Mak-Bapak, Mudik, dan Gunung Agung yang Meletus

Anggarakasih Medangsia, 21 November 2017, Gunung Agung memulai letusannya. Sabtu dan Minggu, tariannya makin menyita perhatian.

Saya tidak membahas soal bagaimana gunung ini mulai menari. Meski asap hitam dan putihnya sangat menarik hati. Saya juga tidak mampu mengurai mengapa sang Tohlangkir memilih waktu yang demikian tepat untuk mulai bergerak. Baik dari segi harinya: yang adalah hari raya. Atau dari segi jamnya, yang kebanyakan di perpotongan waktu. Tidak juga saya akan bersusah diri untuk membahas bagaimana catatan letusan gunung ini ada sepanjang sejarah. Itu bisa dilihat di blog orang lain. Kali ini, kita santai-santai saja.

Secara relatif, bagi saya gunung ini menunjukkan kuasanya di waktu yang sangat tepat. Sebabnya, di saat yang sama ayah dan ibu saya mudik ke Bali untuk menghadiri sebuah acara keluarga. Hal itu membuat saya lebih sering menelepon mereka untuk memastikan kondisi terkini soal gunung meletus. Sambil berharap bahwa saya ada di sana guna mengambil beberapa gambar.

Saya cukup bersyukur bahwa lokasi letusan jauh dari kampung Bapak di Bali. Atau saya harus bersyukur kampung Bapak jauh dari Gunung Agung. Apapunlah. Tujuh puluh lima kilometer jarak Gunung Agung dengan Desa Sangsit di utara Buleleng. Jadi, keluarga kami bisa dibilang tidak begitu terdampak bencana gunung meletus. Kecuali, letusannya hebat seperti lima puluh empat tahun lalu. Kala itu, menurut cerita Bapak, yang jadi hujan bukan abu, tapi pasir.

Sedahsyat-dahsyatnya letusan Gunung Agung hanya berdampak hujan pasir. Itu semata tidak serta-merta membuat saya tenang. Dari Pelabuhan Padangbai, untuk mencapai kampung Bapak di Sangsit harus mendekati kawasan rawan bencana Gunung Agung. Meski tidak masuk dalam area enam sampai tujuh setengah kilometer yang diharuskan steril, jalur mana pun yang diambil masih akan mendekati Gunung Agung. Bagaimanapun bentuk dampak letusannya, minimal masih kena hujan abu.

Apalagi, Bapak dan Ibu menempuh perjalanan dengan sepeda motor. Saya ngeri membayangkan risikonya. Ngeri dengan kemungkinan hujan abu dan material lain yang lebih besar. Apalagi dengan sepeda motor, yang secara langsung tidak memiliki pelindung apa pun dari hujan material panas. Saya ada di tempat yang jauh, cuma bisa berdoa semoga gunung ini tidak menggeliat sewaktu Bapak dan Ibu lewat di dekatnya.

Ada dua jalur dekat yang bisa ditempuh dari Pelabuhan Padangbai menuju Sangsit, Singaraja. Pertama via Karangasem, menyusuri garis pantai dari Padangbai-Candi Dasa-Manggis-Abang-Kubu-Tejakula-Air Sanih-Sangsit. Jalur ini sangat tidak disarankan karena wilayah Kubu sampai Tejakula termasuk kawasan rawan terdampak aliran lahar, kalau-kalau Gunung Agung meletus besar. Kawah Gunung Agung membuka ke arah utara-timur laut. Jika gunung ini mengeluarkan lahar panas, daerah-daerah ini akan menjadi jalurnya.

Jadi Bapak mengambil jalur kedua: via Kintamani. Lengkapnya, Padangbai-Semarapura-Raya Besakih-Penelokan-Batur-Penulisan-Tamblang-Air Sanih-Sangsit. Secara geografis jalur ini terletak menyusuri bukit yang menjadi bendungan bekas Gunung Agung purba. Kini bukit Kintamani itu, namanya, jadi pelindung bagi daerah Batur ke barat dari amukan Gunung Agung, kalau-kalau Hyang Tohlangkir memutuskan diri untuk mengganas dengan kekuatan penuh.

Jalur kedua ini menurut Bapak tidak begitu bahaya. Meskipun demikian, menurut saya agak menakutkan juga. Bagaimanapun terlindungnya, baik dari bibir kawah maupun dari punggung Batur purba, jaraknya secara radial lebih dekat ketimbang daerah Kubu-Abang. Jika konfigurasinya tepat, dan ledakan material vulkanis mengarah ke barat, daerah ini bukan tidak mungkin terkena dampak yang cukup parah.

Saya sebenarnya mengusulkan jalur ketiga: via Denpasar, jalur yang lebih barat. Jadi dari Padangbai, via By Pass Ida Bagus Mantra dan lingkar luar Denpasar (Gatot Subroto), sampai ke Mengwi untuk setelahnya naik ke kawasan Baturiti-Bedugul-Gitgit-Singaraja. Tapi kata Bapak, itu terlalu jauh. Lagi pula, menurut Bapak Gunung Agung masih aman. Aman dalam artian letusannya kala itu baru satu kali dan tidak besar juga (per hari Jumat letusannya baru sekali terjadi, yakni letusan hari Selasa itu). Jadi, Bapak dan Ibu memutuskan untuk tetap pergi ke Sangsit via Kintamani.

Saya tak bisa banyak komentar. Cuma saya kemudian bingung, sepertinya saya ada kenal seseorang yang serupa sifat kekeraskepalaan soal rute perjalanannya. Hehe.

Tapi hari Sabtu (25/11), Gunung Agung makin menunjukkan gemulai tarinya. Dengan membuat prediksi beberapa berita dalam jaringan bahwa gunung ini akan meletus lagi hari Kamis sebagai sesuatu yang keliru, Sabtu sore gunung ini memuntahkan asap dan abu ke udara. Tingginya sudah seribu lima ratus meter dari puncak.

Saya langsung mengontak Bapak, bertanya bagaimana kondisi di sana. Syukurlah masih aman-aman saja. Tidak ada gempa atau hujan abu yang terasa di Buleleng. Malah, tamu undangan ramai di rumah karena acara keluarga tadi. Sejauh ini tidak ada perubahan rencana kepulangan Bapak. Mereka tetap akan kembali ke Lombok di hari Minggu (26/11) esoknya. Bahkan setelah pukul 19.00 WITA saat Gunung Agung meletus untuk kedua kalinya hari itu, belum ada banyak rencana yang berubah. Padahal asap dan abu yang dilontarkan sudah setinggi tiga ribu meter.

Saya pikir keluarga di Sangsit masih tenang-tenang saja karena belum ada dampak langsung letusan sampai ke utara Bali. Hujan abu belum terasa. Angin pun menurut perkembangan kemarin bergerak ke timur sehingga daerah Selat Lombok (dan Lombok!) yang nanti justru akan terkena hujan abu, jika ada.

Selain itu, bisa jadi malah saya yang sebenarnya terlalu khawatir. Maklum, sebelum-sebelumnya saya belum pernah menyaksikan suatu bencana alam, spesifiknya gunung meletus. Apalagi berada dekat dengannya dan merasakan langsung bagaimana kondisi masyarakat dengan letusan gunung itu. Ada sebuah pepatah, tak kenal maka tak sayang. Saya belum kenal betul bagaimana karakteristik gunung meletus. Itu sebabnya, pikiran saya cenderung bergerak terlalu jauh. Bahkan membayangkan hal-hal yang sesungguhnya belum perlu.

Namun, kalau saya boleh komentar, masyarakat Bali mungkin sudah sangat akrab dengan gunung satu ini. Orang-orang tahu ada gunung meletus, namun mereka tidak bertindak terlalu berlebihan. Kepanikan pasti ada, tapi semua berlangsung dalam batasnya yang wajar. Apalagi bagi orang-orang seperti ayah saya yang pernah punya pengalaman saat gunung ini meletus besar di tahun 1963 silam. Mereka lebih tahu bagaimana menghadapi alam, khususnya Gunung Agung.

Sabtu pun berlalu, berganti Minggu. Dalam rentang waktu empat puluh lima menit menjelang fajar, gunung ini meletus dua kali, dengan kolom asap mencapai tiga ribu meter. Itu adalah informasi pertama yang saya cari begitu terbangun. Sayang, ketika saya mau menelepon Bapak, ponsel yang baterainya belum diisi ulang sejak semalam protes, mengedip sebentar sebelum memberi saya layar gelap mutlak. Bagus sekali.

Rencana Bapak yang belum bisa saya pastikan lagi itulah yang membuat saya agak khawatir. Rencananya, mereka berangkat dari Sangsit pukul enam pagi, via jalur Kintamani. Saya agak khawatir saja kalau-kalau Bapak dan Ibu tiba di Kintamani pada waktu yang tidak tepat, kemudian terkena sesuatu, kendati apa yang paling mungkin mengenai mereka untuk waktu-waktu sekarang ini adalah hujan abu vulkanik.

Selama beberapa jam pagi tadi saya hanya bisa menunggu baterai ponsel penuh. Saya baru berhasil menghubungi ibu setelah jam sepuluh. Di waktu itu, seharusnya mereka sudah sampai pelabuhan, siap menyeberang ke Lombok. Benar saja, Ibu berkata mereka sudah ada di Padangbai, menunggu kapal yang akan menyeberangkan. Kapalnya baru saja tiba ketika saya menelepon.

“Sudah di mana?” tanya saya.

“Padangbai, ini kapalnya baru saja sampai,” kata Ibu, yang mengangkat telepon.

Saya merasa sedikit lega. Bisa menerima telepon berarti sudah sampai pelabuhan tanpa kurang suatu apa. Setelah beberapa pertanyaan basa-basi yang sepertinya tidak begitu penting untuk diulas di sini, pembicaraan kami baru kembali seputar gunung berapi.

“Meletus lagi itu gunungnya,” kata saya. “Sudah tiga ribu meter pagi ini.”

“Iya, ini sudah tebal sekali hujan abunya,” kata Ibu. Saya tidak mengecek bagaimana yang dimaksud Ibu dengan hujan abu yang tebal, jadi saya ikuti dan terima saja. “Sewaktu masih di Bangli sih belum turun abunya, tapi waktu sudah sampai Karangasem, tebel sekali.”

“Lho, ternyata hujan abunya sudah sampai sana, ya,” komentar saya. Lumayan cepat. Berarti angin ke arah timur sedang kencang. “Terus pakai masker?”

“Enggak pakai,” kata Ibu seraya tertawa.

“Lho kok enggak?”

“Lha ya enggak. Bapakmu suruh berhenti dulu buat beli masker, tapi haduh, repot, ini bawa barang banyak. Lagian juga tidak ada yang metanjenan (menawarkan) masker. Sampai di sini, eh baru ada yang nawarin masker,” kata Ibu.

Saya kehilangan kata untuk beberapa saat. “Diambil?” tanya saya.

“Enggaklah,” jawab Ibu polos. “Buat apa? Kita sudah mau pulang ke Lombok baru ditawarin masker?”

Saya belum sempat bilang bahwa abu vulkaniknya akan terbang sampai ke Lombok tapi teleponnya sudah ditutup. Bahkan ketika saya menulis ini, sudah ada berita bahwa di Mataram hujan abu mulai turun. Tapi Bapak dan Ibu melakoni perjalanannya seperti itu. Waduh.

Ponsel saya berdering lagi. Bapak mengirimkan sebuah foto. Abu telah turun di Padangbai dan melapisi mobil-mobil yang terparkir di sana. Saya belum lagi bisa memastikan apakah itu betul abu vulkanis. Sesungguhnya, bisa saja itu hanya debu lantaran mobil-mobilnya terlalu lama terparkir. Dari jarak pengambilan gambar, debu atau abu akan tampak sama saja. Setidaknya, menurut penglihatan saya begitu.

hujan-abu-gunung-agung-padangbai-bali
Foto yang dikirim Bapak tentang abu di Pelabuhan Padangbai.

Tapi taruhlah itu abu. Berarti abunya sudah lumayan tebal, untuk jarak sejauh Padangbai, kan? Apa kabar dengan Bangli yang sebenarnya lebih dekat dari Gunung Agung? Dan orang tua saya melanglang buana tanpa perlindungan, sederhananya saja, masker?

Untuk beberapa saat setelahnya lagi-lagi saya tak bisa berkomentar. Ada suatu istilah bahasa asing di dunia animasi untuk ekspresi tokoh yang mengalami keterkagetan seperti ini—jaw drop. Apa padanannya di bahasa Indonesia, saya kurang tahu. Yang jelas, mungkin ekspresi saya pagi tadi seperti itu.

Ya sudah, yang penting Bapak dan Ibu selamat sampai tujuan, serta bahagia. Bagi saya tak ada hal lain yang lebih penting dari itu.

20 thoughts on “Mak-Bapak, Mudik, dan Gunung Agung yang Meletus

    1. Betul. Kita minggir dulu, berikan jalan. Saya yakin, apa yang alam lakukan itu sesungguhnya untuk kebaikan kita juga. Biarkan alam mengambil waktu yang ia perlukan. Nanti kalau sudah selesai, manusia bisa mengambil gilirannya lagi, hehe.

  1. ‘Hyang Tohlangkir’ ini baru saya dengar, apakah berarti nama dewa?

    Kadang orang tua kita malah lebih ‘nyantai’ untuk hal-hal yang bikin anaknya deg-degan, hahaha! Tapi syukurlah orang tua Gara sudah tiba kembali dengan selamat di Lombok. Moga erupsi Agung lekas reda ya..

    1. Iya Bang, Tohlangkir ini nama asli dari Gunung Agung pada masa kerajaan Bali kuno, hehe.

      Demikian pula sebaliknya! Kadang saya juga melakukan hal-hal yang menurut orang tua bahaya, namun bagi saya sendiri biasa saja. Saya rasa kami impas di sana, hehe. Amin, semoga saja gejolaknya bisa mereda dan sang gunung kembali tenang.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?