Kumpulan Jejak Sang Gelombang (4–habis)

Setelah semua kejadian menguras perasaan itu, kaki-kaki ini membawa kami menuju semacam sanggar yang menjelaskan mengapa gempa ini terjadi.

Yep, di sini digambarkan tentang bagaimana suatu gempa bisa terjadi (mode profesor). Semua disajikan dalam beberapa exhibit yang cukup menarik, meskipun ada beberapa pameran yang tidak berfungsi gara-gara sedang dalam perbaikan atau memang umurnya yang sudah sepuluh tahun telah tergolong lumayan tua.

Saya pikir, rasanya tulisan ini tidak perlu menjelaskan tentang subduksi lempeng tektonik, pertemuan lempeng samudra dan lempeng benua. Yang jelas, memang, Indonesia terletak pada pertemuan beberapa lempeng samudra dan lempeng benua, dan itulah yang menjadikan daerah pesisir selatan negara ini sangat aktif dengan gejala tektonik-vulkanik. Gempa bumi, gunung berapi, tsunami, dan patahan-patahan geologi (contohnya Sesar Lembang di Priangan).

Dijelaskan pula tentang penampang bumi, tentang cairan magma yang membuat lempeng-lempeng benua dan samudra itu “mengapung” di atas magma merah meleleh superpanas, dalam globe berdiameter sekitar satu setengah meter. Wuhu.

Globe seperti semangka. Besar sekali.
Globe seperti semangka. Besar sekali.

Ada juga ruangan portabel tempat simulasi gempa dapat dijalankan. Jadi pengunjung tinggal naik di dalam ruangan itu, kemudian bisa diset skala Richter dan jenis getarannya (vertikal atau horizontal). Tekan tombol start, dan… nikmatilah beberapa skala Richter, secara gratis. Sayang kami tidak bisa mencobanya gara-gara “wahana” itu sedang rusak. Uuh. Padahal saya kepingin benar naik di atas sana, dan merasakan sendiri bagaimana gempa 9,2 SR yang meluluhlantakkan Aceh kala itu.

Tentu saja secara portabel. Saya belum cukup gila untuk memohon hadiah bencana pada Tuhan.

Terus terang, saya tumben datang pada sebuah museum yang demikian interaktif pada pengunjung. Di sini, pengunjung juga bisa menguji kemampuan konstruksinya, dengan menyusun balok-balok untuk diuji terhadap getaran gempa. Saya berulang kali mencoba membuat konstruksi rumah yang menurut saya tahan gempa, tapi selalu hancur berantakan jika skala Richter-nya sudah di atas 6,5. Saking tidak terimanya, saya bahkan teriak-teriak sendiri. Bahkan saya harus ditegur oleh para bapak untuk beranjak ke ruangan selanjutnya, karena saya terlalu keasyikan menyusun balok-balok, menekan tombol untuk menguji kekuatan gempa, dan berdesah kesal gara-gara baloknya berjatuhan.

Mungkin saya belum berbakat menjadi arsitek :sedih.

Seingat saya, dalam exhibit ini kita bisa tahu di mana episentrum gempa yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Entah, saya lupa :peace.
Seingat saya, dalam exhibit ini kita bisa tahu di mana episentrum gempa yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Entah, saya lupa :peace.

Tapi saya mencoba-coba konstruksi rumah itu bukannya tanpa ilmu. Di sana, ditunjukkan pula bagaimana konstruksi tahan gempa yang “seharusnya” (tentu saja sangat jauh dibandingkan dengan konstruksi abal-abal yang saya buat sebelumnya), disertai bukti yang dapat dicoba sendiri oleh pengunjung: mengeset kekuatan gempa dan melihat sendiri bahwa konstruksi itu tidak roboh, meski disetel di kekuatan terbesar sekalipun.

Hihi, seru!

Saya jadi ingat penjelasan tentang gedung museum yang kami jumpai di ruangan pertama. Menurut gambar itu, gedung museum ini juga dibangun dengan konsep konstruksi yang tahan gempa (dengan demikian, juga tahan terhadap gelombang tsunami). Di bagian atas, atap museum, ada semacam pelataran luas yang dapat dijadikan tempat berkumpul bagi para pengunjung pada saat Tuhan menjalankan skenarionya lagi di bumi Serambi Mekkah.

Saya tak bisa mengerti kalau hal itu sampai terjadi. Lagi.

Dari semua ruangan di lantai atas yang kami jelajahi, yang paling membekas di hati ini adalah ruangan yang menampilkan karya-karya pelukis Aceh tentang kejadian itu. Kami memasukinya tepat di sebelah ruang ilmu pengetahuan, dan seketika, senyum semangat kami kembali agak memendung.

Lagi-lagi kami dibuat kehabisan kata menatap gores-goresan kuas cat akrilik atau cat minyak di atas kanvas. Gambar-gambar itu bercerita pada kami lebih daripada yang seharusnya. Terlalu banyak muka bingung dan sedih terpancar dari objek-objek lukisan, sementara orang-orang yang berada di dalam lukisan lain tampak sangat panik dan seperti belum terima tentang apa yang ada di depan mata mereka.

Tampak belakang: Mas Baliyan
Tampak belakang: Mas Baliyan

Seolah-olah, ada pertanyaan-pertanyaan menguar secara tak langsung pada saat bencana itu datang: Mengapa kami? Kenapa bencananya di sini? Kenapa saat ini? Di mana Tuhan kami? Mengapa kami, mengapa kami, mengapa kami?

Ya, mengapa harus mereka? Orang-orang tidak bersalah yang bahkan berpikir untuk itu pun tidak mungkin.

Gambar lainnya.
Gambar lainnya.

Tapi, sebagaimana kata Pak Dayat beberapa hari lalu, agaknya sebenarnya mendapati bencana terjadi di halaman rumah sendiri, mungkin, sekali lagi mungkin, tidak dimaksudkan sebagai suatu kesialan, melainkan kehormatan, kalau kita mau memandangnya dari sisi satu lagi. Karena sebuah ujian besar dari Tuhan dimaksudkan untuk menaikkan derajat hambanya di dunia. Karena sebuah ujian dari Tuhan adalah untuk menguji ketaatan manusia pada-Nya.

Dan bukankah saya kemarin sudah mendengar bahwa orang-orang yang berhasil melalui semua gejolak ini adalah orang-orang terpilih? Dibandingkan semua harta, tahta, dan predikat yang bisa dimiliki seseorang di dunia, bukankah derajat di mata Tuhan jauh lebih baik?

Lagi-lagi kami terpaku sebelum bisa melangkah.

Pada akhirnya, ada banyak mata yang terbuka setelah mengumpulkan jejak-jejak gelombang sepuluh tahun itu, tapi ada lebih banyak lagi mata yang terbuka melihat jejak-jejak itu secara langsung, meski hanya dalam satu bentuk bangunan museum.

Saya jadi sadar, saya ini apa sih di alam mahaluas ini? Siapa saya sehingga pantas merasa lebih dari alam tempat saya ada sekarang? Siapalah saya sehingga saya merasa adalah tindakan yang benar kalau saya kadang mendahului apa yang dimaksudkan Tuhan pada saya? Siapakah kita, sehingga kadang kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan rencana yang sudah ditetapkan-Nya?

Sisi lain Space of Hope.
Sisi lain Space of Hope.

Maka dari itu, pantaskah kita masih arogan pada-Nya? Atau kita perlu menunggu-Nya mempersiapkan karya besar lain untuk kita, barulah kita akan diam, mengaku, menundukkan kepala sambil menahan air mata?

Pantaskah?

Siang mulai menjejak ketika kami menyelesaikan petualangan di Museum Tsunami. Ingin rasanya naik ke lantai atas (bahkan sampai ke lantai atap), tapi pekerjaan renovasi yang sedang dilakukan di atas sana membuat kami memutuskan turun saja, istirahat sebentar sambil, ini saya tidak melebih-lebihkan kata, merenung.

Mungkin ini dia sebabnya kenapa kolam ikan ditempatkan di pusat museum ini. Orang-orang yang baru saja melihat isi tempat ini membutuhkan sesuatu yang bisa jadi teman berpikir. Dan ikan adalah makhluk yang begitu menentramkan, begitu mendamaikan, pendeknya begitu sempurna menjadi sasaran pikiran para pengunjung, persis seperti yang kami lakukan. Melihat ikan-ikan berenang ke sana kemari, tanpa dosa, begitu lincah dengan segala tingkah polahnya, membuat kami untuk sesaat melupakan penderitaan yang tergambar dalam pameran-pameran museum tadi, berganti dengan pemahaman dan pelajaran, begitu banyak pelajaran dari artifak-artifak sisa keriuhan berusia sepuluh tahun itu.

Ikan-ikan!
Ikan-ikan!

Rasa syukur adalah yang utama. Kami bersyukur bisa belajar tentang tsunami, baik penyebab maupun akibatnya. Kami bersyukur bisa tahu bagaimana penderitaan saudara-saudara kami di Aceh saat gelombang itu datang, bahkan merasakan langsung bagaimana rasanya berada sekian sentimeter dari dinding tsunami. Kami juga bersyukur bisa belajar tentang apa yang harus kami lakukan ketika gempa datang, bagaimana membangun rumah tahan gempa, serta berapa kekuatan gempa yang cukup untuk merubuhkan gedung berlantai dua puluh.

Tapi di atas semua itu, kami bersyukur karena hari ini kami masih tetap hidup untuk menyaksikan semua jejak ini.

Saya, duduk di atas bola-bola batu itu (saya lupa sudah sejak kapan saya melemaskan kaki ini di sana), menatap ikan-ikan berenang hilir mudik di dalam kolam dengan air sewarna bata, untuk sebab yang saya belum tahu apa. Sepertinya warna merah bata itu alami, karena petugas museum yang memberi makan ikan di sebelah saya sama sekali tidak menceritakan hal yang aneh tentang warna air kolam. Ia memegang stik plastik berisi makanan ikan, dan seperti bercanda, ikan-ikan kelaparan itu melonjak-lonjak, berusaha meloncat semangat dari dalam kolam guna mengambil makanan. Byur. Byur.

Bola-bola tersapu cahaya matahari.
Bola-bola tersapu cahaya matahari.

Hihih. Lucu.

Waktu berkunjung kami, akhirnya, habis ketika semua orang berkumpul di dekat kolam dan kami bersepakat untuk menuju tujuan selanjutnya (saat itu masih dirahasiakan, yang jelas kemarin kami sudah pernah menyinggahinya). Setelah mengambil kembali tas dan jaket, serta menolak halus tawaran pedagang DVD video yang tadi ditampilkan di dalam (nah lho ambigu), kami pun bersiap menaiki mobil.

Sesuatu yang akhirnya harus saya sesali karena sampai sekarang saya belum menemukan video itu di situs video sharing (eh, sebenarnya mencari video itu di Y*utube adalah sesuatu yang salah, ya :haha).

Ini betulan sebuah amfiteater kecil.
Ini betulan sebuah amfiteater kecil.

Sembari menunggu mobil dari tempat parkir di belakang, saya memilih berdiri di depan pintu masuk kendaraan museum. Sekaligus melihat kondisi jalanan di depan museum yang ramai, sesuatu yang saya lakukan ketika rambu itu masuk bidang pandang ini.

Rambu pohon cemara doyong, dengan plakat bertuliskan “Kerkhof” di bawahnya.

Kerkhof.

Oke, kerkhof.

Kerkhof?

DEMI TUHAN! KERKHOF!

Saya tak berpikir lagi tentang kendaraan yang saya tumpangi.

29 thoughts on “Kumpulan Jejak Sang Gelombang (4–habis)

  1. Tulisan ini membuatku tertegun. Kadang dengan segala kemudahan yang ada, kemungkinan akan terjadinya bencana itu seolah terlupakan.. semoga kita selalu ingat akan hakikat sebagai manusia (yang bahkan lebih renik daripada debu di alam semesta, apalagi di hadapan Sang Khalik).

    1. Iya, Mi. Bencana-bencana ini seperti jadi pengingat supaya kita selalu mawas diri. Semoga kita bisa menjadi insan-insan yang selalu ingat :amin.

  2. Selalu ada pembelajaran di balik setiap kejadian. Tak terbayang apa yang dirasakan mereka yang langsung mengalaminya. Tapi dapat merasakan apa nilai yang bisa kita petik.
    Seperti yang dirimu bilang. Apalah kita ini? Just a dust in this big world, a nano dust perhaps to be precise.

    1. Maka adalah sama sekali bukan tempatnya kita untuk merasa hebat dan agung melebihi kehebatan dan keagungan-Nya, ya 🙂
      Kadang saya agak terusik juga sih dengan itu. Yang kena bencananya siapa, tapi yang jalan-jalan di museumnya siapa.

  3. sepertinya saya ke museum tsunami terlalu cepat… jadi nggak bisa mengekplore banyak seperti tulisan yang sampe empat bagian dan panjang-panjang ini. saya juga nggak mampir ke Kerkhof

    1. Ayo ke Aceh lagi, Mas! :hehe
      Saya juga hampir tidak mampir ke sana, kalau saya tidak lihat rambu yang ada di sebelah museum itu :)).
      Terima kasih!

  4. akhir cerita soal museum yang bagus, Gara…

    hahaha… kerkhof buat yang mengerti bahasanya, tapi ga tau bagaimana tempatnya… pasti punya bayangan tersendiri… hahaha… saya pasti juga gitu… saya tunggu ceritanya… buat malam jumat gimana? biar seru… hehehe…

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?