Kuningan Bahagia Bersama Keluarga

Ini bukan Kuningan yang di Rasuna Said. Bukan pula Kuningan kabupaten tempat Gunung Ciremai bermarkas.

Kuningan yang satu ini adalah hari raya dalam Agama Hindu, yang baru saja lewat beberapa hari lalu (17 September 2016). Selamat merayakan hari raya Kuningan untuk saudara-saudara Hindu di mana pun berada! Moga-moga kita bisa dipertemukan lagi dengan rangkaian hari raya ini, 210 hari dari sekarang.

Salah satu (dari banyak) hari raya dalam Agama Hindu adalah rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Malah, perayaan Galungan Kuningan ini begitu besar, lebih raya dari rangkaian Saraswati-Pagerwesi. Bahkan, durasi perayaannya lebih panjang dari rangkaian Nyepi yang diakui sebagai hari raya nasional.

Rangkaian perayaan hari raya Nyepi dimulai pada H-3, biasa disebut sebagai hari Melasti. Hari itu adalah saatnya hore-hore arak-arakan penyucian benda-benda suci menuju pantai/badan air. Biasanya saya biasanya kebagian membawa payung atau tombak pengiring, jika kebetulan turut serta. Seluruh umat Hindu melakukan penyucian secara simbolis di tepi laut, yang diakhiri dengan pembagian air suci berupa Tirtha Kamandalu.

Rangkaian dilanjutkan di H-1, yakni Tilem Kesanga, pada hari itu dilakukan upacara Tawur Agung Kesanga, yang didahului dengan arak-arakan ogoh-ogoh. Dilakukan pula upacara Mecaru di rumah masing-masing sambil membawa bunyi-bunyian (Pengerupukan) untuk menetralkan pengaruh butha kala. Esoknya adalah Hari-H, hari raya Nyepi, menyepi di rumah masing-masing sambil melakukan Catur Brata Penyepian. Perayaan ditutup di H+1 yang biasa disebut Ngembak Geni, hari untuk bermaafan dan silaturahmi.

bebantenan-hari-raya
Banten untuk hari raya

Namun, rangkaian Galungan tidak dimulai pada H-3. Bahkan tidak pada H-10. Tapi pada H-25, hampir sebulan sebelum puncak Galungan. Hari itu, dikenal sebagai Tumpek Pengatag, adalah “persiapan awal” yang ditujukan pada tumbuh-tumbuhan untuk menyambut hari raya Galungan. Kala itu, kami memberi sesaji (untuk selanjutnya saya sebut banten) sebagai ucapan terima kasih kepada tetumbuhan, dengan doa supaya pohon berbuah lebat untuk Galungan nanti:

Kaki, kaki, dadong, dadong, buin selae dina Galungan, apang mebuah nged, nged, nged
(Kakek, kakek, nenek, nenek, dua puluh lima hari lagi Galungan, supaya ingat, ingat, ingat, untuk berbuah)

Tumpek Pengatag/Wariga (disebut pula demikian karena hari raya itu selalu jatuh setiap wuku Wariga) adalah pintu gerbang bagi rangkaian hari-hari raya setelahnya. Setelah itu, perayaan utama Galungan dimulai saat Sugihan Jawa (penyucian makrokosmos, H-6), yang dilanjutkan dengan Sugihan Bali (penyucian mikrokosmos, H-5), Penyekeban (memeram buah, H-3), Penyajaan (membuat jajan, H-2), Penampahan (memotong hewan untuk sesaji, H-1), sampai ke hari-H, yakni hari raya Galungan.

Penjor dipasang setiap Penampahan Galungan (saya sudah suka hari-hari akhir ini karena biasanya kami meliburkan diri). Setelah Galungan, ada Umanis Galungan (silaturahmi, H+1), Pemaridan Guru (H+3), Ulihan (H+4), Pemacekan Agung (H+5), Penampahan Kuningan (H+9), dan akhirnya sampai ke hari ke-10, yakni hari raya Kuningan.

Makna Hari Raya Kuningan

Berdasarkan kalender perwukuan, hari raya Kuningan akan selalu jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan, yang juga disebut sebagai Tumpek Kuningan (setiap Sabtu Kliwon adalah Tumpek). Saya sempat bingung apakah Kuningan ini harus sepuluh hari setelah Galungan (dua lingkaran pancawara) atau setiap Saniscara Kliwon wuku Kuningan. Tapi setelah dipikir-pikir, kedua hal itu sama saja. Sepuluh hari setelah Rabu Kliwon pasti Sabtu Kliwon. Saya rasa tidak perlu mempermasalahkan beda nama akan hal yang pada dasarnya satu.

Pada hari raya Kuningan, perayaan utama kemenangan Dharma melawan Adharma dinyatakan selesai. Rangkaian perayaan utama yang dimulai dengan bersih-bersih dunia di hari Sugihan Jawa, berpuncak di hari raya Galungan, dinyatakan berakhir tepat di hari raya Kuningan. Nantinya, rangkaian Galungan-Kuningan resmi ditutup pada hari Buda Kliwon Pahang (H+35) ketika penjor diturunkan dan sisa-sisanya dibakar.

Umat Hindu meyakini bahwa Galungan adalah hari raya kemenangan dharma melawan adharma. Simbolisnya, Galungan adalah kemenangan umat manusia melawan Sang Kala Tiga Galungan, yang dikisahkan turun ke dunia pada hari Penyekeban untuk menggoda manusia. Saat Galungan dunia berpesta, leluhur-leluhur konon mengunjungi keluarga mereka di dunia, untuk merasakan kembali kebahagiaan atas nama kebenaran abadi.

Sementara itu, di hari raya Kuningan, umat Hindu sekali lagi menghaturkan terima kasih ke hadapan Tuhan karena telah diberi kesempatan melalui rangkaian hari raya Galungan. Simbolisnya, pada hari ini semua leluhur kembali lagi ke alamnya, rangkaian utama pada perayaan besar biannual itu (rangkaian ini setiap tahunnya akan selalu dirayakan dua kali) pun dinyatakan berakhir, tepatnya saat tengah hari ketika matahari berada di titik kulminasi.

Itulah sebabnya persembahyangan untuk hari raya Kuningan harus dijalankan sebelum jam 12 siang, karena setelah jam 12 siang, seluruh leluhur sudah kembali ke alamnya.

Sarana Upacara Hari Raya Kuningan

Satu hal yang sangat unik dari perayaan hari raya Hindu adalah adat dan sarana upacaranya. Kesemuanya itu dinamakan upakara, yang secara harfiah berarti tata cara mengatur sesuatu. Upakara terdiri dari bebantenan, jejahitan, dan sarana upacara lainnya. Ada beberapa perbedaan antara upakara Kuningan dengan upakara Galungan, tapi persiapannya sama saja repotnya. Satu dua hari setelah Galungan, para ibu sibuk menyiapkan jejahitan yang akan dipakai untuk Kuningan.

Ciri khas paling utama di hari raya Kuningan, sebagaimana namanya, adalah penggunaan nasi kuning. Dalam aturan upakara, penggunaan nasi memang wajib, sebagai ajengan. Tapi di hari raya Kuningan, nasi kuning yang dipakai. Uniknya lagi, nasi kuning tidak digunakan untuk aneka tumpeng, tetapi ditaruh dalam wadah khusus yang disebut sulanggi.

sulanggi-hari-raya-kuningan
Perkenalkan, ini sulanggi.

Sulanggi punya bentuk yang unik. Dibuat dari daun aren, sulanggi berbentuk persis seperti mahkota, tapi punya alas. Teknisnya, sulanggi adalah sebuah prisma segi lima beralas limas segitiga. Bingung? Yang jelas bentuknya seperti mahkota. Nasi kuning ditaruh di sulanggi, kemudian di atasnya diletakkan tangkih berisi lauk-pauk nasi kuning itu, berupa potongan ayam atau bebek goreng, ikan asin, kacang, komak, serundeng, dan irisan telur dadar (sesuatu yang sangat saya suka).

Kedua, adalah penggunaan daun aren. Disebut ron, daun aren yang hijau-hijau lebar itu jadi bahan mayoritas bagi jejahitan, termasuk hiasan pelinggih (bangunan suci). Cenigaan (lelamakan), gegantungan, dan lain-lain, semua mayoritas menggunakan daun ron. Namun ini bukan kewajiban, penggunaan busung (janur, daun kelapa) tentu tidak dilarang. Tapi khasnya Kuningan adalah pemakaian ron.

Yang berbeda dari hiasan pelinggih di hari raya Kuningan adalah adanya tas-tasan (endongan) dan tamiang. Tas-tasan adalah hiasan yang dibuat seperti tas selempang. Beberapa isiannya adalah canang dan bijaratus (kumpulan lima jenis biji-bijian yang melambangkan lima warna arah mata angin), juga diisi irisan buah-buahan seperti pisang. Tangkih berisi nasi dan lauknya juga ada. Sementara itu, tamiang sendiri adalah semacam cakram kecil yang disematkan di depan cenigaan, dibuat dari daun janur.

pelinggih-hari-raya-kuningan
Sebuah pelinggih lengkap dengan wastra dan hiasannya.

Dari isinya, sebenarnya fungsi endongan sudah ketahuan. Bekal isi alam semesta. Bisa berarti dua: bekal bagi kami yang ada di dunia dan bekal untuk para leluhur yang kembali ke alamnya. Kalau tamiang, bentuk dan bahasanya seperti menyiratkan “tameng”, jadi tamiang itu menurut saya seperti pelindung bagi umat manusia untuk tetap melindungi diri dari godaan duniawi.

Saya selalu suka pulang kampung saat hari raya. Bisa merasakan masakan ayah saya, koki terbaik sekeluarga, menikmatinya bersama ibu, kakak, dan nenek. Saya juga bisa sembahyang bersama di sanggah (pura kecil yang ada di setiap rumah).

Acara kami lanjutkan dengan bermotor, dalam balutan pakaian adat, sembahyang keliling ke pura-pura dekat rumah. Kalau kebetulan bertemu sesama umat Hindu di tengah jalan, kami saling melempar senyum, kemudian beriringan bersama menuju pura. Untuk Kuningan, satu pura yang tak boleh dilewatkan adalah Pura Segara, pura di pinggir laut, tempat pemujaan umat Hindu kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai penguasa samudera.

Yang menarik, ada berkas-berkas kebudayaan Tionghoa dalam setiap Pura Segara, dalam bentuk pelinggih Ratu Bagus Subandar yang bangunannya sangat bergaya Tiongkok. Berkas yang sama ditemukan pula di Bali, yakni keberadaan konco di Pura Ulun Danu Batur, keberadaan Pura Dalem Balingkang, Pura Pucak Penulisan dan berbagai altar pemujaan Dewi Kwan Im di beberapa pura lainnya.

11 thoughts on “Kuningan Bahagia Bersama Keluarga

    1. Selamat hari raya Kuningan, Gung!
      Kuningan kemarin saya tak sembahyang ke pura karena cuntaka, hehe. Wah, Pura Cilincing? Terakhir saya ke sana saat kuliah dulu, ramai-ramai. Sekarang malah belum pernah lagi, sebab agak jauh dari Salemba (eh jauhan juga dari Bekasi, ya?).
      Di kantor saya libur, tapi cuma hari-H-nya saja, penampahannya tidak libur.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!