Lagi-Lagi Ganesha: Prasasti Bunul, Bulul, Kanuruhan

Informasi soal berapa jumlah koleksi Museum Mpu Purwa dan bagaimana pembagiannya untuk setiap disiplin ilmu sengaja saya lewatkan. Selain saya tak sempat mencari tahu, saya yakin info itu bisa didapat dengan gratis di blog-blog lain. Mungkin saya terlalu tertarik dengan kondisi benda-benda sejarah yang ada di depan mata, sebahagian besar koleksi Museum Mpu Purwa.

Saya mencoba untuk tidak menggunakan kata “mengenaskan” dalam sepanjang serial museum ini. Menggunakan kata itu sama saja saya menyalahkan Mbak Mimin dan saya tidak akan melakukannya karena ada pihak-pihak lain yang lebih pantas disalahkan. Tapi coba usulkan pada saya kata apa yang lebih tepat untuk menggambarkan foto di bawah ini?

arca-arca-museum-mpu-purwa-1
Keadaan arca-arca Museum Mpu Purwa. Bahkan kayu penyangga atap pun lapuk. Jika diperhatikan, lumpang di tengah terisi air. Semalam memang hujan dan entah bagaimana air bisa masuk. On frame: Curio.

Kemarin, di kunjungan pertama, saya sempat melihat bagian belakang stela (batu sandaran) salah satu arca yang ada dalam ruangan ini. Dari luar, seseorang tidak bisa berharap banyak akan upaya konservasi temporer terhadap arca-arca itu. Namun saya juga sama sekali tidak menduga bahwa kenyataan di dalam sana juga jauh di bawah perkiraan saya yang sudah sengaja saya rendahkan.

Bahkan di sini pun mereka dibiarkan berkalang tanah, tanpa lantai!

Barak semipermanen berukuran tak sampai empat puluh meter persegi itu kini menjadi rumah sementara bagi sekitar seratus koleksi Museum Mpu Purwa, sementara sebagian koleksi yang ukurannya lebih kecil disimpan di gudang. Tak perlu berpikir soal konservasi karena tim yang melakukan itu belum bekerja. Saya agak yakin jika tim yang memindahkan benda ini kelihatannya kurang begitu memahami bagaimana menyimpan arca dan prasasti berusia ratusan tahun.

Berpuluh arca dan prasasti disimpan dengan kondisi yang sangat seadanya. Tak sampai dua setengah meter tinggi barak itu, sehingga atap seng tua yang menaunginya menghantarkan radiasi panas dengan sangat baik. Beberapa sisi yang terbuka ditutup dengan spanduk dan dinding seng, juga seadanya. Satu-satunya pengaman cuma pintu yang masih memiliki kunci.

Keadaan di dalam cukup panas, apalagi ketika matahari bersinar terik. Ketika hujan, hampir pasti beberapa arca yang cukup tingginya dan terletak di sisi terkena tampias dan bukan tidak mungkin air masuk dari sela-sela, jika daerah barak ini lebih rendah dari sekitarnya. Pada awalnya saya hendak berkomentar, namun saya teringat bagaimana nasib Nandi serta arca-arca di Taman Arca Museum Nasional dan saya rasa mereka mengalami nasib serupa.

Begitu banyak arca dan begitu dahsyat keterkejutan di dalam sana sampai-sampai kami berdua bingung mau mengambil foto yang mana. Dan mungkin karena saya baru pertama kali melihat arca-arca itu sehingga saya merasa mereka semua berbeda dengan arca-arca yang ada di Museum Nasional atau Museum Mpu Tantular. Seperti ada keunikan yang tersembunyi di antara mereka. Ada begitu banyak cerita yang ingin disuarakan mulut-mulut terkatup dan wajah-wajah aus tak berbentuk itu sampai-sampai kepala saya terasa penuh, siap meledak.

Saya menyerah. “OK Mbak, sekarang saya bingung mau foto yang mana. Jadi kalau koleksi-koleksi unggulan dari museum ini yang mana saja, Mbak?”

arca-arca-museum-mpu-purwa-2
Mencari masterpiece dari kumpulan arca dengan nasib kurang beruntung.

Mbak Mimin menunjuk Ganesha yang berdiri dekat sekali dari pintu masuk. Kondisinya sudah terpenggal sebagian, bagian kepala dan bahu sebelah kiri telah hilang. Hanya posisi duduk dan bentuk tambun badannya yang tak mungkin mengartikan arca ini sebagai dewa lain. Jika lengkap, besarnya kira-kira mirip dengan Ganesha dari Candi Banon (ada di Museum Nasional).

“Jadi ini patung Ganesha tentang apa, Mbak?”

“Ini bukan Ganesha biasa, Mas. Ini Prasasti Bulul atau Bunul,” terang Mbak Mimin.

“Prasasti?”

Mbak Mimin mengiyakan dan menyuruh saya melihat bagian belakang patung Ganesha ini.

Bagian belakangnya bertulisan.

Ganesha Bertulisan: Prasasti Kanuruhan

Bukan cuma ini saja patung dewa yang belakangnya ternyata adalah sebuah prasasti. Di Museum Nasional ada setidaknya dua patung dengan karakteristik serupa: misalnya saja, Prasasti Amogapasha dan Prasasti Lokanatha. Namun untuk prasasti yang ada di balik sebuah Ganesha, baru Prasasti Bulul inilah pionirnya bagi saya.

Bulul, atau Bunulrejo namanya kini, adalah sebuah daerah di Kota Malang yang saat ini menjadi daerah Jl. Hamid Rusdi. Beberapa situs di dunia maya (daftar pustaka ada di bawah) menjelaskan bahwa prasasti ini ditemukan di sebuah sumber (petirtaan) yang dulu pernah ada di daerah itu. Sayang sekali sekitar tahun 1960-an taman itu telah diurug oleh sang pemilik tanah untuk di atasnya didirikan rumah-rumah penduduk.

prasasti-kanuruhan-1
Bagian belakang arca Ganesha yang bertulisan: Prasasti Kanuruhan

Prasasti Kanuruhan pertama sekali dibaca Louis-Charles Damais dalam bukunya EEI IV (transkripsi lengkap juga ada di buku Prof. Edi Sedyawati). Isinya kurang lebih soal penetapan daerah itu sebagai sima (daerah bebas pajak/daerah yang mengelola keuangannya sendiri) oleh Rakryan Kanuruhan kepada Sang Bulul karena yang kemudian ini telah membuat sebuah taman teratai di lokasi itu. Bunga teratai adalah salah satu bunga suci bagi agama Hindu, karena dianggap sebagai alas para dewa ketika menampakkan diri ke dunia.

Menurut Mbak Mimin, memang di zaman dahulu seorang raja sangat murah hati dalam artian harfiah. Tak terhitung banyaknya prasasti-prasasti penetapan sebuah daerah sebagai sima karena sang raja berterima kasih atas jasa penduduk di daerah itu. Menilik contoh Sang Bulul, sang raja bahkan memberikan penghargaan bebas pajak hanya karena Sang Bulul membuat taman bunga.

Kalau sekarang saya membuat taman bunga, kira-kira Kementerian Keuangan mau membebaskan saya dari pajak tidak, ya?

Prasasti ini dikeluarkan pada wuku Wukir, bulan Pausha (Sasih Kanem) tahun saka 856, yang menurut Suwardono (2011:23) sekitar tanggal 4 Januari 935 M. Dengan demikian prasasti ini dapat diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Pu Sindok, raja Mataram pertama yang secara resmi bertahta di Jawa Timur.

Ada beberapa keunikan dalam Prasasti Kanuruhan. Selain karena prasasti ini dipahat di balik sebuah arca Ganesha, salah satu yang disebut dalam SNI II (2010:193) adalah bahwa pemberian sima oleh tokoh selain raja hanya kejadian di prasasti ini. Jika misalnya dalam Prasasti Cunggrang (OJO XLI) atau Prasasti Jeru-Jeru (OJO XLIII) penetapan sima berasal dari inisiatif raja atau permohonan seorang pejabat, maka dalam Prasasti Kanuruhan sang Rakryan Kanuruhan sendirilah yang menganugerahkan sima bagi daerah tersebut.

arca-ganesha-mbah-beji-sari
Bagian depan Prasasti Kanuruhan: Dewa Ganesha.

Sebuah tulisan tentang isi prasasti oleh seorang mahasiswa jurusan sejarah Universitas Negeri Malang memberi petunjuk bahwa dari segi sistematika, prasasti ini senada dengan prasasti sezaman, sebagai contoh Prasasti Sangguran (OJO XXXI). Ada pernyataan penganugerahan sebagai sima di awal prasasti, kemudian pembagian hadiah berupa tekstil atau logam mulia kepada segenap pejabat yang hadir (hadiah itu disebut pasêk-pasêk). Di akhir, prasasti ditutup dengan kutukan-kutukan bagi siapa pun yang mengganggu tempat tersebut, sama dengan Prasasti Sangguran (meski kutukan di prasasti yang terakhir ini sangat berlebihan). Dalam Prasasti Bulul, salah satu kutukannya adalah mati tenggelam, yang menurut saya berkaitan dengan tempat yang dibangun Sang Bulul, yakni kolam teratai.

Fakta bahwa Rakryan Kanuruhan, dan bukan raja, yang memberi status sima memang mengkonfirmasi pendapat de Casparis bahwa meskipun kerajaan Mataram sudah menguasai wilayah Kanuruhan (dulu bernama Kanjuruhan), pemimpin daerah itu masih tetap diberi gelar sebagai penguasa daerah. Gelar Rakai Kanuruhan tidak dikenal di Jawa Tengah, karena Kanjuruhan adalah nama sebuah kerajaan di Malang Raya.

Beberapa sumber menyatakan bahwa Rakryan Kanuruhan adalah jabatan kerajaan yang cukup penting. Dan lama kemudian, di kerajaan Bali Majapahit (Dinasti Gelgel), gelar kanuruhan diberikan kepada Menteri Sekretaris Negara dan merupakan orang luar pertama kepercayaan raja setelah Rakryan Mahamantri; yang terakhir ini umumnya adalah keturunan raja sendiri. Tak heran kekuasaan yang diberikan kepada sang kanuruhan ini begitu tinggi; ia terbukti di sini bisa memberikan penetapan sima sendiri tanpa mesti meminta pertimbangan pada sang raja.

Posisi dan kekuasaan tinggi yang diberikan pada sang kanuruhan tak lepas dari sejarah pemindahan kekuasaan kerajaan Hindu dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lokasi pertama yang dituju sebagai tempat pengungsian keluarga kerajaan ketika terjadi pralaya pada Kerajaan Mataram Lama sekitar abad ke-10 adalah wilayah Kanjuruhan (SNI II 1984: 160).

Analogi dengan pemberian wilayah sima kepada seseorang yang “hanya membuat taman bunga”, tentunya raja akan sangat berterima kasih pada seseorang yang (1) mengakui kekuasaannya dan (2) di saat yang sama memberikan wilayahnya untuk dikuasai oleh raja tersebut. Tak heran orang itu (penguasa wilayah Kanjuruhan) langsung dinaikkan statusnya menjadi orang kepercayaan raja, dan diberi kekuasaan yang cukup besar.

Pada tahun 915-935 penguasa wilayah Kanuruhan (Rakai Kanuruhan) bernama Dyah Mungpang (Mungpah). Menurut Ismail Lutfi, nama Dyah Mungpang sebagai Rakai Kanuruhan selain disebut di Prasasti Kanuruhan setidaknya disebut di dalam tiga buah prasasti, yaitu Prasasti Limus/Sugih Manek (OJO XXX) tahun 915, Prasasti Gulung-Gulung (OJO XXXVIII) tahun 929, dan Prasasti Linggasuntan (OJO XXXIX) tahun 930. Namun demikian, saya hanya menemukan baris “rakian kanuruhan i mungpung” dalam transkripsi Prasasti Limus, sedangkan di dua prasasti lainnya nama itu tidak muncul (saya menggunakan OJO sebagai referensi).

Lebih Jauh Tentang Makna Ganesha

Kendati saya menduga bahwa arca Ganesha berinskripsi adalah hal menakjubkan, hal sebenarnya tidak demikian. Arca ini justru lumayan lazim menjadi media tulisan, baik berupa angka tahun, inskripsi singkat, atau maklumat yang panjang.

Untuk arca yang memuat maklumat panjang, Ganesha justru adalah media yang paling umum dijumpai (Sedyawati 1994: 145). Tak kurang dari lima patung Ganesha menjadi media maklumat panjang, termasuk Prasasti Balingawan dan Prasasti Adam Malik. Mungkin karena saya baru menemukan satu, karenanya saya begitu bersemangat dan lebay.

arca-ganesha-prasasti-kanuruhan
Arca ini ada di dekat pintu; sinar matahari langsung mengenainya.

Dalam kaitannya dengan sebuah maklumat raja, kehadiran Ganesha memang vital. Ganesha sering disebut pada awal dan akhir inskripsi, terutama di bagian sumpah (sapatha) yang menyeru pada para dewa untuk menjadi saksi. Namun, nama yang disebut secara harfiah bukan Ganesha, melainkan Ganapati di bagian seruan untuk menyebut Siwa dan tokoh-tokoh lain, atau Winayaka untuk menyebut penguasa para penjahat untuk menghalangi upaya manusia. Winayaka sendiri, menurut kitab Brhat Samhita, adalah makhluk-makhluk pengganggu pisaca, raksasa, naga, dan asura (Sedyawati 1994:135).

Kepopuleran Ganesha dalam prasasti yang berisi maklumat penetapan suatu daerah tak terlepas dari figur Ganesha sebagai dewa penjaga dan penolak bala. Sampai sekarang pun, di pura-pura atau rumah-rumah masyarakat Bali patung Ganesha diletakkan tegak lurus pintu gerbang sebagai penjaga rumah dari serangan-serangan gaib. Ternyata di masa lampau pun Ganesha juga diidentikkan sebagai penjaga suatu daerah dari pengaruh-pengaruh jahat.

Menurut Mbak Mimin, jika ada patung Ganesha ditemukan di suatu tempat (in situ), pada umumnya daerah itu sangat angker. Tak jarang, Ganesha itu sendiri dikeramatkan sebagai penguasa daerah tersebut, sebagaimana Prasasti Kanuruhan dinamai orang sekitar Mbah Beji Sari. Ganesha yang ada di Kabupaten Semarang juga demikian; ia dinamai Mbah Dul Jalal.

Saya langsung ingat Ganesha Torongrejo, “Jangan-jangan tempatnya Ganesha Batu itu angker juga, ya?”

Curio tertawa. “Baru tahu?”

Pantas ia kemarin berdiri jauh dari patung itu.

Peran Ganesha sebagai pertanda maklumat dan penjaga gaib membuatnya banyak diletakkan di tempat-tempat yang dijadikan sima. Namun tidak demikian halnya dengan Ganesha yang muncul dalam relung-relung candi; di sana Ganesha dimaksudkan sebagai bagian dari keluarga Siwa bersama Agastya dan Durga Mahisasuramardhini.

Namun demikian, isi prasasti tidak memiliki keterkaitan dengan pemilihan Ganesha sebagai figur. Menurut Prof. Edi Sedyawati, tidak ada ciri khas yang membedakan prasasti panjang yang dimuat di belakang Ganesha dengan prasasti lain pada umumnya. Hal tersebut karena prasasti-prasasti yang diukir di batu sandaran Ganesha tidak memiliki ciri khusus yang tak ada pada prasasti lain. Isinya pun tak unik, melainkan umum, seperti penetapan sima dan pemberian hak istimewa.

Pun tidak pula ada korelasi antara pejabat yang mengeluarkan prasasti dengan penempatan prasasti pada batu sandaran sebuah patung, lantaran ada prasasti yang dikeluarkan raja, ada pula yang dikeluarkan bawahannya, dan kedua-duanya ada yang dituliskan di balik arca Ganesha. Satu-satunya alasan mengapa inskripsi tersebut diukirkan di balik Ganesha secara tersendiri adalah karena prasasti itu berfungsi sebagai maklumat sehingga mesti mudah dilihat orang. Ini berkaitan dengan telah berkembangnya aliran yang mengutamakan pemujaan Ganesha secara terpisah di masa itu meskipun Siwa sudah jadi dewa utama (Sedyawati 1994: 161).


Kepustakaan:
Buku:
Brandes, J.L.A. 1913. Oud-Javaansche Oorkonden: Nagelaten Transscripties. Dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Deel LX. Batavia: Albrecht & Co.
Sedyawati, Edi. 1994. Pengarcaan Ganesha Masa Kadiri dan Singhasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Jakarta: LIPI.
Suwardono, S. 2011. Kepurbakalaan di Kota Malang: Koleksi Arca dan Prasasti. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Malang.

Laman Daring:
Ghozali, Ardliansyah Tsani. Bunulrejo Blimbing Kota Malang, Dulunya Bernama Bulul. Diakses tanggal 24 Oktober 2016. Dari https://babe.news/read/5934684/bunulrejo-blimbing-kota-malang-dulunya-bernama-bulul.
Lutfi, Ismail. (06 April 2011). Dyah Mungpang: Penguasa Malang Kuno 915-935 M. Diakses tanggal 24 Oktober 2016. Dari http://nusantara-dwipantara.blogspot.co.id/2011/04/dyah-mungpang-penguasa-malang-kuno-915.html.
Tim Ngalamedia. (10 Januari 2014). Prasasti Kanuruhan. Diakses tanggal 24 Oktober 2016. Dari http://ngalam.id/read/3452/prasasti-kanuruhan/

36 thoughts on “Lagi-Lagi Ganesha: Prasasti Bunul, Bulul, Kanuruhan

  1. Berdiri jauh dari Ganesha yang di Torongrejo bukan dikarenakan tempatnya angker. Purisu, udah biasa kali sama yang angker begitu. Biasa aja. Waktu itu lagi “nggak suci” jadi lebih baik nggak perlu dekat-dekat tempat yang suci dan tempat untuk sembahyang.

    1. Penyebabnya banyak Mas. Kurang anggaran, orang yang berkompeten juga kurang. Pun tidak dianggap penting juga oleh masyarakat sekitar, tak ada sekolah yang rutin kunjungan ke sana.

  2. Disimpan apa adanya seperti itu bukan salah yang menjaga atau yang menyimpan. Sayang sekali orang-orang yang bertanggungjawab atas benda purbakala tidak bisa membuat tempat lebih layak. Terlebih jika ada yang rusak atau hilang, biasanya yang dikambinghitamkan adalah mereka yang jaga.

    1. Iya, sang juru pelihara sama sekali tidak punya wewenang untuk memutuskan apa pun. Semua sudah ada tim yang menangani. Ada orang-orang berkuasa yang bisa mengubah, namun mungkin mereka menganggap banyak hal lebih penting.

  3. Kok jadi ikut semangat ya baca yang ini. Tanggung jawab!! Hahahaha. Di awalnya prihatin kondisi tempat penyimpanannya parah dan rawan pencurian gitu. Masih lebih baik nasib arca-arca di Museum Arca Boyolali (Gara mesti ke sana kalo mlipir Boyolali). Laluhh itu prasasti kenapa bisa ditulis di belakang Ganesha? Apa sebagian besar seperti itu atau baru Kanjuruhan yang bikin? Dan Kanjuruhan itu umurnya lebih tua dari Kediri ya? Ratjun, ratjun. >.<

    1. Kalau menurut apa yang saya baca Mas, karena Ganesha adalah penjaga wilayah, diletakkan di tempat yang menjadi pusat taman teratai itu, harus bisa dilihat banyak orang juga karena menjadi pusat pemujaan. Dari segi tahun sih memang prasasti ini lumayan tua, Mas. Iya, Kanjuruhan jauh lebih tua daripada Kediri, hehe.
      Ayo Mas main ke Museum Mpu Purwa :)).

  4. hah?? seriusan gar itu kondisi prasasti dan arcanya gak terawat gitu yaa…pemerintah kok cuek banget bukanya dikasih anggaran lebih buat melindungi peninggalan sejarah begini.mungkin duitnya dipakai ke hal yang lain kalii yaa….

    kalau baca kata ganesha jadi inget simbol2 buku pelajaran jaman aku smp or sd gitu heheh

    1. Iya Mbak, ketika saya datang ke sana demikianlah kondisinya. Iya, banyak hal yang Pemerintah anggap lebih penting, dan selain itu kepedulian masyarakat sekitar masih kurang banget. Miris, Mbak.

  5. Kalau melihat foto yang dipajang di laman http://ngalam.id/read/3452/prasasti-kanuruhan/, sepertinya sang Ganesha diamankan di tempat yang lebih layak. Entah kenapa kok sekarang malah seakan terkesan “digudangkan”. Ng? Apa mungkin untuk menjadi figur besar bagi para arca yang lain? :p

    Klo menurutku kondisi tempat penyimpanan arca ini memang “mengenaskan”. Tapi, aku nggak mau menyalahkan pihak mana pun. Terlebih lagi Mbak Mimin, karena beliau dengan segenap upayanya sudah berkenan merawat peninggalan bersejarah ini.

    BTW, bekas kepala arca Ganesha itu, sepertinya bukan karena patah biasa….

    1. “Penggudangan” yang Mas bilang itu karena perombakan gedung museum, Mas. Hanya saja mungkin barak ini dibuat seadanya asal masih ada atap buat berteduh dari panas atau hujan. Iya, lebih baik kita tidak menyalahkan siapa-siapa tapi membikin peduli semua orang, hehe.
      Pengamatan yang jeli. Sejatinya kerusakan alami sebuah arca andesit hanyalah keausan. Jika kerusakan yang ada lebih dari itu pasti bukan karena pengaruh waktu. Soal patahnya patung ini, saya sudah diberi tahu Mbak Mimin namun rasanya kurang pantas saya buka ke umum, demi ketenteraman bersama.

  6. pengen tahu tentang prasasti Adam Malik…
    langsung googling dan shock… hadeeeh..
    menyesal dulu selalu tunda2 datangi museum itu, lha kok akhirnya tutup ya

    1. Iya Mbak, sayang banget seperti itu. Entah negara yang kurang perhatian, namun saya rasa tak bisa juga sepenuhnya menyalahkan negara. Tapi semua ini sih memang karena kita kurang perhatian pada benda-benda macam itu.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!