Magnet Itu, Ratu Itu, Kota Itu Punya Nama: Jakarta

Tadi sore saya mencoba lagi untuk berolahraga. Lari-lari di seputaran Monas, di tengah sore yang semakin menua sebelum akhirnya renta sebagai senja. Agendanya, satu dua putaran luar saya habiskan dengan berlari sementara sisanya dengan berjalan kaki. Tidak berakhir seperti itu, tentu saja, tapi setidaknya saya sudah berolahraga, kegiatan yang entah kapan terakhir kali saya lakukan.

Apalagi, sekarang saya sudah punya pemutar musik portabel (baca: MP3 Player) jadi tak perlu lagi khawatir merasa sepi meskipun lagi sendiri. Kan ada yang bernyanyi di telinga.

Saya baru sadar kalau sore hari di Koningsplein itu indah banget. Entah apakah semua sore memang indah, tapi di pusat Jakarta ini panorama senjanya seperti sejuta kali lebih cantik. Matahari mulai mengurangi kegarangannya, membiarkan tubuhnya bulat telanjang cuma tersaput silau yang semakin menit semakin tipis. Di depannya, gedung-gedung mulai menyiluet dengan latar keemasan. Hitam polos teksturnya tegak menjulang membelah langit Jakarta.

Sementara itu, layang-layang yang masih terbang mencoba menemani angin yang kencang meniup badan di sisi tenggara Monas. Riuh layang-layang itu ada di atas langit,

Dramatis.

Saya suka Monas yang seperti ini. Monas yang belum terlalu ramai karena malam Minggu belum dimulai secara resmi, jadi untuk orang-orang yang berolahraga bisa leluasa, sedangkan masyarakat lain yang cuma ingin main layangan, foto-foto, berduaan, atau kumpul komunitas juga tidak terganggu.

Paling tidak sebelum saya mendengar suara mobil bak terbuka menderu kencang di belakang dan membuat orang-orang menyingkir panik. Iya, termasuk saya.

Seorang pria berseragam petugas keamanan dan bertopi lari kencang sekali ke arah taman bagian barat. Jelas larinya jauh lebih kencang ketimbang saya tadi. Di belakangnya, mobil bak terbuka yang sudah dimodifikasi sehingga memiliki atap dan bangku kayu menyusul dengan kecepatan yang tak kalah tinggi.

Saya bisa menduga siapa saja yang dikejar oleh orang-orang itu. Tapi saya tak bisa menemukannya… ah, di sanalah mereka. Para ibu dengan jilbab warna terang (sungguh, kenapa jilbab mereka harus berwarna seterang itu?) lari kesetanan melompat kolam mengecoh petugas, seperti Lara Croft walaupun saya belum pernah menonton film Tomb Raider.

Semua terjadi dengan cepat, saya tidak bisa mengejar mereka karena mobil petugas sudah menderu menuju sisi utara. Tapi dari kosongnya mobil itu, pengejaran barusan tampaknya tak berhasil.

Sementara itu, tak berapa lama setelah saya melangkah dari tempat pengamatan di sisi barat daya Monas barusan, seorang ibu berjilbab terang menawarkan kepada saya minuman dingin yang ia sembunyikan di dalam tas tangannya.

Bagaimanapun, Jakarta akan menjadi tempat yang sangat menggiurkan untuk mencari makan. Bahkan ketika ia sudah dicaci dengan makian paling kasar, toh orang-orang akan kembali kemari. Entah karena senjanya terlalu indah untuk dilewatkan, entah karena angin sejuknya terlalu langka dan merindukan, entah karena siluet layang-layang di balik tirai keemasan terlalu fantastis untuk dilupakan.

Atau karena orang-orang masih merasa sang Ratu dari Timur masih cukup pemurah untuk memberi makan bagi kaum papa…

Ataukah, karena lenggang lenggok Jakarta masih bagai pinggul gadis remaja, dengan setiap pandangan selalu menatap, penuh harapan untuk menjamah? Dengan ribuan mimpi-mimpinya, yang suka membuat orang lupa lantaran terpikat oleh manisnya cerita boleh jadi jutawan di sana?

Ibukota akan selalu menjadi magnet. Dengan ribuan mimpi-mimpi yang disemikan, yang bisa jadi nyata maupun bukan tak mungkin adalah sebuah ilusi. Yah, mirip dengan sang ibu ratu, yang memberi tugas-tugas sulit dengan taruhan nyawa. Kalau gagal, maka ibu ratu akan kejam menyiksa pesakitan itu, namun apabila berhasil,

Tapi sebagaimana magnet, ia pun punya dua sisi. Mungkin bentuk sisi yang lain itu, sisi yang membuat gaya tolak-menolak dengan si pendatang adalah dalam bentuk petugas keamanan tadi. Menghalau orang-orang yang (kadang mengaku) kecil dan (kadang beralasan) cuma mencari sesuap nasi dan (kadang merasa) tidak pantas diperlakukan demikian.

Ah, bahkan kata-kata di dalam kurung tadi membuat kalimat barusan bisa diartikan dalam dua sisi! Tapi bukankah selalu ada dua sisi dalam setiap masalah? Dua sisi, dua kutub?

Di sore itu, saya jadi teringat potongan puisi Jan Hermanz de Marre berjudul “Batavia”, yang pernah menggambarkan bagaimana indah dan bersahabatnya kota ini di abad 18 silam:

O schoon Batavie, dat my houd opgetogen,
Daar gy uw Raadhuis met zyn trotsgewelfde boogen,
In ‘t vergezicht vertoont! hoe heerlyk is uw ftand!
Uw ruine Grachten, frifch bewaterd, fchoon beplant,
Behoeven voor gen ftad in Nederland te zwichten.

De Tygersgracht, waar op Batavie mag roemen,

Een reeks Paleizen trots doet flygen en feftoen,
En prykt, ten einde toe, met fchoone Bouwjuweelen,

Haar fchaduw fpreiden langs den groenen waterboord,
Hoe dan Batavie den wandelaar bekoort!

O, Batavia yang indah, yang telah menyihirku.
Di sana alun-alun kota dengan arca bangunannya yang megah
Menyibak keagunganmu! Betapa sempurnanya kau!
Kanal-kanalmu yang luas, dengan air jernih yang mengalir, terbangun dengan sangat indah,
Tak ada kota tandinganmu di Belanda.

Kanal Harimau, di mana Batavia disangga,

Melemparkan ke angkasa sebarisan istana langit,
Dan berkilau dari ujung ke ujung dengan permata-permata arsitektur.

Dipenuhi bayangan jalan-jalan dengan hijau bersemi yang abadi,
Betapa Batavia memesona para pelancong!

Ah iya, sedari dulu Jakarta sudah selalu begitu. Mengundang begitu banyak orang namun cerita mereka tak semua berakhir bahagia. Membetot dengan kenyataan dan ilusi yang hanya terpisah sangat tipis, tapi dengan ujian-ujian yang semakin hari semakin bertambah sulitnya, dan menyelesaikannya seperti menggabungkan dua kutub magnet yang sama…

Tapi Jakarta akan selalu memesona. Dengan senjanya yang masih indah.

Paling tidak, untuk sekarang senja ini nyata.


Referensi:
1. De Marre, Jan Hermanz. 1740. Batavia: Begrepen in zes boeken. Amsterdam: Adriaan Wor, en de Erve G. Onder de Linden.
2. Taylor, Jean Gelman. 2009. Kehidupan Sosial di Batavia: Orang Eropa dan Eurasia di Hindia Timur (Judul Asli: The Social World of Batavia). Depok: Masup Jakarta.

One thought on “Magnet Itu, Ratu Itu, Kota Itu Punya Nama: Jakarta

Comments are closed.