Agung Made Karangasem, putra raja yang, saya tak heran, sangat menentang Belanda dan merupakan ancaman besar bagi pemerintah kolonial lantaran ia terus mendesak ayahnya untuk berperang dengan Kompeni. Jika orang ini bisa dihabisi, maka akan lebih mudah bagi Belanda untuk menguasai Lombok, karena raja Lombok yang sudah uzur tentunya bisa dihadapi Belanda dengan gampang.

Medio Agustus 1894, Belanda lagi-lagi mengultimatum raja Lombok untuk menyerahkan puteranya, atau Puri Cakranegara akan ditumpas habis, rakyat Lombok akan dimusnahkan, sebagai hasil dari perundingan yang sangat berlarut-larut tapi tidak mencapai kata sepakat.

Sang raja pun berada dalam dilema. Di satu sisi, ia tak mau mengorbankan rakyatnya dalam peperangan yang sangat besar, entah karena dia melawan Belanda yang telah bersenjata lengkap dengan armada yang jumlahnya jauh lebih besar atau menyerahkan putranya itu mentah-mentah ke tangan Belanda, yang akhirnya membuat kemarahan rakyat dan pada akhirnya juga mengakibatkan peperangan dan rakyat yang tidak berdosa menjadi korban, tapi di sisi lain, ia tak mau juga anaknya menjadi korban kekejaman Belanda.

Akhirnya dia mengambil satu keputusan sulit.

Keputusan itu adalah:

Lebih baik sang putera ini mati di tangannya sendiri.

Pada saat itu, memang tersebar gosip bahwa Anak Agung Made Karangasem melakukan hubungan terlarang dengan keponakannya sendiri. Menurut hukum Bali, perbuatan tersebut digolongkan sebagai gamya-gamana dan hukumannya (kala itu) adalah hukuman mati.

Entah bagaimana, raja memilih percaya akan gosip itu dan akhirnya menjatuhkan hukuman mati pada puteranya sendiri, dalam sebuah kejadian yang sangat mengharukan karena eksekusi mati ini harus dilakukan seorang ayah terhadap anak kandungnya. Apalagi anak kandungnya ini adalah seorang laki-laki, yang notabene adalah penerus keturunan yang sangat penting.

Namun semua yang terjadi pun akhirnya tetap terjadi. Anak Agung Made Karangasem tetap dieksekusi, dengan muka tersenyum, wajah yang bersinar terang, setelah sebelumnya tetap menyangkal dirinya telah berbuat sebagaimana yang dituduhkan.

Bagi saya, inilah titik balik bagi kerajaan Hindu terakhir di Lombok itu, perbuatan paling gegabah yang dampaknya membuat semua orang harus membayar dengan sangat mahal.

Bersama dengan wanita yang diisukan dekat dengannya, keponakannya sendiri yang bernama Anak Agung Ayu Made Rai yang juga sudah dieksekusi mati, jenazah mereka berdua diusung ke Pantai Ampenan untuk dilarung ke laut, tanpa melalui upacara Ngaben karena keduanya dianggap sudah melakukan dosa yang demikian besar. Perjalanan dari Cakranegara ke Ampenan sangatlah mengharukan bagi rakyat yang menyaksikan, karena ini berarti mereka sudah kalah: pemimpin telah tiada dan mereka tak bisa mengharapkan apa pun dari raja yang sudah melunak terhadap kaum penjajah.

Konon kabarnya, menurut berita yang tersebar, setelah jenazah itu dibawa ke tengah laut, jenazah Anak Agung Made Karangasem terempas sampai tiga kali kembali ke pantai. Orang-orang percaya, bahwa Tuhan tahu kalau Anak Agung Made tidak bersalah, dan karenanya tidak diterima karena belum waktunya meninggal.

Dulu di sini ada plakat, tapi sudah musnah.
Dulu di sini ada plakat, tapi sudah musnah.

Setelah kejadian itu, Belanda langsung berhasil masuk sampai ke Karang Jangkong (yang demikian dekatnya dengan Mayura) kemudian mengatur pasukan di sana. Mereka menempatkan pasukan di tempat-tempat penting termasuk Pura Meru yang sangat dekat dengan Istana Cakranegara (ya iyalah wong cuma nyebrang jalan doang), sehingga membuat keluarga kerajaan di puri resah sendiri, karena ini berarti tinggal menunggu waktu sebelum istana dibumihanguskan.

Ketiadaan pemimpin perang, putra yang dibunuh oleh ayahnya sendiri membuat pemimpin-pemimpin pasukan tidak terkoordinir dan memilih bergerak tanpa komando. Termasuk di dalamnya adalah seorang putri raja bernama Anak Agung Ayu Praba, putri dari raja Lombok dengan seorang wanita asli Sasak bernama Denda Aminah alias Denda Nawangsasih. Ia menyiapkan alat menenun yang dinamakan “belida” untuk senjata, yang terbuat dari kayu hitam dengan ujung meruncing.

Ketika ditanya oleh seorang punggawa mengapa ia menyiapkan hal itu, sang putri pun menjawab sengit dan membuat telinga siapa saja yang mendengarnya kala itu memerah (kata-kata aslinya saya edit karena terlalu kasar):

“Inilah senjata wanita terhormat, untuk mempertahankan martabat dan kehormatannya. Kita tak mau menjadi jejarahan Belanda, untuk diperbuat sekehendak hatinya. Sebab rupanya sekarang tidak banyak orang yang berkelamin lelaki di sini.”

Mungkin orang mengira bahwa putri raja dan enam dayangnya ini tidak mampu berbuat banyak. Namun ternyata, malam di tanggal 23 Agustus 1894, ketujuh orang ini telah berangkat dari Keputrian Cakranegara hanya bersenjatakan alat menenun itu. Saat itu, Raja Lombok tidak terlalu memedulikannya karena beliau lebih mementingkan konsolidasi pasukan di balik tembok puri sehingga ia membiarkan putrinya ini pergi.

Pahatan di sisi utara,
Pahatan di sisi utara,

Namun ketika tanggal 25 Agustus 1894 pukul 23.00 terdengar tembakan dari arah Pura Meru, semua orang agaknya tahu kalau keadaan tidak seaman kelihatannya. Kedua belah pihak, baik Belanda maupun Lombok, sama-sama merasa telah diserang sehingga peperangan pun tak terelakkan. Selama beberapa jam peperangan berlangsung dan pasukan Belanda beserta kedua pemimpinnya yang berada di Pura Meru seolah terjebak, tanpa amunisi yang cukup, tanpa makanan dan minuman karena pertempuran telah meluas, bantuan dari Ampenan pun telah terputus sama sekali.

Tengah malam di tanggal 26 Agustus 1894, pasukan Belanda berduyun-duyun meninggalkan Pura Meru, menuju Ampenan untuk mendapatkan logistik, di tengah hujan tembakan dan meriam yang terus menderu. Nahas, pada saat itu tembakan masih berlangsung sehingga Jenderal Van Ham pun tertembak di dada dan kakinya, sehingga ia pun terjatuh, dan di sinilah ia terkenal sekali dengan kata-kata terakhirnya yang diucapkan dengan demikian tenangnya pada serdadu-serdadu yang berdiri dekat dirinya:

“Aku sudah kena pelor”.

Tapi dia belum meninggal, meski luka di dadanya sudah mengucurkan darah demikian banyak, ia tetap tenang bahkan masih berusaha memimpin pasukan karena sang komandan, J.A. Vetter, sedang memimpin peperangan di daerah Pagesangan. Paling tidak, dia masih berhasil mencapai Pura Dalem Karang Jangkong, meski itu di atas tandu.

Pinggang obelisk sebelah barat.
Pinggang obelisk sebelah barat.

Namun di tempat itu, ketika ia masih berusaha menahan sakit, mendadak sekumpulan wanita keluar entah dari mana, mengamuk dan menghabisi semua orang Belanda yang bisa mereka temui, termasuk Jenderal Van Ham.

Pembaca budiman tentu tahu siapa wanita-wanita ini.

Anak Agung Ayu Praba.

Pihak Belanda sangat geram dengan kenyataan ini karena ini berarti keluarga kerajaan menyerang mereka lebih dulu. Tak tanggung-tanggung, ketujuh wanita itu langsung ditumpas habis di tempat dengan bayonet, mengakibatkan mereka semua tewas secara mengenaskan dengan perut terburai.

Peperangan semakin sengit karena ini artinya Belanda telah membunuh keluarga kerajaan. Tapi balas dendam Belanda rupanya tidak berhenti sampai di sini, mereka terus mengadakan penyerbuan ke Istana Cakranegara sampai pada akhirnya, tanggal 23 November 1894, Raja Lombok secara resmi menjadi tawanan Belanda untuk diasingkan di ibukota, Batavia.

Puncak obelisk.
Puncak obelisk.

Sejarah yang panjang? Ya. Tapi kenyataannya, nasi sudah menjadi bubur. Semua harus hilang musnah demi bayaran yang menurut saya sangat tidak sepadan dibanding nyawa manusia, berupa Kitab Desawarnana (nama lainnya Negarakertagama), seperempat kuintal emas, dan berpuluh kilogram perhiasan mirah permata, plus kendali ekonomi di Selat Lombok yang memuaskan nafsu serakah para pemilik modal yang bahkan wajahnya tidak ada seorang pun peserta perang kala itu yang tahu.

Namun bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana wajah Raja Lombok yang terakhir, sila datang ke Museum Nasional, Ruang Etnografi, bagian Nusa Tenggara Barat. Di sana ada kenang-kenangan Raja Lombok kepada “Paduka” Gubernur Jenderal di Batavia, berupa replika yang sangat mungil dari dirinya yang sedang duduk.

Untuk yang ingin tahu sekelumit tentang pampasan perang kala itu, sila naik ke Gedung Arca Lantai 4 pada museum yang sama. Salah satu koleksi yang paling saya ingat adalah sebuah cincin bermata sembilan batu mirah, dengan warna yang menunjukkan warna seluruh mata angin dalam kepercayaan Hindu.

_MG_7773

***

Saya menatap pada obelisk yang berdiri bisu itu, dengan musik angin di siang bolong bertiup sepoi menggesek dedaunan. Entah, mungkin kita semua adalah korban. Raja Lombok, Van Ham, Anak Agung Made Karangasem, Anak Agung Ayu Praba, semua petinggi serta rakyat kerajaan Lombok kala itu, bahkan mungkin juga termasuk saya yang berdiri di depan makam ini, adalah korban. Korban dari ambisi kekuasaan segelintir orang yang mengaku diri berada di atas orang lain. Korban dari postulat-postulat politik ekspantif yang berawal dari rasa iri dan keinginan untuk berkuasa.

Saya bertanya pada semua yang ada di hadapan saya, pentingkah perang? Pentingkah perang, ketika perang memang tidak pernah membawa kebaikan, selain luka, kerusakan, dan kesedihan tiada akhir?

Tak ada yang menjawab. Saya tak tahu apa mereka tidak tahu jawabannya, ataukah mereka tahu… tapi memilih diam.

_MG_7772

_MG_7770 _MG_7769


Referensi:

Agung, Anak Agung Ktut. 1991. Kupu-kupu Kuning yang Terbang di Selat Lombok: Lintasan Sejarah Kerajaan Karangasem 1661—1950. Denpasar: Upada Sastra.

Rehm, G.J. 1959. Generaal-Majoor P.P.H. van Ham. Dalam Jaarboek De Oranjeboom 12. Breda.


Post scriptum:
Versi kematian Van Ham yang sedikit berbeda ditampilkan dalam Jaarboek 12. Menurut versi tersebut, Van Ham tidak meninggal karena dibunuh seorang wanita, melainkan memang meninggal karena ditembak (meski tidak disebutkan siapa yang menembaknya).

55 thoughts on “Makam Van Ham: Berkisah Tentang Mereka yang Terlupakan

    1. Setuju. Poinnya sebenarnya di situ Mas. Kalau satu monumen saja sudah menyimpan banyak cerita, betapa banyak sejarah yang bisa digali dari sebuah kota, kan…

      1. bener banget! Ah..Memang harus banyak baca nih supaya banyak tau, apalagi dengan peninggalan-peninggalan sejarah negeri sendiri 🙂 Paling seneng kalau sekalian baca sekalian ngeliat langsung. Bersyukur masih bisa ngeliat sisa-sisa sejarah masa lalu yang bener-bener unik dan banyak pelajaran. 😀

        1. Iya, kalau setelah melihat langsung kita membaca ceritanya, kisah yang kita dapat bisa jadi lengkap banget. Kita jadi tahu kenapa ini begini dan kenapa itu begitu, bukan sekadar menerka akan apa yang sudah kita lihat :)).

    1. Bagi saya, mereka datang itu sudah dengan niat tidak baik sih Mbak :hehe. Cara yang baik-baik itu mah modus doang, pencitraan *loh? :haha*. Iya, mereka memang kepenginnya menjajah… yah, akhirnya seperti ini.

  1. Panang dan detail ceritanya Gar! Thanks buat sharing jadi tau sekilas sejarah Van Ham ini. Sayang banget ya tempatnya terpencil gak keurus kalau kataku.. Pwmerintah setempat terkesan cuek banget , terlihat dari papan petunjuk yang ketutupan papan or apa itu Gar.. Harusnya dibuat semenarik mungkin sebagus mungkin biar bisa banyak mendatangkan wisatawan dalam maupun LN.

    1. Iya Mbak, sama-sama. Pemerintah kota di sini lebih cenderung dengan wisata pantai atau wisata alam yang lain, padahal wisata budaya ini juga bagus tapi kurang terurus karena kurang mampu merangkul keluarga kerajaan dan masyarakatnya secara utuh, semacam ada konsensus bahwa lebih baik tidak bersinggungan begitu (kecuali kalau mau minta dukungan pas pilkada :haha). Yah masalah itu memang masih ada sih di Mataram.

  2. Adududududuh… si Raja Lombok itu ampun deh. Sedih banget bacanya Gar. Si Putri Praba (boleh disebut nama akhirnya aja gak?) luar biasa ya. Gw membayangkan bagaimana patriotismenya membakar orang di sekelilingnya..

    1. Boleh Mas :hihi.
      Iya, tak banyak yang tahu kalau dari Lombok juga ada pahlawan wanita :hehe. Habisnya posisi wanita di masyarakat zaman dulu kan masih rendah banget ya, jadi ada satu yang berbeda itu pasti dianggapnya aneh begitu :hehe.

  3. Perang memang selalu berakhir dengan kehancuran mas, karena itu sebisa mungkin manusia harus menghindarinya. Terus, nggak nyangka kalau dari sebongkah batu monumen peringatan terdapat cerita heroisme kerajaan lombok 🙂 Keren!

    1. Iya Mas, tak ada kebaikan yang dibawa perang :)).
      Yep, wisata sejarah di Lombok juga sebenarnya seru banget Mas, apalagi buat yang enggan jauh-jauh dari kota, ini bisa banget jadi opsi soalnya kebanyakan situs Kerajaan Lombok ada di Kota Mataram semua :)). Terima kasih atas apresiasinya, Mas :hehe.

  4. bagus banget postingannya Gara, jadi tambah ilmu pengetahuan tentang sejarah di indonesia. iih itu para kompeni bener2 menyebalkan ya “ngomong nyebelin padahal nikah sama kompeni juga”,hahahaha,,, kali ini biar kita yg jajah si kompeni, suru ikut upacara 17 agustusan, pake batik juga, menghormati kebudayaan indonesia,hehe

  5. Waduhh! Nisan marmernya udah lenyap dicuri org tak bertanggung jawab! >_<

    Baru ngeh ternyata Cakranegara punya tata kota serapi itu. Jadi penasaran dgn jalur air masuk kotanya, apa dulu atau hingga kini ada Water Toren ( semacam menara air ), Gara? Lalu bekas pemukiman Belanda dan pemukiman pendatang etnis lain ada nggak? 🙂

    1. Water toren di Lombok cuma satu Mas, namanya Danau Segara Anak :hehe. Dari sana, dibuatlah terowongan yang menghubungkn Rinjani dengan Suranadi, Gunung Sari, Narmada, dan Mayura, kesemuanya kini jadi pemandian yang sangat terkenal meski terowongan airnya kini tidak dieksplorasi. Soal pemukiman multietnis ada di Ampenan, soalnya di sana kan pusat ekonomi Belanda jadi pedagang-pedagang Tionghoa bermukim di sana.

  6. Wah, aku membaca tulisanmu dengan perlahan-lahan dan mendapatkan banyak sekali cerita. Kebetulan sekali karena siang ini aku berangkat ke Lombok, jadi bisa menambah semangatku.
    Kerajaan di Lombok memang menyimpan banyak cerita, dan memang pelaut-pelaut kita di zaman dahulu begitu berani dan kuat, berlayar begitu jauh untuk mempertahankan negeri. Ah, puteri Praba yang berani, menjunjung kewanitaan bukan berarti selalu lemah dan dilindungi. Terima kasih cerita yang keren!

    1. Selamat jalan Mbak Indri, semoga perjalanannya menyenangkan, cerita-ceritanya tentang Lombok ditunggu, ya :hehe. Iya Mbak, kisah tentang Au’ Tikuh (nama kecil Anak Agung Ayu Praba) memang kurang dikenal tapi menurut saya beliau pantas sekali menjadi pahlawan :)).

  7. Bacanya campur aduk perasaan teteh, ada pengen ketawa diawal pas baca batu nisan yg salah letaknya, info yg banyak tidak sesuai, geram krn ada tangan jahat yg merusak, dan maraaaah sama si Raja ..huuh…

    Tp dimanapun, kapanpun, peperangan itu akhirnya tidak ada yg bisa dikatakan menang, meski salah satu merasa menang… 🙁

    Semoga damai segera tercipta di segala penjuru bumi ini…aamiin..

    1. Iya Mbak, saya juga menyesalkan banget tindakan sang raja namun yah, mungkin beliau sudah punya pertimbangan lain soal itu, dan lagi ini soal politik, soal kepentingan, soal pengorbanan juga, mungkin kehilangan satu nyawa masih mending ketimbang kehilangan beribu nyawa…

  8. Aduh, bacanya jadi miris. Entah karena tempatnya yang ‘kurang’ terurus atau karen sejarah dibaliknya yang pilu. Mungkin karena dua-duanya.

    Sejarah ada untuk dijadikan pelajaran. Tinggal kitanya yang mau berkaca padanya atau mengulangi kesalahan yang sama.
    Terima kasih sudah berbagi catatannya, Bli Gara.

  9. kalau menurut saya perang itu penting jikalau untuk menegakan kebenaran yang sudah tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah.
    duh di tahun 1920 kualitas fotonya bagus juga ya mas ? 🙂

    1. Iya juga sih Mas, kadang perang itu tak terelakkan, seperti Bharatayudha ya :hehe.
      Oh, iya, memang bagus, karena mereka dilestarikan dengan sangat baik :)).

  10. Aku senang banget baca tulisan ini, karena baru kali ini aku mendengar cerita sejarah Kekaisaran Mataram (berdasarkan tulisan di plangnya, ini Kekaisaran ya, bukan Kerajaan?). Benar-benar gak nyangka kalau Lombok menyimpan sejarah yang lumayan seru. Aku mulai membayangkan betapa kaya dan berpengaruhnya kekaisaran itu, sehingga mereka memiliki hubungan diplomatik dengan beberapa Imperium besar di Eropa. Tapi yang jadi pertanyaanku, kok aku belum pernah dengar nama pahlawan Nasional yang berasal dari pulau Lombok ya? Apakah tidak pernah ada yang mengusulkan ,,, misalnya untuk menaikkan nama sang putri Cakranegara itu sebagai pahlawan nasional, atau putra raja yang tragis kehidupannya mengingat kegigihan dan keberanian mereka menentang penjajahan.

    Membahas soal perang yang sekilas memang didasari oleh motif ekonomi, rasanya sampai saat inipun keadaan ini masih berlangsung. Dimana sesungguhnya perang-perang yang masih berkobar hingga saat ini di beberapa penjuru dunia juga didasari oleh hal yang sama, atau setidaknya didalangi oleh para “pemodal” yang memiliki agenda sendiri. Ironisnya terkadang Negara, dan Agama seolah menjadi operator dari peperangan tersebut, padahal mereka justru menjadi ‘korban’.

    Btw, ini kalau dibuat film atau novel roman yang agak panjang kayaknya seru ya. Dengan latar belakang intrik, politik dan sebagainya. Selain bisa menambah wawasan wacana sejarah bagi para pembacanya.

    1. Hubungan Bali-Sasak di Lombok ini memang unik, Mas. Bagaimana suku Sasak saat ini sebenarnya agak “perang dingin” dengan suku Bali di sini, bahkan sampai saat ini, karena orang Bali sendiri disebut sebagai “penjajah” tanah Sasak (isu inilah yang dibakar Belanda di pemberontakan Praya), sehingga dengan otonomi daerah yang notabene menjadikan orang asli Lombok sebagai pemimpin daerah, akan sangat susah untuk mengajukan pahlawan nasional dari kerajaan itu kalau bungkusnya adalah Lombok.

      Ah, menjelaskan ini sangat susah karena saya bukan pihak yang objektif, saya orang Bali yang lahir dan besar di Lombok jadi posisi saya sangat tidak netral. Dan kisah ini kisah yang panjang plus sudah menyangkut unsur SARA yang demikian banget dalamnya jadi saya bingung mengatakannya bagaimana, meski sudah terkonstruksi di dalam kepala. Maafkan saya, tapi pertanyaan Mas itu meski bisa dijawab, menjawabnya sangat sulit, dan penjelasan di atas itulah tulisan jawaban terbaik yang bisa saya berikan :hehe.

      Konflik politik Lombok memang salah satu dari konflik terumit dan paling dilematis, memang. Apalagi kalau sudah masuk ke hari-hari terakhir perang di November 1894 ketika semua keluarga kerajaan melakukan puputan (berperang sampai mati), wuih… Taman Mayura itu berubah warnanya menjadi merah karena darah, dan mengenangnya saja sudah cukup seram bagi saya :hehe.

      Soal kekaisaran atau kerajaan, saya lebih suka menyebutnya kerajaan, Mas :hehe :peace.

      1. Ah iya aku agak paham sedikit kalau gitu bagaimana dilematis masalah itu, meskipun pada akhirnya nanti pahlawan tersebut menjadi kebanggan nasional, tetap ada bagian yang sulit untuk dijelaskan. Mungkin kapan-kapan kita bahas japri supaya lebih santai hehehe …

        1. Iya Mas, kadang pahlawan bagi sekelompok orang belum tentu juga pahlawan bagi kelompok orang yang lain, hanya saja ini skalanya lebih kecil. Siap, saya akan berusaha menjelaskan dengan lengkap :)).

  11. Dari dulu nisan memang memiliki sejarah panjang didalamnya, dan baru kali ini amaze dengan kisahnya
    Jarang banget anak muda sekarang yang suka menelusuri jejek2 terdahulu untuk sekedar memahami makna dibaliknya
    keren tulisannya Gara

  12. Mantep nih… tahun lalu ke Mataram, banyak yang berubah dari tahun 1993 ketika terakhir berangkat keluar dr Lombok. Cakranegara menjadi agak crowded tapi baru tahu kalau tata kotanya dibantu Perancis..

    1. Cakra memang sekarang sudah ramaaai bangeet, suka macet juga. Iya menurut beberapa sumber lisan, demikian kabarnya. Ada sih tugu penataan kota cuma saya belum terlalu memerhatikan, seingat saya tugu itu untuk penyempurnaan yang lain di tahun 1957.
      1993? Wow itu saya baru umur setahun Mas, kurang malah *kabur* :hihi :peace.

  13. Wah Bli, matamu jeli sekali sih bisa paham sampai sedetail itu. Bli cocok menjadi detektif. Tapi Bli juga sangat meyakinkan untuk menjadi seorang pakar sejarah. Jadi ingin tahu lebih banyak juga mengenai tokoh-tokoh pahlawan Pulau Lombok. Kapan-kapan Bli harus mengisahkannya ya…

  14. Lagi-lagi, saya merinding.

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

  15. jujur..aku sedih banget baca kisah Anak Agung Made Karangasem .. dilematis..
    apalagi aku udah punya anak
    kalo di posisi dia, aku yg bakal mengorbankan diriku
    T.T
    kalo di sejarah islam ada kisah nabi ibrahim yang terpaksa mengorbankan anaknya nabi ismail karena perintah Tuhan, meski akhirnya nabi ismail batal dikorbankan
    kisah putri Praba juga sangat menarik dan herois

    btw, aku jadi gugling soal pahlawan ntb dan aku pikir selaparang yang pernah jadi nama bandara itu nama raja, rupanya nama kerajaan
    btw..memang belum ada pahlawan yg statusnya diakui sbg pahlawan nasional di lombok yah…

    btw (lagi) gara di kampus aktif di koala gak dulu?
    kenal sama mitha asriana kan hahaha #misfokus
    aku juga penasaran kenapa anak2 ntb lebih suka pake nama lombok sumbawa ketimbang ntb 🙂

    ohya…aku penasaran juga sama arti kota2 di ntb kayak mataram, bima… sepintas seperti nama kerajaan di jawa, lalu bima itu nama tokoh wayang hehehe…
    aku pernah dengar selain di jawa dan bali, suku sasak juga mengenal wayang sasak, apakah tokoh bima ada disana hehe…

    oya, aku juga suka ke makam tua gar…
    pasti ada sejarah panjang dari sana
    btw (terakhir)… suka baca tulisannya mbak olive (obendon.com) gak?

    1. Iya Mas, mungkin saya juga akan mengorbankan diri sendiri saja ketimbang harus mengorbankan anak, tapi mungkin ada pertimbangan dan alasan beliau sendiri sehingga mengorbankan anaknya, seperti pertumpahan darah yang pasti lebih dahsyat selain itu martabat sebagai seorang raja, ini mungkin saja sih Mas :hehe. Yep, memang belum ada pahlawan nasional dari NTB, sedang ada diusahakan satu tokoh cuma saya kurang mengikuti bagaimana perkembangannya.

      Koala? Sayangnya tidak terlalu aktif tapi saya tahu Mita, kan dia adik kelas saya di SMA dulu :hehe. Nah itu sebenarnya pernah mau pakai “nusa tenggara barat” cuma sewaktu diakronimkan malah jadi lucu dan takutnya mengundang polemik jadi namanya diganti dengan “lombok sumbawa” :hehe.

      Iya, tak heran Mas, kan orang Lombok dulu sering mendapat pengaruh dari Jawa jadinya ada banyak kemiripan di sini. Wayang sasak tokohnya ada macam-macam Mas, panca pandawa juga ada, tapi ada juga tokoh-tokoh uniknya :)).
      Mbak Olive? Tentu saja saya tahu, saya suka tulisan-tulisan beliau Mas :)).

  16. sayang sekali kurang terawat ya mas. Biasanya memang hal-hal yang berbau sejarah kurang terawat di Indonesia. Terus sekarang kabar monumen itu seperti apa mas? keren yak, kalau yang ternyata yang membunuh seorang wanita, hehe

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!